Jurnal Studi Al-Qur'an
Not a member yet
245 research outputs found
Sort by
Analisis Kritis Kritik Al-Dzahabi terhadap Tafsir Al-Kasysyaf terhadap Q.S. an-Nisa’: 164
The development of interpretation from era to era has given rise to sectarianism, absolutism, and blind fanaticism in interpretation. This is highly risky and has excellent potential to become a deviation in interpretation, thus giving rise to the study of critical interpretation. In this context, the Tafsir al-Kasysyaf, known for the intense subjectivity of its interpreter, is particularly susceptible to absolutism and blind fanaticism, which are closer to deviations in interpretation. Therefore, it is worthy of critical study. Al-Dzahabi, an expert in critical interpretation, outlines the critical research here. The object of study focuses on Q.S. al-Nisa' verse 164 because it discusses the nature of Allah's speech that the Mu'tazilah opposes, thus providing an overview of how the mufassir defends the theology he adheres to regarding this verse. Using library research and descriptive analysis methods, this research article aims to examine al-Dzahabi's criticism based on the focus of the study on the interpretation of Q.S. al-Nisa' verse 164 in al-Kasysyaf — whether it is included in al-dakhil or not, and about the forms of al-dakhil that contradict al-ashil. This study found that az-Zamakhsyari's interpretation of the verse is categorised as al-dakhil in the form of riwayat and raiso or ijtihad. Further research recommendations include expanding the analysis to other interpretations influenced by theological tendencies and developing a methodology of interpretation criticism as a scientific evaluation tool. This study encourages academics and exegesis practitioners to apply an objective, critical approach to maintain validity and avoid errors in understanding the Quran.Perkembangan tafsir dari zaman ke zaman memunculkan sektarian, absolutisme dan fanaitsme buta penafsiran. Hal ini sangat rawan dan berpotensi besar menjadi sebuah penyimpangan dalam penafsiran sehingga lahirlah kajian kritik tafsir. Dalam hal ini Tafsir al-Kasysyaf yang dikenal kental akan subjektivitas mufassir-nya sehingga tentu memiliki kemungkinan sikap absolutisme dan fanatisme buta yang lebih dekat pada penyimpangan dalam penafsiran, menjadi layak untuk dilakukan kajian kritik. Kajian kritik disini adalah yang diuraikan al-Dzahabi sebagai pakar kritik tafsir. Objek kajian berfokus pada Q.S. al-Nisa’ ayat 164 karena membicarakan tentang sifat-sifat pembicaraan Allah yang ditentang mu’tazilah, sehingga dapat memberikan gambaran bagaimana pembelaan mufassir terhadap teologi yang dianutnya terhadap permasalahan ayat ini. Dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan dan dekskriptif analisis, artikel penelitian ini bertujuan untuk mengkaji uraian kritik al-Dzahabi berdasarkan fokus kajian atas penafsiran Q.S. al-Nisa’ ayat 164 tersebut pada al-Kasysyaf —apakah termasuk al-dakhil atau tidak dan tentang bentuk-bentuk al-dakhil-nya yang bertentangan dengan al-ashil. Pada penelitian ini ditemukan bahwa penafsiran az-Zamakhsyari pada ayat tersebut dikategorikan sebagai al-dakhil dalam bentuk riwayat dan raiso atau ijtihad. Rekomendasi penelitian sejalnjutnya agar dapat memperluas analisis terhadap tafsir-tafsir lain yang dipengaruhi kecenderungan teologis, serta pengembangan metodologi kritik tafsir sebagai alat evaluasi ilmiah. Secara praktis, studi ini mendorong penerapan pendekatan kritik yang objektif oleh akademisi dan praktisi tafsir guna menjaga validitas dan menghindari kesalahan dalam memahami Al-Qur’an
Penerapan Metode STIFIn dalam Menghafal Al-Qur'an di Pondok Pesantren Al-Fuad Fahmi
Quran memorization methods are a field that continues to experience significant development. Recently, a method originating from psychology, the STIFIn method introduced by Dr. Farid Poniman, has improved Quran memorization techniques. This article aims to analyze the implementation of the STIFIn method at the Al-Fuad Fahmi Islamic Boarding School located in Palasari Village, Tangerang. This study uses a qualitative approach through field research methods, where data is obtained through interviews and observations. The results show that there are five types of intelligence—Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, and Instinct—which are used to identify the potential of each student through fingerprint testing. The results of this test are stable and do not change even though it is administered repeatedly. Implementing the STIFIn method at the Al-Fuad Fahmi Islamic Boarding School is going well. However, several challenges must be overcome to achieve optimal results according to the boarding school's expectations. The recommendation from this study is to improve training and support for teachers in implementing the STIFIn method, as well as to overcome existing obstacles so that students can optimize their potential in memorizing the Qur'an.Metode penghafalan Al-Qur’an adalah bidang yang terus mengalami perkembangan yang signifikan. Belakangan ini, metode yang berasal dari psikologi, yaitu metode STIFIn yang diperkenalkan oleh Dr. Farid Poniman, telah memberikan sumbangsih terhadap peningkatan teknik menghafal Al-Qur’an. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis implementasi metode STIFIn di Pondok Pesantren Al-Fuad Fahmi yang terletak di Desa Palasari, Tangerang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode penelitian lapangan, di mana data diperoleh melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima tipe kecerdasan—Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Instinct—yang digunakan untuk mengenali potensi masing-masing santri melalui tes sidik jari. Hasil dari tes ini bersifat stabil dan tidak berubah meskipun dilakukan berulang kali. Implementasi metode STIFIn di Pondok Pesantren Al-Fuad Fahmi berlangsung dengan baik, namun masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi untuk mencapai hasil optimal sesuai harapan pesantren. Rekomendasi dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pelatihan dan dukungan bagi para pengajar dalam menerapkan metode STIFIn, serta mengatasi hambatan yang ada agar santri dapat mengoptimalkan potensi mereka dalam menghafal Al-Qur’an.
Konsep Uzlah dalam Al-Qur’an dan Kontekstualisasinya dalam Pertemanan Generasi Milenial
This article discusses the concept of uzlah in the Qur'an and how it is applied in the context of friendship among the millennial generation. This research focuses on the millennial generation’s social challenges, often trapped in shallow relationships. This research explores how the uzlah concept can be applied to modern friendship. The methodology used is library research with a descriptive-analytical approach. The results of the study show that the analysis of Surah Al-Kahf verse 16 and Surah Maryam verses 48-49, concerning the interpretation of Al-Misbah and Tafsir Al-Azhar, reveals three concepts of uzlah that are relevant to the friendship of the millennial generation: first, friendship must be built on the foundation of faith, not just comfort; second, wealth and status cannot be used as a benchmark in choosing friends; third, in establishing friendship, it is essential to place fear and dependence on Allah SWT. This research recommends encouraging millennials to appreciate spiritual values more in building friendships, protecting the heart from spiritual veils, and creating meaningful relationships. Let us dig deeper into these values and make meaningful friendships.Artikel ini membahas konsep uzlah dalam Al-Qur’an dan bagaimana penerapannya dalam konteks persahabatan di kalangan generasi milenial. Fokus penelitian ini adalah tantangan sosial yang dihadapi generasi milenial, yang sering kali terjebak dalam hubungan yang dangkal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi penerapan konsep uzlah dalam persahabatan modern. Metodologi yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis terhadap Surah Al-Kahfi ayat 16 dan Surah Maryam ayat 48-49, dengan merujuk pada tafsir Al-Misbah dan Tafsir Al-Azhar, mengungkap tiga konsep uzlah yang relevan bagi persahabatan generasi milenial: pertama, persahabatan harus dibangun di atas landasan keimanan, bukan sekadar kenyamanan; kedua, harta dan status tidak boleh dijadikan patokan dalam memilih teman; ketiga, dalam menjalin persahabatan, sangat penting untuk menempatkan rasa takut dan ketergantungan kepada Allah Swt. Rekomendasi dari penelitian ini adalah untuk mendorong generasi milenial agar lebih menghargai nilai-nilai spiritual dalam membangun persahabatan, demi menjaga hati dari kekosongan spiritual dan menciptakan hubungan yang lebih berarti. Mari kita gali lebih dalam nilai-nilai ini dan wujudkan persahabatan yang penuh makna
Tinjauan Hadits Terhadap Fenomena Social Climber
Social Climber is a phenomenon where individuals strive to elevate their social status through various means, becoming an integral part of society's social dynamics. This research examines the phenomenon of social climbing from the perspective of hadith, the primary source of Islamic teachings. This study employs a qualitative approach using hadith thematic and grounded theory methods by investigating how Prophet Muhammad SAW viewed and guided his followers regarding seeking attention. Primary data is sourced from reliable digital hadith collections, while secondary data is derived from scholarly works related to the research topic. Data analysis combines both methods to identify key themes within hadith related to social climbing. This research aims to provide an understanding of social climbing behavior within the context of thematic hadith studies. By referencing hadith with similar themes or objectives, this study seeks to establish the Islamic legal basis for social climbing behavior, define and analyze the conflicting values associated with such actions, and explore how a Muslim should respond. Thus, the findings of this research aim to provide insights into how Islam views social climbing behavior and how a Muslim should react appropriately to it.Fenomena social climber, dimana individu berusaha menaikkan status sosial dengan berbagai cara, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika sosial masyarakat. Penelitian ini mengkaji fenomena ini dari sudut pandang hadis, sumber utama ajaran Islam, dengan tujuan memahami bagaimana Nabi Muhammad Saw memandang dan menuntun umatnya terkait perilaku ingin menonjolkan diri di hadapan orang lain. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tematik hadis dan grounded theory. Data primer berupa hadis-hadis dari sumber digital terpercaya, dan data sekunder berupa karya ilmiah terkait materi yang diteliti. Analisis data menggabungkan kedua metode tersebut untuk menemukan tema-tema utama dalam hadis tematik tentang social climber. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan tentang bagaimana Islam memandang perilaku social climber dan bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapinya. Temuan penelitian ini dapat menjadi panduan moral dan etika dalam mencapai status sosial yang selaras dengan nilai-nilai agama. 
Analisis Kontekstual Surat Al-Anfal Ayat 17: Mengungkap Makna Substantif Perang dan Implikasinya dalam Konteks Kontemporer
The classical interpretation of the Qur'an has been the primary foundation for understanding the sacred text of Islam for centuries. However, in modern times, criticism has emerged of this approach from contextual commentators, who argue that the Qur'anic text should be understood dynamically, considering the context of the time and location where the revelation was revealed. This article examines the contextualization of Surah al-Anfal verse 17 concerning war through a historical-critical analysis, particularly regarding the asbab al-nuzūl (the reason for the occurrence of the consequences). Second, this verse emphasizes that jihad is not limited to physical warfare but encompasses the struggle against injustice. Third, in the spiritual dimension, this verse teaches submission to God and awareness of God's will. This research recommends applying the ethical and spiritual principles in this verse to address the challenges facing Muslims today, such as justice and the protection of rights..Penafsiran klasik Al-Qur’an telah menjadi landasan utama dalam memahami teks suci Islam selama berabad-abad. Namun, di zaman modern ini, muncul kritik terhadap pendekatan tersebut dari para mufasir kontekstual, yang berargumen bahwa teks Al-Qur’an seharusnya dipahami secara dinamis dengan mempertimbangkan konteks zaman dan lokasi wahyu diturunkan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji kontekstualisasi Surah al-Anfal ayat 17 mengenai perang melalui analisis kritis historis, khususnya dalam aspek asbāb al-nuzūl. Dua pertanyaan utama yang diajukan adalah: bagaimana relevansi asbāb al-nuzūl Surah al-Anfal ayat 17 terhadap tafsir ayat, dan bagaimana pemaknaan perang dalam konteks kontemporer, baik secara konkret maupun transendental. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analitis, sesuai dengan pendekatan penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Surah al-Anfal ayat 17 menyimpan pesan multidimensi—mencakup aspek historis, sosial-politik, etis, dan transendental. Pertama, dari sudut pandang historis, ayat ini berakar pada Perang Badar sebagai respons defensif terhadap serangan Quraisy. Kedua, ayat ini menegaskan bahwa jihad tidak hanya terbatas pada peperangan fisik, tetapi juga mencakup perjuangan melawan ketidakadilan. Ketiga, dalam dimensi spiritual, ayat ini mengajarkan tawakkul dan kesadaran akan kehendak Ilahi. Rekomendasi dari penelitian ini adalah menerapkan prinsip etis dan spiritual yang terkandung dalam ayat ini untuk menghadapi tantangan yang dihadapi umat Islam saat ini, seperti keadilan dan perlindungan hak
Transformasi Diri dan Harmonisasi Alam dengan Puasa: Perspektif Al-Qur'an dan Sains
Contemporary society often experiences stress, anxiety, and depression due to technological advances and rapid social change. In the Qur'an, Surah Al-Baqarah/2: 183, fasting is described as a comprehensive practice that helps individuals cope with stress and improve mental health through reflection and changes in existential awareness. This study aims to explore self-transformation and harmony between humans and nature through fasting, using approaches from the Qur'an and science. The method used is qualitative descriptive analysis, utilizing relevant literature on fasting, mental health, and human interaction with the environment. The research findings indicate that fasting is a spiritual ritual and teaches simplicity and respect for nature, which supports the balance between humans and the environment. The recommendations from this study are to encourage the practice of fasting to achieve better mental and ecological health, and to expand studies on the impact of fasting in the context of mental health and the environment.Masyarakat kontemporer sering mengalami stres, kecemasan, dan depresi akibat kemajuan teknologi serta perubahan sosial yang cepat. Dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah/2: 183, puasa diuraikan sebagai praktik menyeluruh yang membantu individu mengatasi stres dan meningkatkan kesehatan mental melalui refleksi dan perubahan kesadaran eksistensial. Penelitian ini bertujuan untuk menggali transformasi diri dan keharmonisan antara manusia dan alam melalui puasa, dengan pendekatan dari Al-Qur'an dan sains. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif, dengan memanfaatkan literatur yang relevan mengenai puasa, kesehatan mental, dan interaksi manusia dengan lingkungan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa puasa bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga mengajarkan kesederhanaan dan penghormatan terhadap alam, yang mendukung keseimbangan antara manusia dan lingkungan. Rekomendasi dari penelitian ini adalah mendorong praktik puasa untuk mencapai kesehatan mental dan ekologi yang lebih baik, serta memperluas studi mengenai dampak puasa dalam konteks kesehatan mental dan lingkungan
Levels of Obedience According to a Javanese Tafsir: An Analysis of Bakri Syahid's Tafsir Al-Huda
This study discusses the concept of obedience according to Bakri Syahid in Tafsir Al-Huda, a Javanese interpretation. This study examines how Bakri Syahid interprets and defines obedience in various speech and Javanese vocabulary levels, from Ngoko to krama. This interpretation shows the importance of obedience, as obedience is passive and involves deep appreciation and sincerity. Through a qualitative approach and library research method, the author examines 54 verses of the Qur'an containing the word and its derivations ṭā‘ah and identifies five levels of obedience, from the lowest (Ngrujuki) to the highest (Ngestokaken Dhawuh). The author also examines the meaning of each interpretation of ṭā‘ah in Javanese through several dictionaries and books on Javanese grammar. In addition, in studying the verses, the author considers the Asbabun Nuzul verses and Ibn Kathir's interpretation as a comparison to make this research as objective as possible. This research concludes that obedience, according to Bakri Syahid, involves seriousness, conformity between words, heart, and deeds, sincerity, conformity to the rules, readiness in all circumstances, consistency, love, and respect in carrying out Allah's commands.Penelitian ini membahas konsep ketaatan menurut Bakri Syahid dalam Tafsir Al-Huda, sebuah karya tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa. Penelitian ini mengkaji bagaimana Bakri Syahid mengartikan dan menafsirkan ketaatan dalam berbagai tingkatan tutur dan tingkatan kosakata bahasa Jawa, mulai dari ngoko hingga krama. Penafsiran ini menunjukkan pentingnya ketaatan sebagai kepatuhan yang tidak hanya bersifat pasif, tetapi juga melibatkan penghayatan mendalam dan kesungguhan. Melalui pendekatan kualitatif dan metode library research, penulis meneliti 54 ayat Al-Qur’an yang mengandung kata dan derivasi ṭā‘ah serta mengidentifikasi lima tingkatan ketaatan, dari yang terendah (ngrujuki) hingga yang tertinggi (ngestokaken dhawuh). Penulis juga mengkaji arti setiap penafsiran ṭā‘ah dalam bahasa Jawa melalui beberapa kamus dan buku tentang tata bahasa Jawa, selain itu dalam penelaahan ayat penulis mempertimbangkan asbabun nuzul ayat dan tafsir Ibnu Katsir sebagai pembanding untuk membuat penelitian ini se objektif mungkin. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketaatan menurut Bakri Syahid melibatkan keseriusan, kesesuaian antara perkataan, hati dan perbuatan, keikhlasan, kesesuaian dengan aturan, kesiapan dalam segala keadaan, keistiqomahan, cinta dan penghormatan dalam menjalankan perintah Allah
Otentisitas dan Keterbatasan Sumber Tafsīr bi al-Maʾṯūr dalam Menangani Tantangan Pemikiran Kontemporer
This study examines the authenticity and limitations sources of Tafsīr bi al-Maʾṯūr in addressing contemporary intellectual challenges. While often regarded as authoritative for relying on the Qur'an, Hadith, and the sayings of the Sahabah and Tābi'īn, Tafsīr bi al-Maʾṯūr faces challenges such as the inclusion of Isrāiliyāt, omitted Sanad (chains of transmission), as fabricated reports. This study explores traditional scholars' approaches to these issues using qualitative and descriptive methods based on library research. It evaluates the contribution ofTafsīr bi al-Maʾṯūr to modern Islamic thought. The conclusion indicates that not all Tafsīr bi al-Maʾṯūr maintain high authenticity despite its general perception as being based on reliable sources. Some interpretations rely on narratives that lack a direct connection to the Qur'anic text, including Isrāiliyāt and fabricated hadiths, or omit Sanad, raising doubts about their credibility. Therefore, looking at previous studies which say that Tafsīr bi al-Maʾṯūr is sufficient as the primary reference in understanding the text of the Qur'an, this is fatal because a more dynamic and contextual interpretation approach is still needed to ensure that the interpretation of the Qur'an remains relevant in the modern era.Penelitian ini mengkaji keaslian dan keterbatasan Tafsīr bi al-Maʾṯūr dalam menghadapi tantangan intelektual kontemporer. Meskipun sering dianggap otoritatif karena bersumber dari Al-Qur’an, Hadis, perkataan Sahabat, dan Tābi’īn, Tafsīr bi al-Maʾṯūr menghadapi sejumlah masalah, seperti keberadaan Isrāiliyāt, ketiadaan Sanad(rantai periwayatan) yang dipalsukan. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan deskriptif berbasis studi kepustakaan, penelitian ini mengeksplorasi cara ulama terdahulu menangani isu-isu tersebut dan mengevaluasi kontribusi Tafsīr bi al-Maʾṯūr terhadap pemikiran Islam modern. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua Tafsir bi al-Maʾṯūr memiliki otentisitas yang tinggi, meskipun umumnya dianggap bersumber dari riwayat yang dapat dipercaya. Beberapa Tafsīr bi al-Maʾṯūr didasarkan pada riwayat yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan teks Al-Qur'an atau mencakup Isrāiliyāt dan hadis palsu, serta penghilangan sanad, sehingga menimbulkan keraguan terhadap keasliannya. Dalam menghadapi tantangan pemikiran kontemporer, Tafsīr bi al-Maʾṯūr menunjukkan keterbatasan sumber dan kurang fleksibel dalam menjawab isu-isu baru seiring perkembangan zaman. Oleh karena itu, melihat daripada penelitian-penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa Tafsīr bi al-Maʾṯūr sudah cukup menjadi referensi utama dalam memahami teks Al-Qur’an itu sangat fatal karena masih diperlukan pendekatan tafsir yang lebih dinamis dan kontekstual untuk memastikan interpretasi Al-Qur'an tetap relevan di era modern
Women’s Social Issues According to Asma Lamrabet in Her Book the Qur’an and Women: (Critical Studies)
حضور حركة تحرير المرأة في وسط المجتمع التي تعبر دائمًا عن حرية المرأة من خلال انتقاد تفسير العلماء القديمة تقصد إلى القضاء على الصفات النبيلة التي يجب أن تتصف المرأة المسلمة. إحدى الشخصيات النسوية التي عبرت عن ذلك بنشاط من خلال إنشاء مركز للبحوث وكتابة الكتب والمقالات هي أسماء المرابط. تناقش في هذا البحث كتابها القرآن والنساء؛ قراءة للتحرر. لم يوجد البحوث العلمية حول هذا الكتاب في أنواع الدراسات، في حين أن هذا الكتاب هو من كتب حركة تحرير المرأة التي تتطلب المناقشة والتحليل والمقارنة. استخدمت الباحثة دراسة التفسير الموضوعي مع نوع البحث المكتبي (library research) والمنهج الوصفي والمنهج التحليلي النقدي في تحليل البيانات. وجدت الباحثة أن هناك التباسا في تفسير القرآن الذي فسرها أسما المرابط مع تفسير العلماء الراسخون فى العلم. ويتجلى هذا الالتباس في ستة قضايا، وهي: خلق حواء، ومكانة المرأة في المجال السياسي، وتعدد الزوجات، والميراث، وشهادة رجل تعادل بامرأتين، وضرب الزوجة. فيهدف هذا البحث لمعرفة مفهوم المرأة وفقًا لأسماء المرابط ومعرفة انتقادات المفسرين على آرائها.The emergence of women's liberation movements in society often expresses women's freedom by criticizing the interpretations of ancient scholars, which have the potential to eliminate the noble values that should be inherent in Muslim women. One feminist figure active in this regard is Asma Lamrabet, who expressed her views through her book The Qur'an and Women: A Reading of Liberation. This study aims to analyze the book, which has not been widely discussed in academic studies, despite being a significant work in the women's liberation movement. The methodology is an objective interpretation survey with library research and a descriptive and critical analytical approach. The study results indicate confusion in Asma Lamrabet's interpretation of the Qur'an, especially in interpreting the views of scholars. This confusion covers six main issues: the creation of Eve, the position of women in politics, polygamy, inheritance distribution, the testimony of one man being equal to two women, and the act of wife-beating. This study's recommendations include further analysis of the concept of women according to the views of marabouts and criticism of their opinions to enrich gender discourse in Islam
Interpretasi Al-Qur’an tentang Pedofilia Perspektif Tafsir Al-Azhar Karya Buya Hamka
In social life, humans cannot be separated from communication between others. In human consciousness as social beings, there is a need to share a sense of responsibility and nurture younger individuals from older individuals. One of the social problems that often occurs is social crimes against children (pedophilia). The reason why someone becomes a pedophile is because they have a traumatic past, cannot socialize, feel low self-esteem, economic factors, etc. The Qur'an describes this sexual disorder. The Qur'an describes this sexual disorder as an abominable act in Qs. An-Naml [27]:54 and Surah Al-An'am [6]:151 in the book of Al-Azhar interpretation by Prof. Dr. Hj Abdul Malik Abdulkarim Amrullah, also known as Buya Hamka. This heinous act is a disease; in addition to homosexuality, there is another explanation of sexual abnormalities, namely the sexual desire of older people attracted to younger ones. The results showed that this heinous act is found in the Qur'an story.Dalam berkehidupan sosial, manusia tidak terlepas dari komunikasi antar sesama. Dalam kesadaran manusia sebagai makhluk sosial, terdapat suatu keharusan untuk membagi rasa tanggung jawab dan mengayomi individu yang lebih muda dari individu yang lebih tua. Salah satu permasalahan sosial yang sering terjadi adalah kejahatan sosial pada anak (pedofilia). Penyebab seseorang menjadi pedofil karena ia memiliki trauma masa lalu, kurangnya kemampuan dalam bersosialisasi, merasa harga dirinya rendah, faktor ekonomi, dan sebagainya. Al-Qur’an menjelaskan kelainan seksual ini dengan perbuatan yang keji pada Qs. An-Naml [27]:54 dan Surat Al-An’am [6]:151 dalam Kitab Tafsir Al-Azhar karya Prof. Dr. Hj. Abdul Malik Abdulkarim Amrullah atau dikenal dengan Buya Hamka. Perbuatan keji ini sebuah penyakit, selain homoseksualitas terdapat penjelasan lain tentang kelainan seksual yaitu hasrat seksual orang yang lebih tua tertarik kepada yang lebih muda. Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya perbuatan keji ini terdapat dalam kisah di dalam Al-Qur’an