Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara
Not a member yet
595 research outputs found
Sort by
Ecoenzyme Menuju Agroindustri yang Berkelanjutan Desa Sumber Waru Kecamatan Binakal Bondowoso Jawa Timur
Unmanaged organic waste will be a problem in itself. The solution offered to overcome the problem of wasting food waste in the form of vegetables and fruits is to make eco enzymes. Making integrated eco enzymes is by utilizing all waste in the vegetable/agricultural farming system, in the integrated agricultural cultivation process into a zero waste bioenergy cycle. If every household and farmer uses their waste to produce environmentally friendly enzymes, it can stop kitchen waste from polluting our land/zero waste and while reducing global warming, we can help change the climate and increase income from eco enzymes sold. In community service activities, all group members come to the partner to get direction and material on the eco enzyme making process and the benefits obtained. The income obtained by the farmer group or PKK mothers in one eco enzyme harvest is IDR 285,000. Eco enzyme materials such as kitchen waste in the form of unused vegetable scraps and fruit peels.Sampah organik yang tidak dikelola akan menjadi permasalahan tersendiri. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah terbuangnya sampah/limbah makanan berupa sayuran dan buah-buahan adalah dengan pembuatan eco enzyme. Pembuatan eco enzyme terintegrasi adalah dengan memanfaatkan semua limbah yang ada dalam sistem pertanian sayuran/pertanian, dalam proses budidaya pertanian yang terintegrasi menjadi suatu siklus zero waste bioenergy. Jika setiap rumah tangga dan petani menggunakan sampah mereka untuk menghasilkan enzim ramah lingkungan, itu dapat menghentikan limbah dapur dari polusi tanah kita/zero waste dan sementara itu mengurangi pemanasan global, kita dapat membantu mengubah iklim dan meningkatkan pendapatan dari eco enzyme yang dijual. Dalam kegiatan pengabdian semua anggota kelompok mendatangi pihak mitra untuk mendapat arahan dan materi mengenai proses pembuatan eco enzyme dan manfaat yang didapatkan. Pendapatan yang diperolah oleh kelompok tani atau ibu-ibu PKK dalam sekali panen eco enzme adalah Rp. 285.000,-. Bahan eco enzyme seperti sampah dapur berupa sisa sayuran yang sudah tidak digunakan dan kulit buah
Pemberdayaan Petani melalui Produksi Mikroorganisme Lokal (MOL) dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) untuk Meningkatkan Produktivitas Padi dan Silase di Desa Kemiri, Kabupaten Jember
Kemiri Village, Panti District, Jember Regency is one of the rice-producing villages but faces the problem of scarcity of subsidized fertilizers and ineffective management of agricultural waste. This needs to be overcome with simple but effective handling. This community service activity aims to empower farmers through the production of Local Microorganisms (MOL) and Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) to increase rice productivity while supporting the potential of livestock in the village. The target partner in this activity is the Sidodadi farmer group consisting of 30 farmers. The implementation method includes training in making MOL and PGPR, applying PGPR to rice plants, and making silage as animal feed. The results of the activity show that the activities carried out related to the use of PGPR can help increase rice growth, improve yields, and reduce dependence on chemical fertilizers. In addition, making silage successfully processes green fodder into quality feed that supports food security for livestock in the village. In the future, this activity is expected to strengthen the sustainability of agricultural and livestock practices in Kemiri Village and improve the economy of farmers.Desa Kemiri, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember merupakan salah satu desa penghasil padi namun menghadapi masalah kelangkaan pupuk bersubsidi serta pengelolaan limbah pertanian yang kurang efektif. Hal ini perlu diatasi dengan penanganan yang sederhana namun efektif dalam hasilnya. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan petani melalui produksi Mikroorganisme Lokal (MOL) dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) guna meningkatkan produktivitas padi sekaligus mendukung potensi peternakan di desa tersebut. Mitra sasaran dalam kegiatan ini adalah kelompok tani Sidodadi yang terdiri dari 30 petani. Metode pelaksanaan mencakup pelatihan pembuatan MOL dan PGPR, pengaplikasian PGPR pada tanaman padi, serta pembuatan silase sebagai pakan ternak. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan terkait penggunaan PGPR dapat membantu peningkatan pertumbuhan padi, memperbaiki hasil panen, dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Selain itu, pembuatan silase berhasil mengolah hijauan menjadi pakan berkualitas yang mendukung ketahanan pangan bagi peternakan yang ada di desa tersebut. Pada masa mendatang, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan praktik pertanian dan peternakan di Desa Kemiri dan meningkatkan perekonomian para petani
Gambaran Durasi dan Jumlah Penggunaan Gawai terhadap Kesehatan Mata Tenaga Kependidikan dan Tenaga Pengajar di Surabaya Barat
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam 20 tahun terakhir menyebabkan transformasi besar dalam cara manusia berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Rata-rata waktu yang dihabiskan oleh individu untuk menggunakan internet melalui perangkat digital mencapai lebih dari 6 jam per hari, yang sebagian besar didominasi oleh aktivitas menatap layar (screen time). Dalam program ini juga bertujuan untuk mengedukasi bagaimana cara meningkatkan pemahaman tentang pentingnya pemeriksaan mata dan perawatan kesehatan mata secara umum di kalangan sivitas akademika, dengan melakukan skrining dan pemeriksaan mata pada tenaga pendidik dan tenaga kependidikan untuk mencegah dan mendeteksi secara dini adanya gangguan pada mata. Cakupan peserta meliputi tenaga kependidikan dan tenaga pengajar di area Surabaya Barat, kegiatan dilaksanakan di Universitas Ciputra pada bulan Mei 2024. Metode pelaksanaan diawali dengan pemeriksaan umum, pemeriksaan mata dengan alat Auto Refracto Keratometer (ARK), dan Snellen Chart yang di diagnosis langsung oleh Dokter Spesialis Mata. Hasil dari pemeriksaan diolah dengan metode kuantitatif uji deskriptif berupa tabulasi data dengan membandingkan jumlah gawai dengan durasi penggunaan. Hasil dari pengabdian masyarakat, peserta yang memiliki gangguan mata terbanyak adalah penggunaan multidevice dan durasi lebih dari 2 jam, oleh karena itu perlu dilakukan melakukan skrining mata secara rutin, dan melakukan pembatasan jumlah perangkat digital yang digunakan secara bersamaan, dan menerapkan pencegahan kerusakan pada mata. Advances in information and communication technology over the past 20 years have led to a major transformation in how humans interact with their surroundings. The average time individuals spend using the internet through digital devices has reached more than 6 hours per day, with much of this time spent on screen time. This program also aims to educate the academic community on how to increase understanding of the importance of eye examinations and general eye health care by conducting screenings and eye examinations for educators and educational staff to prevent and detect eye disorders early. The scope of participants includes educational staff and teaching staff in the West Surabaya area, and the activity was carried out at Ciputra University in May 2024. The implementation method began with a general examination, an eye examination using an Auto Refracto Keratometer (ARK) device, and a Snellen Chart, which was diagnosed directly by an Ophthalmologist. The results of the examination were processed using a quantitative descriptive test method in the form of data tabulation by comparing the number of devices used with the duration of use. The results of community service, participants who had the most eye disorders were multi-device users and for a duration of more than 2 hours, therefore it is necessary to carry out regular eye screening, and limit the number of digital devices used simultaneously, and implement prevention of eye damage
Penerapan Biosekuriti Lingkungan Kandang dalam Upaya Pencegahan Penyakit Menular
Mangunsari Village is one of the goat farming centers in Gunungpati District, Semarang. They raise goats from generation to generation and based on experience, so care patterns are often not uniform from one to another. In addition to feed, animal hygiene and health are very important to implement in enforcing biosecurity in the pen and its surrounding environment. The goal of this activity is to improve goat health and the safety of the pen environment through biosecurity. The community service is divided into two: providing materials and training followed by practice. Twenty participants, members of the Mekar Sari 2 livestock farmer group, were accompanied by a team of nine lecturers, technicians, and students. The activity began with filling out a questionnaire, theory, and ended with practice. Data obtained showed that 53.8% were aged > 50 years and 23.1% were < 40 years. In addition, 84.6% of participants had been members of the livestock farmer group for a long time (≥ 10 years). There was a 0.2% increase in knowledge regarding infectious diseases, a 2% increase in leaf and grass feed, a 61.6% increase in forage that must be wilted, and a 7.7% increase in pen cleanliness. Participants also understood that forage is best not provided wet (40.5%). The results concluded that this activity improved knowledge about biosecurity components and the participants\u27 skills in physical examination of goats and pen cleanliness.Kelurahan Mangunsari menjadi salah satu daerah sentra peternakan kambing di Kecamatan Gunungpati Semarang. Mereka memelihara kambing secara turun menurun dan berdasar pengalaman sehingga pola perawatan seringkali tidak seragam satu dengan yang lain. Selain pakan, kebersihan dan kesehatan hewan sangat penting untuk diterapkan dalam menegakkan biosekuriti kandang dan lingkungan sekitarnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan kesehatan kambing dan keamanan lingkungan kandang melalui biosekuriti. Pengabdian dibagi menjadi 2, yaitu pemberian materi dan pelatihan yang dilanjutkan dengan praktek. Peserta berjumlah 20 orang yang merupakan anggota kelompok tani ternak Mekar Sari 2 didampingi 9 orang tim yang terdiri dari dosen, teknisi dan mahasiswa. Kegiatan diawali dengan mengisi kuisioner, teori, diakhiri dengan praktek. Data yang diperoleh bahwa sebesar 53,8% berusia > 50 tahun dan 23,1% < 40 tahun. Selain itu sebanyak 84,6% peserta sudah cukup lama ≥ 10 tahun menjadi anggota kelompok tani ternak. Terdapat peningkatan pengetahuan sebanyak 0,2% tentang penyakit menular, 2% pakan berupa daun daunan dan rumput, hijaun harus dilayukan 61,6% dan 7,7% untuk kebersihan kandang. Peserta menjadi paham bahwa hijauan lebih baik tidak diberikan dalam keadaan basah (40,5%). Dari hasil, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini meningkatkan pengetahuan tentang komponen biosekuriti dan ketrampilan anggota dalam pemeriksaan fisik kambing dan kebersihan kandang
Peningkatan Keterampilan Profesional Guru dalam Membuat E-Komik Strip Berbantuan Artificial Intelligence (AI) berbasis Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Kemampuan Visual Spasial Guru Geografi
Teknologi digital menjadi aspek penting dalam pendidikan di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Guru geografi di Lumajang masih menghadapi kendala dalam pemanfaatan teknologi terutama terkait keterampilan membuat media pembelajaran digital yang interaktif. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kompetensi profesional dan kemampuan visual spasial guru melalui pelatihan serta pendampingan pembuatan e-komik strip berbantuan Artificial Intelligence (AI) berbasis kearifan lokal. Program pengabdian dilaksanakan di SMA Negeri 3 Lumajang dengan melibatkan 10 guru MGMP Geografi. Metode yang digunakan adalah Service Learning yang dipadukan dengan pendekatan kuantitatif melalui pretest dan posttest menggunakan instrumen angket keterampilan guru dan tes visual spasial. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan signifikan dengan skor N-Gain sebesar 0,61 (kategori sedang),yang menandakan efektivitas program dalam memperkuat keterampilan guru. Dampak lain yang terlihat adalah meningkatnya kreativitas guru dalam mengembangkan materi ajar serta kemampuan memanfaatkan TIK secara lebih adaptif. Tantangan berupa keterbatasan waktu dan kebutuhan pelatihan berkelanjutan tetap menjadi catatan penting. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi AI dengan kearifan lokal melalui media e-komik dapat menjadi strategi inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran geografi. Rekomendasi diarahkan pada perluasan program, penguatan kolaborasi antara kampus, sekolah, dan komunitas pendidikan, serta penyediaan dukungan sarana digital yang memadai.Digital technology has become an important aspect of education in the era of the 4.0 industrial revolution and society 5.0. However, geography teachers in Lumajang still face obstacles in utilizing technology, especially in terms of skills in creating interactive digital learning media. This study aims to improve teachers\u27 professional competence and visual-spatial abilities through training and assistance in creating AI-assisted e-comic strips based on local wisdom. The community service program was implemented at SMA Negeri 3 Lumajang, involving 10 teachers from the Geography Teacher Working Group (MGMP). The method used was Service Learning combined with a quantitative approach through pre-tests and post-tests using teacher skill questionnaires and spatial visual tests. The results showed a significant increase with an N-Gain score of 0.61 (moderate category), indicating the program\u27s effectiveness in strengthening teachers\u27 skills. Another noticeable impact was an increase in teachers\u27 creativity in developing teaching materials and their ability to utilize ICT more adaptively. However, challenges such as time constraints and the need for continuous training remain important considerations. This study concludes that integrating AI with local wisdom through e-comics can be an innovative strategy to improve the quality of geography learning. Recommendations are directed at expanding the program, strengthening collaboration between universities, schools, and educational communities, and providing adequate digital support
Pemberdayaan SDM dalam Peningkatan Kualitas Produksi dan Pemasaran “Kemplang Panggang” Kec. Pemulutan
Human Resource (HR) Empowerment is a key factor in improving the quality of production and marketing of local products. Kemplang Panggang, as one of the leading products in Pemulutan District. Responding to the challenges in improving quality and competitiveness in a wider market. This Community Service Program aims to improve business actors in the aspects of production and marketing through training and mentoring. The methods used include training in hygienic production techniques, improving quality standards, and digital marketing strategies. The results of the activity show an increase in understanding and skills of business actors in implementing good production standards and the use of digital media for marketing. The results of this activity confirm that increasing HR capacity plays an important role in encouraging local business growth and expanding market reach.Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan faktor kunci dalam meningkatkan kualitas produksi dan pemasaran produk lokal. Kemplang Panggang, sebagai salah satu produk unggulan di Kecamatan Pemulutan. Menanggapi tantangan dalam peningkatan kualitas dan daya saing di pasar yang lebih luas. Program Pengabdian Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pelaku usaha dalam aspek produksi dan pemasaran melalui pelatihan dan pendampingan. Metode yang digunakan meliputi pelatihan teknik produksi higenis, peningkatan standar kualitas, serta strategi pemasaran digital. Hasil kegiatan menunjukan peningkatan pemahaman dan keterampilan pelaku usaha dalam menerapkan standar produksi yang baik serta penggunaan media digital untuk pemasaran. Hasil dari kegiatan ini menegaskan bahwa peningkatan kapasitas SDM berperan penting dalam mendorong pertumbuhan usaha lokal dan memperluas jangkaan pasar
Penguatan Ekonomi Lokal melalui Peningkatan Kualitas Produksi dan Digitalisasi Pemasaran Ikan Asin di Kampung Siabang
The salted fish industry in Kampung Siabang, Kelurahan 5 Ulu, Seberang Ulu 1 District faces challenges such as production hygiene standards, unattractive packaging, no brand identity, and minimal use of digital marketing, resulting in low product competitiveness. This community service program aims to improve production and marketing quality through training in hygienic production standardization, packaging, branding, and digital marketing. The method used is a participatory approach with training, direct practice, and evaluation. The results show an increase in the durability of salted fish products, more attractive packaging with product labels, and an increase in the number of business actors using digital media for marketing. This program is effective in increasing the competitiveness of the salted fish industry, although further assistance is still needed.Industri ikan asin di Kampung Siabang, Kelurahan 5 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1 menghadapi tantangan yaitu standar kebersihan produksi, kemasan yang kurang menarik, belum adanya identitas merek, serta minimnya pemanfaatan pemasaran digital sehingga menyebabkan daya saing produk rendah. Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan kualitas produksi dan pemasaran melalui pelatihan standarisasi produksi higienis, pengemasan, branding, serta pemasaran digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dengan pelatihan, praktik langsung, dan evaluasi. Hasil menunjukkan peningkatan daya tahan produk ikan asin, kemasan lebih menarik dengan label produk, serta peningkatan jumlah pelaku usaha yang menggunakan media digital untuk pemasaran. Program ini efektif dalam meningkatkan daya saing industri ikan asin, meskipun pendampingan lanjutan tetap diperlukan
Penguatan Numerasi dan Literasi Sains melalui Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila berbasis STEM di SD Inklusi Kabupaten Sidoarjo
This community service aims to improve several aspects of education at SD Negeri Wonocolo 1, especially literacy and numeracy. Through strengthening numeracy and science literacy, it is hoped that students will not only be able to read and count, but also understand scientific concepts in everyday life. Another objective of this PKM is to utilize school land through the implementation of the STEM-based P5 Project. The PKM implementation method is the preparation stage, implementation stage, evaluation stage and program sustainability. This approach aims to improve teachers\u27 abilities in implementing P5 teaching modules that integrate numeracy and science literacy using the school context through the STEM platform. The results of this community service are the formation of a community of practitioners between the principal and partner teachers, this community is able to share knowledge and discuss learning tools that are relevant to numeracy and science literacy, and facilitate active participation in STEM projects at school. Furthermore, there is an increase in teacher skills in the aspects of numeracy and science literacy based on STEM by ≥ 70% based on pre-test and post-test evaluations after training. The compilation of 3 P5 teaching modules covering the dimensions of creativity, independence, mutual cooperation, and global diversity, implemented in the context of STEM with the theme of Sustainable Development Goals, and the topic of Land Ecosystems (life on land), which resulted in three P5 teaching modules according to phases A, B, and C of the independent curriculum that are relevant for SDN Wonocolo 1.Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan beberapa aspek pendidikan di SD Negeri Wonocolo 1, terutama literasi dan numerasi. Melalui penguatan numerasi dan literasi sains diharapkan siswa tidak hanya mampu membaca dan menghitung, tetapi juga memahami konsep-konsep sains dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan lain dari PKM ini untuk memanfaatkan lahan sekolah melalui implementasi Projek P5 berbasis STEM. Metode pelaksanaan PKM yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap evaluasi dan keberlanjutan program. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengimplementasikan modul ajar P5 yang mengintegrasikan numerasi dan literasi sains dengan menggunakan konteks sekolah melalui platform STEM. Hasil dari pengabdian ini adalah terbentuknya komunitas praktisi antara kepala sekolah dan guru mitra, komunitas ini mampu berbagi pengetahuan serta mendiskusikan perangkat pembelajaran yang relevan dengan numerasi dan literasi sains, serta memfasilitasi partisipasi aktif dalam proyek STEM di sekolah. Selanjutnya, terdapat peningkatan keterampilan guru pada aspek numerasi dan literasi sains berbasis STEM sebesar ≥ 70% berdasarkan evaluasi pretes dan posttes setelah pelatihan. Tersusunnya 3 modul ajar P5 yang mencakup dimensi kreativitas, kemandirian, gotong royong, dan kebhinekaan global, diimplementasikan dalam konteks STEM dengan tema Sustainable Development Goals, dan topik Ekosistem daratan (life on land), yang menghasilkan tiga modul ajar P5 sesuai fase A, B, dan C kurikulum merdeka yang relevan untuk SDN Wonocolo 1
Pemberdayaan Kelompok Nelayan melalui Pelatihan dan Pemberian Fish Finder
Kemiskinan di wilayah pesisir menjadi salah satu permasalahan yang belum terselesaikan dan membutuhkan upaya untuk meningkatan kesejahteraan. Kelompok nelayan skala kecil memiliki kelemahan terhadap tatakelola sumber daya laut sehingga termasuk kedalam kelompok rentan secara sosial dan ekonomi. Penggunaan alat tradisional yang kurang efisien menjadi faktor penyebab kerentanan yang dialami kelompok nelayan saat ini. Hasil riset terdahulu menyebutkan bahwa kelompok nelayan membutuhkan teknologi fish finder untuk meningkatkan hasil tangkapan. Pelatihan dan pemberian fish finder sosialisasi dan pelatihan penggunaan teknologi fish finder kepada kelompok nelayan Desa Pulo Sarok, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil merupakan salah satu upaya pemberdayaan untuk meningkatkan margin keuntungan dan efisiensi biaya operasional. Pemberdayaan ini dilaksanakan menggunakan metode sosialisasi, pelatihan pengoperasian, hingga penerapan teknologi fish finder di kehidupan sehari-sehari. Sosialisasi pentingnya fish finder dalam aktivitas penangkapan ikan berhasil meningkatkan pemahaman peserta. Pelatihan dan demonstrasi perangkat berjalan dengan baik dan diikuti secara antusias oleh para nelayan. Kepercayaan diri dan kemandirian para nelayan meningkat saat mereka diberikan kesempatan untuk menerapkan teknologi fish finder secara langsung di kehidupan sehari-sehari. Mereka juga berhasil menerapkan materi pelatihan yang diberikan pada hari sebelumnya. Seluruh rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah bentuk dukungan konkret terhadap kelompok nelayan agar mampu memanfaatkan teknologi modern yang berkemajuan.Poverty in coastal areas is one of the unresolved problems and requires efforts to improve welfare. Small-scale fishermen groups have weaknesses in marine resource management so that they are included in the socially and economically vulnerable groups. The use of traditional tools that are less efficient is a factor causing the vulnerability experienced by fishermen groups today. Previous research results state that fishermen groups need fish finder technology to increase catches. Training and provision of fish finders, socialization and training in the use of fish finder technology to fishermen groups in Pulo Sarok Village, Singkil District, Aceh Singkil Regency is one of the empowerment efforts to increase profit margins and operational cost efficiency. This empowerment is carried out using socialization methods, operational training, to the application of fish finder technology in everyday life. Socialization of the importance of fish finders in fishing activities succeeded in increasing the understanding of the participants. Training and demonstration of the equipment went well and was followed enthusiastically by the fishermen. The confidence and independence of the fishermen increased when they were given the opportunity to apply fish finder technology directly in their daily lives. They also succeeded in applying the training materials given the previous day. The entire series of community service activities are a form of concrete support for fishermen groups so that they are able to utilize modern, advanced technology
Pelatihan Manajemen Sistem Informasi Digital dalam Meningkatkan Mutu Layanan di Pondok Pesantren Lubabul Fattah Tunggulsari Kabupaten Tulungagung
Information systems play a very important role in supporting the improvement of service quality in the current digital era, namely acting as the main foundation in service transformation, both in the public and private sectors. The challenges in managing administration and services at the Lubabul Fattah Tunggulsari Islamic Boarding School are still dominated by manual systems that are less efficient, resulting in delays in data processing, inaccuracy in managing information, and lack of transparency in Islamic boarding school management. This training is designed by providing practical guidance and technical simulations that can be implemented directly. This study uses the Participatory Action Research (PAR) method, which emphasizes the active involvement of participants in the process of identifying problems, designing solutions, and implementing and evaluating digital information system management training. The results obtained were an increase in participants\u27 understanding and skills related to the use of digital information systems, especially the SIPonpes application, to support the management of administration and operations of Islamic boarding schools. Participants succeeded in integrating digital technology into their work processes, which include student data management, learning schedule management, and automatic creation of administrative and financial reports. Another result was the improvement of digital infrastructure through technical solutions provided to overcome obstacles during implementation, such as troubleshooting guides and direct technical assistance by the implementation team. Overall, this activity has succeeded in bringing about real positive changes in the modernization of Islamic boarding school services, while also providing a digital management model that can be replicated in other institutions.Sistem informasi memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung peningkatan mutu layanan pada era digital saat ini, yaitu berperan sebagai fondasi utama dalam transformasi pelayanan, baik di sektor publik maupun swasta. Tantangan dalam pengelolaan administrasi dan layanan di Pondok Pesantren Lubabul Fattah Tunggulsari masih didominasi oleh sistem manual yang kurang efisien, mengakibatkan keterlambatan dalam pengolahan data, kekurangtepatan dalam mengelola informasi, serta kurangnya transparansi dalam manajemen pesantren. Pelatihan ini dirancang dengan menyediakan panduan praktis serta simulasi teknis yang dapat langsung diimplementasikan. Penelitian ini menggunakan metode Participatory Action Research (PAR), yang menekankan keterlibatan aktif para peserta dalam proses identifikasi masalah, perancangan solusi, serta implementasi dan evaluasi pelatihan manajemen sistem informasi digital. Hasil yang diperoleh yaitu adanya peningkatan dalam pemahaman dan keterampilan peserta terkait penggunaan sistem informasi digital, khususnya aplikasi SIPonpes, untuk mendukung pengelolaan administrasi dan operasional pondok pesantren. Peserta berhasil mengintegrasikan teknologi digital ke dalam proses kerja mereka, yang mencakup manajemen data santri, pengelolaan jadwal pembelajaran, dan pembuatan laporan administrasi serta keuangan secara otomatis. Hasil lain adalah adanya perbaikan infrastruktur digital melalui solusi teknis yang diberikan untuk mengatasi kendala selama implementasi, seperti panduan troubleshooting dan pendampingan teknis langsung oleh tim pelaksana. Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil membawa perubahan positif yang nyata dalam modernisasi layanan pondok pesantren, sekaligus memberikan model pengelolaan digital yang dapat direplikasi di institusi lainnya