Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara
Not a member yet
595 research outputs found
Sort by
Sosialisasi Pengetahuan Mengenai Kesehatan Reproduksi Seksual Bagi Remaja Di Desa Kungkai Baru, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Bengkulu
Problem about free sex, HIV/AIDS and sexual transmitted infection is due to minimum knowledge in adolescent about sexual reproduction health. In fact, knowledge about sexual reproduction is an important factor in attempt to make physical and mental health of adolescent. For that reason, socialization about sexual reproduction for adolescent is necessary. This activity was intended for adolescent in Kungkai Baru village, Air periukan sub district, Seluma Region. In addition, this activity was conducted as an attempt to support the existing Posyandu Remaja (adolescent health service center). The final purpose of this activity is that to give openness of knowledge and horizon about the importance of sexual reproduction health for adolescent in Kungkai Baru village, Air periukan sub district, Seluma Region, Bengkulu.Permasalahan mengenai free sex, HIV/AIDS dan masalah infeksi menular seksual salah satunya dipicu oleh masih minimnya pengetahuan pada remaja tentang kesehatan reproduksi seksual. Padahal pengetahuan mengenai Kesehatan Reproduksi Seksual menjadi hal yang penting dalam mewujudkan generasi remaja yang sehat secara fisik dan mental. Oleh karenanya diperlukan sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi seksual bagi remaja. Kegiatan ini ditujukan kepada remaja di Desa Kungkai Baru, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma. Disamping itu, kegiatan ini dilakukan sebagai upaya mendukung keberlangsungan program Posyandu Remaja yang ada di wilayah tersebut. Sosialisasi pengetahuan diberikan dalam bentuk ceramah dan diskusi secara interaktif dengan para remaja. Adapun tujuan akhir dari kegiatan ini adalah untuk memberikan keterbukaan wawasan dan pengetahuan mengenai pentingnya kesehatan reproduksi seksual bagi remaja di Desa Kungkai Baru, Kecamatan Air Periukan, Seluma, Bengkulu
Peningkatan Imunitas dengan Konsumsi Vitamin C dan Gizi Seimbang Bagi Ibu Hamil Untuk Cegah Corona Di Kota Tegal
Corona or Covid-19 virus is increasingly prevalent in a number of countries, now everyone is required to start increasing stamina, including pregnant women. Those who are pregnant certainly have to ensure that their nutritional intake can be met so that the body\u27s immune system remains stable, so that dangerous viruses do not easily attack. In an effort to increase immunity in the midst of the Covid-19 pandemic, taking vitamin C is one of the recommended ways and also an increase in food nutrition. This community service activity was carried out to improve the quality of balanced nutrition intake of pregnant women by providing food assistance and increasing immunity by consuming vitamin C during the Covid-19 Pandemic in Margadana Village, Tegal City. The result of this community service is the distribution of basic food and Vitamin C assistance, especially for pregnant women in the Margadana District of Tegal City during the Covid Pandemic period 19.Virus Corona atau Covid-19 yang semakin marak di sejumlah negara, kini semua orang diharuskan mulai meningkatkan stamina, tak terkecuali pada ibu hamil. Mereka yang sedang hamil tentu harus memastikan asupan gizi bisa terpenuhi agar daya tahan tubuh tetap stabil, sehingga virus berbahaya tidak mudah menyerang. Dalam upaya meningkatkan kekebalan tubuh di tengah pandemi Covid-19 ini, mengonsumsi vitamin C menjadi salah satu cara yang dianjurkan dan juga peningkatan gizi pangan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas asupan gizi seimbang ibu hamil yaitu dengan cara memberikan bantuan pemberian Sembako dan peningkatan kekebalan tubuh dengan konsumsi vitamin C selama masa Pandemi Covid-19 di Kelurahan Margadana Kota Tegal. Hasil pengabdian masyarakat ini yaitu terdistribusikannya bantuan Sembako dan Vitamin C terutama bagi ibu hamil di Wilayah Kelurahan Margadana Kota Tegal di masa Pandemi Covid 19
Pengembangan Potensi Usaha Dupa Menjadi Produk Unggulan
The aim of the community service program is to develop business potential in partner village, namely Petungsewu Village, Wagir District, Malang Regency, so that they can become the village\u27s superior products. The problem faced by partner villages is the value added of incense products are still low because it only focuses on raw incense, does not have its own market, because incense production is still based on orders, and the availability of raw material is often lacking. The first solution is of producing incense fragrances is given a brand whose marketing applies a partnership pattern with successful incense entrepreneurs, the second solution is to assist brand design and brand registration, and the third solution is to increase production of bamboo sticks by machine. The approach in implementing this service is Community Based Participatory Research (CBPR), which is a collaborative approach with the aim of overcoming problems in the community. The method is used in the form of assistance and consultation for making incense and packaging carried out by partners from successful entrepreneurs, mentoring and consultation on trademark registration, and substitution of science and technology in the form of using a bamboo stick refiner. The result of the activity there was an increase in value added because it had been produced and sold fragrant incense with "Mount Katu" brand which was marketed by business partners to the island of Bali, there was an increase in bamboo stick production because it had been used the help of a bamboo stick grinding machine. The results of these community service activities have an impact on increasing community income in partner village.Tujuan program pengabdian kepada masyarakat untuk mengembangkan potensi usaha dupa di desa mitra yaitu Desa Petungsewu Kecamatan Wagir Kabupaten Malang, agar bisa menjadi produk unggulan desa. Permasalahan yang dihadapi desa mitra adalah nilai tambah produk dupa masih rendah karena hanya fokus pada dupa mentah, belum memiliki pasar sendiri, karena produksi dupa masih berdasarkan pesanan, dan ketersediaan bahan baku biting sering kekurangan. Solusi pemecahan masalah pertama dengan memproduksi dupa wangi kemasan diberi merek yang pemasarannya menerapkan pola kemitraan dengan pengusaha dupa yang sudah berhasil, solusi kedua melakukan pendampingan dan konsultasi desain merek dan pendaftaran merek, dan solusi ketiga peningkatan produksi biting bambu dengan mesin. Pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan program pengabdian ini adalah Community Based Participatory Research (CBPR), yaitu pendekatan kolaboratif dengan maksud mengatasi permasalahan di masyarakat. Metode yang digunakan berupa pendampingan dan konsultasi pembuatan dupa wangi dan pengemasan yang dilakukan oleh mitra dari pengusaha yang sudah berhasil, pendampingan dan konsultasi pendaftaran merek, dan substitusi ipteks berupa penggunaan mesin penghalus biting bambu. Hasil kegiatan adanya peningkatan nilai tambah karena telah menghasilkan dan menjual dupa wangi dengan merek Gunung Katu yang dipasarkan oleh mitra pengusaha ke pulau Bali, ada peningkatan produksi biting bambu karena telah menggunakan bantuan mesin penghalus biting bambu. Hasil dari kegiatan pengabdian ini memberikan dampak pada peningkatan pendapatan masyarakat di desa mitr
Pelatihan Pengembangan Program Kokurikuler Bagi Guru SD Laboratorium UN PGRI Kediri
Pengabdian ini bertujuan untuk melaksakan solusi pemecahan masalah mitra SD Laboratorium UN PGRI Kediri guna (1) meningkatkan pemahaman guru terhadap wawasan program kokurikuler sebagai awal program pengembangan program kokurikuler, melalui penyuluhan dengan guru mengenai karakteristik materi tiap bidang studi yang memungkinkan dan berpotensi maksimal untuk dijadikan bahan program kokurikuler, dan kegiatan Focus Group Discussion antara tim dosen dan tim guru untuk menentukan prioritas pengembangan kokurikuler). Kegiatan pengabdian masyarakat ini dimulai dari presentasi tentang pembahasan pengertian, tujuan, prinsip, dan tata cara pelaksanaan program kokurikuler. Setelah dilakukan pemaparaan dari pemateri, dilakukan kegiatan tanya jawab bersama guru di SD Lab. UN PGRI Kediri. Para guru menjadi semakin memahami konsep kokurikuler (sebagai program tambahan intrakurikuler) dan diharapkan setelah kegiatan ini para guru siap dalam program pengabdian selanjutnya, yaitu pengembangan program kokurikuler secacra fisik.This service aims to implement solutions to solve the problems of Elementary School of Laboratorium UN PGRI Kediri as a partners to (1) increase teachers\u27 understanding of the curricular program insight as the beginning of the cocuricular program development program, through counseling with teachers about the material characteristics of each field of study that allow and maximum potential to be used as material the curricular program, and the Focus Group Discussion activity between the teaching team and the teacher team to determine priorities for the development of the curricular). This community service activity begins with a presentation on the discussion of the understanding, goals, principles, and procedures for implementing the curricular program. After the explanation from the speaker, a question and answer session was held with the teacher in Elementary School of Laboratorium UN PGRI Kediri. The teachers have come to understand the concept of the curricular (as an additional intracuricular program) and it is hoped that after this activity the teachers will be ready in the next service program, which is the physical development of the curricular program
PKM Smart Village Melalui Pengelolaan Perpustakaan Desa Rintisan Berbasis Teknologi Informasi Di Desa Bantarsari Bogor
The establishment of the Bantarsari village library is one of the objectives of the Community Partnership Program entitled PKM, an Information Technology-Based Enterprise Crystal GuavaVillage in Bantarsari Village, Rancabungur, Bogor, West Java. The purpose of establishing a village library is to improve the quality of human resources by providing printed and electronic information sources that are managed by the library by utilizing information technology. The method of implementing community service activities involves three stages: preparation, implementation, and evaluation that supports the Smart village concept. In the preparation phase which includes an analysis of the needs of the village library and procurement of collections following the information needs of the Bantarsari village community. Furthermore, at the implementation stage in the form of training on the management and utilization of information technology-based village libraries for village officials and some community members. At the evaluation stage, the service activity is in the form of monitoring community service activities and evaluating indicators of the achievement of activities. The results of the community service activities besides the availability of a physical library that provides sources of information according to the needs of the villagers are also available a school library management application based on the SchILS (School Integrated Library System) in which there is already a collection of electronic school books from the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia from elementary school level, middle, and high school. The system can be accessed free of charge by all Bantarsari villagers through mobile or computer media using the village intranet network.Pendirian perpustakaan Desa Bantarsari merupakan salah satu tujuan Program Kemitraan Masyarakat yang berjudul PKM Badan Usaha Milik Desa Jambu Kristal Berbasis Teknologi Informasi di Desa Bantarsari Rancabungur Bogor Jawa Barat. Tujuan pendirian perpustakaan desa adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penyediaan sumber-sumber informasi baik tercetak maupun elektronik yang dikelola perpustakaan dengan memanfaatkan teknologi informasi. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian melalui tiga tahap yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi yang medukung konsep Smart village. Pada tahap persiapan yang meliputi analisis kebutuhan perpustakaan desa serta pengadaan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan informasi masyarakat Desa Bantarsari. Selanjutnya pada tahap pelaksanaan berupa pelatihan tentang pengelolaan dan pemanfaatan perpustakaan desa berbasis teknologi informasi bagi para perangkat desa serta beberapa warga masyarakat. Pada tahap evaluasi, kegiatan pengabdian berupa monitoring kegiatan pengabdian serta evaluasi indikator pencapaian kegiatan. Hasil dari kegiatan pengabdian selain tersedianya perpustakaan fisik yang menyediakan sumber-sumber informasi sesuai kebutuhan warga desa juga tersedia aplikasi manajemen perpustakaan sekolah berbasis SchILS (School Integrated Library System) yang di dalamnya telah terdapat kumpulan buku sekolah elektronik Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Sistem tersebut dapat diakses secara gratis oleh seluruh warga desa Bantarsari melalui media ponsel atau komputer dengam memanfaatkan jaringan intranet des
Pelatihan dan Lomba Membuat Jajanan Sehat Yang Memenuhi Kebutuhan Gizi Anak Sekolah
School age children need a balance nutritions to support their growth and development. The optimal growth and development can be reach only if the balances of nutritions consume well. Adequacy of good nutrition doesn’t only come from the main food but also supported by snacks consumed by shool children, for that the production of healthy snacksalso needs attention. Rumah Kumbang is child care community focuses on character building activities and the development of children’s potential. The aim of this community service aim is to train the member of Rumah Kumbang to be able to produce healthy snacks that consist balance nutrition for school age children. The methode in this community service is to provide material exposure, product manufacturing training and a healthy food creation competition. The result is the participants of this community service gain knowledge and motivation to produce healthy and nutritious snacks. In conclusion, after doing this community service, further assistance is needed in relation to healthy snack production process in Rumah Kumbang Community so it can be marketed in wider communityAnak-anak usia sekolah membutuhkan gizi yang seimbang untuk menunjang tumbuh kembangnya. Perlu adanya kecukupan gizi agar anak usia sekolah dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Kecukupan gizi yang baik tidak hanya berasal dari makanan utama tetapi juga ditunjang dengan jajanan yang dikonsumsi anak sekolah, untuk itu pembuatan makanan jajanan sehat juga perlu mendapat perhatian. Rumah kumbang merupakan komunitas peduli anak yang fokus pada kegiatan pembentukan karakter dan pengembangan potensi anak.Tujuan pengabdian ini adalah melatih ibu-ibu anggota komunitas Rumah Kumbang untuk dapat memproduksi makanan jajanan sehat guna mencukupi kebutuhan gizi anak sekolah. Metode dalam pengabdian ini adalah dengan memberikan pemaparan materi, pelatihan pembuatan produk dan lomba kreasi makanan jajanan sehat. Hasilnya adalah peserta pengabdian memperoleh pengetahuan dan motivasi untuk memproduksi makanan jajanan sehat yang bergizi. Kesimpulanya, setelah melakukan pengabdian ini perlu pendampingan lebih lanjut terkait dengan proses produksi jajan sehat di komunitas rumah kumbang sehingga dapat dipasarkan di masyarakat luas
Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani Melalui Budidaya Perikanan Teknik Bioflok Di Kecamatan Adiluwih Kabupaten Pringsewu
Kegiatan pengabdian bertujuan meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) KWT Bunda Jaya Bunda Jaya Pekon Enggalrejo, Kecamatan Adiluwih Kabupaten Pringsewu dalam mengoptimalkan usaha perikanan air tawar sebagai sumber pendapatan alternatif. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat akan dilakuakan pelatihan dan pendampingan udidaya ikan lele menggunakan teknik bioflok. Target pemberdayaan yang akan dilakukan adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan anggota KWT Bunda Jaya tentang budiaya perikanan air tawar melalui teknik bioflok, meningatkan kapasitas SDM KWT Bunda Jaya dalam berwirausaha dan terciptanya sumber pendapatan alternatif anggota dan pengurus KWT Bunda Jaya dalam jangka panjang. Program pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan budidaya ikan lele dengan teknologi bioflok di Pekon KWT Bunda Jaya Pekon Enggalrejo Kecamatan Adiluwih Pringsewu dilakukan melalui pemberian bantuan 1 kolam terpal berdiameter 2 meter, bibit ikan lele, pakan, obat-obatan, prebiotic dan kebutuhan lain untuk budidaya ikan lele dengan sistem bioflok selama satu siklus budidaya. Terjadi peningkatan pengetahuan dan ketrampilan anggota KWT Bunda Jaya pasca pengabdian/penyuluhan yang berkaitan dengan pengetahuan mengenai ikan lele dengan teknologi bioflok yang meningkat dari 18,79% menjadi 90,30%. Tingkat pengetahuan anggota KWT mengenai kualitas air budidaya dengan teknologi bioflok meningkat signifikan dari 21,43% ke 92,00%. Tingkat pengetahuan anggota KWT mengenai pemberian pakan, pakan alternative, dan penyakit meningkat dari 16,30% menjadi 87,69%. Saat ini budidaya ikan melalui kolam bioflok terus berjalan dan usia ikan lele adalah 1 (satu) bulan setelah tebar bibit lele. Community empowerment activities aimed at increasing the capacity of Human Resources (HR) KWT Bunda Jaya Bunda Jaya Pekon Enggalrejo, Adiluwih District Pringsewu Regency in optimizing freshwater fisheries as an alternative source of income. Through community service activities, training and mentoring for catfish farming will be carried out using biofloc techniques. The target of empowerment to be carried out is to increase the knowledge and skills of Bunda Jaya KWT members about the cultivation of freshwater fisheries through biofloc techniques, enhancing the capacity of Bunda Jaya KWT HR in entrepreneurship and the creation of alternative sources of income for Bunda Jaya KWT members and administrators in the long run. The community empowerment program through catfish aquaculture with biofloc technology in Punda KWT Bunda Jaya, Pekon Enggalrejo, Adiluwih Pringsewu District is done through the provision of 1 tarpaulin pond with 2 meters in diameter, catfish seeds, feed, medicines, prebiotics and other needs for catfish farming. with a biofloc system during one cultivation cycle. An increase in knowledge and skills of Bunda Jaya KWT members after service / counseling related to knowledge about catfish with biofloc technology increased from 18.79% to 90.30%. The level of knowledge of KWT members regarding aquaculture water quality with biofloc technology increased significantly from 21.43% to 92.00%. The level of knowledge of KWT members regarding feeding, alternative feed, and disease increased from 16.30% to 87.69%. Currently, fish farming through biofloc ponds continues to run and the age of catfish is 1 (one) month after stocking of catfish seeds
Pemberdayaan Siswa PMR Sebagai Kader Anti Anemia dalam Upaya Pencegahan Anemia Prakonsepsi
The World Health Organization (WHO) targets a 50% reduction in the incidence of anemia by 2025, while adolescents are still in the vulnerable group for anemia, because the peak of iron absorption occurs in adolescence. The high incidence of anemia is not balanced by the existence of screening for anemia, even teenagers tend not to have their hemoglobin levels checked. Delay in handling anemia affects when a woman has a pregnancy, so that it can cause bleeding complications during childbirth, giving birth to babies with low body weight, infants growing with stunting and so on. The purpose of this community service is to conduct training and empower students who are active in the Youth Red Cross (PMR) activities as cadre of anti-anemia in the effort to prevent preconception anemia by providing knowledge about anemia, how to detect early anemia events through physical examination and examination of hemoglobin. The activity was carried out in one of the Tegal City Vocational Schools on January 28-29, 2020 followed by Class X and XI students who were active in the Youth Red Cross extracurricular activities (PMR), with a total of 20 people (4 class XI and 16 class X).World Health Organization (WHO) menargetkan penurunan angka kejadian anemia sebesar 50% pada tahun 2025, sedangkan remaja masih termasuk kelompok rentan terjadinya anemia, dikarenakan puncak absorbsi zat besi terjadi pada usia remaja. Cukup tingginya kejadian anemia tersebut tidak diimbangi dengan adanya screening terhadap kejadian anemia, bahkan remaja cenderung tidak pernah memeriksakan kadar hemoglobinnya. Keterlambatan penanganan anemia berdampak pada saat wanita mengalami kehamilan, sehingga bisa menyebabkan komplikasi perdarahan saat persalinan, melahirkan bayi dengan berat badan rendah, bayi tumbuh dengan stunting dan sebagainya. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini untuk melakukan pelatihan dan pemberdayaan siswa yang aktif di kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) sebagai kader anti anemia dalam upaya pencegahan anemia prakonsepsi dengan membekali pengetahuan tentang anemia, cara mendeteksi dini kejadian anemia melalui pemeriksaan fisik dan pemeriksaan hemoglobin. Kegiatan dilakukan di salah satu SMK Kota Tegal pada tanggal tanggal 28-29 Januari 2020 diikuti oleh Siswi Kelas X dan XI yang aktif dikegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR), dengan jumlah 20 orang (4 orang kelas XI dan 16 orang kelas X)
Optimalisasi Peran Kader Posyantek dalam Pemanfaatan Sumber Daya Alam Lokal Di Desa Teluk Bakau Kecamatan Gunung Kijang Kabupaten Bintan Kepri
The Bintan Regency Government through the Village Community Empowerment Service (PMD) established Posyantek (Pos Technology Services) in 2018. Posyantek is a Technology Service that is spread out from the smallest villages, sub-districts and districts. Based on the Minister of Home Affairs regulation No. 20 of 2010 concerning Community Empowerment through Appropriate Technology Management and also Minister of Home Affairs Instruction No. 24 of 1998 concerning Posyantekdes operations. The purpose of establishing a posyantek is how to improve the welfare of the community. Posyantek has various main types which include providing technical services, information, and promotion of various types of TTG to the community, increasing the quality and quantity of various types of products produced by the community, both small and medium enterprises (SMEs), posyantek is also expected to be a bridge for the community to use TTG in the context of utilizing TTG (Appropriate Technology). The purpose of community service is carried out as an effort to support the important role of the presence of technology in community life as one of the factors driving change and also accelerating development both in the economic, and social and cultural fields. In the process of implementing Posyantek Posyantek operations in the Regency of Bintan is developing a process of designing activities programs, in line with this the need for synergy of interference and support from related parties including educational institutions in the Maritime University of Raja Ali Haji. Assistance and training are given to posyantek cadres in carrying out work programs in accordance with the output expected by the government and the community.Pemerintah Kabupaten Bintan melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) membentuk Posyantek (Pos Pelayanan Teknologi) pada tahun 2018. Posyantek merupakan Pelayanan Teknologi yang tersebar dari yang paling kecil desa, kecamatan dan kabupaten. Berdasarkan pada peraturan menteri dalam negeri No. 20 Tahun 2010 tentang Pemberdayan Masyarakat Melalui Pengelolaan Teknologi Tepat Guna dan juga Instruksi Mendagri No. 24 Tahun 1998 tentang operasional Posyantekdes. Tujuan dari dibentuknya posyantek adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Posyantek memiliki berbagai utama yang antara lain adalah memberikan layanan teknis, informasi, dan promosi tentang berbagai jenis TTG kepada masyarakat, meningkatkan kualitas dan kuantitas berbagai jenis produk yang dihasilkan masyarakat baik usaha kecil dan menengah (UKM), posyantek juga diharapkan menjadi jembatan masyarakat sebagai penggunaan TTG dalam rangka pemanfaatan TTG (Teknologi Tepat Guna). Tujuan dari pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah sebagai upaya dalam mendukung peran penting hadirnya teknologi dalam kehidupan Masyarakat sebagai salah satu faktor pendorong perubahan dan juga percepatan pembangunan baik dibidang ekonomi, maupun sosial budaya. Dalam proses pelaksanaan operasioanl posyantek di Kabupaten Bintan sedang menyusun proses merancang program-program kegiatan, sejalan dengan hal tersebut perlunya sinergi campur tangan dan dukungan dari pihak-pihak terkait antara lain institusi pendidikan dalam yaitu Universitas Maritim Raja Ali Haji. Pendampingan dan pelatihan diberikan kepada kader posyantek dalam menjalankan program kerja sesuai dengan output yang diharapkan pemerintah dan masyarakat
Penyuluhan Penggunaan Obat Rasional (POR) dalam Swamedikasi Kepada Masyarakat RW 18 Desa Cijengkol Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi
Swamedikasi merupakan upaya pengobatan sendiri oleh masyarakat untuk mengatasi gejala penyakit, tanpa bantuan dari tenaga kesehatan. Penatalaksanaan yang irrasional dapat mengakibatkan berbagai kerugian seperti kesalahan pengobatan karena ketidaktepatan diagnosis sendiri; penggunaan obat tidak sesuai karena perolehan informasi yang salah dari media; pemborosan waktu dan biaya; dapat menimbulkan reaksi obat yang tidak diinginkan seperti sensitivitas, alergi, efek samping atau resistensi. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat lingkungan RW 18 Desa Cijengkol Kabupaten Bekasi terutama para ibu mengenai obat yang rasional serta pemberian informasi Dagusibu (Dapatkan Gunakan Simpan dan Buang obat) di lingkungan rumah tangga. Penyuluhan diberikan dengan metode ceramah interaktif. Efektifitas penyuluhan diuji dengan rancangan quasi eksperimental pre dan post design. Peserta diberi kuisioner pre-test, selanjutnya diberi intervensi penyuluhan dan terakhir diberikan kuisioner post-test. Hasil pengamatan kegiatan menunjukkan bahwa para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan dan hasil analisis data menunjukkan adanya pengaruh pemberian penyuluhan dalam peningkatan pengetahuan mengenai penggunaan obat rasional (POR) dalam swamedikasi berdasarkan hasil uji t-berpasangan dan uji wilcoxon.Self-medication is an attempt to self-medication by the community to overcome the symptoms of the disease, without the help of health workers. Irrational management can result in various disadvantages such as medication errors due to inaccurate self-diagnosis; drug use is not appropriate because of the acquisition of incorrect information from the media; waste of time and costs; can cause unwanted drug reactions such as sensitivity, allergies, side effects or resistance. This activity was carried out with the aim to increase the understanding and knowledge of the community in RW 18 Cijengkol Village, Bekasi Regency, especially mothers about rational medicine and the provision of Dagusibu information (Get Use to Save and Dispose of medicines) in the household environment. Counseling is given by the interactive talk method. The effectiveness of counseling was tested with quasi experimental designs pre and post design. Participants were given a pre-test questionnaire, then given counseling intervention and finally given a post-test questionnaire. The observations of the activities showed that the participants were very enthusiastic about participating in the activity and the results of the data analysis showed that there was an effect of counseling in increasing knowledge about the use of rational drugs (POR) in self-medication based on the results of the paired t-test and Wilcoxon test.