Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara
Not a member yet
595 research outputs found
Sort by
Revitalisasi Perpustakaan SMK Bina Pangudi Luhur Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi
The use of information and communication technology (ICT) in libraries is mandated by Law No. 43 of 2007 on Libraries. Unfortunately, many school libraries find it difficult to carry out this mandate. The SMK Bina Pangudi Luhur Library is one of them. Revitalizing the SMK Bina Pangudi Luhur Library aims to provide information access and library services based on information and communication technology (ICT). This community service activity method is carried out in three stages, preparation, implementation, and evaluation. The preparation stage was carried out by analyzing the needs of the SMK Bina Pangudi Luhur Library. The implementation stage includes installing computer hardware and software, online and offline training, and data entry for the collection of the SMK Bina Pangudi Luhur Library. The evaluation phase includes evaluation and mentoring activities. The result of this community service activity is the availability of an automated library management system based on the School Integrated Library System and Barcode System. This activity has also succeeded in adding to the availability of digital information sources in electronic school books and electronic folklore books that can be accessed through devices at the SMK Bina Pangudi Luhur Library. Teachers and employees also gained new knowledge about library management based on the School Integrated Library System and Barcode System. It can be a provision for running library operations by utilizing information and communication technology (ICT).Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di perpustakaan merupakan amanat Undang-Undang No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Sayangnya, banyak perpustakaan sekolah yang kesulitan untuk melaksanakan amanat ini. Perpustakaan SMK Bina Pangudi Luhur merupakan salah satunya. Tujuan revitalisasi Perpustakaan SMK Bina Pangudi Luhur ini adalah menyediakan akses informasi dan layanan perpustakaan yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Kegiatan pengabdian ini dibagi menjadi tiga tahap, yaitu: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan dilakukan dengan analisis kebutuhan Perpustakaan SMK Bina Pangudi Luhur. Tahap pelaksanaan meliputi kegiatan instalasi perangkat keras dan perangkat lunak komputer, pelatihan secara daring dan luring, serta entri data koleksi Perpustakaan SMK Bina Pangudi Luhur. Tahap evaluasi meliputi kegiatan evaluasi dan pendampingan. Hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah tersedianya sistem manajemen perpustakaan terotomasi berbasis School Integrated Library System (SchILS) dan barcode. Selain itu, kegiatan ini juga berhasil menambahkan ketersediaan sumber informasi digital berupa buku sekolah elektronik dan buku cerita rakyat elektronik yang dapat diakses melalui gawai di Perpustakaan SMK Bina Pangudi Luhur. Para guru dan karyawan juga memperoleh pengetahuan baru mengenai pengelolaan perpustakaan berbasis School Integrated Library System (SchILS) dan barcode. Hal ini dapat menjadi bekal untuk menjalankan operasional perpustakaan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
 
Kreasi Sandal Rajut sebagai Salah Satu Strategi Pengembangan Desa Wisata Berbasis Ekonomi Warga
Keji Village is one of 35 tourist villages in Semarang Regency, but according to information from the Village Apparatus, it is a tourist village that is difficult to develop. This is because the Pokdarwis, which has been around for a long time, is getting more and more suspended and never carries out any activities. This is because there are no related institutions that work together to conduct training and the like. The biggest obstacle felt was the absence of souvenirs from Keji Village, due to limited natural resources that could be used as basic materials for making souvenirs. Based on observations, it is known that the majority of Keji Village residents are dominated by women, and most of them are unemployed/not yet working. To be able to attract the enthusiasm of the residents in participating in the training, training in making souvenirs that are attractive to women is needed. The objectives of this service activity are (1) increasing public awareness, especially housewives, on the importance of tourism villages; (2) reactivation of existing pokdarwis; (3) provide training and assistance in making beautiful sandals with knitted decorations. The solutions offered are workshops, counseling, and assistance through the Participatory Rural Appraisal (PRA) method. Through training and practice of making knitting sandals, service participants have new skills in the form of knitting and making beautiful sandals. The trainees were inspired to open up business opportunities by doing business in beautiful sandals online.Desa Keji merupakan salah satu dari 35 desa wisata di Kabupaten Semarang, akan tetapi menurut info dari Perangkat Desa merupakan desa wisata yang sulit untuk berkembang. Hal ini disebabkan karena Pokdarwis yang telah lama ada, semakin lama semakin mati suri dan tidak pernah melakukan kegiatan. Hal ini dikarenakan tidak adanya lembaga terkait yang bekerja sama untuk melakukan pelatihan dan sejenisnya. Kendala terbesar yang dirasakan adalah tidak adanya souvenir dari Desa Keji, karena keterbatasan sumber daya alam yang dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan cindera mata. Berdasarakan hasil observasi diketahui bahwa mayoritas warga Desa Keji didonominasi oleh perempuan, dan sebagian besar adalah pengangguran/belum bekerja. Untuk bisa menarika antusias warga dalam mengikuti pelatihan diperlukan pelatihan pembuatan souvenir yang menarik bagi kaum hawa. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah (1) peningkatan kesadaran masyarakat terutama ibu rumah tangga akan pentingnya desa wisata; (2) pengaktifan kembali pokdarwis yang telah ada; (3) memberikan pelatihan dan pendampingan pembuatan sandal cantik dengan hiasan rajut. Solusi yang ditawarkan adalah workshop, penyuluhan, dan pendampingan melalui metode Participatory Rural Appraisal (PRA). Melalui pelatihan dan praktik pembuatan sandal rajut, peserta pengabdian memiliki keterampilan baru berupa rajut dan membuat sandal cantik. Peserta pelatihan mendapat inspirasi untuk membuka peluang usaha dengan berbisnis sandal cantik secara online
Belajar enzim dari rumah; Penguatan Pembelajaran Berbasis Praktikum Pada Guru Di Sekolah Menengah Atas Kabupaten Tulangbawang
Learning from home in the midst of the Covid-19 pandemic is a challenge in carrying out the learning process. Practical activities often have to be eliminated. In fact, practices are an alternative for student learning to better understand the conceptual material being taught. Enzyme practices program with material constraints, learning media to support Biology practices in Senior High Schools are the reasons for the need for this training. Through this training, the teacher can develop enzyme materials obtained by students from around their homes. Practical materials become more diverse, because they are developed with factors that affect enzyme performance. Educators are more familiar with the kahoot application and teachers are able to use the kahoot application as a practice-based learning evaluation media. It is also hoped that teacher creativity can develop to deal with the learning obstacles they experience.Belajar dari Rumah di tengah pandemi Covid-19 menjadi tantangan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Kegiatan praktikum tidak jarang terpaksa ditiadakan. Padahal, kegiatan praktikum merupakan alternatif pembelajaran siswa untuk lebih memahami materi konsep yang diajarkan. Acara praktikum enzim dengan kendala bahannya, media pembelajaran untuk mendukung praktikum Biologi di Sekolah Menengah Atas menjadi alasan diperlukannya pelatihan ini. Melalui pelatihan ini Guru dapat mengembangkan bahan enzim yang diperoleh siswa dari sekitar rumah masing-masing. Materi praktikum menjadi lebih beragam, karena dikembangkan dengan faktor yang berpengaruh terhadap kinerja enzim. Pendidik lebih mengenal aplikasi kahoot serta guru mampu menggunakan aplikasi kahoot sebagai media evaluasi pembelajaran berbasis praktikum. Kreativitas guru juga diharapkan dapat berkembang untuk mengadapi kendala pembelajaran yang dialami
Penerapan Gamification Pada Pembelajaran Ekonomi Di SMA
This gamification training for SMAN 3 Nganjuk teachers aims to improve teachers\u27 understanding and skills in utilizing mobile learning in learning activities carried out especially during the pandemic era. Student learning activities are expecting not only to be carried out through the WA group or Google Classroom, but can also doing by using other applications that can attract students\u27 learning interest. This service activity carried out in 3 stages, namely, 1) the preparation stage, 2) the implementation stage, 3) the mentoring stage using the lecture method and FGD (Focus Group Discussion). The enthusiasm of the teacher in participating in this training activity looks very big, so that the results obtained from this service are as many as 85% of the teachers have mastered the use of applications well and are ready to practice it in classroom learning.Pelatihan gamification pada guru SMAN 3 Nganjuk ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman serta keterampilan guru dalam pemanfaat mobile learning dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan apalagi pada saat era pandemi. Kegiatan belajar siswa diharapkan tidak hanya dilakukan melalui WA grup atau Google Classroom, namun juga dapat dilakukan dengan menggunkan aplikasi lainnya yang dapat menarik minat belajar peserta didik. Kegiatan pengabdian ini dilakukan melalui 3 tahapan yaitu, 1) tahap persiapa, 2) tahap pelaksanaan, 3) tahap pendampingan dengan menggunakan metode ceramah dan FGD (Focus Group Discussion). Antusiasme guru dalam mengikuti kegiatan pelatihan ini terlihat sangat besar, sehingga hasil yang diperoleh dari pengabdian ini adalah sebanyak 85% guru telah menguasai dengan baik penggunaan aplikasi dan siap mempraktikkannya pada pembelajaran di kelas
Realizing Simbatan - Magetan As A Tourist Village: Utopia and Realita
Simbatan Village in Magetan has nature tourism, historical, cultural tourism, and Dewi Sri\u27s cultural heritage site called Candi Simbatan, but it has not been managed optimally. This village also has quite a lot of people with disabilities with poor socio-economic conditions. In realizing the tourism village, Simbatan has problem, namely: does not master plan yet, food court, pedestrians in tourist locations that were still in the form of land, places for people with disabilities did not exist and their products were splashed batik and marketing collided. Solutions are carried out in stages, namely: making a master plan; improve infrastructure at tourist sites. In line with these efforts, solutions for persons with disabilities are: improvement of workshop shelters; skills training and production of goods as well as assisting with marketing. The aim of this activity is to combine the existing tourism potential with the activities and work of people with disabilities so that their welfare and independence can increase. The integration is carried out gradually and continuously to create a tourist village.Desa Simbatan di Magetan memiliki wisata alam, wisata sejarah dan budaya, serta situs cagar budaya petilasan Dewi Sri disebut Candi Simbatan, namun belum dikelola secara optimal. Desa ini juga memiliki penyandang disabilitas cukup banyak dengan kondisi sosial ekonomi miskin. Dalam mewujudkan desa wisata, Simbatan terbentur masalah, yakni belum adanya: masterplan, foodcourt, pedestrian di lokasi wisata masih berwujud tanah, tempat beraktivitas penyandang disabilitas belum ada dan hasil produksi mereka berupa batik ciprat terbentur pemasaran. Solusi dilakukan secara bertahap yakni: pembuatan masterplan; memerbaiki infrastruktur di lokasi wisata. Sejalan dengan upaya tersebut, solusi bagi penyandang disabilitas adalah: pembenahan shelter workshop; pelatihan keterampilan dan produksi barang serta membantu pemasaran. Tujuan kegiatan ini adalah memadukan potensi wisata yang sudah ada dengan aktivitas dan hasil karya penyandang disabilitas agar kesejahteraan dan kemandirian mereka meningkat. Keterpaduan dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan untuk mewujudkaan desa wisata
Pendeteksian Kandungan Boraks pada Makanan yang Dijajakan di Desa Cangkarman Kabupaten Bangkalan Menggunakan Ekstrak Kunyit atau Ekstrak Bawang Merah
This community service activity aims to give an education and training for public about the detection of borax content in foods. Borax can be detected in street foods by a special reagent containing turmeric or red onion extract. The partner of this activity is Kelompok Wanita Tani Anggrek from Desa Cangkarman, Kecamatan Konang, Kabupaten Bangkalan. This coaching consists of lecture, discussion, and workshop about borax content in sample foods. Borax can be detected by jabbing a toothpick that had been soaked in a special reagent into a sample food. The result of this activity is the partner can find out how to detect a borax content in street food around them with cheap and simple method.Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tentang pendeteksian kandungan boraks pada makanan yang dijajakan menggunakan ekstrak kunyit atau ekstrak bawang merah ini bertujuan untuk memberikan pembinaan dan pelatihan dalam mendeteksi kandungan boraks pada makanan. Mitra dari kegiatan ini adalah kelompok wanita tani anggrek Desa Cangkarman Kecamatan Konang Kabupaten Bangkalan. Pembinaan dan pelatihan tersebut menggunakan metode ceramah, diskusi, dan workshop tentang pendeteksian kandungan boraks pada beberapa makanan sampel yang telah disediakan. Pendeteksian kandungan boraks dilakukan dengan cara menusukkan tusuk gigi yang telah direndam dengan ekstrak kunyit atau ekstrak bawang merah pada makanan. Hasil dari kegiatan ini adalah mitra dapat mengetahui cara pendeteksian kandungan boraks secara sederhana pada makanan yang dijajakan di lingkungan sekitar mereka
Peningkatan Pemahaman Tentang Kemasan Pada UMKM Pengolah Rumput Laut
The number of MSMEs in North Penajam Paser Regency is very large, especially MSMEs processing seaweed. Seaweed is one of the main commodities of North Penajam Paser Regency. However, the sales turnover of MSME products is still below the target. One of the factors that causes sales turnover has not reached the target is that the packaging of processed seaweed products is still very minimalist so that the attractiveness of buyers is not maximized. This Community Service Program aims to provide training and understanding to MSME members about the importance of packaging seaweed products. The training materials include attractive packaging types, how to make designs and the selection of appropriate packaging for processed seaweed products. The method of implementing this activity is training by giving lectures, discussions and practices that are carried out in an interesting and easy to understand manner for the trainees. The target of this Community Service activity is seaweed processing MSMEs who are members of the Self-Working Joint Marketing Processing Group (Poklahsar). The success of Community Service activities was measured by filling out questionnaires by training participants which were distributed before and after the training. Based on the results of filling out the questionnaire, it was concluded that for each packaging material presented, the level of understanding of the training participants increased to the maximum. However, the level of understanding of packaging design still cannot increase significantly. With this activity, it is hoped that MSME members understand knowledge about packaging well so that they can increase sales turnover of seaweed products.Jumlah UMKM di Kabupaten Penajam Paser Utara sangat banyak terutama UMKM pengolah rumput laut. Rumput laut merupakan salah satu komoditas utama dari Kabupaten Penajam Paser Utara. Namun, omset penjualan produk UMKM masih berada dibawah target. Salah satu faktor yang menyebabkan omset penjualan belum mencapai target adalah kemasan produk olahan rumput laut masih sangat minimalis sehingga daya tarik pembeli belum maksimal. Program Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dan pemahaman kepada anggota UMKM tentang pentingnya kemasan produk rumput laut. Materi pelatihan meliputi jenis kemasan yang menarik, cara membuat desain serta pemilihan kemasan yang sesuai bagi produk olahan rumput laut. Metode pelaksanaan kegiatan ini adalah pelatihan dengan memberikan ceramah, diskusi dan praktik yang dilakukan secara menarik dan mudah dipahami bagi peserta pelatihan. Sasaran dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini adalah UMKM pengolah rumput laut yang tergabung dalam Kelompok Pengolah Pemasar (Poklahsar) Swakarya Bersama. Keberhasilan dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat diukur melalui pengisian kuisioner oleh peserta pelatihan yang dibagikan sebelum dan sesudah pelatihan. Berdasarkan hasil pengisian kuisioner, disimpulkan bahwa pada setiap materi kemasan yang disampaikan, tingkat pemahaman peserta pelatihan meningkat secara maksimal. Namun, untuk tingkat pemahaman desain kemasan masih belum bisa meningkat secara signifikan. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan anggota UMKM memahami pengetahuan tentang kemasan dengan baik sehingga dapat meningkatkan omset penjualan produk rumput laut
Pelatihan Public Speaking Basic Kepada Siswa Kelas VI MI dan SD Di Desa Gedungan Kabupaten Sumenep Melalui Metode Demonstrasi
The ability to speak in public is a skill that must be nurtured, trained and developed from an early age. Especially with the development of the era which is increasingly rapidly demanding the ability to speak with the art of communication that is not rigid, it also determines success in the current era of competition. Even in all life settings speaking becomes a consumption of the surrounding community, while all will give an assessment of the speaker of the voice. Especially for those who are currently studying, speaking and communicating both individually and in groups is currently a trend in learning models. Students who lack opinion, comment, and have not been able to present their work are not the outcame of graduates in the current curriculum. So it becomes important, public speaking skills to be taught, trained and given to children since elementary school. The Service Team from the PGMI Study Program, Tarbiyah Faculty, IAIN Madura, tries to do community service as a form of realization of one of the Tri Dharma of Higher Education. The field of study and training focuses on basic public speaking training for two days in Gedungan Village, Sumenep District. Based on the analysis of the training carried out, the following were found; 1) found a difference between the pre-test and post-test abilities of the participants, when the pre-test participants answered incorrectly as much as 24%, while the post-test experienced an increase in correct answers to 91%, 2) it was also found that the value of speaking practice skills performed by the participants on the second day namely 45% of their performances are good while 13% are still lacking, but this achievement with all the limitations is quite satisfying, 3) the final findings of the event regarding their response to this training, it turns out that 80% of the participants think the training is important, satisfying and activities to be carried out.Kemampuan berbicara di depan umum adalah keterampilan yang harus dibina, dilatih dan dikembangkan sejak dini. Terutama dengan perkembangan jaman yang kian pesat menuntut kemampuan berbicara dengan seni komunikasi yang tidak kaku, juga turut menentukan keberhasilan di era percaturan masa kini. Bahkan dalam segala setting kehidupan berbicara menjadi sebuah konsumsi masyarakat sekitar, sementara semua akan memberikan penilaian terhadap pengucap suara. Terlebih bagi mereka yang sedang menempuh pendidikan, berbicara dan berkomunikasi baik secara individu dan kelompok saat ini menjadi trend dalam model pembelajaran. Siswa yang kurang bisa berpendapat, berkomentar, dan belum mampu mempresentasikan karyanya bukanlah outcame dari lulusan pendidikan pada kurikulum saat ini. Sehingga menjadi penting, kemampuan public speaking untuk diajarkan, dilatih dan diberikan kepada anak sejak sekolah dasar. Tim Pengabdi dari Prodi PGMI Fakultas Tarbiyah IAIN Madura, mencoba melakukan pengabdian kepada masyarakat sebagai wujud realisasi salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi. Bidang kajian dan pelatihan berfokus pada pelatihan berbicara di depan umum dasar selama dua hari di Desa Gedungan Kabupaten Sumenep. Berdasarkan analisis pelatihan yang dilakukan ditemukan hal-hal berikut; 1) ditemukan perbedaan antara kemapuan pre tes dengan post tes peserta, saat pre tes peserta menjawab salah sebanyak 24 %, sedangkan pada post tes mengalami kenaikan jawaban yang benar menjadi 91%, 2) ditemukan pula nilai keterampilan praktik berbicara yang dilakukan peserta pada hari kedua yaitu 45% penampilan mereka sudah baik sementara 13% masih kurang, namun capaian ini dengan segala keterbatasan sudah cukup memuaskan, 3) temuan akhir acara mengenai respon mereka terhadap pelatihan ini, ternyata 80% peserta menganggap pelatihan penting, memuaskan dan kegiatan supaya terus dilakukan
Peningkatan Kesadaran Kenakan Masker Melalui Adu Video Kreatif Yel Pakai Masker dalam Mencegah Transmisi Virus Corona
The case of the Covid-19 corona virus infection in Central Java is in a critical situation because it is ranked number 3 in Indonesia. The spread of cases outside the cluster was due to the lack of discipline by the community in wearing masks. Kudaile is one of the sub-districts located in the Slawi sub-district with a fairly dense population so it is very vulnerable to the spread of Covid-19 if it is not balanced with public awareness of using masks appropriately. The service activities that we will carry out are creative competitions / fights using masks in Kudaile Village, Slawi District. With this service activity, it is hoped that the public will be aware of the importance of using masks appropriately to prevent transmission. The result of this community service is the collection of videos of yells wearing masks which prove that the public is increasingly aware of how to use masks and the discipline of using masks is getting tighter to prevent the transmission of the spread of the corona virus.Kasus infeksi virus corona Covid-19 di Jawa Tengah berada dalam situasi kritis karena peringkat kasus nomor 3 di Indonesia. Penyebaran kasus di luar klaster disebabkan kurang disiplinnya masyarakat memakai masker. Kudaile merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan Slawi dengan penduduk yang cukup padat sehingga sangat rentan penyebaran Covid-19 jika tidak diimbangi kesadaran masyarakat menggunakan masker dengan tepat. Kegiatan pengabdian yang akan kami laksanakan adalah kegiatan lomba/adu kreatif yel pakai masker di Kelurahan Kudaile Kecamatan Slawi. Dengan Kegiatan pengabdian ini diharapkan masyarakat sadar akan pentingnya penggunaan masker dengan tepat untuk mencegah transmisi. Hasil pengabdian masyarakat ini yaitu terkumpulnya video yel pakai masker yang membuktikan masyarakat semakin tahu cara penggunaan masker dan kedisiplinan menggunakan masker semakin ketat untuk cegah transmisi penyebaran virus corona
Peningkatan Kesehatan dan Kekebalan Tubuh Lansia pada Masa Pandemi Covid 19 Melalui Gerakan 3M : Mencuci Tangan, Memakai Masker dan Meminum Jamu
The increasing number of Covid 19 sufferers makes us have to make solution steps to avoid Covid 19. The elderly are a vulnerable group to contracting this virus. There are degenerative diseases that appear in the elderly, such as diabetes and hypertension, which will worsen the condition of the elderly. The application of 3M (washing hands, wearing masks, and drinking herbal medicine) can improve the health and immunity of the elderly. This community service activity carried in three stages: the preparation stage (coordinating with partners), the implementation stage (conducting education on proper handwashing, wearing masks, conducting herbal medicine training), and the evaluation stage. This community service activity was held at the MK 2 posyandu, Tamanan sub-district, Kediri City. This activity is the distribution of hands-on aid, masks, and herbal medicine, and an increase in public knowledge about 3M. The application of washing hands, wearing masks, and drinking herbal medicine can be a solution to prevent transmission of Covid 19 to the elderly.Semakin banyaknya jumlah penderita Covid 19 membuat kita harus membuat langkah solusi agar terhindar dari covid 19. Lansia merupakan kelompok rentan terhadap tertularnya virus ini. Terdapatnya penyakit degeneratif yang muncul pada lansia seperti diabetes dan hipertensi yang akan memperparah kondisi lansia. Penerapan 3M (Mencuci tangan, Memakai masker dan Meminum Jamu) bisa meningkatkan kesehatan dan kekebalan tubuh lansia. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan tiga tahap yaitu tahap persiapan (melakukan koordinasi dengan mitra), tahap pelaksanaan (melakukan edukasi mencuci tangan yang benar, memakai masker dan melakukan pelatihan membuat jamu) serta tahap evaluasi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan di posyandu MK 2 kelurahan Tamanan Kota Kediri. Hasil kegiatan ini yaitu terdistribusikannya bantuan handsanitiser, masker dan jamu serta peningkatan pengetahuan masyarakat tentang 3M. Penerapan mencuci tangan, memakai masker dan meminum jamu bisa menjadi langkah solutif untuk mencegah penularan covid 19 pada lansia