Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara
Not a member yet
595 research outputs found
Sort by
Citizen Forum on Participatory Planning and Budgeting to Promote the Inclusive Village Governance
After 23 years of reformation, one of the regulatory products that reflect the devolution and delegation of decentralized development management authority to the local government is Law No. 6/2014 on Villages which promises further community involvement, by placing the village as the centre of regional development and not only as an object of the national programs. This citizen forum facilitation was held in the context of expanding understanding of the substance of participatory planning and budgeting and the significance of community involvement in the village development management which was carried out during August 2021 in the Bajo Village, Soromandi District, Bima Regency, West Nusa Tenggara Province by involving dozens of people, especially women\u27s groups, as participants. The main methods applied during this facilitation to discuss everything related to the prospects, constraints, and substantive needs of the program were in the form of lectures, brainstorming, practise, and mentoring. The group of women who participated on average emphasized that they were not citizens who had been involved and in the village planning-budgeting deliberations that had been held there. They have never experienced the atmosphere of regular civic forums such as the Musdes and the Musrenbangdes to discuss the draft of the RPJMDesa, the RKPDesa, and the APBDesa documents because there was no access and an opportunity to voice their collective needs to the Village Government. The activity output showed that there has been a seed of collective awareness from all participants to take a role in the planning-budgeting forums for the coming year and utilize them as a medium for channelling their aspirations, interests, or needs to the Village Government and the BPD. They were very aware of the various priority needs that must be fought for their articulation, both directly and through the intermediary of the Village Community Institution managers.Pasca 23 tahun reformasi, salah satu produk regulatif yang merefleksikan devolusi dan pendelegasian kewenangan pengelolaan pembangunan secara desentralistik kepada pemerintah tingkat lokal adalah Undang-Undang Desa No. 6 Tahun 2014 yang menjanjikan keterlibatan masyarakat lebih jauh lagi, dengan menempatkan desa sebagai pusat pembangunan daerah dan bukan hanya sebagai obyek program nasional. Kegiatan fasilitasi forum warga ini diselenggarakan dalam rangka perluasan pemahaman tentang substansi perencanaan-penganggaran partisipatif dan signifikasi keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan pembangunan desa yang telah dilaksanakan selama Agustus 2021 lalu di Desa Bajo, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan melibatkan puluhan warga, terutama kelompok perempuan, sebagai peserta. Metode utama yang diterapkan selama fasilitasi ini untuk membahas segala sesuatu yang bersinggungan dengan prospek, kendala, dan kebutuhan substantif program adalah berupa ceramah, brainstorming, praktek, dan pendampingan. Kelompok perempuan yang menjadi peserta rata-rata menegaskan bahwa mereka bukanlah sosok warga yang pernah terlibat dan/atau melibatkan diri dalam forum perencanaan-penganggaran desa yang selama ini diselenggarakan di sana. Mereka sama sekali belum pernah merasakan atmosfer forum kewargaan reguler seperti Musdes serta Musrenbangdes dalam rangka membahas rancangan RPJMDesa, RKPDesa, dan APBDesa lantaran tidak tersedia akses serta peluang apapun untuk menyuarakan kebutuhan kolektifnya kepada Pemerintahan Desa. Output kegiatan menunjukkan telah ada benih kesadaran kolektif dari semua peserta pertemuan untuk mengambil peran dalam forum perencanaan-penganggaran tahun mendatang dan mendayagunakannya sebagai media penyaluran aspirasi, kepentingan, atau kebutuhan mereka kepada Pemerintah Desa dan BPD. Mereka sangat menyadari adanya beragam kebutuhan prioritas yang harus diperjuangkan artikulasinya, baik secara langsung maupun melalui perantaraan para pengelola Lembaga Kemasyarakatan Desa
Pelatihan Self-Reguated Learning pada Mahasiswa PGSD Universitas Mataram Di Era New Normal
The purpose of this training is to motivate students regarding self-regulation in learning. Especially for 7th-semester students of Mataram University PGSD study program who have a high learning load, especially in completing the thesis. Higher learning challenges are also supported due to the pandemic era situation where all activities are limited. The method used is in three stages, namely designing training activities and materials, carrying out activities, and training results. This training is carried out online through a zoom meeting. The activities were carried out smoothly and the participants were very enthusiastic about participating in the training from beginning to end. Some participants were also enthusiastic about asking questions related to the obstacles they faced in learning. The posttest results also showed that 79% of students were able to answer all the post-test questions correctly. This shows that this training can have a good impact on students, especially regarding independent learning.Tujuan dari pelatihan ini untuk memberikan penguatan kepada mahasiswa terkait regulasi diri dalam belajar. Secara khusus untuk mahasiswa semester 7 prodi PGSD Universitas Mataram yang memiliki beban belajar tinggi terutama dalam menyelesaikan skripsi. Tantangan belajar lebih tinggi juga didukung karena situasi yaitu era pandemi yang segala aktivitas dibatasi. Terkait hal tersebut dibutuhkan kemampuan self-regulated learning dari mahasiswa. Pelatihan ini dilaksanakan secara online melalui zoom meeting. Pelaksanaan kegiatan berjalan dengan lancar dan peserta sangat antusias mengikuti pelatihan mulai awal hingga akhir. Beberapa peserta juga antusias bertanya terkait kendala yang dihadapi dalam belajar. Hasil postest juga menunjukkan bahwa 79% mahasiswa mampu menjawab semua soal postest dengan benar. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan ini mampu memberikan dampak yang baik kepada mahasiswa khususnya terkait self-regulated learning
Reflective Learning on the Mainstreaming Strategy of the Children\u27s Rights To Promote the Children-Friendly Village
This community service program is an effort to popularize the concept of a Children-Friendly Village (CFV) to the village governments and residents as a medium for maximum attention to issues of childhood development through the creation of a healthy environment and the provision of various comfortable facilities for them, which has been conducted during May 2021 in the Oi Bura Village, Tambora Subdistrict, Bima District, West Nusa Tenggara Province with the main orientation of utilizing participant contributions to encourage “Mainstreaming Children\u27s Rights (MCR)” applications at the village level through providing understanding or elaboration on the conceptual substance of MCR, problem identification of children at the village level, and formulating a road-map for the CFV development strategies according to the partners\u27 capabilities. The success of the MCR strategy in managing the village development is highly dependent on the commitment and participation of all parties in the context of fulfilling children\u27s rights in the Oi Bura Village, which have not met the six eligibility indicators as CFV at all. This reflective learning was effective to achieve the defined goals and will be replicated in other villages in the future.Program pengabdian masyarakat ini adalah upaya mempopulerkan konsep Desa Layak Anak (DLA) kepada pemerintahan desa dan warga sebagai medium pencurahan perhatian maksimal terhadap isu perkembangan anak melalui penciptaan lingkungan sehat dan penyediaan beragam fasilitas nyaman untuk mereka, yang telah dilaksanakan selama bulan Mei 2021 di Desa Oi Bura, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan orientasi utama mendayagunakan kontribusi partisipan untuk mendorong aplikasi “Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA)” di level desa melalui pemberian pemahaman atau elaborasi tentang substansi konseptual PUHA, identifikasi masalah anak di tingkat desa, dan perumusan road-map strategi pengembangan DLA sesuai batasan kemampuan mitra. Keberhasilan strategi PUHA dalam pengelolaan pembangunan desa sangat tergantung pada komitmen dan partisipasi semua pihak untuk pemenuhan hak anak di Desa Oi Bura yang sama sekali belum memenuhi enam indikator kelayakan sebagai DLA. Pembelajaran reflektif ini sangat efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan akan direplikasi pelaksanaannya di desa-desa lain di masa mendatang
Pelatihan Pembuatan Soal Kognitif Berbasis Aplikasi Android Kahoot untuk Guru Sekolah Dasar Islam Terpadu Bina Insani Kediri
This activity aims to provide training to teachers and practice problem making and implementation in elementary schools. So that teachers get direct experience in making problems through the Kahoot application for teachers. The method of carrying out this activity is carried out from the preparation stage to the reporting of activities that take about 1 month. Parties involved in the activity include: 1). Lecturers as speakers and moderators, students as a support team for the implementation of the event. 2). Teachers in SDIT Bina Insani Kediri. Of the 25 teachers who have participated in the training, as many as 17 teachers have submitted the results of the analysis, based on the results of the questionnaire showed 4 teachers stated there were no obstacles in implementing kahoot. While the other 13 stated to experience some obstacles, namely less accustomed to operating kahoot. The advantages of applications when implemented include more interesting and easy to do. Kahoot application can be one of the alternative learning variations. Through the use of kahoot learning outcomes related to the order of the level of truth problems can be more quickly known. Kahoot application is practical, because teachers can directly monitor students who work on problems.Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pelatihan kepada guru serta mempraktikkan pembuatan soal dan implementasinya di sekolah dasar. Sehingga guru mendapatkan pengalaman langsung dalam membuat soal melalui aplikasi Kahoot bagi guru. Metode pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan mulai tahap persiapan sampai pelaporan kegiatan yang membutuhkan waktu sekitar 1 bulan. Pihak yang terlibat dalam kegiatan meliputi: 1). Dosen sebagai pemateri dan moderator, mahasiswa sebagai tim pendukung pelaksanaan acara. 2). Guru-guru di lingkungan SDIT Bina Insani Kediri. Dari 25 guru yang telah mengikuti pelatihan, sebanyak 17 guru telah mengirimkan hasil analisis, Berdasarkan hasil kuesioner menunjukkan 4 guru menyatakan tidak ada kendala dalam mengimplementasikan kahoot. Sedangkan 13 lainnya menyatakan mengalami beberapa kendala yaitu kurang terbiasa dalam mengoperasikan kahoot. Keunggulan aplikasi saat diimplementasikan diantaranya adalah lebih menarik dan mudah untuk dilakukan. Aplikasi kahoot dapat menjadi salah satu alternatif variasi pembelajaran. Melalui penggunaan kahoot hasil belajar yang berkaitan dengan urutan tingkat kebenaran soal dapat lebih cepat diketahui. Aplikasi kahoot praktis, karena guru dapat memonitor secara langsung siswa yang mengerjakan soal
Pelatihan dan Sosialisasi Mempertahankan Produksi dan Penjualan Produk UMKM dengan Strategi Pemasaran Melalui Media Sosial Dimasa Pendemi COVID-19
During the Covid-19 Pandemic at this time, Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in the villages of Soko, Panceng, Sawo, and Pucuk have to think hard about how the products they produce can continue to be known by buyers from outside their area. Before the pandemic, they were able to sell their products from the hands of mobile salesmen who were usually able to sell products from warungs to warungs and house to house. However, during a pandemic like this, it will be very risky if salespeople have to keep going around peddling the products they sell. From there, we have provided solutions for MSME players to be able to promote their products through advertisements on their respective social media. With the promotion on social media, buyers can contact the seller directly through the contact person who has been confirmed in the advertising information. With that, the sales will change their position to become couriers between orders, which have different work procedures. Sales can be that the products they sell don\u27t run out and the risk of being exposed to Covid-19 is everywhere. Meanwhile, with the online promotion strategy, sales become couriers according to incoming orders and it is clear that the products they deliver are orders from buyers. From the strategy that has been implemented, the actors of the village umkm are still running, marketing is expanding and sales are still working as delivery couriers. Masa Pandemi Covid-19 pada saat ini membuat para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di desa Soko, Panceng, Sawo dan Pucuk harus berpikir dengan keras bagaimana produk yang mereka produksi dapat terus diketahui oleh pembeli dari luar daerah mereka. Pada saat sebelum pandemi mereka dapat menjual produknya dari tangan-tangan sales keliling yang biasanya dapat menjajakan produk dari warung kewarung dan rumah ke rumah. Namun saat pandemi seperti ini akan sangat beresiko jika para sales harus tetap berkeliling menjajakan produk yang mereka jual. Dari situ maka kami telah memberikan solusi kepada pelaku UMKM untuk bisa mempromosikan produknya melalui iklan di sosial media masing-masing. Dengan adanya promosi di sosial media maka pembeli dapat menghubungi penjualnya langsung melalui narahubung yang sudah dipastikan pada informasi iklan. Dengan seperti itu maka sales akan berubah posisi menjadi kurir antar pesanan, dimana memiliki perbedaan prosedur kerja. Sales bisa jadi produk yang mereka jajakan tidak habis dan risiko terpapar Covid-19 dimana saja. Sedangkan dengan strategi promosi online maka sales menjadi kurir antar sesuai pesanan yang masuk dan jelas produk yang mereka antar adalah pesanan pembeli. Dari strategi yang telah dilaksanakan ini maka, para pelaku umkm desa tersebut produksi tetap berjalan, pemasaran semakin meluas dan sales tetap bekerja menjadi kurir antar
Pengembangan Computational Thinking Melalui IoT Apps Programming Dengan Tinkercad
Computational thinking is one of competencies are needed recently. Most countries had already included computational thinking into their curriculum. Based on PISA 2018, Indonesia placed 72nd ranking of 77 countries for reading, 72nd ranking of 78 countries for mathematics, and 70th ranking of 78 countries for sciences. It is of concern to government and us to elevate this computational thinking ability, especially for students. Through this community service, the training of IoT programming using Tinkercad is given to PAHOA Senior High School students. Theory and hands-on practical in this training was followed by 40 students for 4 months. Based on questionnaire in the end of this training, 62% participations agreed that their computational thinking increase through this training and 96% participations could make IoT apps.Computational thinking merupakan salah satu keahlian yang perlu dimiliki dalam era teknologi informasi sekarang ini. Banyak negara telah memasukkan computational thinking dalam kurikulum pembelajaran mereka. Peringkat negara Indonesia pada Programme for International Student Assessment (PISA) berdasar survei tahun 2018 berada dalam urutan bawah, yaitu peringkat 72 dari 77 negara untuk nilai kompetensi membaca, peringkat 72 dari 78 negara untuk nilai Matematika, dan peringkat 70 dari 78 negara untuk nilai sains. Hal ini menjadikan perhatian bagi pemerintah dan kita semua dalam upaya meningkatkan kemampuan computational thinking masyarakat Indonesia, khususnya para pelajar. Oleh karena itu, melalui kegiatan PkM ini, sebagai salah satu upaya peningkatan computational thinking, memberikan pelatihan pemrograman untuk menyelesaikan permasalahan, khususnya terkait IoT untuk siswa SMA PAHOA Tangerang. Kegiatan ini dilaksanakan melalui ekstrakurikuler pemrograman dengan bentuk pemaparan teori dan praktikum hands-on bagaimana memecahkan masalah dengan membangun aplikasi IoT menggunakan Tinkercad. Melalui kuesioner di akhir kegiatan PkM, 62% peserta setuju bahwa kemampuan computational thinkingnya meningkat dan 96% peserta dapat memahami bagaimana membuat aplikasi IoT
Pencegahan Penyebaran Covid-19 Melalui Edukasi Terapi Imun bagi Tenaga Kependidikan Di Lingkungan Fakultas Ekonomi UNESA
This Community Service activity aims to overcome the spread of Covid-19 within the Faculty of Economics, State University of Surabaya through education for education staff to always apply health protocols through the 5M and MIO movements and increase immunity through consumption of nutritious food during WFO (Work From Office) so that it is expected to be able to increase immunity and will not be easily infected with Covid-19. The results of this PKM activity can be seen from the emergence of habits in implementing the 5M and MIO movements and always consuming multivitamins and intake of nutritious food to increase immunity so that currently there are no records of positive cases of COVID-19 patients among Faculty of Economics Unesa education staff.Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan untuk menanggulangi penyebaran Covid-19 dilingkungan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya melalui edukasi kepada tenaga kependidikan untuk selalu menerapkan protokol kesehatan melalui gerakan 5M dan MIO dan meningkatan imun melalui konsumsi makanan bergizi selama WFO (Work From Office) sehingga diharapkan mampu meningkatkan kekebalan imunitas dan nantinya tidak mudah terjangkit Covid-19. Hasil dari kegiatan PKM ini dapat dilihat dari munculnya kebiasaan dalam menerapkan gerakan 5M dan MIO serta selalu mengonsumsi multivitamin dan asupan makanan bergizi untuk meningkatkan imun sehingga saat ini masih belum ditemukan catatan kasus pasien positif COVID-19 dikalangan tenaga kependidikan Fakultas Ekonomi Unes
Pendampingan Pembuatan Video Profil untuk Konten Digital Marketing di Sekolah Islam Al Jannah
The application of digital marketing requires planning in displaying the advantages possessed by the product, like a school with many features and facilities that can not only be displayed in one image. So, they need video media that can display what is owned by the school. This also applies to Al Jannah Islamic School, which is located in Pakis District, Malang Regency. Based on the results of observations, surveys, and brainstorming, the school agreed and supported the service team\u27s activities to carry out the process of making school profile videos for the benefit of digital marketing. This community service activity aims to produce a video profile that can show the competitive advantage so that it can be displayed in various digital marketing channels. The steps taken consisted of: (1) observation and survey, (2) the process of shooting and finishing the video, and (3) brainstorming for publication. While the outputs produced are (1) digital marketing material content in the form of video profiles, (2) changes in the mindset of school managers in determining CA, (3) assistance in publications on various media channels, and (4) assistance for awareness in digital marketing. The conclusions of this activity are: (1) the results and outcomes are by the situation analysis, (2) the targets set at the beginning have been completed efficiently, and (3) the assistance provided by the team can help school managers. Penerapan digital marketing membutuhkan perencanaan dalam menampilkan keunggulan yang dimiliki oleh produk tersebut. Seperti halnya sekolah yang didalamnya juga memiliki banyak fitur dan fasilitas yang tidak hanya bisa ditampilkan dalam satu gambar saja. Sehingga diperlukan media video yang mampu menampilkan apa yang dimiliki oleh pihak sekolah tersebut. Hal tersebut juga berlaku untuk Sekolah Islam Al Jannah yang berlokasi di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil observasi dan survei serta brainstorming, pihak sekolah menyetujui dan mendukung aktifitas tim pengabdi untuk melakukan proses pembuatan video profil sekolah demi kepentingan digital marketing. Target dari aktifitas pengabdian masyarakat ini adalah menghasilkan video profile yang mampu menampikan competitive advantage, sehingga mampu ditampilkan dalam beragam kanal digital marketing. Langkah yang dilakukan terdiri: (1) observasi dan survei, (2) proses shooting dan finishing video, dan (3) brainstorming untuk publikasi. Sedangkan luaran yang dihasilkan yakni: (1) konten bahan digital marketing berupa video profile, (2) perubahan mindset pengelola sekolah dalam menetapkan CA, (3) pendampingan dalam publikasi di beragam kanal media, dan (4) pendampingan untuk awareness dalam langkah lanjutan digital marketing. Simpulan dari aktifitas ini adalah: (1) hasil dan luaran telah sesuai dengan analisis situasi, (2) target yang ditetapkan di awal berhasil diselesaikan secara efisien, dan (3) pendampingan yang dilakukan oleh pihak tim dapat membantu pengelola sekolah
Instalasi Berbasis Sensori Audio Sebagai Alat Permainan Anak untuk Menunjang Kegiatan Wisata Di Kampung Keranggan Tangerang Selatan
Kampung Keranggan located on the banks of the Cisadane River, is a pilot project of a tourism village in South Tangerang. However, both as a settlement and a place frequently visited by families, this kampung does not yet have a children playground. This space is very important, especially when an educational function is added to it. The vast landscape in this kampung is available and some area could be designed as a children playground equipped with installation to play. In this paper, the community engagement service activity is to design and to implement children\u27s play installations, also served as educational facilities, namely tubulum and xylophone. Both are percussion instruments to train children’s audio sensory. These installations are made of PVC pipe and some household cutleries added on xylophone. This activity was begun with field observations and discussions with the management, making a digital installation design, making installation components in the workshop, and assembling and placing the installation on site. The principle of the installation design is to use materials that are easy to obtain and assemble, and are light in weight. These installations support tourist attraction activities in Keranggan Village and encourages children to play because this installation is placed in strategic place so visitors can easily play it and children are attracted because of its unique shape.Kampung Keranggan yang terletak di tepi Sungai Cisadane, merupakan pilot project desa wisata di Tangerang Selatan. Namun, baik sebagai pemukiman maupun tempat yang sering dikunjungi keluarga, kampung ini belum memiliki taman bermain anak. Ruang ini sangat penting, apalagi jika ditambahkan fungsi pendidikan. Lanskap yang luas di kampung ini sebenarnya tersedia dan beberapa area dapat dirancang sebagai taman bermain anak-anak yang dilengkapi dengan instalasi untuk bermain. Dalam tulisan ini, kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah merancang dan mengimplementasikan instalasi permainan anak, juga berfungsi sebagai sarana pendidikan yaitu tubulum dan gambang. Keduanya merupakan alat musik perkusi untuk melatih indera pendengaran anak. Instalasi ini terbuat dari pipa PVC dan beberapa peralatan rumah tangga yang ditambahkan pada gambang. Kegiatan ini diawali dengan observasi lapangan dan diskusi dengan pihak manajemen, pembuatan desain instalasi digital, pembuatan komponen instalasi di bengkel, serta perakitan dan penempatan instalasi di lapangan. Prinsip desain instalasi adalah menggunakan bahan yang mudah diperoleh dan dirakit, serta ringan. Dengan adanya instalasi ini ternyata mendukung kegiatan atraksi wisata di Kampung Keranggan dan mendorong anak-anak untuk bermain karena instalasi ini diletakan pada tempat yang strategis sehingga pengunjung dapat dengan mudah memainkannya dan bentuknya yang unik
Penyuluhan dan Pendampingan Ibu Hamil dan Ibu Postpartum untuk Keberlangsungan Menyusui dengan Program WeChat
The actually, many mothers experience difficulties and face several problems during the breastfeeding process after discharge. Mothers when control at hospital asked their problems. The aim are to help mothers to solved their problems after discharge with We Chat through giving information about breastfeeding, which is a means of providing nutrition for newborns. And companion mother four weeks. One way to help the problems of mothers in the breastfeeding process is to provide knowledge related to breastfeeding both for pregnant women at the end of their pregnancy with gestational age above 35 weeks and post-natal mothers as preparation and assistance in breastfeeding which is facilitated by health workers. The output target of this activity is to increase the knowledge and behavior of breastfeeding directly and confidently. The results of the PKM are attended by 60 participants, who were willing to assist 28 pregnant and lactating women. There are 12 pregnant women and the rest are breastfeeding. The level of knowledge of respondents is only 30% who know the signs of a baby being satisfied with breastfeeding, taking turns breastfeeding, and the importance of breastfeeding at night. After being given knowledge and assistance, respondents experienced an increase of almost 70%. The average participant has low self-confidence at the beginning, after mentoring it can reach almost 90%. The failure factor occurs because they have used a pacifier to provide nutrition, so direct breastfeeding takes a long time. This WeChat program is carried out for one month in the Tangerang and Cibubur areas. Breastfeeding support through the WeChat program uses whatsup media for tele counseling, namely one by one in the breastfeeding process from the beginning to practicing independently with confidence in breastfeeding.Pada kenyataannya ibu-ibu yang mengalami kesulitan dalam menghadapi beberapa masalah saat proses menyusui terutama saat pulang dari RS. Ibu hanya control saja menanyakan permasalahan menyusuinya. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk membantu permasalahan ibu-ibu dalam proses menyusui setelah pulang dari RS dengan program WeChat dengan memberikan pengetahuan dan pendampingan selama satu bulan terkait menyusui. Target luaran dari kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan perilaku menyusui secara langsung dengan penuh percaya diri. Hasil dari PKM yang diikuti oleh 60 peserta, yang bersedia melakukan pendampingan 28 ibu hamil dan menyusui. Ibu hamil 12 orang dan sisanya adalah menyusui. Tingkat Pengetahuan responden hanya 30% yang mengetahui tanda bayi puas menyusu, menyusui bergantian dan pentingnya menyusui dimalam hari. Setelah diberikan pengetahuan dan pendampingan responden mengalami peningkatan hampir 70%. Rerata partisipan memiliki kepercayaan diri yang rendah diawal, setelah pendampingan dapat mencapai hampir 90%. Faktor kegagalan terjadi karena sudah menggunakan dot dalam memberikan nutrisi, sehingga untuk direct breastfeeding membutuhkan waktu yang agak lama. Program WeChat ini dilakukan di daerah Tangerang dan Cibubur. Dukungan menyusui melalui program WeChat ini menggunakan media whatsup untuk telekonseling yaitu one by one dalam proses menyusui diawal sampai dengan mandiri mempraktikkan dengan kepercayaan diri dalam pemberian ASI