Jurnal ABDINUS : Jurnal Pengabdian Nusantara
Not a member yet
595 research outputs found
Sort by
Peningkatan Literasi Keuangan Masyarakat melalui Pelatihan Pengelolaan Keuangan Praktis di Desa Pematang Gajah, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi
Pengelolaan keuangan yang efektif merupakan kompetensi fundamental dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan yang mayoritas penduduknya bekerja pada sektor informal dan pertanian. Meskipun program literasi keuangan telah diimplementasikan di Provinsi Jambi, pelaksanaannya cenderung terpusat pada masyarakat perkotaan atau kelompok formal, sehingga belum sepenuhnya menyasar masyarakat pedesaan dengan karakteristik sosial-ekonomi yang berbeda. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi keuangan praktis masyarakat Desa Pematang Gajah, melalui pelatihan yang disesuaikan dengan konteks sosial budaya setempat. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif yang mencakup tahap persiapan, survei awal, pelaksanaan pelatihan interaktif, diskusi kelompok, simulasi pencatatan keuangan, dan evaluasi berbasis umpan balik peserta. Subjek kegiatan terdiri atas ibu rumah tangga, pelaku usaha mikro, petani, dan pekerja sektor informal dengan pendapatan yang fluktuatif. Kegiatan ini menghasilkan peningkatan dalam pengetahuan terkait konsep dasar keuangan, pengelolaan utang secara bijak, serta penerapan metode sederhana seperti sistem amplop. Selain itu, teridentifikasi perubahan perilaku ke arah manajemen keuangan yang lebih terencana, disiplin, dan berorientasi pada efisiensi. Temuan ini mengindikasikan bahwa pendidikan literasi keuangan berbasis konteks lokal berpotensi menjadi strategi efektif dalam memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga masyarakat pedesaan.Effective financial management is a fundamental competency for improving community welfare, particularly in rural areas where the majority of the population is engaged in informal sectors and agriculture. Although financial literacy programs have been implemented in Jambi Province, their scope has predominantly focused on urban communities or formal groups, leaving rural populations with distinct socio-economic characteristics relatively underserved. This study aims to enhance the practical financial literacy of residents in Pematang Gajah Village, through training programs tailored to the local socio-cultural context. This devotion employed a participatory approach consisting of preparation, preliminary survey, interactive training sessions, group discussions, financial record-keeping simulations, and evaluations based on participant feedback. The participants comprised housewives, micro-enterprise owners, farmers, and informal sector workers with fluctuating incomes. The findings reveal a significant improvement in participants’ understanding of basic financial concepts, skills in budgeting, cash flow recording, prudent debt management, and the adoption of simple methods such as the envelope budgeting system. Moreover, there was evidence of behavioral shifts towards more planned, disciplined, and efficiency-oriented financial management. These results indicate that locally contextualized financial literacy education has strong potential as an effective strategy to strengthen household economic resilience in rural communities
Program Pendampingan Sekolah Orang Tua Hebat dalam Mendidik Anak
Perkembangan teknologi komunikasi yang pesat menimbulkan tantangan bagi orang tua dalam menerapkan pola asuh yang tepat di era digital. Kecamatan Lakarsantri di Kota Surabaya memiliki mayoritas penduduk berperan sebagai ibu rumah tangga yang memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak, namun masih menghadapi keterbatasan literasi digital serta pengawasan penggunaan gawai. Program Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan ibu rumah tangga melalui tiga metode utama, yaitu observasi, pendampingan, dan evaluasi. Program ini melibatkan 10 orang peserta dan berfokus pada peningkatan pemahaman mengenai konsep diri sebagai orang tua, literasi digital, serta strategi pengawasan penggunaan gadget pada anak secara bijak. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa para ibu rumah tangga menjadi lebih memahami peran dan konsep dirinya sebagai pendidik utama dalam keluarga, lebih mampu menerapkan kontrol gadget yang sehat bagi anak, serta memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap pentingnya pola asuh adaptif diera digital. Program ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goal (SDGs) 4 melalui peningkatan kualitas pendidikan keluarga di lingkungan masyarakat.The rapid development of communication technology presents significant challenges for parents in applying appropriate parenting patterns in the digital era. Lakarsantri District in Surabaya is predominantly inhabited by housewives who play a crucial role in shaping children\u27s character, yet still face limitations in digital literacy and gadget supervision. The Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) program was implemented to enhance the understanding and skills of housewives through three main methods: observation, mentoring, and evaluation. This program involved 10 participants and focused on strengthening parents’ self-concept, improving digital literacy, and developing effective strategies for supervising children’s gadget use. The results indicate that housewives gained a better understanding of their roles and self-concept as primary educators in the family, became more capable of applying healthy gadget control for their children, and developed greater awareness of adaptive parenting in the digital era. This program also contributes to Sustainable Development Goal (SDGs) 4 by supporting quality family education within the community
Pengembangan Profesionalisme Guru melalui Pelatihan Perancangan Aktivitas STEM bagi Guru SD/MI
Efforts to develop teacher professionalism, one of which is through learning innovation, need to be carried out continuously so that teachers\u27 knowledge, understanding and skills related to their duties are always up to date with world progress. However, there are not many learning innovations to help students master 21st century skills because teachers do not know how to plan and implement them and not all teachers attend training to find out the development of learning innovations. Therefore, this service aims to develop the understanding and readiness of elementary school (SD/ MI) teachers in designing STEM learning. The method in this service goes through stages of activities, namely literature study, preparation of training materials, strengthening of training concepts, implementation of training, evaluation of activities, and preparation of outputs. The results obtained are that teachers have gained an understanding of one of the learning innovations, namely STEM activities and teachers have designed STEM activities in groups resulting in eight STEM activity designs.Upaya pengembangan profesionalisme guru salah satunya melalui inovasi pembelajaran perlu terus dilakukan secara berkelanjutan supaya pengetahuan, pemahaman dan keterampilan guru yang berhubungan dengan tugasnya selalu mengikuti perkembangan kemajuan dunia. Namun, belum banyak inovasi pembelajaran untuk membantu siswa menguasai keterampilan abad 21 karena guru belum cara mengetahui perencanaan dan pelaksanaannya serta tidak semua guru mengikuti pelatihan untuk mengetahui perkembangan inovasi pembelajaran. Oleh karena itu, pengabdian ini bertujuan untuk mengembangkan pemahaman dan kesiapan guru SD/MI dalam merancang pembelajaran STEM. Metode pada pengabdian ini melalui tahapan kegiatan yaitu studi literatur, penyusunan materi pelatihan, pemantapan konsep pelatihan, pelaksanaan pelatihan, evaluasi kegiatan, dan penyusunan luaran. Hasil yang diperoleh yaitu guru telah memperoleh pemahaman tentang salah satu inovasi pembelajaran yaitu aktivitas STEM dan guru telah merancang aktivitas STEM secara berkelompok dihasilkan delapan rancangan aktivitas STEM.
Pelatihan Penyusunan Perangkat Pembelajaran Sains Inovatif berbasis Deep Learning bagi Guru SMP/ MTs Kabupaten Tuban
Pelatihan penyusunan perangkat pembelajaran sains inovatif dipandang sangat penting khususnya bagi para guru IPA di Tuban. Salah satunya adalah mengenalkan perangkat ajar sains inovatif berbasis deep learning, pendekatan pembelajaran mendalam yang menekankan pada penguatan keterlibatan siswa dalam proses belajar melalui aktivitas yang kontekstual, bermakna, dan menyenangkan (mindful, meaningful, and joyful learning). Hal ini menjadi trend baru dalam Pendidikan Sains, sehingga produk pembelajaran yang dihasilkan dapat disesuaikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Fokus pelatihan adalah guru-guru IPA di Tuban. Tahapan kegiatan ini meliputi 1) tahap persiapan; 2) tahap pemaparan materi, 3) tahap pendampingan; dan 4) tahap evaluasi. Tahapan ini dilakukan untuk menunjang pelaksanaan pelatihan dalam memberikan pemahaman mendalam terkait deep learning serta melakukan pembimbingan kepada guru terkait pembuatan produk. Solusi yang bisa ditawarkan dari permasalahan tersebut dengan melakukan pelatihan penyusunan perangkat pembelajaran sains inovatif berbasis deep learning. Dukungan teknis dan mentoring juga dapat diberikan selama dan setelah pelatihan untuk memastikan pendampingan yang dilakukan berjalan lancar dan sukses. Produk yang dihasilkan adalah produk perangkat pembelajaran sains inovatif berbasis deep learning sesuai dengan materi yang diidentifikasi dan masalah yang ingin diselesaikan oleh guru.Training in developing innovative science learning tools is considered very important, especially for science teachers in Tuban. One of the training methods is introducing innovative science learning tools based on deep learning, an in-depth learning approach that emphasizes strengthening student engagement in the learning process through contextual, meaningful, and enjoyable activities (mindful, meaningful, and joyful learning). This is a new trend in Science Education, so that the resulting learning products can be adapted and utilized by the community. The training focuses on science teachers in Tuban. The stages of this activity include 1) the preparation stage; 2) the material presentation stage; 3) the mentoring stage; and 4) the evaluation stage. These stages are carried out to support the implementation of the training in providing an in-depth understanding of deep learning and providing guidance to teachers regarding product creation. A solution that can be offered to these problems is by conducting training in developing innovative science learning tools based on deep learning. Technical support and mentoring can also be provided during and after the training to ensure the mentoring runs smoothly and successfully. The resulting product is an innovative science learning tool based on deep learning according to the material identified and the problems that teachers want to solve
Sosialisasi Budidaya Lele Terpal dan Vertikultur Sayuran serta Praktik Pembuatan Pakan di Desa Banyuroto, Kabupaten Magelang
Guna membantu warga Dusun Kenayan, Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang dalam mengendalikan angka stunting yang tinggi yaitu 29,06 persen, tim pelaksana dan para mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui skim Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM). Salah satu metode yang digunakan yaitu dengan menyelenggarakan sosialisasi budidaya lele dalam terpal yang diintegrasikan dengan budidaya sayuran secara vertikultur, dan praktik pembuatan pakan lele kepada mitra sasaran yaitu Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati dan Kelompok Pemuda Masjid Sabilurrohman. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan pangan keluarga dengan gizi seimbang dan sebagai sarana untuk berwirausaha. Kegiatan yang dihadiri 20 orang peserta tersebut menghasilkan peningkatan pemahaman terhadap budidaya lele dalam terpal dan budidaya sayuran secara vertikultur sebesar 98 persen dari sebelumnya 67 persen. In order to help the residents of Kenayan Hamlet, Banyuroto Village, Sawangan District, Magelang Regency in controlling the high stunting rate of 29,06 percent, the implementation team and students from Muhammadiyah University conducted community service activities through the Community Empowerment by Students (PMM) scheme. One of the methods used was by holding a socialization of catfish cultivation in tarpaulins integrated with vertical vegetable cultivation, and the practice of making catfish feed to target partners, namely the Melati Women Farmers Group (KWT) and the Sabilurrohman Mosque Youth Group. The activity aims to increase the availability of family food with balanced nutrition and as a means for entrepreneurship. The activity, attended by 20 participants, resulted in an increase in understanding of catfish cultivation in tarpaulin and vegetable cultivation in vertical cultivation by 98 percent from the previous 67 percent
Bimbingan Teknis Identifikasi Permasalahan dan Alternatif Strategi Pengembangan Pakan Sapi Pedaging melalui Focus Group Discussion di Kabupaten Kolaka Timur
Pakan memegang peranan kunci dalam sistem produksi ternak. Sebagaimana diketahui, pakan menyumbang hingga 60–70% dari total biaya produksi dalam usaha peternakan sapi pedaging. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan dan alternatif strategi ketersediaan pakan sapi pedaging melalui FGD di Kabupaten Kolaka Timur yang dilaksanakan pada tanggal 12 Agustus 2025. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) kepada pemangku kepentingan terkait, seperti peternak, penyuluh, aparatur pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha. Adapun materi kegiatan pengabdian ini yaitu identifikasi permasalahan, potensi dan alternatif strategi ketersediaan pakan sapi pedaging. Tahapan pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu (a) tahap pertama, persiapan dan (b) tahap kedua, pelaksanaan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa FGD ketersediaan pakan sapi pedaging di Kabupaten Kolaka Timur mengidentifikasi permasalahan utama berupa ketergantungan pada pakan alami yang fluktuatif, rendahnya keterampilan peternak, serta keterbatasan sarana dan kelembagaan. Di sisi lain, tersedia potensi besar berupa lahan penggembalaan, hasil ikutan pertanian, iklim yang mendukung, dan dukungan kebijakan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah memberikan dukungan kebijakan dan anggaran yang memadai, sementara peternak didorong untuk lebih aktif dalam memanfaatkan sumber daya lokal. Strategi ini diharapkan mampu menjawab tantangan penyediaan pakan secara berkelanjutan serta meningkatkan produktivitas peternakan sapi pedaging di Kabupaten Kolaka Timur.Feed plays a key role in the livestock production system. As is known, feed contributes up to 60–70% of the total production costs in beef cattle farming. This activity aims to identify problems and alternative strategies for beef cattle feed availability through FGDs in East Kolaka Regency which were held on August 12, 2025. The activity was implemented in the form of Focus Group Discussions (FGDs) with relevant stakeholders, such as breeders, extension workers, government officials, academics, and business actors. The material for this community service activity is the identification of problems, potential, and alternative strategies for beef cattle feed availability. The stages of implementation of this community service were carried out in several stages, namely (a) the first stage, preparation and (b) the second stage, implementation. The results obtained indicate that the FGD on beef cattle feed availability in East Kolaka Regency identified the main problems in the form of dependence on fluctuating natural feed, low livestock skills, and limited facilities and institutions. On the other hand, there is great potential in the form of grazing land, agricultural by-products, a supportive climate, and support from regional policies. Therefore, the local government provides adequate policy and budget support, while encouraging livestock farmers to be more active in utilizing local resources. This strategy is expected to address the challenge of providing sustainable feed and increase the productivity of beef cattle farms in East Kolaka Regency
Pemetaan Potensi Desa untuk Penyusunan Masterplan Desa berbasis Desa Mandiri Budaya di Kalurahan Bangunharjo
Desa Bangunharjo adalah desa pertanian dan 50% penduduknya bekerja sebagai petani. Karena sulit untuk memaksimalkan potensi pariwisata, budaya, dan UMKM guna mendapatkan status Desa Budaya Mandiri. Tujuan proyek layanan masyarakat ini adalah menyusun daftar sumber daya yang dimiliki oleh desa-desa pedesaan, seperti lahan pertanian dan infrastruktur (aset fisik) serta pengetahuan lokal dan lembaga (aset non-fisik). Daftar ini akan digunakan untuk menyusun rencana induk desa yang terintegrasi. Metode partisipatif yang digunakan melibatkan BUMKal, pelatihan bagi petugas survei, pengumpulan data berdasarkan zonasi, dan penggunaan teknologi. Total luas sawah yang ditemukan adalah satu hektar, potensi Sungai Code, dan 17 usaha kecil dan menengah (UKM) yang belum dimanfaatkan. Rencana induk komunitas akan mencakup empat bagian utama: Komunitas Budaya, Desa Pariwisata, Desa Wirausaha, dan Desa Utama. Pelatihan digital BUMKal, pertumbuhan e-commerce, dan kerja sama dengan pemerintah daerah adalah ide-ide untuk membuat hal-hal lebih berkelanjutan. Proyek ini menunjukkan bahwa strategi berbasis aset dan partisipatif dapat membantu desa berkembang secara inklusif dan berkelanjutan. Hasil akhir dari kegiatan ini adalah tersusunnya master plan desa sebagai pedoman pengembangan Desa Bangunharjo menuju Desa Mandiri Budaya.Bangunharjo Village is an agricultural village, and 50% of its population works as farmers. Because it is difficult to maximize the potential of tourism, culture, and MSMEs to achieve the status of an Independent Cultural Village. The purpose of this community service project is to compile a list of resources owned by rural villages, such as agricultural land and infrastructure (physical assets) as well as local knowledge and institutions (non-physical assets). This list will be used to compile an integrated village master plan. The participatory methods used involve BUMKal, training for survey officers, data collection based on zoning, and the use of technology. The total area of rice fields found is one hectare, with the potential of the Code River and 17 small and medium enterprises (SMEs) that have not been utilized. The community master plan will include four main sections: Cultural Community, Tourism Village, Entrepreneurial Village, and Main Village. Digital training for BUMKal, e-commerce growth, and collaboration with local governments are ideas to make things more sustainable. This project demonstrates that asset-based and participatory strategies can help villages develop inclusively and sustainably. The final outcome of this activity is the development of a village master plan as a guideline for the development of Bangunharjo Village toward a Culturally Independent Village
Implementasi Program Sosialisasi Anti-Bullying sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan di Sekolah
Bullying merupakan salah satu permasalahan serius di lingkungan sekolah yang berdampak negatif terhadap korban, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan program sosialisasi anti-bullying di SD 87 Pattiro sebagai upaya pencegahan dan penanganan kekerasan di sekolah. Metode yang digunakan meliputi observasi, ceramah edukatif, diskusi interaktif, dan pendekatan motivatif agar siswa memahami serta menginternalisasi nilai-nilai anti-bullying. Program ini juga memberikan pemahaman tentang konsekuensi hukum bagi pelaku bullying sesuai peraturan yang berlaku. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan signifikan terhadap pemahaman siswa mengenai definisi, jenis, dan dampak bullying, baik verbal, fisik, sosial, maupun siber. Berdasarkan hasil evaluasi sebelum dan sesudah kegiatan, tingkat pemahaman siswa meningkat hingga 85%. Selain peningkatan kognitif, terjadi pula perubahan perilaku positif, di mana siswa menjadi lebih berani melapor, menunjukkan empati, serta aktif membentuk kelompok anti-bullying di sekolah. Program ini terbukti efektif dalam menumbuhkan karakter positif, memperkuat solidaritas antar siswa, dan menciptakan lingkungan belajar yang aman, harmonis, serta inklusif.Bullying is a serious problem in schools that negatively impacts victims physically, psychologically, and socially. This study aims to describe the implementation of an anti-bullying outreach program at Pattiro 87 Elementary School as an effort to prevent and address school violence. The methods used included observation, educational lectures, interactive discussions, and motivational approaches to help students understand and internalize anti-bullying values. The program also provided an understanding of the legal consequences for perpetrators of bullying, in accordance with applicable regulations. The implementation results showed a significant increase in students\u27 understanding of the definition, types, and impacts of bullying, including verbal, physical, social, and cyberbullying. Based on pre- and post-program evaluations, students\u27 understanding increased by 85%. In addition to cognitive improvements, positive behavioral changes were also observed, with students becoming more willing to report bullying, demonstrating empathy, and actively forming anti-bullying groups at school. This program has proven effective in fostering positive character, strengthening solidarity among students, and creating a safe, harmonious, and inclusive learning environment
Pelatihan dan Kiat Sukses Shopee Affiliate di Era Digital Masyarakat Desa Kadumaneuh
Demografi masyarakat Desa Kadumaneuh didominasi oleh pekerja sektor informal dengan penghasilan terbatas, terutama dari kerajinan anyaman pandan. Generasi muda desa ini membutuhkan alternatif sumber penghasilan yang berbasis digital. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dilakukan untuk melatih masyarakat menjadi Shopee Affiliate sebagai salah satu strategi meningkatkan pendapatan tanpa memerlukan modal besar. Metode pelatihan dilakukan melalui teori dan praktik langsung, mulai dari pendaftaran akun, penyebaran tautan, hingga strategi memilih produk yang potensial. Hasil pretest dan posttest menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta. Dari 22 peserta, 19 peserta mengalami kenaikan skor, dengan hasil uji Paired Samples Test menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) = 0,001 < 0,05, yang berarti pelatihan berpengaruh nyata terhadap peningkatan pemahaman peserta. Program ini diharapkan menjadi pintu masuk masyarakat Desa Kadumaneuh ke dalam ekosistem ekonomi digital.The demographics of the Kadumaneuh Village community are dominated by informal sector workers with limited income, primarily from pandan weaving crafts. The village\u27s young generation needs alternative digital-based income sources. Community Service (PkM) activities are carried out to train the community to become Shopee Affiliates as a strategy to increase income without requiring large capital. The training method is carried out through theory and direct practice, starting from account registration, distributing links, to strategies for selecting potential products. The results of the pretest and posttest showed a significant increase in participant understanding. Of the 22 participants, 19 participants experienced an increase in scores, with the results of the Paired Samples Test showing a Sig. (2-tailed) value = 0.001 < 0.05, which means the training has a significant effect on increasing participant understanding. This program is expected to be an entry point for the Kadumaneuh Village community into the digital economy ecosystem
Penguatan Tata Kelola HIPAM berbasis Masyarakat untuk Kemandirian Air Bersih di Desa Mayangkawis
Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan untuk mengatasi rendahnya akses air bersih (63% KK), ketiadaan kelembagaan HIPAM desa, dan kualitas air buruk (25 NTU, nitrat 12 mg/L) di desa Mayangkawis, kecamatan Balen, kabupaten Bojonegoro. Tujuan utamanya adalah membentuk struktur HIPAM desa dengan AD/ART dan SOP, menerapkan sistem filtrasi bertingkat, booster pump, jaringan pipa HDPE 1,2 km, serta membangun kapasitas warga melalui pelatihan teknis dan administrasi digital, sehingga cakupan layanan naik menjadi 85% KK, dan kualitas air sesuai standar. Metode meliputi: sosialisasi dan musyawarah desa, pelatihan hard & soft skills, instalasi infrastruktur—filter, pump, meter, tangki komunal, monitoring kualitas air dan audit SOP, dan regenerasi kader lokal dan integrasi HIPAM desa. Hasil kegiatan menunjukkan terbentuknya HIPAM desa yang terstruktur dengan forum melibatkan 255 KK dan 15 kader terlatih, terwujudnya sistem pengolahan air dan administrasi digital, terpasangnya 130 water meter, dan 92% pengguna puas dengan kualitas air, hal ini dapat menjadi model yang siap direplikasi di desa lain.This community service program addressed: (1) low access to clean water (63% of households), (2) absence of HIPAM (community-based drinking water management) institutions, and (3) poor water quality (25 NTU turbidity and 12 mg/L nitrate) in Mayangkawis village, Balen sub-district, Bojonegoro Regency. The program’s main objective was to establish a village HIPAM structure, complete with AD/ART (articles of association/bylaws) and SOP (standard operating procedure), and to implement a multi-level filtration system, booster pump, and 1.2 km HDPE (high-density polyethylene) pipe network. Additionally, the program aimed to strengthen community capacity through digital technical and administrative training. The specific goals were to raise service coverage to 85% of households and ensure water quality met standards. Methods included village outreach and deliberation, skills training, infrastructure installation (filters, pumps, meters, communal tanks), water quality monitoring, SOP audits, and local cadre regeneration with HIPAM integration. Outcomes comprised a structured village HIPAM serving 255 families and 15 trained cadres, a digital water treatment and administration system, installation of 130 water meters, and 92% user satisfaction with water quality. This model is ready for replication in other villages