Irfani
Not a member yet
251 research outputs found
Sort by
WAWASAN AL-QUR’AN TENTANG KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA IMPLIKASI TERHADAP PENDIDIKAN KARAKTER ISLAMI DALAM KELUARGA
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara tematik ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan kekerasan dalam rumah tangga serta menganalisis implikasinya terhadap pembentukan pendidikan karakter Islami dalam keluarga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsir maudhu‘i (tematik) yang menelusuri ayat-ayat relevan seperti Q.S. al-Nisā’ [4]:19, al-Rūm [30]:21, dan al-Mā’idah [5]:8. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dari kitab tafsir klasik dan kontemporer serta literatur pendidikan Islam.
Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menolak segala bentuk kekerasan, baik fisik maupun psikologis, dengan menegaskan nilai rahmah (kasih sayang), ‘adl (keadilan), dan mu‘āsyarah bil ma‘rūf (pergaulan yang baik) sebagai fondasi relasi keluarga. Kekerasan dalam rumah tangga dipandang bukan sekadar persoalan sosial, tetapi kegagalan dalam pendidikan moral dan spiritual. Oleh karena itu, pendidikan Islam memiliki tanggung jawab epistemologis untuk membangun kesadaran nilai dan menanamkan budaya non-kekerasan dalam keluarga.
Temuan penelitian ini menegaskan bahwa keluarga Qur’ani adalah entitas pendidikan pertama yang harus mencerminkan nilai kasih, kesetaraan, dan penghargaan terhadap martabat manusia. Dengan demikian, pendidikan karakter Islami berbasis Al-Qur’an tidak hanya berfungsi membentuk individu berakhlak, tetapi juga menjadi sarana pencegahan kekerasan dalam rumah tangga melalui penanaman spiritualitas, dialog, dan keteladanan.
Kata kunci: Wawasan Al-Qur’an, Kekerasan Rumah Tangga, Pendidikan Karakter Islami
 
ANALISIS UJI KELAYAKAN PANDUAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR I BERBASIS INKUIRI TERINTEGRASI KEARIFAN LOKAL
Kegiatan praktikum Fisika Dasar I di perguruan tinggi masih menghadapi berbagai permasalahan, seperti kurangnya panduan praktikum yang kontekstual, minimnya integrasi antara konsep fisika dan kearifan lokal, serta rendahnya keterlibatan mahasiswa dalam proses inkuiri ilmiah. Akibatnya, kegiatan praktikum belum sepenuhnya mampu menumbuhkan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan panduan praktikum Fisika Dasar I berbasis inkuiri terintegrasi kearifan lokal yang layak digunakan dalam kegiatan praktikum Fisika Dasar I di Universitas PGRI Silampari. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan (Research and Development) dengan menggunakan model pengembangan ADDIE. Instrumen yang digunakan berupa lembar validasi yang kemudian dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan skala lima. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panduan praktikum yang dikembangkan telah memenuhi kriteria kelayakan. Aspek media memperoleh skor aktual 68 dengan kategori A (Sangat Baik), aspek materi memperoleh skor aktual 94 dengan kategori A (Sangat Baik), dan aspek bahasa memperoleh skor aktual 35 dengan kategori A (Sangat Baik). Hal tersebut menunjukkan bahwa panduan praktikum Fisika Dasar I terintegrasi kearifan lokal dinyatakan sangat layak digunakan untuk kegiatan praktikum Fisika Dasar I.Kegiatan praktikum Fisika Dasar I di perguruan tinggi masih menghadapi berbagai permasalahan, seperti kurangnya panduan praktikum yang kontekstual, minimnya integrasi antara konsep fisika dan kearifan lokal, serta rendahnya keterlibatan mahasiswa dalam proses inkuiri ilmiah. Akibatnya, kegiatan praktikum belum sepenuhnya mampu menumbuhkan keterampilan proses sains dan sikap ilmiah mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan panduan praktikum Fisika Dasar I berbasis inkuiri terintegrasi kearifan lokal yang layak digunakan dalam kegiatan praktikum Fisika Dasar I di Universitas PGRI Silampari. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan (Research and Development) dengan menggunakan model pengembangan ADDIE. Instrumen yang digunakan berupa lembar validasi yang kemudian dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan skala lima. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panduan praktikum yang dikembangkan telah memenuhi kriteria kelayakan. Aspek media memperoleh skor aktual 68 dengan kategori A (Sangat Baik), aspek materi memperoleh skor aktual 94 dengan kategori A (Sangat Baik), dan aspek bahasa memperoleh skor aktual 35 dengan kategori A (Sangat Baik). Hal tersebut menunjukkan bahwa panduan praktikum Fisika Dasar I terintegrasi kearifan lokal dinyatakan sangat layak digunakan untuk kegiatan praktikum Fisika Dasar I
ENHANCHING THE INTERNAL QUALITY AUDIT (AMI) AT UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR THROUGH THE CIPP EVALUATION MODEL: A QUALITATIVE ASSESSMENT
This study examines the implementation of the 2024 Internal Quality Audit (AMI) at the State University of Makassar (UNM) using the Context, Input, Process, Product (CIPP) evaluation model to assess the effectiveness of the implementation of quality assurance in eleven faculties. Using a qualitative descriptive method, data was collected from audit reports, Management Review Meeting (RTM) results, and institutional documents. The analysis shows that all faculties have implemented the PPEPP cycle consistently, although the depth and integration of practice varies. Faculties such as FMIPA and FIKK demonstrate superior practices, including infrastructure support and human resource readiness, while other faculties such as FIP face challenges in strategic documentation and integration of the MBKM curriculum. This study identifies a number of aspects that need to be improved, such as stakeholder engagement, the use of tracer studies, and more systematic follow-up to audit recommendations. This study recommends the digitization of the audit system, periodic auditor training, and the formal involvement of alumni and graduate users in the quality assurance process. The findings of the study confirm the relevance of the CIPP model as an effective evaluation framework in assessing and improving the internal audit function in universities. By providing a comprehensive understanding of audit performance and institutional gaps, this research contributes to the development of sustainable quality assurance practices at UNM and similar institutionsPenelitian ini mengkaji pelaksanaan Audit Mutu Internal (AMI) tahun 2024 di Universitas Negeri Makassar (UNM) dengan menggunakan model evaluasi Context, Input, Process, Product (CIPP) untuk menilai efektivitas penerapan penjaminan mutu di sebelas fakultas. AMI, yang diamanatkan dalam regulasi nasional melalui siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan), memegang peran penting dalam menjaga akuntabilitas dan kinerja institusi.
Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, data dikumpulkan dari laporan audit, hasil Rapat Tinjauan Manajemen (RTM), dan dokumen institusional. Analisis menunjukkan bahwa seluruh fakultas telah menerapkan siklus PPEPP secara konsisten, meskipun kedalaman dan integrasi praktiknya bervariasi. Fakultas seperti FMIPA dan FIKK menunjukkan praktik yang unggul, termasuk dukungan infrastruktur dan kesiapan sumber daya manusia, sementara fakultas lain seperti FIP menghadapi tantangan dalam dokumentasi strategis dan integrasi kurikulum MBKM.
Penelitian ini mengidentifikasi sejumlah aspek yang perlu ditingkatkan, seperti keterlibatan pemangku kepentingan, pemanfaatan tracer study, dan tindak lanjut yang lebih sistematis terhadap rekomendasi audit. Studi ini merekomendasikan digitalisasi sistem audit, pelatihan auditor secara berkala, serta pelibatan formal alumni dan pengguna lulusan dalam proses penjaminan mutu.
Temuan penelitian menegaskan relevansi model CIPP sebagai kerangka evaluasi yang efektif dalam menilai dan meningkatkan fungsi audit internal di perguruan tinggi. Dengan memberikan pemahaman komprehensif tentang kinerja audit dan kesenjangan institusional, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan praktik penjaminan mutu yang berkelanjutan di UNM dan institusi sejenis.
Kata kunci: Audit Mutu Internal, CIPP, Mutu Pendidikan Tinggi, SPMI, Universitas Negeri Makassar
PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) DENGAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS KELAS VII
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar peserta didik yang belajar menggunakan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dengan hasil belajar peserta didik yang belajar menggunakan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits kelas VII di MTsN 6 Agam. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Metode yang digunakan adalah metode penelitian eksperimen. Adapun desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Eksperimen Design (eksperimen semu) bentuk non equivalent control group design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan uji hipotesis dengan Uji Independent Sample T-test diperoleh nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0.158 maka diambil keputusan bahwa (0.158 > 0.05). Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar peserta didik yang belajar menggunakan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dengan hasil belajar peserta didik yang belajar menggunakan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits dengan perolehan rata-rata post-test kelas eksperimen 2 VII.3 sebesar 89.06 dan rata-rata post-test kelas eksperimen 1 VII.4 sebesar 89.06. Perbedaan rata-rata kedua kelas tersebut sebesar 2.56, sehinnga diterima dan ditolak
KONSEP MUTU DAN MUTU PENDIDIKAN
A multifaceted strategy is essential to enhance education quality. This includes initiatives like bolstering teacher professionalism, creating a curriculum that meets the needs of learners, upgrading facilities and infrastructure, promoting community involvement, and maximizing technology use in educational settings. Through implementing these strategies, the goal is to continually advance the quality of education, producing superior and competitive human resources.
Keywords: Quality, Quality of Education, Education Quality FactorsMutu pendidikan merupakan indikator utama dalam menilai keberhasilan sistem pendidikan suatu negara. Konsep mutu sendiri mencakup kesesuaian dengan standar yang ditetapkan, kepuasaan pemangku kepentingan serta peningkatan berkelanjutan. Dalam konteks pendidikan, mutu pendidikan mencerminkan efektivitas proses pembelajara, kualitas tenaga pendidik, serta hasil belajar peserta didik. Berbagai faktor mempengaruhi mutu pendidikan di antaranya kebijakan pemerintah, kurikulum, kompetensi pendidik, sarana dan prasarana serta teknologi dalam pembelajaran. Untuk meningkatkan mutu pendidikan, diperluhkan strategi yang komprehensif, seperti penguatan profesionalisme guru, pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan, peningkatan sarana dan prasarana, partisipasi masyarakat serta optimalisasi penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Dengan menerapkan startegi tersebut, diharapkan mutu pendidikan dapat terus berkembang sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing tinggi.
Kata Kunci: Mutu, Mutu Pendidikan, Faktor Mutu Pendidika
STRATEGI PENINGKATAN MORAL PESERTA DIDIK DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM: KAJIAN LITERATUR
This article discusses strategies for enhancing students\u27 moral character as an effort to address the challenge of moral degradation among students and society, triggered by the weakening of religious adherence, inadequate moral guidance from families, schools, and communities, the strong influence of materialistic–hedonistic–secularistic culture, and the government\u27s low commitment. This study employs a qualitative method with a literature review approach to analyze the concepts of morality and ethics from an Islamic education perspective and formulate effective strategies. The findings indicate that moral development must consider three elements according to Lickona—moral understanding, moral feeling, and moral action—integrated with faith as the foundation. The recommended strategies include exemplary behavior, education, and religious outreach (dakwah), implemented through separate subject models, integrated learning, extracurricular activities, a combined model, school culture reinforcement, and collaboration with all stakeholders. A well-planned and collaborative effort is believed to foster a an intellectually intelligent and a noble generation.
Keywords: morality, ethics, Islamic education, strategy, studentsArtikel ini membahas strategi peningkatan moral peserta didik sebagai upaya menjawab tantangan degradasi moral di kalangan pelajar dan masyarakat. Fenomena degradasi moral disebabkan oleh adanya dikotomi ilmu dan moral, serta melemahnya pengikatan terhadap agama, kurangnya pembinaan moral oleh keluarga, sekolah, dan masyarakat, kuatnya pengaruh budaya materialistis–hedonistis–sekularistis, serta rendahnya komitmen pemerintah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka untuk menganalisis konsep moral dan akhlak dalam perspektif pendidikan Islam, serta merumuskan strategi yang efektif dalam penerapannya di lingkup sekolah. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembinaan moral perlu memperhatikan tiga unsur menurut Lickona—pemahaman, perasaan, dan tindakan moral—yang dipadukan dengan keimanan sebagai landasan. Strategi yang direkomendasikan meliputi keteladanan, pendidikan, dan dakwah, yang diimplementasikan melalui model mata pelajaran terpisah, pembelajaran terintegrasi, kegiatan ekstrakurikuler, model gabungan, penguatan budaya sekolah, serta sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan. Upaya yang terencana dan kolaboratif diyakini mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia.
Kata kunci: moral, akhlak, pendidikan Islam, strategi, peserta didi
PENGGUNAAN ALAT PERMAINAN EDUKATIF GENDANG BALON DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK USIA 5-6 TAHUN
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan emosional anak pada indikator bermain bersama teman di TK Kasih Bunda memiliki peserta didik sebanyak 20 orang anak. Dari 20 orang anak, terdapat 6 orang anak belum berkembang aspek sosial emosional dengan lingkup perkembangan sikap prososial dengan indikator bermain dengan teman. Pendekatan penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui tindakan yang diterapkan secara langsung di kelas. PTK dilakukan dalam bentuk siklus yang melibatkan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi sebagai langkah-langkah dasar dalam pengembangan pembelajaran. Hasil penelitian pra siklus dalam menigkatkan sosial emosioanl anak dengan menggunakan permainan tradisional gendang balon selama 7 kali pertemuan terdiri dari 3 kali pertemuan pada siklus satu, dalam 1 siklus. Ketiga, hasilnya adalah pra siklus mendapatkan total rata-rata 2,5 dengan kategori penilaian Belum Berkembang (BB), siklus I pertemuan I meningkat menjadi 1,5 dengan kategori mulai Berkembang (MB), dan pada siklus I pertemuan II masih menunjukkan angka yang sama. Siklus I pertemuan III meningkat menjadi 1,0 dengan kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH). Pada Siklus II pertemuan I menunjukkan angka yang sama pada siklus I pertemuan III, untuk Siklus II pertemuan II bahwa anak sudah menunjukkan perkembangan dengan angka 1 dengan kategori berkembang sangat baik (BSB)
PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM MELAKSANAKAN KURIKULUM MERDEKA DI SEKOLAH INDONESIA KOTA KINABALU (SIKK) SABAH MALAYSIA
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran kepala sekolah dalam melaksanakan Kurikulum Merdeka di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Sabah, Malaysia. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dan guru penggerak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah SIKK menjalankan perannya secara optimal pada tujuh indikator utama, yaitu: (1) Educator, membimbing guru dalam pembelajaran berdiferensiasi dan mendukung pengembangan profesional; (2) Manajer, menyusun program kerja, mengelola sumber daya, dan membagi tugas secara jelas; (3) Administrator, mengelola administrasi kurikulum dan dokumentasi pembelajaran; (4) Supervisor, melakukan supervisi kelas serta memberikan umpan balik; (5) Leader, menjadi teladan, membangun visi bersama, dan menumbuhkan kerja kolektif; (6) Innovator, mendorong pembelajaran berbasis proyek dan menciptakan lingkungan belajar inovatif; serta (7) Motivator, memberikan dukungan moral dan penghargaan untuk meningkatkan kinerja guru. Temuan ini menegaskan bahwa peran adaptif dan kolaboratif kepala sekolah memiliki pengaruh signifikan terhadap keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka di SIKK.
Kata Kunci : Peran kepala sekolah, Kurikulum Merdeka, Sekolah Indonesia Kota Kinabal
STRATEGI PTKI DALAM MEMBANGUN GENERASI BERWAWASAN MODERAT: URGENSI PENDIDIKAN MODERASI BERAGAMA MENUJU INDONESIA EMAS 2045
To support the vision of Indonesia Emas 2045, Islamic Higher Education Institutions (PTKI) play a crucial role in shaping a generation with a moderate worldview. This study aims to examine the strategic role of PTKI in instilling the values of tolerance, balance, and justice in students. Additionally, religious moderation education is essential in addressing the challenges of religious extremism, intolerance, and cultural plurality. This research employs a literature study approach, focusing on PTKI\u27s role in integrating religious moderation into the education curriculum, institutional collaboration, and character and multicultural education development. The findings indicate that PTKI serves as a key agent of change in transforming the education system. Religious moderation education helps counter religious extremism and fosters social stability amidst Indonesia’s religious and cultural diversity. The religious moderation education programs implemented by PTKI have successfully instilled the values of tolerance, diversity, and solidarity, contributing to the realization of Indonesia Emas 2045.Untuk mendukung Visi Indonesia Emas 2045, Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) sangat penting dalam membentuk generasi dengan wawasan moderat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari peran strategis PTKI dalam menanamkan nilai-nilai toleransi, keseimbangan, dan keadilan kepada siswa. Selain itu, pendidikan moderasi beragama sangat penting untuk mengatasi tantangan ekstremisme agama, intoleransi, dan pluralitas budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur yang berfokus pada peran PTKI dalam mengintegrasikan moderasi agama ke dalam kurikulum pendidikan, kolaborasi kelembagaan, dan pengembangan karakter dan pendidikan multikultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PTKI memiliki peran penting sebagai agen perubahan dalam membawa perubahan ke dalam sistem pendidikan. Pendidikan moderasi beragama membantu menangkal ekstremisme agama dan menciptakan stabilitas sosial di tengah pluralitas agama dan budaya Indonesia. Program pendidikan moderasi beragama yang diterapkan oleh PTKI telah berhasil menanamkan nilai-nilai toleransi, keberagaman, dan kebersamaan dalam pembentukan generasi yang akan berkontribusi pada tujuan Indonesia Emas 2045
INTERNALISASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM: INTEGRASI PEMBENTUKAN KARAKTER MAHASANTRI
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam dalam pembentukan karakter religius peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dihadapi dengan tantangan belum optimalnya pelaksanaan integrasi nilai yang dipengaruhi oleh latar belakang individu yang beragam, pengalaman hidup, dan tingkat kesadaran spiritual peserta didik. Hasil penelitian menemukan bahwa proses internalisasi berlangsung secara bertahap mengikuti teori perkembangan moral mulai dari tahap pra konvensional, konvensional, hingga pasca konvensional yang terintegrasi dengan nilai-nilai i’tiqadiyyah, khuluqiyyah, dan amaliyah. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengelola, musyrif-musyrifah dan mahasantri dalam merancang strategi serta pembentukan karakter religius, rasa tanggung jawab, dan kemandirian mahasantri dalam kesadaran sosial, emosional, dan spiritual sesuai dengan proses tahapan internalisasi