Jurnal Keteknikan Pertanian
Not a member yet
627 research outputs found
Sort by
Desain Model Diagnostik Resiko Ergonomi pada Kelapa Sawit Secara Manual
AbstractOil palm harvesting activity is mostly done by ‘human power’ manual handling, therefore the activity may cause work safety and health problems.This research is deal with anthropometry, motion study andbiomechanic to find out the risk of manual handling and to develop ergonomic assessment model of oil palm harvesting. This model was designed in the aims to find out better work motion, good procedure and better design of harvesting tool, so the manual harvesting can be done in more safe, efficient and productive. The formula for the appropriate distance between harvester’s position and the tree and the length of egrek show that oil palm harvesting for more than 16 m bunches’s height is not safe with ‘egrek’. Critical load for neck, shoulder and forearm are 21.85 N, 1091.96 N and 1634.31 N. Ergonomic risk assesment’s tool of oil palmmanual harvesting was designed with the parameter: appropriate distance (dt), the length of egrek (lp), critical range of motion (CRM) and critical load (CL) for neck, shoulder and forearm.Keywords: biomechanic, ergonomic, motion study, manual harvesting, oil palm.AbstrakPemanenan kelapa sawit secara manual berpotensi menimbulkan permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan biomekanik, studi gerak dan antropometri untuk mendesain model diagnostik resiko ergonomi pada pemanenan kelapa sawit secara manual. Model ini didesain untuk menghasilkan gerak kerja pemanenan dan prosedur pemanenan yang lebih baik serta rekomendasi panjang egrek yang dibutuhkan sehingga kegiatan pemanenan dapat dilakukan secara aman, efektif dan produktif. Hasil simulasi pemanenan menghasilkan formulasi jarak aman dt (m) dan formulasi panjang egrek yang dibutuhkan lp (m). Berdasarkan formula tersebut, pemanenan kelapa sawit dengan tinggi target pohon lebih dari 16 m sudah tidak aman untuk dilakukan dengan menggunakan egrek. Batas beban (critical load) yaitu 21.85 N untuk otot leher, 1,091.96 N untuk otot deltoid bahu dan 1,634.31 N untuk otot branchioradialis lengan bawah. Model diagnostik resiko ergonomi pada pemanenan kelapa sawit telah dirancang dengan parameternya adalah jarak aman (dt), panjang batang egrek yang dibutuhkan (lp), critical range of motion (CRM) dan critical load (CL) pada leher, bahu dan lengan bawah.Kata kunci: ergonomika, studi gerak, biomekanik, kelapa sawit, pemanenan.Diterima: 28 Oktober 2014; Disetujui: 20 Januari 201
Perancangan Kemasan Transportasi Buah Jambu Air (Syzygium aqueum) cv Camplong
AbstractJamboo cv Camplong was an exotic fruit from Sampang Indonesia which had high economic values. The quality of fresh Jamboo was greatly influenced by the types of packaging and ways of its transportation that affected its shelf life. The purpose of this research were designing a primary packaging and analyzing the quality of Jamboo cv Camplong after short transportation (from Sampang to Surabaya). Farmers usedconventional packaging with capacity of 8.4 kg/box (dimension 478 mm x 146 mm x 354 mm). Based on theoretical packaging design showed that the flute BC cardboard (capacity 4.5 kg/box, dimension 357 mm x217 mm x 216 mm) with partition flute A cardboard. In fact, there was needed modification of the dimension (342 mm x 210 mm x 200 mm) because of the fruits diameter (60-65 mm). This result did not change theefficiency usage of transportation space (91-95%) and compression strength of box can support (7 boxes/ stack). The result showed that the mechanical damage after transportation were 20.87% for conventionalpackaging (as control) and 7.70% for modification packaging design (packaging with partition).Keywords: Jamboo cv Camplong, packaging, transportation.AbstrakJambu air camplong merupakan salah satu buah lokal yang menjadi unggulan dan memiliki nilai ekonomi. Terdapat kerusakan buah yang cukup tinggi saat buah di transportasikan dari Sampang ke Surabaya dikarenakan cara kemasan dan penanganan (handling) yang kurang tepat. Pengemasan yang tepat serta transportasi yang baik menjadi titik kritis pascapanen buah untuk menjaga kesegaran buah saat didistribusikan hingga ke konsumen. Tujuan penelitian ini adalah merancang kemasan primer untuk transportasi buah jambu air camplong dan mengkaji kerusakan buah pasca transportasi. Secara teoritishasil rancangan kemasan menggunakan karton gelombang flute BC berkapasitas 4.5 kg per kemasan, mempunyai dimensi 357 mm x 217 mm x 216 mm dengan partisi antar buah berupa karton flute A. Dalampenerapanya dilakukan penyesuaian dimensi menjadi 342 mm x 210 mm x 200 mm karena buah yang didapat saat penelitian pada kisaran 60-65 mm, hasil ini tidak merubah efisiensi penggunaan ruang angkut(91-95%) dan kekuatan kemasan untuk menahan 7 susunan kemasan dalam transportasi. Sebagai kontrol digunakan kemasan karton dari petani dengan kapasitas 8.4 kg dimensi 478 mm x 146 mm x 354 mm.Kerusakan mekanis yang terjadi pasca transportasi adalah 20.87% untuk jambu pada kemasan kontrol (petani), dan 7.70% pada kemasan hasil rancangan bersekat.Kata Kunci: Jambu air Camplong, pengemasan, transportasi.Diterima: 18 Desember 2014 ; Disetujui: 17 Maret 201
PENERAPAN TEKNOLOGI KARANTINA: UPAYA MEMBUKA PELUANG EKSPOR BUAH-BUAHAN INDONESIA
ABSTRACT Export of Indonesian fruit are constrained by very tight quarantine regulations, because some produces are host for Tephritidae fruit flies that are considered a quarantine risk by many importing countries. To be accepted by importing markets, the produces must be treated to ensure that they are free of the fruit flies. Since the prohibition of chemical method for insect disinfestation process (like ethylene dibromide, EDB) in 1984, a new method by means of heat treatment was developed as a quarantine technology This method has been applied in several fruit exporting countries such as: Australia, the Philippines, Taiwan and Thailand. Heat treatment in postharvest handling is a method of heating fruit to kill insects eggs and larvae of fruit flies prior to fresh market shipment without damaging the produces There are many factors influence the heat on postharvest fruit quality such as cultivar, fruit size, morphological characteristics, stage of ripeness. and treatment method. Therefore, the applicability of this technology should be assessed on fruit by fruit basis in pursuing the objective of killing the pests/diseases without adversely affecting the market quality of the fruit. Diterima:12 Pebruari 2007, Disetujui:. 27 Maret 200
APLlKASI ARTIFICIAL NEURAL NETWORK UNTUK MENDUGA PRODUKSI TEBU (Saccharum officinarum L) DI PTPN VII PG. CINTA MANIS
AbstractThe objective of this research was to estimate the production of sugarcane by using artificial neural network algorithm. The training was done at soma variety of iteration, those are 1000, 2000, 3000, and 4000 with the nodes at the hidden layer. 2,4, 6, and 8. Based on the simulation. it showed that the more nodes and iteration could reduce sum of squere error. for example iteration 1000 at node 2, sum of square error was 0.0148. and at the node 8, sum of squares error was 0.000196 In ither side at the node 2, the iteration 1000, the sum of squares was 0.0148, and the iteration 4000, the sum of squares was 0.00345. The result of the model test showed that sugarcane productivity had the exact for prediction that was from 87. 5 % to 97.15 %, for sugarcane production it had low prediction that was 40.0 % to 92 5 .% and respectively, it had 94.2 % to 98.8 %. Keywords: Artificial neural network, beckpropaqation, estimate of suqaercene production Diterima: 18 Nopember 2007; Disetujui: 3 Desember 2007
TEKNIK PENGUKURAN LAJU RESPIRASI PRODUK HORTIKULTURA PADA KONDISI AMOSFIR TERKENDALI Bagian I: Metode Sistem Tertutup
ABSTRACTData laju respirasi pada berbagai komposisi gas sangat diperlukan dalam perancangan penyimpanan segar hortikultura baik sistem penyimpanan secara modified atmosphere (MA) maupun controlled atmosphere (CA). Makalah ini membahas teknik pengukuran laju respirasi pada kondisi atmosfir terkendali menggunakan metode sistem tertutup (closed system) untuk mendapatkan data talu respirasi pada berbagai komposisi gas (O2 dan C02). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa laju respirasi pada mangga dipengaruhi oleh komposisi gas, dimana laju resprasi meningkat dengan meningkatnya konsentrasi O2 dan menurunnya konsentrasi CO2 Model matematika berdasarkan prinsip reaksi enzirmatik cukup baik untuk memformulasikan laju respirasi sebagai fungsi dari konsentrasi O2 dan CO2.Diterima: 10 November 2007; Disetujui: 6 Desember 2007
IRRIGATION EFFICIENCY AND UNIFORMITY OF AEROPONICS SYSTEM
ABSTRACT The evaluation of the irrigation efficiency and coefficient of unttotmity (CU) of the existing aeroponics system has been conducted for one growing season of petsai (Brassica pekinensis L) in Parung - Bogor, Indonesia. The evaluation covers the CU of the spray discharge, pH, temperature and electrical conductivity (EC) of the nutrient solution. It was concluded that the CU of spray discharge, pH and temperature of the nutrient solution were relatively high, but the CU of EC of the nutrient solution was relatively low. Conveyance efficiency and water-use efficiency were about 84.38% and 40.09%, respectively. The average crop water requirement was about 1,457 cc/crop/season or equal to 16,870 cc per Kg of petsai produced. Diterima: 02 Januari 2007, Disetujui: 19 Pebruari 200
PERBAlKAN METODE PENGHITUNGAN DEBIT SUNGAI MENGGUNAKAN CUBIC SPLINE \u27NTERPOLATION
ABSTRAKMakalah ini menyajikan perbaikan metode pengukuran debit sungai menggunakan fungsi cubic spline interpolation. Fungi ini digunakan untuk menggambarkan profil sungai secara kontinyu yang terbentuk atas hasil pengukuran jarak dan kedalaman sungai. Dengan metoda baru ini, luas dan perimeter sungai lebih mudah, cepat dan tepat dihitung. Demikian pula, fungsi kebalikannnya (inverse function) tersedia menggunakan metode. Newton-Raphson sehingga memudahkan dalam perhitungan luas dan perimeter bila tinggi air sungai diketahui. Metode baru ini dapat langsung menghitung debit sungaimenggunakan formula Manning, dan menghasilkan kurva debit (rating curve). Dalam makalah ini dikemukaan satu canton pengukuran debit sungai Rudeng Aceh. Sungai ini mempunyai lebar sekitar 120 m dan kedalaman 7 m, dan pada saat pengukuran mempunyai debit 41 .3 m3/s, serta kurva debitnya mengikuti formula: Q= 0.1649 x H 2.884 , dimana Q debit (m3/s) dan H tinggi air dari dasar sungai (m).Kata Kunci: Debit Sungai, Penarnpang dan Perimeter Basah Sungai, Cubic Spline Interpolation.Diterima: 8 Agustus 2007; Disetujui: 22 Agustus 200
Analisis Pengeringan Sawut Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) Menggunakan Pengering Efek Rumah Kaca (ERK)
AbstractSweet potatoes processing in to starch need a drying process. Green-house effect solar dryer – rotating rack type is one of the altenative for drying of sweet potatoes due to its higienis and its availability to be used anytime. The objective of the study was to analysis chopped sweet potatoes drying by using rotating rack greenhouse effect solar dryer. The capacity of the drying chamber is 48 kg of chopped sweet potatoes. Three experiments of drying have been conducted: the first drying is without products, the second is drying of products without rotating of rack and and the third is drying of products byimplement the rotating of rack of 45o every 60 minutes. The results of chopped sweet potatoes drying show that drying temperature on the dryer chamber ranged between 31.6oC to 61oC. Drying of product by implement the rotating of rack of 45o every 60 minutes yields the best temperature uniformity. To reduce moisture content from 72.76 %wb to 9.5 %wb it’s needed 13.5 hours, or drying rate of 22.4 %bk/h. The energy consumption of the experiment 3 was 35.15 MJ/kg of moisture evaporated and the drying efficiency was 7.47 %Keywords: greenhouse effect solar dryer, chopped sweet potatoes dryingAbstrakPengolahan ubi jalar menjadi tepung ubi memerlukan proses pengeringan. Pengering efek rumah kaca hibrid tipe rak berputar merupakan alternative untuk mengeringakan ubi jalar sawut karena higienis dan dapat digunakan sepanjang waktu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengeringan ubi jalar menggunakan pengering efek rumah kaca hibrid tipe rak berputar. Kapasitas pengeringan alat pengeringini adalah 48 kg sawut ubi jalar. Pada penelitian ini dilakukan 3 macam perlakuan pengeringan; percobaan 1, pengujian tanpa beban; percobaan 2, pengujian pengering dengan beban tanpa pemutaran rak; danpercobaan 3, pengujian pengering dengan beban dan rak diputar 450 setiap 60 menit. Hasil pengeringan sawut ubi jalar menunjukkan suhu ruang pada pengering berkisar antara 31.6oC-61.5oC. Perlakuan pemutaran rak sebesar 450 setiap 60 menit (percobaan 3) menghasilkan tingkat keseragaman yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Untuk menurunkan kadar air sawut ubi jalar dari kadar air72,8 %bb menjadi 9.5 %bb dibutuhkan waktu 13.5 jam, atau laju pengeringan rata-rata 22.4 %bk/jam. Konsumsi energi untuk menguapkan 1 kg air dari produk adalah 35.15 MJ/kg dengan efisiensi pengeringan sebesar 7.47%.Kata kunci: pengering efek rumah kaca, pengeringan sawut ubi jalarDiterima: 04 Juni 2013; Disetujui: 03 September 201
Pemodelan Lahan Basah Potensial Berdasarkan Indeks Topografi Di Bretagne, Prancis
AbstractWetlands represent an important natural resource which supports natural biodiversity. In France, in mentioned wetlands, it called potential wetlands, which have potential in its use.Topography and geomorphology play a major role for the development of wetlands and are decisive factors for modeling wetlands extension.The importance of identifying wetlands, can be used as a basis for determining the development priorities that will be based on technical and socioeconomic aspects The objective of this research was to predict the spatial extent of potential wetlands in Brittany, France from a topographic index calibrated on a set of 10 detailed soil maps. In identifying potential wetlands, it based on soil hydromorphwhich conducted by method 4 criteria. The following four stages of analysis were respectively categorized: (a) identification hidromorphy, (b) calculation topographic index, (c) calculation of threshold, (d) validation.A threshold method was conducted between soil maps and topographic index to indicate the similarity condition. We use for threshold and validation a new way using 120 combination of soil maps. The result oftopographic index was 4.7 and it was applied for all Brittany.Keywords: potential wetlands, hydromorphic soil, threshold, topographic index, spatial analysisAbstrakLahan basah merupakan sumber daya alam penting yang mendukung keanekaragaman hayati. Di Perancis dalam menyebutkan lahan basah digunakan istilah lahan basah potensial, yaitu suatu lahan basah yang memiliki potensial dalam penggunaannya. Topografi dan geomorfologi memainkan peran utama untuk pengembangan lahan basah dan merupakan faktor yang menentukan dalam pemodelan lahan basah berkelanjutan. Pentingnya mengidentifikasi lahan basah, dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan prioritas pembangunan yang akan didasarkan pada aspek teknis dan sosial ekonomi.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memprediksi luas spasial lahan basah potensial di Bretagne, Prancis dari indeks topografi dikalibrasi pada satu set 10 peta tanah rinci. Dalam mengidentifikasi lahan basah yangpotensial, berdasarkan hidromorfi tanah yang dilakukan dengan metode 4 kriteria.Penelitian ini mengacu kepada Merrot 2006 yaitu dengan metode yang sama berhasil mengidentifikasi lahan basah potensial berdasarkan indeks topografinya. Hal yang membedakan adalah jumlah peta yang digunakan yaitu 1 peta dan 10 peta, sehingga dapat dilihat apakah penelitian terdahulu memiliki nilai yang sama atau berbeda. Berikut ini empat tahap analisis yang masing-masing dikategorikan: (a) identifikasi hidromorfi, (b) indeks perhitungan topografi, (c) perhitungan ambang batas, (d) validasi. Sebuah metode ambang batas dilakukanantara peta tanah dan indeks topografi untuk menunjukkan kondisi kesamaan. Penggunaan ambang batas dan validasi merupakan pengembangan cara baru dengan menggunakan 120 kombinasi peta tanah. Hasil indeks topografi adalah 4,7 dan diterapkan untuk semua Bretagne.Kata kunci : lahan basah potensial, hidromorfi tanah, ambang batas, indeks topografi, analisis spasialDiterima: 22 Desember 2013;Disetujui: 27 Maret 201