InFestasi
Not a member yet
233 research outputs found
Sort by
Perbandingan Insentif Pajak Indonesia, Malaysia, dan Singapura dalam Kondisi Pandemi Covid-19
COVID-19 pandemic which caused state revenues, especially tax revenues in Indonesia to be hampered. This is also experienced by Indonesia's neighboring countries, namely Malaysia and Singapore. Therefore, the governments of Indonesia, Malaysia, and Singapore overcome these problems by issuing fiscal policies including policies on tax incentives. This study aims to compare the tax incentives in Indonesia with Malaysia and Singapore during the COVID-19 pandemic. The data collection method used is descriptive research method in the form of literature study. The results of the study show that Indonesia, Malaysia, and Singapore have similarities and differences in terms of providing tax incentives. What the three countries have in common is that they have the same concern for the empowerment of Small Micro Business (SMEs) and individual income. Then the difference is seen in terms of the approach of the governments of the three countries in providing tax incentives. Singapore has a tax system that is already quite competitive and business-friendly, there will be no fundamental changes to Singapore's tax rates due to the COVID-19 pandemic. Indonesia and Malaysia, which pay attention to changes in rates from various sectors in providing tax incentives. Pandemi covid-19 yang menyebabkan penerimaan negara terutama penerimaan perpajakan di Indonesia terhambat. Hal tersebut juga dialami oleh negara tetangga Indonesia yaitu Malaysia dan Singapura. Maka dari itu, pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Singapura mengatasi permasalahan tersebut dengan mengeluarkan kebijakan fiskal termasuk kebijakan mengenai insentif perpajakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan insentif perpajakan di negara Indonesia dengan negara Malaysia dan Singapura dalam kondisi pandemi covid-19. Penelitian ini menunggunakan studi kepustakaan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia, Malaysia, dan Singapura memiliki persamaan dan perbedaan pemberian insentif perpajakannya. Persamaan dari ketiga negara tersebut ialah memiliki perhatian yang sama akan pemberdayaan Usaha Kecil Mikro (UKM) dan penghasilan individu. Perbedaannya adalah terlihat dari segi pendekatan pemerintah ketiga negara tersebut dalam memberi insentif perpajakannya. Singapura memiliki sistem perpajakan yang sudah cukup kompetitif dan ramah bisnis. Tidak ada perubahan mendasar pada tarif perpajakan Indonesia dan Malaysia memperhatikan perubahan tarif dari berbagai kalangan sektor dalam memberikan insentif
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan Manajemen Risiko
This study examines and analyzes empirical evidence related to the effect of audit committee financial expertise, audit committee meeting frequency, public ownership structure, and risk management committee on risk management disclosure. The population of this study is companies in the agricultural sector listed on the Indonesia Stock Exchange for the 2015-2019 period. The sample of this study was selected with the specified criteria, namely, using a purposive sampling technique. The method of data analysis in this study is multiple linear regression analysis. The results showed that the audit committee's financial expertise variable affected risk management disclosure. Meanwhile, audit committee meeting frequency, public ownership structure, and risk management committee do not affect risk management disclosure. This research can be used as a consideration for regulators and management in making policies to improve the quality of company risk management to minimize risk. Investors can pay attention to the factors of the audit committee, public ownership structure, and risk management committee to predict the company's financial health condition as consideration for investment decisions. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis bukti empiris terkait pengaruh keahlian keuangan komite audit, frekuensi pertemuan komite audit, struktur kepemilikan publik dan komite manajemen risiko terhadap pengungkapan manajemen risiko. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan pada sektor agrikultur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019. Sampel penelitian ini dipilih dengan kriteria yang ditentukan yaitu menggunakan teknik purposive sampling. Metode analisis data pada penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel keahlian keuangan komite audit berpengaruh terhadap pengungkapan manajemen risiko. Sedangkan variabel frekuensi pertemuan komite audit, struktur kepemilikan publik dan komite manajemen risiko tidak berpengaruh terhadap pengungkapan manajemen risiko. Penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan regulator dan manajeme dalam membuat kebijakan untuk meningkatkan kualitas manajemen risiko perusahaan guna meminimalkan risiko. Investor dapat memperhatikan faktor komite audit, struktur kepemilikan publik dan komite manajemen risiko untuk memprediksi kondisi kesehatan keuangan perusahaan sebagai pertimbangan keputusan investasi.
Dimensi Fraud Hexagon Dan Spiritualitas Pada Kecurangan Akademik Selama Pembelajaran Daring
COVID-19 membuat perubahan di sejumlah sisi kehidupan manusia. Salah satu perubahannya berada dalam bidang pendidikan. Pembelajaran yang dulu dilakukan secara luring kini harus dilakukan secara daring. Dampak dari pembelajaran daring membuat kecurangan akademik semakin meningkat. Artikel ini bertujuan untuk menguji pengaruh tekanan, kemampuan, kolusi, kesempatan, rasionalisasi dan ego terhadap kecurangan akademik saat pembelajaran daring yang dimoderasi oleh spiritualitas. Responden penelitian ini adalah 191 mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Trunojoyo Madura. Teknik pengambilan data menggunakan kuesioner secara online. Data yang diperoleh diolah menggunakan program SmartPLS. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa tekanan, kolusi dan kesempatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kecurangan akademik saat pembelajaran daring, sedangkan kemampuan, rasionalisasi dan ego tidak berpengaruh signifikan. Spiritualitas juga tidak mampu memoderasi tekanan, kemampuan, kolusi, kesempatan, rasionalisasi dan ego terhadap kecurangan akademik saat pembelajaran daring. Mahasiswa cenderung melakukan kecurangan akademik selama pembelajaran daring karena mereka memiliki kesempatan untuk melakukan hal tersebut, terdapat bantuan dari sesama mahasiswa dan adanya tekanan baik secara internal maupun eksternal agar berprestasi secara akademik. COVID-19 has made changes in many aspects of human life. One of the changes is in the education aspect. The learning process that used to be carried out offline now has to be done online. One consequence of online learning is the soaring academic cheating. This paper aims to examine the effect of pressure, capability, collusion, opportunity, rationalization and ego on academic cheating during online learning moderated by spirituality. The respondents of this study were 191 bachelor's students of Accounting, Trunojoyo Madura University. Data collection techniques using online questionnaires. The data obtained is processed statistically using the SmartPLS program. The result of this study shows that pressure, collusion and opportunity have a positive and significant effect on academic cheating during online learning, while capability, rationalization and ego have no significant effect. Spirituality is also unable to moderate pressure, capability, collusion, opportunity, rationalization and ego towards academic cheating during online learning. Students commit academic fraud during online learning because they have the opportunity to do so, there is assistance from fellow students and are pressured both internally and externally to excel academically
Akuntabilitas Dalam Pengelolaan Ekowisata Mangrove di Madura
Penelitian ini berusaha untuk menguji pengaruh sistem integritas, sistem pengendalian internal, kepemimpinan dan komitmen organisasi terhadap akuntabilitas pengelolaan ekowisata mangrove. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dan kuantitatif, dengan cara membagikan kuesioner sebagai alat pengumpulan data primer. Metode purposive sampling digunakan untuk memilih 161 anggota kelompok sadar wisata di 4 kabupaten di Madura. Perangkat lunak SPSS 26 dipilih untuk digunakan dalam menganalisis informasi yang telah dikumpulkan. Hasil yang diperoleh mengungkapkan bahwa terdapat hubungan positif langsung yang signifikan antara sistem integritas dan akuntabilitas serta sistem pengendalian internal dan akuntabilitas. Namun, tidak terdapat hubungan langsung antara kepemimpinan dan akuntabilitas serta komitmen organisasi dan akuntabilitas. Penelitian ini bermanfaat bagi pemerintah, pengelola pariwisata dan masyarakat sekaligus memperluas literature mengenai peran sistem integritas, sistem pengendalian internal, kepemimpinan dan komitmen organisasi untuk meningkatkan akuntabiltas dalam pengelolaan pariwisata. The study sought to examine the impact of integrity system, internal control system, leadership and organizational commitment on accountability in mangrove ecotourism governance. The study was descriptive and quantitative in design, with a questionnaire functioning as the primary data collection tool. A purposive sample method was used to select 161 members of a tourism awareness group that manages mangrove tourism in 4 districts in Madura. SPSS 26 software was used to analyze the information collected. The results revealed a direct significant positive relationship between integrity system and accountability as well as internal control system and accountability. However, the direct link between leadership and organizational commitment and accountability was not supported. This study is beneficial to the government, tourism management and the community, as well as expanding to the literature on the importance of integrity systems, internal control systems, leadership, and organizational commitment in increasing accountability in tourism management.Penelitian ini berusaha untuk menguji pengaruh sistem integritas, sistem pengendalian internal, kepemimpinan dan komitmen organisasi terhadap akuntabilitas pengelolaan ekowisata mangrove. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dan kuantitatif, dengan cara membagikan kuesioner sebagai alat pengumpulan data primer. Metode purposive sampling digunakan untuk memilih 161 anggota kelompok sadar wisata di 4 kabupaten di Madura. Perangkat lunak SPSS 26 dipilih untuk digunakan dalam menganalisis informasi yang telah dikumpulkan. Hasil yang diperoleh mengungkapkan bahwa terdapat hubungan positif langsung yang signifikan antara sistem integritas dan akuntabilitas serta sistem pengendalian internal dan akuntabilitas. Namun, tidak terdapat hubungan langsung antara kepemimpinan dan akuntabilitas serta komitmen organisasi dan akuntabilitas
Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility Terhadap Kinerja Keuangan dengan Peringkat Kinerja Lingkungan sebagai Variabel Moderasi
This study aims to analyze the effect of corporate social responsibility on financial performance with environmental performance ratings as a moderating variable. The sample in this study is a company listed in the Sri – Kehati Index of Indonesian Stock Exchange in 2017 – 2020. This study is quantitative research. The data used is a secondary data of the company’s financial statement and company sustainability reports. Based on sampling technique with purposive sampling, there are 13 companies. Data collection techniques use documentation techniques for financial statement and sustainability report that are published on the Indonesian Stock Exchange website and the company’s website. The analysis technique used is moderated regression analysis. The results of this study show that corporate social responsibility has a positive effect on the company's financial performance and environmental performance ratings are able to moderate the effect of CSR disclosure on financial performance of companie
Efek Moderasi Controlled Foreign Corporation Pada Pengaruh Intensitas Modal, Profitabilitas, dan Koneksi Politik Terhadap Penghindaran Pajak
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh intensitas modal, profitabiltas dan konektifitas politik terhadap penghindaran pajak serta peran Controlled Foreign Corporation (CFC) sebagai variabel pemoderasi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Sampel penelitian ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Analisis data menggunakan Moderated Regression Analysis. Hasil penelitian menunjukkan intensitas modal dan koneksi politik secara parsial berpengaruh positif terhadap penghindaran pajak. Profitabilitas secara parsial berpengaruh negatif terhadap penghindaran pajak. Controlled Foreign Corporation memoderasi hubungan antara intensitas modal, profitabilitas dan konektivitas politik dengan penghindaran pajak. Perusahaan yang mempunyai aset bersih yang tinggi maka cenderung melakukan penghindaran pajak hal ini disebabkan kas perusahaan diinvestasikan kembali dalam bentuk aset tetap. Perusahaan dengan profit rendah lebih rentan untuk melakukan penghindaran pajak dibandingkan dengan entitas yang mengalami profit tinggi. Koneksi politik menyebabkan tingginya penghindaran pajak dengan cara yang legal. CFC memoderasi hubungan antara intensitas modal, profitabilitas dan konektivitas politik terhadap penghindaran pajak. Semakin dominan kepemilikan asing maka akan memberikan tekanan untuk kepada direksi dan manajemen untuk melakukan penghindaran pajak. This research objective is to examine the influence of capital intensity, profitability, and political connectivity on tax avoidance and the role of Controlled Foreign Corporations (CFC) as a moderator. The study using quantitative method. Research samples were determined using the purposive sampling method. Data analysis using Moderated Regression Analysis. The results show that capital intensity and political connectivity partially have a positive and significant effect on tax avoidance. While profitability partially has a negative and significant effect on tax avoidance. Controlled Foreign Corporation moderates the relationship between capital intensity, profitability, and political connectivity with tax avoidance. Companies that have high net assets tend to do tax avoidance, this is because the company's cash is reinvested in fixed assets. Companies with low profits tend to do tax avoidance compared to companies that experience high profits. Furthermore, the existence of political connections leads to high tax avoidance legally. CFC moderates the relationship between capital intensity, profitability, and political connectivity to tax avoidance. The more dominant foreign ownership will put pressure on the board of directors and management to do tax avoidance