Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya
Not a member yet
    289 research outputs found

    Budaya Literasi Media Digital Pada Ibu-Ibu Rumah Tangga

    Get PDF
    Media literacy in the digital era has become important. Various layers of society need to understand the importance of digital media literacy. Research subjects were housewives in the Sleman area of Yogyakarta. Research subjects so far have not understood how to intelligently consume media. Media content worries that most of them are negative which can anesthetize the audience. The biggest content from media is entertainment. The media prioritizes entertainment programs that pay less attention to the ethics and norms of society. They don't care about the negative impact of the content displayed. Thus it is necessary to cultivate the media literacy movement for housewives. The method used is content analysis, literature study, in-depth interviews, observation, and FGD. The results of the study show that housewives after being given training, socialization, and FGD on digital media literacy became aware of the importance of digital media literacy. Then they continuously convey to the family and the environment where they are. On several occasions, PKK meetings, the Qur’an recitation group, socialized the importance of digital media literacy. Finally, this digital media literacy becomes a culture especially in Maguwoharjo Village, Sleman regency, Yogyakarta. This village is a pilot village of digital media literacy culture for the surrounding environment, especially the Sleman Regency Yogyakarta

    CONFLICT OF INTEREST AMONG STAKEHOLDERS IN TESSO NILO NATIONAL PARK (TNNP) (KONFLIK ANTAR PEMANGKU KEPENTINGAN DI TAMAN NASIONAL TESS NILO (TNTN))

    Get PDF
    Di kawasan hutan tropis dataran rendah terbesar di Pulau Sumatra Taman Nasional Tesso Nilo telah berlangsung proses pengalihan fungsi hutan yang semula sebagai sumber kekayaan plasma nutfah dan keanekaragaman hayati, habitat satwa khas, penghasil oksigen, mengatur iklim mikro maupun makro, menyerap gas-gas perusak lapisan ozon penyebab efek rumah kaca yang menaikan suhu bumi, melindungi tanah serta air tanah, penghasil produk hutan seperti getah, madu, buah-buahan, obat-obatan, protein hewani, rotan, damar dan kayu serta sumber mata pencaharian penduduk perdesaan sekitar kini mengalami berbagai benturan kepentingan. Rantai panjang proses benturan kepentingan tersebut meliputi fakta penebangan hutan secara besar-besaran untuk industri kayu, pengalihan fungsi hutan primer yang heterogen menjadi hutan tanaman homogen dan pembukaan perkebunan besar sangat tidak hanya mengancam pelestarian keanekaragaman hayati, tetapi juga telah menimbulkan dampak negatif bagi  eksistensi masyarakat lokal.Penelitian ini merupakan studi kasus dan menggunakan pendekatan kualitatif, maka pengambilan informan dilakukan berdasarkan tujuan tertentu, yaitu untuk memperoleh gambaran seluas-luasnya tentang konflik antar pemangku kepentingan di seputar Taman Nasional Tesso Nilo. Informan dalam penelitian ini adalah tokoh-tokoh terkait dengan masyarakat, otoritas pemerintah pengelola kawasan, perusahaan dan pemerintahan daerah.Situasi sosial ekonomi desa-desa sekitar TNTN masih ditandai dengan terdapatnya kesenjangan sosial ekonomi antara desa asli/tempatan yang umumnya lebih miskin dibandingkan dengan desa-desa transmigrasi. Keberadaan perusahaan-perusahaan besar sekitar desa-desa sekitar TNTN ternyata belum memberikan kontribusi berarti bagi perbaikan ekonomi masyarakat desa.  Terdapat hubungan yang berkonflik antara penduduk desa-desa sekitar TNTN dengan perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berkenaan dengan konversi kebun plasma kelapa sawit. Di desa-desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Tesso Nilo, serangan gajah cukup intensif yang menimbulkan kerugian terhadap perekonomian penduduk. Sosialisasi program konservasi TNTN, khususnya sosialisasi program konservasi gajah ternyata masih minim dan belum merata diterima masyarakat sehingga pandangan pro kontra tentang program-program konservasi ini berpotensi meluas dan cenderung kontra produktif bagi upaya menggalang partisipasi masyarakat perdesaan dalam rangka pembangunan TNTN itu sendiri.  Di kawasan hutan tropis dataran rendah terbesar di Pulau Sumatra Taman Nasional Tesso Nilo telah berlangsung proses pengalihan fungsi hutan yang semula sebagai sumber kekayaan plasma nutfah dan keanekaragaman hayati, habitat satwa khas, penghasil oksigen, mengatur iklim mikro maupun makro, menyerap gas-gas perusak lapisan ozon penyebab efek rumah kaca yang menaikan suhu bumi, melindungi tanah serta air tanah, penghasil produk hutan seperti getah, madu, buah-buahan, obat-obatan, protein hewani, rotan, damar dan kayu serta sumber mata pencaharian penduduk perdesaan sekitar kini mengalami berbagai benturan kepentingan. Rantai panjang proses benturan kepentingan tersebut meliputi fakta penebangan hutan secara besar-besaran untuk industri kayu, pengalihan fungsi hutan primer yang heterogen menjadi hutan tanaman homogen dan pembukaan perkebunan besar sangat tidak hanya mengancam pelestarian keanekaragaman hayati, tetapi juga telah menimbulkan dampak negatif bagi  eksistensi masyarakat lokal.Penelitian ini merupakan studi kasus dan menggunakan pendekatan kualitatif, maka pengambilan informan dilakukan berdasarkan tujuan tertentu, yaitu untuk memperoleh gambaran seluas-luasnya tentang konflik antar pemangku kepentingan di seputar Taman Nasional Tesso Nilo. Informan dalam penelitian ini adalah tokoh-tokoh terkait dengan masyarakat, otoritas pemerintah pengelola kawasan, perusahaan dan pemerintahan daerah.Situasi sosial ekonomi desa-desa sekitar TNTN masih ditandai dengan terdapatnya kesenjangan sosial ekonomi antara desa asli/tempatan yang umumnya lebih miskin dibandingkan dengan desa-desa transmigrasi. Keberadaan perusahaan-perusahaan besar sekitar desa-desa sekitar TNTN ternyata belum memberikan kontribusi berarti bagi perbaikan ekonomi masyarakat desa.  Terdapat hubungan yang berkonflik antara penduduk desa-desa sekitar TNTN dengan perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berkenaan dengan konversi kebun plasma kelapa sawit. Di desa-desa yang berbatasan langsung dengan kawasan Tesso Nilo, serangan gajah cukup intensif yang menimbulkan kerugian terhadap perekonomian penduduk. Sosialisasi program konservasi TNTN, khususnya sosialisasi program konservasi gajah ternyata masih minim dan belum merata diterima masyarakat sehingga pandangan pro kontra tentang program-program konservasi ini berpotensi meluas dan cenderung kontra produktif bagi upaya menggalang partisipasi masyarakat perdesaan dalam rangka pembangunan TNTN itu sendiri. Â

    PENGARUH PELAKSANAAN KENDURI SKO (PESTA PANEN) TERHADAP PEREKONOMIAN DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT KERINCI, PROVINSI JAMBI

    No full text
    Artikel ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan kenduri sko (pesta panen) terhadap perekonomian dan kepercayaan masyarakat Kerinci. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dimana data dikumpulkan dengan observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kenduri sko (pesta panen) telah dilaksanakan turun temurun dari generasi ke generasi oleh masyarakat Kerinci. Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan dalam kenduri sko diantaranya pergelaran seni budaya, Tarei Asyeik untuk mengundang roh-roh nenek moyang, penobatan gelar adat, pembersihan benda-benda pusaka dan syukuran atas hasil panen yang melimpah. Kenduri Sko adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rizki dan memohon untuk dilipatgandakan pendapatan mereka lewat hasil panen padi untuk tahun yang akan datang. Upacara ini selain memberi manfaat terhadap masyarakat Kerinci untuk menambah rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa juga memberikan pengaruh dalam bidang sosial, yang mana Kenduri Sko memberikan pengaruh pada adanya ikatan sosial yang terjalin antara masyarakat. Dalam bidang ekonomi, Kenduri Sko berpengaruh pada pendapatan daerah Kerinci. Dalam bidang agama, Kenduri Sko memberi pengaruh pada kehidupan kerukunan umat khususnya masyarakat Kerinci yang beragama Islam. Dimana Islam mengajarkan untuk saling tolong menolong dan memupuk rasa persaudaraan  antar sesamanya

    JARINGAN KEKERABATAN MATRILINEAL SEBAGAI MODAL SOSIAL PEREMPUAN CALEG DALAM PEMILU 2014

    Get PDF
    This paper discusses the matrilineal kinship network used as social capital by women legislative candidate in the 2014 election. It is known that in Minangkabau which adheres to matrilineal kinship system, where there are ninik mamak and bundo kanduang that play a big role in the people. This is a social capital that can be used by women candidates as a strategy to get and gain voice support. The research was conducted on three women candidates who advanced for DPRD West Sumatra, two of them are petahana. The research method is qualitative with case study type. Data were collected by conducting in-depth interviews to women legislative candidates, and those involved in the process of winning candidates, such as ninik mamak and bundo kanduang.This paper discusses the matrilineal kinship network used as social capital by women legislative candidate in the 2014 election. It is known that in Minangkabau which adheres to matrilineal kinship system, where there are ninik mamak and bundo kanduang that play a big role in the people. This is a social capital that can be used by women candidates as a strategy to get and gain voice support. The research was conducted on three women candidates who advanced for DPRD West Sumatra, two of them are petahana. The research method is qualitative with case study type. Data were collected by conducting in-depth interviews to women legislative candidates, and those involved in the process of winning candidates, such as ninik mamak and bundo kanduang

    PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KOMUNITAS ADAT TERPENCIL (KAT) OLEH PEMERINTAH KABUPATEN LINGGA

    Get PDF
    Salah satu program pemberdayaan dari pemerintah adalah program pemberdayaan komunitas adat terpencil. Desa Tajur Biru Kabupaten Lingga merupakan desa yang memiliki banyak suku terdalam yaitu suku laut, fenomena yang terjadi adalah terbatasnya pelayanan umum seperti sarana jalan, penerangan, posyandu dan belum terjangkau pelayan sosial seperti keadaan di atas menjadikan Desa Tajur Biru sebagai sasaran program komunitas adat terpencil. Tujuan penelitian ini pada dasarnya adalah mendeskripsikan Pemberdayaan Masyarakat Komunitas Adat Terpencil Oleh Pemerintah Kabupaten Lingga pada Desa Tajur Biru Kecamatan Senayang Kabupaten Lingga. Menemukan kendala- kendala dalam Pemberdayaan Masyarakat serta mendeskripsikan model Pemberdayaan yang lebih tepat untuk Masyarakat Komunitas Adat Terpencil Desa Tajur Biru Kecamatan Senayang Kabupaten Lingga. Untuk dapat melihat pemberdayaan masyarakat tersebut mengacu pada pendapat Soetomo (2011:96). Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yang mana sampel dalam penelitian ini 5 (lima) orang. Berdasarkan dari uraian yang telah dijelaskan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil belum mampu memberdayakan masyarakat komunitas adat terpencil tersebut. Kendala yang terjadi adalah selama ini pemerintah sebagai instansi lokal hanya memberikan pembinaan, pelatihan dan pemahaman terhadap pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil, namun sarana prasarana belum dapat dilengkapi dengan baik seperti sarana prasarana pendidikan, tempat ibadah dan layanan kesehatan. Adapun saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut seharusnya ada sarana prasarana pendukung kemudian adanya sekolah yang didirikan bagi anak-anak dari komunitas adat terpencil, merubah pola pengembara hidup dengan program mengapung.Seharusnya ada pola pemberdayaan lainnya seperti membangun rumah permanen di darat untuk masyarakat suku laut.Memberikan kesadaran pendidikan pentingnya pendidikan bagi masyarakat suku laut

    DIMENSI KEKUASAAN PENGHULU ADAT MELAYU RIAU DALAM PELAKSANAAN DEMOKRASI LOKAL

    Get PDF
    The Malay penghulu adat have traditional authority that can direct their people to maintain their own identity and existence. In fact, although the function of these Malay penghulu adat is only in the context of customs and culture, but in some cases these penghulu also influence the implementation of local democracy.  For example, in the election process of the head of the region, although the function of the penghulu adat leader as a leader can direct the tribe and his people, but this function is rarely used because it is contrary to the principle of propriety in Malay custom. Nevertheless, the presence of this penghulu adat remains important to strengthen the legitimacy of the power of the political elite.  This is reasonable because the legitimacy of the Malay customary is very important as a basis for building political support derived from indigenous communities. This article is derived from field research using descriptive qualitative methods. The informants of this research are adat penghulu, members of local elections commissions, bureaucrats, politicians and local academics. This article finds the dimensions of  the Malay penghulu adat authority only used to establish Malay identity by strengthening Malay customs and culture. Moreover, the people of Riau are more complex than the social and cultural aspects. Their involvement gives support to the regional head only in order to preserve Malay culture to be accommodated in local government policy and not in the form of political activity. Therefore it is not surprising that every Riau governor is given the title of Datuk Seri Setia Amanah customs so that those who are given this title take part in preserving Riau Malay culture

    TOGOG & SEMAR: DEHUMANIZATION, ANTI-HUMAN, POST-HUMAN

    Get PDF
    The core of Wayang stories (Mahabharata, Bharatayuda, Ramayana) is the reflection of human that is always continuously in crisis and emergency situations and conditions. Tragic. Wayang stories raise humanity problems so that the existences of human conception experience the perpetuity of dehumanization, existential instability and ambiguous. The killing of the essence of the human existence purpose on earth. It is an issue fundamentally of anti-human.Shadow play perspective does not rest on human understanding or Knight  (Pandawa, Kurawa, Rama, Giant), the heaven God (Bathara Guru), and/or Prabu Khresna, incarnation of Wisnhu God. Wayang stories evoke Togog and Semar angle. Liyan. Grassroots. The general public. Amorphous: No Man is not a knight instead of a brahmana is not god instead of giant.Arises a question that is closely related to the presence of Togog and Semar. Why do shadow play stories present the figure of the them, while the authentic story of the Mahabharata and Ramayana India version does not exist at all? Are Togog and Semar truly actualization of post-human aesthetic and post-human anthropology ideas?The substance of this writing ask us to discuss regarding the idea of Togog and Semar in shadow play into the realm of post-human discourse as a result of dehumanization signs in the frame of shadow play stories. The main focus of the discussion focused on the position of Togog and Semar as the figure as linuwih or great beyond human (knight) and god. Study restriction on the context of Purwa Java Gagrak Jogja and Solo wayang; similarly in East Java, Sunda and Bali, there are also those two figures. The core of Wayang stories (Mahabharata, Bharatayuda, Ramayana) is the reflection of human that is always continuously in crisis and emergency situations and conditions. Tragic. Wayang stories raise humanity problems so that the existences of human conception experience the perpetuity of dehumanization, existential instability and ambiguous. The killing of the essence of the human existence purpose on earth. It is an issue fundamentally of anti-human.Shadow play perspective does not rest on human understanding or Knight  (Pandawa, Kurawa, Rama, Giant), the heaven God (Bathara Guru), and/or Prabu Khresna, incarnation of Wisnhu God. Wayang stories evoke Togog and Semar angle. Liyan. Grassroots. The general public. Amorphous: No Man is not a knight instead of a brahmana is not god instead of giant.Arises a question that is closely related to the presence of Togog and Semar. Why do shadow play stories present the figure of the them, while the authentic story of the Mahabharata and Ramayana India version does not exist at all? Are Togog and Semar truly actualization of post-human aesthetic and post-human anthropology ideas?The substance of this writing ask us to discuss regarding the idea of Togog and Semar in shadow play into the realm of post-human discourse as a result of dehumanization signs in the frame of shadow play stories. The main focus of the discussion focused on the position of Togog and Semar as the figure as linuwih or great beyond human (knight) and god. Study restriction on the context of Purwa Java Gagrak Jogja and Solo wayang; similarly in East Java, Sunda and Bali, there are also those two figures.Â

    ADAM RELIGION IN THE RELIGIOUS LIFE OF SAMIN TRIBE IN SUMBERBENING VILLAGE NGAWI 1969 - 1999

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan kehidupan keagamaan masyarakat Samin di Dusun Belikwatu Desa Sumberbening Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi pada tahun 1969-1999. Penelitian ini dilakukan selama lima bulan. Sumber data yang dapat digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengambilan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis datanya menggunakan analisis kualitatif model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa religi dalam masyarakat merupakan sumber sikap altruistik yang mempunyai dampak mengendalikan egoisme, yang mendorong manusia untuk berkorban dan tidak pamrih. Orang yang harus mengetahui bahwa para umat manusia, religinya merupakan sesuatu yang nyata dan benar. Kehidupan keagamaan masyarakat Samin mempunyai sikap dan perilaku yang baik terhadap masyarakat Samin maupun masyarakat yang bukan Samin. Masyarakat Samin menyatakan bahwa dirinya itu tidak memiliki agama, namun agama dari masyarakat Samin adalah agama Adam. Agama adam memang bukan sebuah agama namun sebagai kepercayaan. Inti ajaran dari agama Adam yaitu Manunggaling Kawolu Gusti. Masyarakat Samin menyebut Yang Maha Esa dengan Hyang Wenang Pramesti Agung. Selanjutnya dalam hal puasa agama Samin yang dijalaninya setiap hari yang menurut mereka lebih dari puasa-puasa pada umumnya yang terdapat dalam ajaran keagamaan bukan Samin dan dapat dipertanggung jawabkan dikemudian hari.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan kehidupan keagamaan masyarakat Samin di Dusun Belikwatu Desa Sumberbening Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi pada tahun 1969-1999. Penelitian ini dilakukan selama lima bulan. Sumber data yang dapat digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengambilan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis datanya menggunakan analisis kualitatif model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa religi dalam masyarakat merupakan sumber sikap altruistik yang mempunyai dampak mengendalikan egoisme, yang mendorong manusia untuk berkorban dan tidak pamrih. Orang yang harus mengetahui bahwa para umat manusia, religinya merupakan sesuatu yang nyata dan benar. Kehidupan keagamaan masyarakat Samin mempunyai sikap dan perilaku yang baik terhadap masyarakat Samin maupun masyarakat yang bukan Samin. Masyarakat Samin menyatakan bahwa dirinya itu tidak memiliki agama, namun agama dari masyarakat Samin adalah agama Adam. Agama adam memang bukan sebuah agama namun sebagai kepercayaan. Inti ajaran dari agama Adam yaitu Manunggaling Kawolu Gusti. Masyarakat Samin menyebut Yang Maha Esa dengan Hyang Wenang Pramesti Agung. Selanjutnya dalam hal puasa agama Samin yang dijalaninya setiap hari yang menurut mereka lebih dari puasa-puasa pada umumnya yang terdapat dalam ajaran keagamaan bukan Samin dan dapat dipertanggung jawabkan dikemudian hari

    PENYAKIT BAWAAN : KAJIAN RESIKO KESEHATAN PADA PERKAWINAN SEPUPU

    Get PDF
    This paper aims to investige about congenital diseases are an absolute risk in all types of cousin marriages. Methods: this review is a review of literature on cousin marriages and congenital diseases in cousin marriages, as well as qualitative research conducted on the Mandailing community in the village of Tanjung Baringin, North Sumatra, which practices many cross-breed cousins. Results show the risk of the illness impacted by cousin marriage, is not an absolute negative impact on all cousin pairs. A parallel cousin has a great chance to experience it. This can be proved by some researchers who investige health risks in populations that practices parallel cousin marriage. In cross-cousin pairs did not find any health risks. Therefore, cousin marriage still exixtsnce until now, especially in cross cousin marriage.This paper aims to investige about congenital diseases are an absolute risk in all types of cousin marriages. Methods: This review is a review of literature on cousin marriages and congenital diseases in cousin marriages, as well as qualitative research conducted on the Mandailing community in the village of Tanjung Baringin, North Sumatra, which practices many cross-breed cousins. Result: the risk of the illness impacted by cousin marriage, is not an absolute negative impact on all cousin pairs. A parallel cousin has a great chance to experience it. This can be proved by some researchers who investige health risks in populations that practices parallel cousin marriage. In cross-cousin pairs did not find any health risks. Therefore, cousin marriage still exixtsnce until now, especially in cross cousin marriage

    HARMONI DALAM KEBHINEKAAN (Kearifan Lokal Masyarakat Pulau Enggano Provinsi Bengkulu Dalam Mengatasi Konflik)

    Get PDF
    Ethnic and religious conflicts are still a hot conversation in early 2017. Discourses on non-Muslim Muslims as well as indigenous non-indigenous peoples are the main topics in various news in Indonesia. Peace that has been maintained, post-conflict that occurred in Sampit and Ambon, suddenly disturbed. People in Indonesia are again divided into religious groups (Muslim or non-Muslim) or ethnic groups (indigenous or non-indigenous). However, Indonesia has the hope to make peace in the differences and make it harmony in society. We can learn from Enggano society. The people of Enggano are the people who live in one of the outer islands in Indonesia. The island is located in the west of Sumatra Island. The Enggano people are able to live in diversity even though their lives are far from prosperous, poor access and facilities, and far from the government's attention. Almost no conflict occurred on this island. This is because Enggano local wisdom is so strong that it can bridge the differences.Ethnic and religious conflicts are still a hot conversation in early 2017. Discourses on non-Muslim Muslims as well as indigenous non-indigenous peoples are the main topics in various news in Indonesia. Peace that has been maintained, post-conflict that occurred in Sampit and Ambon, suddenly disturbed. People in Indonesia are again divided into religious groups (Muslim or non-Muslim) or ethnic groups (indigenous or non-indigenous). However, Indonesia has the hope to make peace in the differences and make it harmony in society. We can learn from Enggano society. The people of Enggano are the people who live in one of the outer islands in Indonesia. The island is located in the west of Sumatra Island. The Enggano people are able to live in diversity even though their lives are far from prosperous, poor access and facilities, and far from the government's attention. Almost no conflict occurred on this island. This is because Enggano local wisdom is so strong that it can bridge the differences

    248

    full texts

    289

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇