RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa
Not a member yet
    344 research outputs found

    Wacana Apec: Legitimasi Dan Signifikasi Perekonomian Bali (Kajian Wacana Kritis Parawisata)

    No full text
    Wacana APEC dalam kajian ini akan dieskplorasi melalui paradigma kritis untuk melakukan konstruksi refleksif terhadap pengalaman wacana-wacana pariwisata yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat pelaku pariwisata di Bali. Fokus kajian pada wacana APEC ini mencakup (1) legitimasi dan (2) signifikasi konstruksi wacana yang berdampak langsung pada perekonomian Bali melalui perspektif critical discourse analysis (CDA). Perspektif ini memberikan penekanan pada determinasi pariwisata dan ekonomi kreatif, yakni segala sesuatu yang sedang, akan, dan nanti terjadi melalui wacana APEC, dan berdampak langsung pada kekuatan-kekuatan ekonomi. Legitimasi akan membantu membuat objektivasi yang sudah dilembagakan menjadi tersedia secara objektif dan masuk akal secara subjektif. Sedangkan signifikasi merupakan salah satu struktur wacana yang mengacu pada sistem, mengharuskan adanya relasi yang tidak dapat dipisahkan antara sebuah tanda dan realitas yang menjadi rujukannya serta bersifat ikonis. APEC 2013 yang diwacanakan berlangsung di Bali, akan berdampak besar pada pembangunan sektor pariwisata.  Setidaknya, signifikasi perubahan dan dinamika yang terjadi di tingkat nasional, regional dan internasional akan dikonstruksi dan didayagunakan secara bersama dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang sama pada sesama negara anggota APEC. Untuk analisis CDA, fakta bahasanya diperoleh dari media massa (surat kabar lokal Bali), yakni (1) Bali Post dan (2) Media Bali Promosi

    Kajian Modalitas Linguistik Fungsional Sistemik Pada Teks Debat Capres-Cawapres Pada Pilpres 2014-2019 Dan Relevansinya Dengan Pembelajaran Wacana Di Sekolah

    No full text
    This study research is the text about  debate candidate of President and Vice President election of the Republic of Indonesia in the year of 2014-2019  by using the theory of Systemic Functional Linguistics (LFS) which relevanced with text learning at school. This study deals with three functions of  languages. The are:   exposure, exchange and coupling experience, but on the vice presidential candidate debate is focused on the function of which is realized in the exchange rate system and the modalities of the value message in the context of ideology, culture, and situations that are at a frequency that dominates the text candidate debates in the year of 2014-2019 presidential and vice presidential election, and then a message describing the values behind the dominant frequency in the modalities that were realized in the context of ideology, cultural context and the context of the situation. Data was collected by the methods of formal and informal, with a note technique, consider doing the stage read the text carefully, analyzing the data in the form of the clause, and the classification of the data and the verification and validation of the data carefully and throughly, concluding the results of the research. Results of this study can be relevanced through discourse in school-related learning content and technical aspects and how to analyze the discourse of the text with LFS. Based on the analysis of text, fifth presidential and vice presidential debate in the Republic of Indonesia.  Presidential Election in the year of  2014-2019, found that in the text there are 1,150 clause consisting of 563 clauses for couples PS- HR and 587 clauses for couples JW -JK. From the number of the clauses contained modalities of 562 words with the details of the realization of modalities types of modulation (modulation) of 428 or 76.16%, while the type modalization  of 134 or 23.84%.  The result of the research on the text of the first debate using the whistleblower or the realization of modalities that the lowest at 77 or 13.71%. The second debate text using the revealer of modalities as much as 103 or 18.33%. The third debate text using the revealer of the most dominant modality that is equal to 149 or 26.51%. The fourth debate whistleblower text using modalities were 106 or 18.86% and the text of the fifth debate using whistleblower modality by 127 or 22.59%. The use of the realization of the most dominant modalities used in the fifth text of the debate is the realization of modalities categories * must, * Usuality * need, * should be included into the modalities of modulation types must * high, amounting to 218 or 38.79% compared with whistleblower or the realization of other modalities. Realization of modalities atleast  amount of occurrence is  more into the category of modality types modalities #medium frequency , # sometimes that includes modality type ^ low modalities frequency with each of 1 or 0.18%. From the analysis of the social context of language use in text-vice presidential candidate debate was found that both partners-vice presidential candidates both PS - HR and JW - JK uses modulation modality must be a* high level is the most dominant. This indicates that both partners-vice presidential candidates are using expressions filled with firmness values of leadership, high confidence value for the win, and religious values with intermediate modalities #Insya Allah and that aim to convince and attractive the sympathy of the audience in the presentation program -Program to be implemented. If they are elected. So, the message character values with high confidence and a spirit of optimism in reaching an expectation, the value of simplicity, democracy, courage and moral values have relevenasi about 85% with the discourse of learning in school tobe integrated based text or based on the  Curriculum of 2013

    Numeralia Dalam Bahasa Muna

    No full text
    Bahasa Muna  (BM)  merupakan salah satu bahasa daerah di Sulawesi Tenggara. Bahasa daerah lain yang hidup di Sulawesi Tenggara di antaranya: (1) bahasa Tolaki, (2) Wolio, (3) bahasa Kulisusu, (4) bahasa Wakatobhi, (5) bahasa Moronene. Setiap bahasa ini memiliki keunikan. Keunikan BT mislnya, terjadi penyuaraan (voicing) di belakang nasal:  pmerintah à pamarenda, empat à omba, mongkaa à mongga, medangku à medanggu

    Jenis-Jenis Inkorporasi Pelesapan Verba Dalam Bahasa Bali

    No full text
    Artikel ini adalah bagian dari tesis penulis. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan jenis-jenis inkorporasi pelesapan verba dalam bahasa Bali. Data penelitian ini diperoleh melalui metode pustaka dengan teknik catat. Dalam analisis data akan dipakai metode agih. Hasil analisis disajikan dengan metode formal dan informal. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, terdapat empat jenis inkorporasi verba yang ditemukan. Keempat jenis inkororasi verba tersebut antara lain inkorporasi objektif, inkorporasi instrumental, inkorporasi lokatif, dan inkorporasi keadaan. Kata Kunci: bahasa Bali, pelesapan, inkorporas

    Dimensi Praksis Dan Model Dialog Leksikon Fauna Masyarakat Sunda: Kajian Ekolinguistik

    No full text
    AbstrakHubungan timbal balik antara manusia dan manusia, manusia dan alam di sekitarnya menghasilkan ragam bahasa. Ekolinguistik dibutuhkan dalam mengkaji fenomena-fenomena bahasa lingkungan guyub tutur Sunda di Cisurat Sumedang Jawa Barat. Kajian ini bertujuan mendeskripsikan makna, fungsi, dan bentuk leksikon-leksikon fauna dalam budaya masyarakat Sunda. Penelitian ini bersifat deskritif-kualitatif. Teknik pengumpulan data penelitian ini terdiri atas teknik wawancara dan teknik observasi. Teknik wawancara digunakan untuk mendapatkan data makna dan fungsi fauna dalam budaya masyarakat Sunda. Sementara teknik observasi digunakan untuk mendapatkan data bentuk fauna dalam budaya masyarakat Sunda. Fakta saat ini menunjukkan bahwa leksikon fauna masih digunakan oleh orang tua pada saat memberikan petuah kepada generasi muda, dan kenyataannya mereka tidak bisa mengerti makna petuah tersebut. Hal itu disebabkan oleh perubahan lingkungan dan perkembangan zaman yang mempengaruhi pola pikir generasi muda. Peneliti berharap bisa mengumpulkan daftar leksikon-leksikon fauna dalam bahasa sunda dan mengelompokkannya dalam kelas verba dan nomina. Agar generasi muda dapat mengetahui leksikon-leksikon fauna.Kata kunci:Leksikon fauna,ekolinguistik dan bahasa Sund

    Fungsi Predikatif Intransitif Adjektiva Bahasa Indonesia

    No full text
    Mengidentifikasi fungsi sintaksis kelas kata dalam konstruksi Bahasa Indonesia (selanjutnya disebut BI) selalu menantang untuk dituntaskan mengingat tipisnya batasan  antar fungsi sintaksis dimaksud. Terlebih lagi menentukan fungsi sintaksis adjektiva dalam konstruksi kalimat BI, tantangan yang akan dihadapi tidak hanya menentukan batasan fungsi yang tepat namun kecermatan mengidentifikasi dan memilah mana yang adjektiva dan mana yang verba statif. Berangkat dari latar belakang tersebut, makalah ini menyajikan hasil analisis fungsi sintaksis adjektiva pada sejumlah tipe-tipe klausa pada BI. Hasil analisis menunjukkan bahwa adjektiva sangat dominan berfungsi sebagai subjek (SUBJ) klausal, baik sebagai inti NP Subjek maupun sebagai pewatas pentaraf  pada NP Subjek dan NP Objek Klausal. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa dari sejumlah tipe-tipe klausal BI, klausa relatif dan klausa komplemen serta klausa kompleks adalah tiga jenis klausa BI yang didominasi kemunculan adjektiva dalam fungsi sintaksis dominannya. Hasil analisis menyimpulkan bahwa fungsi sintaksis yang berterima pada suatu kelas kata dapat menjadi parameter penentu jenis kategori katanya. Kata kunci : pewatas pentaraf, inti, klausa relatif, komplemen

    Terminologi Rumah Adat Dalam Loka Sumbawa: Sebuah Tinjauan Antropolinguistik

    No full text
    Rumah adat Dalam Loka yang kini masih berdiri kokoh di tengah kota Sumbawa Besar, merupakan saksi sejarah yang memperlihatkan kejayaan Kesultanan Sumbawa pada zamannya. Kekayaan terminologi yang terdapat dalam rumah adat Dalam Loka, memberikan ruang bagi pengkaji bahasa dan budaya untuk memahami lebih dalam apa saja yang terjadi di masa lampau berdasarkan simbol-simbol nomina serta menyiratkan bagaimana kehidupan zaman dahulu sarat makna yang mendalam. Dengan demikian, untuk mengungkapkan bentuk-bentuk terminologi dan memahami nilai-nilai yang dimiliki dalam rumah adat Dalam Loka, perlu ditelusuri melalui pendekatan linguistik kebudayaan atau disebut dengan kajian antropolinguistik. Oleh karena itu, teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori antropolinguistik dan teori semiotik sosial. Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis dan sumber data yang digunakan dikelompokkan ke dalam dua jenis yaitu data primer dan data skunder. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu metode simak dan metode cakap. Data dianalisis dengan menggunakan metode padan intralingual dan metode padan ekstralingual. Hasil dan pembahasan dalam penelitian ini, ditemukan bentuk-bentuk terminologi dalam rumah adat Dalam Loka Sumbawa berasal bahasa-bahasa nusantara, yaitu berasal dari bahasa Jawa, Makassar dan Melayu. Selain itu, adapun ditemukan bentuk-bentuk terminologi dalam rumah adat Dalam Loka Sumbawa yang berasal dari bahasa asing, seperti bahasa Arab dan bahasa Sanskerta. Konteks budaya bentuk-bentuk terminologi dalam rumah adat Dalam Loka Sumbawa menunjukkan keberadaan sebuah pradaban dengan sistem pemerintahan dan sistem kerajaan dalam bentuk aristokrasi. Tatanan pemerintahan yang bertumpu pada raja (sultan) adalah sebuah sistem yang mencakup adat, pemerintahan dan hukum. Kata Kunci: Rumah adat, Dalam Loka, antropolinguisti

    Penggunaan Pelesetan Nama Panggilan Dalam Masyarakat Sasak Dan Relevansinya Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Sma

    No full text
    Pelesetan nama panggilan merupakan salah satu fenomena kebahasaan yang muncul dalam masyarakat Sasak. Hampir di setiap perkampungan Sasak di Pulau Lombok, dapat dijumpai orang-orang dipanggil dengan nama panggilan pelesetan. Sapaan dengan nama panggilan pelesetan  tidak bermaksud untuk mengejek seseorang, melainkan suatu kebiasaan yang membuat orang merasa lebih dekat, lebih akrab, dan merasa disayang. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bentuk-bentuk pelesetan nama panggilan  dalam budaya sasak, faktor yang melatarbelangi munculnya pelesetan nama panggilan dalam masyarakat sasak, fungsi kultural pelesetan nama panggilan dalam budaya sasak serta relevansinya dalam  pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Metode analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan langsung data-data penelitian kemudian memuat kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh. Bentuk-bentuk pelesetan nama panggilan dalam masyarakat Sasak berupa protesis, monoftongisasi, paragog, netralisasi, modifikasi vokal,  aferesis, epentesis, dan apokop. Faktor-faktor yang melatarbelakangi munculnya pelesetan nama panggilan dalam masyarakat Sasak meliputi 1) memudahkan penyebutan nama,  2) keakraban, dan 3) penggunaan logat. Fungsi kultural penggunaan pelesetan nama panggilan dalam masyarakat Sasak meliputi 1) efektivitas, 2) disformalitas, dan 3) memelihara keakraban. Relevansi penelitian ini terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA yaitu dapat dijadikan sebagai salah satu materi ajar di kelas X semester I  pada kompetensi dasar menulis hasil observasi dalam bentuk paragraf deskriptif.Kata Kunci: pelesetan nama panggilan, bahasa, masyarakat Sasak, etnolinguistik, dan pembelajaran Bahasa Indonesia

    Analysis On Cooperative Principle And Politeness Principle In Guest Complaining At X Hotel In Kuta-Bali

    No full text
    Language plays an important role in human life as a medium of communication. The communication between sender and receiver is the activity of conveying ideas, messages, attitude, and mood of both speakers and hearers. This paper attempts to analyze cooperative principle (CP) and politeness principle (PP) in guest complaining at x hotel in Kuta-Bali through a series of conversation at the front desk. The data were gathered from guest’s conversation record book from one of the hotels in Kuta-Bali. The conversations have been transcribed into a written text. The intended data were identified, classified, and then separately analyzed based on cooperative and politeness principle. A qualitative descriptive analysis was employed to analyze CP and PP in the guest complaining as in line with the theories which are proposed by Grice and Leech. The results of analysis show that the receptionist carefully observed both CP and PP, but the guest’s responses might not necessarily comply with those principles for some reasons.  Keywords: Cooperative principle, maxim, speech acts, politeness principle, pragmatics

    PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBAHASA INDONESIA MELALUI METODE DRAMA PADA SISWA KELAS VIIC SMP DHARMA PRAJA

    No full text
    Indonesian language skills are not only necessary in front of the class, upfront teacher or in front of friends. This capability is also used in all human activites daily, especially in conditions of formal. Student should be able to use the relevant Indonesian from early. Indonesian language skills VIIC grade students at the beginning of the assessment (Pretest) 86% is still below the minimum completeness criteria. Therefore in order grades VIIC can improve the ability to speak Indonesian the method used in this study is a drama that is formal. Of formal methods of drama students’ creativity in choosing diction and grammar with relevant Indonesian will increase. Improvement gained VIIC grade students in improving the relevant Indonesian language skills through drama methodes, namely by 93%. It shows that the method of formal drama is very effective in improving the relevant Indonesian language in class VIIC SMP Dharma Praja. Keywords: the ability to speak Indonesian and methods of dram

    0

    full texts

    344

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇