RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa
Not a member yet
344 research outputs found
Sort by
EKOLOGI PENAMAAN KELURAHAN DI KOTA MATARAM
Abstrak
Masalah utama yang dikaji pada penelitian ini adalah mengidentifikasi bentuk dan makna penamaan kelurahan di Kota Mataram. Pendekatan deskriptif merupakan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini. Pendekatan deskriptif digunakan untuk membuat deskripsi atau gambaran, lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai data, sifat-sifat serta hubungan fenomena-fenomena yang diteliti. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode ini digunakan ketika menghimpun dan menganalisa data tentang nama kelurahan di kota Mataram yang penamaannya berdasarkan ekologi. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, simak, cakap, wawancara, dan rekam. Teknik analisis data dilakukan dengan mengumpulkan nama-nama kelurahan di Kota Mataram yang penamaannya berdasarkan ekologi dan menganalisis bentuk dan makna penamaannya. Berdasarkan pengamatan dan analisis data mengenai lingkungan biotic dan abbiotik ditemukan bahwa masyarakat Mataram menamai entitas atau objek yang berupa tempat/institusi yakni kelurahan yang ada di sekeliling mereka berdasarkan hal-hal berikut, yakni (1) Penamaan Berdasarkan Persamaan Sifat/Tingkah Laku, (2) Penamaan Berdasarkan Tempat/lahan tumbuh, (3) Penamaan Berdasarkan Kondisi, (4) Penamaan Berdasarkan Jumlah, (5) Penamaan berdasarkan Penemu/Pemilik Pertama, (6) Penamaan Berdasarkan Proses, (7) Penamaan Berdasarkan Bentuk, (8) Penamaan Berdasarkan Jumlah, (9) Penamaan Berdasarkan Ciri Fisik, (10) Penamaan Berdasarkan Manfaat/Fungsi, (11) Penamaan Berdasarkan Sifat, dan (12) Penamaan berdasarkan Arah.
Kata kunci : Penamaan, Ekolinguistik, Bentuk, dan Makn
KESANTUNAN BERBAHASA DALAM KUMPULAN CERITA RAKYAT NUSA TENGGARA TIMUR
Abstrak
Penelitian dengan sumber data Kumpulan Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur ini bertujuan untuk menemukan jenis-jenis maksim sebagai kaidah kesantunan berbahasa dan pelanggarannya, serta implikatur di dalam tuturan yang ditemukan. Kesantunan Berbahasa dalam Kumpulan Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan adalah yang dikemukakan oleh Leech (1983) tentang prinsip kesantunan berbahasa yang terbagi dalam enam maksim. Data dianalisis berdasarkan uraian cerita dan dialog tuturan antar tokoh untuk menemukan pematuhan kaidah maksim-maksim dan pelanggarannya. Kemudian dari tuturan yang ditemukan dipilah jenis implikaturnya. Hasil penelitian menunjukkan dari sebelas sumber data yang peneliti gunakan ditemukan keenam maksim yang menjadi patokan kesantunan berbahasa. Maksim kebijaksanaan terdiri dari 13 tuturan, maksim kedermawanan terdiri atas 5 tuturan, maksim penghargaan terdiri atas 15 tuturan, maksim kerendahan hati terdiri atas 2 tuturan, maksim kecocokan terdiri atas 8 tuturan dan maksim simpati terdiri atas 6 tuturan. Beberapa pelanggaran maksim yang ditemukan meliputi pelanggaran maksim kebijaksanaan terdiri dari 29 tuturan, pelanggaran maksim penghargaan terdiri atas 1 tuturan, pelanggaran maksim kerendahan hati terdiri atas 1 tuturan, dan pelanggaran maksim simpati terdiri atas 3 tuturan. 3 tuturan yang masuk kedalam jenis implikatur nonkonvensional sedangkan sisanya 80 tuturan merupakan tuturan dengan implikatur konvensional
Kata kunci: cerita rakyat, kesantunan, maksim kebahasaa
Diplomasi Bahasa Menjembatani Keragaman Bahasa Daerah Dan Pengutamaan Bahasa Indonesia
Makalah ini membahas tentang diplomasi bahasa yang dalam tulisan ini, istilah tersebut merujuk pada suatu cara, suatu strategi, suatu kiat, atau suatu taktik atau suatu kebijkan yang dirancang secara sitematis dan terstruktur untuk mengembangkan dan membina bahasa (Indonesia) baik secara internal maupun eksternal. Hasil analisis menunjukkan bahwa diplomasi bahasa mampu dijabarkan dalam tiga poin berikut yang terbukti sangat efektif untuk mempertahankan dan melestarikan bahasa daerah dalam rangka memperkaya keragaman bahasa nasional. Ketiga hal dimaksud adalah (1) pemodelan solusi konflik komunitas atau multibahasa, (2) penyebaran bahasa negara dan peningkatan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional, khususnya pada forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menguatkan identitas ke-Indonesia-an melalui penyebaran bahasa Indonesia dan (3) peningkatan kompetensi berbahasa asing strategis dan penerjemah.Â
Pemerolehan Morfem Afiks Bahasa Indonesia Anak Usia 2-6 Tahun Di Paud Buana Desa Banyu Urip Kabupaten Lombok Tengah
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemerolehan morfem afiks yang mencakup prefiks, infiks, sufiks, simulfiks, dan konfiks dalam bahasa Indonesia di PAUD Buana Kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan melibatkan 30 anak sebagai sampel. Teori yang digunakan dalam menganalisis fenomena pemerolehan morfologi. Data dikumpulkan dengan, wawancara, observasi, pencatatan dokumen, dan tebak gambar. Berdasarkan analisis, temuan penelitian ini adalah bahwa anak-anak di PAUD Buana hanya bisa mengucapkan kata-kata yang dibentuk dari bentuk dasar yang dilekatkan dengan prefiks {N-}, {b«r-}, {t«r-}. Infiks yang dilibatkan dalam membentuk kata turunan adalah {-«l-} dan {-«m-}, seperti dalam /telunjuk/ dan /gemetar/. Sufiks {-an} adalah sufiks yang paling dominan dipergunakan oleh anak-anak usia 2-6 tahun. Uniknya, sufiks {-i} telah menjadi {-in} dalam kata-kata yang diucapkan oleh mereka, seperti kata /ikatin/, //beliin/, /mandiin/, dan seterunya. Dalam penelitian ini, tidak ditemukan data yang memunculkan kata-kata yang berbentuk simulfiks dan konfiks
Studi Pandangan Dunia Dalam Karya Rabindranath Tagore, The Post Office
Penelitian ini mengambil pokok bahasan tentang pandangan dunia dalam karya Rabindranath Tagore (1861-1941), sebuah drama yang berjudul The Post Office yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Moh. Yamin dengan judul Menantikan Surat Dari Raja. Adapun pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah sosiologi sastra dengan pendekatan strukturalisme genetik, yang pertama kali dikembangkan oleh Lucien Goldmann, seorang sosiolog berkebangsaan Perancis dalam tulisannya yang berjudul The Genetic Structuralists Method in the History of Literature. Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh kehidupan pengarang dan kondisi sosial pada saat pengarang tersebut hidup terhadap karya sastra yang ditulisnya. Sementara tujuan jangka panjang penelitian ini adalah untuk menggali kekayaan nilai-nilai serta pesan kemanusiaan yang terkandung di dalam berbagai karya sastra di dunia yang dapat memberikan inspirasi dalam kehidupan kepada masyarakat luas khususnya kepada pembaca karya sastra. Target penelitian ini adalah dapat menginspirasi pembaca untuk mencintai karya sastra yang dapat memberikan warna istimewa serta kesegaran dalam hidup dan kehidupan. Kata kunci: world vision, sosiologi sastra, strukturalisme genetik, dram
KAJIAN BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA UNGKAPAN TRADISIONAL WACANA SORONG SERAH AJI KRAMA DI KABUPATEN LOMBOK BARAT DAN RELEVANSINYA DALAM PEMBELAJARAN MULOK DI SMP
Abstract
Sorong Serah Ajikrama text is a traditional idiom which is threathened with extinction. This is caused some factors, one of them because of the influence of globalization era and the high of technology. To prevent this condition, it needs an effort to preserve its. The aim of this traditional idiom description consist of form,function and meaning at west Lombok.the structural theory or function theory and semioyic theory which are released by some experts.The kind of this research is qualitative research. It explines the form, function, meaning and the steps in creating the learning matter in Junior High School (SMP). The description is done based on the numbers of traditional idiom of sorong serah ajikrama text in the whole Lombok Island (Sasaknesh) in general and specifically at West lombok. The method of this reserach is literature study and field study,interview, observation and recording. The result of this research will be useful for upgrading and adding the knowledge, as a reference for the other researchers whose relevance to this research
FIRST PERSONAL DEIXIS IN 10-17 AGED CHILDREN’ UTTERANCES OF MINAGKABAU LANGUAGE IN SARIAK, BANUHAMPU SUNGAI PUAR SUBDISTRICT, WEST SUMATERA
Abstract
Deixis utilization uniqueness in 10-17 aged children’ utterances of Minangkabau language resulted in the conduction of this research. Unique thing of Minangkabau language phenomenon was, in addition, the orientation for the formulation of the research problems. There were two kinds of research questions, namely: 1) What are first personal deixis forms realized in 10-17 aged children of Minangkabau language in Sariak village, Banuhampu Sungaipuar sudistrict, West Sumatera?; and 2) How is first personal deixis utterances used? The objective of this study is to describe the forms and the use of first personal deixis utterances. The research was designed by using qualitative descriptive research approach. The data was verified by illustrating evidences according to Metode Simak ‘refer to method’ and Metode Cakap ‘Advanced Method’ which are divided into some techniques. Metode Simak consists of basic technique and advanced technique. Advanced involving free referred to technique, recording technique, and note-taking technique. Meanwhile, advanced method is divided into basic technique including note-taking technique and eliciting technique. The data of the research were words and phrases in utterance form.the data was obtained from Minangkabau language used by 10-17 aged children in Sariak villaged, Banuhampu Sungaipuar subdistrict, West Sumatera. Trustworthiness of data was examined by data triangulation technique. The finding shows that there six types of first personal deixis realized in 10-17 aged children’ utterances of Minangkabau. The forms of 10-17 aged children’ utterances of Minangkabau language are sayo, ambo, aden, nama diri, aku, kami, awak, denai, kito ‘I’. Utilization of first personal deixis in the utterances of 10-17 aged children is adapted to when, where and who the utterances take place.
Keywords: Personal deixis, children’ utterance, Minangkabau languag
Pelanggaran Sendi-Sendi Gaya Bahasa Pada Iklan Tv
Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur berikut: kejujuran, sopan santun, dan menarik (Keraf, 1991: 113). Bahasa iklan merupakan bahasa yang sangat kaya, baik gaya maupun pilihan katanya. Penulis iklan terkenal senang bermain dengan kata-kata dan memanipulasi atau mengubah makna yang sebenarnya sehingga sering terjadi pelanggaran terhadap sendi-sendi gaya bahasa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya bahasa yang digunakan pada iklan TV dan menelaah pelanggaran terhadap sendi-sendi gaya bahasa yang terdapat pada iklan TV. Data pada penelitian ini diambil dari iklan makanan yang ditayangkan di stasiun TV swasta, yaitu iklan Mie Sedaap Cup, Wafer Tango, dan Energen Sereal. Teori yang digunakan untuk menganalisis data adalah teori gaya bahasa dari Keraf (1991). Hasil penelitian menunjukkan terjadi pelanggaran terhadap sendi-sendi gaya bahasa pada data iklan yang digunakan dalam penelitian ini. Namun uniknya, pelanggaran tersebut justru membuat iklan-iklan tersebut menjadi lebih menarik
Pendekatan Antropolinguistik Terhadap Kajian Tradisi Lisan
oai:oai.ejournal.warmadewa.ac.id:article/9Dalam makalah ini dibahas tentang bagaimana kajian antropolinguistik mampu membedah suatu tradisi lisan dan menghasilkan suatu analisis yang apik dari hubungan keduanya. Dalam pembahasan ada tiga pendekatan utama dalam kajian antropolinguistik yaitu performansi (performance), indeksikalitas (indexicalty), partisipasi (participation),yang  terbukti efektif dalam mengkaji hubungan struktur teks, koteks dan konteks (budaya, ideologi, sosial, dan situasi) suatu tradisi lisan yang dilatarbelakangi unsur-unsur budaya dan aspek kehidupan manusia yang berbeda-beda. Dengan mengacu pada teori Duranti (1977: 14), disimpulan dalam akhir pembahasan bahwa meskipun pendekatan antropolinguistik terhadap kajian tradisi lisan ‘terkesan’ tumpang-tindih dengan pendekatan linguistik budaya (cultural linguistics) dan etnolinguistik (ethnolinguistics) (lihat Folley, 1997:16 ), namun dengan jabaran penekanan tertentu pada kajian antropolinguistik, yaitu penekanan antropolinguistik dalam menggali makna, fungsi, nilai, norma, dan kearifan lokal suatu tradisi lisan, konsep ketiganya dapat dibedakan. Lebih dari pada itu, pendekatan antropolinguistik mampu merumuskan model revitalisasi dan pelestarian suatu tradisi lisan. Dalam hal inilah  ciri pembeda kajian antropolinguistik dengan pendekatan yang lain terlihat kuat dan menonjol
I Juragan Anom: (Sebuah Kajian Tekstual)
Tulisan ini ditujukan untuk memberikan tinjauan teoretis mengenai konsep konteks situasi dan aplikasi model teoretis Hallday (1985) tentang konteks situasi terhadap teks I Juragan Anom, sebuah teks tradisional Bali berwujud prosa naratif yang tidak saja bisa dipahami sebagai suatu cerita rakyat yang bercerita tentang perjalanan hidup karakter di dalam cerita tersebut yang dikemas dalam struktur kisahan cerita Panji dan memiliki sejumlah kesamaan struktur alur universal dari the Hero of Tradition serta memiliki bobot edukatif bagi pendidikan dan pembinaan anak-anak. Jangkauan pembicaraan dan kajian terhadap teks tersebut terbatas pada (1) kesatuan teks yang mencakup kesatuan struktur dan texture, (2) konteks situasi dan (3) konteks budayanya