RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa
Not a member yet
    344 research outputs found

    Language, Dialect And Register Sociolinguistic Perspective

    No full text
    Sociolinguistics pays attention to the social aspects of human language. Sociolinguistics discusses the relationship between language and society. In the following part of this paper, it will be focussed on the use of (1) language (2) dialects, (3) language variation, (4) social stratification, (5) register. This discussion talks about the five types of those topics because they are really problematic sort of things, which relate the social life of the local people. In relation to this, the most important point is to distinguish the terms from one to another. There are three main points to discuss: language, dialects and register. Languages which are used as medium of communication have many varieties. These language variations are created by the existence of social stratification in the community. Social stratification will determine the form of language use by the speakers who involve in the interaction. The language variation can be in the form of dialects and register. Dialect of a language correlates with such social factors such as socio-economic status, age, occupation of the speakers. Dialect is a variety of a particular language which is used by a particular group of speakers that is signaled by systematic markers such as syntactical, phonological, grammatical markers. Dialects which are normally found in the speech community may be in the forms of regional dialect and social dialect. Register is the variation of language according to the use. It means that where the language is used as a means of communication for certain purposes. It depends entirely on the domain of language used. It is also a function of all the other components of speech situation. A formal setting may condition a formal register, characterized by particular lexical items. The informal setting may be reflected in casual register that indicates less formal vocabulary, more non-standard features, greater instances of stigmatized variables, and so on.Keywords: language, dialect, register and sociolinguistic

    Klausa Keterangan Dalam Bahasa Sumba Dialek Waijewa (BSDW)

    No full text
    Penelitian ini memiliki 2 (dua) tujuan, yaitu (1) menemukan jenis-jenis klausa keterangan serta pemarkahnya dan (2) memerikan strategi yang digunakan untuk menggabungkan klausa keterangan dalam konstruksi subordinatif. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi serta dianalisis dengan menggunakan metode agih. Hasil analisis menunjukkan BSDW memiliki lima jenis klausa keterangan, yaitu klausa keterangan kala yang dimarkahi dengan konjungsi ba’ sejak’, klausa keterangan tujuan yang hadir tanpa pemarkah atau dimarkahi dengan konjungsi ka ‘untuk’, klausa keterangan keadaan yang dapat hadir tanpa pemarkah atau dimarkahi dengan ba ‘kalau’, klausa keterangan cara yang hadir tanpa pemarkah, dan klausa keterangan alasan yang dimarkahi dengan pemarkah oro ‘karena’. Strategi yang digunakan untuk menggabungkan klausa keterangan adalah strategi serialisasi verba dan tidak sematan.Kata kunci: keterangan,  pemarkah,  serialiasi verba, tidak sematan

    Matriks Fungsi Morfem Sesenggakan Bahasa Bali: Kajian Ekolinguistik

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan (1) jenis morfem leksikon alam yang digunakan dalam sesenggakan, (2) dimensi praksis sosial dari sesenggakan yang mengandung leksikon biotik dan abiotik, dan (3) matriks fungsi morfem dari sesenggakan. Data penelitian ini diperoleh dari buku yang berjudul Basita Paribasa karangan W. Simpen AB. Data yang dikumpulkan adalah berupa sesenggakan yang mengandung leksikon biotik dan abiotik. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, terdapat tiga temuan dalam analisis ini yaitu (1) jenis morfem dari leksikon biotik dan abiotik meliputi root (akar) dan base (dasar) (2) dimensi praksis yang terdiri dari dimensi biologis  yang ditunjukkan oleh penggunaan leksikon alam seperti buka klesihe (seperti trenggiling) dalam sesenggakan. Dimensi ideologis dapat diketahui dari konsep orang jahat yang ditanamkan berdasarkan pengalaman individu. Dimensi sosiologis diketahui dari penggunaan buka klesih (seperti trenggiling) untuk mengibaratkan orang jahat. (3) matriks fungsi morfem mengacu pada hubungan teks terhadap dimensi-dimensi tertentu yang meliputi hubungan inter-tekstual yang menjelaskan pemaknaan sosial dan individu, ekstra-tekstual yang menjelaskan hubungan teks dengan konteksnya, dan intra-tekstual yang menjelaskan hubungan antar unsur-unsur tekstual yang terlibat. Kata Kunci: sesenggakan (ibarat), jenis morfem, dimensi praksis sosial, matriks fungsi morfe

    STRUKTUR, FUNGSI SOSIAL, MAKNA ISTILAH DAN KONSEP SASTRA TATTWA PADA TEKS TUTUR ANGGASTYA PRANA

    No full text
    Abstrak Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua buah teori yaitu, (1) teori Analisis Wacana dan (2) teori Sosiologi Sastra, termasuk dengan melakukan sejumlah pendekatan seperti (1) pendekatan Filologis yang digunakan untuk mendeskripsikan naskah berupa lontar dan (2) pendekatan budaya, dimana pendekatan ini berfungsi dalam menunjang teori Sosiologi Sastra. Dalam proses pengumpulan data digunakan metode pustaka, yaitu metode pengumpulan data yang lebih banyak dilakukan di perpustakaan. Ketika melakukan analisis data, metode yang digunakan adalah metode hermeneutika atau sederhananya disebut penafsiran.Pada Bab IV dalam tesis ini menyajikan deskripsi naskah dan teks Tutur Anggastya Prana seperti (1) kategori lontar, (2) jumlah lembar, (3) jumlah halaman, dsb. Dengan pendekatan Filologis, naskah dan teks disempurnakan dengan menggabungkan sejumlah data yang serupa dari penyalin yang berbeda, dan juga dilakukan standarisasi teks. Kemudian pada Bab V, struktur teks berupa (1) struktur makro, (2) superstruktur, dan struktur mikro. Pada Bab VI menjelaskan fungsi sosial teks bagi masyarakat Bali seperti (1) profil penyalin naskah, (2) tradisi ritual keagamaan, (3) estetika religius, dan (4) kritik pranata sosial. Selanjutnya pada Bab VII disajikan makna istilah dan konsep-konsep sastra tattwa dari teks sebagai sebuah wacana. Kesimpulan dan saran terdapat pada Bab VIII yang merupakan intisari dari tesis ini. Penulis menyarankan agar para peneliti sastra selanjutnya dapat mengupas makna-makna karya sastra, sastra tradisional Bali khususnya secara lebih luas dan mendalam, agar ilmu pengetahuan masa lampau dapat dinikmati kembali oleh anak dan cucu. Kata kunci: Tutur Anggastya Prana, wacana, sastra, tattw

    TINDAK TUTUR NGGAHI PANATI DALAM PROSESI LAMARAN PERNIKAHAN ADAT BIMA: SUATU KAJIAN PRAGMATIK SERTA IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN MULOK DI SEKOLAH

    No full text
    Abstract There are three aspects of the meaningfulness of speech acts Nggahi Panati in procession Bima customary marriage proposal, namely the form of speech acts, cooperation aspects, and aspects of politeness. This study aims to determine the significance of the speech act in a procession Nggahi Panati Bima customary marriage proposal and its implications for the learning of local content in local language school. The results showed that the form of speech act category Nggahi Panati representative (states, states, and reporting), categorized directive (beg, ask, and urge), expressive category (praise, laud, and grateful), category commissive (promise and declare readiness ), and categorized declarative (grant and decide). The study concluded also that aspects of cooperation and aspects of speech acts Nggahi Panati in politeness very considered and prioritized by the speaker and hearer in speaking. In addition to the use of idioms, speaker and hearer using rhymes and language metaphor anyway

    Morfologi Kultural Etnis Samawa

    No full text
    Masalah utama dalam penelitian ini, yaitu keberadaan etnis Samawa yang semakin lama semakin sedikit mendapat perhatian dari masyarakat pemiliknya, sehingga diperlukan kontribusi bahasa dan budaya dalam menjaga nilai-nilai kearifan lokal. Dengan demikian, untuk mengungkapkan dan memahami nilai-nilai yang dimiliki dalam etnis Samawa, perlu ditelusuri melalui pendekatan linguistik kebudayaan, dan salah satu kajian linguistik kebudayaan adalah morfologi kultural. Adapun teori yang digunakan yaitu teori morfologi, teori kebudayaan dan teori linguistik kebudayaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Dalam pengumpulan data, metode yang digunakan yaitu metode simak, metode cakap dan metode introspeksi. Dan untuk menganalisis data menggunakan metode padan dan metode distribusional. Hasil dan pembahasan dalam morfologi kultural bahasa etnis Samawa, ditemukan afiks kultural dan komposisi kultural yang mengandung nilai-nilai budaya dalam etnis Samawa, seperti: hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam. Kata kunci: morfologi, kultur, etni

    FISH TRADERS PERSUASIVE POWER IN THE SARONGGI MARKET OF SUMENEP REGENCY MADURA

    No full text
    Kata Kunci: Daya Pikat Persuasif, Pedagang Ikan Para pedagang harus mengetahui cara komunikasi yang baik dengan para konsumen/pembeli. Hal ini dilakukan agar pembeli tertarik untuk membeli barang dagangan yang dijual tersebut. Pedagang tentunya menginginkan dagangannya laku, oleh karena itu mereka memiliki cara tersendiri untuk mempromosikan dagangannya. Menggunakan tindak tutur yang baik merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh para pedagang . Kata-kata meyakinkan akan dipilih untuk disampaikan pada pembeli. Sehingga pembeli kemudian berkeinginan untuk membeli barang dagangan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif , fokus penelitiannya tentang tindak tutur dan daya persuasif yang dilakukan pedagang ikan di pasar Saronggi Kabupaten Sumenep Madura. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pragmatik yaitu pendekatan yang mendasarkan diri pada reaksi atau tanggapan menurut mitra bicara. Metode penelitian ini menggunakan simak libat cakap yakni pembeli ikut berdialog bersama pedagang. Hasil penelitian menunjukkan adanya tindak tutur yang dilakukan pedagang ikan kepada para pembeli di pasar Saronggi Kabupaten Sumenep Madura berupa tindak tutur lokusi, ilokusi dan perlokusi. Selain itu, dari tindak tutur juga menunjukkan adanya komunikasi persuasif yang dilakukan pedagang ikan kepada para pembeli dari segi tataran frase dan tataran klausa dan kalimat. Pada tataran frase, banyak digunakan oleh pedagang bertujuan untuk menghemat tutur kata namun mengandung makna yang kuat untuk menarik perhatian calon pembeli. Sedangkan pada tataran klausa dan kalimat yang dipakai pedagang adalah kalimat yang banyak menggunakan kata sapaan Ebhu (Ibu), Mbhuk (Mbak), LÑ (Dik), Pa’ (Pak), Bhing (panggilan untuk anak perempuan), dan Bhu Ajjhi (Bu haji). Pada tataran kalimat, pedagang menggunakan kalimat lisan, kalimat informatif , kalimat konotasi, kalimat perintah serta kalimat tanya.Abstract Traders should know much the ways how to communncate with the buyers or consumers. It means that the buyers or the consumers will take an interest with what they are selling. They, of course, have their own ways to promote theirs so that the buyers or consumers will buy their goods. Using good speech acts and convinced words are the ways that they must have to convince the buyers or consumers to buy. This research is a descriptive. It is focused on how speech act and persuasive power done by fish traders will influence the buyers or consumers at Saronggi Market of Sumenep regency-Madura. The approach used is pragmatic – the approach bases on the friends’, reactions and ideas. The method used is the monitoring of involving statements – the buyers or consumers also hold a dialogue with the traders.The result of the research shows that there are speech acts such as: lecutionary, illecitionary, and perlocutionary acts done by the fish traders at at Saronggi Market of Sumenep regency-Madura. And in addition to that from those speech acts also show the existing of persuasive communication done by the fish traders to the buyers or consomers either from the phrase, clause and sentence levels.Many traders use the phrase level in order to save their speech act but it has strong sense to attract the buyers to be. Meanwhile the clause and sentence levels a re used by them to greet the buyers or consumers, they are among others: Ebhu (mother), Mbhuk (older sister), Le’ (younger sister), Bhing (the vacation of a girl), Jhi (hajj). In the sentence level the traders also use oral, informative, connotation, imperative and interrogative sentence Keywords: Persuasive Attractive Power, Fish trader

    Prioritas Aspek-Aspek Tipologi Linguistik Pada Pemetaan Masalah-Masalah Kebahasaan

    No full text
    Tulisan ini memberikan tinjauan teoretis mengenai kajian tipologi linguistik yang dibedakan dari kajian tipologi bahasa secara struktural yang selama ini lebih akrab di kalangan linguist. Fokus penjabaran teoretis dimaksud adalah penjabaran prinsip-prinsip kerja kajian tipologi linguistik sampai dengan jabaran aspek-aspek tipologi linguistik bahasa Lokal di Indonesia yang diprioritaskan untuk dikaji. Instrumen penjaringan data lapangan, proses identifikasi sampai pemetaan masalah pada aspek ini juga dijabarkan untuk memberi jawaban dari suatu pertanyaan, Bagaimana paradigm teori tipologi linguistik melihat bahasa sebagai objek dan bagaimana melakukan penelitian pada tipologi linguistik pada bahasa manusia untuk mencapai keuniversalan bahasa?.Jabaran pemetaan masalah ranah ini juga disertai dengan jabaran solusi dan strategi menjawab pemetaan masalah-masalahnya.Pada akhirnya, tulisan ini menyimpulkan suatu rumusan tentang kontribusi kajian tipologi linguistik dalam mendesain riset proses dan produk aspek kebahasaan terutama bahasa-bahasa lokal di Indonesia. Kata kunci: tipologi bahasa, tipologi linguistik, prinsip dan parameter keuniversalan

    Fungsi Sintaksis Dan Peran Semantik Argumen Frasa Verba Bahasa Bali

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mengenai fungsi sintaksis dan peran semantik argumen frasa verba Bahasa Bali.Data pada penelitian ini berupa data tulis.Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak.Dalam penelitian ini menggunakan Teori Struktural dan Teori Peran dan Acuan.Hasil analisis data menunjukkan bahwa struktur FVBB dapat berupa FV sederhana dan FV kompleks.FVBB sederhana terdiri dari unsur pusat (head) saja tanda modifier.FVBB kompleks terdiri dari, 1) FV endosentrik atributif yang terdiri atas modifier dan head, 2) FV endosentrik koordinatif yang terdiri dari dua verba yang dihubungkan oleh konjungsi (V KONJ V).  FVBB kompleks yang terdiri dari modifier dan head dapat diisi oleh (ADV + V), (PK + V), (NEG + V), (ADV + NEG + V), (ASP + V), (ASP + ADV + V), (ADV + ASP + V), (MOD + V), (MOD + ADV + V), (MOD + V + ADV), (ASP + NEG + MOD + V) dan (NEG + MOD + V). Berdasarkan fungsi sintaksisnya, di dalam kalimat, FVBB pada umumnya berfungsi sebagai predikat yang merupakan inti dari kalimat. Dalam penelitian,  ditemukan bahwa dia juga dapat berfungsi sebagai subjek, objek, pelengkap, keterangan, dan apositif. Argumen yang diikat oleh FVBB di dalam kalimat memiliki peran semantis yang dipengaruhi oleh FV yang mengikatnya.Berdasarkan toeri RRG, pada BB ditemukan peran umum dari argumen adalah sebagai actor dan undergoer dengan peran khususnya masing-masing.Peran khusus dari actor dan undergoer yang ditemukan dalam BB, yaitu agen, pengakibat, pengalami, alat, pasien, tema, asal, dan lokatif. Kata kunci: head, modifier, fungsi sintaksis, argumen, peran

    FONOLOGI BAHASA KANAUMANA KOLANA

    No full text
    This research entitled is Phonology of Kanaumana Kolana Language. The purpose of this study was to describe the system of phonemes and describe the phonological processes found in Kanaumana Kolana language. The method used in this research was descriptive qualitative method. Data collected in the form of the sounds of language Kanaumana Kolana obtained from interviews with native speakers Kanaumana Kolana. Based on the research results Language Kanaumana Kolana had six vowels were vowel /i/, /u/, /e/, /É›/, /o/ and /a/, thirteen consonant, the consonant resistor: /p, b, t, d, j, k, g/, consonant fricatives: /s/, consonant nasal: /m, n, Å‹/, consonant liquid or lateral: / l /, consonant trill / r / and two semi-vowels: / y, w /. The existence of the six vowels, twelve consonant and two glides supported by evidence using minimal pairs at the time to identify sounds such phonemes in a language Kanaumana Kolana. Phonological processes found in Kanaumana Kolana language there were two, they were the deletion process syllable structure and deletion processes accompanied by changes in the structure of the syllable form phonemes sound changes. The phonological processes found during the two segments combined into one segment. Keywords: phoneme, phonological process, rulin

    0

    full texts

    344

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇