RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa
Not a member yet
    344 research outputs found

    PRAGMATIC ALTERNATIVE CONSTRUCTION (FRONTING, LEFT DISLOCATION, AND TOPICALIZATION) IN LAMALERA DIALECT

    No full text
    Abstract Left dislocation construction, fronting construction and topicalization construction are universal linguistic alternations. Nevertheless these three constructions have characteristics that are very different from one language to another. This distinction depends on the language system of every language. This research data is obtained from the result of conversation between speakers of Lamaholot dialect of Lamalera. The result of data analysis proves that LDLL has three alternative constructions. The use of real language in everyday communication, this alternative construction ear has a gradative usage frequency. Left dislocation construction has the lowest usage frequency while the construction of precision and topicalization construction is significant. However, the construction of forging and parsing differed from one to another. Left dislocation construction is the advancement of peripheral arguments while topicalization construction is the construction of core argument prediction. The construction of topicalization is a passive-like construction (derivative construction). Keywords: Left dislocation construction, fronting construction and topicalization constructio

    Dilema Multilingualisme Dan Implikasinya Terhadap Perencanaan Bahasa

    No full text
    Kebhinekaan bahasa daerah yang dimiliki dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, serta penguasaan bahasa asing terutama bahasa Inggris menguatkan status masyarakat Indonesia menjadi masyarakat multilingual. Kehadiran beragam bahasa (asing, Indonesia dan daerah) mengindikasikan adanya interaksi antar bahasa yang muncul di permukaan sebagai (1) situasi yang saling mempengaruhi, (2) poliglot, dan (3) konflik atau persaingan bahasa.Situasi kebahasaan seperti ini tentu saja kalau  tidak dicermati dan diantisipasi bisa membawa disharmoni sosial yang sangat tidak menguntungkan bagi kelangsungan hidup bahasa terutama bahasa-bahasa daerah sehingga memerlukan perencanaan bahasa yang tepat dan fleksibel

    Fitur Linguistik Dan Non-Linguistik Penggunaan Bahasa Sms Pada Siswa Smpn 4 Mataram Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Sekolah

    No full text
    Isu sentral yang dikaji dalam penelitian ini adalah 1) bagaimanakah fitur linguistik dan non-linguistik yang digunakan siswa dalam berbahasa SMS? dan 2) Bagaimanakah implikasi fitur linguistik dan non-linguistik penggunaan bahasa SMS pada siswa kelas VIII 10 SMPN 4 Mataram tahun pelajaran 2014/ 2015 terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah? Data yang dipergunakan untuk menjawab tiga persoalan tersebut diperoleh dari para siswa berupa fitur linguistik dan non-linguistik penggunaan bahasa SMS. Teknik pengumpulan data dengan cara: memotret (Capture atau Screenshot) dari HP mereka, observasi, mencatat kejadian di lapangan, kuesioner, dan wawancara. Seluruh data yang ada diidentifikasi, dikodifikasi, diklasifikasi, dan dianalisis. Data dianalisis berdasarkan bentuk, fungsi, makna, kontak sosial, dan implikasinya terhadap pembelajaran di sekolah. Hasil analisis menunjukkan bahwa fitur bahasa SMS para siswa berupa pesan verbal, yang terdiri dari fonem, morfem, leksikon, frasa, dan kalimat dan pesan non-verbal berupa emoticon (tanda rasa).Kata kunci: fitur, linguistik, dan SM

    Strategy Of Translating Gadget Brochure

    No full text
    The title of this writing is strategy of translating gadget brochure. There were two problems discussed in this thesis, namely (1) terms found in the gadget manual book and its equivalence in Indonesia, (2) strategies applied in translating gadget brochure. Based on the analysis result, it was found that the terms and its equivalent words found in the gadget brochure were classified based on: 1) simple words or compound words and terminology forming phrase. 2) words category found are: noun and verb. The recommended pattern to determine the equivalent word was pure borrowing strategy, not  adaptation borrowing strategy. The adaptation borrowing in this context was related to the spellings, the pronunciation or sound adaptation in the TL rather than adaptation for the cultural substitutes that conceptually mismatches with the standardized terminology in the SL. In addition, the result of the analysis that there were seven strategies found in gadget brochure, they were translation by more general word (Superordinate), translation by a more neutral/expressive word, translation by cultural substitution, translation by using loan word or loan word plus explanation, translation by paraphrase using related word, translation by omission and translation by illustration. Keywords: Gadget brochure, Strategies of translatio

    Verba Memotong Bahasa Rote Dialek Dengka: Kajian Meta Semantik Alami (Msa)

    No full text
    Artikel ini menganalisis penggunaan kata kerja “memotong†dalam Bahasa Rote Dialek Dengka. Dari hasil wawacara dengan narasumber diperoleh sebelas leksikon “memotong†yang dijelaskan dalam bagian pembahasan. Kesebelas kata kerja “memotong†yaitu: soe, oÉoti, Å‹gute, baÉe, tati, uÅ‹ga, teta, gaÉe, ete, faÉa, dan pa. Pendekatan teori yang digunakan untuk menganalisis kesebelas kata kerja “memotong†Bahasa Rote Dialek Dengka adalah Metabahasa Semantik Alami (MSA). Dengan pendekatan MSA  pencapaian hasil analisis kesebelas leksikon menjadi maksimal karena setiap satu makna diperuntukan satu leksikon.Kata Kunci: Kata kerja, memotong, bahasa Rote, dialek, Dengk

    Peningkatan Keterampilan Menulis Narrative Dalam Mata Pelajaran Bahasa Inggris Melalui Implementasi Media Audio Visual Pada Siswa Kelas X Di Sma Dwijendra

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah implementasi Media Audio Visual dapat meningkatkan keterampilan menulis narrative dalam mata pelajaran Bahasa Inggrispada siswa kelas X di SMA Dwijendra Denpasar tahun ajaran 2014 / 2015. Sampel penelitian ini adalah siswa – siswi kelas X Unggulan 1 yang terdiri dari 52 siswa.Penelitian ini dilakukan dalam waktu 3 bulan yang terdiri dari tiga siklus, yaitu satu siklus yang disebut siklus pratindakan untuk mengetahui keterampilan siswa sebelum penerapan media audio visual dalam bentuk tes.Dua siklus berikutnya yaitu Siklus I dan Siklus II dilaksanakan untuk mengaplikasikan teknik ini.Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, obeservasi dan refleksi.Pengumpulan data dilakukan dalam 4 instrumen, yaitu tes, observasi, kuesioner dan dokumentasi.Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik yang kemudian diberikan penjelasan deskripsi.Hasil penelitian menurut data kuantitatif implementasi media audio visual dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa kelas X SMA Dwijendra Denpasar.Ini dapat dilihat dari hasil evaluasi tes dan observasi serta hasil kuesioner yang selalu meningkat pada setiap siklusnya.Hasil evaluasi rata – rata sebelum diterapkannya media audio visual adalah 58 yang mengindikasikan bahwa nilai ini termasuk dalam kategori sangat kurang dan belum memenuhi standar KKM.Setelah implementasi media audio visual pada siklus I, nilai rata – rata meningkat menjadi 73.Dengan diadakannya siklus II, sebagai perbaikan siklus I nilai rata – rata siswa mengalami peningkatan menjadi 84 dengan kategori baik.Peningkatan yang terjadi pada setiap siklusnya juga didukung dengan data kualitatif hasil tes siswa.Keywords: menulis, narrative text, media audio visualÂ

    Ekoleksikon Ke-Kaghati-An Bahasa Muna

    No full text
    Tulisan ini memaparkan tentang ekoleksikon ke-kaghati-an dalam bahasa Muna.  Kaghati (layang-layang) merupakan salah satu jenis permainan tradisional guyub tutur bahasa Muna (GTBM). Keseluruhan material kaghati diperoleh dari alam seperti leksikon:  roo kolope (daun ubi gadung), ghurame (tali yang terbuat dari serat nenas hutan). Masalah yang diangkat dalam kajian ini tentang ekoleksikon ke-kaghati-an, bentuk dan kategori lingual ke-kaghati-an, dan ungkapan falia ‘pemali/tabu’ yang terkodekan melalui bahasa lingkungan dan lingkungan bahasa ke-kaghati-an. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengkodean secara verbal (leksikalisasi) dikembangkan secara kreatif dalam bahasa Muna yang juga terus berkelanjutan dari generasi ke generasi, kendati tetap bersifat dinamis. Ekoleksikon ke-kaghati-an yang ditemukan adalah ekoleksikon flora, ekoleksikon fauna, ekoleksikon alam, dan ekoleksikon kepercayaan. Satuan-satuan lingual khazanah leksikon di lingkungan ke-kaghati-an terfokus pada bentuk dan kategori. Bentuk leksikon berdasarkan data yang diperoleh, didapat leksikon bentuk tunggal, bentuk kompleks (afiksasi dan reduplikasi) dan bentuk majemuk. Adapun kategori leksikon-leksikon ke-kaghati-an tersebut adalah kategori nomina, verba, dan adjektiva. . Di dalam ungkapan falia ke-kaghati-an itu terkandung   kekayaan   nilai   kearifan   lokal   dalam   menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan, alam, dan sesama makhluk hidup. Kata Kunci: ekoleksikon, ke-kaghati-an, bahasa Muna, ungkapan falia ke-kaghati-a

    Category Of Complement And Semantic Role Of Single Argument In Balinese Syntactic Constructions

    No full text
    This study aims to analyze and describe the word category of complement and semantic roles of single argument found in syntactic constructions with complement in Balinese language. Data of this study was collected from Balinese speaking informants living in the city of Denpasar, Bali. The data was supported by those obtained from Balinese story books. The data was collected by observation method completed with recording and note taking techniques. The collected data was analyzed based on theory of semantic role proposed by Van Valin and LaPolla, 1997 and by I Saeed, 1997. The result shows that complement in Balinese can be filled in by noun, adjective, numeral, and verb. The verb predicate of constructions with complement are mostly intransitive verb with ma- but in few data of intransitive verb with N- are also found. Then, the semantic roles of single argument in constructions with complement are agent, experiencer, patient, and recipient. Key words: complement, semantic role, argument, intransitive, transitive

    KULISUSU LANGUAGE MAINTENANCE IN TEENAGER GROUP ON EREKE: SOSIOLINGUISTIC STUDY

    No full text
    Abstract This article is discusses about the survival of Kulisusu language at the age of adolescence in Ereke Town of North Buton district. A focus of this research is about teenagers age between 17-20 years. The point of problems in this research is the family, association, education, government, transactions, neighbors, religion, culture, art. In this research the approach used is sociolinguistic approach. In this case, the approach (approach) of sociology, ie the study of language in the social context, which studies is the behavior of groups rather than individual. In analyzing the data is done by calculating the percentage following the calculation pattern, that is the calculation built on the number of incoming answers) The results are found kulisusu language Based on the analysis shows the category of adolescents and adults Kulisusu language tendency is in the medium category on the side still at last Keywords: sosiolinguistik kertausu defens

    THE UNDAGI LEXICON IN THE MANUFACTURE OF RESIDENTIAL HOUSES BASED ON ASTA KOSALA KOSALI CONCEPT IN DENPASAR

    No full text
    The title of this research is The ‘Undagi’ lexicon in the manufacture of residential houses based on asta kosala kosali concept in Denpasar. The aims of this research is to inventory the diversity of vocabulary of undagi’s lexicon in making a house based on asta kosala kosali concept with ecological dimension so that the young generation can know and preserve it well. The theory applied for this research is ecolinguistic theory proposed by Bang and Door (1993). This theory are combines biological dimension, ideological and sociological dimension in the languages. This research is descriptive qualitative. Technique of data collecting is done by applying listening method and speaking method. The listening method is done by using interview technique and the speaking method by using face to face method. The result of the research shows that the diversity of vocabulary of undagis’s lexicon in making a house based on asta kosala kosali concept are found sixty seven lexicons categorized as nouns and thirteen lexicons categorized as verb. In addition to word class categorization, in this study also obtained the word forms of each lexicon in the form of a single form of the word base and derivative form of the form of compound words. Each lexicon also has a semantic meaning and shows the social praxis dimension of ideological, sociological and biological dimensions. Key words: Undagi, asta kosala kosali, the social praxis dimensio

    0

    full texts

    344

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇