Jurnal Perkotaan
Not a member yet
88 research outputs found
Sort by
Resiliensi pada Remaja Perkotaan yang Menjadi Korban Bullying
Bullying adalah perilaku negatif dalam bentuk kekerasan fisik, verbal, atau psikologis yang dilakukan dengan sengaja oleh seseorang atau kelompok orang yang bertujuan untuk menyakiti, melukai, dan merugikan orang lain. Dilihat dari aspek sosial budaya, bullying dipandang sebagai wujud rasa frustasi akibat tekanan hidup dan hasil imitasi dari lingkungan orang dewasa. Lingkungan perkotaan terutama memiliki ciri lebih keras dibandingkan dengan lingkungan pedesaan dimana anak dapat meniru tontonan-tontonan kekerasan yang disuguhkan melalui media teknologi visual yang berkembang pesat dan interaksi individu dengan lingkungannya. Penindasan tersebut menciptakan dampak yang dirasakan oleh remaja sebagai korban bullying yang merasa tidak berdaya, terintimidasi, dan terhina melalui perbuatan agresif. Berkaitan dengan fenomena tersebut, remaja di perkotaan perlu memiliki resiliensi agar mampu bangkit dari keterpurukannya dan menata masa depan yang lebih baik. Resilensi adalah kapasitas yang dimiliki oleh remaja untuk mengatasi situasi-situasi kekerasan atau kesengsaraan yang dialami dalam hidupnya. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif dan termasuk kedalam penelitian deskriptif. Penelitian ini menggunakan Connor-Davidson Resilience Scale yang terdiri dari 25 butir pernyataan yang telah disebarkan kepada 45 responden yang dipilih dengan metode purposive sampling. Analisa data menggunakan teknik statistik deskriptif. Hasil penelitian digunakan sebagai masukan bagi pemerintah, institusi pendidikan, orang tua, guru, dan remaja itu sendiri dimana resiliensi dapat mengurangi dampak psikologis yang ditimbulkan akibat bullying dan membantu korban bullying lebih berdaya dalam mengatasi situasi kekerasan
Implementasi Pembelajaran Tematik di Lima SD Swasta Wilayah DKI Jakarta
Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang menggunakan tema untuk memadukan beberapa mata pelajaran atau bahan ajar, agar pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Meskipun pembelajaran tematik sudah diterapkan sejak Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004) namun sampai saat ini (2017/2018) masih ada kepala sekolah dan guru SD yang mengalami kendala dalam mengimplemen-tasikan pembelajaran tematik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bersifat kolaboratif dengan membandingkan implementasi (persiapan, pelaksanaan, dan penilaian) pembelajaran tematik di lima SD swasta di DKI Jakarta yaitu SD Santa Maria (JakPus), SD Strada Santo Ignatius (JakUt), SD Tarakanita 5 (JakTim), SD Kartika X-2 (JakSel), dan SD Bintang Kejora (JakBar). Perencanaan dalam bentuk Prota, Promes, dan Silabus sudah mengikuti panduan, hanya perlu disesuaikan dengan kalender sekolah, sedangkan penyusunan RPP dan perangkatnya dibuat guru pararel seminggu sekali. Pelaksanaan di kelas 1 sudah menerapkan tematik terpadu, sedangkan di kelas 4 masih tematik terjaring, menggunakan model dan metode pembelajaran cukup bervariasi dan mengaktifkan siswa, dan melaksanakan langkah pembelajaran saintifik walaupun belum optimal. Penilaian dalam bentuk penilaian autentik masih dirasakan sulit sehingga perlu dicari cara yang lebih memudahkan guru dalam mempersiapkan dan melakukan penilaian
Titik Balik Evolusi Budaya Air Langit dengan Budaya Sains Eksperimental Air Langit (BSEAL)
Budaya air langit merupakan sebuah pemikiran, kreativitas dan tindakan manusia terhadap salah satu kekayaan alam khas planet bumi beriklim tropis yaitu Air dari Langit yang umumnya disebut Hujan, Air Hujan. Pemikiran ini menjadi penting karena kreativitas tindakan yang berasal dari manusia sebagai mahluk yang berakal budi. Sementara itu, makhluk tak berakal budi (binatang, tumbuhan, bakteri, virus, tanah, batu dsb) menerima apa adanya saja. Hidup cukup menurut kodratnya saja. Bagaimana dengan manusia itu sendiri? Manusia sebagai mahluk berfikir memiliki nalar dan kreativitas dalam melihat fenomena alam, contohnya fenomena alam tentang hujan dan air hujan.
Kreativitas dan tindakan manusia juga ditimbulkan atas berbagai pengalaman dan interaksi manusia itu sendiri dengan alam. Hujan sebagai fenomena dan fakta menimbulkan pertanyaan mengapa hujan terjadi. Nalar manusia seperti yang sudah disebut sebelumnya denga interaksinya dengan manusia lain yang dulu jumlah populasinya tidaklah banyak seperti sekarang memberikan pemahaman bahwa air sumber pangan di alam lebih dari cukup.
Budaya hidup pindah sana pindah sini (nomaden) di era terdahulu juga menjadi salah satu faktor bagaimana inovasi pemanfaatan kekayaan alam terbatas, yang kemudia di era kini dengan terpaparnya budaya literasi (mengenal huruf) memunculkan berbagai perkembangan teknologi guna menciptakan teknik bangunan, kesehatan yang “kekinian” hingga mimpi-mimpi masa depan hidup di luar planet bumi ini. Contohnya, perkembangan revolusi industri di abad ke-17 hingga sekarang, revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menigkatnya era peradaban digital sekarang ini.
Pengalaman manusia dengan alam yang mengalami perkembangan dari era ke era dapat dilihat juga dalam perkembangan eksplorasi kekayaan alam. Contohnya, kekayaan alam cahaya Matahari misalnya. Manusia terpelajar mengambilnya. Para insinyur teknik bangunan (rumah, gedung) dan arsitek mengatur sedemikian rupa masuknya cahaya ke dalam gedung, rumah, sehingga memenuhi kebutuhan mata melihat, membaca dan sebagainya, bahkan membawa keindahan tata cahaya. Kekayaan air di dalam tanah, sungai, danau diambil dengan timba atau mesin pompa untuk kebutuhan minum, masak makanan, mandi, mencuci setiap hari. Contoh lain adalah mengeplorasi Kekayaan tanah atau (kesuburan tanah) yang sangat dipergunakan oleh petani untuk menghasilkan pangan bagi semua. Begitu pula dengan Kekayaan tambang dalam perut bumi yang dieksplorasi dan eksploitasi dengan teknik tinggi oleh para insinyur pertambangan dengan bayaran mahal oleh industri kapitalistik, seperti tambang emas, besi, batubara, minyak dan lain-lain. Tidak kalah pentingnya perkembangan Kekayaan alam di udara, yaitu angin, oksigen yang sudah dengan sendirinya semua makhluk, teristimewa manusia menghirupnya sepanjang hidupanya secara terus menerus. Oksigen di udara ini paling banyak dihasilkan oleh hutan dan tumbuh-tumbuhan menyerap CO2 (Karbon monoksida) dan membuang O2 (oksigen). Para arsitek pun mengatur sedemikian rupa sebuah bangunan rumah agar udara, oksigen selalu mengalir dan berganti sehingga penghuninya merasa nyaman dan sehat. Bahkan oxigen itu dikemas menjadi komoditi kesehatan
THE IMPORTANCE PERFORMANCE MATRIX ANALYSIS (IPMA): SEBAGAI ALAT EVALUASI KEPUASAN DAN KEPENTINGAN PENGGUNA JALAN DI KOTA MANDIRI TANGERANG SELATAN
The rapid growth of satelite city in South Tangerang will directly impact road infrastructure and environmental conditions. The purpose of this paper is to evaluate level of satisfaction and important of existing road infrastructure in satelite city. The study was to gain the perception of road users and other stakeholders regarding various elements of satelite city self-reliance in maintaining the quality of road infrastructure. Using one of satelite city in South Tangerang as a case, the specific research objectives are to: ascertain road user level of satisfaction with the road infrastructure and determine the most dominant factors affecting road user satisfaction. A questionnaire survey was conducted on road users in three selected roads at satelite city. Through a random sampling, a total of 384 responses were collected. After the survey, interviews were conducted with subject matter experts to understand the current practices and possible solutions to the problems. Data processing using SPSS software version 20.00 and analysed using Cronbach Alpha (α) statistical method and Importance Performance Matrix Analysis (IPMA) to know the level of satisfaction and important of user. The priority matrix analysis result shown that the safety improvement and comfort facilities for pedestrians, disabled provider and cyclists become important elements. The ranking of the importance elements in road performance based on user perceptions obtained the highest average value of 22 % which shows that the road safety element is the most important element in road performance
A PRELIMINARY STUDY OF THE MEASUREMENT OF ROAD: WARNING SIGN EFFECTIVENESS IN DKI JAKARTA ACCORDING TO COMPREHENSION LEVEL
Paper ini bertujuan untuk menyajikan hasil kajian awal mengenai pengukuran tingkat efektivitas rambu peringatan jalan raya Jakarta berdasarkan survei kepada para pengendara. Dalam kajian awal ini, diambil responden sebanyak 100 orang pengendara yang berdomisili di daerah Jabodetabek. Sebanyak 37 rambu lalu lintas yang digolongkan sebagai rambu peringatan (warning signs) diukur efektivitasnya dengan indikator nilai comprehension level sesuai dengan standar ISO 3684. Satu set kuesioner berisi 37 pertanyaan mengenai efektivitas rambu lalu lintas disebarkan kepada 100 pengendara. Nilai comprehension level untuk masing-masing rambu lalu lintas peroleh dengan menghitung persentase jumlah jawaban yang benar untuk masing-masing rambu. Hasil kajian pendahuluan ini menunjukkan bahwa nilai comprehension level sebanyak 22 dari 37 rambu peringatan berada di bawah 67%, sebagaimana acuan standar yang diberikan oleh ISO 3684. Kajian awal ini menunjukkan bahwa sebagai besar rambu lalu lintas di DKI Jakarta belum efektif untuk menyampai pesan peringatan (warning) bagi pengendara bermotor.  
Tinjauan terhadap Pelaksanaan Peraturan Daerah Sumatera Barat No. 9/2014 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam
Abstract
The effort to acknowledge as well as to protect intellectual works have been done not only in the view of protecting the so-called intellectual property rights but also preserving the works itself. For the later, the attempt is represented in Law No 4/1990 which obligate publishers and recording companies to deposit a stipulated number of copies of their work in determined libraries. This national level policy followed by quite a lot of provinces resulting in the formation of regional regulations concerning the same matter. However, only few of those use criminal law instrument. Since this is a multiperspective research, Regional Regulations of Sumatera Barat No. 9/2014 is deemed to fit the study because it comprises criminal provisions, business law aspects, and also private law issues. This research examines the implementation of the law from three standpoints: i) the implementation of the criminal provisions, ii) how its implementation protects the rights of the owner of the works as well as their benefit from the view of business law, and iii) the private legal relation between the parties of deposit arrangements. The research found that: i) the criminal provisions have not been enforced because the authority has not been equipped by civil investigator; ii) Dinas Kearsipan&Perpustakaan Kota Padang has done full effort in registering the works in order to have them deposited in the library, eventhough constraints related to budget delimitates the attempt. By this reason the protection and benefit for the owner has not been fully achieved; iii) there is neither special agreement nor any arrangement found in the relation between parties.
Keywords: implementation of Perda Sumbar No 9/2014; intellectual works deposite
Perlindungan Hukum bagi Anak dan Perempuan dalam Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) Indonesia
Woman and children are the most vulnerable groups that should be protected under the law and policies. However, in the practices level, those groups are being ignored and to some extend the law and policies are created to deprive their rights. The violence as well as the limitation of rights has leaded women and children to face multi layers of violence. Indonesia government and legislative are processing the draft of Indonesian Penal Code (Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana-RKUHP). Under the draft of the Penal Code, there are some articles that should be scrutinize in order to ensure that the right of women and children will be protected and not being eliminated. Therefore, this article aims to elaborate what is the issue in Indonesia Penal Code draft that should be taken into consideration and what should be done in order to create more proper formulation of the law that protect women and children rights. The method that has been used is a literarure review and normarive approach with human rights perspective
Desain Polder yang Ekonomis di Wilayah Semarang Timur
Permasalahan banjir dan rob sering terjadi di wilayah Semarang Timur, hal ini mengakibatkan kerugian ekonomi, sosial dan lingkungan. Guna memperbaiki kondisi tersebut maka diperlukan penanganan secara permanen yaitu dengan pembuatan sistem polder untuk Wilayah Semarang Timur. Sistem polder terdiri dari tanggul laut, kolam retensi dan rumah pompa. Kombinasi antara besaran luas kolam retensi dan kapasitas pompa sangat dibutuhkan untuk menghasilkan desain dengan biaya total ekonomis. Tahapan awal di mulai dari perhitungan debit banjir, pemodelan kolam retensi dan pompa menggunakan software HEC-HMS 4.0. Tahap selanjutnya menghitung estimasi biaya konstruksi, pengadaan pompa, pembebasan lahan serta biaya operasional dan pemeliharaan pompa. Tahapan akhir yaitu melakukan simulasi pembiayan setiap desain yang telah di modelkan dan memperhitungakan beberapa parameter ekonomi. Dari hasil penelitian di dapat debit banjir rencana 25 tahunan untuk kolam retensi adalah 138 m³/s. Desain kolam retensi terpilih yaitu seluas 210 hektar dengan kapasitas pompa sebesar 15 m³/s. Jumlah pompa terdiri dari 2 buah kapasitas 2,5 m³/s dan 2 buah kapasitas 5 m³/s. Kedalaman kolam retensi sebesar 3,7 m. Estimasi biaya operasional dan pemeliharaan pompa dalam setahun yaitu Rp 8.012.756.880,00. Estimasi biaya pembebasan lahan yaitu Rp 750.000.000,00/hektar. Estimasi biaya konstruksi Rp 574.168.000.000,00. Estimasi biaya pengadaan pompa Rp 18.000.000.000,00. Didapat parameter ekonomi NPV sebesar Rp 327.660.000.000,00 dan NBC sebsar 1,39. Sehingga dapat disimpulakn bahwa desain terpilih merupakan desain dengan biaya yang ekonomis serta pembangunan sistem polder Wilayah Semarang Timur layak secara ekonomi
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Nilai Empati pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya, Jakarta
Empathy is one of the virtues that should be owned by health care providers. In the doctor– patient relationship, empathy enables health care providers to win not only the confidence of the patients, but also assisting them to accept their state of illness and disease. As to the fact that medical students have a high knowledge of empathy in line with the study periods, empathic relation is often absent in doctor–patient relationship. This study is intended to look at the relationship between the length of studies and the knowledge of empathy. This cross- sectional study applied Baron-Cohen Empathy Quotient to collect data from 98 respondents at Atma Jaya School of Medicine, Atma Jaya Catholic University of Indonesia, academic years of 2013 (third year) and 2015 (the first year). The study revealed that 49 respondents have a higher level of empathy knowledge and 49 others at the lower one. Among the higher knowledge of empathy, 73.47% (n=36) had lower knowledge of empathy compared to 26.53% (n=13) at the higher one. Among the lower knowledge of empathy, 91.84% (n=45) had lower knowledge of knowledge compared to 8.16% (n=4) at the higher one. A total of 76.47% respondents with a higher knowledge of empathy (n=17) were the third year students (academic year 2013), whereas the 23.52% are the first year students (academic year 2015). This study has proven the relation between the length studies (academic years) with the knowledge level of empathy
Integrasi Daya Tarik Wisata Kota Denpasar Bali
The model of the development of an integrated city tourism urgently to be done for the short- term and long-term. Develop urban area is an attempt to increase revenue through taxes hotels, restaurants, and simultaneously increase the economic activity in urban areas. The good management of the city tourism will realize the satisfaction of all parties. Some of the cities in Indonesia deserves to be developed as a city tourism when viewed from multiple components as tourism attractions. These components are like: the town hall, roads that meaningful myth, historical monuments, culinary, college or university, shopping malls, traditional markets, squares, parks, museums, fairs, and other attractions. To be able to make it as a tourist product, the necessary integration related aspects comprising aspects of the attraction of the city, the transportation aspect, the aspect of main and supporting facilities, and institutional aspects such as the attributes of human resources, systems, and other related institutions. The city of Denpasar as as a business center of the activity in case the tourists both domestic and foreign tourists, require restructuring. Structuring urgent to do is structuring the local community business centers, the arrangement of lodges or hotels, and the area attractions management