Jurnal Ilmiah Mahasiswa FIB
Not a member yet
970 research outputs found
Sort by
FRAMING ANALYSIS ON PARTAI DEMOKRAT’S CAMPAIGN IN 2014 GENERAL ELECTION ISSUES IN KOMPAS AND JAWA POS
Keywords: Language, mass media, media discourse.Mass media as an integral part of society today, they use language to deliver their report and transfer their idea toward readers. Because of its complexity, the news makers have to select and rephrase reality. This technique is called as framing where the same topic will be given differently by the different newspaper, depends on its own perspective which is reflected by the use of language. Therefore, the position of mass media is constructing reality rather than merely informing the reality to the society.This research is about framing analysis in Jawa Pos and Kompas printed media reporting Partai Demokrat during the campaign’s period for general national election 2014. Since they are the oldest and the biggest newspapers in Indonesia, they tend to have a big power in creating a public opinion around the society. There are two problems to be solved, namely: how Kompas and Jawa Pos control their readers’ opinion through (1) their lexical choices; (2) their syntactical structures.This study uses qualitative approach in relation to the use of clear explanation about data to be analyzed. Content analysis is applied in this study to understand the data which is taken from news article in newspaper.This study reveals that in order to create public opinion towards Partai Demokrat, Jawa Pos use repetition words which consists of selected nouns, adjectives, and verbs with positive connotation meaning. Since then, Jawa Pos tries to support the currently ruling political party in Indonesia. Besides, Kompas tends to be a neutral media, by reporting Partai Demokrat with denotative meaning; therefore, it will reduce the ambiguity from the readers. From the syntactical problems, Jawa Pos as well as Kompas used active clauses more often than passive clauses. The active clauses used to foreground the actor. The most common actor is Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) as the leader of Partai Demokrat is used to portray Partai Demokrat itself.The writer suggests that English Department students learn more about discourse analysis especially media discourse analysis. The writer also suggests that the next researcher conduct a research in more various aspects of linguistic tools in order to get more accurate and comprehensive conclusion
INTERFERENSI LOGAT BAHASA JAWA TERHADAP PELAFALAN BAHASA JEPANG MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA JEPANG ANGKATAN 2013 UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Kata Kunci : Bahasa Ibu (B1), Logat, Interferensi, Fonologi, Interferensi FonologiIndonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak daerah. Pada setiap daerah memiliki bahasa dan logat yang berbeda-beda. Bahasa dan logat daerah tersebut mempengaruhi ketika penutur belajar bahasa asing, khususnya penutur yang berasal dari Jawa dan belajar bahasa Jepang. Seringkali terjadi interferensi dalam proses pembelajaran. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui interferensi logat bahasa Jawa terhadap pelafalan bahasa Jepang mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang angkatan 2013 Universitas Brawijaya, dan 2) mengetahui penyebab interferensi logat bahasa Jawa dalam pelafalan.Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dan dianalisis secara deskriptif untuk memberi gambaran yang sistematis dan terperinci. Sumber data yang digunakan adalah rekaman suara tes fonetik dan hasil wawancara mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang semester 4 Universitas Brawijaya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa interferensi yang terjadi terdapat pada 9 kesalahan yang terbagi dalam 3 bagian, yaitu kesalahan pada pelafalan /ɯ/, penambahan aspiran /h/ pada konsonan bersuara /w/, /d/, /j/, /b/, dan /g/, serta adanya perbedaan huruf pada bahasa Jepang dan bahasa Jawa, yaitu huruf /ʣ/, /ʃ/,dan /ʦ/. Kemudian ditemukan 5 faktor yang menjadi penyebabnya, yaitu kedwibahasaan responden, responden tidak diajari pelafalan (hatsuon) huruf-huruf bahasa Jepang, responden merupakan penutur pasif, sedikit waktu yang digunakan untuk berbicara bahasa Jepang, dan terbiasa berbicara menggunakan bahasa Jawa.Setelah melakukan penelitian ada beberapa saran yang dapat diberikan, yaitu bagi pemelajar dapat belajar melalui drama, anime, atau pun lagu berbahasa Jepang, bagi pengajar dapat mengajari cara pelafalan (hatsuon) huruf bahasa Jepang, dan bagi peneliti selanjutnya dapat meneliti perbedaan antara bahasa Jawa dan bahasa Jepang pada bidang sintaksis atau morfologis
PENGGUNAAN INTERJEKSI RAGAM BAHASA WANITA DAN RAGAM BAHASA PRIA DALAM DRAMA HANA YORI DANGO KARYA KAMIO YOKO
Kata Kunci : Kandoushi, Ragam Bahasa Wanita, Ragam Bahasa PriaKetika berbicara dengan orang lain, ada banyak hal yang perlu diperhatikan, salah satunya mempelajari ragam bahasa. Bahasa Jepang memiliki dua ragam bahasa, yakni ragam bahasa wanita dan ragam bahasa pria. Perbedaan kedua variasi bahasa ini dapat diamati dari partikel yang dipakai pada akhir kalimat (shuujoshi), pronominal persona (ninshoo daimeshi), interjeksi (kandoushi) dan sebagainya. Peneliti ingin mengkaji lebih dalam mengenai ragam bahasa yang ditinjau dari aspek interjeksi (kandoushi) nya, yakni kata seru yang menggambarkan perasaan seseorang seperti rasa terkejut, rasa sedih, senang, khawatir dan rasa takut. Penggunaan kandoushi banyak ditemui dalam kalimat informal serta penggunaannya berdasakan gender. Namun terdapat pula pergeseran penggunaan kandoushi wanita yang diucapkan pria atau sebaliknya. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab dua rumusan masalah yakni bagaimana penggunaan dan fungsi kandoushi ragam bahasa wanita (joseigo) dan ragam bahasa pria (danseigo), serta bagaimana pergeseran penggunaan kandoushi yang terjadi dalam drama Hana Yori Dango.Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Data yang diteliti sebanyak 9 episode dari drama yang berjudul “Hana Yori Dangoâ€. Analisis dilakukan dengan mendata semua kandoushi yang digunakan oleh pemeran wanita dan pemeran pria, serta menganalisis pergeseran penggunaan kandoushi yang terjadi dalam drama tersebut.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam drama Hana Yori Dango, kandoushi ara, maa, dan ee yang temasuk ragam bahasa wanita dan kandoushi ou, oi, kora, dan un yang termasuk ragam bahasa pria ditemukan sesuai dengan fungsinya. Selain itu ditemukan pula pergeseran penggunaannya, yakni kandoushi un dan oi yang termasuk ragam bahasa pria diucapkan wanita. Serta kandoushi ee yang termasuk ragam bahasa wanita diucapkan pria. Kesimpulan dari penelitian ini yakni penerapan penggunaan kandoushi dalam percakapan sehari-hari tidak seluruhnya digunakan sesuai teori, karena dalam penerapannya masih banyak ditemukan pergeseran penggunaan kandoushi ragam bahasa wanita dan ragam bahasa pria
SPELLING ERROR FOUND ON DESCRIPTIVE TEXT IN EIGHTH GRADE STUDENTS OF SMPN 18 MALANG
Keywords: Writing, descriptive text, spelling error, junior high school students Sometimes it is not easy for learners of English to write a text since this skill requires several aspects that should be noticed such as grammatical structure, organization of idea, and the spelling. In this research, the researcher focused his concern in spelling. Spelling the word correctly is important in writing and it can be a serious attention for beginner learners of English such junior high school students. This research was intended to investigate the type of spelling errors made by eighth grade students of SMPN 18 Malang and to figure out the most type of spelling errors committed by the students by using a descriptive text as a medium to gain the spelling error words.In conducting the research, the researcher asked the students to write a descriptive text. In analyzing the data the researcher used formal errors of lexis theory that proposed by James (1998) especially the taxonomy of distortion type to identify the type of spelling errors. The data were 52 spelling errors which were taken from 26 descriptive texts.The researcher revealed that the spelling errors occurred in the the subtypes of omission, overinclusion, misselection, and misordering. The researcher also found that the most occurred spelling error are in the sub-types of omission and misselection. Both types share the same percentage which is 39% for each. From the results that were found, the researcher concluded that the students actually know about the intention of using the vocabularies but they were still lack in applying those words especially in its written form. In other words, they are familiar with the pronunciation of the words but they are careless in writing the words using correct spelling.To solve that problem, the researcher suggests for the students to improve their vocabulary and spelling knowledge not only in the classroom activity but in others productive activities such reading a material in English. For the teacher, the researcher suggests to take more attention on spelling by creating an activity that can improve the spelling skill. For the future researchers, it is better to conduct the research in different object such as movie subtitle or in oral spelling
PENGGUNAAN PREFIKS ä¸ (FU), éž (HI), DAN ç„¡ (MU) PADA ASAHI SHINBUN EDISI 29 AGUSTUS 2014
Kata Kunci : Afiksasi, Prefiks, Kata, Kata JadianBahasa Jepang merupakan bahasa yang kaya akan huruf, dan dari sebab itu muncullah banyak kata yang digunakan dalam percakapan maupun tulisan di kehidupan masyarakat Jepang. Sehingga dalam bahasa Jepang proses pembentukan kata banyak terjadi. Salah satunya adalah afiksasi. Afiksasi terjadi apabila sebuah kata disisipi imbuhan dan akhirnya menjadi kata jadian. Salah satu afiksasi adalahpenyisipan pada bagian depan sebuah kata, yang disebut dengan prefiks. Sepertihalnya, dalam materi afiksasi dalam prefiks yang menggunakan huruf kanji ä¸ (fu), éž (hi)ã€dan ç„¡ (mu) yang bermakna menegatifkan sebuah kata, mengakibatkan orang yang baru belajar bahasa Jepang mengalami kesulitan. Oleh karena itu, penulis memutuskan memilih prefiks fu, hi, dan mu sebagai tema dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dari rumusan masalah, yaitu bagaimana penggunaan prefiks fu, hi, dan mu serta apakah dapat prefiks fu, hi, dan mu saling menyubtitusikan dalam Asahi Shinbun.Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Penulis akan menganalisis penggunaan serta subtitusi prefiks fu, hi, dan mu dengan cara mengidentifikasi kata-kata yang mengandung prefiks tersebut dengan menggunakan teori yang dijelaskan oleh Vance.Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan oleh penulis, maka ditemukan terdapat 68 data yang ditemukan dalam Asahi Shinbun, diantaranya prefiks fu 31data, prefiks hi 4 data, dan prefiks mu 33 data. Dari data-data tersebut terjadi proses afiksasi dan menjadi kata jadian baru, dan dari masing-masing prefiks fu, hi, dan mu terdapat 8 data yang dapat saling disubtitusikan. Untuk selanjutnya penulis menyarankan untuk melakukan penelitian mengenai prefiks ㊠(o) dan ã” (go). Agar penelitian lebih maksimal maka bisa menambahkan teori-teori yang bisa mendukung penelitian tersebut
FUKUGOUDOUSHI ~DASU DALAM THE DAILY JAKARTA SHIMBUN EDISI 6 FEBRUARI, 22 FEBRUARI DAN 29 MARET 2014
Kata Kunci: Makna, Fungsi, Morfologi, Fukugoudoushi Dalam linguistik bahasa Jepang, terdapat istilah verba majemuk atau fukugoudoushi merupakan verba yang terbentuk dari gabungan dua kata atau lebih yang dianggap sebagai satu kata, seperti fukugoudoushi ~dasu. Penelitian ini menjawab 2 buah rumusan masalah yaitu (1) Jenis verba apa yang diikuti ~dasu yang membentuk verba majemuk (fukugoudoushi)? (2) Bagaimana Makna dan Fungsi yang dimunculkan setelah verba berkonjugasi dengan fukugoudoushi ~dasu?Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan dalam koran The Daily Jakarta Shimbun edisi 6 februari, 22 februari, dan 29 maret 2014. Analisis data yang digunakan dengan mengelompokkan data berdasarkan makna yang dimunculkan, proses tabulasi dan analisis data.Dari hasil analisis pada penelitian ini ditemukan 18 fukugoudoushi ~dasu dengan rincian verba dasar + ~dasu. Fukugoudoushi dengan susunan pembentuk kata nomina dan adverbia + ~dasu tidak ditemukan. Kemudian pada segi makna, fukugoudoushi ~dasu yang bermakna ‘permulaan’ berjumlah 3 data. Sedangkan 9data lain yaitu fukugoudoushi ~dasu yang bermakna ‘perpindahan’. Serta 6 dataterakhir fukugoudoushi ~dasu yang bermakna ‘keberadaan’. Selain itu, dari segifungsi fukugoudoushi ~dasu memiliki fungsi sebagai permulaan suatu kejadian,perpindahan ruang, yaitu dari dalam ke luar, dari ruang sempit ke ruang yanglebih luas, dan pendapat pribadi ke pendapat umum
KESALAHAN PENGGUNAAN SETSUZOKUSHI SOREDE DAN DAKARA PADA MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA JEPANG ANGKATAN 2012
Kata Kunci : Kesalahan, Setsuzokushi Dalam mempelajari bahasa Jepang sebagai bahasa asing banyak dilakukan kesalahan karena dalam bahasa Jepang banyak kosakata yang memiliki kemiripan makna dan beragam pola kalimat yang penggunaannya memiliki aturan. Salah satunya adalah penggunaan setsuzokushi sorede dan dakara yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memiliki makna sama yaitu “oleh karena ituâ€. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesalahan fungsi penggunaan sorede dan dakara dan untuk mengetahui penyebab kesalahan yang telah dilakukan.Penelitian ini menggunakan metode penelitian campuran kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan strategi triangulasi konkuren. Metode kuantitatif digunakan untuk menjabarkan instrumen penelitian dan kualitatif digunakan untuk menganalisis data secara rinci untuk mendeskripsikan kesalahan fungsi dan penyebab kesalahan. Data yang diperoleh berupa kesalahan penggunaan setsuzokushi sorede dan dakara dengan menggunakan instrumen penelitian tes dan angket. Selajutnya kesalahan diidentifikasi berdasarkan fungsi penggunaan sorede dan dakara dan dilakukan pencarian faktor penyebab kesalahan.Hasil penelitian menunjukkan dari 10 fungsi yang ada, kesalahan tertinggi terdapat pada fungsi sorede dan dakara yang dapat disubstitusikan dan pada fungsi dakara yang digunakan untuk menyatakan bahwa kalimat yang muncul di awal menjadi alasan dilakukannya kalimat berikutnya. Penyebab utama kesalahan adalah interferensi dan kebiasaan.Diharapkan pengajar mengutamakan pemahaman pemelajar melalui penjabaran tiap fungsi beserta contohnya dan mahasiswa menganalisis tiap fungsi tersebut. Setelah pemberian materi, diberikan waktu kepada mahasiswa untuk menulis daftar fungsi dan diberikan latihan soal. Diharapkan penelitian selanjutnya dapat memperluas kajian dengan menambahkan jouken no setsuzokushi yang lain, misalnya sokode, shitagatte atau penggunaan setsuzokushi lain yang memiliki kemiripan makna
KANCING BAJU SEBAGAI SIMBOL PADA GENG ANAK – ANAK DALAM FILM LA NOUVELLE GUERRE DES BOUTONS : KAJIAN SEMIOTIKA
Kata Kunci : Film, Semiotika, Simbol, Masyarakat, Geng.Film telah menunjukkan perkembangan yang baik dari waktu ke waktu. Hingga saat ini film disajikan melalui media digital sehingga lebih mudah diakses. Cerita yang dibawakan juga bermacam – macam dan salah satu yang menarik adalah film yang berkisah tentang kehidupan sosial masyarakat dimana terdapat simbol yang diakui secara bersama dalam masyarakat dan memiliki peran penting terhadap jalan cerita dari film tersebut. Dalam penelitian ini penulis menganalisis simbol kancing baju yang terdapat pada geng anak – anak dalam film La Nouvelle Guerre des Boutons. Selanjutnya penulis menjawab rumusan masalah terkait fenomena simbol kancing baju tersebut yaitu : (1) bagaimana kancing baju digambarkan sebagai simbol dalam film La Nouvelle Guerre des Boutons (2) makna apa yang tersirat pada kancing baju sebagai sebuah simbol bagi geng anak–anak dalam film La Nouvelle Guerre des Boutons.Lebih lanjut, penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan didasarkan pada teori semiotika Peirce untuk menjawab permasalahan tersebut. Penulis secara bertahap mengelompokkan data yang diperoleh dalam film seperti potongan gambar, dialog, maupun monolog pada tokoh untuk kemudian dijelaskan melalui teori semiotika Peirce.Dari hasil penelitian ini, penulis menemukan bahwa kancing baju pada geng anak–anak dalam film La Nouvelle Guerre des Boutons digunakan sebagai simbol harga diri, simbol kemenangan, juga simbol kedudukan. Hal ini dapat terlihat dari interaksi antara dua geng berupa peperangan, yang mana mereka harus mengumpulkan lebih banyak kancing dari pada geng yang lain agar memperoleh kemenangan. Selain itu kancing baju juga disematkan di dada kiri pemimpin geng sebagai simbol kedudukan bahwa siapa yang tersematkan kancing baju di dada kirinya maka dia merupakan pimpinan dari suatu geng.Kedepan, penulis mengharapkan adanya penelitian lanjutan yang mengkaji secara mendalam film La Nouvelle Guerre des Boutons dengan menggunakan teori psikologi perilaku
THE VIOLATION OF CONVERSATIONAL MAXIMS BY SALESPERSONS OF “REVLON†COSMETIC IN TWO DEPARTMENT STORES IN MALANG
Keywords: cooperative principle, violation of maxims, Revlon, salespersonsLanguage is a system to transfer and to inform something through communication. In the real life sometimes people do not obey the cooperative principles. The researcher conducts a study on the violation of conversational maxims by salespersons of “Revlon†cosmetic in two department stores in Malang. There are two problems in this study: (1) What maxims are violated by the salespersons of Revlon cosmetic while offering their products to customer? (2) What are the possible factors which cause the violation of certain maxims? This study answers the problems by using theory proposed by Paul Grice.This research used a qualitative method because the analysis conducted by the researcher was descriptive. The data are the utterances from the salespersons of Revlon cosmetic which contain violation of maxims.The results of this research show that there are 21 utterances containing violation of maxims produced by two salespersons in two different places which are Matahari Matos and Center Point MOG. In this research, maxim of quantity is often violated by those salespersons for 11 time; maxim of manner 8 time; maxim of quality 1 time; maxim of relation 1 time. The possible factors of violating a certain maxim in the salespersons utterances are: to explain more or stress something in order to make the hearers understand more; to hide the truth from the hearer and also to make the hearer believe in what the speakers say; to expect to get more attention from their customer by giving exaggerating statements about the products that they tried to offer to the customer; and to give information that they think is important.In conclusion, this study shows that violation can happen in the real life situation like in the conversation between the salespersons of Revlon cosmetic with the customers while offering the products. Finally after finishing this study, the researcher hopes that there will be more students in Faculty of Cultural Studies that do research in violation of maxims in their study
A GENDER PERSPECTIVE IN LANGUAGE USE OF MIDDLE EASTERN FREEDOM ACTIVISTS’ SPEECHES
Keywords: gender perspective, language use, speech, freedom activist, MiddleEast. This research aims to examine the language use of the Middle Eastern freedom activists’ speeches through gender perspective. This research investigates (1) what gender differences in language use showed by male and female Middle Eastern freedom activists’ speeches, and (2) how the language for speech used by male and female speakers influences the audience of the Middle Eastern freedom activists’ speeches.Qualitative approach is used in this research. The data source are from male and female Middle Eastern freedom activists’ speech videos. Then, the data are the speeches of freedom activist which are transcribed into written texts as the primarydata and respondents’ opinion as the secondary data. Three transcriptions from eachgender are considered proper to answer the problems in this research. In analysingthe data, the theories employed are about male and female spoken language differences by Haas (1979) and the language for speech by Jones and Peccei (2004).In answering the second problem of the research, it is also required 10 respondentswith certain criteria.The result reveals that there are sets of spoken language differences between male and female speakers. Male speakers’ language can be characterised as: 1) Form: coarse, direct, using pun, using pronominal apposition, 2) Topic: politics, human relation, 3) Content: using male adjectives, 4) Use: lecture, assert, command. In spite of that, female speakers’ language can be characterised as: 1) Form: polite, 2) Topic: social problem, 3) Content: using hyperbole, using adverb of intensity, 4) Use: non-assertive, tentative. In using the language for speech, both male and female speakers produce metaphor, euphemism, the ‘rule of three’, parallelism, and pronouns in random frequency of production, which cannot be separated by genders. Moreover, it cannot be concluded that one gender is more potential than the other to influence the audience in delivering speech. There are also other factors, particularly non-verbal factors, exist to give impacts on how a speech can influence the audience.The next researchers are suggested to conduct a similar research with different objects or to explore gender differences in language use by applying other approach. The next researchers might look into the gender differences in language use from literary works as well