Widyanuklida
Not a member yet
98 research outputs found
Sort by
Kajian Implementasi Inspeksi Internal Keselamatan Radiasi di Fasilitas Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional
ABSTRAK Telah dilakukan kajian implementasi inspeksi internal keselamatan radiasi di fasilitas radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Inspeksi internal keselamatan radiasi di lingkungan BATAN didasarkan pada Keputusan Kepala BATAN No. 356/KA/VIII/1999. Inspeksi internal ini berlangsung sejak tahun 1999 s.d. 2005. Namun dengan terbitnya Keputusan Kepala BATAN No. 392/KA/XI/2005, maka inspeksi internal keselamatan radiasi tersebut tidak dilaksanakan lagi. Selanjutnya inspeksi internal/pemantauan keselamatan radiasi menjadi tanggung jawab masing-masing satuan kerja. Implementasi inspeksi internal keselamatan mengacu pada 19 elemen yang tercantum dalam Panduan Inspeksi Keselamatan Radiasi BATAN Revisi ke-3. Tahapan kegiatan inspeksi internal keselamatan radiasi meliputi: persiapan, pertemuan awal dan pemeriksaan dokumen, verifikasi lapangan, pertemuan akhir, serta penyusunan laporan inspeksi internal. Pelaksanaan inspeksi internal dilakukan oleh tim yang dikoordinir oleh ketua dengan surat tugas dari pejabat berwenang pada masing-masing satuan kerja. Persiapan inspeksi internal dilakukan dengan menyiapkan daftar periksa dan dokumen lainnya, alat ukur radiasi serta peralatan pendukung lainnya. Mengingat keterbatasan waktu dan personil yang ada, audit dan verifikasi lapangan hanya mengacu pada sebagian elemen/parameter inspeksi. Namun demikian, implementasi inspeksi internal dapat mencakup semua parameter inspeksi sebagaimana tercantum dalam Panduan Inspeksi Keselamatan Radiasi BATAN apabila diperlukan dan sumber daya yang dibutuhkan tersedia. Hasil pelaksanaan inspeksi internal kemudian disusun dalam suatu laporan hasil inspeksi. Kesimpulan dan saran-saran yang disampaikan dalam laporan menjadi landasan tindakan perbaikan yang harus ditindaklanjuti oleh penanggungjawab fasilitas radiasi. ABSTRACT Internal inspections of radiation safety in radiation facilities has been performed at National Nuclear Energy Agency (BATAN). Internal inspections of radiation safety at BATAN based on the Decree of the Head BATAN No. 356/KA/VIII11999. The internal inspection lasted since 1999 till 2005. With the publication of Decree of Head BATAN No. 392/KA/Xl/2005, the internal safety inspections radiation are not executed anymore. Further internal inspection / monitoring radiation safety is the responsibility of each work unit. Implementation of internal safety inspection refers to 19 elements listed in the BATAN Radiation Safety Inspection Guide Revised 3rd The stages of internal inspections of radiation sofety activities include: preparation, initial meeting and inspection of documents, field verification, the end of the meeting, as well as the reporting of the internal inspection. Internal inspections carried out by a team coordinated by the chairman with the appointment letter from the competent authority in each working unit. Preparation of internal inspections carried out by preparing checklists and other documents, as well as the radiation measuring instruments and other support equipment. Given the limitations of time and personnel, audits and field verification only refers to the partial element / parameter inspection. However, the implementation of an internal inspection can cover all inspection parameters as listed in the Radiation Safety Inspection Guide BATAN if necessary and required resources available. The results of internal inspections are then arranged in an inspection report. Conclusions and suggestions are presented in the statement of the basis the corrective action must befollowed up by the responsible radiation facility.
Radiocarbon Dating Using LSC
ABSTRACT Radiocarbon dating is a method of nuclear technique for obtaining age estimates on organic materials. Determination of wood (from Horyuji Shrine) and coral sample (from JCAC area) is due in Japan Chemical Analysis Center in the frame of Instructor Training Program. It uses SRM 4990C, wood and marble blanks. Preparation of samples, standard, and blanks is due by benzene synthesis method. Chemical Yield of preparation was 86,8%. Liquid scintillator is added and counted using Liquid Scintillation Counter (LSC) Wallac 1220 Quantulus at least 10 hours. The result of wood age is (1204 ± 37) years (BP) and coral age is (160 ± 45) years (BP) in term of confidence level 68%. ABSTRAK Radiocarbon Dating merupakan salah satu aplikasi teknik nuklir yang digunakan untuk menentukan umur suatu obyek. Penentuan umur dengan metode tersebut terhadap sampel kayu (dari kuil Horyuji) dan kulit kerang (dari hasil penggalian di area JCAC) dilakukan di Japan Chemical Analysis Center dalam kerangka Instructor Training Program. Dalam penentuan tersebut digunakan standar SRM 4990C, blanko kayu dan kapur. Preparasi sample, standard dan blanko dilakukan dengan metode sintesis benzene. Kedapatulangan proses preparasi sebesar 86,8%. Benzene yang dihasilkan ditambah sintilator cair dan dilakukan pengukuran menggunakan Pencacah Sintilasi Cair Wallac 1220 Quantulus selama minimum 10 jam. Didapatkan umur dari kayu (1204 ± 37) tahun dan umur dari kulit kerang (7160 ± 45) tahun, dengan tingkat kepercayaan 68%
Manajemen Limbah NORM/TENORM Dalam Kegiatan Industri Minyak dan Gas
ABSTRAK Makalah ini menyajikan cara pengelolaan limbah NORM/TENORM yang berasal dari industri minyak dan gas. Dalam makalah ini diuraikan mengenai asal usul NORM/TENORM, dampaknya terhadap pekerja maupun lingkungan, dan regulasi maupun teknik pengelolaan limbah NORM/TENORM. Meskipun belum ada ketentuan atau peraturan khusus yang mengatur mengenai pengelolaan limbah NORM/TENORM, tetapi pengelolaan limbahnya dapat didasarkan pada metode/standard untuk pengelolaan limbah radioaktif. ABSTRACT This paper describes how to manage NORM/TENORM waste from oil and gas industries, including the origin of the NORM/TENORM waste, the radiological aspect to worker and environment, regulation and treatment of the NORM/TENORM waste. Although there is not yet any regulation on how to manage the NORM/TENORM waste, the standard method of radioactive disposal can be applied to manage the NORM/TENORM waste.
Pengukuran Konsentrasi Radioaktivitas Udara Lingkungan di Kawasan Pusat Penelitian Tenaga Nuklir Pasar Jumat, Jakarta
ABSTRAK Pengukuran tingkat radioaktivitas udara lingkungan di kawasan PPTN Pasar Jumat telah dilakukan dengan mengambil sampel di 11 titik dalam kawasan yaitu 3 titik di kawasan Pusat Pendidikan dan Pelatihan (PUSDIKLAT), 3 titik di kawasan Pusat Pengembangan Bahan Galian dan Geologi Nuklir (P2BGGN), 2 titik di kawasan Pusat Penelitian dan Pengembangan Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir (P3KRBiN) dan 3 titik di kawasan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi (P3TIR). Dalam perhitungan konsentrasi radioaktivitas udara (KRU) ini dipertimbangkan parameter waktu paro radionuklida dan koreksi faktor geometri pencacahan sampel terhadap sumber standard Ra.D.E.F. Partikulat udara dikumpulkan dengan kertas filter menggunakan air sampler dan dicacah menggunakan alat pencacah Geiger Mueller. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan diperoleh tingkat KRU tertinggi di ruang limbah (P3KRBiN) yaitu sebesar 1,56502 Bq/liter, sedangkan KRU terendah di halaman belakang SDAL (P3TIR) yaitu sebesar 4,52441 x10-3 Bq/liter. Tingkat KRU yang lain berturut-turut adalah 9,7231 x10-3 Bq/liter (ruang kelas A-Pusdiklat), 9,2174 x10-2 Bq/liter (bunker penyimpanan sumber-Pusdiklat), 7,19356 x10-2 Bq/liter (di atas bunker penyimpanan sumber-Pusdiklat), 6,01847 x10-3 Bq/liter (depan pintu masuk gedung Pusdiklat), 4,89352 x10-3 Bq/liter (tempat penyimpanan limbah cair-P2BGGN), 5,85681 x10-3 Bq/liter (pembuangan udara Lab Geokimia-P2BGGN), 2,7457 x10-1 Bq/liter (ruang pengerusan Lab. Geokimia-P2BGGN), 1,58613 x10-2 Bq/liter (taman-P3KRBiN), 5,36863 x10-3 Bq/liter (depan pintu penyimpanan limbah-P3TIR) dan 4,93260 x10-3 Bq/liter (menara air-P3TIR). ABSTRACT Level of radioactivity in the air was measured from samples at 11 locations in the Nuclear Research Centre Area; namely 3 location at Centre for Education and Training (CET) area, 3 locations at Centre for Development Nuclear Ore and Geology (CDNOG) area, 2 points at Centre for Development of Isotopes an Radiation Technology (CDIRT) area and 3 locations at Centre for Development of Radiation Safety and Nuclear Bio-medicine (CDRSNB) area. In the calculation of radioactivity concentration in the air (derived air concentrations - DAC), it is considered radionuclide half-life and geometric factor on the counting. Air particulates are collected in the filter by using air sampler. Then it's activity is measured by GM counter. Based on the measurement, the location at waste room (CDRSNB) has the highest DAC, as 1.56502 Bq/liter. Meanwhile, the location at backyard SDAL (CDIRT) has the lowest DAC, as 4.52441 x10-3 Bq/liter. The other DAC subsequently, are 9.7231 x10-3 Bq/liter (class room A-CET)), 9.2174 x10-2 Bq/liter (bunker CET), 7.19356 x10-2 Bq/liter (above bunker-CET), 6.01847 x10-3 Bq/liter (front of entry door CET), 4.89352 x10-3 Bq/liter (liquid waste room-CDNOG), 5.85681 x10-3 Bq/liter (air outlet Geochemical lab-CDNOG), 2.7457 x10-1 Bq/liter (Geochemical lab-CDNOG), 1.58613 x10-2 Bq/liter (park-CDRSNB), 5.36863 x10-3 Bq/liter (front of radioactive waste storage-CDIRT) and 4,9326 x10-3 Bq/liter (water tower-CDIRT)
Peningkatan Mutu Hasil Uji Kompetensi Personil Sebagai Strategi Pengawasan Tenaga Nuklir
ABSTRAK Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) memberikan rekomendasi kepada Badan Pengawas untuk melakukan review dan pengujian terhadap kompetensi personil yang terlibat dalam pengoperasian instalasi nuklir. Untuk menjamin mutu, pengujian tersebut harus berdasarkan pada kompetensi standar tertentu. Makalah ini mengkaji sistem uji kompetensi yang dikembangkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang meliputi tiga pilar utama yaitu Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), Lembaga Diklat Profesi (LDP) & Lembaga Serti?kasi Profesi (LSP) dan BAPETEN dalam memberikan Surat Ijin Bekerja (SIB) Petugas Proteksi Radiasi (PPR). Sistem yang dikembangkan oleh BNSP lebih ditekankan pada kompetensi standar suatu jenis pekerjaan, sedangkan sistem yang dikembangkan oleh BAPETEN mengacu pada silabus/materi pelatihan. Untuk meningkatkan mutu, sistem pengujian dapat mengacu pada kompetensi standar yang dikembangkan oleh BNSP. Dari sudut pandang pengawasan, penempatan personil berkompeten akan meminimalisir terjadinya kesalahan dan kecelakaan yang disebabkan faktor manusia. ABSTRACT The International Atomic Energy Agency (IAEA) give recommendation to regulatory authority to review and assess the competence of personnel involved in the operation of nuclear installation. In order to assure the quality, the assessment should based on defined standard competency. This paper evaluate the two system that had been developed by BNSP which is consist of three mind building (that are SKKNI, LDP and LSP) and BAPETEN in the process granting of license for Radiation Protection Officer. The previous system mainly based on standard competency for defined task, meanwhile for the later based on training syllabus. To improve the quality, the assessment method can refer to system that had been developed by BNSP. From the regulatory authority's stand point, the selection of qualified personnel will minimize the occurrence that may lead to accident, especially human error factor.
Peran Strategik Pelatihan dalam Pengembangan Sumberdaya Manusia untuk Meningkatkan Daya Saing Lembaga
ABSTRAK Pelatihan merupakan perangkat strategik untuk menguatkan daya saing organisasi melalui pengembangan sumberdaya manusia. Untuk mendorong tercapainya sasaran strategik, penting bagi suatu organisasi untuk mengaitkan program pelatihan dengan perencanaan strategik organisasi tersebut. Terdapat lima prinsip utama pembelajaran dalam disain pelatihan agar diperoleh hasil yang lebih baik. Dalam contoh kasus akan ditunjukkan bahwa menerapkan prinsip tersebut membuat daya saing suatu tim meningkat. ABSTRACT Training is a strategic tool to strengthen the competitiveness of organizations through human resource development. To support achieving the strategic objective of organization, it is important to establish a link between strategic planning of organization and its training program. There are five core principles of learning in training design to guarantee better results. A case study will be presented to indicate that applying those principles into practice will increase the competitive edge of a team.
Analisis Evaluasi Program Pelatihan di Pusdiklat BATAN
ABSTRAK Telah dilakukan analisis terhadap evaluasi program pelatihan Pusdiklat BATAN. Sampel data diambil dari pelaksanaan pelatihan pada Triwulan III tahun 2013 dengan 5 pelatihan yang telah dilakukan yaitu pelatihan: Tanggap Darurat, Pengkajian Dosis, ITN Guru SMA (II), Proteksi Fisik I untuk Medik dan Pengelolaan Limbah Radioaktif. Hasil analisis digunakan untuk perbaikan pelatihan yang akan datang. Analisis dilakukan terhadap hasil evaluasi pada semua komponen program pelatihan yang memiliki nilai pencapaian target mutu kurang dari 70% atau yang memiliki banyak keluhan pelanggan. Berdasarkan hasil analisis evaluasi program pelatihan dengan nilai komponen program kurang dari 70% adalah pelatihan Pengkajian Dosis. Pelatihan yang memiliki banyak keluhan pelanggan pada komponen program adalah pelatihan Tanggap Darurat, ITN Guru SMA (II), Proteksi Fisik I, Pengelolaan Limbah Radioaktif. ABSTRACT Training program evaluation analysis in the Center for Education and Training - BATAN has been done. Data are taken from 5 training courses in third Quarter of 2013, i.e. Emergency Response Training Course, Dose Assessment Training Course. Nuclear Technique Introduction for Senior High School Teacher II Training Course and Physic Protection 1 for Medical and Radioactive Waste Management Training Course. The result of the analysis is used for maintaining the next training course. Analysis has been done for all training program components which have quality less than 70% or have a 10/ of customer complaints. Based on the training program evaluation result with program component's grade less than 70% is Dose Assessment Training Course. Training courses which has a lot of customer complaints are Emergency Response Training Course, Nuclear Technique Introduction for Senior High School Teacher II Training Course and Physic Protection 1 for Medical and Radioactive Waste Management Training Course.
Column Mode Study to Evaluate The Behavior of Metal Adsorption of Phosphoric Adsorbent Synthesized by Radiation Induced Graft Polymerization
ABSTRACT Column mode study were performed to evaluate the behavior of fibrous adsorbent having phosphoric function prepared by directly synthesis of 2-hydroxyethyl methacrylate phosphoric acid onto polypropylene coated polyethylene by radiation induced graft polymerization. The parameter observed was effect of pH, adsorbent form, metal concentration, flow rate and degree of grafting. The higher degree of grafting obtained was 427% which correspond to 5.2 mmol phosphoric content. In the column mode adsorption of Pb by using column packed with phosphoric adsorbent, the optimum pH found was 6 and the breakthrough curve Na and H form of adsorbent was similar, meaning the same behavior of adsorbent kinetics. The breakthrough point and curve do not strongly depend on flow rates which indicate that the adsorbent has a high adsorption rate. The adsorbent also has good ability to adsorb Pb, Cd, Co and Zr. The highest adsorption capacity obtained was 4.2 mmol/g adsorbent for Pb and Zr. ABSTRAK Studi mode column dilakukan untuk mengevaluasi sifat-sifat dari adsorbent serat yang memiliki gugus fungsi phosphor. Serat adsorbent disintesis langsung dengan cara polimerisasi cangkok monomer 2-hydroxyethyl methacrilate phosphoric acid pada serat polipropilene yang di coating poliethylene dengan menggunakan radiasi. Parameter yang diteliti adalah pengaruh dari pH, tipe adsorbent, konsentrasi logam, kecepatan alir dan persen grafting. Persen grafting tertinggi yang diperoleh adalah 427% setara kandungan phosphor sebanyak 5.2 mmol. Adsorpsi metoda column dengan menggunakan column packing yang mengandung adsorbent bergugus fungi phosphor untuk logam Pb diperoleh pH optimum adalah 6 dan breakthrough dari adsorbent tipe Na dan H adalah sama atau keduanya memiliki kesamaan kinetika penyerapan. Kurva dan titik breakthrough tidak secara kuat dipengaruhi oleh kecepatan alir, hal ini menandakan adsorbent memiliki kecepatan penyerapan yang tinggi. Adsorben memiliki kemampuan penyerapan yang baik terhadap Pb, Cd, Co dan Zr. Kapasitas penyerapan tertinggi adalah 4.2 mmol/gram penyerap untuk Pb dan Zr
Constructing Eh-pH Diagrams of Plutonium by Using Its Thermodynamics Properties
ABSTRACT Eh-pH diagrams of Plutonium under standard temperature and pressure (STP) condition are constructed. The stability domain of water is described based on redox reaction of water with oxygen and hydrogen. Two pair lines which are almost paralel to each other are found. Redox reaction of Plutonium poduces four Nerst equations; each equation is represented by one line and one vertical line as a result of non redox reaction. The length of each line depends on other lines. There are two pair lines which are overlapped each other if the concentration of each species equals to 10-9 M. It is also described Eh-pH diagrams for Plutonium with different concentrations. ABSTRAK Telah dibuat diagram Eh-pH Plutonium di dalam udara dengan tekanan dan suhu standar. Daerah stabilitas air ditentukan berdasarkan reaksi redoks air - oksigen dan air - hidrogen. Didapatkan dua pasang garis lurus yang hampir sejajar satu sama lain. Reaksi redoks dari Plutonium menghasilkan 4 persamaan Nerst, tiap persamaan digambarkan dalam bentuk garis dan satu garis tegak akibat reaksi non redoks. Panjang setiap garis sangat bergantung pada garis - garis lainnya. Didapatkan dua pasangan garis yang saling tumpang - tindih kalau konsentrasi masing-masing spesiesnya sama dengan 10-9 M. Digambarkan juga Ehl-pH diagram untuk konsentrasi spesies Plutonium yang tidak sama
Pengamanan Sumber Radiasi
ABSTRAK Program yang lengkap dalam menghadapi penggunaan sumber radiasi untuk maksud jahat memerlukan beberapa pertimbangan yang meliputi: ketepatan desain dan fabrikasi dari sumber radiasi, berbagai maksud dari akuisisi sumber radiasi, pencegahan penggunaan sumber radiasi yang diperlukan, dan pengurangan efek yang disebabkan oleh sumber radiasi yang digunakan dengan maksud tidak baik. Dalam makalah ini dibahas mengenai proses menentukan tingkat keamanan yang diperlukan oleh sumber radiasi dalam seluruh kegiatannya, dan penetapan tindakan keamanan untuk sumber radiasi berdasarkan tingkatan kinerja yang dipersyaratkan untuk menghalangi, mendeteksi, dan jika perlu respon terhadap pencurian zat radioaktif. ABSTRACT A complete programme aimed at addressing the malevolent use of radioactive sources needs to consider a large range of issues including: the appropriate design and manufacture of sources, the various means of acquisition of sources, the prevention of use any sources acquired, and the mitigation of the impacts if sources are used maliciously. In this paper will be described the process to determine what level of security is required for sources throughout their lifecycle, and the assignment of security measures to sources based on graded performance requirements to deter, detect, and if necessary respond to theft of radioactive material.