Widyanuklida
Not a member yet
98 research outputs found
Sort by
Verifikasi Dosis H*(10) Pada Evaluasi Dosis Radiasi Lingkungan Menggunakan Dosimeter OSL
Telah dilakukan verifikasi dosis H*(10) pada evaluasi dosis radiasi lingkungan menggunakan dosimeter OSL tipe EX. Pertama, disiapkan dosimeter OSL tipe EX sebanyak 16 buah yang dibagi menjadi 4 grup yaitu Grup Kontrol, Grup 1, Grup 2 dan Grup 3 yang masing-masing grup terdapat 4 buah dosimeter. Kemudian, dosimeter OSL pada Grup 1, Grup 2, dan Grup 3 disinari dengan radiasi dari sumber Cs-137 dengan dosis H*(10) masing-masing 1 mSv, 2,5 mSv, dan 5 mSv. Hasil analisis menunjukkan bahwa rasio nilai measured dose terhadap true dose adalah 0,87 - 0,95 (deviasi measured dose terhadap true dose berkisar antara 7 - 13%) pada penyinaran 1 mSv, 1,03 - 1,07 (deviasi berkisar 3 - 7 %) pada penyinaran 2,5 mSv, dan 1,07 - 1,13 (deviasi sekitar 7 - 13%) pada penyinaran 5 mSv. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa nilai deviasi measured dose terhadap true dose ≤ 13% sehingga pengukuran dosis radiasi lingkungan/daerah kerja menggunakan dosimeter OSL tipe EX di Subbidang KKPR PTKMR BATAN dapat dipercaya. Namun demikian perlu dilakukan kajian lebih lanjut terhadap tingkat kepercayaan hasil evaluasi dosis H*(10) dengan dosis kurang dari 1 mSv
Kajian Penerapan e-Learning Materi Estimasi Ketidakpastian Pengukuran Pada Pelatihan Pranata Nuklir
Pusat Pendidikan dan Pelatihan BATAN menyelenggarakan Pelatihan Pranata Nuklir sebagai persyaratan untuk memasuki jabatan fungsional Pranata Nuklir. Sejak tahun 2016, sebagian materi, termasuk Estimasi Ketidakpastian Pengukuran, disampaikan dengan penggabungan metode e-learning dan tatap muka. Metode e-learning membutuhkan bahan ajar yang sesuai, supaya penyerapan materi oleh peserta lebih efektif. Kajian efektivitas penerapan metode e-learning diperlukan untuk pengembangan bahan ajar. Kajian dilakukan dengan membandingkan hasil ujian untuk materi tersebut pada pelatihan dengan penyampaian materi secara tatap muka dan e-learning untuk Pelatihan Pranata Nuklir Keterampilan dan Keahlian. Metode praktikum yang berupa pengambilan data dan perhitungan yang diberikan setelah materi teori digantikan oleh latihan menggunakan file Excel yang dilengkapi data. Slide skema pembelajaran disertakan sebagai panduan tahapan pembelajaran supaya mudah diikuti oleh peserta. Berdasarkan hasil ujian materi Estimasi Ketidakpastian Pengukuran Pelatihan Pranata Nuklir Keterampilan secara tatap muka dan e-learning memberikan capaian 59,4% dan 59,6%. Pada Pelatihan Pranata Nuklir secara tatap muka memberikan capaian 63,3% dan 62,5%, sedangkan penyampaian secara e-learning memberikan capaian 57,6%, secara statistik menunjukkan capaian yang lebih rendah
Analisis Instrumen Evaluasi Hasil Belajar Pelatihan Petugas Proteksi Radiasi Bidang Industri Tingkat 3 Tahun 2017
Efektivitas suatu program pelatihan dapat diukur dari pencapaian evaluasi hasil belajar. Agar pengukuran terhadap efektifitas program pelatihan tersebut benar, maka dibutuhkan alat ukur yang reliabel dan valid. Untuk mengetahui reliabilitas dan validitas instrumen evaluasi hasil belajar, maka dilakukan analisis butir soal. Telah dilakukan analisis butir soal ujian tulis Pelatihan Petugas Proteksi Radiasi Industri Tingkat 3 yang diselenggarakan selama tahun 2017 menggunakan aplikasi ANATES. Dari hasil analisis diperoleh rentang tingkat reliabilitas rendah - sangat tinggi dengan nilai korelasi (rtt) 0,40 - 0,89. Sedangkan untuk validitas butir soal, dengan korelasi signifikan dan sangat signifikan (r > 0,251), memiliki rentang 44% - 70%
Penerapan Keamanan Sumber Radioaktif dalam Penggunaan dan Penyimpanan di Pusdiklat-BATAN
Pusdiklat BATAN memanfaatkan sumber radioaktif dalam menyelenggarakan kegiatan pelatihan. Oleh karena itu, selain memenuhi persyaratan keselamatan, Pusdiklat BATAN juga harus menerapkan keamanan sumber radioaktif sesuai dengan Perka BAPETEN No. 6 Tahun 2015 tentang Keamanan Sumber Radioaktif. Untuk meyakinkan bahwa Pusdiklat BATAN telah menerapkan keamanan sumber radioaktif dalam penggunaan dan penyimpanan yang memenuhi peraturan, maka dilakukan telaah mengenai penerapan keamanan sumber radioaktif dengan pendekataan telaah dokumen, pengamatan dan wawancara. Diperoleh hasil bahwa Pusdiklat BATAN telah menunjuk personel yang bertugas sebagai pengelola sumber radioaktif dan secara bertahap melengkapi peralatan keamanan sesuai dengan yang persyaratan. Untuk melengkapi pemenuhan persyaratan tersebut Pusdiklat Batan masih perlu menyusun prosedur keamanan tertulis sebagai salah satu komponen sistem keamanan dan melakukan uji unjuk kerja secara periodik sistem keamanan yang ada untuk meyakinkan sistem keamanan telah memenuhi fungsi keamanan
Tinjauan Sistem Manajemen Pemanfaatan Tenaga Nuklir Dalam Pelaksanaan Praktikum Penanggulangan Kedaruratan Radiologi
Dalam pelatihan Petugas Proteksi Radiasi yang diadakan Pusdiklat Batan, terdapat kegiatan praktikum Penanggulangan Kedaruratan Radiologi dengan kasus sumber hilang yang mempunyai skenario yang cukup kompleks, sehingga memiliki potensi bahaya relatif besar. Sistem manajemen fasilitas dan pemanfaatan tenaga nuklir yang tercantum dalam Perka Bapeten No 4 Tahun 2010 merupakan persyaratan untuk jaminan mutu dalam keselamatan radiasi. Untuk mengetahui kesesuaian dengan persyaratan, dilakukan tinjauan sistem manajemen terhadap kegiatan praktikum tersebut dengan mengacu pada pelaksanaan proses (kendali produk serta pengujian, verifikasi, dan validasi), pengembangan proses (mengidentifikasi dan mengembangkan proses, serta persyaratan pengembangan proses), pemantauan, pengukuran, penilaian, dan perbaikan (ketidaksesuaian, tindakan korektif, dan pencegahan, serta peluang perbaikan). Kendali terhadap bahan ajar, peralatan yang digunakan, evaluasi kepuasan dan pencapaian tujuan pembelajaran sudah dilakukan, akan tetapi identifikasi perubahan jumlah peserta praktikum dan identifikasi risiko belum sepenuhnya terpenuhi. Identifikasi ketidaksesuaian yang dilakukan meliputi kualifikasi pembimbing, penyimpangan dari skenario, aktivitas sumber radioaktif, penggantian peralatan, kelalaian mengisi formulir peminjaman, dan pengawasan yang kurang memadai. Dampak dan keberterimaan terhadap proses perlu ditentukan. Beberapa tindakan pencegahan dengan pengadaan sumber radioaktif berumur paruh panjang, pengujian dan penjadwalan kalibrasi peralatan. Peluang perbaikan diperlukan terkait skenario pada kondisi hujan, uji kontaminasi sumber radioaktif, perekaman kompetensi personil secara lebih baik, verifikasi peminjaman dan pengembalian sumber radioaktif oleh atasan
Analisis Tingkat Kesukaran dan Daya Pembeda Butir Soal Ujian Pelatihan Radiografi Tingkat 1
Butir soal evaluasi hasil belajar yang baik, selain harus mempunyai tingkat kesukaran yang sesuai dengan tingkat hasil belajar yang akan diukur, juga harus mempunyai daya pembeda yang mampu membedakan peserta pelatihan pandai dan yang tidak pandai secara memadai. Guna mendapatkan butir-butir soal yang baik tersebut, telah dilakukan penelitian untuk menentukan tingkat kesukaran dan daya pembeda dari butir-butir soal ujian. Obyek dari penelitian ini adalah butir-butir soal Ujian General dan Ujian Spesifik yang dilaksanakan dalam pelatihan Radiografi Tingkat 1. Analisis dilakukan dengan metode analisis kuantatif dan pendekatan analisis kualitatif diskriptif sederhana. Pengambilan data dilakukan dengan cara melakukan penilaian terhadap setiap butir soal ujian. Dari hasil penilaian tersebut kemudian ditentukan tingkat kesukaran dan daya pembeda dari tiap butir soal. Dari hasil yang didapat, teramati bahwa perbandingan tingkat kesukaran dari ujian General adalah 2 butir soal sukar, 14 butir soal sedang, 22 butir soal mudah dan 2 butir soal sangat mudah, sedangkan untuk ujian Spesifik adalah 2 butir soal sukar, 26 butir soal sedang, 29 butir soal mudah dan 3 butir soal sangat mudah. Dari 40 butir soal ujian General terdapat 7 butir soal dan dari 60 butir soal ujian Spesifik terdapat 12 butir soal yang mempunyai tingkat kesukaran yang tidak sesuai dengan tingkat kesukaran yang diproyeksikan semula. Dari hasil analisis daya pembeda teramati 7 butir soal ujian General dan 11 butir soal ujian Spesifik mempunyai daya pembeda yang sangat rendah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jika soal tersebut ingin digunakan lagi, maka perlu dilakukan perbaikan terhadap butir-butir soal yang tingkat kesukarannya tidak sesuai dengan proyeksi awal, sedangkan untuk butir-butir yang daya pembedanya sangat rendah harus dibuang
Pembuatan Kurva Penyinaran Radiografi Ir-192 Menggunakan Persamaan Dosis
ABSTRAK Telah dilakukan pembuatan kurva penyinaran radiografi dengan sumber radiasi Ir-192. Kurva penyinaran adalah kurva hubungan antara ketebalan material dengan paparan (curie menit). Kurva penyinaran dibuat dengan melakukan sederet penyinaran radiografi pada sebuah step-wedge dengan waktu penyinaran yang berbeda. Penentuan waktu penyinaran dilakukan dengan perhitungan menggunakan persamaan dosis radiasi. Perhitungan dilakukan dengan mengacu nilai dosis 1400 mRem. Kurva penyinaran dibuat dengan regresi linier hubungan antara tebal (X) sebagai absis dan logaritma paparan (Log E) sebagai ordinat, menggunakan kalkulator CASIO PX-350MS. Kurva yang dihasilkan memiliki persamaan Log E = 1,72153 + (0,022115 X) curie menit. Hasil uji radiografi terhadap kurva penyinaran pada tiga variasi ketebalan material menghasilkan nilai densitas 2,64; 2,43; 2,51. ABSTRACT Making radiographic exposure chart of Ir-192 radiation source has been performed. Exposure chart is a curve that related between material thickness with exposure (curie minute). Exposure chart created by conducting a series of radiographic exposure on a step-wedge with exposure time varying. Determination of exposure time is done with calculations using the radiation dose equations. The calculation is performed with reference to the value of 1400 mrem of radiation dose. Exposure chart was made by linear regression relationship between the thickness (X) as the abscissa and the logarithm of exposure (log E) as ordinate, using CALCULATOR CASIO FX-350MS. The resulting curve has the equation log E = 1.72153 + (0.022115 X) curie minutes. Radiographic test results of the exposure chart at three variations of the thickness of the material produced density values of 2.64; 2.43; 2.51.
Studi Literatur Penggunaan Emisi Positron Dalam Bidang Uji Tak Rusak
ABSTRAK Dilakukan studi literatur mengenai uji tak rusak menggunakan emisi positron. Studi literatur yang dilakukan meliputi sumber radiasi pemancar positron, proses interaksi positron dengan materi, teknik pengujian, sistem spektroskopi dan jenis material serta cacat yang dapat diuji. Hasil studi literatur disusun dalam suatu makalah.
Penentuan Faktor Konversi Dosis TLD Glass CaSO4 dan Pendose Digital PDM-102 Terhadap Film Badge
ABSTRAK Telah dilakukan evaluasi dosis TLD glass CaSO4 dan pendose digital PDM-102 terhadap film badge. Dalam penelitian ini dilakukan irradiasi terhadap ketiga jenis personal dosimeter menggunakan sumber standar Cs-137. Variasi dosis diatur dengan memvariasi waktu 0,5 jam, 1 jam dan 2 jam. Pembacaan dosis TLD glass CaSO4 dilakukan dengan TLD reader yang dimiliki Pusdiklat, sedangkan dosis film badge dievaluasi di PTKMR. Dengan membandingkan nilai evaluasi dosis ketiga jenis personal dosimeter dapat ditentukan suatu nilai faktor konversi. Diperoleh nilai faktor konversi untuk TLD glass CaS04 antara 0,76 - 0,94 sedangkan untuk Pendose digital PDM-102 adalah 0,82 - 1,58.
Analisis 226Ra Dalam Sampel Air Melalui Pengukuran 222Rn Dengan Metode Pencacahan Sintilasi Cair (LSC)
ABSTRAK Pengukuran 222Rn dalam sampel air menggunakan pencacah sintilasi cair (LSC) dapat dilakukan dengan mudah. Hal ini memungkinkan dilakukannya pengukuran 226Ra dalam sampel air melalui pengukuran anak luruh 222Rn menggunakan LSC. Sampel yang dianalisis diambil dari mata air panas Ciseeng Bogor dan air tanah Pusdiklat BATAN. 222Rn yang ada dalam sampel dilepas dengan cara pengadukan. Selanjutnya sampel didiamkan untuk jangka waktu tertentu dengan maksud untuk menumbuhkan 222Rn. 222Rn hasil penumbuhan diambil dari sampel dengan cara ekstraksi pelarut menggunakan pelarut toluene. Untuk pengukuran dengan LSC perlu ditambahkan PPO dan POPOP sebagai sintilator. Pengukuran dilakukan dengan metode Efficiency Tracing Method (ETM). Berdasarkan aktivitas 222Rn dalam sampel air dan waktu penumbuhannya, dapat dihitung aktivitas 226Ra dalam sampel air. Kandungan 226Ra dalam air tanah Pusdiklat BATAN tidak terdeteksi (<0,054 Bq/mL), sedangkan dalam sampel air panas Ciseeng sebesar (14,9 ± 0,8) Bq/L