Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
Penerapan Urban Agriculture melalui Teknik Budidaya Tanaman Microgreen untuk Mendukung Ketahanan Pangan Keluarga
Microgreen merupakan tanaman mini yang memiliki banyak manfaatnya. Microgreens berasal dari kata micro (kecil) dan greens (hijauan ) sehingga tanaman hijau yang masih kecil yang dipanen pada 7 hari sampai dengan 14 hari. Namun belum banyak warga yang mengetahui dan menanam tanaman ini. Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Pertanian Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon melakukan pendampingan kepada Ibu-Ibu warga Perumahan Bumi Arum Sari tentang teknik budidaya tanaman microgreens. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk memberikan edukasi selama pandemi Covid-19 agar warga memiliki kegiatan positif saat dirumah dengan berkebun dengan memanfaatkan lahan pekarangan. Kegiatan berkebun dapat meningkatan imunitas tubuh selain mengkonsumi makanan dengan gizi seimbang yang mengandung mineral, antioksidan dan vitamin tinggi. Budidaya tanaman microgreens sangat mudah dan tidak memerlukan lahan yang luas bahkan bisa ditanam di dalam rumah. Kita dapat menanam microgreen dari berbagai jenis tanaman sayuran seperti, brokoli, pakcoy, bayam, seledri, kangkung, dan lain lain. Harapan dari pengabdian ini adalah diperolehnya ketahanan pangan keluarga, serta mengasah keterampilan ibu rumah tangga dalam usaha tani Microgreens melalui penyediaan sayuran sehat bagi keluarga
Pengembangan Potensi Bunga Kecombrang (Etlingera elatior) Melalui Diversifikasi Olahan Pangan di Desa Simatohir, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara
Kecombrang merupakan jenis tanaman semak yang banyak ditemukan di kebun masyarakat
desa Simatohir, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Pemanfaatan bunga kecombrang
belum maksimal hanya dijadikan sebagai bumbu masakan. Dari beberapa penelitian
menunjukkan bahwa kecombrang memiliki banyak khasiat khususnya dalam mencegah dan
mengobati beragam penyakit sehingga kecombrang dapat dijadikan sebagai pangan fungsional.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan potensi bunga kecombrang (Etlingera elatior)
dengan pemanfaatannya menjadi olahan pangan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan
masyarakat setempat. Kegiatan ini dilaksanakan dalam beberapa tahap yaitu menjalin kerja
sama dengan pemerintah daerah setempat, uji pendahuluan pembuatan olahan kecombrang,
Sosialisasi dan pendampingan pengolahan kecombrang
Pengabdian kepada Masyarakat Peningkatan Kualitas Usaha Keripik Talas Asyifa Oleh-oleh
Talas merupakan bahan pangan lokal di Sumatera Barat mempunyai peranan penting untuk menjaga ketahanan pangan. Talas banyak dimanfaatkan sebagai makanan olahan didaerah-daerah. Permasalahan dijumpai pada UKM Asyifa Oleh-oleh perlu adanya peningkatan kualitas dan penerapan manajemen yang baik. Tujuan pengabdian ini untuk memberikan tambahan informasi penerapan teori KAIZEN untuk peningkatan kualitas produsi kepada UKM Asyifa Oleh-oleh. Metode yang digunakan dalam pengabdian adalah kunjungan lapangan diserta dengan ceramah secara timbal balik dilakukan secara langsung dan daring. Dalam diskusi tidak bersifat menggurui agar pesan inovasi yang ingin disampaikan sampai kepada UKM. Materi diskusi yang disampaikan masalah penerapan teori KAIZEN yaitu UKM perlu adanya perencanaan produksi, proses produksi pengolahan talas yang baik, adanya control terhadap mutu produksi serta kegiatan aktivitas selanjutnya, artinya ada usaha peningkatan mutu secara terus menerus (continuous improvement). Hasil yang diperoleh UKM menyambut baik masukan tersebut, dan kedepan akan dilaksanakan secara bertahap, disesuaikan dengan kemampuan SDM yang dimiliki oleh UKM Asyifa Oleh-Oleh. Saat ini prospek pemasaran kripik talas cukup bagus, pemasaran sudah dilaksanakan di wilayah Sumatera Barat dan luar Sumatera Barat. Keripik Asyifa oleh-oleh belum dikemas dengan baik. Adanya UKM ini sangat membantu peningkatan pendapat masyarakat disekitarnya
Efektivitas Aplikasi Biochar Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tiga Varietas Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)
Bawang merah merupakan salah satu komoditas utama sebagai penyumbang inflasi, dimana bawang merah memiliki peran strategis dalam perekonomian khususnya di Provinsi Sumatera Utara, dalam meningkatkan produksi bawang merah dapat dilakukan dengan perbaikan teknik budidaya yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas aplikasi biochar terhadap pertumbuhan dan produksi tiga varietas bawang merah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor yaitu varietas (bima, super philip dan medan lokal samosir) dan biochar (0 g/plot, 400 g/plot dan 800 g/plot). Parameter yang diamati yaitu panjang daun (cm), bobot basah umbi per plot (g) dan bobot kering umbi per plot (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian biochar dengan dosis 800 g/plot lebih baik dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi bawang merah. Varietas bima menghasilkan pertumbuhan panjang daun tertinggi untuk pertumbuhan tanaman dibandingkan varietas Super Philip dan Medan Lokal Samosir namun produksi varietas Super Philip menghasilkan bobot basah umbi perplot dan bobot kering umbi per plot tertinggi dibanding varietas Bima dan Medan Lokal Samosir
[Peran Teknologi Pascapanen dalam Menjamin Keamanan Produk Hortikultura] : Review
Produk hortikultura merupakan sumber pangan yang mengandung banyak vitamin dan mineral yang secara langsung berperan meningkatkan kesehatan. Oleh karena itu, menjaga kehigienitasan dan keamanan produk yang dikonsumsi menjadi sangat penting agar tidak menimbulkan gangguan kesehatan. Mengkonsumsi pangan yang aman merupakan hal penting dan merupakan bagian dari hak asasi manusia. Salah satu tujuan penerapan teknologi pascapanen adalah dalam rangka meningkatkan keamanan produk. Dalam tulisan ini diulas mengenai peran berbagai jenis teknologi penanganan pascapanen dalam menjamin keamanan produk, khususnya produk hortikultura. Beberapa teknologi penanganan pascapanen yang tepat terbukti dapat mengurangi residu ataupun cemaran yang mengkontaminasi produk-produk hortikultur
Pembibitan Vegetatif Stek dan Cangkok Jambu Biji (Psidium guajava) untuk Metode Tanaman Buah dalam Pot: Review
Tabulampot merupakan sebuah singkatan dari tanaman buah dalam pot yang menjadi solusi permasalahan masyarakat perkotaan saat ini yaitu lahan yang terbatas. Dengan tabulampot, masyarakat masih dapat membudidayakan tanaman buah tanpa membutuhkan lahan yang luas. Salah satu tanaman buah yang berpotensi untuk dijadikan tabulampot adalah jambu biji (Psidium guajava L.). Salah satu kunci keberhasilan dalam budidaya tabulampot adalah penggunaan bibit sesuai. Pembibitan jambu biji untuk tabulampot, disarankan menggunakan perbanyakan. Pembibitan jambu biji lebih disarankan menggunakan perbanyakan vegetatif untuk menghasilkan bibit tabulampot, seperti yang diterapkan pada pembibitan jambu biji (Psidium guajava L) di Unit Pelaksanaan Teknis Daerah Balai Pengembangan Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikultura Unit Ngipiksari, Kaliurang, Yogyakarta, Jawa Tengah menggunakan metode perbanyakan vegetatif cangkok dan stek. Keunggulan perbanyakan vegetatif yaitu sifat yang diturunkan sama persis dengan tanaman indukan dan cepat berbuah
Dampak Kepemilikan Modal Sosial terhadap Keberlangsungan Usaha Sayur Organik (Studi pada PO. Sayur Organik Merbabu (SOM) dan Kelompok Tani Tranggulasi Kabupaten Semarang)
Keberhasilan sebuah usaha tidak lepas dari peran modal sosial dimana modal sosial sangat berpengaruh terhadap perkembangan sebuah bisnis. Dalam menjalankan usaha sayur organik pada PO Sayur Organik Merbabu dan Kelompok Tani Tranggulasi diperlukan sebuah pendekatan modal sosial agar kegiatan ini tetap berkelanjutan. Mengetahui modal sosial yang dimiliki pemilik usaha sayur organik yang dilihat dari bentuk-bentuk modal sosial yaitu: bonding social capital, bridging social capital dan linking social capital.Mengetahui dampak dari kepemilikan bentuk modal sosial terhadap keberlangsungan usaha sayur organik Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian mengungkapkan 1) aspekBonding Social Capital di SOM melalui dukungan keluarga seperti keponakan dan sepupunya, sedangkan pada kelompok tani Tranggulasi aspekBonding Social Capital tidak terlihat. 2) Aspek Bridging Social Capital pada pihak SOM dan kelompok tani Tranggulasi sama-sama terlihat dengan menjaga hubungan baik dan kerjasama yang telah terjalin antara pemilik dengan karyawan, konsumen dan pemasok. 3) Aspek Linking Social Capital pada pihak SOM terlihat dikarenakan pihak SOM menggunakan modal secara mandiri dan bantuan dari campus Universitas Kristen Satya Wacana sedangkan pada kelompok tani Tranggulasi lebih terlihat hal ini dikarenakan pemilik mendapat bantuan dari pemerintah serta iuran dari kelompok. Keberlangsungan usaha sayur organik pada SOM dan Tranggulasi yang dilihat dari unsur modal, SDM dan pemasaran sangat berpengaruh dalam keberlanggsungan usaha hal ini dikarnakan tanpa ketiga aspek tersebut usaha yang dirintis tidak bisa berkembang dijaman yang semakin modern seperti sekarang ini, dan kedua usaha tersebut sama-sama saling mengembangkan ketiga aspek ini dalam usahanya sehingga usaha yang dirintis bisa berkembang sampai berdiri lebih dari lima tahun dan tetap populer dikalangan masyarakat hingga sekarang ini. Sehingga kepemilikan modal sosial(Bonding Social Capital, Bridging Social Capital, dan Linking Social Capital) dan aspek modal, SDM dan pemasaran sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan usaha sayur organik yang ada pada pemilik SOM dan kelompok tani Tranggulasi
Pengaruh Kapur, Pupuk P dan Pupuk Kandang Ayam Terhadap Beberapa Sifat Kimia Tanah Masam dan Hasil Umbi Bawang Merah
Kemasaman tanah dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan bawang merah rentan terhadap kemasaman tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kapur, pupuk fosfat dan pupuk kandang ayam terhadap sifat kimia tanah dan hasil umbi bawang merah. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap kelompok dengan 4 perlakuan yaitu: (P1) 0 t ha-1 kapur + 0 kg P ha-1 + 0 t ha-1 pupuk kandang ayam, (P2) 0 t ha-1 kapur + 0 kg P ha-1 + 10 t ha-1 pupuk kandang ayam, (P3) 1 t ha-1 kapur + 120 kg P Ha-1 + 0 t ha-1 pupuk kandang ayam, (P4) 1 t ha-1 kapur + 120 kg P Ha-1 + 10 t ha-1 pupuk kandang ayam dan diulang 4 kali di 3 lokasi dengan derajat kemasaman yang berbeda. Parameter yang diamati adalah beberapa sifat kimia tanah dan hasil umbi bawang merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi 1 t ha-1 kapur dapat meningkatkan pH tanah di tanah very strongly acidic dari 4,0 menjadi 4,5 dan aplikasi pupuk P meningkatkan P-tersedia di tanah dengan status P-tersedia rendah. Aplikasi 1 t ha-1 + 120 kg P ha-1 + 10 t ha-1 pupuk kandang ayam meningkatkan hasil umbi sebesar 11% di tanah extremely acidic dan aplikasi 1 t ha-1 + 120 kg P ha-1 tanpa pupuk kandang meningkatkan umbi panen sebesar 53% dan 11% di tanah very strongly acidic and strongly acidic. Rataan hasil panen di extremely acidic jauh lebih rendah dibandingkan di lokasi lainnya
Evaluasi Dampak Penyuluhan Pertanian pada Kegiatan Pekarangan Pangan Lestari di Kota Dumai
Penyuluhan dilaksanakan dalam kegiatan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) sebagai sumber
pangan keluarga yang dilakukan melalui pemanfaatan lahan pekarangan, lahan tidur dan lahan
kosong tidak produktif oleh kelompok masyarakat secara bersama-sama. Upaya ini
dilaksanakan secara berkelanjutan untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas,
pemanfaatan, dan pendapatan. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2020, bertujuan
mengevaluasi dampak pelaksanaan penyuluhan pertanian terhadap kegiatan P2L di Kecamatan
Dumai Selatan sebagai lokasi pelaksanaan P2L di Kota Dumai. Sampel kelompok dipilih
secara sengaja (purposive sampling) yakni kelompok pelaksana aktif kegiatan P2L. Sampel
petani dipilih secara acak sebanyak 30 orang. Data diambil dengan kuesioner, dianalisis secara
deskriptif menggunakan Skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden menilai
lima (5) indikator evaluasi:1)Perubahan pengetahuan anggota kelompok mengenai
pemanfaatan pekarangan, demplot kelompok dan kebun bibit 2)Perubahan sikap anggota
kelompok mengenai pemanfaatan pekarangan, demplot kelompok dan kebun bibit, 3)Demplot
kelompok dan kebun bibit, 4)Manfaat yang dirasakan dengan adanya kegiatan pemanfaatan
pekarangan, demplot kelompok dan kebun bibit, 5) pemanfaatan pekarangan, demplot
kelompok dan kebun bibit kesemuanya menunjukkan hasil baik dengan rentang nilai 22- 28
skala likert, sehingga dapat disimpulkan pelaksanaan penyuluhan kegiatan P2L di Kota Dumai
dilaksanakan dengan baik. Selain itu cabe rawit merupakan jenis tanaman yang paling disukai
untuk dibudidayakan