Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
Proses Blansir Terhadap Kadar Abu, Kadar Sari, serta Cemaran Mikroba Simplisia Brotowali (Tinospora crispa (L.) Miers)
Brotowali (Tinospora crispa (L.) Miers) merupakan salah satu jenis tanaman obat yang sudah dikenal oleh masyarakat. Tanaman perdu dan memanjat dari famili Euphorbiaceae telah digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi diabetes. Untuk menghasilkan bahan baku jamu brotowali yang berkualitas, maka proses penanganan pascapanen perlu dilakukan dengan tepat. Kendala yang dialami yaitu dalam proses pengeringan yaitu timbulnya jamur selama proses pengeringan berlangsung. Hal ini dapat meningkatkan cemaran mikroba pada simplisia yang dihasilkan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan cemaran mikroba yaitu perlakuan blansir sebelum proses pengeringan. Akan tetapi perlu diperhatikan juga kualitas simplisia yang diperoleh (kadar sari dan kadar abu). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh waktu blansir yang tepat pada simplisia brotowali. Perlakuan blansir dilakukan dengan 6 (enam) variasi waktu blansir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar sari larut air tertinggi simplisia brotowali adalah perlakuan blansir satu menit, sementara kadar abu total terendah simplisia brotowali adalah perlakuan blansir lima menit. Waktu blansir yang disarankan pada proses pembuatan simplisia brotowali adalah dengan waktu blansir satu menit dengan nilai angka lempeng total terendah dan angka jamur masih memenuhi syarat yang ditetapkan
Analisis Keragaan dan Sikap Petani Terdampak Proyek Strategis Nasional Tol Yogyakarta-Solo, ditinjau dari Aspek Kognitif bagi Mata Pencarian sebagai Petani di Kecamatan Polanharjo Klaten
Pembangunan seringkali bagaikan dua sisi mata pedang, satu sisi memberikan kemanfaatan namun juga ada yang terpaksa harus mengalah demi pembangunan. Petani di Kecamatan Polanharjo harus merelakan lahan pertanian mereka karena lahan mereka terkena Proyek Strategis Nasional Pembangunan Jalan Tol Trase Solo-Yogyakarta. Artikel ini menguraikan bagaimana karakteristik atau keragaan petani terdampak di lihat dari umur, pendidikan, pekerjaan dan lama berusaha tani. Sekaligus melihat aspek kognitif sikap petani terdampak merespons Pembangunan Jalan Tol Trase Solo-Yogyakarta bagi keberlangsungan mata pencahariaan sebagai petani
Respon Bibit Kakao (Theobroma Cacao L.) Klon Bl-50 Terhadap Pemberian Abu Boiler Sawit dan Kompos Paitan (Thitonia Diversifolia) pada Media Pembibitan
Pembibitan tanaman kakao ditentukan oleh kesuburan media tanam. Kesuburan media tanam dapat diperoleh dengan memanfaatkan abu boiler sawit dan kompos paitan. Penelitian dalam bentuk percobaan telah dilaksanakan di Rumah Kawat dan Laboratorium Fisiologi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, pada bulan Maret-Agustus 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi abu boiler sawit dan kompos paitan, mendapatkan dosis abu boiler terbaik dan dosis kompos paitan terbaik dalam pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.) klon BL-50. Metode penelitian berbentuk percobaan dengan menggunakan Rancangan Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor pertama adalah dosis abu boiler sawit yang terdiri dari tiga taraf yaitu 300 g/polibag, 400 g/polibag dan 500 g/polibag. Faktor kedua adalah dosis kompos paitan yang terdiri dari tiga taraf yaitu 37.5 g/polibag, 50.0 g/polibag dan 62.5 g/polibag. Data dianalisis dengan uji F dan apabila nilai F hitung > dari F tabel 5% maka dilanjukan dengan uji Duncan New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara dosis abu boiler sawit dan kompos paitan terhadap pertumbuhan bibit tanaman kakao, pemberian abu boiler sawit dengan dosis 300 g/polibag menunjukkan pertumbuhan bibit tanaman kakao yang terbaik, pemberian kompos paitan dengan dosis 62.5 g/polibag menunjukkan pertumbuhan bibit tanaman kakao yang terbaik
Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Partisipasi Anggota Kelompok Wanita Tani dalam Pemanfaatan Pekarangan Melalui Program KRPL di Kalimantan Timur
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap partisipasi anggota Kelompok Wanita Tani dalam pemanfaatan pekarangan melalui program Kawasan Rumah Pangan Lestari. Penelitian ini dilaksanakan pada kelompok wanita tani di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Pada tahun 2021. Sampel penelitian sebanyak 200 responden yang diambil secara simple random sampling. Data diolah dan dianalisis menggunakan analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengruh signifikan dalam pemanfaatan pekarangan melalui program Kawasan Rumah Pangan Lestari dengan ɑ = 5% adalah peran ketua kelompok, dan keaktifan wanita tani pada ɑ = 10%
Pemanfaatan Mikroorganisme Lokal (MOL) Sebagai Inokulan Fermentasi Limbah Ekstrak Gambir (Uncaria gambir Roxb) untuk Bahan Pakan Ternak
Upaya untuk menekan biaya produksi salah satunya dengan meminimalisir kebutuhan biaya pakan, agar peternak mendapatkan keuntungan dari usaha peternakan. Salah satu cara untuk memenuhi ketersediaan bahan pakan secara kualitas dan kuantitas adalah dengan memanfaatkan limbah hasil pertanian untuk dijadikan pakan ternak. Adapun parameter yang diamati pada penelitian ini adalah degradasi Protein Kasar (PK), Produksi NH3. Degradasi Serat Kasar (SK) dan Produksi VFA. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui degradasi Protein Kasar (PK), Produksi NH3. Degradasi Serat Kasar (SK) dan Produksi VFALEG (Limbah Ekstraksi Gambir) yang difermentasi dengan Mikroorganisme Lokal (MOL) in-vitro. Materi dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah LEG, MOL, air cucian beras, dedak halus, mikroba rumen, larutan buffer Mc Dougall, rak fermentasi, garam, gula merah, plastik dan seperangkat alat untuk uji in-vitro. Perlakuan yang diuji adalah faktor A: Penambahan dedak dalam LEG A1 (0% Dedak + 100% LEG), A2 (10% Dedak + 90% LEG), A3 (80% Dedak + 20% LEG) dan faktor B: lama fermentasi B1 (5 Hari), B2 (10 Hari), dan B3 (15 Hari). Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan pola Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 3x4 dengan 2 ulangan untuk setiap kombinasi perlakuan. Apabila terdapat perbedaan antara perlakuan maka diuji lebih lanjut dengan Ducans Multiple Range Test (DMRT). Berdasarkan analisis statistik menunjukan bahwa penggunaan dedak dan lama fermentasi memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap degradasi PK di rumen in-vitro dan berpengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap Produksi NH3. Degradasi Serat Kasar (SK) dan Produksi VFA.Kesimpulan dari penelitian ini adalah LEG yang difermentasi dengan MOL menunjukan hasil berbeda tidak nyata terhadap degradasi PK, sedangkan Produksi NH3. Degradasi Serat Kasar (SK) dan Produksi VFA meningkat dari LEG yang difermentasi dengan MOL tanpa penambahan dedak, sehingga dapat digunakan sebagai pakan ternak ruminant
Peran BI dalam Percepatan Digitalisasi Pertanian
Peran BI dalam Percepatan Digitalisasi Pertania
Performans Reproduksi Sapi Induk di Provinsi Papua Barat
Performans reproduksi ternak yang tinggi disertai manajemen reproduksi yang baik akan menghasilkan efisiensi yang tinggi dengan produktivitas ternak yang tinggi pula, untuk mengetahui performans reproduksi sapi induk pada program UPSUS SIWAB Tahun 2017 di Provinsi Papua Barat, maka perlu dilakukan analisis parameter reproduksinya. Penelitian ini dilakukan di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Manokwari, Kabupaten Sorong dan Kabupaten Fakfak dengan metode deskriptif. Jumlah responden yaitu sebanyak 42 orang peternak dengan jumlah sampel sebanyak 113 sapi induk akseptor IB (total 10% dari populasi akseptor tiga lokasi). Parameter yang diukur pada penelitian ini adalah non return rate (NRR), service per conception (S/C), conception rate (CR) dan calving rate (CvR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai NRR (84,96%), nilai SC (1,3), nilai CR (80,53%) dan nilai CvR (83,81%). Disimpulkan bahwa performans reproduksi sapi induk pada program UPSUS SIWAB Tahun 2017 di Provinsi Papua Barat dapat dikatakan sangat baik dan telah memenuhi standar yang telah ditetapkan secara teoritis
[Kajian Sosial Ekonomi Petani Kelapa Sawit Bersertifikat ISPO di Kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari] : Review
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengkaji kondisi sosial ekonomi petani kelapa sawit bersertifikat ISPO di Kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari. 2) Menganalisis indikator sosial ekonomi yang mempengaruhi pendapatan petani kelapa sawit bersertifikat ISPO di Kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif dan kuantitatif menggunakan range skor, analisis pendapatan serta regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata luas lahan usahatani kelapa sawit 3,12 hektar dengan umur tanaman 10 tahun dan produksi 23.788 Kg/Ha/Tahun. Kajian sosial ekonomi secara umum menghasilkan klasifikasi baik dengan pendapatan usahatani sebesar Rp 72.015.450/Tahun/Petani dan luar usahatani sebesar Rp 11.461.849/Tahun/Petani. Indikator sosial ekonomi secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata terhadap pendapatan petani yaitu luas lahan, biaya pupuk, biaya pestisida dan biaya tenaga kerja. Indikator yang tidak berpengaruh nyata adalah umur petani, tingkat pendidikan dan pengalaman berusahatani
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Ratun Sorgum (Sorghum Bicolor L. Moench) Terhadap Perlakuan Jarak Tanam dan Jumlah Tanaman Per Rumpun
Sorgum (Sorghum bicolor L) adalah salah satu tanaman serealia yang dapat dikembangkan sebagai bahan pakan, pangan, dan bioetanol. Bagian-bagian tanaman sorgum seperti biji, tangkai biji, daun, batang dan akar dapat dimanfaatkan. Di Indonesia sorgum merupakan tanaman sereal pangan ke tiga setelah padi dan jagung. Mengingat banyaknya manfaat tanaman sorgum maka perlu di upayakan untuk meningkatan produksinya. Upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangakan produksi tanaman sorgum yaitu dengan menggunakan sistem ratun. Ratun adalah salah satu cara untuk meningkatkan hasil per satuan luas lahan dan per satuan waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan jumlah tanaman per rumpun terhadap pertumbuhan dan hasil ratun tanaman sorgum. Penelitian yang dilakukan adalah dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor perlakuan yaitu perlakuan jarak tanam (J1 = Jarak tanam 40 x 20 cm, J2 = Jarak tanam 60 x 20 cm, J3 = 80 x 20 cm, J4 = 100 x 20 cm) dan perlakuan jumlah tanaman per rumpun (R1 = 1 satu tanaman per rumpun, R2 = 2 tanaman per rumpun, R3 = 3 tanaman per rumpun). Data dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) dan uji Beda Nyata Jujur (Tukey’s HSD) pada taraf nyata 5% menggunakan program Costat fot Windows. Perlakuan dengan jarak tanam tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan, namun berpengaruh nyata terhadap hasil tanaman sorgum. Perlakuan dengan jarak tanam 40 x 20 cm pada tanaman sorgum memberikan hasil tertinggi (10,65 ton/ha). Perlakuan jumlah tanaman per rumpun memberikan pengaruh terhadap jumlah daun, panjang malai dan bobot malai per rumpun. Penanaman tiga tanaman per rumpun pada tanaman sorgum memberikan hasil tertinggi (10,08 ton/ha)
Identifikasi Molekuler Menggunakan Gen 16S-rNA Dan Seleksi Limbah Organik Sebagai Carrier Terhadap Rhizobakteri Indigenous Asal Rhizosfer Padi Sawah
Penelitian terdahulu telah berhasil membuktikan secara in-vitro rhizobakteri indigenous yang diisolasi dari rhizosfer padi sawah, yaitu isolat kode KMV 5 dan GMP 2 berpotensi sebagai agen bioremediasi, biofertilizer dan memiliki aktivitas antimikroba tertinggi. Namun identitas strain isolat tersebut belum diketahui dan carrier yang tepat untuk menunjang pemanfaatannya sebagai agen hayati belum ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) melakukan identifikasi molekuler terhadap isolat rhizobakteri indigenous KMV5 dan GMP2 untuk mengetahui strain dengan metode sekuensing gen 16S-rNA melalui tahapan ekstraksi DNA, amplifikasi gen 16S-rRNA dan PCR. (2) melakukan seleksi terhadap limbah organik yaitu air cucian beras, air kelapa dan molase sebagai carrier yang tepat bagi kedua rhizobakteri dengan metode pengamatan nilai absorbansi pada spektrofotometer UV-VIS dengan panjang gelombang 550 nm. Hasil penelitian diperoleh (1) rhizobakteri indigenous isolat KMV5 dan GMP2 teridentifikasi memiliki tingkat homologi 93%-95% dengan Bacillus cereus strain ATCC 14579 (2) media organik terbaik dan tepat sebagai carrier adalah air cucian beras