Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
Aplikasi Mulsa pada Beberapa Tingkat Irigasi dan Pengolahan Tanah terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium cepa L.)
ABSTRAK Bawang merah (Allium cepa L.) merupakan komoditas yang memiliki arti penting, terutama untuk masyarakat Indonesia, baik sebagai bumbu pelengkap maupun sebagai obat. Kebutuhan bawang merah terus meningkat maka perlu adanya terobosan teknologi budidaya yang mampu meningkatkan produksi bawang merah. Budidaya bawang merah umumnya dilakukan pada lahan kering dan membutuhkan irigasi. Penggunaan mulsa organik dapat menghemat penggunaan air dengan menekan laju evaporasi dari permukaan tanah. Air sering merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman, terutama di daerah kering. Pengolahan tanah sangat penting untuk tanaman umbi, petani biasanya mengolah lahan dengan cangkul dan koret dengan kedalaman olah 10-30 cm. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan September hingga Desember 2017 di Kebun Percobaan Gunung Gede Program Diploma IPB. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan mulsa organik pada beberapa tingkat pengolahan tanah dan irigasi terhadap produksi bawang merah. Penelitian menggunakan rancangan split plot. Penggunaan mulsa sebagai petak utama sedangkan pengolahan tanah dan irigasi sebagai anak petak. Faktor pengolahan tanah 2 taraf yaitu kedalaman 10 cm dan 20 cm, Faktor irigasi 4 taraf evaporasi yaitu 0.5E0, 1 E0, 1.5E0 dan 2E0 masing masing diulang 3 kali sehingga terdapat 48 petak percobaan. Pengamatan dilakukan terhadap 10 tanaman contoh pada setiap petak percobaan yang berukuran 1.2 m x 8 m yang ditentukan secara acak. Hasil dari percobaan menunjukkan Pemberian mulsa pada budidaya bawang merah merupakan rekomendasi terbaik terlihat dari jumlah umbi yang lebih banyak walaupun untuk pertumbuhan tunas tidak nyata. Volume irigasi berpengaruh nyata di awal pertumbuhan tunas yaitu perlakuan 1.5 E0 di minggu ke 2 dan pada kombinasi perlakuan ternyata perlakuan mulsa memberikan panen ubinan tertinggi jika dikombinasikan dengan volume irigasi 1.5 E0 dan olah tanah 10 cm. Volume irigasi 0.5E0 dan 1E0 memberikan bobot umbi contoh terbaik. Pengolahan tanah 10 cm secara nyata memberikan bobot ubinan terbaik. Kata kunci : Evaporasi, umbi, lahan kerin
Kontribusi Dosen FP UNS Melalui P2M Bidang Keanekaragaman Hayati untuk Mendukung Ketahanan Pangan
Sektor pertanian merupakan satu-satunya sumber pangan bagi kehidupan manusia. Keanekaragaman hayati komoditas pertanian, baik berupa tanaman maupun hewan, oleh karena itu harus dilestarikan dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan pangan. Salah satu bentuk pelestarian dan pemanfaatan keanekaragama hayati adalah dengan melaksanakan penelitian dan pengabdian kepada masyarkat (P2M) di bidang tersebut. Tujuan penulisan naskah adalah mengetahui seberapa besar kontribusi P2M bidang keanakeragaman hayati oleh dosen Fakultas Pertanian (FP) UNS. Ukuran kontribusi ditentukan dengan menilai relativitas jumlah judul P2M di bidang keanekaragaman hayati terhadap jumlah judul P2M di semua bidang. Metode pengumpulan dan analisis data dengan mengumpulkan data kegiatan P2M FP 2015 – 2017 sumber dana PNBP UNS, mengklasifikasikan menurut bidang kajian, dan menilai besar kontribusi dengan menghitung persentase judul P2M bidang keanekaragaman hayati terhadap keseluruhan judul P2M. Uraian deskriptif contoh P2M oleh beberapa dosen dibuat untuk melengkapi penjelasan kontribusi P2M bidang keanekaragaman hayati.Hasil analisis menunjukkan bahwa persentase P2M bidang keanekaragaman hayati di FP UNS pada tahun 2015, 2016 dan 2017 berturut-turut adalah 11,39% (9 judul), 11,69% (9 judul) dan 10,19% (11 judul). Nilai persentase tersebut termasuk di atas rata-rata yang menunjukkan bahwa dosen FP UNS telah berkontribusi nyata terhadap P2M keanekaragaman hayati. Kontribusi tersebut berdampak dihasilkannya luaran ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pengembangan sistem pertanian menuju terciptanya ketahanan pangan. Hasil kegiatan P2M berupa temuan-temuan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang keanekaragaman hayati seyogyanya ditindaklanjuti dengan hilirisasi dan publikasi yang lebih intensif. Kedua hal tersebut akan memberikan kemanfaatan praktis di lapangan dan sebagai sumber invensi yang membuka ranah baru dalam mengakselerasi pertumbuhan sektor pertanian, peningkatan ketahanan pangan dan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia
Teknik Pemanenan Madu Hutan oleh Masyarakat di Pulau Moyo Nusa Tenggara Barat
ABSTRAKPerburuan madu hutan sudah dilakukan sejak lama oleh masyarakat di sekitar hutan karena madu memiliki nilai yang sangat ekonomis. Tulisan ini bertujuan untuk menyampaikan informasi terkait rangkaian aktivitas perburuan madu hutan di Pulau Moyo mulai dari persiapan sampai pada kegiatan pemanenannya. Penelitian dilakukan dengan metode observasi/survei, wawancara dan diskusi dengan responden yang terkait dengan penelitian, responden penelitian sebanyak 20 orang yang ditentukan secara purposive sampling. Hasil penelitian diketahui bahwa perburuan madu hutan di Pulau Moyo dilakukan 2 kali dalam setahun, yaitu periode Februari – Juni serta September – Desember. 80% responden mengatakan bahwa hasil berburu pada bulan Oktober – Desember lebih baik bila dibandingkan dengan periode waktu yang lain. Kegiatan berburu dilakukan secara berkelompok yaitu rata-rata sebanyak 3 orang/kelompok, selama 3 – 7 hari. Pemanenan madu dilakukan secara tradisional dan perlengkapan yang digunakan adalah parang, pisau, ember, cabai hutan, ranting kering dan daun basah, tali nilon, baju dan celana panjang serta sarung untuk melindungi bagian tubuh dari serangan lebah.. Pemanenan madu akan dilakukan ketika menjumpai pohon sarang saat berburu, walaupun kondisi sarang belum siap untuk dipanen. Pemanenan dilakukan dari pagi sampai sore hari, kecuali saat hujan dengan sistem pengasapan pada sarang yang akan dipanen, satu sarang membutuhkan waktu 20-30 menit. Hasil berburu madu hutan menjadi sumber pemasukan tambahan bagi masyarakat Pulau Moyo, harga jual Rp. 70.000,- perbotol. Rata-rata pendapatan dalam sekali berburu mencapai Rp. 1.160.000,- - 1.400.000,-/orang untuk 3 – 7 hari berburu. Aktivitas perburuan madu hutan memiliki beberapa resiko, 55% responden pernah kesasar (disorientasi lokasi), 30% responden pernah digigit satwa liar dan 15% responden mengatakan pernah terjatuh dari pohon sarang.
ANALISIS PENDAPATAN DAN KELAYAKAN USAHATANI BAYAM CABUT (AMARANTHUS TRICOLOR) SECARA MONOKULTUR DI LAHAN PEKARANGAN
Lahan pekarangan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan keluarga dengan caramelakukan usahatani sayuran. Jenis-jenis sayuran yang biasa ditanam meliputi bayam,kangkung, sawi, cabai, terong, tomat dan lain sebagainya. Salah satu desa yang telahmemanfaatkan lahan pekarangan di kecamatan Kutowinangun adalah desa Babadsari. Lahanpekarangan di desa Babadsari cukup luas dan dimanfaatkan untuk melakukan usahatanisayuran. Salah satu jenis sayuran yang dominan dibudidayakan adalah bayam cabut secaramonokultur.Tujuan penelitian ini adalah i menganalisis usahatani bayam cabut sistem monokultur,kelayakan usaha dan kontribusi usahatani bayam cabut terhadap pendapatan petani. Metodepenelitian adalah survei dan analisis data secara deskriptif analitis. Sampel berjumlah 43petani, dan metode pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling.Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani bayam cabut sistem monokultur di lahanpekarangan menguntungkan. Usahatani bayam cabut secara monokultur ditinjau darikelayakan usaha layak untuk diusahakan. Nilai R/C ratio sebesar 7,71 dan π/C sebesar 6,71.Kontribusi usahatani bayam cabut secara monokultur di lahan pekarangan terhadappendapatan keluarga petani sangat tinggi yaitu 81,29%
KONTRIBUSI PENDAPATAN USAHATANI STEVIA TERHADAP TOTAL PENDAPATAN USAHATANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN USAHATANI STEVIA DI KABUPATEN KARANGANYAR
Penelitian ini bertujuan menganalisis pendapatan usahatani stevia dan non stevia, besarnyakontribusi pendapatan serta faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani stevia diKabupaten Karanganyar. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karanganyar denganmenggunakan metode deskriptif. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja(purposive). Penentuan responden dilakukan secara sensus kepada 30 petani stevia yang adadi Kecamatan Tawangmangu. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis usahatani,analisis kontribusi pendapatan, uji regresi metode OLS dengan uji signifikansi Ftabel 2,334pada tingkat signifikansi 5% dan ttabel 2,042 (tingkat signifikansi 5%), ttabel 1,697 (tingkatsignifikansi 10%). Hasil penelitian rata-rata pendapatan total usahatani dari stevia dankomoditas non stevia sebesar Rp 43.071.075,83, dimana pendapatan dari usahatani steviasebesar Rp 6.874.497,58 dan pendapatan dari usahatani non stevia sebesar Rp 36.196.578,25.Rata-rata kontribusi pendapatan usahatani stevia sebesar 15,96% dengan kategori sangatrendah. Pendapatan usahatani stevia tersebut dipengaruhi oleh faktor luas lahan (pada tingkatsignifikansi 5%) dan harga fungisida (pada tingkat signifikansi 10%). Sementara faktor hargabibit, harga pupuk kandang, upah tenaga kerja dan status kepemilikan lahan tidakberpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani stevia
POTENSI HASIL PADI HIBRIDA F2 DENGAN VARIASI JARAK TANAM
Beras merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia. Kebutuhan padi semakin meningkat sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan produksi padi. Penanaman varietas unggul dan manajemen budidaya yang tepat diharapkan dapat meningkatkan hasil padi. Penelitian dilaksanakan pada Januari 2016 sampai Juni 2016 di Lahan Pertanian Desa Joho, Mojolaban, Sukoharjo. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor yaitu jarak tanam dan varietas. Jarak tanam memiliki 3 taraf yaitu 20x20 cm, 30x30 cm, legowo 2:1 dan faktor varietas dengan 3 taraf yaitu padi hibrida F2 galur 7203, padi hibrida F2 galur 1683, padi lokal varietas Sunggal. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan apabila terdapat pengaruh beda nyata dilanjutkan dengan uji DMRT taraf 5%. Jarak tanam legowo 2:1 dengan padi hibrida F2 galur 1683 memberikan hasil per petak tertinggi yaitu 32,57 kg dibandingkan jarak tanam dan kedua varietas yang lain
The Effect of Seed Dormancy Cracking Technique and Solid Inorganic Fertilizing at Productive Phase to The Quality of Seedless Watermelon at Drylands
The difficulty of seeding and sweetness quality of seedless watermelon is an obstacle for farmers. The objectives of this study were to know the successful of shoots growth with seeding treatment and production quality due to fertilizing package for seedless watermelon with the variety of Riendow F1. The experiment was conducted in dry season at upland areas in Palangkaraya. The experimental design for seeding randomized block design (RBD) 3x3 with treatment consisting of a control (G0), cracking seed by hitting (G1), cracking seed using pincette (G2). The experiment of fertilizing package at productive phase used of fertilizer used RBD 4x3. The treatment consisted of several packages of fertilizer, namely: without fertilization (P0), low fertilizer package (P1), medium fertilizer package (P2), and high fertilizer package (P3). Before the experiment, soil analysis was first conducted to determine land suitability classes. The results showed that the study site area has marginal suitability class with limiting factor involving rooting condition (S3rc). The highest germination was obtained in the cracking treatment compared to control, otherwise, the rate of death seeds for control was lower than cracking treatment although it is not significantly different according to statistics. For the parameter of fruit perimeter, it indicates that treatment of high fertilizing package was significantly different from the control, respectively, 64.25 cm and 53.96 cm. It also includes the weight of fruit, respectively, 4.05 kg and 2.80 kg. For the quality of watermelon, it showed that fertilizing packages at productive phase is significantly different from controls. The sweetness level at the medium fertilizing package (P2) has the highest level of 11.73oBrix, followed by the high fertilizing package (P3), 11.00oBrix, low fertilizing package (P1), 9.92oBrix and the lowest for control, 8.98oBrix. Application of medium fertilizing package at productive phase can then produce the highest quality level of watermelon
VARIABILITY OF GROUND WATER TABLE AND SOME SOIL CHEMICAL CARACHTERISTIC ON TERTIARY BLOCK OF TIDAL LOWLAND AGRICULTURE SOUTH SUMATERA INDONESIA
Agriculture and irrigation policies in the tidal wetlands are often too general, thus at the level of farm units they are often inaccurate in term of quality and quantity. The research purpose was to analyze the groundwater levels and to determine the effect of groundwater levels in relation to some soil chemical characters in tidal wetlands P17-5S Mulyasari village Delta Telang II Banyuasin. Indicators of potential land can be analyzed from parameters of variability of soil acidity, Al and Fe content, organic matter and phosphorus and nitrogen status of the soil. Managed limited area was the smallest unit of water management (tertiary plots). The decision was taken based on the dominant values of the hydro-physical and chemical characters. Input criteria design involved the nature of the soil, land use, and hydrology. The field study and analysis showed dominance in soil physical variability. Around 50% of hydraulic conductivity was classified rapid soil with soil acidity is relatively high, moderate nitrogen, low phosphorus, and moderate potassium. Based on these conditions, cropping pattern applied was rice-corn, rice-water melon, soil fertility can be improved through fertilization of N and P; increasing water gate in the tertiary plots, and the water management aimed to controlled drainag
Certification of Organic Agriculture for rice production in Indonesia
To make better the life, it is required safety foods for health. The health foods can be satisfied by organic farming that have more expensive price compared to foods derived from conventional agriculture. Organic farming is farming system based on biomass recycling or eliminating the use of materials as a synthetic agrochemical inputs. To determine whether the result of rice called as a organic product needs to be certified by the Organic Certification Board (OCB). According to the Indonesian National Standard 6729: 2013, organic farming systems are not only limited to not use material agrochemical synthetic, but must meet the requirements of organic farming systems in rice cultivation ranging from handling, storage, processing, transportation, labeling, marketing, production facilities, additional materials and other materials that are allowed start on farm to off farm should be separated from conventional agriculture. The farm is just a negate the use of agrochemicals and synthetic based on recycling without regard to the cultivation process and the system of post-harvest organic results are said to be food premium is not as organic food, because organic food is food produced from organic farming systems by applying processing practices to preserve the ecosystem of sustainable, control of weeds, pests, diseases, selection and crop rotation, water management, land preparation and planting and the use of biological materials. Thus the system of organic agriculture is a holistic production management system to improve and develop the agro-ecosystem health, including biodiversity, biological cycles and soil biological activity (Regulation of Indonesian Agriculture Ministry No. 64/2013). The first step that must be done is the conversion of land for food crops from anorganic to organic farming for 2 years did not get the requisite amount of agrochemical ingredients applied to the soil and 3 years for annual plants, after applying the organic farming system follows the Indonesian National standardization for organic farming. If agriculture in paddy soil can control the conventional farms into organic farming systems, then the resulting rice is as an organic produc