Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
    653 research outputs found

    Respon Pertumbuhan Tribulus terrestris Terhadap Intensitas Cahaya dan Kadar NaCl

    Get PDF
    Tribulus terrestris merupakan tanaman yang mengandung berbagai macam komponen, antara lain saponin, flavonoid, dan asam amino untuk obat hipertensi serta jantung koroner. Ketersediaan tanaman Tribulus masih terbatas, karena budidaya Tribulus masih jarang dilakukan oleh petani. Pengelolaan budidaya Tribulus dengan pengaturan intensitas cahaya yang berbeda dan tanah salin akan dikaji pada penelitian ini yang diharapkan dapat diketahui tingkat toleransi intensitas cahaya dan kadar salinitas tanah pada budidaya Tribulus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh intensitas cahaya, pengaruh aplikasi NaCl dan interaksi antara kedua faktor tersebut terhadap pertumbuhan tanaman Tribulus. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2017 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian UNS di Kecamatan Jumantono, Karanganyar. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola tersarang dengan dua faktor perlakuan dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah naungan dengan 4 taraf (0, 25, 50 dan 75%). Faktor kedua adalah kadar NaCl dengan empat taraf (0, 1.000, 2.000, dan 3.000 ppm). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan naungan 25% memberikan hasil paling besar terhadap rata-rata tinggi tanaman. Perlakuan naungan 75% dan kadar NaCl 1.000 ppm memberikan pertumbuhan paling lambat pada saat muncul bunga. Perlakuan naungan 50% dan kadar NaCl 3.000 ppm memberikan pertumbuhan paling rendah pada panjang akar. Semua perlakuan naungan menghasilkan volume akar yang lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan tanpa naungan. Perlakuan tanpa naungan dan kadar NaCl 3.000 ppm memberikan pertumbuhan paling tinggi pada berat segar. Perlakuan naungan 75% dan kadar NaCl 1.000 ppm memberikan pertumbuhan paling rendah pada berat segar. Perlakuan naungan 75% dan kadar NaCl 2.000 ppm memberikan pertumbuhan paling rendah pada berat kering

    Potensi Sengon dalam Sistem Agroforestri Berdasar Karateristik Pohon Bagi Ketersediaan Cahaya dan Nutrisi

    Get PDF
    Ancaman terhadap keamanan pangan karena alih fungsi lahan, perlu upaya melalui budidaya dibawah tegakan pohon. Pertanaman sengon akhir-akhir ini digemari baik oleh masyarakat maupun pengelola hutan negara. Penelitian bertujun untuk: 1) mendeteksi karakter sengon berdasar potensi cahaya dan nutrisi 2) menganalisis potensi lahan dibawah tegakan sengon guna budidaya tanaman pangan. Penelitian menggunakan metode survey melalui berbagai pengukuran dan analisis laboratorium. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Lahan diantara tegakan sengon memiliki potensi sebagai lahan budidaya dalam sistem agroforestri. Cahaya lolos dari tajuk sengon umur 1,5 tahun, jarak 2 x 1,5 m (populasi 2850 pohon/ha) sebesar 15620 lux ( 27 % dari cahaya di luar tegakan). Seresah (daun dan ranting) luruh dari pohon setahun sebesar 2,8 kg, berdasar analisis kandungan N, P, dan K, berarti mengembalikan unsur tersebut pada tanah sekitar 1,7%, 0,05% dan 0,35%. Pemangkasan 1/3 tajuk bagian bawah sengon meningkatkan cahaya lolos 22%. Selain itu hasil pangkasan daun dan ranting sebesar 2,3 kg pohon-1 bermanfaat sebagai pupuk hijau. Analisis tanah dibawah tegakan sengon umur 1,5 tahun menunjukkan bahwa kriteria kesuburan termasuk rendah (N 0,25 %, P 7.15 ppm, K 0,28 me%, dan bahan organik/BO 2.54 %) berarti sumbangan pohon terhadap kesuburan belum tampak

    KETERSEDIAAN UNSUR HARA MIKRO (FE, CU, ZN DAN MN) PADA LAHAN PERTANIAN DI KABUPATEN BANJARNEGARA

    Get PDF
    Unsur hara mikro seperti Fe, Cu, Zn, dan Mn sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanamansehingga berperan penting dalam mewujudkan ketahanan pangan. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui ketersediaan unsur Fe, Cu, Zn dan Mn pada lahan pertanian di KabupatenBanjarnegara, pola sebaran spasial dan korelasi unsur-unsur tersebut di dalam tanah.Pengambilan contoh tanah dilaksanakan di lahan pertanian baik lahan sawah, tegalan,maupun perkebunan di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah pada tahun 2015 denganmetode survey. Kandungan unsur Fe, Cu, Zn dan Mn dianalisis dengan metode ekstraksiMehlich 3 dan pengukurannya menggunakan Atomic Absorption Spectrometry (AAS). Hasilpenelitian menunjukkan ketersediaan unsur Fe 80,8% berada pada rentang normal dan 19,2%dibawah rentang normal. Ketersediaan unsur Cu dan Zn berada di bawah rentang normal.Ketersediaan unsure Mn 4,57% berada pada rentang normal, 94,13% berada di bawahrentang normal, dan 1,30% berada di atas rentang normal. Pola sebaran spasial unsur Feterdistribusi normal dan mengumpul (Clustered), unsurMn, Zn, dan Cu terdistribusi tidaknormal dan mengumpul (Clustered). Unsur Cu memiliki korelasi yang positif sangat nyataantara dengan Fe, Mn, dan Zn

    Aspek Fisik Lingkungan Bagi Peningkatan Produksi Rebung Bambu Petung (Dendrocalamus asper) sebagai Pangan Eksklusif

    Get PDF
    Keanekaragaman hayati sebagai modal dasar suatu bangsa dalam pembangunan manusia yang berkualitas. Berapa banyak kekayaan sumberdaya alam dari Indonesia yang telah dimanfaatkan oleh bangsa lain, karena kurangnya perhatian dan pembekalan pengetahuan kepada masyarakat. Kekayaan hutan Indonesia sangat tinggi, yaitu terdapat berbagai jenis bahan pangan hingga obat-obatan telah digunakan oleh nenek moyang kita sejak dahulu, namun hanya terbatas di lingkungan atau kelompok tertentu. Bambu sebagai jenis tanaman yang sangat akrab dengan kehidupan masyrakat di pedesaan selain digunakan sebagai bahan ramuan bangunan  juga dikonsumsi sebagai penganan yang lezat dan bergizi bagi keluarga. Bambu petung (Dendrocalamus asper) merupakan penghasil rebung yang rendah serat dan bertekstur lembut.  Tingginya tingkat permintaan rebung bambu ketika hari raya tertentu di negara-negara seperti China, Taiwan dan Jepang merupakan peluang bisnis yang sangat potensial bagi masyarakat untuk mengembangkan tanaman bambu secara terencana. Selain itu diperlukan pula pengetahuan tentang teknik memercepat pertumbuhan rebung bambu petung melalui pengetahuan kondisi fisik lingkungan tempat tumbuh yang disandingkan dengan teknik pemupukan dapat meningkatkan produksi rebung sebagai bahan pangan ekslusif

    RANCANG BANGUN MESIN PERONTOK SORGUM

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini yaitu merancang bangun Mesin Perontok Sorgum untuk menghasilkan biji sorgum yang bersih dan siap disosoh. Metode penelitian yang digunakan adalah metode rekayasa, yaitu kegiatan merancang bangun mesin perontok sorgum. Penelitian ini dilaksakan di Bengkel Logam, Laboratorium Alat dan Mesin Pertanian, Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad. Mesin perontok sorgum berhasil dirancang bangun dengan komponen utama terdiri dari: hopper, rangka, blower, ruang perontokkan, motor penggerak, saluran pengeluaran kotoran, saluran pengeluaran malai, saluran pengeluaran biji dan roda. Spesifikasi mesin yaitu panjang 160 cm, lebar 95 cm, tinggi 124 cm, kapasiatas aktual mesin yaitu 151,84 kg/jam dan penggeraknya motor diesel 8 HP. Data hasil pengujian mesin perontok beban isi yaitu kecepatan putar silinder 636 rpm, kecepan aliran udara 3,4 m/detik dan tingkat kebisingan 94,6 dB

    PERBEDAAN KUALITAS BUAH TOMAT HASIL PRODUKSI SCREEN HOUSE DAN LAHAN TERBUKA SELAMA PENYIMPANAN

    Get PDF
    Untuk mengetahui perubahan mutu buah tomat, dilakukan pengkajian terhadap perbedaan kualitasbuah tomat hasil produksi screen house dan lahan terbuka. Setelah disimpan, susut bobot buah tomat dari lahan terbuka lebih kecil (7,80%) dibanding buah tomat dari lahan screen house (9,25%). Buah tomat dari lahan terbuka lebih cerah, lebih ke arah merah dan kurang kuning, dengan kekerasan yang lebih tinggi. Kandungan vitamin C dan total karoten buah tomat hasil produksi lahan terbuka lebih tinggi dibanding buah tomat dari sreen house

    Peningkatan Produktifitas dan Perbaikan Sanitasi Pengolahan Sagu pada Dua Kelompok Industri Kecil di Kota Pariaman

    Get PDF
    Tepung sagu lokal Sumatera Barat diantaranya dihasilkan oleh industri kecil yaitu kelompok “Lumpur Putih dan kelompok “Sagu Marapak” yang berada dipinggiran kota Pariaman. Pengolahan yang dilakukan oleh kedua mitra ini masih secara tradisional sehingga muncul beberapa persoalan diantaranya produktifitas usaha masih rendah, mutu tepung yang dihasilkan belum memenuhi standar dan sanitasi pengolahan belum baik. Untuk itu perlu dilakukan pembinaan untuk mengatasi masalah tersebut. Metoda yang digunakan yaitu pendekatan, perancangan alat, pembuatan alat, instalasi alat, penyuluhan dan demonstrasi, pendampingan, monitoring serta evaluasi. Dari kegiatan ini terjadinya peningkatan produktifitas sebesar 25% serta sanitasi industri pengolahan tepung sagu mitra binaan. Disamping itu juga dilaksanakan sosialisasi berbagai produk olahan dari tepung sagu. Dari kegiatan yang telah dilakukan mitra binaan dan masyarakat berharap adanya pendampingan lebih lanjut dari perguruan tinggi sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dari tepung sagu yang ada, serta pemanfaatan dari ampas sagu yang dihasilkan

    REKAYASA MESIN PENGUPAS TALAS SEMIR SEBAGAI BAHAN PANGAN ALTERNATIF

    Get PDF
    Talas semir merupakan salah satu komoditas pertanian hortikultura unggulan dan bahan pangan potensial di Kabupaten Sumedang. Namun, saat ini pemanfaatannya masih terbatas. Untuk menjadikannya sebagai bahan baku olahan pangan, maka talas harus dijadikan tepung terlebih dahulu, sehingga lebih tahan lama dan dapat dibuat menjadi aneka produk olahan pangan. Proses pengolahan talas menjadi tepung ada tahapan penting yang harus dilalui yaitu proses pengupasan. Proses pengupasana secara manual memerlukan waktu yang cukup lama serta membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak. Hal ini menjadi kendala apabila kapasitas produksi sudah besar serta berkelanjutan (kontinyu). Dengan demikian dibutuhkan peran mekanisasi pertanian untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan merekayasa mesin pengupas talas. Penelitian ini bertujuan merekayasa mesin pengupas talas untuk proses pascapanen dan menjadikannya sebagai bahan pangan alternatif. Penelitian dilaksanakan pada bulan April - November 2016 bertempat di Bengkel Logam, Kayu dan Rotan, Laboratorium Alat dan Mesin Pertanian, Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Industri Pertanian UNPAD, Jatinangor. Hasil pengujian menunjukkan bahwa mesin bekerja dengan baik dengan kapasitas aktual 78,8 kg/jam, efisensi mesin 78,74% dan hasil kupasan sudah merata pada semua pemukaan talas namun masih belum bersih karena proses pengupasan belum disertai penyiraman menggunakan air

    VIABILITAS BENIH PEPAYA (Carica papaya L.) DARI BAGIAN BUAH YANG BERBEDA DENGAN PERENDAMAN AIR PANAS, H2SO4 DAN KNO3

    Get PDF
    Kemampuan benih pepaya untuk berkecambah dipengaruhi oleh resistensi senyawa fenolik yang dapat menghambat perkecambahan dan kendala lain yang disebabkan dormansi benih. Pesentase berkecambah benih disetiap bagian buah juga bervariasi mulai dari bagian pangkal, tengah maupun ujung buah. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh letak benih pada buah dan macam perendaman terhadap viabilitas benih pepaya. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Yogyakarta pada bulan Maret sampai Juni 2016. Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan  dua  faktor.  Faktor  pertama  adalah  bagian  buah  pepaya,  yakni  :  B1  (ujung),  B2 (tengah), dan B3 (pangkal). Faktor kedua adalah perendaman, ialah P1 (aquades), P2 (air panas 50o  C), P3 (H2SO4  1 %), dan P4 (KNO3  10 %). Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih pepaya bagian tengah buah memiliki viabilitas paling tinggi, perlakuan macam perendaman tidak berpengaruh nyata terhadap viabilitas benih pepaya

    AREA UNDER THE DISEASE PROGRESS CURVE (AUDPC) SEBAGAI VARIABEL KETAHANAN VARIETAS PADI TERHADAP HAWAR DAUN

    Get PDF
    Hawar Daun Bakteri (HDB) adalah penyakit padi yang penting dan berpotensi menyebabkan kehilangan hasil panen yang berarti dengan kerusakan mencapai 20%. Berbagai penelitian sudah banyak dilakukan untuk mempelajari ketahanan varietas padi, yang umumnya didsarkan pada keparahan penyakit sebagai variabel utama. Penelitian ini bertujuan mempelajari Area Under the Disease Progress Curve (AUDPC) sebagai variabel ketahanan padi. Penelitian dilakukan di Dusun Durenan, Desa Joho, Kecamatan Mojolaban Sukoharjo dengan rancangan acak lengkap 3 ulangan dan perlakuan tunggal berupa varietas Inpari 13, Beras Merah Klaten (BMK) dan Mentik Susu. Setiap unit percobaan ditanam dalam petak lahan 9m2. Variabel pengamatan adalah keparahan penyakit dan AUDPC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AUDPC lebih tajam sebagai variabel pembeda ketahanan dibandingkan keparahan penyakit. Keparahan penyakit antar varietas menunjukkan tidak berbeda nyata sedangkan AUDPC menunjukkan beda nyata yang antar varietas uji

    567

    full texts

    653

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇