Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
DAYA SAING CPO INDONESIA
Indonesia sebagai produsen utama CPO (Crude Palm Oil) menghadapi tantangan danpersaingan untuk meningkatkan ekspor CPO ke negara importir. Kajian ini menganalisis dayasaing CPO Indonesia dibandingkan dengan negara produsen lain dengan menggunakananalsisi RCA (Revealed Comparatif Advantage) dan CMS (Constant Market Share). Hasilperhitungan analisis RCA menunjukan bahwa Indonesia berada posisi yang tertinggaldibandingkan negara Malaysia, Kolombia dan Thailand dan ridak memiliki daya saing secarakomparatif. Berdasarkan analisis CMS pertumbuhan ekspor CPO Indonesia berada dibawahrata-rata pertumbuhan CPO di tingkat dunia. Secara komposisi produk, Indonesia masihmemiliki nilai negatif. Indonesia memiliki nilai positif pada distribusi pasar di India danBelanda tetapi hanya memiliki daya saing positif di Pakistan. Beberapa hal yang perludilakukan untuk meningkatkan daya saing CPO antara lain: Pertama, perlu adanya sinergitaskebijakan pemerintah yang mendukung daya saing hilirisasi industri sawit. Kedua, Indonesialebih meningkatan kualitas CPO sesuai dengan standarisasi negara importir. Ketiga,peningkatan market intelligence diperlukan untuk distribusi pasar CPO yang lebih baik
Aspek Kognitif Petani terhadap Burung Hantu sebagai Agensia Hayati Pengendalian Tikus di Daerah Istimewa Yogyakarta
Burung hantu (Tyto alba) telah diperkenalkan sebagai agensia hayati pengendalian tikus di Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagaimanakah aspek kognisi petani terhadap manfaat burung hantu tersebut? untuk mengetahui hal itu telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui aspek kognitif petani terhadap burung hantu sebagai agensia hayati pengendalian tikus di Daerah ini. Penelitian dilakukan di Desa Sidorejo Kecamatan Godean Kabupaten Sleman, Desa Argorejo dan Argosari Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul dan Desa Banjarasri Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulonprogo. Penentuan lokasi penelitian secara purposif dengan pertimbangan di lokasi tersebut terdapat rumah burung hantu. Dari masing-masing kabupaten diambil sampel petani sebanyak 30 orang sehingga total sampel mencapai 90 orang. Penentuan sampel menggunakan metode acak sederhana. Data dianalisis dengan menggunakan uji statistik deskriptif dengan pendekatan skoring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata skor dari keseluruhan item pernyataan objek sikap adalah 3,2 dan dibulatkan menjadi 3 yang termasuk kategori kurang yakin, sehingga dapat disimpulkan bahwa petani padi sawah di DIY memiliki sikap kurang yakin dari aspek kognitif terhadap objek sikap manfaat burung hantu sebagai agensia hayati pengendalian tikus. dengan kata lain objek sikap tersebut kurang sejalan dengan pengetahuan dan atau pengalaman dimiliki petani
Analisis Daya Dukung Wilayah Pengembangan Sapi Potong di Kabupaten Gunungkidul
Penelitian ini telah dilaksanakan di Kabupaten Gunung Kidul pada bulan Februari hingga Maret Tahun 2018. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui potensi daya dukung pengembangan sapi potong berdasarkan pewilayahan dan daya dukung hijauan pakan di Kabupaten Gunung Kidul, Metode analisis yang di gunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis, dimana pemilihan lokasi penelitian dilakukan menurut metode purposive sampling, dengan pertimbangan wilayah ini merupakan wilayah dengan jumlah populasi sapi potong terbesar di Provinsi DIY. Data yang dikumpulkan meliputi data sekunder. Data sekunder terkait dengan topik penelitian bersumber dari: a) BPS Kabupaten Gunung Kidul, b) Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul, c) bahan bacaan dan hasil penelitian yang di terbitkan oleh lembaga resmi. Data kemudian diolah dan dianalisis melalui perhitungan Location Quotient (LQ), dan Indeks Daya Dukung lahan (IDD). Kabupaten Gunung Kidul ini memiliki luas sebesar 1.485,36 km2, tersebar pada 18 wilayah kecamatan. Pada tahun 2016 penduduk di Kabupaten Gunung Kidul sebesar 704.026 jiwa, dengan tingkat kepadatan pendudukper kecamatan sebesar rata-rata 473,98 jiwa/Km2. Populasi sapi potong pada tahun 2014-2016 seberturut-turut sebanyak 140.928 ekor, 147.195 ekor dan 148.586 ekor, dengan jumlah rumah tangga kabupaten sebanyak 206.708 kepala keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan basis (nilai LQ≥1 berada di 9 kecamatan yakni Purwosari, Tepus, Rongkop, Girisubo, Playen, Patuk, Gedangsari, Nglipar dan Semin. Nilai Indeks Daya Dukung lahan (IDD) diatas 2 berada di 11 Kecamatan dengan nilai tertinggi berada di Kecamatan Karangmojo sebesar 5,82. Dari hasil analisis satuan ternak, populasi ternak sapi potong sejumlah 107.027 ST, dimana daya tampung ternak sapi sebanyak 255.024 ST/tahun, apabila dikurangi dengan populasi ternak sapi potong yang ada maka potensi pengembangan sebesar 147.997 ST/tahun. Kesimpulan sebagai berikut; Indeks Daya Dukung (IDD) Lahan, di Kabupaten Gunung Kidul berada dalam kategori “aman” dengan nilai >2 untuk pengembangan sapi potong
KERAGAMAN MORFOLOGI, PRODUKSI, DAN KANDUNGAN KIMIA PADI BERAS MERAH AKSESI MATESIH
Padi beras merah aksesi Matesih merupakan aksesi yang telah banyak dikembangkan di Matesih namun belum diketahui karakteristiknya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari morfologi, produksi, dan kandungan kimia padi beras merah aksesi Matesih dengan tiga varietas pembanding yaitu Cempo, Mandel, dan Pertiwi. Hasil pengamatan sifat kualitatif diolah dengan metode skoring, sedangkan sifat kuantitatif dianalisis statistik deskriptif kuantitatif sederhana untuk melihat sebaran data. Sifat kualitatif menunjukkan aksesi Matesih memiliki keragaman yang rendah dan hampir sama dengan ketiga varietas pembanding, sedangkan sifat kuantitatif menunjukkan bahwa aksesi Matesih masih memiliki keragaman yang tinggi. Keragaman tersebut terlihat pada panjang daun, lebar daun, tinggi tanaman, dan panjang malai. Produksi aksesi Matesih lebih baik daripada ketiga varietas pembandingnya, hal ini terlihat dari jumlah anakan, jumlah anakan produktif, berat gabah per rumpun, dan produksi per hektar yang lebih tinggi. Aksesi Matesih memiliki waktu berbunga dan umur panen yang lebih lambat daripada varietas Pertiwi. Kandungan kimia yang diamati yaitu kadar protein, amilosa, dan antosianin. Aksesi Matesih memiliki kandungan amilosa dan antosianin yang lebih tinggi daripada varietas Cempo dan Mandel, namun memilki kadar protein terendah
VARIASI PEMUPUKAN PADA BERBAGAI SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO TEHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI
The aim of this research was knowing the interactions that occur between Legowo row planting system and variations of fertilization on the growth and yield of rice. The research was conducted in Sentono, Karangdowo District, Klaten regency, Central Java. Research started in April to August 2016. The study uses factorial design with two factors. The first factor was the variation of fertilization that consists of three levels, namely: P1 was the dosage recommendation in the form of chemical NPK fertilizer application 600 kg / ha, P 2 = 50% chemical NPK fertilizer dosage recommendation with 10 ton / ha of BATAN’s organic fertilizer products; P3 = 50% chemical NPK fertilizer dosage recommendation with 10 ton / ha of organic compost product of the Faculty of Agriculture UPN "Veteran" Yogyakarta. The second factor was the variation of Legowo row planting system, namely: J1 = 2: 1, J2 = 3: 1, J3 = 4: 1. Each treatment was repeated 3 times and each test with 3 samples per plot, so we get 27 experimental plots in the size of 4 m x 4 m with plantation space of 12,5cm x 25 cm x 50 cm. Based on further analysis of variance with Duncan's Multiple Range Test (DMRT) with a level of 5%. The result shows that there was no interaction between Legowo row planting system and fertilizing variation on all parameters of growth and yield. Treatment of theFertilization variations P1 showed significant difference higher on all parameters growth but no significant difference lower on yield rice compared with P2 dan P3. Other hand that percent of unproductive tillers on P1 showed significant difference higher than P2 and P3. Treatment of Legowo row planting system J1 produce a significantly different higher on yield than J2 and J3, meanwhile there was no significant difference among J1 and J2 on grain weight per hill and per hectare. Organic fertilizer substituted 50% NPK and legowo row planting system 2:1 increased 12.5% to the 4:1 legowo row planting syste
PERTUMBUHAN DAN HASIL SELADA (Lactuca sativa L.) DENGAN PEMUPUKAN NITROGEN DAN KAPUR LIMBAH LAS KARBIT
Selada merupakan tanaman sayuran yang mengandung gizi yang cukup tinggi dan mudah dalam budidayanya. Permintaan selada cukup meningkat, baik pasar swalayan, restoran, maupun pasar tradisional. Menurut estimasi Bank Dunia konsumsi sayuran dan buah akan meningkat 3,9% tiap tahun selama kurun waktu 1995 sampai dengan 2010. Meningkatnya konsumsi sayuran sesuai dengan pertambahan penduduk, baik secara Nasional maupun Global. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada interaksi antara pupuk nitrogen dengan kapur limbah las karbit pada pertumbuhan dan hasil selada; dosis kapur dan nitrogen berapa yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil selada terbaik. Metode yang digunakan adalah percobaan lapangan secara faktorial, terdiri dua faktor dengan rancangan acak lengkap. Faktor pertama adalah dosis kapur limbah las karbit dan factor ke dua adalah dosis pupuk nitrogen. Hasil penelitian menujukkan bahwa terjadi interaksi antara perlakuan dosis kapur limbah las karbid dengan dosis pupuk nitrogen; Kombinasi dosis kapur limbah las karbit 900 kg/ha. dan 150 kg/ha. nitrogen dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil selada
ANALISIS USAHATANI BIOFARMAKA (STUDI KASUS KELOMPOK TANI SRI GUNUNG DESA GUNUNG GAJAH KECAMATAN BAYAT KABUPATEN KLATEN)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis besarnya biaya,penerimaan,pendapatan, efisiensi usahatani dan risiko usahatani di kelompok tani Sri Gunung KabupatenKlaten. Metode dasar penelitian ini adalah deskriptif analitik. Metode penentuan lokasipenelitian secara purposive dengan metode sensus dengan jumlah 30 responden. Hasilpenelitian, biaya rata-rata yang dikeluarkan pada usahatani biofarmaka yaituRp.195.845,40/UT/MT. Rata-rata penerimaan yang diterima oleh petani biofarmaka yaitu Rp.395.916,67/UT/MT. Pendapatan rata-rata yang diterima yaitu sebesar Rp.200.071,27/UT/MT. Efisiensi usaha (nilai R/C rasio) usahatani biofarmaka adalah Rp 2,02yang berarti setiap Rp. 1,00 yang dikeluarkan dalam usahatani biofarmaka akan didapatkanpenerimaan Rp. 2,02 dari biaya yang telah dikeluarkan. sehingga dapat dikatakan bahwausahatani biofarmaka kelompok tani sri gunung sudah efisien. Koefisien variasi pendapatansebesar 0,009 dengan batas bawah Rp. 196.070,25/UT/MT. Berdasarkan analisis risikopendapatan usahatani biofarmaka akan selalu untung (terhindar dari kerugian). Sedangkankoefisien variasi efisiensi sebesar 0,49. Hal ini berarti peluang menyimpang dari efisiensiyang dihadapi petani biofarmaka sebesar 49 %
PROSES PRODUKSI PUPUK ORGANIK LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN DAN SAMPAH ORGANIK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji variasi komposisi bahan pupuk organik darilimbah rumah potong hewan (RPH) dan sampah organik serta metode pengomposannyauntuk menghasilkan pupuk organik sesuai dengan Standar kualitas menurut SNI nomor197030-2004 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor. 70 tahun 2011. Variasi komposisibahan yang dikaji yaitu; (A) 40% isi rumen :40% kotoran dan sisa pakan: 20% sampahorganik pasar; (B) 40% isi rumen : 20 % kotoran dan sisa pakan : 40% sampah organik pasar; (C) 20% isi rumen: 40% kotoran dan sisa pakan: 40% sampah organik pasar; (D) 60 % isirumen:20 % kotoran dan sisa pakan: 20 % sampah organik pasar; (E) 20 % isi rumen: 60 %kotoran dan sisa pakan :20 % sampah organik pasar; (F) 20 % isi rumen: 20 % kotoran dansisa pakan : 60 % sampah organik pasar. Sedangkan metode pengomposan yaitu metodeaerob dan anaerob. Teknik analisis data dilakukan dengan membandingkan parameterkuantitas dan kualitas kompos dengan SNI 197030-2004 dan Peraturan Menteri PertanianNo. 70 tahun 2011 untuk memberikan gambaran secara deskriptif mengenai kualitas komposyang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua parameter kualitas kompos (Corganik,C/N rasio, pH dan unsur hara N, P, dan K), kecuali pH sudah memenuhi standaryang dipersyaratkan (SNI 197030-2004, Peraturan Menteri Pertanian Nomor 70/2011).Kandungan C-organik, C/N rasio paling tinggi terdapat pada komposisi sampah organik pasar60% dan 60 % kotoran ternak dan sisa pakan, Kandungan N, P dan K tertinggi terdapat padakomposisi isi rumen 60 %. Proses pengomposan limbah RPH dan sampah organik pasardengan metode anaerob menghasilkan parameter kualitas kompos lebih baik dibandingdengan proses pengomposan metode aerob
Analisis Keragaan Pelaku Usaha Mikro Sektor Agribisnis Dalam Mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mekanisme penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro dan mengetahui karakteristik pelaku usaha mikro sektor agribisnis dalam mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro berdasarkan prinsip 5C di BRI Unit Baron. Penelitian ini dilakukan di Bank BRI Unit Baron Kanca Solo Slamet Riyadi pada tahun 2017 yaitu sejumlah 57 responden yang merupakan debitur realisasi KUR Mikro sektor agribisnis. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik NonProbability Sampling - Sampling Jenuh. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis yang dilakukan dengan menganalisis dan menginterpretasikan arti data tersebut dengan mendeskripsikan atau menjelaskan. Berdasarkan analisis realisasi KUR sektor agribisnis di BRI Unit Baron, dapat diketahui mekanisme penyaluran KUR meliputi syarat dan ketentuan KUR Mikro serta tahapan penyaluran yaitu tahap pengajuan permohonan kredit, tahap analisis kredit, tahap pemberian putusan kredit, dan tahap realisasi pencairan kredit. Karakteristik pelaku usaha mikro agribisnis dalam mengakses KUR Mikro di BRI Unit Baron berdasarkan 5C memiliki “Character” yang baik sebesar 85,97 % dalam hal pembayaran kredit di tempat sebelumnya, dari prinsip “Capacity” sebagian besar responden memiliki pendapatan bersih sebesar Rp.1 Juta-2 Juta (40,35%) dengan penentuan jangka waktu 24 bulan (49,12%) responden, dari prinsip “Capital” sebagian besar responden memiliki aset kurang dari Rp.20 Juta (35,09%), dari prinsip “Collateral”sebesar 94,74% responden memberikan jaminan untuk diserahkan kepada pihak bank, dan dari prinsip “Condition” sebagian besar responden (38,60 %) memiliki pengalaman usaha kurang dari 5 tahun dan rata-rata memiliki pengalaman usaha selama 1 tahun
PERANAN PENYULUH PERTANIAN DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN MELALUI PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI DI KECAMATAN TANJUNGPALAS TENGAH KABUPATEN BULUNGAN KALIMANTAN UTARA
Gerakan UPSUS PAJALE (Upaya Khusus Padi Jagung Kedelai) merupakan programpemerintah melalui Kementerian Pertanian untuk mendukung pencapaian swasembadapangan di Indonesia. Strategi yang digunakan dalammensukseskan upsus pajale ini adalahmelalui pendampingan dan pengawalan pada petani yang dilakukan Penyuluh PertanianLapang (PPL) dan pihak-pihak terkait lainnya. Salah satu daerah yang telah melaksanakangerakan UPSUS PAJALE adalah di Kabupaten Bulungan. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis peran penyuluh pertanian dalam pengembangan kelompok tani di KecamatanTanjung Palas Tengah Kabupaten Bulungan sebagai upaya mendukung program ketahananpangan nasional khususnya di Provinsi Kalimantan Utara. Responden diambil dengan quotasampling sebesar 30 orang anggota kelompok tani kelas pemula. Analisis data menggunakankorelasi pearson diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,719 yang menunjukkan adanyahubungan yang kuat antara peran penyuluh dalam pengembangan kelompok tani