Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
EFISIENSI PABRIK GULA NASIONAL BERDASARKAN USIA MESIN
Pemerintah sekarang fokus untuk meningkatkan hasil pengolahan pertanian. Sektor industri gula merupakan salah satu perhatian pemerintah karena Indonesia masih mengimpor gula. Keputusan pabrik gula yang masih menggunakan mesin yang sudah berusia tua menjadi salah satu penyebab Indonesia masih mengimpor gula. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pabrik gula sering menghentikan produksi karena harus memperbaiki mesin sehingga rendemen tebu rendah
Pelaksanaan Asuransi Usaha Tani Padi dalam Meningkatkan Ketahan Pangan di Kota Padang
Sektor pertanian, khususnya subsektor tanaman pangan sangat rentan terhadap resiko kegagalan panen. Resiko tersebut dapat datang dari faktor usaha tani maupun faktor diluar kendali usaha tani. Untuk mengatasi resiko kegagalan tersebut, pemerintah telah melaksanakan program asuransi pertanian, diantaranya Asuransi Usahatani Padi, termasuk di Sumatera Barat. Tujuan penelitian ini adalah: 1). menggambarkan dan mengevaluasi pelaksanaan Asuransi usaha tani padi (AUTP) di Kota Padang, 2). mengidentifikasi kesiapan masyarakat tani tentang keberadaan dari asuransi pertanian di Kota Padang, dan 3). mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran petani terhadap asuransi pertanian di Kota Padang. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan AUTP di Kota Padang baru efektif berjalan selama 2 tahun, realisasi lahan sawah yang diasuransikan masih dibawah target yang ditentukan. Pelaksanaan AUTP masih dalam bentuk pendekatan program, keikutsertaan petani cendrung dipaksakan. Pengetahuan petani tentang asuransi dan AUTP sudah cukup baik, namun kesadaran petani untuk ikut AUTP masih rendah, sekitar 20 % petani yang ikut AUTP. Faktor yang mempengaruhi kesadaran petani untuk ikut AUTP adalah posisi petani dalam organisasi petani. Sedangkan kerusakan yang dialami petani tidak mempengaruhi kesadarain petani untuk ikut program AUT
SKLEROTIA DAN LUAS BERCAK SEBAGAI VARIABEL KETAHANAN PADI TERHADAP HAWAR PELEPAH DAUN
Hawar pelepah daun merupakan salah satu penyakit yang menyerang padi pada berbagai stadia pertumbuhan yang menyebabkan menurunnya kuantitas dan kualitas panen. Salah satu tanda penyakit hawar pelepah daun adalah sklerotia dan gejala penyakitnya berupa bercak di permukaan daun yang belum banyak digunakan untuk mengevaluasi ketahanan varietas padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketahanan padi dilihat dari jumlah sclerotia dan luas bercak sebagai opsi variabel untuk menguji ketahanan varietas padi. Penelitian dilaksanakan di Dukuh Durenan Desa Joho Kecamatan Mojolaban Sukoharjo. Varietas yang paling tahan terhadap penyakit hawar pelepah daun yaitu varietas Padi Hitam yang menunjukkan nilai yang paling rendah dalam luas bercak yang timbul dan jumlah sklerotia
Fluktuasi Populasi Serangga Hama Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens Stal.) Dan Keragaman Musuh Alaminya Pada Lahan Padi Sawah Universtas Wiralodra, Desa Singaraja, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu
Wereng Batang Coklat/ WBC (Nilaparvata lugens Stal.) merupakan hama utama (Major pest) padi di daerah Kabupaten Indramayu Jawa Barat. WBC merusak tanaman padi pada bagian batang dengan cara menghisap cairan sel hingga terlihat seolah kering dan terbakar yang dsebut dengan Hopperburn.Penelitian ini bertujuan mempelajari fluktuasi populasi WBC, pengaruh cuaca seperti suhu,kelembaban, curah hujan terhadap populasi WBC, keragaman musuh alami berupa predator maupun parasitoid WBC pada tanaman padi sawah Di Wilayah Universitas Wiralodra, Desa Singaraja, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat dari bulan Juni 2015 - Agustus 2015 pada ketinggian 18 mdpl.Penelitian dilakukan dengan metode survey pada tiga lahan percobaan yang bertempat Di Wilayah Universitas Wiralodra, Desa Singaraja, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Metode penelitian adalah observasi ekologis yaitu Metode pengambilan sampel dilahan pengamatan. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara metode nisbi yaitu dengan menggunakan perangkap kuning berperekat (Yellow stiky Traph/ YST) serta manual menggunakan hand counter (visual counting).Hasil penelitian menunjukan fluktuasi populasi WBC berada dibawah ambang ekonomi WBC dan hasil analisa korelasi menunjukkan suhu, kelembaban dan curah hujan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kelimpahan populasi WBC. Hal ini ditunjukkan dengan hasil analisis regresi masing-masing pada suhu ( Y= - 49.9 + 1.71 X1 ; R2 =0,055; P/Sign=0,484), kelembaban (Y= - 41.829 + 0.598 X2; R2 = 0,457; P/ Sign = 0,016) dan curah hujan (Y= 2.845 + 0.512 X3 ; R2 =0,217; P/ Sign = 0,127). Adapun hubungan antara Suhu/ T, Kelembaban/ RH dan Curah Hujan/ CH terhadap WBC ( Y = - 94.2 + 3.00 T + 0.002 RH + 0.804 CH; R2 = 0.581; P/ Sign = 0.062) dengan tingkat signifikansinya > 0.05. Indeks keragaman serangga sedang (1.63)
SUBSTITUSI PUPUK ANORGANIK DENGAN PUPUK ORGANIK HASIL DEKOMPOSISI SAMPAH RUMAH TANGGA PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG
Penggunaan kompos sampah rumah tangga hasil dekomposisi menggunakan dekomposer berpotensi mengurangi kebutuhan pupuk anorganik. Penelitian bertujuan mempelajari penurunan nisbah C/N menggunakan dekomposer sehingga memenuhi syarat sebagai pupuk organik. Pupuk tersebut digunakan untuk menyubstitusi sebagian kebutuhan pupuk anorganik tanpa menurunkan pertumbuhan dan hasil. Penelitian diselenggarakan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 8 perlakuan pengurangan dosis NPK dari 100% (dengan dan tanpa kompos berdekomposer) turun ke 75%, 50% dan 25%, tiga perlakuan terakhir masing-masing dikombinasikan dengan pemberian kompos, dengan dan tanpa perlakuan dekomposer. Hasil pengomposan dengan dekomposer selama 4-5 minggu mampu menurunkan nisbah C/N menjadi 11-12%. Substitusi dosis NPK dengan kompos sampai batas tertentu tidak menurunkan pertumbuhan dan hasil jagung. Dosis NPK 50% dengan pemberian kompos meningkatkan berat segar per tongkol menjadi 310 g, berat kering 221 g dan berat biji kering pipil 189 g tongkol-1
KARAKTERISASI MORFOLOGI DAN FITOKIMIA TANAMAN MENIRAN (PHYLLANTHUS NIRURI L.)
Studi awal dalam budidaya tanaman adalah mengetahui karakterisasi tanaman tersebut. Karakterisasi tanaman meniran dari beberapa daerah penghasil simplisia meniran di Jawa Tengah perlu dilakukan untuk mengetahui tanaman meniran dengan kualitas baik. Penelitian karakterisasi meliputi karakterisasi morfologi (pengamatan makroskopis dan mikroskopis) dan karakterisasi fitokimia (paparan mutu simplisia, identifikasi flavonoid dan kadar flavonoid total). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan standar tanaman meniran sebagai bahan baku obat tradisional. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif. Penelitian menggunakan sampel meniran dari tiga daerah, yaitu Sragen, Karanganyar, dan Sukoharjo. Selanjutnya sampel tanaman meniran tersebut dikarakterisasi morfologi dan fitokimianya. Hasil penelitian ini adalah menunjukkan bahwa secara morfologi tanaman dari ketiga daerah tersebut telah terindentifikasi sebagai meniran dengan nama latin Phyllanthus niruri sedangkan secara fitokimia menunjukkan bahwa tanaman dari ketiga daerah sampel, memenuhi syarat simplisia standar Oleh karena itu bibit tanaman meniran dari ketiga daerah sampel dapat digunakan dalam budidaya tanaman meniran
Pertumbuhan dan Hasil Cabai Merah pada Berbagai Metode Irigasi dan Pemberian Pupuk Kandang di Wilayah Pesisir Pantai
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) jenis irigasi tetes yang tepat, (2) pengaruh pupuk kandang, dan (3) interaksi antara metode irigasi dan pupuk kandang. Penelitian dilaksanakan di Desa Karanganyar, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei 2017 sampai September 2017. Rancangan perlakuan yang digunakan adalah rancangan split plot dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Perlakuan yang dicoba meliputi dua faktor, faktor pertama sebagai main plot yaitu berbagai metode irigasi yang terdiri dari 4 taraf antara lain manual, irigasi tetes pabrik, modifikasi komponen akuarium, dan irigasi selang. Faktor kedua sebagai sub plot yaitu pupuk kandang yang terdiri dari 2 taraf yaitu 0 t/ha dan 30 t/ha. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah cabang, luas daun, bobot brangkasan segar, bobot brangkasan kering, jumlah bunga, jumlah buah, bobot buah per buah, bobot buah per tanaman, bobot buah per hektar, persentase bunga jadi, dan persentase buah jadi. Hasil penelitian dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA) pada taraf 5%. Metode irigasi manual, tetes pabrikan, modifikasi komponen aquarium, dan selang menunjukan pengaruh sama terhadap pertumbuhan dan hasil cabai, hasil panen nya berturut-turut yaitu 27,24 t/ha; 30,15 t/ha; 27,62 t/ha; dan 28,71 t/ha. Pemberian pupuk kandang yang dilakukan memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah cabang, jumlah bunga, jumlah buah, bobot buah per tanaman, dan bobot buah per hektar. Pemberian pupuk kandang 30 t/ha mampu meningkatkan hasil sebesar 17,52 % dari 26,14 t/ha tanpa pemberian pupuk kandang menjadi 30,72 t/ha. Perlakuan irigasi dan pupuk kandang tidak menunjukan adanya interaksi yang nyata antar perlakuan
APLIKASI SISTEM PENYIRAMAN SENDIRI PADA BUDIDAYA TOMAT CHERRY SECARA HIDROPONIK
Erosi dapat disebabkan oleh aliran permukaan (run-off) yang mengalir pada lahan berlereng yang dimanfaatkan untuk pertanian tanaman pangan sehingga dapat membawa sedimen berupa tanah tererosi.Maka dari itu diperlukanlah perhitungan jumlah erosi aktual dan potensial pada berbagai macam kemiringan lahan dan pola tanam yang dilakukan di lahan kering Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Perhitungan besarnya erosi dilakukan dengan mengambil data erosi aktual dan dengan prediksi MUSLE pada lima plot penelitian. Plot yang dimaksud adalah plot 1 (karet) kemiringan 12,5%, plot 2 (jagung – kacang merah – singkong) kemiringan 21%, plot 3 (jagung) kemiringan 22%, plot 4 (singkong – kacang merah – ubi jalar) kemiringan 20%, dan plot 5 (singkong – jagung – kacang merah – kacang tanah) kemiringan 10%. Jumlah erosi aktual dan prediksi MUSLE pada plot 1 sampai dengan plot 5 berturut-turut adalah 0,49 ton/ha dan 4,34 ton/ha; 75,73 ton/ha dan 67,82 ton/ha; 43,61 ton/ha dan 92,36 ton/ha; 74,55 ton/ha dan 60,44 ton/ha; 10,25 ton/ha dan 5,10 ton/ha. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat overestimate dan underestimate nilai prediksi MUSLE terhadap hasil erosi aktual sehingga diperlukan kalibrasi dan validasi agar model prediksi erosi MUSLE. Hasilnya adalah jumlah erosi potensial dengan prediksi MUSLE pada plot 1 sampai dengan plot 5 berturut-turut adalah 0,58 ton/ha; 81,76 ton/ha; 58,32 ton/ha, 81,58 ton/ha, dan 9,78 ton/ha. Sehingga prediksi MUSLE dapat digunakan pada lahan kering Universita
Studi Efisiensi Teknis Usahatani Tebu Tanam Awal dan Tebu Keprasan di Kabupaten Malang
Tebu merupakan bahan baku gula dimana sebagai sumber kalori dan berasa manis. Gula termasuk salah satu dari 9 bahan kebutuhan pokok dan juga bahan industri makanan dan minuman. Secara nasional konsumsi gula terus meningkat dari tahun ke tahun namun tidak diimbangi dengan peningkatan produksi. Salah satu penyebab adalah rendahnya produktivitas tebu dikarenakan tingginya porsi tebu keprasan. Upaya peningkatan produksi yang telah dilakukan antara lain dengan bongkar ratoon.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efisiensi teknis usahatani tebu berdasarkan sistem tanam dan tebu keprasan. Peneltian dilakukan di Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur dan penentuan unit analisis dilakukan dengan non proportioned stratified random sampling berdasarkan sistem tanam dan keprasan dan diperoleh 172 petani tebu. Alat analisis yang digunakan adalah analisis fungsi produksi stochastic frontier. Dari hasil analisis, rata- rata efisiensi teknis sistem tebu tanam dan tebu keprasan berbeda nyata. Pada sistem tebu tanam lebih efisien dibandingkan tebu keprasan. Kondisi ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat frekuensi keprasan maka semakin rendah nilai efisiensinya. Sehingga upaya peningkatan produkstivitas tebu adalah pengkombinasian penggunaan input produksi dan integrasi dari hulu hingga hilir seperti penentuan rendemen dan varietas tebu yang diharapkan dapat mendorong peningkatan efisiensi dan produksi