Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
PENGARUH JENIS PUPUK PADA BERBAGAI SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI
Tanaman padi ialah tanaman penghasil beras yang digunakan sebagai bahan pangan utama hampir 90% penduduk Indonesia. Untuk meningkatkan produksi padi memerlukan teknik budidaya yang tepat serta masukan hara yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan hasil padi yang maksimal. Penelitian bertujuan untuk membandingkan pengaruh penggunaan jenis pupuk anorganik yang dikombinasikan dengan pupuk organik pada berbagai sistem tanam jajar legowo terhadap pertumbunan dan hasil tanaman padi. Penelitian ini menggunakan rancangan split plot acak kelompok (Split Plot Randomized Complete Design) dengan tiga ulangan. Sebagai petak utama (main plot) adalah jenis pupuk, terdiri dari 3 aras yaitu P1= 100% pupuk anorganik (Phonska 600 kg/ha), P2: 50% pupuk anorganik + 10 ton/ha pupuk organik hayati BATAN dan P3: 50% pupuk anorganik + 10 ton/ha pupuk organik Faperta UPN “Veteran” Yogyakarta). Sebagai anak petak (sub plot) adalah sistem tanam jajar legowo, terdiri dari 3 aras yaitu: J1: Jajar Legowo 2: 1, J2: Jajar Legowo 3 : 1, dan J3: Jajar Legowo 4 : 1. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara jenis pupuk dan sistem tanam jajar legowo terhadap pertumbuhan dan hasil padi. Jenis pupuk 100% anorganik tidak berbeda nyata dengan 50% anorganik + organik BATAN dan 50% anorganik + organik FP UPN pada tinggi tanaman 56 hari setelah tanam, jumlah anakan produktif, panjang malai, bobot 1000 butir dan hasil. Ketiga sistem tanam jajar legowo tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap tinggi tanaman; sistem tanam jajar legowo 4 : 1 memberikan jumlah anakan dan jumlah anakan produktif lebih banyak dibandingkan jajar legowo 2:1 dan 3:1. Sistem tanam jajar legowo 2 : 1 memberikan hasil paling tinggi dibanding sistem jajar legowo 3:1 dan 4:1
Peluang Pengelolaan Padi Sawah Ramah Lingkungan Berdasarkan Kapasitas Petani
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peluang pengembangan pertanian padi ramah lingkungan di Sulawesi Tengah dengan melihat kompetensi petani terhadap inovasi teknologi ramah lingkungan berdasarkan tiga kompetensi yaitu teknik, memecagkan permasalahan usahatani, dan adaptasi lingkungan. Metodologi yang digunakan adalah survei menggunakan kuseioner pada 174 responden di sentra padi sawah Kabupaten Parigi Moutong dan Sigi Propinsi Sulawesi Tengah. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan skoring dan persentase dalam tabel. Hasil penelitian menunjukkan petani bersikap positif terhadap inovasi teknologi pertanian ramah lingkungan yaitu komponen teknologi penggunaan bibit unggul, penggunaan pupuk yang berimbang, penggunaan bahan organik, pengairan secara intermitten, dan pengendalian organisme penganggu tanaman secara terpadu. Petani pada kategori sedang pada kemampuan teknis, kemampuan mengatasi masalah, dan kemampuan adaptasi lingkungan pertanian ramah lingkungan sehingga direkomendasikan untuk meningkatkan peluang pengelolaan pada peningkatan ketrampilan dan pemahaman petani
PENGARUH TEKNIK TRANSPLANTING ANAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN SEBAGAI SALAH SATU LANGKAH DOMESTIKASI SIDAGURI (SIDA RHOMBIFOLIA)
Sidaguri merupakan tumbuhan yang hidup secara liar. Namun, mempunyai banyak manfaat sebagai bahan baku obat herbal yang dapat menyembuhkan asam urat. Permintaan yang semakin tinggi menyebabkan pengambilan bahan baku sidaguri dari alam terus dilakukan. Di sisi lain sidaguri belum dibudidayakan. Domestikasi perlu dilakukan untuk menghindari kepunahan. Salah satu langkah awal tahapan domestikasi adalah transplanting anakan alam ke lahan budidaya. Untuk itu, perlu diketahui teknik yang tepat dalam melaksanakan transplanting tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji beberapa teknik tranplanting anakan yang paling baik dalam budidaya sidaguri. Penelitian dilaksanakan di rumah plastik dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan yang terdiri atas teknik puteran, cabutan, dan stump. Masing-masing perlakuan diulang 6 kali. Pengamatan dilakukan setiap minggu dengan menghitung tingi tanaman, jumlah daun, dan jumlah cabang. Anakan yang diamibil adalah dengan tinggi sekitar 5 cm atau mempunyai daun berjumlah 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan perlakuan teknik transplanting yang dilakukan tidak berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah cabang. Perlakuan teknik cabutan cenderung menunjukkan angka yang paling tinggi pada tinggi tanaman dan jumlah daun, sedangkan teknik stump pada jumlah cabang
PENGARUH KADAR ARSEN TINGGI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI SAWAH
Akhir-akhir ini ketahanan pangan dihadapkan pada permasalahan lingkungan yang mendapat perhatian serius, antara lain pemanasan global dan perubahan iklim, pencemaran bahan beracun berbahaya di lahan pertanian seperti bahan agrokimia (pupuk dan pestisida) dan logam berat. EPA (Environmental Protection Agency) menerangkan bahwa Arsen (As) bentuk organik (mengandung karbon), misalnya monosodium methanearsenate dan dinatrium methanearsenate digunakan dalam pestisida untuk aplikasi pertanian. Salah satu dampak dari paparan pestisida yangmengandung Arsen (As) adalah anemia. Mengingat beras masih merupakan makanan pokok di Indonesia, penelitian ini perlu dilakukan. Dengan mengetahui kandungan As dalam beras yang dihasilkan dari lahan sawah yang terkontaminasi As, maka dapat diketahui sejauh mana beras tersebut aman untuk dikonsumsi oleh manusia. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah kontaminasi Arsen (L) yaitu tanpa kontaminasi arsen (L1) dan kontaminasi 20 ppm As (L2) dan faktor kedua adalah jenis tanah sawah (T) yaitu tanah Lombok (T1), tanah Karanganyar (T2), dan tanah Pati (T3)kemudian tanah ditimbang sekitar 10 kg berat kering, kemudian dikontaminasidengan logam berat As sebanyak 20 ppm dalam bentuk As2O5 in H2O lalu diinkubasi kurang lebih selama 8 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa logam berat arsen yang tinggi dalam tanah mempengaruhi pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah anakan dan biomassa) dan kualitas tanaman padi
Pemanfaatan Citra Satelit untuk Membangkitkan Informasi Suhu Udara guna Mendukung Pengelolaan Sumberdaya Air
Suhu udara merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menganalisis kebutuhan air tanaman. Terbatasnya jumlah stasiun iklim mengakibatkan tidak semua wilayah memiliki informasi suhu udara. Citra satelit yang memiliki spektrum gelombang elektromagnetik (band) red, near-infrared, dan thermal infrared dapat digunakan untuk membangkitkan informasi suhu udara sehingga menjadi solusi altenatif, salah satunya adalah citra satelit Moderate Resolution Imaging Spektroradiometer (MODIS). Informasi suhu udara dibangkitkan melalui pendekatan penutup lahan. Penelitian menunjukkan bahwa suhu udara di Manokwari yang dibangkitkan dari citra satelit berada pada kisaran 273 oK – 301 oK atau 0 oC – 28 oC dan umumnya lebih rendah dari hasil pengukuran pada stasiun iklim. Hal ini disebabkan suhu udara yang dibangkitkan dari citra satelit mengacu pada waktu perekaman oleh satelit dan perekaman citra satelit MODIS untuk kawasan Manokwari umumnya dilakukan pada puku 08.00 – 09.00 WIT. Berdasarkan metode RMSE, akurasi citra satelit MODIS dalam membangkitkan informasi suhu udara sebesar 84,32% dibanding metode pengukuran atau memiliki tingkat penyimpangan sebesar 15,68% sehingga citra satelit MODIS dapat digunakan sebagai solusi alternatif dalam membangkitkan informasi suhu udara
UPAYA PENINGKATAN KAPASITAS PETANI TERHADAP TEKNOLOGI PEMBIBITAN CABAI SEHAT MELALUI PELATIHAN DI KABUPATEN BOYOLALI
Cabai (Capsicum accum L, Capsicum frutescens L) merupakan komoditas sayuran yangmemiliki ekonomi tinggi. Kebutuhan cabai terus meningkat setiap tahun sejalan denganmeningkatnya jumlah penduduk, oleh karena itu perlu ditingkatkan produksinya dengan lebihserius pada teknik budidayanya khususnya dalam pengendalian OPT. Pelatihan ini bertujuanuntuk meningkatan kapasitas petani melalui peningkatan pengetahuan dan sikap petaniterhadap teknologi pembibitan cabai sehat. Pengumpulan data dilakukan menggunakankuesioner yang dibagikan ke setiap responden pelatihan sebanyak 25 orang, dimanakuesioner diberikan sebelum dilaksanakan pelatihan dan pada saat setelah dilaksanakanpelatihan. Penelitian dilakukan dengan memberikan pretest dan postest untuk mengetahuipeningkatan pengetahuan petani, selanjutnya data tersebut dianalisis menggunakan analisisstatistik non parametrik yaitu Wilcoxon Match Pairs Test. Hasil penelitian menunjukkanbahwa harga Z hitung pada uji Wilcoxon adalah -4,910 merupakan nilai mutlak. Selanjutnyapada taraf kesalahan 5%, Z tabel = 1,64 sehingga Z hitung lebih besar dari Z tabel. Hal inimenunjukkan bahwa pelatihan dilaksanakan di Kabupaten Boyolali terbukti dapatmeningkatkan pengetahuan peserta pelatihan mengenai teknologi pembibitan cabai sehat
PERANAN PERKEBUNAN BERBASIS KARET (HEVEA BRASILIENSIS MUEL. ARG) DALAM PENYEDIAAN KOMODITAS HORTIKULTURA
Penciptaan nilai tambah dan optimalisasi lahan demi keberlangsungan perusahaan dapat dilakukan melalui penanaman berbagai komoditas, salah satunya komoditas hortikultura. Hal tersebut telah dilakukan oleh perusahaan berbasis karet milik negara sehingga memiliki peran dalam menyumbang ketersediaan hortikultura yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat. Tujuan penelitian untuk memperoleh gambaran peranan perkebunan berbasis karet dalam penyediaan komoditas hortikultura yang hasilnya akan bermanfaat bagi para pihak untuk dapat sinkronisasi antar komoditas dalam hubungan yang saling menguntungkan. Metode penelitian dilakukan di perkebunan milik negara yang berlokasi di Jawa Tengah, pada bulan Februari-Desember 2016. Metode yang digunakan adalah metode survei dan memilih sampel secara purposive yang dilakukan di 12 kebun berbasis tanaman karet. Parameter yang diamati adalah jenis komoditas hortikultura, harga jual komoditas, dan biaya komoditas yang diusahakan. Selanjutnya data dianalisis menggunakan metode deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas komoditas hortikultura minimal mencapai 144,45 Ha (0,5%) dari luas total 23.760,8 Ha, adapun jenis hortikultura yang diusahakan adalah Pisang, Pepaya, Jagung, Ketela, Edamame, Jahe Gajah, Merica dan Sereh Wangi yang ditanam pada masa TTI, TBM, TM dan lahan lain yang tidak dapat ditanami karet karena faktor tertentu dengan cara monokultur maupun tumpangsari. Hasil analisis kelayakan ekonomi R/C >1 yang artinya bahwa pengusahaan hortikultura layak dan prospektif untuk dikembangkan dan mampu memberikan manfaat bagi perusahaan
Pertumbuhan Tomat pada Beberapa Aplikasi ZnSO4
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggapan pertumbuhan tomat pada beberapa aplikasi ZnSO4. Penelitian telah dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 7 taraf perlakuan. Perlakuan yang digunakan yaitu, tanpa perlakuan, melalui tanah 5 mg.kg-1, melalui tanah 10 mg.kg-1, melalui tanah 15 mg.kg-1, melalui daun 25 ppm, melalui daun 50 ppm, melalui daun 75 ppm. Variabel pengamatan adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan berat kering. Hasil penelitian dianalisi menggunakan uji F 5%, dilanjutkan dengan uji DMRT 5% apabila hasil berbeda nyata. Analisis sidik ragam menunjukkan hasil yang tidak signifikan pada semua variabel pengamatan, kecuali pada berat kering tajuk
TEKNOLOGI SISTEM JAJAR LEGOWO 2:1 DAN PUPUK HAYATI BACILLUS PLUS PADA TANAMAN PADI
Meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan bahan pangan semakin meningkat. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan intensifikasi pertanian seperti pupuk hayati Bacillus plus dan sistem tanam jajar legowo 2:1. Penelitian dilaksanakan di Ngarum, Ngrampal, Sragen. Penelitian terdiri dari dua perlakuan yaitu perlakuan 1 dengan penanaman jajar legowo 2:1 jarak tanam 40x20x10 cm ditambah pupuk hayati Bacillus plus dan perlakuan 2 sebagai kontrol yaitu sistem tanam konvensional dengan jarak tanam 25x25 cm tanpa penambahan pupuk hayati. Hasil ubinan saat panen perlakuan1 sebesar 10,15 kg dengan produktivitas 10,15 ton/ha dan perlakuan 2 (kontrol) 5,4 kg dengan produktivitas 8,64 ton/ha. Teknologi system tanam jajar legowo 2:1 dan aplikasi pemanfaatan pupuk hayati Bacillus plus di lahan sawah mampu meningkatkan produksi padi