Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
Karakterisasi Morfologi dan Profil Kromatogram Minyak Atsiri 3 Jenis Mentha Koleksi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT)
Dalam genus Mentha disebutkan terdapat lebih kurang 30 spesies dan beberapa hibrid yang umumnya tumbuh di wilayah temperate (sub-tropis). Di Indonesia hanya dikenal beberapa jenis Mentha dan ditanam di wilayah pegunungan atau di dataran tinggi. Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional sampai saat ini memiliki koleksi 3 jenis Mentha. Untuk melengkapi data botani dan fitokimia dari 3 jenis mentha tersebut maka dilakukan penelitian identifikasi morfologi/taksonomi dan fitokimianya. Penelitian ini bersifat diskriptif analitik dengan cara melakukan pengamatan langsung terhadap morfologi tanaman mentha serta melakukan isolasi dan identifikasi senyawa aktif dalam minyak atsiri ke-3 jenis mentha dengan metode KLT. Dari hasil identifikasi morfologi dan anatomi diketahui bahwa 3 jenis mentha yang dikoleksi terdiri dari Mentha x piperitaL., Mentha arvensisL., dan Mentha spicataL. Dan hasil isolasi minyak atsiri diketahui bahwa kadar minyak atsiri tertinggi diperoleh pada Mentha piperita yaitu sebesar (2%) dan terendah adalah Mentha spicata dengan kadar 1,2%. Identifikasi profil minyak atsiri secara kualitatif dengan KLT menunjukkan bahwa ke-3 jenis mentha mengandung beberapa jenis senyawa kimia yang berbeda dengan ditandai jumlah dan warna spot yang berbeda
Pengaruh Pemberian Kompos, Biochar dan Trichoderma Sp terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Bawang Merah Lokal Palu pada Lahan Kering
Bawang merah lokal palu atau yang lebih dikenal dengan nama bawang goreng Palu merupakan salah satu komoditas ungguln spesifik Sulawesi Tengah. Jenis bawang merah ini dapat tumbuh dan berproduksi baik serta memiliki potensi untuk dikembangankan pada wilayah Sulawesi Tengah khususnya di lembah Palu yang cederung beriklim kering. Salah satu upaya meningkatkan produksi bawang merah lokal Palu yang diusahakan pada lahan kering adalah perbaikan lahan pertanian dengan pemberian pupuk Organik. Karbon hitam (C) atau biochar dapat mengatasi beberapa keterbatasan tersebut dan menyediakan opsi tambahan bagi pengelolaan tanah, suatu langkah untuk mempercepat pengomposan dengan penambahan stimulator. Trichoderma sp merupakan salah satu jenis fungi atau jamur yang menghasilkan enzim selulase serta enzim lain yang mendegradasi kompleks polisakarida. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian kompos, biochar dan Trichoderma sp terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah lokal palu yang dibudidayakan pada lahan kering lembah palu. Pengkajian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 Perlakuan berupa perlakuan pemberian kompos; pemberian kompos dan biochar; pemberian kompos, biochar dan Trichoderma sp, dan masing-masing perlakuan di ulang sebanyak 3 kali ulangan. Parameter yang diamati yaitu: tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, serta untuk komponen hasil yang diamati adalah jumlah umbi, diameter umbi, berat basah, dan berat kering. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis Of Varians (ANOVA), bila terdapat beda nyata dilanjutkan dengan Uji Beda Jujur (BNJ) pada taraf uji 5%. Dari hasil kajian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemberian kompos ditambahkan biochar 10% dengan Trichoderma sp dapat memberikan pengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman dan meningkatkan produksi hasil tanaman bawang merah lokal palu dengan berat umbi segar tertinggi sebesar 18.85 gram per rumpun
RESPON PERTUMBUHAN PLANLET PISANG ( Musa paradisiaca L.) PADA BEBERAPA KONSENTRASI EKSTRAK JAGUNG MUDA DAN SUKROSE SECARA IN VITRO
Bibit pisang bermutu tinggi dalam jumlah banyak, dapat dilakukan secara kultur jaringan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui interaksi antara perlakuan ekstrak jagung muda dan sukrose terhadap pertumbuhan planlet pisang, mengetahui konsentrasi ekstrak jagung muda yang tepat , konsentrasi sukrose yang tepat untuk mendukung pertumbuhan planlet pisang secara in vitro. Penelitian dilaksakan di laboratorium Bioteknologi UPN”Veteran” Yogyakarta, dengan metode percobaan laboratorium disusun dalam rancangan acak lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama adalah ekstrak jagung manis muda dengan konsentrasi 6 ppm, 8 ppm dan 10 ppm. Faktor kedua adalah konsentrasi sukrose yaitu 20 g/l, 30 g/l dan 40 g/l. Setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara perlakuan konsentrasi ekstrak jagung muda dan sukrose pada parameter jumlah akar. Kombinasi perlakuan konsentrasi ekstrak jagung muda 6 ppm dan sukrose 40g/l menghasilkan jumlah akar terbanyak yaitu 5,27. Aplikasi konsentrasi ekstrak jagung muda 8 ppm bobot kering planlet tertinggi yaitu 0,37 mg. Pemberian sukrose 30 g/l menghasilkan tinggi planlet tertinggi yaitu 6,96 cm. perlakuan konsentrasi sucrose 20 g/l menghasilkan panjang akar dan bobot segar planlet tertinggi
Pengaruh Aplikasi Pupuk Organik Cair dan Pupuk Kotoran Sapi Terhadap Pertumbuhan, Hasil, dan Kualitas Kedelai (Glycine max (L.) Merril)
Kedelai (Glycine max L.) merupakan komoditas tanaman pangan ketiga setelah padi dan jagung di Indonesia. Dalam memenuhi kekurangan dan kebutuhan kedelai maka pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mendorong peningkatan produksi kedelai. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi kedelai, yaitu dengan pemberian pupuk. Penggunaan pupuk dalam peningkatan produksi kedelai memegang peranan penting, tetapi penggunaan pupuk anorganik yang terlalu banyak dan terus menerus tanpa mengembalikan bahan organik ke dalam tanah dapat mengganggu keseimbangan sifat tanah, sehingga akan menurunkan produktivitas lahan dan mempengaruhi produksi. Untuk mengatasi hal ini, maka perlu adanya penggunaan media campuran dengan bahan-bahan organik, seperti pupuk organik cair dan pupuk kotoran sapi dengan penambahan Trichoderma sp. untuk mencapai produksi tanaman kedelai menjadi optimal. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan kombinasi perlakuan aplikasi pupuk organik cair dan pupuk kotoran sapi dengan Trichoderma sp. yang dapat meningkatkan pertumbuhan, hasil, dan kualitas kedelai.Penelitian ini dilaksanakan di Agrotechnopark Jubung, Kabupaten Jember pada Juni 2016 sampai September 2016. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok secara faktorial 4 x 4 dengan 3 ulangan. Faktor I adalah pupuk organik cair dengan 4 taraf (kontrol, 2,5 cc/liter, 5 cc/liter, dan 7,5 cc/liter) dan faktor II adalah pupuk kotoran sapi + Trichoderma sp. dengan 4 taraf (kontrol, 166 g/tanaman + Trichoderma 20 g/polybag, 222 g/tanaman + Trichoderma 20 g/polybag, dan 278 g/tanaman + Trichoderma 20 g/polybag). Hasil percobaan menggunakan uji lanjut Duncan (DMRT 5 %) menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara aplikasi pupuk organik cair dan aplikasi pupuk kotoran sapi + Trichoderma sp. berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah polong hampa, berat biji kering, berat 100 biji, dan berat berangkasan kering. Konsentrasi pupuk organik cair 7,5 cc/liter berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan, hasil, dan kualitas kedelai. Dosis pupuk kotoran sapi 278 g/polybag + Trichoderma sp. 20 g/polybag berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan, hasil, dan kualitas kedela
Uji Ketahanan Enam Hibrida Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) Terhadap Nematoda Puru Akar (Meloidogyne spp.)
Nematoda merupakan hama yang berpengaruh untuk tanaman tomat karena dapat menyebabkan kerugian ekonomi dan penurunan hasil. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketahanan tomat hibrida potensial terhadap nematoda puru akar. Penelitian ini dilakukan di Rumah kaca Fakultas Pertanian UGM dan Labolatorium Nematologi Pertanian Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan UGM mulai bulan Juli 2016 hingga April 2017. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan masing-masing nomor 10 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan semua Hibrida yang diuji rentan terhadap serangan nematoda puru akar. Rerata nilai skoring akar tanaman tomat paling rendah dimiliki oleh Gamato 2 X CLN. Jumlah nematoda L2 dalam tanah, L2 dalam akar, dan nematoda betina dalam akar menunjukkan beda nyata antara tomat hibrida dibandingkan GM2 (kontrol) dan rerata jumlah nematoda paling rendah pada hibrida adalah Gamato 2 X CLN
EMISI CH4 DAN HASIL GABAH PADA VARIETAS CIHERANG DENGAN SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO 2:1 DI LAHAN TADAH HUJAN
Lahan sawah merupakan sumber penghasil emisi CH4. Kondisi lingkungan pertanaman padi sawah yang tergenang (anaerob) merupakan kondisi optimum pembentukkan gas CH4. Selain itu, pengalolaan lahan dan teknik budidaya tanaman padi dapat mempengaruhi emisi CH4 yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika emisi CH4 dan hasil padi pada varietas Ciherang pada Musim Hujan 2014-2015 (MH 2014-2015) dan Musim Kemarau I 2015 (MK I 2015) dengan cara tanam Jajar Legowo 2:1 di lahan sawah tadah hujan. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian pada bulan November 2014 - Maret 2015 untuk MH 2014-2015 dan Maret - Juli 2015 untuk MK I 2015, dengan menerapkan jajar legowo 2:1. Varietas yang digunakan adalah varietas Ciherang dengan variabel yang diamati adalah fluk CH4 dengan pengambilan sampel GRK terbatas, emisi CH4, hasil gabah, tinggi muka air tanah serta data iklim. Hasil penelitian menunjukkan emisi CH4 dan hasil padi yang dihasilkan pada MH 2014-2015 sebesar 216 kg CH4 ha-1 dengan hasil gabah 5,6 ton ha-1. Emisi CH4 dan hasil padi pada MK I 2015 sebesar 244 kgCH4 ha-1 dengan hasil gabah dan 4,2 ton ha-
Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Pemburu Madu Hutan di Dusun Arung Santek, Pulau Moyo
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat dan aktivitas berburu madu hutan di Dusun Arung Santek, Desa Labuhan Aji, Pulau Moyo. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dan kuisioner kepada 20 responden yang ditetapkan secara purposif sesuai dengan tujuan penelitian. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan dibahas dengan pendekatan konservasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Arung Santek termasuk dalam kelas ekonomi menengah kebawah dengan pendapatan berkisar antara Rp. 1.000.000,- - Rp. 2.000.000,-, tingkat pendidikan rendah. Pekerjaa utama sebagai petani dan sebagian kecil sebagai nelayan. Aktivitas berburu madu hutan dilakukan hampir semua laki-laki dewasa di dusun ini, karena nilai ekonomi dari madu hutan relatif tinggi. Hasil berburu madu hutan yang dilakukan secara berkelompok menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat dari hasil hutan bukan kayu. Sumberdaya alam yang melimpah membuat masyarakat kurang memperhatikan aspek kelestarian dan keberlanjutan dalam pemanfaatannya. Meskipun belum memberi dampak yang signifikan, namun pemanfaatan yang kurang memperhatikan aspek kelestarian tersebut dikhawatirkan dapat mengancam sumber sumber kehidupan bagi masyarakat dusun Arung Santek dan Pulau Moyo secara keseluruhan. Sebanyak 70% responden mengatakan terjadi penurunan tutupan lahan, 70% mengatakan terjadi penurunan debit air serta 70% responden mengatakan terjadi penurunan perolehan hasil berburu madu hutan. Perlu komitmen seluruh pihak yang terkait dengan pengelolaan hutan, agar tidak terjadi lagi aktivitas pemanfaatan kawasan hutan yang bertolak belakang dengan nilai-nilai kelestarian lingkungan
PENGARUH INVIGORASI TERHADAP VIGOR BENIH KEDELAI PADA BEBERAPA TINGKAT SALINITAS
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh invigorasi terhadap vigor benih kedelai pada beberapa tingkat salinitas. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan pola faktorial. Faktor 1 = tingkat salinitas (C), terdiri dari 3 level (c0 = 0 %, c1=0,5 %, c2= 1 %), Faktor 2 = perlakuan invigorasi (I), terdiri dari 4 level (i0 = perendaman air, i1 = larutan PEG, i2= abu sekam, i3= vitamin C ). Percobaan diulang tiga kali. Data yang diamati terdiri atas: total perkecambahan, kecepatan perkecambahan, dan bobot kecambah. Data dianalisis dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf 5 persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa invigorasi dengan larutan PEG, abu sekam, dan vitamin C dapat meningkatkan total perkecambahan dan kecepatan perkecambahan benih kedelai pada seluruh tingkat salinitas hingga konsentrasi 1 persen, sedangkan perlakuan invigorasi dengan perendaman air menyebabkan penurunan secara nyata. Pada semua perlakuan invigorasi, peningkatan kadar salinitas dari 0 hingga 1 persen menurunkan bobot kecambah
Memperkuat dan Melindungi Akses Petani atas Lahan Pertanian: Kelembagaan Formal Lahan Pertanian di Indonesia
Makalah ini mengungkapkan keberadaan ketentuan-ketentuan dalam kelembagaan formal lahan pertanian di Indonesia yang sangat mendukung dan melindungi akses petani terhadap lahan pertanian. Kalau saja aturan-aturan ini ditegakkan secara konsisten maka pola pertanian Indonesia akan dicirikan oleh dominasi petani pemilik penggarap dengan skala usaha tani yang lebih besar dari pada yang ada sekarang sehingga berbagai dukungan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian akan lebih efektif. Aturan-aturan tersebut pada awalnya memang dimaksudkan untuk mendukung program land reform. Namun demikian, makalah ini juga menggarisbawahi bahwa penegakan aturan-aturan tersebut saat ini secara konsisten masih relevan akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi upaya-upaya peningkatan kesejahteraan petani dan upaya-upaya peningkatan efisiensi dan produktivitas pertanian Indonesia walau pun tanpa melaksanakan redistribusi lahan sebagaimana yang diimplikasikan program land refor
KERAGAAN PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI VARIETAS UNGGUL BARU (VUB) PADI SAWAH DI KABUPATEN JEPARA, JAWA TENGAH
Varietas unggul padi merupakan salah satu teknologi inovasi untuk meningkatkan produktivitas padi, baik melalui peningkatan potensi tanaman maupun toleransi dan/atau ketahanannya terhadap cekaman biotik dan abiotik. Peningkatan produktivitas padi memberikan sumbangan terbesar dalam pencapaian produksi padi dibanding peningkatan luas panen. Pengkajian bertujuan untuk melihat keragaan pertumbuhan dan produktivitas beberapa varietas unggul baru (VUB) padi dengan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT). Pengkajian dilaksanakan di Desa Manyargading, Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara pada musim tanam MT II (Maret-Juli 2013). Kegiatan dilakukan di lahan petani pada kelompok tani “Sumber Makmur III” dengan luasan 1,5 ha. Pengkajian menggunakan 4 varietas sebagai perlakuan yaitu Inpari 18, Inpari 19, Inpari 20 dan Ciherang dengan ulangan5 kali. Dari hasil pengkajian menunjukkan bahwa keragaan tanaman padi dari ke empat varietas cukup baik, tetapi varietas Inpari 19 lebih baik dari yang lainnya. Produktivitas rata- rata tertinggi dicapai inpari 19 = 7,25 ton/ha, inpari 18 = 6,59 ton/ha, Ciherang = 6,55 ton/ha dan inpari 20= 6,23 ton/ha.pertumbuhan; produktivitas;Varietas UnggulBaru (VUB); padisawah