Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
RESPON BEBERAPA JENIS TANAMAN PALAWIJA TERHADAP APLIKASI MIKORIZA
Kajian ini bertujuan untuk mengetahui respon tanaman palawija yang menjadi target peningkatan produksi nasional, yaitu jagung dan kedelai, baik respon produktivitas maupun ketahanan terhadap serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Kajian dilaksanakan di Desa Salamsari, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung pada bulan Juni – September 2014. Aplikasi Mikoriza diberikan bersamaan dengan tanam. Percobaan dilaksanakan di lahan sawah dengan 3 blok sebagai ulangan. Masing-masing diambil 30 unit sampel untuk diamati setiap minggu sebanyak 12 kali pengamatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa mikoriza berpengaruh signifikan terhadap tinggi tanaman kedelai, berat brangkasan atas jagung dan kedelai, berat brangkasan bawah kedelai dan berat total polong kedelai. Perlakuan mikoriza meningkatkan produksi tanaman sebanyak 20,87% pada t jagung, dan sebanyak 0,8% pada kedelai. Selain itu Mikoriza mampu memberikan ketahanan terhadap serangan hama penyakit. Tanaman yang mendapat aplikasi mikoriza dapat mentolerir serangan OPT yang diindikasikan dari produktivitas yang lebih tinggi meskipun intensitas serangan OPT relatif lebih tinggi
TINGKAT PENERAPAN TEKNOLOGI SISTEM TANAM PADI JAJAR LEGOWO DI KECAMATAN GANDRUNGMANGU KABUPATEN CILACAP
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penerapan teknologi sistem tanam padijajar legowo di Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap. Penentuan daerah penelitian ditetapkansecara purposive yaitu Gapoktan Sri Rejeki di Desa Gandrungmasni, KecamatanGandrungmangu, Kabupaten Cilacap dengan total responden sejumlah 50 petani. Teknikanalisis data menggunakan analisis skor. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa tingkatpenerapan teknologi sistem tanam padi jajar legowo oleh petani anggota Gapoktan Sri Rejekidi Desa Gandrungmanis Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap termasuk dalamkategori sangat tinggi
Analisis Metabolomik Daun Tanaman Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) Tahan dan Rentan Terhadap Nematoda Puru Akar (Meloidogyne spp.)
Tomat merupakan salah satu komoditas penting yang mana produktivitasnya mengalami penurunan setiap tahun. Salah satu penyebabnya adalah serangan nematoda puru akar. Pendekatan metabolomik dilaporkan sebagai salah satu metode alternatif yang dapat mempercepat proses identifikasi komponen senyawa yang berperan dalam ketahanan tanaman terhadap OPT (nematoda puru akar) . Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil metabolit organ daun pada tanaman tomat yang tahan dan rentan terhadap nematoda puru akar dan mengetahui senyawa yang berperan dalam ketahanan tanaman tomat yang terdapat pada organ daun. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengembangan dan Promosi Agribisnis Perbenihan Hortikultura (BPPAPH) milik Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Laboratorium Genetika Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada serta analisis NMR dilaksanakan di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Terpadu Universitas Gadjah Mada mulai bulan November 2016 hingga April 2017. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan masing-masing unit percobaan diulang sebanyak 5 kali. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 14 senyawa metabolit yang terdeteksi pada tanaman yang tahan maupun yang rentan yaitu Valine, Alanine, GABA, Acetic Acid, Sucinate, Ethanolamine, Glycine, β-glucose, α-glucose, Formic Acid, UDPG, Leucine, dan Phenylalanine dan diduga senyawa yang berperan terhadap ketahanan tanaman tomat terhadap nematoda puru akar adalah β-glucose
Diversifikasi Produk Pangan Berbasis Sagu Untuk Meningkatkan Peran Bahan Pangan Lokal
Sagu merupakan salah satu pangan sumber karbohidrat potensial di Indonesia yang perlu terus mendapat perhatian. Saat ini pemanfaatan pati sagu belum optimal, yaitu hanya sekitar 5% dari potensi yang ada. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan nilai tambah pati sagu melalui pembuatan produk bakery (brownis dan roti) serta mengetahui komposisi proksimat dan perubahan kualitas produk tersebut selama penyimpanan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen, dimana terdapat tiga jenis produk yang dibuat, yaitu brownis coklat panggang, brownis keju panggang, dan roti sagu. Dalam penelitian ini dilakukan substitusi tepung terigu dengan pati sagu sebanyak 50% untuk semua produk. Untuk mengetahui perubahan kualitas produk selama dalam penyimpan dilakukan dengan mengemas produk menggunakan kemasan standar/komersial dan disimpan pada suhu ruang (30°C ± 2°C), suhu dingin (10°C ± 2°C), dan suhu beku (0°C). Pengamatan dilakukan secara periodik setiap 3 hari selama 9 hari penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air ketiga produk tersebut berkisar antara 17,44% (brownis coklat) hingga 25,73% (roti sagu) yang berarti tergolong dalam kelompok pangan berkadar air sedang (intermediate moisture food). Kadar lemak dan protein ketiga produk cukup tinggi masing-masing berkisar antara 17,49 – 25,89 % dan 5,86-7,17%. Pertumbuhan jamur hanya terjadi padi roti sagu di hari ke-6 yang disimpan pada suhu ruang, sedangkan brownis coklat dan brownis keju sampai 9 hari penyimpanan belum berjamur pada semua suhu penyimpan. Kadar air dan aktivitas air produk cenderung meningkat pada semua suhu penyimpanan. Tekstur produk cenderung lebih keras pada penyimpanan suhu beku dibandingkan penyimpanan suhu ruang dan suhu dingin
Optimalisasi Pertumbuhan dan Hasil Kedelai (Glycine max L.) secara Organi
Pertanian organik merupakan solusi yang dapat diterapkan untuk menggantikan posisi pupuk dan pestisida anorganik serta diharapkan tetap menjaga keseimbangan ekosistem. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai terhadap pemberian berbagai konsentrasi Pupuk Organik Cair (POC) terbaik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2017 di kelurahan Simpang Baru Panam, Pekanbaru. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan 4 ulangan dan 5 perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian POC pada konsentrasi 2,86 ml/L mampu memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat basah tanaman, jumlah polong, jumlah biji dan berat 100 biji pada tanaman kedelai.
Uji Efektivitas Ekstrak Daun Sirsak sebagai Insektisida Nabati terhadap Mortalitas Kutu Daun (Aphis glycines Matsumura) pada Tanaman Kedelai
Kedelai (Glycine max L.) merupakan tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar banyak makanan, namun produksinya masih rendah. Produksi kedelai nasional saat ini belum mampu untuk mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia. Salah satu penyebab yang mempengaruhi produksi kedelai adalah adanya OPT yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman kedelai. Serangan hama Aphis glycines Matsumura dapat mengakibatkan kehilangan hasil 58% pada tanaman kedelai. Pengendalian hama A. glycines pada penelitian ini menggunakan ekstrak daun sirsak yang mengandung senyawa kimia flavonoid, saponin dan steroid yang bersifat toksik terhadap hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan ekstrak daun sirsak sebagai insektisida nabati terhadap mortalitas kutu daun (A. glycines) pada tanaman kedelai. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL dengan faktor tunggal dengan 3 kali ulangan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa mortalitas tertinggi berada pada konsentrasi tertinggi yakni antara 15% hingga 30%. Konsentrasi tersebut juga memiliki waktu tercepat dalam mengendalikan hama kutu dau
Analisis Kebutuhan Penyuluh Pertanian Mendukung Jawa Tengah Menjadi Lumbung Pangan Nasional
Pembangunan pertanian dan perkebunan kedepan dihadapkan pada berbagai tantangan, perubahan iklim ekstrim, perubahan dan perkembangan lingkungan yang dinamis, kemajuan teknologi informasi yang pesat, terbatasnya modal petani serta masih lemahnya kelembagaan petani. Mendukung tercapainya pembangunan pertanian di Jawa Tengah diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang handal. Penyuluh mempunyai tugas pokok melaksanakan penyuluhan. Penyuluh juga harus mampu berperan sebagai fasilitator dan inisiator sehingga dapat menolong petani dan keluarganya.Ketenagaan Penyuluhan di Provinsi Jawa tengah terdiri dari Penyuluh Pertanian (PP) PNS, Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP), Penyuluh Swadaya. Jumlahnya selalu berkurang dalam kurun waktu 5 tahun. Hal ini menjadi permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan pertanian. Pengkajian ini bertujuan untuk 1) menganalisis kondisi PP PNS di Jawa Tengah; 2) menganalisis kondisi THL TBPP di Jawa Tengah; 3) menganalisis pelaksanaan tupoksi PP di Jawa Tengah. Hasil pengkajian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk pengambil kebijakan berkaitan dengan pengadaan ketenagaan penyuluh pertanian, penyelenggaraan program peningkatan kapasitas SDM Penyuluh pertanian untuk mendukung tercapainya pembangunan pertanian. Pengkajianini merupakan pengkajian deskriptif. Data yang digunakanberupa data sekunder.Hasil pengkajian diketahui bahwa jumlah penyuluh pertanian PNS di Jawa Tengah dalam kurun waktu 5 tahun 2013 s/d 2017 berkurang sebanyak 622 orang atau 26,37%.Sedangkan selama Januari– Desember2017 berkurang sebanyak 125 orang (14,64%). Jumlah THL TBPP di Jawa Tengah dalam kurun waktu 5 tahun selalu berkurang, setiap tahun rata-rata 30 orang, karena diterima pekerjaan ditempat lain, berusaha sendiri, meninggal dunia. Tingkat pendidikan terbanyak adalah SLTA. Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap pelaksanaan tupoksi dan kinerja THL TBPP. Jumlah wilayah kerja penyuluh pertanian (WKPP) belum ideal, penyuluh rata-rata memiliki 2 wkpp dengan binaan kelompok 5 – 15 poktan dan 2 gapoktan. Tugas tambahan penyuluh lebih banyak dibandingkan dengan tupoksi sehingga pendampingan kelompok tidak maksimal.Saran yang dapat disampaikan penulis antara lain : pengadaan formasi penyuluh pertanian PNS masih diperlukan disesuaikan dengan analisis kebutuhan penyuluh pada masing-masing kabupaten/kota.THL TBPP dengan usia diatas 35 tahun perlu mendapatkan perhatian menjadi ASN sehingga dapat meningkatkan kinerjanya. Peningkatan kapasitas SDM Penyuluh baik PNS maupun THL TBPP diperlukan untuk mendukung pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. Optimalisasi peran penyuluh swadaya untuk mendukung terlaksananya penyelenggaraan penyuluhan di lapangan melalui pelatihan dan fasilitasi penyelenggaraan penyuluhan
Analisis Pertumbuhan Tomat pada Aplikasi Zn Melalui Daun
Tomat merupakan komoditas yang digemari oleh masyarakat, namun produksi tomat kurang maksimal dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Kurang maksimalnya produksi tanaman tomat disebabkan karena berbagai faktor, misalnya tingkat kesuburan tanah, keadaan iklim yang tidak menentu, dan serangan hama. Untuk meningkatkan hasil produksinya, pada umumya petani melakukan pemupukan dengan pupuk yang mengandung hara makro. Akan tetapi unsur hara mikro sering kali diabaikan oleh para petani. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari petumbuhan tomat pada aplikasi Zn melalui daun. Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2017 di Rumah Kaca Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Faktor pertama adalah jenis pupuk Zn yang terdiri dari dua jenis yaitu ZnSO4 dan ZnCl2. Faktor kedua adalah konsentrasi pupuk yang terdiri lima taraf yaitu 0 ppm (kontrol), 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm dan 80 ppm. Setiap kombinasi perlakuan dalam penelitian ini diulang tiga kali. Analisis data dilakukan dengan analisis varian pada tingkat kepercayaan 95%. Jika terjadi beda nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple’s Range Test (DMRT) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pemberian pupuk hara mikro Zn dengan berbagai dosis dapat meningkatkan rasio luas daun, laju pertumbuhan tanaman, dan rasio akar tajuk, namun tidak meningkatkan laju asimilasi bersih tanaman.
Respons Jamur Tiram Putih dan Kuping terhadap Substrat dari Sampah Rumah Tangga Bervariasi Rasio C/N
Penelitian telah dilaksanakan untuk mengetahui respons dua jenis jamur kayu yaitu jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) dan jamur kuping (Auricularia polytrica) terhadap berbagai rasio C/N substrat yang berasal dari sampah rumah tangga. Percobaan dilaksanakan mulai Juli sampai dengan Nopember 2017, di rumah jamur Fakultas Pertanian, Universitas Islam Malang, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama jenis jamur terdiri lima taraf (jamur tiram putih, jamur tiram merah, jamur tiram coklat, jamur kuping, dan jamur shitake). Faktor kedua rasio C/N substrat terdiri empat taraf (15, 30, 45, dan 60). Hasil percobaan menunjukkan penggunaan sampah rumah tangga sebagai substrat tanam jamur yang terbaik untuk jamur tiram putih dan kuping adalah dengan rasio C/N 38,3 dan 39,9 karena mampu menunjukkan nilai efisiensi biologi yang tinggi