Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
KONDISI LAHAN KEBUN TEBU SETELAH PANEN DAN KARAKTERISTIK FISIK DAN MEKANIK SERASAH TEBUNYA
Telah disadari belakangan ini bahwa pembakaran tebu sebelum dan setelah panen dapatmerusak lingkungan hidup serta mengganggu kesehatan manusia di lingkungan perkebunantebu. Usaha-usaha untuk menangani serasah tebu yang jumlahnya sangat banyak, yangmengganggu proses budidaya tebu telah mulai dilakukan. Salah satunya adalah mencacahserasah tebu menjadi ukuran kecil untuk digunakan sebagai kompos, atau dibenamkankembali ke dalam tanah. Proses perancangan alat atau mesin yang berkaitan denganpenanganan serasah tebu tersebut membutuhkan data pendukung sifat fisik dan mekanikserasah tebu. Data tersebut akan sangat membantu dalam menghasilkan rancangan alat danmesin yang efektif dan efisien baik secara teknis maupun ekonomis. Metode Penelitian iniadalah analisis deskriptif yaitu melakukan pengukuran dan analisis data untuk mengetahuikondisi lahan dan karakteristik dari serasah tebu. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa lebarguludun 120 cm, jarak tanaman 120 cm dan tinggi guludan 20 cm. Kerapatan Kamba serasahtebu 7,71 kg/cm3, : panjang rata-rata pucuk 162.5 cm, jumlah rata-rata daun per pucuk 4.1lembar, lebar daun rata-rata 5.0 cm, tebal daun rata-rata 0.3 mm, diameter pangkal pucukrata-rata 21.3 mm, dan berat pucuk 57.3 gram.panjang daun 161.1 cm, lebar pangkal daun 4.4cm, lebar tengah daun 4.1 cm, lebar ujung daun 3.9 cm, tebal daun 0.3 mm, dan berat daun8.9 gram
Potential Financial feasibility Analysis of Soybean Tempe production in Madagascar based on Indonesian Soybean Tempe Home Industry
Originally from Indonesia, tempe is a traditional fermented soybean food. Madagascar has enormous potential for soybean production. However, there is a decline in production due to lack of product processing and marketing knowledge. The promotion of this commodity help to contribute to food security and to fight against malnutrition and poverty by improving the income of the actors. This research aim to analyze the soybean tempe business (small scale industry) in Surakarta city in order to introduce and implement that business in other countries. Madagascar is the target country in this research. A financial feasibility study was conducted to determine an eventual launch of soybean tempe business in Madagascar and to predict the market acceptance. The result shows that the average cost of soybean production in a month in Surakarta City is Rp13 751 786. The average revenue is Rp15 917 067, so that we get an average profit of Rp2 165 281 per month. The soybean tempe business is beneficial with a profitability value of 15.74%. The efficiency value is estimated at 1.16. Based on the local price in Madagascar and the analysis made in Indonesia, it was determined that the project need an initial investment of Rp14 661 638 for the launch of the business. The Benefit Cost Ratio (BRC), the Net Present Value (NPV) and the Internal Rate of Return (IRR) show that the soybean tempe business is clearly feasible in Madagascar. The comparative analysis of price reveal also that soybean tempe is a good alternative for the Malagasy people as it is far cheaper than the other food rich in protein. However, the sensitivity analysis highlighted that the business cannot resist to an increase of 10% of the soybean price or a decrease of 10% of the production or both
Analisis Kendala dalam Pemanfaatan Lahan Sawah pada Program Pencetakan Sawah Baru di Nagari Paru Kabupaten Sijunjung Provinsi Sumatera Barat
Program Pencetakan Sawah baru di Nagari Paru telah selesai pada akhir tahun 2016, artinya sawah yang telah dicetak tersebut mestinya siap untuk dimanfaatkan oleh masyarakat atau petani penerima program. Penelitian ini bertujuan untuk melihat apa saja kendala dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat dalam memanfaatkan sawah hasil Program Pencetakan Sawah Baru dan apakah masyarakat masih memilik niat untuk memanfaatkan sawah tersebut. Penelitian yang dilakukan di Nagari Paru ini menggunakan metode survei. Populasi penelitian adalah seluruh petani penerima program sebanyak 44 orang. Hasil penelitian menunjukan rendahnya tingkat pemanfaatan lahan sawah dengan kendala utama pemanfaatan adalah ketersediaan air yang kurang. Meskipun demikian petani masi memiliki niat yang kuat untuk memanfaatkan lahan sawah apabila kendala yang mereka hadapi bisa teratasi
SELEKSI TANAMAN PISANG PERDU DI KEBUN PLASMA NUTFAH GIWANGAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Pisang merupakan buah tropis yang sudah populer di masyarakat, sebagai sumber pangandan berkontribusi paling besar terhadap produksi buah-buah Nasional, Berkembangperumahan type rumah kecil mensisakan lahan pekaranag yang sempit, maka perlu mencaritanaman pisang perdu, penghasil buah dan penyangga lingkungan. Penelitian bertujuanuntuk memperoleh tanaman pisang unggul berpostur perdu, daya hasil tinggi sesuai ditanampada lahan pekarangan sempit. Penelitian dilaksanakan di kebun plasmanutfah pisangMalangan, Giwangan, Umbulharjo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mulai bulan Oktober 2014sampai dengan bulan Mei 2015. Penelitian menggunakan metode survey (Nazir, 1998)dikombinasi dengan seleksi massa positif. Fakta yang dikumpulkan adalah karakter TinggiTanaman, lebar tajuk, jumlah buah pertandan dan bobot buah pertandan dan kadar gula buah.Hasil penelitian menerangkan bahwa: Tanaman pisang maorosebo berpostur perdu, tinggi150 cm, bentang tajuk 264 cm, bobot buah 3,35 kg per tandan, daging buah manis kadargula buah 27brix. Pisang morosebo memenuhi kriteria sebagai tanaman pisang perdu, sesuaiditanam pada lahan pekarangan sempit bahkan dapat ditanam pada media dalam pot
Pengaruh Konsentrasi Pupuk Organik Cair Sabut Kelapa Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kentang Kleci
Penelitian tentang pengaruh konsentrasi pupuk organik cair sabut kelapa terhadap pertumbuhan dan hasil kentang kleci ( Coleus tuberosum) dilaksanakan di kebun Dusun Jitengan, Balecatur, Gamping, Sleman dengan ketinggian tempat 114 m dpl dengan jenis tanah vertisol dan di Laboratorium Agroteknologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta mulai bulan Oktober 2016 sampai dengan bulan Maret 2017. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode percobaan (eksperimen). Faktor perlakuan adalah faktor tunggal, yaitu konsentrasi pupuk organik cair sabut kelapa yang terdiri atas 5 aras perlakuan. Unit-unit percobaan ditata dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 3 ulangan, dengan jumlah unit percobaan keseluruhan ada 15 unit. Perlakuan berupa pemberian pupuk organik cair sabut kelapa dengan konsentrasi 0%, 5 %, 10%, 15%, dan 20%. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varians pada taraf kepercayaan 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian pupuk organik cair sabut kelapa dengan konsentrasi 0%, 5%, 10%, 15% dan 20% mempengaruhi pertumbuhan dan hasil kentang kleci. Perlakuan konsentrasi 5%, 10%, 15% dan 20% menjadikan pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, bobot segar tajuk, bobot segar dan kering akar cenderung lebih baik dibanding kontrol, demikian juga pada jumlah umbi pertanaman. Sedangkan diameter umbi, per tanaman, bobot umbi per petak serta bobot umbi per hektar tidak menunjukan beda nyata dibanding kontrol. Waktu pembungaan dan bobot kering tajuk tidak dipengaruhi oleh konsentrasi pupuk organik cair sabut kelapa. Konsentrasi pupuk organik cair sabut kelapa 5 % merupakan konsentrasi terbaik untuk pertumbuhan dan hasil kentang kleci.Penelitian tentang pengaruh konsentrasi pupuk organik cair sabut kelapa terhadap pertumbuhan dan hasil kentang kleci ( Coleus tuberosum) dilaksanakan di kebun Dusun Jitengan, Balecatur, Gamping, Sleman dengan ketinggian tempat 114 m dpl dengan jenis tanah vertisol dan di Laboratorium Agroteknologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta mulai bulan Oktober 2016 sampai dengan bulan Maret 2017. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode percobaan (eksperimen). Faktor perlakuan adalah faktor tunggal, yaitu konsentrasi pupuk organik cair sabut kelapa yang terdiri atas 5 aras perlakuan. Unit-unit percobaan ditata dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 3 ulangan, dengan jumlah unit percobaan keseluruhan ada 15 unit. Perlakuan berupa pemberian pupuk organik cair sabut kelapa dengan konsentrasi 0%, 5 %, 10%, 15%, dan 20%. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varians pada taraf kepercayaan 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian pupuk organik cair sabut kelapa dengan konsentrasi 0%, 5%, 10%, 15% dan 20% mempengaruhi pertumbuhan dan hasil kentang kleci. Perlakuan konsentrasi 5%, 10%, 15% dan 20% menjadikan pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, bobot segar tajuk, bobot segar dan kering akar cenderung lebih baik dibanding kontrol, demikian juga pada jumlah umbi pertanaman. Sedangkan diameter umbi, per tanaman, bobot umbi per petak serta bobot umbi per hektar tidak menunjukan beda nyata dibanding kontrol. Waktu pembungaan dan bobot kering tajuk tidak dipengaruhi oleh konsentrasi pupuk organik cair sabut kelapa. Konsentrasi pupuk organik cair sabut kelapa 5 % merupakan konsentrasi terbaik untuk pertumbuhan dan hasil kentang kleci
Implementasi Peran dan Fungsi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di Kabupaten Magelang
Upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional salahsatunya ditempuh dengan memperkuat balai penyuluhan pertanian (BPP). BPP sebagai pos simpul koordinasi pelaksanaan kegiatan pembangunan pertanian di wilayah kecamatan. Peran dan fungsi BPP adalah menyelenggarakan dan menfasilitasi kegiatan penyuluhan. Tujuan pengkajian adalah untuk mengetahui implementasi peran dan fungsi BPP di Kabupaten Magelang. Pengkajian dilakukan secara deskriptif dengan pemilihan lokasi secara purposive yaitu Kabupaten Magelang. Hasil pengkajian diketahui bahwa penyusunan programa penyuluhan pertanian tingkat kecamatan, ketersediaan sarana informasi di BPP, pengembangan kelembagaan petani di tingkat BPP, fungsi BPP untuk menfasilitasi percontohan, fungsi BPP sebagai tempat pertemuan, serta peran dan fungsi BPP secara keseluruhan di Kabupaten Magelang dalam kategori baik
Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Alami Terhadap Hasil Dan Kualitas Bawang Merah
Penelitian bertujuan untuk mengetahui 1) Pengaruh jenis bahan alam ZPT terhadap hasil dan kualitas umbi bawang merah dan 2) Pengaruh konsentrasi ZPT alami terhadap hasil dan kualitas umbi bawang merah. Penelitian telah dilaksanakan di Sendangtirto, Berbah, Sleman. Penelitian direncanakan dilakukan dari bulan Agustus sampai Desember 2017. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 3 ulangan. (A = Air kelapa, H = ekstrak kecambah dan R = Ekstrak rebung). Faktor kedua adalah konsentrasi ZPT yang terdiri 1 = 100 g/liter bahan alam, 2 = 200 g/liter bahan alam, 3 = 300 g/liter bahan alam. Parameter pengamatan terdiri tinggi tanaman 4 dan 5 MST, jumlah daun 4 dan 5 MST, jumlah umbi per rumpun dilakukan menjelang panen, bobot basah dan kering per rumpun, bobot basah per umbi, diameter, tinggi umbi, susut bobot jemur dan total padatan terlarut (TPT). Data yang terkumpul dianalisis dengan sidik ragam dan DMRT pada taraf 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jenis bahan ZPT alami dan konsentrasi ZPT alami berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman 4 dan 5 MST, jumlah daun 4 dan 5 MST, jumlah umbi per rumpun dilakukan menjelang panen, bobot basah dan kering per rumpun, bobot basah per umbi, diameter, tinggi umbi, susut bobot jemur dan total padatan terlarut (TPT)
RESPON PADI BERAS HITAM TERHADAP FREKUENSI PEMBERIAN NUTRISI ORGANIK
Padi beras hitam merupakan jenis padi yang memiliki nilai ekonomi tinggi namun masih jarang dibudidayakan. Salah satu cara budidaya untuk meningkatkan hasil dan kualitas hasil padi beras hitam adalah dengan pemberian nutrisi organik yang berupa MOL. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh frekuensi pemberian MOL nanas terhadap pertumbuhan, komponen hasil, dan kualitas hasil Padi Hitam Bantul dan Padi Hitam Padang. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan Rancangan Acak Lengkap dua faktor yaitu varietas dan frekuensi pemberian MOL. Analisis data dilakukan dengan taraf uji F 5% dan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5 % serta uji kandungan serat dilakukan secara deskriptif. Komponen hasil tertinggi yaitu berat gabah bernas tertinggi pada Padi Hitam Bantul ada pada perlakuan M2 yaitu frekuensi pemberian MOL Nanas pada umur 7 dan 14 HST sebesar 2,47 g atau 0,131 ton/ha dan Padi Hitam Padang pada perlakuan M3 yaitu frekuensi pemberian MOL Nanas pada umur 7, 14 dan 21 HST sebesar 2,37 g atau 0,126 ton/ha
Efektivitas Pelatihan Peningkatan Kapasitas SDM Penyuluh Mendukung Pembangunan Jawa Tengah
Penyuluh merupakan agen of change yaitu berperan dalam perubahan pengetahuan dan perilaku petani dalam berusahan tani, melalui penyuluhan. Peningkatan kompetensi penyuluh merupakan langkah mewujudkan profesionalisme penyuluh mendukung pembangunan pertanian salah satunya melalui metode pelatihan. Harapan dari pelaksanaan pelatihan adalah meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan para penyuluh dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sehingga dapat mengembangkannya di wilayah binaannya tentunya akan berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani dan masyarakat. Tujuan dari pengkajian ini adalah untuk menganalisa tingkat efektivitas penyelenggaraan pelatihan “capacity building” bagi penyuluh pertanian tahun 2017. Hasil pengkajian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk pengambil kebijakan berkaitan dengan penyelenggaraan pelatihan bagi penyuluh pertanian tahun anggaran selanjutnya sehingga penyelenggaraan penyuluhan dapat mendukung pencapaian target pembangunan di Jawa Tengah.Metode pengkajian adalah deskriptif untuk menggambarkan pelaksanaan pelatihan serta karakateristik responden, sedangkan untuk menganalisis tingkat efektivitas pelatihan dengan menggunakan uji wilxocon (uji tanda). Populasi adalah penyuluh pertanian PNS dan THL TBPP Provinsi Jawa Tengah. Sampel adalah peserta pelatihan “capacity building” bagi penyuluh pertanian yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah tahun anggaran 2017 sejumlah 180 orang. Waktu pelaksanaan pelatihan Maret – November 2017 dengan materi kewirausahaan, peningkatan kinerja, motivasi petugas dan teknik komunikasi efektif, monitoring evaluasi pelaporan (Data base dan administrasi) serta praktek motivasi dan manajemen organisasi melalui game dan motivasi dengan trainer dari team OASE Semarang.Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin 74% laki-laki, 66% THL TBPP lebih banyak dibandingkan peserta PP PNS, tingkat pendidikan 61 % adalah sarjana, 81% peserta telah bekerja selama 6 – 15 tahun. Karakteristik peserta pelatihan akan mempengaruhi pemahaman dan penyelesaian masalah yang dihadapi.Hasil evaluasi tingkat peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan diketahui bahwa jawaban post test lebih kecil dari jawaban pre test (negatif rank) sebanyak 36 orang, positive rank yaitu jawaban post test lebih banyak dari jawaban post test 121 orang dan 23 orang jawaban benar saat pre test sama dengan jawaban post test (ties). Tingkat singnifikasi dengan t tabel, yaitu 0,00 < 0,05. Hal ini berarti bahwa terdapat peningkatan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan. Metode yang digunakan dalam pelatihan capacity building ini meliputi ceramah, diskusi dan praktek. Metode ini cukup efektif guna meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan penyuluh berkaitan dengan dunia pertanian. Pelatihan capacity building telah dilaksanakan dengan baik, sesuai dengan perencanaan. Saran yang dapat disampaikan adalah dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap peningkatan kapasitas SDM Penyuluh sangat diperlukan salah satunya melalui pelatihan
Respon Varietas Sawi (Brassica sinensis) terhadap Bahan Mikroorganisme Lokal (MOL): Bonggol Pisang, Limbah Buah dan Limbah Sayur
Kebutuhan masyarakat akan tanaman sawi semakin meningkat untuk seiringdengan pertambahan penduduk. Sawi dikonsumsi baik daun maupun bunganya dalam bentuk olahan maupun dalam bentuk olahan. Kendala yang dihadapi petani belakangan ini adalah masalah pupuk yaitu sulit mendapatkan serta mahal.harganya[3]. Mikroorganisme lokal adalah kelompok mikroorganisme yang mampu menguraikan limbah organik menjadi pupuk organik cairsehingga bisadimanfaatkan oleh tanaman, murah harganya serta tidak mengakibatkan polusi lingkungan[1].Mikroorganiame lokal dapat dimanfaatkan sebagai starter dalam pembuatan pupuk organik dalam bentuk padat maupun cair [2]. Bahan utama mikroorganisme lokal biasanya berasal dari karbo hidrat, selulose, glukose dan sumber mikroorganisme itu sendiri yang kemudian difermentasikan. Penelitian dilaksanakan untuk menguji respon varietas sawi terhadap bahan limbah mikroorganisme lokal (MOL). Merupakan percobaan faktorial yang disusun secara acak kelompok, faktor pertama adalah varietas sawi dan faktor kedua adalah macam bahan limbah organik. Hasil percobaan menunjukkan tidak terjadi interaksi antara varietas dan macam bahan limbah organik.Masing-masing varietas menujukkan respon berbeda terhadap perlakuan pemberian bahan limbah organik yang berbeda yang ditunjukkan oleh peubah pertumbuhan tanaman