Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
    653 research outputs found

    Pengaruh Implementasi Sistem Irigasi Sprinkler, Kompos dan Biochar terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung Pulut di Lahan Kering Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh implementasi sistem irigasi sprinkler, kompos dan biochar terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung pulut di Lahan Kering Iklim Kering Kab. Sigi Propinsi Sulawesi Tengah.  Penelitian ini dilakukan di UPT Bulupontu, Kec. Biromaru Kab, Sigi dari Bulan Oktober sampai Bulan November 2017.  Menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok non faktorial, yang terdiri dari 4 perlakuan yang diulang empat kali sehingga diperoleh 16 satuan percobaan.  Perlakuan pemberian pupuk kompos dan biochar terdiri : 1). Kompos 5 t/ha + Irigasi Petani, 2). Kompos 5 t/ha  + Biochar 10 % Irigasi Petani, 3). Kompos 5 t/ha + Irigasi Sprinkler; dan 4). Kompos 5 t/ha + Biochar 10 % + Irigasi Sprinkler.   Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ)  taraf 5% apabila dari hasil sidik ragam menunjukkan perbedaan yang nyata. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan pupuk kompos 5 t/ha + Biochar 10% pada sistem irigasi springkler memberikan berpengaruh nyata terhadap parameter panjang tongkol (cm), berat segar tongkol berklobot (cm), dan berat segar tongkol tanpa klobot (cm) dengan nilai masing masing 20,80 cm, 263,80 g, dan 185,20 g.  Pemberian pupuk kompos dan biochar sangat diperlukan di daerah lahah kering iklim kering untuk meningkatkan produktivitas tanaman, retensi dan ketersediaan air dan hara bagi tanaman

    RANCANG BANGUN UNIT PENCACAH SERASAH TEBU DENGAN MENGGUNAKAN PISAU TIPE REEL

    Get PDF
    Sejumlah besar serasah tebu berukuran panjang berserakan di lahan setelah panen harus dibersihkan, karena mengganggu proses kerja pada musim tanam berikutnya. Penelitian ini menggunakan metode rekayasa yaitu merancang-bangun sebuah mesin pemotong serasah tebu. Hasi penelitian adalah sebuah unit prototipe mesin pemotong serasah tebu dengan pisau pemotong tipe reel berdimensi lebar 240 cm, panjang 268 cm dan tinggi 133 cm. Komponen pencacahnya terdiri dari silinder pencacah dengan panjang dan diameter masing-masing 60 dan 429 cm serta diameter poros silinder 45 cm. Mesin ini mampu memotong serasah tebu menjadi cacahan kecil sebesar 2-5 cm sesuai SNI dan serasah hasil cacahan langsung dibenamkan lagi ke dalam tanah sebagai pupuk organik dan bahan kompos

    ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RELATIONSHIP MARKETING PETANI SAYUR DAN PEDAGANG PENGEPUL DI DESA PANDANAJENG KECAMATAN TUMPANG KABUPATEN MALANG

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana relationship marketing yangterjalin antara petani sayur dan pedagang pengepul di Desa Pandanajeng dan untukmengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi relationship marketing petani sayur danpedagang pengepul di Desa Pandanajeng. Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2015.Metode pengambilan responden menggunakan accidental sampling untuk pengepul dandiperoleh 76 responden dan simple random sampling untuk petani dan diperoleh 87 respondendengan bantuan rumus slovin. Untuk mengetahui bagaimana relationship marketing antarapetani sayur dan pedagang pengepul dilakukan analisis deskriptif. Sedangkan untukmengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi relationship marketing dilakukan analisisregresi linear berganda. Pada hasil analisis memperlihatkan bahwa relationship marketingyang telah terjalin antara petani sayur dan pedagang pengepul berjalan cukup baik. Variabelyang mempengaruhi relationship marketing dari sisi petani adalah kepercayaan, komunikasidan kepuasan. Sedangkan variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap relationshipmarketing apabila dilihat dari sisi pengepul adalah kepercayaan dan komunikasi

    Pengaruh Morfologi Anggrek Dendrobium sylvanum dan Anggrek Phalaenopsis sp. Dengan Pemberian Iradiasi Sinar Gamma

    Get PDF
    Tanaman anggrek dikenal sebagai salah satu tanaman yang populer di kalangan masyarakat, dimana bunga anggrek memiliki variasi warna yang sangat indah. Dari berbagai jenis anggrek yang terdapat di Indonesia, terdapat dua jenis anggrek yang paling digemari oleh masyarakat, yakni Dendrobium sylvanum dan Phalaenopsis sp. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh morfologi dari tanaman D. sylvanum dan Phalaenopsis sp. setelah pemberian iradiasi sinar gamma. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2017 sampai dengan Maret 2018 dan dilakukan di dua tempat yaitu penanaman di Laboratorium Kultur Jaringan, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta dan pelaksaan iradiasi sinar gamma di Laboratorium PATIR-BATAN (Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi-Badan Tenaga Nuklir Nasional), Pasar Jumat, Jakarta Selatan. Analisis data yang digunakan adalah analisis secara deskriptif dengan membandingkan setiap individu tanaman pada masing-masing perlakuan dosis Iradiasi dengan perlakuan kontrol. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah tanaman anggrek D. sylvanum pertumbuhan tinggi tanaman tertinggi yakni perlakuan kontrol yaitu 8,6 cm, sedangkan pertambahan tinggi tanaman yang terendah diperoleh pada dosis 45 Gray dengan pertambahan 1,16 cm. Jumlah daun optimal didapat oleh perlakuan dosis 15 Gray yaitu 8 helai, sedangkan jumlah daun paling sedikit didapat oleh perlakuan dosis 30 Gray, 45 Gray dan 60 Gray yaitu 1 helai. Pada tanaman anggrek Phalaenopsis sp., pertumbuhan paling optimal didapat oleh perlakuan dosis 15 Gray yaitu 4,63 cm, sedangkan pertumbuhan tinggi tanaman terendah didapat oleh perlakuan dosis 45 Gray dan 60 Gray yaitu 0,56 cm. Jumlah daun optimal didapat oleh perlakuan dosis 15 Gray yaitu 5,67 helai, sedangkan jumlah daun paling sedikit didapat oleh perlakuan dosis 30 Gray, 45 Gray dan 60 Gray yaitu 0 helai

    Tren Alih Fungsi Lahan Sawah di Kabupaten Klaten

    Get PDF
    Alih fungsi lahan adalah perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula menjadi fungsi lain. Alih fungsi lahan berdampak terhadap lingkungan dan potensi lahan itu sendiri atau perubahan atau penyesuaian penggunaan. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor yang secara garis besar meliputi keperluan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin bertambah jumlahnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tren alih fungsi lahan sawah selama 15 tahun terakhir di Kabupaten Klaten. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang meliputi data luas lahan sawah dari tahun 2002 – 2016 , metode analisis data menggunakan metode analisis pertumbuhan secara parsial dan kontinu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tahun 2002 – 2016 alih fungsi lahan lahan sawah di Kabupaten Klaten sebesar 570 ha. Secara parsial laju tingkat pertumbuhan rata-rata lahan sawah sebesar -0,118 % per tahun, dan secara kontinu sejak tahun 2002 – 2016 laju tingkat pertumbuhan alih fungsi lahan sawah di Kabupaten Klaten sebesar 1,9607 %. Artinya terjadi alih fungsi lahan sawah di Kabupaten Klaten selama 15 tahun terakhir, hal ini disebabkan oleh adanya pembangunan industri-industri baru di Kabupaten Klaten, dimana pada tahun  2015 terjadi peningkatan jumlah industri sebanyak 156 industri.

    PERTUMBUHAN DAN FISIOLOGI BIBIT TANAMAN CABAI KERITING (CAPSICUM ANNUUM L) PADA BERBAGAI KOMPOSISI MEDIA TANAM BERBASIS SUMBERDAYA LOKAL DI WILAYAH PESISIR

    Get PDF
    Wilayah pesisir pantai merupakan salah satu potensi wilayah pengembangan hortikulturadalam rangka menciptakan ketahanan pangan nasional yang harus didukung oleh agribisnispembibitan yang efisien berbasis sumberdaya lokal dan berkelanjutan. Penelitian inibertujuan untuk: 1) Menjelaskan pengaruh komposisi media tanam terhadap pertumbuhandan fisiologi tanaman cabai keriting. 2) Mendapatkan komposisi media tanam terbaik bagipertumbuhan dan fisiologi tanaman cabai keriting. Penelitian ini berlangsung dari bulan Juli2016 sampai September 2016 di screenhouse Desa Adipala, Kecamatan Karang Anyar,Kabupaten Cilacap. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap(RAKL) dengan 1 faktor percobaan yaitu jenis media. Media tanam terdiri dari : 100% pasir,100% cocopeat, 100%abu sekam, 100% bahan organik, 50% pasir dan 50% cocopeat, 50%pasir 50% abu sekam, 50% pasir 50% bahan organik,50% cocopeat dan 50% abu sekam, 50%cocopeat dan 50% bahan organik, 50% abu sekam dan 50% bahan organik,25% pasir 25%cocopeat: 25% abu sekam 25% bahan organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1)Komposisi media tanam dapat memberikan pengaruh nyata terhadapvariabel pertumbuhandan fisiologi tanaman cabai. 2) Media 100% bahan organik merupakan media tanam terbaikdengan tinggi tanaman 16,76 cm, jumlah daun 8,20 helai, lebar daun 15,08 cm2, bobot segartanaman 0,96 g, bobot segar akar 0,35 g, bobot segar daun 0,39 g, bobot kering tanaman0,160 g, bobot kering akar 0,055 g, bobot kering daun 0,064 g, dan lebar bukaan stomata 1,84μm

    Uji Berbagai Desinfiktan dan ZPT pada Media MS Terhadap Pertumbuhan Ekplan Tanaman Pisang Klutuk (Musa paradisiaca, L)

    Get PDF
    Penelitian ini telah dilakukan selama 5 bulan mulai bulan September 2017 sampai Januari 2018. Tempat penelitian di Laboratorium Kultur jarigan Lempes, Jl, Penerbangan, Gg, Rahmat No, 87 Kelurahan Air Dingin, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru. Pisang Klutuk adalah jenis pisang yang mampu menghasilkan daun yang banyak dan tidak mudah robek. Saat ini bibit yang ditanam oleh petani pada umumnya berasal dari pohon induk induk sehingga jumlah anakan dan rentan terhadap penyakit dan layu bakteri. Kultur jaringan alternatif merupakan teknik untuk menghasilkan bibit pisang berkualitas dalam jumlah banyak, seragam, dan dalam waktu singkat, pencoklatan dan terkontaminasi sangat besar di media kultur jaringan khususnya daerah tropis bisa mencapai 95%, dan daerah dingin yang berbeda hanya 5%, untuk mengatasi permasalahan tersebt bahan yang digunakan harus disinfektan yang dapat menghasilkan keberhasilan secara maksimal. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), faktorial dengan 2 faktor sebagai berikut: Faktor pertama adalah Disinfektan terdiri dari empat (4) tingkat yaitu Bayclin 20% (P1) ekstrak Pinang 20% (P2), ekstrak daun sirih 20% (P3), ekstrak umbi kentang Garut 20% (P4) masing-masing dalam rendam selama 30 menit dengan menggunakan shaker, Faktor kedua adalah Berbagai ZPT pada media MS terdiri dari empat (4) tingkat: BAP konsentrasi 1,0 mg / l (B1), madu Lebah 10 ml / l (B2),                          air kelapa 10 ml / l (B3), ekstrak tauge 10 ml / l (B4). Masing-masing dari ketiga ulangan dan masing-masing unit percobaan terdiri dari dua botol, dan setiap botol ditanam 1 eksplan sehingga ada 192 unit eksperimen, Parameter yang diamati yaitu persentase eksplan yang terkontaminasi (%), persentase pencoklatan (%), jumlah daun (daun), jumlah tunas, panjang tunas (cm), Persentase eksplan hidup.Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Uji Desinfektan dan ZPT pada MS medium terhadap eksplan pertumbuhan Pisang klutuk In vitro dengan perlakuan terbaik yaitu Disinfektan Bayclin 20% dan BAP 1,0 mg / l  (P1B1) d dengan persentase ekplan kontaminasi 35,24%, jumlah tunas 4 buah dan Persentase hidup eksplan 65,88 % (100% sintetis), Disinfektan Bayclin 20% dan ekstrak tauge 10 ml / l (P1B4) dengan persentase Pencoklatan 35,24%, jumlah daun 6 helai dan Persentase hidup eskplan 65,80% (50% dan 50% organik sintetis), Ekstrak Pinang Disinfektan 20% dan BAP 1,0 mg / l (P2B1) dengan persentase pencoklatan 35,24%, dan panjang tunas 8,67 cm, Persentase hidup eksplan 65,80%, (50% organik dan 50% sintetis), Desinfektan Ekstrak umbi kentang Garut 20% dan air kelapa 10 ml / l (P4B3) diperoleh persentase Pencoklatam sebesar 35,2 4%, panjang tunas 7,50 cm, dan Persentase hidup ekplan 62,15% (100% organik). Kata kunci: Pisang klutuk, Disinfectant dan ZP

    PENGEMBANGAN MODELAQUAPONICS MENUJU MASYARAKAT BERKEMAJUAN BERBASIS LINGKUNGAN DI DESA KEDUNGLO, KECAMATAN KEMIRI KABUPATEN PURWOREJO

    Get PDF
    Desa Kedunglo merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Kemiri, kabupatenPurworejo yang memiliki potensi besar di sektor pertanian. Hal ini terbukti dari kecamatanKemiri merupakan salah satu kecamatan yang menjadi referensi pembibitan dengan kualitasbaik di area Purworejo. Selain itu juga kecamatan Kemiri memiliki lahan pertanian luas yangdapat dioptimalkan hasilnya. Salah satu teknologi yang mampu memanfaatkan lahan adalahaquaponics. Aquaponics merupakan teknologi yang mensimbiosiskan antara budidaya ikandan budidaya tanaman dalam satu tempat. Penerapan teknologi aquaponics memungkinkanpetani mendapatkan dua hasil sekaligus yaitu ikan dan tanaman. Pengabdian kepadamasyarakat yang dilakukan di desa Kedunglo, kecamatan Kemiri, kabupaten Purworejomemiliki tujuan mengenalkan pengetahuan tentang pengembangan model aquaponics kepadamasyarakat di desa Kedunglo kecamatan Kemiri kabupaten Purworejo. Metode yangdilakukan menggunakan penyuluhan dan praktik. Penyuluhan dengan upaya memberikangambaran jelas mengenai aquaponics kepada masyarakat petani khususnya ibu-ibu PKK danKWT, sedangkan praktik bertujuan untuk secara bersama-sama belajar merangkai alat danbahan pembuatan model aquaponics. Diharapkan dengan kedua metode ini masyarakat petanisemakin paham dengan aplikasi teknologi aquaponics. Hasil pengabdian kepada masyarakatpada pengembangan model aquaponic adalah pengembangan model aquaponics memilikibanyak manfaat karena mengintegrasikan teknologi budidaya ikan dan budidaya tanamansayuran atau buah-buahan sehingga petani mendapatkan dua keuntungan sekaligus

    SISTEM PEMBIBITAN TANAMAN KARET DENGAN ROOT TRAINER

    Get PDF
    Pembibitan tanaman karet di Indonesia saat ini dilakukan umumnya dengan stump okulasi mata tidur (OMT) dan pembuatan bibit polibeg tanam benih langsung (tabela). Kedua sistem pembibitan tersebut menggunakan wadah media berupa plastik polibeg dan media campuran topsoil dan pupuk kandang dengan perbandingan tertentu. Penggunaan polibeg dan topsoil seringkali menyebabkan (1) akar tunggang mengalami coiling, (2) perakaran bibit tidak berkembang maksimal karena topsoil terlalu padat, (3) membutuhkan banyak tenaga kerja dalam pengelolaannya sehingga menyebabkan biaya produksi tinggi, (4) bobot polibeg dan media topsoil yang berat membatasi kapasitas jumlah bibit yang dapat diangkut saat didistribusikan atau diangkut sehingga efisiensi biaya pengangkutan rendah, dan (5) penggunaan topsoil yang dilakukan terus-menerus dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Root trainer dikembangkan sebagai wadah yang lebih baik dari polibeg. Root trainer terbuat dari bahan keras dan di dalamnya terdapat beberapa tonjolan vertikal yang berfungsi mengarahkan pertumbuhan akar lurus ke bawah dan mencegah terjadinya pertumbuhan akar secara spiral. Penggunaan root trainer harus diikuti dengan pemilihan media tanam yang sesuai agar bibit tumbuh dengan baik serta efisien penanganannya. Media  tersebut dapat berupa serbuk sabut kelapa, gambut rawa, sekam atau arang sekam, limbah padat olahan jamu, dan blotong. Penggunaan root trainer dengan media-media tersebut dapat menciptakan perakaran bibit yang baik, padat dan lebih tahan dari kerusakan, sehingga tanaman karet dapat segera tumbuh dengan jagur setelah ditanam di kebun produksi. Selain itu, penggunaan root trainer juga dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pengusahaan bibit tanaman karet, termasuk dalam transportasi bibit ke kebun produksi

    PERTUMBUHAN BIBIT PISANG PASCA AKLIMATISASI DENGAN SISTEM HIDROPONIK

    Get PDF
    Bibit pisang hasil perbanyakan in vitro membutuhkan media tumbuh dan nutrisi yang optimum agar tumbuh normal pasca aklimatisasi. Sistem hidroponik dapat memberikan kondisi optimum untuk memacu pertumbuhan bibit. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan substrat dan komposisi nutrisi hidroponik yang memadai untuk pembibitan pisang Raja Bulu Kuning hasil perbanyakan in vitro. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kasa, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Surakarta pada tahun 2015. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap yang terdiri dari dua faktor perlakuan, yaitu jenis substrat dan komposisi nutrisi, yang disusun secara faktorial. Hasil percobaan menunjukkan tidak terdapat interaksi antara jenis substrat dan komposisi nutrisi, tetapi jenis substrat berpengaruh terhadap semua variabel respon kecuali jumlah daun. Pertumbuhan bibit pisang dengan menggunakan substrat tangkai pakis cacah dan serat aren lebih baik dibandingkan substrat bagase, sedangkan komposisi nutrisi tidak berpengaruh terhadap semua variabel respon

    567

    full texts

    653

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇