Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
Pengaruh Penambahan Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) dan Bawang Putih (Allium sativum) dalam Pakan terhadap Profil Darah Merah Ayam Broiler
Penelitian ini telah dilaksanakan di kandang penelitian C Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro pada bulan Juli hingga Agustus 2019. Tujuan penelitian yaitu mengkaji pengaruh penambahan tepung daun kelor (Moringa oleifera) dan tepung bawang putih (Allium sativum) dalam pakan terhadap profil darah merah ayam broiler. Materi yang dipergunakan adalah day old chicks (DOC) ayam broiler sebanyak 100 ekor strain Lohmann dengan rerata bobot badan 37,43 ± 2,48 gram. Kandang yang digunakan yaitu kandang koloni berukuran 1x1 m2 dengan jumlah 16 petak sehingga setiap unit petak berisi 6 ekor ayam. Ransum yang digunakan terdiri atas pakan basal (kandungan protein, lemak, serat kasar, kalsium, phospor dan energi metabolis), tepung daun Kelor dan tepung Bawang Putih. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. T0 adalah ransum tanpa penambahan tepung daun Kelor maupun tepung Bawang Putih, T1 (ransum dengan penambahan tepung daun Kelor dengan level 1%), T2 (ransum dengan penambahan tepung Bawang Putih dengan level 1%) dan T3 ( ransum dengan penambahan tepung daun Kelor dan tepung Bawang Putih dengan masing masing level 1%). Parameter yang diamati yaitu respon eritrosit, hemoglobin, hematokrit, MCV, MCH dan MCHC. Penelitian ini menunjukkan rerata jumlah eritrosit berkisar antara 2,44 - 2,78 jt/mm3, kadar hemoglobin 9,88 - 11,88 g/dl, persentase hematokrit 25,26 - 29,13%, MCV 105,88 – 110,83 fl, MCH 40,40 – 42,70 Pg dan MCHC 37,48 – 40,68%. Berdasarkan dari hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan tepung daun Kelor dan tepung Bawang Putih tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap eritrosit, hemoglobin, hematokrit, MCV, MCH dan MCHC ayam broiler. Simpulan dari penelitian ini bahwa penambahan tepung daun Kelor dan tepung Bawang Putih tidak memberikan pengaruh terhadap profil darah merah ayam broiler
Pengaruh Pemberian Sumber Serat Kasar Yang Berbeda Terhadap Pemanfaatan Protein Pakan Pada Kelinci New Zealand White
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas penggunaan kulit kacang dan kulit kopi sebagai sumber serat kasar dalam ransum untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak kelinci. Penelitian ini menggunakan 21 ekor kelinci new zealand white umur 2 bulan dengan bobot badan rata-rata 1,573 + 0,27 kg (CV = 14,85 %). Pakan yang digunakan berupa pelet yang disusun dari jagung, polar, bungkil kedelai, dedak gandum, bekatul, kulit kopi, kulit kacang, bungkil kelapa, mineral, garam dan molases. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 (tiga) perlakuan dan 7 (tujuh) ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah T1 = ransum dengan kandungan kulit kopi 8%, T2 = ransum dengan kandungan kulit kacang 4% dan kulit kopi 4%, dan T3 = ransum dengan kandungan kulit kacang 8%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian sumber serat kasar yang berbeda tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap perlakuan yang diberikan dalam hal retensi protein. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kelinci new zealand white yang mendapatkan pemberian sumber serat kasar yang berbeda tidak berbeda nyata dalam kemampuan pemanfaatan protein pakan.
Produksi Gas Metan dari Feses Kelinci New Zealand White yang diberi Perlakuan Pakan dengan Subtitusi Sargassum sp. pada Level yang Berbeda
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengetahui penggunaan Sargassum sp. untuk pakan kelinci dan pengaruhnya terhadap produksi gas metan. Penelitian dilakukan pada bulan Juli – November 2018 di Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang. Materi yang digunakan adalah 24 ekor kelinci New Zealand White yang berumur 80 – 90 hari dengan bobot rata-rata 1736 ± 50 g (CV = 2,90%). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 8 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu T0 (pakan kontrol, tanpa Sargassum sp.), T1 (pakan T0 disubtitusi Sargassum sp. 4%) dan T2 (pakan T0 disubtitusi Sargassum sp. 8%). Ransum basal terdiri dari jagung kuning, pollard, bungkil kedelai, wheat bran, bekatul, kulit kopi, bungkil kelapa, molases, mineral, garam dan kangkung. Bahan pakan tersebut diolah menjadi pellet dan diberikan sebanyak 130 g/ekor/hari. Pemeliharaan kelinci dilakukan selama 12 minggu. Tahap pemeliharaan dimulai setelah ternak mendapatkan adaptasi kandang, adaptasi pakan dan lingkungan. Parameter yang diamati adalah produksi gas metan yang diukur dengan liquid displacement method. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subtitusi Sargassum sp. 4% dan 8% pada pakan kelinci tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap produksi metan dari feses yang dihasilkan. Rata-rata produksi metan dari feses kelinci yang mendapat perlakuan T0, T1 dan T2 adalah 25,02 ml/g, 18,08 ml/g dan 24,67 ml/g. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa subtitusi Sargassum sp. dengan level hingga 8% pada pakan kelinci tidak berpengaruh terhadap produksi gas metan dari feses kelinci
Produksi Whey Protein Concentrate (WPC) Terdenaturasi Menggunakan Beberapa Metode Preparasi
Whey protein merupakan komponen protein yang terdapat di dalam whey susu. Whey susu merupakan bahan pangan yang dihasilkan dari limbah industri pengolahan keju. Namun, limbah whey hanya diolah kembali menjadi air bersih dan pakan ternak. Whey masih memiliki kandungan nutrisi yang baik bagi tubuh yaitu protein, laktosa, vitamin, dan mineral. Salah satu upaya untuk memanfaatkan limbah tersebut adalah dengan mengolah whey menjadi whey protein concentrate (WPC). Whey protein memiliki beberapa sifat fungsional diantaranya sebagai pengontrol tekstur, di mana menyebabkan pengerasan tekstur ketika diaplikasikan pada produk pangan. Proses denaturasi dapat merubah konformasi dari protein whey sehingga tekstur produk pangan dapat diatur. Proses produksi WPC terdenaturasi yang ada dinilai belum efektif dan efisien. Oleh karena itu, perlu dilakukan modifikasi proses khususnya proses pengeringan untuk memberikan efisiensi yang tinggi namun teatp menjaga karakteristik WPC yang dihasilkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dan membandingkan karakeristik WPC yang diproduksi menggunakan pengeringan vakum dan spray drying dengan beberapa metode preparasi. Pengamatan dilakukan terhadap sifat fisikokimia, yaitu solubilitas, kadar air, kadar protein, kadar laktosa, dan total rendemen; serta sifat fungsionalitasnya, yaitu whey drainage. Hasil penelitian menunjukkan bahwa WPC terdenaturasi yang dihasilkan menggunakan proses spray drying dengan metode preparasi dua memberikan sifat fisikokimia dan fungsionalitas terbaik
Kajian Teknik Pemipilan Jagung di Dusun Pakis, Dlingo, Bantul, DI Yogyakarta
Pemipilan merupakan bagian dari penanganan pascapanen jagung. Penelitian ini bertujuan mengkaji beberapa teknik pemipilan jagung. Pengkajian dilaksanakan di Dusun Pakis II, Bantul pada bulan Januari – Desember 2016. Metode pengkajian adalah survey dan eksperimen. Data yang dikumpulkan adalah karakteristik petani dan kinerja alat pemipil. Bahan berupa jagung yang ditanam petani setempat. Alat pemipil bersifat semi mekanis dan mekanis/mesin. Pengkajian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) 2 faktor, yaitu teknik pemipilan dan varietas jagung. Teknik pemipilan ada 3 taraf, yaitu pemipilan dengan tangan, alat semi mekanis dan alat mekanis. Varietas yang digunakan yaitu BISI 2, Super Asia Gold dan lokal. Ulangan sebanyak 3 kali. Parameter mutu berupa kadar air, kadar butir rusak, kadar butir pecah dan kadar kotoran. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa kapasitas pemipilan untuk BISI 2 adalah 24,90 kg/jam(manual), 62,48 kg/jam (semi mekanis), 201,87 kg/jam (mesin); Super Asia Gold sebesar 16,71 kg/jam (manual), 39,55 kg/jam (semi mekanis) dan 192,69 kg/jam (mesin); Jagung lokal 11,71 kg/jam (manual), 19,61 kg/jam (semi mekanis), dan 188,81 kg/jam (mesin). Rendemen pemipilan untuk BISI 2 sebesar 84,97 % (manual), 75,06 % (semi mekanis) dan 64,99 % (mesin); Super Asia Gold sebesar 88,91 % (manual), 80,43 % (semi mekanis), dan 66,13 % (mesin); jagung lokal 80,39 % (manual), 69,71 % (semi mekanis) dan 74,99 % (mesin). Efisiensi pemipilan untuk BISI 2 sebesar 100% (manual), 85,70 % (semi mekanis), dan 52,99 % (mesin); Jagung Super Asia Gold sebesar 100 % (manual), 87,93 % (semi mekanis) dan 14 % (mesin). Jagung lokal sebesar 100 % (manual), 83,23 % (semi mekanis) dan 77,29 % (mesin). Kelas mutu jagung dengan cara manual adalah kelas I, sedangkan cara semi mekanis dan mesin adalah kelas II dan kelas III.
Pengaruh Dosis Vermikompos terhadap Produksi Sawi Pakcoy (Brassica Rapa L. Varietas Parachinensis
Budidaya sawi secara organik dengan menggunakan vermikompos merupakan salah satu alternatif yang baik untuk produksi sawi pakcoy ( Brassica Rapa L. Varietas Parachinensis ). Vermikompos merupakan salah satu pupuk organik yang memanfaatkan bahan-bahan organik seperti limbah pertanian atau peternakan melalui proses pengomposan cacing tanah ( Lumbricus rubellus ). Adapun tujuan dari penelitian ini, menentukan dosis vermikompos yang dapat meningkatkan produksi tanaman sawi pakcoy. Penelitian dilakukan didalam Greenhous Balai Perlindungan Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (BPTPHP) Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan yaitu 0%, 10%, 20%, 30%, 40% dan 50% pemberian dosis vermikompos pada media tanam serta di ulang sebanyak 4 ulangan. Analisis data di olah menggunakan Analisis of Varians (ANOVA), jika beda nyata dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) selang kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan beberapa dosis vermikompos dapat memberikan pengaruh nyata terhadap produksi sawi pakcoy. Perlakuan pemberian dosis vermikompos sebanyak 20% (P3) memberikan hasil paling tinggi dibanding perlakuan yang lainnya
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) pada Berbagai Dosis dan Jenis Pupuk Nitrogen yang Berbeda di Tanah Pasir Pantai
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menentukan dosis pupuk N yang paling efektif bagi pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah pada tanah pasir pantai. 2) Menentukan jenis pupuk N yang paling efektif bagi pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah pada tanah pasir pantai. 3) Menentukan kombinasi dosis dan jenis pupuk nitrogen yang paling efektif bagi pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah pada tanah pasir pantai. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2018 di Experimental farm Fakultas Pertanian , Universitas Jenderal Soedirman dan Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap faktorial yang terdiri dari dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah dosis pupuk N yang terdiri dari 25, 187,5, dan 300 kg N/ha. Faktor kedua adalah jenis pupuk N yang terdiri dari pupuk urea dan ZA, KNO3, dan NPK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk N 187,5 kg/Ha merupakan dosis yang paling efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah di me pasir pantai dengan potensi hasil umbi segar sebesar 8,09 t/ha. Jenis pupuk N Urea ZA yang paling efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah di lahan pasir pantai dengan potensi hasil umbi segar sebesar 8,38 t/Ha. Kombinasi perlakuan dosis pupuk N 187,5 kg/ha dengan jenis pupuk Urea ZA merupakan perlakuan yang paling efektif untuk meningkatkan perumbuhan dan hasil tanaman bawang merah di lahan pasir pantai dengan potensi hasil umbi segar sebesar 8,69 t/Ha
Keragaman dan Kelimpahan Musuh Alami pada Tanaman Pala di Aceh Selatan
Musuh alami baik predator ataupun parasitoid berperan mengendalikan polulasi hama secara alami. Keragaman dan kelimpahan musuh alami di setiap tempat berbeda-beda dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kultur teknis budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi famili serangga yang berpotensi sebagai musuh alami pada tanaman pala di Aceh Selatan. Pengambilan sampel serangga dilakukan pada perkebunan pala di Aceh Selatan dan identifikasi serangga dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian, Universitas Teuku Umar. Metode pengambilan data secara purposive sampling, dengan menggunakan perangkap cahaya (light trap), perangkap jebak (pit fall trap), perangkap nampan kuning (yellow pan trap). Parameter yang diamati adalah keanekaragaman, kelimpahan, dan komposisi musuh alami. Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener menunjukkan keanekaragaman musuh alami baik di Meukek mapun Samadua tergolong rendah, yaitu H’=1.230 dan H’=1.049. Meskipun demikian komposisi dan kelimpahan musuh alami di Kecamatan Meukek lebih tinggi dibandingkan dengan Kecamatan Samadua. Jumlah total famili yang dijumpai pada tanaman pala di Kecamatan Meukek adalah 13 famili (9 parasitoid dan 4 predator) dengan 135 individu. Sementara musuh alami yang ditemukan di Kecamatan Samadua sebanyak 5 famili dan 36 individu, terdiri dari 4 famili parasitoid dan 1 famili predator. Pola tanam dan pengelolaan tanaman diduga mempengaruhi komposisi dan kelimpahan musuh alami di kedua lokasi. Perkebunan pala di Meukek cenderung heterogen yang ditanami berbagai macam tanaman perkebunan (polikultur) sementara tanaman pala di sama dua relatif homogen (monokultur pala)
Pengaruh Beberapa Konsentrasi Susu Sapi terhadap Penyakit Virus Gemini atau Penyakit Kuning pada Cabai Rawit
Kutu kebul (Bemisia tabaci Genn.) merupakan serangga vektor untuk penyakit kuning atau virus Gemini . Tanaman yang terinfeksi virus Gemini akan menunjukan gejala warna daunnya menguning, bentuk daunnya mengkerut atau menggulung ke atas serta tanaman tumbuh kerdil. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh berbagai konsentrasi susu sapi terhadap serangan penyakit virus Gemini dan terhadap hasil produksi tanaman cabai rawit. Penelitian ini dilakukan di desa Kebumen, kecamatan Banyubiru, kabupaten Semarang dan Laboratorium Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan jumlah perlakuan sebanyak lima. Hasil penelitian menunjukan penyemprotan larutan susu sapi memberikan pengaruh yang nyata terhadap intensitas serangan penyakit, kejadian penyakit dan jumlah buah pane
Pengaruh Penambahan Aditif Pakan Berupa Kombinasi Kulit Singkong dan Bakteri Asam Laktat Terhadap Produksi Karkas Ayam Broiler
Tujuan utama dari penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi penggunaan penambahan aditif pakan berupa kombinasi kulit singkong dan bakteri asam laktat terhadap persentase karkas dan non karkas, potongan komersil serta lemak abdominal ayam broiler. Sebanyak 144 ekor ayam broiler dipelihara sampai umur 38 hari. Pakan yang digunakan terdiri dari jagung, bekatul, tepung ikan, bungkil kedelai, Meat Bone Meal (MBM) dan premix yang disusun menjadi ransum basal. Perlakuan berupa penambahan kombinasi berupa tepung kulit singkong dan bakteri asam laktat (BAL) dalam pakan basal dengan level yang berbeda yaitu T0 (ransum basal tanpa sinbiotik), T1 (ransum basal+ sinbiotik 50 ml/kg), T2 (ransum basal+sinbiotik 100 ml/kg), T3 (ransum basal+sinbiotik 150 ml/kg). Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam (ANNOVA) dan bila terdapat perbedaan nyata dilanjutkan dengan Uji Jarak Duncan. Hasil menunjukkan bahwa pemberian pakan aditif berupa kombinasi kulit singkong dan BAL tidak berpengaruh nyata (P>0,5) terhadap persentase karkas, potongan komersil dan lemak abdominal ayam broiler, akan tetapi berpengaruh nyata terhadap persentase non karkas ayam broiler (P<0,5). Simpulan yang didapatkan yaitu dengan penambahan aditif pakan berupa kombinasi kulit singkong dan bakteri asam laktat hingga taraf 150 ml/kg ke dalam ransum basal belum mampu meningkatkan produksi karkas ayam broiler