Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
Pengaruh Pemberian Pakan dengan Level dan Sumber Protein Berbeda terhadap Respon Fisiologis Domba Lokal Muda
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian pakan dengan level dan sumber protein pakan berbeda terhadap kondisi fisiologis domba ekor tipis (DET) jantan muda. Materi yang digunakan yaitu 20 ekor DET umur 3 - 4 bulan dengan bobot badan rata-rata 13,03 ± 2,30 kg. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial pola 2 x 2 dengan faktor level dan faktor sumber protein pakan (T1: level 13% dengan sumber protein bungkil kedelai, T2: level 13% dengan sumber protein tepung ikan, T3: level 15% dengan sumber protein bungkil kedelai dan T4: level 15% dengan sumber protein tepung ikan) dan menggunakan 5 ulangan. Parameter yang diamati yaitu konsumsi pakan, denyut jantung, frekuensi nafas dan suhu rektal. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi (P>0,05) antara level protein dan sumber protein terhadap parameter yang diamati. Perlakuan level protein tidak mempengaruhi (P>0,05) konsumsi bahan kering pakan, denyut jantung, frekuensi nafas dan suhu rektal dengan rataan 773 g/hari, 84 kali/menit, 40 kali/menit dan 39,1oC. Sumber protein juga tidak mempengaruhi (P>0,05) konsumsi bahan kering pakan dan suhu rektal, tetapi berpengaruh (P<0,05) terhadap denyut jantung (T1: 88 kali/menit; T2: 90 kali/menit; T3: 83 kali/menit; T4: 76 kali/menit) dan frekuensi nafas (T1: 42 kali/menit; T2: 45 kali/menit; T3: 33 kali/menit; T4: 40 kali/menit). Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian pakan dengan sumber protein bungkil kedelai memberikan produksi panas lebih tinggi sehingga terjadi peningkatan denyut jantung dan frekuensi nafas domba sebagai upaya termoregulasi untuk mempertahankan suhu tubuh tetap normal sedangkan pemberian level protein berbeda tidak mempengaruhi respon fisiologis domba
Pertumbuhan Domba Ekor Tipis Muda yang Diberi Pakan dengan Level dan Sumber Protein Berbeda
Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian pakan dengan level dan sumber protein yang berbeda terhadap pertumbuhan domba ekor tipis (DET) muda. Materi penelitian yaitu 20 ekor DET jantan muda dengan rata-rata bobot badan awal 13,03 ± 2,30 kg. Domba diberi pakan komplit dalam bentuk pelet yang disusun dari tepung gaplek, pucuk tebu, kulit singkong, mineral mix, molases, bungkil kedelai sebagai sumber protein nabati dan tepung ikan sebagai sumber protein hewani. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak lengkap pola faktorial 2 × 2, faktor pertama yaitu level protein dan faktor kedua yaitu sumber protein pakan sehingga terdapat 4 kombinasi ransum perlakuan yaitu T1P1 (Sumber protein bungkil kedelai dengan kandungan protein kasar (PK) 13,36%), T1P2 (Sumber protein bungkil kedelai, PK 15,20%), T2P1 (Sumber protein tepung ikan, PK 13,36%), dan T2P2 (Sumber protein tepung ikan, PK15,20%). Parameter yang diukur adalah pertambahan bobot badan harian (PBBH) dan ukuran-ukuran tubuh meliputi pertambahan tinggi pundak harian (PTPH), pertambahan panjang badan harian (PPBH), pertambahan lingkar dada harian (PLDH), pertambahan lebar dada harian (PLeDaH) dan pertambahan dalam dada harian (PDDH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa level protein yang berbeda berpengaruh nyata terhadap PBBH, PPBH dan PLDH (P<0,05). Pertambahan bobot badan harian, PPBH dan PLDH pada level protein 13% berturut-turut sebesar 83,73 g/hari, 0,09 cm/hari dan 0,10 cm/hari lebih rendah dibandingkan PBBH, PPBH dan PLDH pada level protein 15% yaitu 130,42 g/hari, 0,12 cm/hari dan 0,15 cm/hari. Sumber protein yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati (P>0,05). Rata-rata PBBH sebesar 107,08 g PPBH 0,11 cm, PTPH 0,09 cm, PLDH 0,12 cm PleDaH 0,05 cm dan PDDH 0,05 cm. Disimpulkan bahwa pemberian level protein 15% meningkatkan pertambahan bobot badan, panjang badan dan lingkar dada dibandingkan level protein 13%, namun pemberian pakan dengan sumber protein yang berbeda memberikan pertumbuhan DET muda yang relatif sama.
Pengaruh Jarak Tanam Dan Umur Panen Terhadap Kuantitas dan Kualitas Hasil Tanaman Bit Merah (Beta vulgaris L) Varietas Ayumi 04
Bit (Beta vulgaris L.) merupakan buah yang mulai dikenal dan diminati oleh masyarakat karena memiliki banyak manfaat, tetapi belum ada penelitian mengenai jarak tanam dan umur panen tanaman bit untuk menghasilkan ukuran dan kematangan yang sesuai dengan permintaan pasar. Oleh karena itu, diperlukan adanya penelitian dalam budidaya tanaman bit varietas Ayumi 04 khususnya jarak tanam dan umur panen untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas hasil tanaman bit yang optimal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh jarak tanam dan mengetahui pengaruh umur panen terhadap kuantitas dan kualitas hasil tanaman bit serta menentukan jarak tanam dan umur panen yang mampu menghasilkan kuantitas dan kualitas umbi yang optimal pada tanaman bit. Penelitian ini menggunakan rancangan perlakuan faktorial 3x3. Faktor pertama adalah jarak tanam 20x15 cm, 20x20 cm, dan 20x25 cm. Faktor kedua adalah umur panen 35, 45, dan 55 hari setelah pindah tanam. Data dianalisis dengan Sidik Ragam dan BNJ 0,05. Lokasi penelitian di desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang ± 1300 m dpl pada Juni-September 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam berpengaruh terhadap berat umbi per tanaman, berat umbi per petak, diameter umbi, jumlah umbi per petak, tetapi tidak berpengaruh terhadap kadar gula. Umur panen berpengaruh terhadap berat umbi per tanaman, berat umbi per petak, diameter umbi, dan kadar gula, tetapi tidak berpengaruh terhadap jumlah umbi per petak. Sehingga didapatkan hasil yang optimal pada jarak tanam 20x15 cm dengan umur panen 55 hari yang menghasilkan berat umbi per petak, jumlah umbi per petak dan kadar gula tertinggi
Pola Adopsi Inovasi Petani Padi Sawah: Sebuah Survei di Lima Kecamatan di Kabupaten Solok, Sumatera Barat
Walau pun petani sudah diperkenalkan pada seperangkat inovasi yang saling mendukung paling kurang sejak 10 tahun terakhir, para petani cenderung mengadopsi inovasi secara selektif: mengadopsi yang sesuai dan bisa dilaksanakan dan terbukti meningkatkan produksi dan/atau meminimumkan biaya usaha tani. Dengan demikian, bibit unggul adalah inovasi yang paling umum di adopsi petani, terutama bibit unggul yang memberikan hasil yang tinggi dan/atau pendapatan yang lebih baik (bibit unggul yang menghasilkan beras kualitas tinggi). Inovasi-inovasi budidaya, yang pada dasarnya merupakan upaya ‘fine tuning’ praktek budidaya padi (seperti pemilihan bibit yang lebih baik, pupuk seimbang dan sesuai kebutuhan, serta sistem tanam jarwo) diadopsi sejauh bisa dilaksanakan, peralatan tersedia, dan lingkungan menerima (misalnya tidak ada resistensi dari buruh tani). Inovasi-inovasi seperti PHT tidak sepenuhnya diadopsi petani mengingat tingginya risiko akibat serangan hama/penyakit. Gagasan-gagasan atau inovasi yang betapa pun bagusnya, misalnya dari segi kesehatan dan lingkungan, tetapi tidak mengurangi biaya atau secara langsung meningkatkan produksi kelihatannya tidak potensial untuk diadopsi petani. Inovasi kelembagaan seperti AUTP dan LKMA ternyata tidak terlalu dimanfaatkan petani walau pun secara hipotetis dibutuhkan petani
Pengaruh Penambahan Kombinasi Tepung Daun Kelor (Moringa Oleifera) dan Bawang Putih (Allium Sativum) Terhadap Level Kolesterol, Trigliserida, LDL dan HDL Darah Ayam Broiler
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak penambahan kombinasi tepung daun kelor (Moringa Oleifera) dan tepung bawang putih (Allium Sativum) dalam ransum terhadap kadar lemak darah ayam broiler. Penelitian menggunakan 96 ekor ayam broiler unsex strain Lohman dengan rataan bobot 37,43±2,48 gram. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah T0: ransum kontrol, T1 : ransum + tepung daun kelor 1% atau sebanyak 10g/kg, T2 : ransum + tepung bawang putih 1% atau sebanyak 10g/kg, dan T3 : ransum + tepung daun kelor 1% atau sebanyak 10g/kg + tepung bawang putih 1% atau sebanyak 10g/kg. Parameter yang diukur adalah kadar kolesterol, trigliserida, LDL dan HDL darah ayam broiler. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh nyata (P>0,05) perlakuan terhadap kadar kolesterol, trigliserida, LDL dan HDL darah ayam broiler. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan kombinasi tepung daun kelor dan tepung bawang putih sebanyak 1% dalam ransum tidak mempengaruhi kadar lemak darah ayam broiler
Perbandingan Evapotranspirasi Potensial Untuk Tanaman Jagung Manis (Zea Mays L.) Pada Sistem Pemanenan Air Limpasan di Lahan Kering Ciparanje
Perhitungan evapotranspirasi potensial (ETo) diaplikasikan pada tanaman jagung manis (Zea Mays L.). Penelitian ini menggunakan metode Evapotranspirasi yang direkomendasikan oleh FAO yaitu metode Penman-Monteith dan Penman Modifikasi untuk diterapkan pada sistem pemanenan air limpasan di lahan kering Ciparanje, Kabupaten Sumedang. Data masukan yang digunakan untuk kedua metode tersebut adalah data klimatologi yang meliputi suhu udara, kelembaban udara, kecepatan angin, dan lama penyinaran matahari dari stasiun klimatologi Faperta Unpad dari tahun 2008-2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata evapotranspirasi potensial untuk Metode Penman-Monteith dan Penman Modifikasi secara berturut-turut adalah 3,96 dan 5,28 sehingga terdapat perbedaan sebesar 74,97%. Korelasi atau hubungan antara kedua metode tersebut adalah 0,914 dan terdapat perbedaan yang signifikan antara Metode Penman-Monteith dan Metode Penman Modifikasi
Karakterisasi Morfologi Kedondong Parang Karimunjaya
Kedondong Parang Karimunjaya merupakan tanaman lokal yang banyak sekali terdapat di seluruh daerah Pulau Parang dan tumbuh liar tidak dibudidayakan. Identifikasi dan karakterisasi dilakukan secaara ilmiah sehingga hasilnya dapat dijadikan sumber referensi ilmiah yang akurat. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Parang, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara pada Oktober 2018. Indentifikasi karakter morfologi meliputi: habitat, tajuk tanaman, daun, bunga, dan buah. Identifikasi karakter morfologi menggunakan deskriptor dari Direktorat Hortikultura tentang Deskripsi Tanaman Hortikultura Tahun 2017 dan penentuan warna menggunakan color chart Royal Horticulture Society. Tinggi pohon 20 meter berusia 70 tahun. Daun majemuk, bagian yang melebar berada ditengah-tengah, helaian daunnya berbentuk jorong (ovalis), pangkal daun runcing, ujung daun runcing dan tepi daun berombak. Tekstur daging buah berserat masir dengan aroma yang harum dan warna daging buah kuning (163 B). Buah bervariasi dalam ukuran dari sekitar panjang 10-14,5 cm dan lebar 4,5-6,5 cm. Tebal daging buah 2-3 cm dengan berat per buah 500-900 gram. Rasa daging manis sedikit asam. Kedondong Parang Karimunjaya wilayah penyebarannya berada di Pulau Parang, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara
Pemanfaatan Energi pada Kelinci New Zealand White dengan Pemberian Sumber Serat Kasar yang Berbeda
Penelitian bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan energi pakan pada kelinci dengan menggunakan limbah pertanian (kulit kacang dan kulit kopi) sebagai sumber serat yang berbeda. Materi penelitian berupa 12 kelinci New Zealand White berumur 2 minggu dengan rata-rata bobot badan awal 1,20 ± 0,27 g (CV = 13,94%). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu T1 (ransum dengan kulit kopi 8%), T2 (ransum dengan kulit kopi 4% dan kulit kacang 4%) dan T3 (ransum dengan kulit kacang 8%). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam. Parameter yang diukur adalah konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian (PBBH), pemanfaatan energi dan konversi energi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan tidak mempengaruhi (P > 0,05) konsumsi bahan kering, PBBH dan pemanfaatan energi. Rata-rata PBBH hasil penelitian 0,021 kg/ekor/hari. Rata-rata konsumsi bahan kering adalah 0,099 kg/hari/ekor. Rata-rata energi tercerna dan energi termetabolis 1,25 dan 1,24 MJ/ekor/hari. Rata-rata konversi energi terhadap PBBH yaitu 60,46 MJ/kg PBBH. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sumber serat kasar yang berbeda tidak berpengaruh pada pemanfaatan energi kelinci
Kajian Pengaruh Cekaman Hara terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Berbagai Ragam Aksesi Tanaman Coleus (Coleus atropurpureus (L) Benth)
Coleus atropurpureus (L) Benth. (Lamiaceae) dikenal sebagai salah satu jenis tanaman obat-obatan yang dapat mengobati berbagai penyakit. Cekaman hara merupakan salah satu faktor abiotik yang sangat berpengaruh terhadap produktivitas coleus. Dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan hasil produksi tanaman coleus di dalam kondisi cekaman hara, diperlukan upaya budidaya yang tepat salah satunya penemuan aksesi coleus yang toleran terhadap cekaman hara. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh ragam aksesi Coleus dan cekaman hara (dosis pupuk kandang sapi) terhadap pertumbuhan dan hasil Coleus atropurpous L Benth serta mengetahui aksesi Coleus atropurpous L Benth yang paling toleran dalam kondisi cekaman hara. Penelitian ini dilakukan di screen house, Jumantono, Universitas Sebelas Maret Surakarta pada bulan Juli 2018 hingga Oktober 2018. Peralatan dan bahan yang digunakan adalah polybag, pita pengukur, patok, tali rafia, lux meter, tanaman coleus dan media tanah. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan ragam aksesi tanaman Coleus sebagai faktor pertama, dengan aksesi 1 (daun ungu kasar), aksesi 2 (daun ungu halus), aksesi 3 (daun hijau) dan aksesi 4 (daun merah) dan dosis pupuk kandang sapi 0,1,2.5, dan 5 ton/ha sebagai faktor kedua. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varians (ANOVA) dan diikuti oleh Uji Duncan (DMRT) 5%. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar dan volume akar, bobot segar dan kering daun, batang dan akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi yang ditemukan antara dosis pupuk kandang sapi dan aksesi Coleus. Perlakuan aksesi Coleus tunggal nomor 4 (daun merah) merupakan aksesi paling toleran terhadap cekaman hara dibandingkan dengan aksesi lain terbukti dengan memiliki hasil tertinggi dari jumlah daun, panjang akar, volume akar dan bobot segar dan kering daun, batang dan akar Coleu
Respon dan Kepuasan Petani terhadap Diseminasi Komponen Teknologi PTT Padi Sawah di Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah
Tantangan dalam pencapaian swasembada pangan saat ini antara lain peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pangan. Guna menjawab tantangan tersebut diperlukan diseminasi inovasi teknologi spesifik lokasi yang tepat sehingga akan cepat diadopsi oleh petani. Inovasi teknologi yang diseminasikan antara lain komponen PTT padi sawah yang antara lain berupa varietas unggul baru (VUB), yang dinilai sebagai langkah paling cepat dalam meningkatkan produktivitas. Salah satu VUB yang berpotensi tinggi adalah Inpari 36. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon dan kepuasan petani terhadap komponen teknologi PTT padi sawah dan varietas Inpari 36. Penelitian dilakukan di Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. Metode yang digunakan adalah demonstrasi teknologi yang dilanjutkan dengan wawancara menggunakan kuesioner, dengan responden dipilih secara acak sebanyak 50 orang. Data respon dianalisis menggunakan pendekatan skoring dan kepuasan petani menggunakan Important and Performance Analysis (IPA) dan Customers Satisfaction Index (CSI). Respon petani terhadap komponen teknologi PTT Padi sawah pada kategori kurang tertarik hingga tertarik (skor 2,94 - 4,92). Respon tinggi antara lain pada komponen teknologi VUB dan benih bermutu, sedangkan respon petani ragu-ragu pada komponen penggunaan bahan organik. Hasil analisis Importance Performance Analysis (IPA) menunjukkan bahwa sebagian karakteristik teknologi PTT padi sawah berada pada kuadran II (penting dan dipertahankan), dan sebagian lain di kuadran III (kurang penting dan kurang prioritas), sedangkan Nilai CSI terhadap komponen teknologi demfarm berada pada kategori sangat puas