Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
Kesesuaian Lahan Tanaman Jeruk (Citrus L ) di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu
Penilaian kesesuaian lahan merupakan tahap pertama dan penting dalam pengembangan komoditas tanaman jeruk. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk. Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Kepahiang pada Tahun 2018. Parameter yang diamati adalah karakteristik lahan dan kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk. Analisis data dilakukan dengan mencocokkan setiap karakteristik lahan dengan kebutuhan persyaratan tumbuh tanaman jeruk, dan kesimpulannya menggunakan nilai terkecil (hukum minimum) sebagai keputusan kesesuaian lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk termasuk sangat sesuai (S1) seluas 4.220 Ha (6,45%), cukup sesuai (S2) seluas 18.170 Ha (27,79%), sesuai marjinal (S3) seluas 30.717 Ha (46,98%) dan tidak sesuai (N) seluas 12.275 Ha (18,78%) dengan faktor pembatas utama adalah lereng. Faktor pembatas lereng dapat diatasi dengan tindakan konservasi melalui pembuatan teras maupun penanaman sejajar kontur atau dengan cara konservasi vegetatif. Manipulasi mekanik tanah dan permukaan tanah (pengolahan tanah menurut kontur, pembuatan teras, guludan, saluran pembuangan air (SPA), bangunan terjunan air (BTA), rorak, chekdam sumbat gully
Preferensi Petani Terhadap Kedelai Varietas Grobogan dan Prospek Pengembangannya di Kabupaten Klaten
Varietas merupakan komponen teknologi budidaya yang mampu meningkatkan produktivitas dan paling mudah diadopsi. Penelitian preferensi petani terhadap kedelai varietas Grobogan dan prospek pengembangannya di Kabupaten Klaten bertujuan untuk : (1) mengetahui preferensi petani terhadap kedelai varietas Grobogan, dan (2) mengetahui prospek pengembangan kedelai varietas Grobogan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah before-after pada 30 petani sebagai responden. Metode pengambilan sampel dengan purposive random sampling terhadap 30 responden yang terlibat pada kegiatan perbenihan kedelai MT III tahun 2015 di Kabupaten Klaten. Untuk mengetahui preferensi petani terhadap kedelai varietas Grobogan digunakan Skala Likert terhadap tujuh komponen preferensi dengan membandingkan varietas kedelai yang biasa ditanam petani pada tahun sebelumnya. Skala Likert dibagi dalam tiga kategori preferensi yaitu suka, biasa dan tidak suka. Untuk mengetahui prospek pengembangan kedelai varietas Grobogan digunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan (1) preferensi petani terhadap kedelai varietas Grobogan secara umum termasuk dalam kategori suka. Komponen preferensi yang termasuk suka adalah keragaan tanaman, umur tanaman, ukuran biji, ketahanan terhadap OPT, produksi, dan harga jual. Sedangkan komponen preferensi yang termasuk tidak suka adalah kemudahan memperoleh benih, (2) prospek pengembangan kedelai varietas Grobogan baik, karena a) preferensi petani suka, b) meningkatkan produktivitas, c) pemasaran mudah, d) meningkatkan pendapatan, dan e) potensi luas areal. Dalam pengembangan kedelai varietas Grobogan perlu diikuti dengan penyediaan benih bermutu secara terus menerus
Pengaruh Pemberian Kulit Singkong dan Bakteri Asam Laktat sebagai Aditif Pakan Terhadap Bobot Relatif Organ Pencernaan Ayam Kampung Super
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan kulit singkong dan bakteri asam laktat sebagai aditif pakan ransum dan mengetahui pengaruh pakan dengan level sinbiotik berbeda terhadap bobot relatif organ pencernaan ayam kampung super. Manfaat dari dilaksanakannya penelitian ini adalah dapat mengoptimalkan potensi limbah pertanian berupa kuli singkong sebagai aditif pakan, serta diperoleh level sinbiotik yang optimal untuk memperbaiki kondisi pencernaan, produktivitas, dan menjaga kesehatan ayam kampung super. Materi yang digunakan adalah 144 ekor ayam jawa super dari DOC dan dipelihara selama 10 minggu. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan dengan 6 ulangan. Perlakuan pakan yang diberikan yaitu T0 (Aditif pakan 0ml/kg), T1 (Aditif pakan 100ml/kg), T2 (Aditif pakan 150ml/kg) dan T3 (Aditif pakan 200ml/kg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kulit singkong dan bakteri asam laktat sebagai aditif pakan tidak memberi pengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot relatif organ pencernaan (tembolok, proventrikulus, usus halus, usus besar dan sekum) namun terdapat pengaruh nyata (P>0,05) pada bobot relatif ventrikulus ayam kampung super
Pengembangan Kukis KAGUM (KAsava SorGUM) dari Tepung Komposit Berbasis Mocaf Kaya Beta-Karoten
Diversifikasi pangan fungsional berbasis ubi kayu dapat menjadi terobosan penting dalam mendukung program pencegahan resiko stunting pada balita karena kandungan nutrisinya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi terbaik tepung komposit berbasis mocaf kaya beta-karoten dan sorgum berdasarkan evaluasi sensori produk kukis yang meliputi penampilan, aroma, rasa, dan tekstur. Bahan mocaf yang digunakan berasal dari tiga jenis ubi kayu kaya beta-karoten antara lain Adira 1 (A), Mentega 2 (B) dan Carvita (C). Tepung sorgum digunakan sebagai sumber protein dalam tepung komposit. Komposisi tepung komposit mocaf kaya beta-karoten dan sorgum yang digunakan antara lain TK1 (75% mocaf+25% sorgum) dan TK2 (50% mocaf+50% sorgum). Sedangkan 100% tepung terigu digunakan sebagai kontrol. Pengujian organoleptik telah dilakukan kepada 63 responden dengan metode pengisian lembar kuisioner penilaian tingkat kesukaan terendah (1) hingga tertinggi (5). Secara keseluruhan, hasil skor uji organoleptik kukis menunjukkan bahwa tepung komposit dengan komposisi TK1 paling disukai oleh responden meski skornya masih lebih rendah dibandingkan dengan kontrol. Terdapat peningkatan kesukaan dari semua aspek dengan meningkatnya konsentrasi mocaf dari 50% ke 75%. Namun terdapat penurunan tingkat kesukaan keseluruhan dengan meningkatnya konsentrasi mocaf ke 100%. Dari penampilan didapatkan bahwa mocaf A memiliki skor kesukaan penampilan paling tinggi. Aroma terbaik diperoleh dari mocaf C dan tingkat kesukaan aroma berada pada konsentrasi mocaf 75% untuk seluruh varian mocaf. Dari hasil uji penilaian rasa, mocaf B lebih cocok untuk meningkatkan penerimaan rasa. Tekstur kukis tepung komposit yang paling disukai adalah kukis dengan konsentrasi mocaf 75% untuk semua jenis mocaf. Penggunaan sorgum justru mengurangi kualitas sensori produk terutama pada penampilan dan tekstur. Hal ini diduga terjadi karena kandungan protein sorgum yang tinggi sehingga menyebabkan adonan kukis tidak stabil dan tekstur kukis yang dihasilkan menjadi terlalu keras. Dari hasil uji organoleptik dapat disimpulkan bahwa tingkat kesukaan keseluruhan tertinggi secara berurutan adalah kukis kontrol, TK1, kemudian TK2 dari setiap genotip
Analisis Interval Air Irigasi Menggunakan Autopot Terhadap Kualitas Buah Tomat Cherry (Solanum L. var. Cerasiforme)
Musim kemarau dengan waktu yang lama mengakibatkan persediaan air di suatu wilayah berkurang sehingga terjadi kekeringan terutama pada lahan pertanian. Irigasi menjadi hal penting untuk tanaman sehingga apabila kebutuhan air irigasi tidak terpenuhi dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Upaya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman pada musim kemarau yaitu memanfaatkan air hujan pada musim hujan sebagai air irigasi menggunakan perlakuan interval air. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh interval air menggunakan autopot terhadap kualitas buah tomat cherry. Interval air yang digunakan pada penelitian ini yaitu satu hari pemberian air irigasi selama dua hari (interval 1 hari) tanaman dan satu hari pemberian air irigasi selama tiga hari (interval 2 hari) menggunakan autopot dengan jumlah tanaman berturut-turut yaitu 48 tanaman dan 96 tanaman. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif. Parameter kualitas buah tomat cherry yang digunakan pada penelitian ini yaitu total padatan terlarut, kekerasan, vitamin C dan kadar air. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh interval air terhadap kualitas buah tomat cherry dengan hasil rata-rata setiap parameter yaitu nilai total padatan terlarut buah (ºbriks) interval 1 hari 8,5 dan interval 2 hari 8,8; nilai kekerasan buah interval 1 hari 1,68 dan interval 2 hari 1,75; kadar vitamin C (mg/100g) buah interval 1 hari 16,06 dan interval 2 hari 19,14; kadar air buah (%) interval 1 hari 91,465 dan interval 2 hari 91,575
Verifikasi Kalender Tanam Terpadu dan Sumber Air Irigasi di Kabupaten Boyolali
AbstrakPeningkatan produktivitas padi tidak lepas lepas dari sarana pendukung serta kemampuan petani dalam menyelesaikan masalah seperti pemakaian varietas yang sesuai dengan spesifik lokasi, peningkatan kemampuan pengendalian hama dan penyakit serta penerapan inovasi teknologi untuk antisipasi perubahan iklim (kekeringan atau tergenang). Salah satu teknologi informasi tentang waktu tanam, varietas, luasan lahan sawah yang dapat ditanam serta varietas padi dan dosis pupuk setiap musim tanam adalah kalender tanam (KATAM). Salah satu kegiatan verifikasi KATAM terpadu dilaksanakan di Kabupaten Boyolali 2016. Metode yang dipakai adalah survey lapang (melihat kondisi lahan dan sumber air irigasi), pertemuan tingkat kecamatan yang melibatkan penyuluh lapang, petani kooperator dan pengurus P3A di 15 (lima belas) kecamatan. Data yang diverifikasi adalah data KATAM terpadu (waktu tanam, pola tanam, varietas, dosis pupuk, hama penyakit dan produktivitas) dan sumber daya air yang ada di sekitar lokasi atau lahan sawah. Data teknis untuk kegiatan verifikasi dianalisis dengan deskriptif dengan membandingkan antara data KATAM terpadu dengan data lapang. Verifikasi informasi KATAM ini tidak terpisah dengan sumber air irigasi yang setiap tahunnya mencukupi untuk wilayah yang terairi, untuk curah hujan pada tahun berjalan dalam kondisi cukup sampai dengan berlebih dibeberapa wilayah. Dengan tidak adanya masalah dalam sumber air irigasi, maka hasil verifikasi di 19 (sembilas belas) kecamatan adalah sebagai berikut : a) pola tanam setahun antara lain padi-padi-padi, padi-padi-palawija, padi-palawija-palawija dan padi-palawija-bero dan b) rata-rata awal tanam periode Oktober 2015 – September 2016 adalah bulan November (Katam di Oktober II-III untuk Boyolali bagian selatan sedangkan untuk wilayah Boyolali bagian utara adalah Nov III-Des I). Dari hasil kuisioner terhadap koordinator penyuluh lapang (19 kecamatan) ternyata jenis saluran irigasi sudah permanen 63,16% dan sederhana 36,84%, kondisi saluran cukup baik (68,42%), baik (15,79%) dan yang rusak 15,79%. Keberadaan air irigasi tiap tahunnya sudah mencukupi di 66,67% wilayah Kabupaten Boyolali dan sisanya (33,33%) masih kurang (Nogosari, Simo, Wonosegoro, Andong). Untuk curah hujan dirasa cukup untuk 78,57% wilayah dan 21,43% masih kurang (Nogosari, Andong). Pengaturan pengelolaan air disetiap wilayah yang menggunakan saluran irigasi terdapat Petugas P3A (Paguyuban Petani Pemakai Air) yang bertugas untuk membuat jadwal pembagian pengairan antar blok, terutama jika terjadi kelangkaan air seperti pada musim kemarau. Hasil kuisioner terhadap 15 penyuluh lapang yang kami wawancara ternyata di Boyolali, komoditas tanaman pangan yang paling banyak ditanam pada musim tanam I adalah padi sekitar 88 %, kemudian kedelai (6%) dan padi/horti (6%). Sedangkan waktu tanam awal rata-rata bulan Oktober dan waktu tanam akhir pada bulan November. Sedangkan pada musim tanam II, komoditas yang paling banyak ditanam adalah padi (83 %), padi/horti (6 %), padi/perkebunan (6 %) dan kedelai (5 %). Waktu tanam awal rata-rata bulan Februari dan berakhir pada bulan Mei. Sedangkan pada musim tanam III, komoditas yang paling banyak ditanam adalah padi (27 %), jagung (27 %), palawija (13 %), padi/tembakau (7 %), padi/palawija (7 %), palawija/bera (7 %), jagung/sayuran (6 %) dan padi/jagung/kacang tanah (6 %). Waktu tanam awal rata-rata bulan Juni dan berakhir pada bulan September. Varietas padi yang memungkinkan ditanam adalah Inpari 30. Varietas padi dominan yang ditanam petani adalah IR 64, Ciherang, Situ Bagendit, Mekongga dan Memberamo. Petani masih beranggapan bahwa varietas baru padi saat ini produktivitasnya masih sama dengan yang mereka biasa budidayakan tetapi belum teruji, sehingga mereka tetap menanam padi varietas tersebut
Karakteristik Morfologi dan Fisiologi Beberapa Isolat Bakteri Simbion Nematoda Entomopatogen
Pengembangan agensia hayati memegang peranan penting dalam konsep dasar Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah dengan penggunaan agensia hayati nematoda entomopatogen (NEP). Kelebihan yang dimiliki oleh NEP adalah adanya simbiosis dengan bakteri simbion yang mengeluarkan toksin sehingga mampu melumpuhkan inangnya dengan cepat. Hingga saat ini penggunaan bakteri simbion nematoda entomopatogen menjadi agensia hayati dirasa belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian menggunakan bakteri simbion secara terpisah dengan nematoda. Hal ini untuk mengetahui karakterstik morfologi dan fisiologi bakteri simbion sehingga dapat dikembangkan sebagai agensia pengendali hayati dalam konsep PHT. Identifikasi dilakukan dengan melihat karakteristik morfologi dan fisiologi bakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari empat isolat bakteri simbion terdapat tiga isolat bakteri yang menunjukkan karakteristik morfologi dan fisiologi dari bakteri Xenorhabdus sp. yaitu koloni cembung dapat meneruskan cahaya, bulat mengkilat, berlendir, serta tepi koloni rata, sedangkan satu isolat bakteri menunjukkan karakteristik morfologi dan fisiologi dari bakteri Bacillus sp. dengan koloni datar, sedikit berlendir dapat meneruskan cahaya, kesat dengan tepi koloni tidak rata. Keempat isolat bakteri memiliki pertumbuhan optimum pada kisaran pH 5-8 dengan kisaran suhu 25-
Kualitas Fisik Daging Kambing Jawarandu pada Bobot Potong dan Lokasi Otot yang Berbeda di RPH Bustaman Kota Semarang
Penelitian bertujuan untuk mengkaji karakteristik daging kambing Jawarandu yang dipotong pada berbagai tingkat bobot potong dan lokasi otot berbeda. Materi penelitian berupa 20 ekor kambing Jawarandu yang diambil secara incidental sampling di RPH Bustaman Kota Semarang. Sampel daging diambil dari 2 lokasi otot, yaitu Bicep femoris (BF) dan Longissimus dorsi (LD). Penelitian dilakukan dengan desain eksperimental tersarang (lokasi otot tersarang pada bobot potong). Ada 4 kelompok bobot potong (BP), yaitu BP 1 rata-rata 6,16 ± 0,21 kg (CV = 3,47%), BP 2 rata-rata 11,00 ± 0,30 kg (CV = 2,76%), BP 3 rata-rata 16,14 ± 0,16 kg (CV = 1,02%), dan BP 4 rata-rata 20,89 ± 0,33 kg (CV = 1,58%). Parameter yang diamati adalah pH, susut masak dan daya ikat air daging. Data dianalisis dengan sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan bobot potong dan lokasi otot tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap pH dan susut masak daging, rata-rata pH dan susut masak daging hasil penelitian adalah 5,94 dan 30,17%. Daya ikat air daging pada semua bobot potong tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan rata-rata sebesar 29,36%, sedangkan daya ikat air daging pada otot LD (30,80%) lebih besar (P<0,05) daripada otot BF (27,91%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perbedaan bobot potong dan lokasi otot tidak mempengaruhi pH dan susut masak daging. Perbedaan bobot potong juga tidak mempengaruhi daya ikat air daging, tetapi daging kambing Jawarandu pada otot LD memiliki daya ikat air yang lebih baik dari pada otot BF.
Kajian Kesuburan Tanah di Kabupaten Madiun
Tanah merupakan salah satu komponen dasar dalam meningkatkan produktivitas tanaman. Tanah dikatan subur apabila fase padat mengandung cukup unsur hara dan cukup air serta udara bagi pertumbuhan tanaman. Banyaknya unsur hara di dalam tanah tidak menjamin tanaman dapat tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi, tetapi tergantung juga dari hubungan air dan udara yang memungkinkan tanaman dapat mempergunakan unsur hara tersedia secara efisien. Hasil analisis laboratorium menggambarkan sebagai berikut; kabupaten madiun mempunyai tekstur liat, liat berdebu, lempung, lempung berdebu, lempung berliat. Status pH tanah adalah agam masam hingga netral. Nilai kapasitas tukar kation (KTK) cukup tinggi. Kandungan C-organik mayoritas rendah dan sangat rendah. Kandungan nitrogen total dalam tanah rendah. Kandungan fosfat bervareasi dari bernilai sedang, rendah dan sangat rendah. Kandungan kalium tergolong sangat rendah. Kandungan natrium rendah dan sedang. kandungan calsium bervareasi dari sedang, tinggi dan sangat tinggi. Kandungan magnesium bervareasi dari kandungan magnesium sangat rendah, Rendah, Sedang dan Tinggi. Hasil kajian kesuburan tanah kabupaten madiun harus melakukan sebagai berikut; Pengolahan tanah, pengolahan air dan perbaikan drainase. Menambahkan kapur pertanian (kaptan) atau dolomit. Penambahan pupuk yang mengandung Mg. Penambahan pupuk organik dan dikombinasikan dengan pupuk anorganik.Tanah merupakan salah satu komponen dasar dalam meningkatkan produktivitas tanaman. Tanah dikatan subur apabila fase padat mengandung cukup unsur hara dan cukup air serta udara bagi pertumbuhan tanaman. Banyaknya unsur hara di dalam tanah tidak menjamin tanaman dapat tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi, tetapi tergantung juga dari hubungan air dan udara yang memungkinkan tanaman dapat mempergunakan unsur hara tersedia secara efisien. Hasil analisis laboratorium menggambarkan sebagai berikut; kabupaten madiun mempunyai tekstur liat, liat berdebu, lempung, lempung berdebu, lempung berliat. Status pH tanah adalah agam masam hingga netral. Nilai kapasitas tukar kation (KTK) cukup tinggi. Kandungan C-organik mayoritas rendah dan sangat rendah. Kandungan nitrogen total dalam tanah rendah. Kandungan fosfat bervareasi dari bernilai sedang, rendah dan sangat rendah. Kandungan kalium tergolong sangat rendah. Kandungan natrium rendah dan sedang. kandungan calsium bervareasi dari sedang, tinggi dan sangat tinggi. Kandungan magnesium bervareasi dari kandungan magnesium sangat rendah, Rendah, Sedang dan Tinggi. Hasil kajian kesuburan tanah kabupaten madiun harus melakukan sebagai berikut; Pengolahan tanah, pengolahan air dan perbaikan drainase. Menambahkan kapur pertanian (kaptan) atau dolomit. Penambahan pupuk yang mengandung Mg. Penambahan pupuk organik dan dikombinasikan dengan pupuk anorganik