Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
Pengendalian OPT Ramah Lingkungan pada Brokoli Mendukung Good Agricultural Practices : Review
Brokoli memiliki kandungan nutrisi tinggi dan dimanfaatkan bunganya untuk sayur dalam kondisi mentah maupun matang. Bunga brokoli untuk sampai ke tangan konsumen harus memiliki kualitas baik. Bunga brokoli yang berkualitas dapat diperoleh salah satunya dengan teknik pengendalian hama dan penyakit yang baik selama budidaya. Pengendalian hama penyakit harus dilakukan secara efektif dan efisien serta diusahakan tidak merugikan lingkungan. Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) ramah lingkungan berupaya memanfaatkan mikroorganisme hayati melalui proses-proses alami. Konsep pengelolaan hama terpadu (PHT) mempertimbangkan ekosistem, stabilitas, dan kesinambungan produksi sesuai tuntutan praktik pertanian yang baik. Praktek kultur teknis terbukti efektif menekan hama dan mampu diterima luas dalam implementasi teknologi PHT. Oleh karena itu, praktik kultur teknis tanaman brokoli dilakukan berdasarkan kondisi lingkungan. Konsep PHT lebih banyak memanfaatkan bahan dan metode hayati, antara lain penggunaan tanaman refugia, penyemprotan pestisida nabati dan Beauveria bassiana, dan aplikasi PGPR. Budidaya brokoli secara organik akan melindungi ekosistem dari kerusakan sehingga tercipta sistem pertanian yang berkelanjutan. Sistem ini menjadi tujuan jangka panjang PHT dengan sasaran pencapaian produksi tinggi, produk berkualitas, peningkatan sumber daya lingkungan, pembangunan perekonomian desa, dan kehidupan yang lebih baik bagi komunitas pertanian pada umumnya
Peran dan Strategi Bidang Pertanian dalam Ketahanan Pangan pada Masa New Normal Pandemi Covid-19
Kajian Perbandingan Penggunaan Pemanenan Air Hujan untuk Budidaya Tomat dengan Menggunakan Media Tanam Kompos Arang Sekam dan Kompos Cocopeat Selama Pandemi Covid-19
Keterbatasan ketersediaan air atau biasa disebut dengan kelangkaan air disebabkan oleh penggunaan air yang terus meningkat baik dari sektor pertanian, indusri, rumah tangga serta perubahan iklim global. Salah satu cara menghadapi terbatasnya ketersedian air adalah dengan cara pemanenan air hujan secara optimal. Jika air limpasan ini ditampung pada suatu penampungan, maka air tersebut bisa dimanfaatkan untuk air irigasi. Tomat adalah sumber vitamin dan mineral. Budidaya tomat semakin lama semakin luas karena dikonsumsi sebagai tomat segar dan bumbu masakan serta bahan baku industri makanan seperti sari buah dan saus tomat. Tomat menjadi salah satu komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi dan masih memerlukan penanganan lebih, terutama dalam hal peningkatan hasilnya dan kualitas buahnya. Pengelolaan produksi tomat yang berfluktuatif ini dapat ditingkatkan menggunakan sistem hidroponik.Tujuan dari penelitian kali ini adalah mengetahui jumlah konsumsi air tanaman dengan media yang berbeda, kualitas air hujan Jatinangor, dan jumlah air yang dapat ditampung dalam waktu tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah analisis deskriptif. Metode ini mengumpulkan data lalu dianalisis berdasarkan literatur yang tersedia. Hasil penelitian menunjukkan jumlah pemanenan air hujan selama bulan Januari sampai dengan Maret adalah 16.827, 7 L. Parameter kualitas air hujan yang digunakan adalah pH, TSS, TDS, DHL, EC, dan kekeruhan. Kualitas air hujan Jatinangor termasuk dalam kategori baku mutu air kelas empat sehingga bisa digunakan untuk kebutuhan irigasi. Jumlah konsumsi air tanaman tomat dengan media tanam campuran kompos cocopeat dan kompos arang sekam menunjukkan jumlah konsumsi yang berbeda. Faktor yang membedakan jumlah konsumsi air campuran media tanam yang berbeda adalah kadar C/N, kemampuan menyerap air, dan sirkulasi air. Konsumsi air yang dibutuhkan selama musim penanaman tomat dengan dua media tanam yang berbeda dapat dicukupi dengan pemanenan air hujan yang dilakukan. Penelitian ini dilakukan saat pandemi Covid-19 menyebar sehingga data terkumpul sampai dengan 78 hari setelah tanam
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Petani Dalam Budidaya Bawang Putih Pasca Tanaman Tembakau Di Kecamatan Kledung Kabupaten Temanggung
Komoditas bawang putih merupakan salah satu komoditas yang memiliki peranan penting dalam pembangunan pertanian. Kebutuhan bawang putih semakin meningkat setiap tahunnya, namun produksi bawang putih di Indonesia belum mampu mencukupi kebutuhan nasional. Hal ini terjadi karena penggunaan lahan belum optimal sesuai target kementerian pertanian untuk swasembada bawang. Artinya tidak semua petani bersedia membudidayakan bawang putih pasca tembakau, untuk itu perlu dikaji tentang faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi petani dalam membudidayakan bawang putih pasca tembakau terurtama di daerah-daerah yang berpotensi menghasilkan produksi yang tinggi salah satunya di Kecamatan Kledung. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor pembentuk persepsi petani dalam budidaya bawang putih pasca tanaman tembakau dan mengkaji pengaruh antara faktor-faktor pembentuk persepsi dengan persepsi petani dalam budidaya bawang putih pasca tanaman tembakau. Metode dasar penelitian ini adalah kuantitatif. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan dengan cara purposive di Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung. Pengambilan sampel dengan metode stratified sampling. Jumlah sampel 60 responden. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Analisis data yang digunakan adalah distribusi frekuensi dan Regresi Logistik. Faktor-faktor pembentuk persepsi petani penelitian ini meliputi pengalaman, pendidikan non formal, motivasi, intensitas stimuli, dan lingkungan sosial. Hasil penelitian menunjukkan persepsi petani dalam kategori baik. Berdasarkan hasil analisis Regresi Logistik secara parsial variabel pendidikan non formal, motivasi, intensitas stimuli, dan lingkungan sosial berpengaruh signifikan terhadap persepsi petani dalam budidaya bawang putih pasca tanaman tembakau, sedangkan variabel pengalaman tidak berpengaruh signifikan terhadap persepsi petani dalam budidaya bawang putih pasca tanaman tembakau
Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kangkung Darat (Ipomea reptans Poir.) pada Berbagai Konsentrasi Pupuk Nitrogen Secara Fertigasi di Lahan Pasir Pantai
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menentukan fertigasi yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kangkung darat di lahan pasir pantai, 2) menentukan konsentrasi larutan pupuk nitrogen yang dapat memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kangkung di lahan pasir pantai, 3) menentukan interaksi antara system irigasi dan interval pemupukan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kangkung darat di lahan pasir pantai. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Juli 2019 di lahan pasir pantai Desa Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor dan 5 ulangan. Faktor pertama yaitu Fertigasi yang terdiri dari 2 taraf yaitu Manual dan Otomatis. Faktor kedua yaitu Konsentrasi pupuk Nitrogen terdiri dari 3 taraf yaitu 1 g N/l, 5 g N/l dan 10 g N/l. Data dianalisis menggunakan uji F, apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan DMRT 5%. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, luas daun, panjang akar, jumlah akar, jumlah cabang, bukaan stomata, kadar kehijauan daun, bobot akar segar, bobot akar kering, bobot tanaman kering, bobot daun kering, bobot batang kering , bobot tanaman segar, bobot daun segar, bobot batang segar, dan hasil tanaman segar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi fertigasi dengan cara manual (gembor) memberikan pengaruh terbaik terhadap variabel kehijauan warna daun kangkung darat dengan nilai 29,75. Perlakuan sistem fertigasi menghasilkan tanaman segar sebesar 18,17 t/ha. Konsentrasi pupuk 1g N/l memberikan pengaruh terbaik terhadap variabel kehijauan warna daun kangkung darat dengan nilai 30,51.Perlakuan konsentrasi pupuk N menghasilkan tanaman segar sebesar 18,17 t/ha. Interaksi antara cara manual konsentrasi pupuk N 5gN/l memberikan pengaruh terbaik terhadap aplikasi fertigasi sprinkle konsentrasi pupuk 5 g N/l variabel kehijauan warna daun bagi pertumbuhan dan hasil tanaman kangkung darat dengan nilai 29,14. Interaksi fertigasi dan konsentrasi menghasilkan tanaman segar sebesar 18,17 t/ha
Pengujian Bibit Jambu Mete Metode Grafting untuk Mendapatkan Tajuk Terbatas
Penyambungan tanaman jambu mete untuk penyediaan bibit dan peremajaan mempunyai peran penting untuk meningkatkan produktivitas dan pengembangan areal penanaman. Banyaknya varietas yang ada diperlukan uji yang menghasilkan bibit dengan pertumbuhan cepat. Tujuan penelitian ini untuk menguji penyambungan (grafting) antara batang bawah pohon induk terpilih dengan batang atas varietas berbuah merah, orange, kuning dan hijau secara cleft graft maupun top cleft graft. Penelitian ini bersifat ekperimen, dimana batang bawah (understamp) berasal dari benih yang disemai umur 6 bulan dan tunas pucuk (entres) dari pohon umur 30 tahun. Entres diperoleh dari pohon induk terpilih yang berwarna merah, orange, kuning dan hijau umur 20-30 tahun. Entres diambil dari cabang plagiotrop dorman. Setelah penyambungan dilakukan penyungkupan secara individu dan kelompok. Pembukaan sungkup 30 hari setelah penyambungan. Variabel pengamatan untuk menjawab tujuan meliputi keberhasilan penyambungan, waktu pembentukan tunas, panjang tunas, jumlah daun dan luas daun. Data pengamatan dianalisa secara statistik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa keberhasilan penyambungan, waktu pembentukan tunas dan panjang tunas, jumlah dan lebar daun pada top cleft grafting lebih baik dibanding cleft grafting, sedangkan entres yang berasal dari pohon induk buah berwarna merah mempunyai pertumbuhan lebih cepat dibanding orange, kuning dan hijau
Efektivitas Paclobutrazol dan Perbedaan Penyimpanan Benih terhadap Pertumbuhan Tunas Jahe Merah (Zingiber officinale var. Rubrum)
Rimpang benih jahe merah mudah bertunas apabila disimpan lama dalam kondisi ruang penyimpanan yang kurang ideal. Percobaan dilakukan untuk mengetahui perlakuan yang dapat mempertahankan dormansi jahe merah selama masa simpan dengan aplikasi paclobutrazol (PBZ) dan perbedaan kondisi penyimpanan. Percobaan penyimpanan dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian UNS dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Percobaan disusun secara faktorial terdiri atas 2 faktor, faktor pertama yaitu konsentrasi PBZ (tanpa /0 ppm, 500 ppm, 1000 ppm), faktor kedua yaitu penyimpanan (suhu ruang, suhu dingin, kering angin), dari kedua faktor diperoleh 9 kombinasi perlakuan dan setiap perlakuan diulang 3 kali. Hasil percobaan menunjukkan interaksi antar perlakuan tidak berpengaruh nyata pada semua variabel pengamatan. Perlakuan PBZ 500 ppm dan penyimpanan suhu dingin mampu memperlambat pertumbuhan tunas. Perlakuan tanpa PBZ menghasilkan tinggi tanaman, jumlah daun, akar, anakan, dan berat rimpang yang lebih tinggi dibanding konsentrasi lain. Penyimpanan suhu ruang menghasilkan jumlah akar, anakan dan berat rimpang yang lebih tinggi dari penyimpanan lain
Peran Penyuluh Pertanian Swadaya Dalam Mendukung Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Akibat Perkembangan Kawasan Solo Baru Di Kabupaten Sukoharjo
Pembangunan Kawasan Solo Baru dan Kartasura memberikan daya dukung bagi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sukoharjo dan Kota Solo. Konsep Kawasan Solo Baru dan Kartasura sebagai kota satelit mandiri dengan konsep permukiman yang didukung oleh ketersediaan fasilitas penunjang akan berimbas pada perubahan pemanfaatan lahan. Perubahan pemanfaatan lahan memberikan dampak pada sektor pertanian. Keberadaan sektor pertanian sebagai penyedia lumbung pangan nasional di Kabupaten Sukoharjo semakin terancam karena lahan pertanian berubah fungsi menjadi kawasan industri non pertanian. Pemberdayaan petani menjadi perhatian penting untuk menghadapi kondisi perubahan ini. Pelibatan petani sebagai penyuluh pertanian swadaya merupakan alternatif solusi pemberdayaan petani. Alternatif solusi ini sesuai UU Nomor 16 Tahun 2006 Tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran penyuluh pertanian swadaya dalam mendukung perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan akibat perkembangan Kawasan Solo Baru di Kabupaten Sukoharjo. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, Focus grup discussion (FGD), dan dokumentasi. Penyuluh Pertanian Swadaya memiliki 3 peran. Pertama, distribusi informasi program pemerintah kepada anggota kelompok tani setiap kecamatan. Kedua, penguatan posisi tawar petani kepada pemerintah dan swasta. Ketiga, pengorganisasian kelompok tani melalui pengelolaan Lembaga Keuangan Mikro; fasilitator usaha tani; serta pelaksanaan kegiatan kunjungan antar kelompok tani.
Pengaruh Ekstrak Daun Surian (Toona sureni) terhadap Mortalitas Ulat Daun Ungu (Doleschallia bisaltide)
Penggunaan insektisida nabati daun surian (Toona sureni) merupakan salah satu cara pengendalian hama ulat daun ungu Doleschallia bisaltide yang menyebabkan penurunan hasil panen daun ungu dengan luas serangan sampai 56,9%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak surian yang tepat untuk menekan serangan ulat daun ungu. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan, terdiri dari : P0 (kontrol), P1 (konsentrasi ekstrak surian 0,5%), P2 (konsentrasi ekstrak surian 1,0%), P3 (konsentrasi ekstrak surian 1,5%), P4 (konsentrasi ekstrak surian 2,0%), dan P5 (konsentrasi ekstrak surian 2,5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian insektisida nabati ekstrak daun surian 2,5% efektif dengan nilai LC50 yaitu 4,539 mg/L dengan waktu LT50 5,6 hari