Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
Identifikasi Kesuburan Tanah Sawah Di Desa Lo’a Kecamatan So’a Kabupaten Ngada
Tanah sawah di Desa Lo’a diolah secara intensif dengan pemupukan anorganik yang tinggi, selain itu sawah-sawah ini juga menggunakan pestisida dengan dosis yang tinggi.hal tersebut berpengaruh pada tingkat kesuburan tanahnya. Karena itu penelitian survey ini telah dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sifat kimia dan tingkat kesuburan tanah sawah. Penentuan sampel tanah menggunakan metode Purposive Sampling, dengan kriteria yaitu lahan sawah di Desa Lo’a yang membudidayakan padi Varietas Ciherang, diolah tanpa ada masa bera, tidak menggunakan pupuk organik serta menggunakan pestisida Moluskisida.Variabel kimia yang diamati adalah pH tanah, C-organik, N-total, P-tersedia, K-tersedia, Kapasitas Tukar Kation dan Kejenuhan Basa. Hasil penelitian menunjukan bahwa kriteria kimia tanah yang ada pada sawah Desa Lo’a yaitu pH tanah termasuk kategori agak masam dan masam, C-oragnik tergolong sedang, N-total tergolong sangat rendah, P-tersedia tergolong sedang, K-tersedia tergolong sangat rendah, KTK tergolong tinggi dan sangat tinggi, Kejenuhan Basa tergolong tinggi dan sangat tinggi. Sedangkan kriteria kesuburan tanah pada sawah Desa Lo’a yaitu tergolong sedang dengan faktor pembatas yaitu C-Organik
Tumbuhan Indonesia Potensial Sebagai Insektisida Nabati untuk Mengendalikan Hama Kutu Daun (Aphis gossypli) dan (Myzus pesicae) pada Tanaman Cabai Merah
Cabai merah merupakan salah satu komoditas pertanian penting dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Penelitian ini berupa studi pustaka yang diperoleh dari beberapa sumber yaitu Perpustakaan Badan Penelitian dan Pengembangan, jurnal-jurnal di bidang pertanian, entomologi, dan teknologi pertanian serta sumber dari e-journal dan majalah ilmiah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui informasi terkait kerugian yang disebabkan hama kutu daun, potensi tumbuhan sebagai sumber insektisida nabati, mekanisme kerja insektisida nabati, perkembangan penelitian insektisida nabati terhadap kutu daun pada cabai merah, kendala dan strategi pengembangan pestisida nabati. Kerugian akibat serangan kutu daun mencapai 40 % pada musim kemarau, 10-30% selain musim kemarau, dan sebagai vektor menyebabkan kerugian sebesar 90%. Mekanisme kerja bahan nabati dikelompokkan dalam tiga kategori yakni, bahan alami dengan kandungan senyawa bersifat antifitopatogenik (antibiotika pertanian), senyawa bersifat fitotoksik atau mengatur tumbuh tanaman (fitotoksin, hormon tanaman dan sejenisnya) dan senyawa bersifat aktif terhadap serangga (hormon serangga, feromon, antifidan, repelen, atraktan dan insektisida). Tumbuhan yang digunakan untuk pengendalian kutu daun pada cabai merah yaitu: bawang putih, tembakau, kunyit, mimba, pepaya, jarak, brotowali, sirsak, dan cabai merah. Perlu dilakukan sosialisasi baik melalui penyuluhan maupun pelatihan dan demplot sebagai upaya untuk menyebarkan informasi tentang potensi suatu bahan ekstrak tumbuhan sebagai pestisida nabati
Tradisi Panen Raya Guna Menunjang Branding Beras Organik di Desa Gentungan, Kabupaten Karanganyar
Desa Gentungan merupakan salah satu desa di Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar. Desa Gentungan memiliki potensi pertanian organik yang sangat besar. Desa Gentungan memiliki lahan pertanian organik 22 ha yang dikelola oleh Kelompok Tani Mulyo 1 yang beranggotakan 80 orang. Areal pertanaman padi organik telah memiliki sertifikasi organik sejak tahun 2010. Areal pertanaman padi organik dilengkapi dengan berbagai gazebo dan Wisata Pertanian Embung Setumpeng. Faktor pendukung lainnya yang sangat kuat yaitu modal sosial anggota Kelompok Tani Mulyo 1 yang senang gotong royong dan melestarikan tradisi lokal pertanian. Tradisi panen raya menjadi salah satu kearifan lokal Desa Gentungan. Tradisi panen raya akan menunjang branding pertanian organik Desa Gentungan. Kegiatan panen raya yang dilakukan meliputi pertunjukan reog, kirab gunungan tumpeng, pertunjukan wayang kisah pertanian organik, methik padi, dan kirab Mbok Sri kembali. Rangkaian panen raya dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi menggunakan metode participatory rural appraisal yang melibatkan seluruh anggota Kelompok Tani Mulyo 1 dari perencanaan hingga evaluasi kegiatan. Panen raya ini bertujuan untuk meningkatkan branding beras organik Desa Gentungan dan meningkatkan daya tarik wisata pertanian Desa Gentungan. Hasil dari kegiatan ini yaitu peningkatan branding beras organik Desa Gentungan ke area Solo Raya melalui penawaran dalam kegiatan pameran UMKM dan pemasaran digital serta terjadi peningkatan pengunjung di Wisata Pertanian Embung Setumpeng menjadi 40 rombongan setiap pekannya
Penerapan Teknologi Pertanian Tepat Guna Mendukung Ketahanan Pangan/Masyarakat di Era New Normal
Penerapan Teknologi Pertanian Tepat Guna Mendukung Ketahanan
Pangan/Masyarakat di Era New Norma
Efektifitas Pupuk Organik Kotoran Sapi terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Buncis Tegak
Pengusahaan tanaman sayuran di daerah dataran tinggi sangat intensif pada saat ini. Penggunaan pupuk kimia yang berlebih dan tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konservasi dapat menyebabkan degradasi lahan. Salah satu alternatif pemecahan masalah untuk mengurangi degradasi lahan dan pengaruh negatif akibat penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang berlebih adalah penggunaan pupuk organik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efikasi pupuk organik asal kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis tegak. Varietas yang digunakan adalah Balitsa 2 milik Badan Litbang Pertanian. Penelitian dilaksanakan di IP2TP Margahayu-Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang-Jawa Barat, pada bulan Agustus hingga Desember 2020. Metode penelitian yang digunakan adalah RAK dengan 10 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan meliputi: (A) kontrol negatif (tanpa pupuk); (B) kontrol positif (dosis NPK standar); (C) ¾ NPK standar; (D) ¾ NPK standar+½ pupuk organik (PO) kotoran sapi; (E) ¾ NPK standar+1 PO kotoran sapi; (F) ¾ NPK standar+1½ PO kotoran sapi; (G) NPK standar+1 PO kotoran sapi; (H) 1 PO kotoran sapi; (I) NPK standar+pupuk kandang ayam; (J) pupuk kandang ayam. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, lebar kanopi, dan bobot polong buncis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk organik kotoran sapi yang dikombinasikan dengan pupuk NPK mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman dan lebar kanopi tanaman buncis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk organik kotoran sapi mampu meningkatkan hasil produksi berupa bobot segar buncis sebesar 9-29%, sekaligus mengefisienkan penggunaan pupuk NPK sebesar 25%. Peningkatan hasil produksi tertinggi dicapai oleh penambahan pupuk organik kotoran sapi sebanyak 8 ton/ha yang dikombinasikan dengan penggunaaan pupuk NPK sebanyak 300 kg/ha
Pelatihan Pembuatan Mikroorganisme Lokal (MOL) Berbasis Limbah Rumah Tangga sebagai Alternatif Penggunaan Pupuk Organik di Desa Uteunkot Cunda Lhokseumawe
Sampah merupakan limbah yang berasal dari sisa kegiatan sehari-hari manusia yang berbentuk padat dan cair. Salah satu sampah yang berbentuk padat adalah sampah dari sisa-sisa kulit buah-buahan dan sayur-sayuran yang dibuang ke tempat sampah, karena tidak digunakan dan diinginkan lagi oleh manusia. Salah satu manfaat yang dapat dilakukan untuk mengelola sampah berupa sisa kulit buah-buahan, sayuran dan bahan organik lainnya adalah dapat dibuat sebagai Mikroorganisme Lokal (MOL). Disekitar kita banyak bahan-bahan yang dapat dibuat untuk MOL. Berdasarkan pengamatan di lapangan, masyarakat di Desa Uteukot sudah mengelola sampah dengan baik seperti pemisahan sampah organik dan anorganik. Namun untuk pemanfaatan limbah rumah tangga sebagai pupuk organik cair belum dilakukan. Solusi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan melakukan pembuatan pupuk organik cair yang bisa dijadikan sebagai penambah ketrampilan masyarakat dengan memanfaatkan bahan organik yang ada disekitarnya. Pelatihan bagi masyarakat di Desa Uteukot cunda Lhokseumawe untuk membuat Mikroorganisme Lokal (MOL) sebagai alternatif dalam pembuatan pupuk organik cair ini dengan harapan dapat menambah pengetahuan dan ketrampilam serta sumber pendapatan bagi masyarakat. Berdasarkan pengabdian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa kegiatan pelatihan pembuatan POC di Desa Uteunkot cunda Lhokseumawe mendapat respon positif bagi masyarakat dan dapat menambah pengetahuan terhadap pemanfaatan limbah rumah tangga sebagai solusi pengelolaan sampah organic hasil dari sampah rumah tangga yang mempunyai banyak manfaat salah satunya untuk meningkatkan produksi pangan sehari-hari di Desa Uteunkot. Selain itu juga pengabdian ini membawa manfaat yang berkesinambungan bagi masyarakat, serta untuk memajukan Desa Uteunkot dalam kemandirian pangan
Penyuluhan Instalasi Komposter Ember Tumpuk sebagai Media Pengolahan Sampah Organik di Desa Cinanjung dalam Rangka Menghadapi Masa Pandemi COVID-19
Limbah sampah organik perlu penanganan sistematik agar dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin. Pengelolaan sampah organik khususnya setingkat desa masih perlu dibina kembali agar mampu memasok kebutuhan pupuk organik cair. Desa Cinanjung yang terletak di Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat memiliki potensi wisata yang cukup tinggi, yang dapat menarik minat perusahaan swasta untuk mengembangkan desa agrowisata berbasis agribisnis berwawasan ramah lingkungan. Tujuan penyuluhan adalah memberi edukasi tentang instalasi komposter ember tumpuk untuk pengolahan limbah organik menjadi pupuk organik cair (POC). Penyuluhan dilaksanakan pada bulan Agustus 2021 hingga September 2021. Metode pengumpulan data menggunakan Metode Random Sampling dengan teknik analisis penskalaan Likert. Terdapat lima indikator penilaian tingkat pemahaman terhadap materi penyuluhan yang telah disajikan, yakni Sangat Mudah dengan skor 5, Mudah dengan skor 4, Lumayan dengan skor 3, Sulit dengan skor 2, dan Sangat Sulit dengan skor 1. Hasilnya, dari 10 responden 1 orang menjawab Sangat Sulit, 4 orang menjawab Lumayan, 4 orang menjawab Mudah, dan 1 orang menjawab Sangat Mudah
Pembudidayaan Lele Hemat Air dengan Sistem Bioflok Pada Kolam Terpal, di Kelompok Tani Pucangwolu-Giriwono, Kabupaten Wonogiri
Kegiatan pengabdian masyarakat melalui KKN ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan warga di Pucangwolu, Kelurahan Giriwono, Kabupaten Wonogiri dalam
pembudidayaan lele dengan sistem bioflok dengan kolam terpal. Keterbatasn lahan dan air
irigasi merupakan permasalahan yang dihadapi petani di lokasi kegiatan, terutama pada musim
kemarau. Salah satu pilihan agar petani mendapatkan sumber protein serta kesempatan
memperoleh pendapatan tambahan adalah membudidayakan lele. Adanya keterbatasan lahan
dan air di lingkungan Pucangwolu, maka pemeliharaan lele yang dilakukan pada kolam/bak
kecil dari terpal dengan sistem bioflok adalah pilihan yang tepat. Program ini dilakukan dengan
metode pelatihan dan percontohan. Pelatihan meliputi cara budidaya lele dengan sistem
bioflok, sedangkan percontohan dilakukan dengan pembuatan bak pemeliharaan dari terpal
ukuran 1,5 × 1 m. Tiga puluh buah kolam kecil terpal, dipasang pada lima anggota kelompok
tani. Sumberdaya probiotik menggunakan limbah organik rumah tangga dan mikroba efektif
yang ada di pasaran. Pemeliharaan lele sistem bioflok pada kolam terpal ini juga dikombinasi
dengan sayuran akuaponik. Program ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan masyarakat dalam membudidayakan lele dengan sistim bioflok yang hemat lahan
dan air. Pada kolam bioflok juga ditanam sayuran kangkung dengan sistem akuaponik. Melalui
kegiatan ini, masyarakat telah memiliki kesempatan untuk mendapatkan sumber pangan
alternatif dan juga ada harapan tambahan pendapatan baru di sela-sela pekerjaan pokok sebagai
petani atau pekerjaan lainny
Penyuluhan Budidaya Tanaman Porang pada Kelompok Tani Abdi Tani Desa Sungai Itik Kakap Kalimantan Barat
Pengabdian kepada masyarakat (PKM) melalui penyuluhan budidaya tanaman porang telah
dilaksanakan oleh Tim Dosen Agroteknologi Fakultas Pertanian UNTAN di Desa Sungai Itik
Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat sejak Mei hingga Desember 2021. Mitra dari kegiatan
ini adalah kelompok tani Abdi Tani yang mayoritas anggotanya adalah petani padi. Tujuan
dilakukan kegiatan penyuluhan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan, sebagai alternatif pertanian selain tanaman padi, agar petani dapat memperbaiki
atau meningkatkan kesejahteraannya melalui budidaya tanaman porang yang memiliki harga
jual ekonomis yang tinggi. Metode pelaksanaan PKM meliputi orientasi dan sosialisasi;
memberikan penyuluhan tentang budidaya tanaman porang dan menghitung analisis usaha tani;
penyerahan bahan tanam porang yang berupa biji spora, katak/bulbil, dan bibit, yang
selanjutnya bahan tanam tersebut langsung ditanam oleh kelompok tani mitra; serta pada akhir
kegiatan dilakukan evaluasi terhadap program yang telah dilakukan. Hasil kuisioner sebagai
bentuk evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa peserta yang setelah mengikuti penyuluhan agak
memahami materi sebanyak 5%, paham 85%, sangat paham 10%, dan tidak ada yang kurang
paham atau tidak paham. Dari khalayak sasaran peserta penyuluhan menunjukkan bahawa 20%
peserta menjawab akan berlanjut, 80% menyatakan niat untuk mencoba, dan tidak ada yang
mempunyai keinginan tidak melanjutkan kegiatan ini. Masyarakat tani di kelompok tani Abdi
Tani kini telah mulai menanam tanaman porang dengan harapan dikemudian hari dapat
merasakan manfaatnya dari apa yang mereka usahakan
Penerapan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) pada Produksi Bumbu Bubuk Instan “Meurasa” Masakan Khas Aceh
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) saat ini dituntut oleh pemerintah dan pelanggan
untuk menunjukkan bahwa mereka mampu menerapkan sistem yang efektif untuk memenuhi
persyaratan GHP (Good Handling Practices) dan HACCP (Hazard Analisis Critical Control
Point) yang merupakan dasar untuk keamanan pangan. Industri makanan bertanggung jawab
untuk menerapkan HACCP. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk menerapkan HACCP
pada proses produksi bumbu bubuk instan “Meurasa” masakan khas Aceh. Adapun kegiatan
yang dilakukan meliputi observasi secara langsung dan wawancara kepada pemilik usaha dan
pekerjanya, serta melakukan identifikasi dan analisis bahaya meliputi potensi bahaya fisik,
kimia dan biologi pada bahan baku, kemasan dan proses produksi. Kegiatan ini menghasilkan
temuan bahwa terdapat 3 jenis potensi bahaya yang ditinjau dari segi fisik, kimia dan biologi
terhadap aspek produksi pada pembuatan bumbu bubuk instan yaitu ada 5 tahap proses
produksi yang dianggap sebagai Critical Control Point (CCP) di antaranya proses penerimaan
bahan baku, pencucian, pemasakan, pengeringan (pengovenan), dan pengemasan