Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
Bakteri Endofit sebagai Induktor Kesehatan dan Pertumbuhan Tanaman Cabai di Ringinsari-Kandat-Kediri
Cabai (Capsicum annum), di Indonesia merupakan salah satu komoditas sayuran semusim
dengan produksi yang tinggi dan sampai dengan tahun 2018 produksi cabai Indonesia
mengalami surplus. Salah satu sentra produksi cabai di Indonesia adalah Jawa Timur
khususnya Kabupaten Kediri yang memberikan kontribusi peningkatan produksi cabai sebesar
35-45 ton pada tahun 2017-2018, tetapi peningkatan produksi tersebut sangat dipengaruhi oleh
gangguan adanya hama tanaman. (OPT), terutama kelompok patogen yaitu cendawan
(Fusarium oxysporum) dan bakteri (Ralstonia solanacearum), keduanya menyebabkan
penyakit layu dan dapat menurunkan produksi hingga 75% atau menyebabkan tanaman mati.
Pengendalian di lapangan umumnya menggunakan metode kimia yang berdampak negatif
terhadap manusia dan lingkungan. Metode ini belum memberikan hasil yang memuaskan.
Berdasarkan kenyataan di lapangan, perlu aplikasi teknik alternatif untuk meningkatkan
kesehatan tanaman cabai terhadap kedua patogen tersebut dan meningkatkan pertumbuhannya
dengan menggunakan bakteri endofit. Bakteri endofit menghasilkan metabolit sekunder yang
dapat digunakan untuk menginduksi kesehatan dan meningkatkan pertumbuhan tanaman.
Aplikasi bakteri endofit berupa pupuk organik yang diformulasikan. Tahapan kegiatan yang
digunakan dalam pengabdian masyarakat di Desa Ringinsari-Kecamatan Kandat-Kabupaten
Kediri ini adalah analisis situasi, identifikasi masalah, sosialisasi program, dan implementasi
program yaitu aplikasi bakteri endofit dalam formula pupuk organik. Hasil yang diperoleh
adalah masyarakat Desa Ringinsari-Kecamatan Kandat-Kabupaten Kediri mampu
mengaplikasikan formula bakteri endofit dalam pupuk organik dan hasil aplikasi tanaman cabai
menjadi sehat. Aplikasi bakteri endofit meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman meliputi
tinggi tanaman (rata-rata 10-47 cm), jumlah daun (rata-rata 2-57 daun), jumlah bunga (10-40)
per tanaman, dan jumlah buah (rata-rata 5-50) per tanaman
Pengaruh beberapa Dosis Pupuk An-Organik Majemuk NPK 22-6-10 terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kacang Tanah Varietas Talam-1
Pengaruh Beberapa Dosis Pupuk An-Organik Majemuk NPK 22-6-10 terhadap Pertumbuhan dan hasil Kacang Tanah Varietas Talam-1, dilakukan di kebun milik petani di desa Pasar VI Kecamatan Sei Bingei Kabupaten Langkat pada bulan Desember 2017 - Maret 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis maksimum pupuk majemuk an-organik NPK 22-6-10 dalam meningkatkan pertumbuhan dan kualitas polong kacang tanah Varietas Talam-2. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok non Faktorial (non factorial randomized complete block design) yang terdiri dari 3 (tiga) ulangan. Pupuk An-Organik NPK 22-6-10 yang diuji terdiri dari 8 taraf yaitu: Tanpa diberi pupuk (B0), Rekomendasi pemupukan setempat (cara petani) (Urea 200 kg/ha, SP-36 150 kg/ha dan KCl 150 kg/ha) (B1), Pupuk uji 100 kg/h + 1/2 rekomendasi pemupukan (B2), Pupuk uji 150 kg/h + ½ rekomendasi pemupukan (B3), Pupuk uji 200 kg/h + 1/2 rekomendasi pemupukan (B4), Pupuk uji 250 kg/h + ½ rekomendasi pemupukan (B5), Pupuk uji 300 kg/h + ½ rekomendasi pemupukan (B6), Pupuk uji 350 kg/h + ½ rekomendasi pemupukan (B7). Perlakuan kontrol menggunakan pupuk dasar Urea, SP-36 dan KCl dengan dosis sesuai kebiasaan petani. Pupuk urea diberikan 2 kali yaitu pada saat 7 HST dan 30 HST, sedangkan untuk pupuk SP-36 dan KCl diberikan pada umur 7 HST di lapangan. Hasil pengujian di lapangan menunjukkan bahwa yang menggunakan Pupuk An-Organik majemuk NPK 22:6:10 menunjukkan hampir seluruh peubah memiliki nilai tertinggi dibanding dengan perlakuan kontrol (kebiasaan petani). Hasil analisis secara statistik yang diperoleh dari lapangan adalah sebagai berikut: Pada perlakuan NPK B0 panjang tanaman maksimum terendah (63 cm) dan tertinggi terdapat pada NPK B5 (74 cm), Jumlah tunas terendah NPK B0 (4 Helai) dan tertinggi NPK B7 (7 Helai). Jumlah polong besar terendah terdapat pada perlakuan NPK B0 (13 polong) dan tertinggi terdapat pada perlakuan NPK B7 (29 polong). Berat segar polong per tanaman terendah NPK B0 (19.95 g) dan tertinggi pada perlakuan NPK B7 (47.39 g), berat polong kering perplot terendah terdapat pada perlakuan NPK B0 (572.75 g) dan tertinggi pada perlakuan NPK B7 (1859.91 g). Pada pengamatan hasil per hektar produksi kering polong kacang tanah terendah terdapat pada perlakuan NPK B0. (477.30 kg/ha) dan tertinggi terdapat pada perlakuan NPK B5, NPK B6 dan NPK B7. Nilai masing-masing perlakuan adalah: 1146.12 kg/ha, 1244.58 kg/ha, 1549.92 kg/ha. Berdasarkan hasil analisa ekonomi, diketahui perlakuan NPK (22:6:10) B7 memiliki nilai B/C Ratio tertinggi (1.60) dengan keuntungan bersih Rp. 22.900.000 dibanding dengan perlakuan control B0 dengan nilai B/C Ratio (0.18) dengan keuntungan bersih Rp. 1.823.000,-
Komparasi dan Evaluasi Data Hujan Berbasis Satelit dalam Mengestimasi Curah Hujan Harian Maksimum di Provinsi Papua Barat
Banjir merupakan salah satu bencana alam yang mendominasi kejadian bencana alam di Provinsi Papua Barat. Terbatasnya stasiun iklim dan stasiun hujan di Provinsi Papua Barat mengakibatkan sebagian besar wilayah di Provinsi Papua Barat belum memiliki data hujan sehingga menjadi kendala dalam melakukan analisis banjir. Tersedianya data hujan hasil pengamatan satelit dapat dijadikan sebagai solusi alternatif dalam penyediaan data hujan di Provinsi Papua Barat, diantaranya adalah Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM), Global Precipitation Measurement (GPM), dan Climate Hazards Group Infrared Precipitation with Stations (CHIRPS). Penelitian ini bertujuan untuk menguji akurasi data TRMM, GPM, dan CHIRPS dibandingkan dengan data hasil perekaman pada automatic weather stations (AWS) menggunakan 7 (tujuh) parameter statistik, yaitu root mean square error (RMSE), mean error (ME), mean absolute error (MAE), relative bias (RBIAS), mean bias factor (MBIAS), percent bias (PBIAS), dan koefisien korelasi (r). Hasil penelitian menunjukkan data TRMM, GPM, dan CHIRPS memiliki akurasi yang acceptable dalam mengestimasi curah hujan harian maksimum di Provinsi Papua Barat dengan nilai bias sebesar 23,29% - 33,47% dibanding data AWS serta memiliki hubungan yang kuat dengan data AWS yang ditunjukkan dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,65 – 0,69. Dari ketiga data tersebut, data TRMM memiliki akurasi yang lebih baik dalam mengestimasi curah hujan harian maksimum di Provinsi Papua Barat. Oleh sebab itu data TRMM lebih direkomendasikan apabila digunakan untuk analisis banjir di Provinsi Papua Barat khususnya pada wilayah yang belum tersedia stasiun iklim maupun stasiun penangkar hujan
Potensi Trichoderma sp. dan Streptomyces sp. sebagai agensia hayati nematoda puru akar (Meloidogyne sp.) pada tanaman tomat ceri secara in vitro
Tanaman tomat ceri merupakan tanaman hortikultura yang sangat diminati oleh masyarakat Indonesia. Penurunan produksi dapat disebabkan oleh organisme penggangu tanaman, salah satunya nematoda puru akar yang disebabkan oleh nematoda Meloidygene sp. Kerugian akibat serangan nematoda pada produksi tanaman tomat dapat mencapai 20% dari total produksi. Penggunaan agensia hayati Trichoderma sp. dan Streptomyces sp. memiliki kemapuan merusak telur nematodaPenggunaan media produksi yang tepat mampu mendukung kinerja agensia hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan parasitasi Tricoderma sp. dan Streptomyces sp. dari beberapa media produksi terhadap telur nematoda Meloidygene sp. secara in vitro sehingga diharapkan berpotensi sebagai agensia hayati nematoda puru akar pada tanaman tomat ceri. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan faktor pertama perbandingan isolat kombinasi Trichoderma sp. dan Streptomyces sp. serta faktor kedua yaitu jenis media produksi. kemudian dilakukan uji lanjut DMRT dengan taraf kepercayan 95%. Hasil penelitian didapatkan bahwah tingkat kemampuan parasitasi perlakuan kombinasi perbandingan Trichoderma sp. dan Streptomyces sp.dengan jenis media produksi berkisar 21,33% - 64,67%. Kemampuan parasitasi tertinggi pada perlakuan kombinasi TS1:3E ( Trichoderma sp. dan Streptomyces sp. perbandingan 1:3 dalam media produksi EKG) dan tingkat parasitasi terendah pada perlakuan kombinasi TG (Trichoderma sp. dalam media produksi GN). Hal ini menunjukan interaksi antara perlakuan kombinasi perbandingan Trichoderma sp. dan Streptomyces sp. berupa kemampuan memarasit dengan cara mekanis, enzimatis dan menghasilkan metabolit sekunder dengan perbandingan terbaik TS 1:3. Interaksi dengan menggunakan media produksi mendukung tingkat kemampuan parasitasi dengan media terbaik yaitu EKG (Ekstrak Kentang Gula)
Aplikasi Kompos Feses Walet dan Abu Sekam Padi terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)
Salah satu cara untuk menambah unsur hara dalam dalam tanah yakni dengan penggunan pupuk organik. Feses walet, kompos feses walet, dan abu sekam padi memiliki potensi untuk menambah unsur hara pada lahan pertanian. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh pemberian pupuk organik (feses walet, kompos feses walet, dan abu sekam padi) serta mengetahui kombinasi dosis kompos feses walet dan abu sekam padi yang terbaik terhadap pertumbuhan dan produksi bawang merah (Allium ascalonicum L.). Penelitian ini dilaksanakan di lahan peneliti petani yaitu di Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang pada bulan Juli 2019 sampai bulan November 2019. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan non faktorial yang memiliki 7 taraf perlakuan dan diulangi sebanyak 3 kali yaitu A0: Kontrol tanpa pupuk. A1: feses walet. A2: abu sekam padi. A3: kompos feses walet. A4 : abu sekam padi + kompos feses walet (1:1). A5 : abu sekam padi + kompos feses walet (2:1). A6 : abu sekam padi + kompos feses walet (1:2). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian kompos feses walet, feses walet, dan abu sekam padi memiliki pengaruh yang nyata pada tinggi tanaman, berat kering umbi dan berat basah umbi di angin-anginkan. jumlah anakan per rumpun, Jumlah daun per rumpun, diameter umbi dan jumlah umbi tidak berpengaruh nyata. Pemberian kompos feses walet memberikan respon yang sangat positif terhadap pertumbuhan dan produksi
Permintaan Pangan Hewani Rumah Tangga Perkotaan di Provinsi Jawa Tengah
Konsumsi protein sangat penting dalam pencegahan stunting pada balita, namun akses dalam konsumsi pangan hewani sebagai sumber utama protein terkendala pada harga pangan dan pendapatan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan harga dan pendapatan terhadap permintaan pangan hewani rumah tangga perkotaan di Provinsi Jawa Tengah. Data penelitian menggunakan data sekunder yang diperoleh dari SUSENAS Tahun 2016 dengan sampel sebanyak 13.328 rumah tangga. Analisis data menggunakan pendekatan model Quadratic Almost Ideal Demand System (QUAIDS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok pangan hewani paling elastis terhadap perubahan harga adalah kelompok ikan dengan elastisitas permintaan sebesar 2.463%, diikuti daging sapi (2.410%), susu bubuk (1.416%), ayam (1.010%), dan telur (0.549%). Semua pangan hewani bersifat substitusi dengan kelompok pangan hewani lainnya, kecuali susu bersifat komplementer terhadap daging sapi. Kelompok pangan hewani yang paling sensitif terhadap perubahan pendapatan adalah daging sapi (2.219%) diikuti oleh susu, ikan dan daging ayam dengan elastisitas masing-masing sebesar 1.816%, 1.660% dan 1,336%, sehingga daging sapi merupakan pangan hewani paling mewah. Stabilitas kebijakan harga sangat penting untuk mempertahankan konsumsi pangan hewani dalam rangka pemenuhan protein sesuai angka kecukupan protein nasional
Kajian Pemanfaatan Biopestisida Asap Cair Limbah Biji Buah Merah terhadap Mortalitas Ulat Grayak (Spodoptera litura F)
Pemanfaatan biopestisida asap cair kerap kali sudah diakui dan sudah banyak dimanfaatkan oleh petani dalam mengendalikan OPT. Namun untuk asap cair menggunakan bahan baku limbah biji buah merah masih sangat jarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi asap cair limbah biji buah merah terhadap mortalitas ulat grayak (Spodopteralitura F) pada tanaman ubi jalar. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Agroteknologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Petra Baliem Wamena dan pembuatan asap cair dilakukan di Laboratorium RisetJurusan Teknik Kimia FTI UMI Makassar. Asap cair diperoleh melalui proses pirolisis dengan menggunakan alat modifikasi pirolisis rakitan. Proses pirolisis adalah proses pembakaran atau pemanasan suatu bahan baku asap cair pada temperatur tertentu dengan jumlah oksigen terbatas. Untuk mengetahui tingkat efektifitas biopestisida asap cair limbah biji buah merah ini dilakukan analisis kandungan fenolik dan asam asetat yang merupakan unsur utama dalam biopestisida yang mampu mematikan OPT sehingga serangan OPT dapat dikendalikan. Hasil pirolisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah asap cair grade 3. Adapun perlakuan konsentrasi yang digunakan terbagi menjadi 4 yaitu 10ml/L, 15ml/L, 20ml/L dan 30ml/L yang diulang sebanyak 3 ulangan. Hasil analisis kandungan kimia pada asap cair menunjukkan nilai uji kadar asam sebesar 14,20%, nilai uji kadar fenol sebesar 4,98% dan memiliki pH sebesar 3. Hasil penelitian skala laboratorium ini menunjukkan bahwa biopestisida asap cair limbah biji buah merah konsentrasi yang efektif yaitu konsentrasi 30ml/L dengan presentase mortalitas ulat grayak sebesar 88,50%
Evaluasi Pemangkasan Ubi Jalar terhadap Kualitas Hay dalam Pertanian Terintegrasi
Penelitian bertujuan mengevaluasi tujuh klon ubi jalar dengan pemangkasan terhadap percobaan pembuatan hay. Di lapang menggunakan Rancangan Split Plot dengan 3 ulangan. Klon ubi jalar sebagai Anak Petak dan periode pemangkasan sebagai Petak Utama. Klon ubi jalar terdiri dari: V₁: Kuningan Putih, V₂: Beta-2, V₃: Kuningan Merah, V₄: BIS-OP-61, V₅: 73-OP-5, V₆: BIS-OP-61-♀-29, V₇: BIS-OP-61-OP-22. Periode pemangkasan umur 90 HST 120 HST dan 150 HST. Hasil pemangkasan brangkasan ubi jalar kemudian diawetkan dalam bentuk hay. Pemangkasan pada umur 90 HST (P1) menghasilkan bobot brangkasan setara 10.54-22.73 ton/ha (Beta-2 dan Kuningan Putih), umur 120 HST (P2) setara 9.78-18.93 ton/ha (BIS OP-61-OP-22 dan BIS OP 61) dan pada umur 150 HST (P3) setara 7.40-22.98 ton/ha (Beta-2 dan Kuningan Merah). Komposisi nilai nutrisi hay brangkasan ubi jalar mempunyai kisaran kandungan bahan kering 55.70-94.69%, bahan organik 84.68-88.89%, abu 11.11-15.81%, protein kasar 10.98-22.54%, berkategori kelas III, dan serat kasar antara 15.09-22.05% berkategori kelas I. Nilai kecernaan hay brangkasan ubi jalar mempunyai kisaran kecernaan bahan kering 48.55-74.90%, kecernaan bahan organik 55.72-69.25% dan TDN 48.56-61.66%
Optimasi Akumulasi Satuan Panas sebagai Kriteria Panen Terukur Pisang Barangan
Tingkat kematangan buah pada saat dipetik menentukan kualitas dan umur simpan buah pisang. Umur petik buah pisang dapat ditentukan dengan akumulasi satuan panas. Percobaan ini bertujuan memantapkan satuan panas sebagai kriteria panen terukur untuk pisang Barangan dengan memperbandingkan lima waktu antesis. Percobaan dilaksanakan di Kebun Parakan Salak, PT. Perkebunan Nusantara VIII, Sukabumi, Jawa Barat dan Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada bulan April hingga Juni 2018. Percobaan dilakukan dalam rancangan acak lengkap yang terdiri atas 5 perlakuan waktu tagging yaitu bulan April minggu II, minggu III, minggu IV, Mei minggu I, dan minggu II. Tagging diterapkan pada 5 tandan sebagai ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa waktu antesis memengaruhi kelunakan kulit buah, rasio padatan terlarut total (PTT) dan asam tertitrasi total (ATT), dan kandungan Vitamin C, namun tidak memengaruhi umur simpan, susut bobot, kelunakan daging buah, edible part, kandungan PTT dan kandungan ATT. Pisang Barangan dapat dipanen umur 78 hari setelah antesis pada akumulasi satuan panas 1203 – 1239 °C hari dan umur simpan mencapai 12 – 13 hari