Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
Teknologi Pembuatan Pupuk Bokashi Bermutu di Dusun Salakan, Desa Kalisalak, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang
Pupuk bokashi adalah jenis pupuk yang dibuat dengan menggunakan bantuan mikroorganisme
pengurai. Pupuk bokashi memiliki berbagai macam unsur hayati selain kotoran hewan sebagai
bahan baku utama, oleh sebab itu pupuk ini memiliki nilai lebih apabila dibandingkan dengan
pupuk kandang yang murni hanya menggunakan kotoran hewan. Dalam pembuatan pupuk
bokashi diperlukan ketelitian dalam proses fermentasi karena inti dari pembuatan pupuk ini
ada pada mikroorganisme sebagai mengurai kotoran hewan. Tujuan dari kegiatan pembuatan
bokashi agar masyarakat dapat mengaplikasikan teknik pembuatan pupuk bokashi di Dusun
Salakan, Desa Kalisalak, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Selanjutnya, masyarakat
dapat memperoleh keterampilan dalam pembuatan pupuk bokashi. Metode yang digunakan
adalah metode wawancara dan praktik secara langsung pembuatan pupuk bokashi, serta
praktek dalam proses pembuatan pupuk BOKASHI terdapat tujuh tahapan yaitu mulai dari
penggilingan, pengayakan, pemberian mikroorganisme lokal, pemberian pupuk dolomit,
penyiraman, pembalikan, dan yang terakhir adalah pengemasan. Hasil proses pembuatan
pupuk bokashi mulai dari penggilingan hingga siap untuk pengemasan pupuk bokhasi
memerlukan waktu kurang lebih hingga 1 bulan
Pengenalan dan Penyadartahuan Manfaat Intangible Hutan pada Masyarakat Dusun Rabakuan di Kesatuan Pengelolaan Hutan Sanggau Timur
Masyarakat Dayak dan hutan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, namun dengan banyaknya alih fungsi lahan hutan untuk penggunaan lain, menyebabkan terjadinya pergeseran akan pentingnya hutan bagi kehidupan masyarakat. Tujuan pengabdian ini adalah menjelaskan tentang pentingnya hutan beserta fungsi dan manfaat intangible yang terkandung di dalamnya dalam menopang kehidupan sehari-hari. Mitra dalam kegiatan ini adalah masyarakat dusun Rabakuan yang terdiri dari pemuda, ibu-ibu, aparat desa, pemangku adat dan anggota kelompok tani hutan. Kegiatan dilaksanakan dengan melakukan sosialisasi manfaat intangible hutan dan pendekatan partisipatif menggunakan latihan penilaian manfaat penggunaan lahan yang ada dengan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, serta diskusi sebagai media komunikasi dua arah. Hasil pelaksanaan kegiatan mencatat masyarakat menyadari bahwa hutan memiliki banyak manfaat yang bersifat intangible bagi masyarakat sebagai sumber air, pengatur iklim mikro, merupakan warisan, menyediakan mata pencaharian dan kesejahteraan mereka baik secara langsung maupun tidak langsung dengan banyak tumbuhan dan hewan yang berharga dan penting bagi kehidupan
Insidensi Dan Keparahan Penyakit Busuk Pada Tanaman Cabai: Studi Kasus di Lahan Petani Desa Ciampea Udik, Ciampea, Bogor
Penyakit busuk merupakan salah satu kendala yang menyebabkan rendahnya produksi cabai. Penelitian bertujuan mengamati dampak serangan penyakit busuk terhadap kerusakan tanaman cabai di Desa Ciampea Udik, Ciampea, Kabupaten Bogor. Penelitian dilakukan pada bulan Februari sampai dengan Maret 2021. Tanaman cabai yang diamati berumur 2.5 bulan. Cabai ditanam pada lahan seluas 2400 m2 yang dibagi menjadi 4 petak pengamatan. Parameter pengamatan meliputi insidensi dan keparahan penyakit busuk. Patogen penyebab busuk diisolasi dengan menumbuhkan potongan buah bergejala pada media CMA. Karakterisasi patogen dilakukan dengan mengamati bentuk koloni dan mikromorfologi. Uji patogenisitas dengan menginokulasi buah cabai dengan potongan miselia isolat patogen. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tingkat insidensi penyakit busuk pada pertanaman cabai di lokasi penelitian mencapai 86.0 – 91.7% dengan tingkat keparahan penyakit 87.0 – 89.7%. Berdasarkan hasil karakterisasi bentuk koloni dan mikromorfologi serta uji patogenisitas diketahui bahwa patogen yang menyebabkan penyakit busuk pada tanaman cabai dilokasi penelitian adalah Phytophthora capsici. Hasil penelitian ini memberikan informasi penting tentang dampak penyakit busuk terhadap kerusakan tanaman, sehingga perlu mendapatkan perhatian serius dalam hal pencegahan dan pengendaliannya
Kajian Penggunaan Fungi Mikoriza Arbuskular terhadap Pertumbuhan dan Fisiologis beberapa Varietas Sorgum di Lahan Marginal
Sorgum merupakan tanaman yang tahan terhadap kekeringan dan mampu beradaptasi pada daerah yang luas sehingga sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan pada Agustus - November 2020 dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi pupuk kandang dan mikoriza pada beberapa varietas sorgum. Metode yang diginakan dalam percobaan ini adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial yang terdiri atas dua faktor, faktor pertama adalah varietas yang terdiri atas varietas Numbu, Kawali, dan Suri, sedangkan faktor kedua adalah kobinasi perlakuan yang terdiri atas tanpa pupuk kandang dan tanpa mikoriza (pembanding), pupuk kandang 5 ton/ha + 1 g mikoriza/tanaman, pupuk kandang 5 ton/ha + 3 g mikoriza/tanaman, pupuk kandang 10 ton/ha + 1 g mikoriza/tanaman, dan pupuk kandang 10 ton/ha + 3 g mikoriza/tanaman. Jumlah kombinasi perlakuan sebanyak 15 (15 bedeng sebagai satuan percobaan dalam 3 blok sebagai ulangan). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan ANOVA, apabila terdapat beda nyata dilanjutkan dengan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (DMRT) 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas yang unggul di lahan marginal adalah varietas Numbu pada perlakuan kombinanasi pupuk kandang 10 ton/ha + 3 g mikoriza/tanaman
Identifikasi Komposisi dan Dominansi Gulma pada Lahan Terbuka dan Ternaungi Di Lahan Pasir Pantai Samas, Kabupaten Bantul, Yogyakarta
Usaha budidaya pertanian di lahan pasir pantai merupakan upaya ekstensifikasi dalam meningkatkan produksi pertanian. Sama halnya dengan praktik budidaya tanaman di lahan optimum, kehadiran gulma di lahan pasir pantai juga dapat menurunkan produksi tanaman. Pengelolaan gulma di lahan pasir pantai didasarkan pada kondisi lahan. Kondisi lahan yang terbuka maupun ternaungi di lahan pasir pantai memiliki karakteristik yang berbeda. Dengan mengetahui komposisi gulma di lahan tersebut akan ditentukan pengendalian yang tepat. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan sampling menggunakan kerangka kawat berukuran 50 cm x 50 cm. Masing-masing lahan diambil 3 titik sampel. Pada setiap titik dilakukan pengambilan gulma. Data dianalisis dengan menghitung frekuensi nisbi, kerapatan nisbi, dominansi nisbi, summed domination ratio (SDR) dan koefisien komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gulma jenis rumputan paling mendominasi pada lahan terbuka (Axonopus compressus. Digitaria ciliaris dan Echinochloa colonum. Sedangkan gulma di lahan ternaungi menunjukkan gulma jenis daun lebar yang mendominasi (Amaranthus palmeri, Commelina benghalensis, Gomphrena globasa, Hyptis suavadens, Tridax procumbens). Adapun nilai SDR paling tinggi baik pada lahan terbuka maupun ternaungi adalah gulma Axonopus compressus dengan nilai berturut-turut 57,51% dan 24,47% Nilai koefisien komunitas yang didapatkan dari lahan terbuka dan ternaungi adalah 59,69%. Nilai ini menunjukkan bahwa keragaman komunitas gulma di kedua lahan heterogen atau berbeda
Penggunaan Bahan Organik untuk Mengurangi Cekaman Salinitas pada Tanaman Bawang Merah
Produksi bawang merah di propinsi Bengkulu masih sangat rendah karena lahan produktif yang ada sudah digunakan untuk memproduksi komoditas hortikultura lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Perluasan lahan produksi bawang merah dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan pesisir. Terkait dengan hal ini, maka sebuah penelitian untuk menguji ketahanan tanaman bawang merah terhadap cekaman salinitas perlu dilakukan. Tujuan akhir penelitian ini adalah mengurangi dampak negatif salinitas pada tanaman bawang merah dengan aplikasi bahan organik kotoran sapi. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap (RAL), yang disusun secara faktorial (2 faktor; 5 ulangan). Faktor pertama yang diuji adalah kadar garam (G) yang terdiri dari 3 taraf, yaitu: G0 = 0 mM NaCl dan G1 = 150 mM NaCl. Faktor kedua adalah bahan organik (B) yang terdiri dari 2 taraf, yaitu : B0 = 0 ton ha-1, B1 = 10 ton ha-1, dan B2 = 20 ton ha-1. Benih bawang merah (2 umbi) ditanam pada polibeg berisi 5 kg pasir air tawar. Perlakuan yang diuji adalah konsentrasi larutan garam, yaitu (0, 50, 75, 100, dan 150 ppm. Larutan garam diaplikasikan secara hidroponik dengan sistem Wick sejak tanam sampai dengan panen. Variabel yang diukur meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan per rumpun, jumlah daun, bobot tanaman, bobot akar, diameter umbi, panjang umbi, jumlah umbi per rumpun, dan bobot basag dan kering umbi. Data dianalisis dengan analisis varian pada taraf 5% dilakukan uji nilai tengah dengan DMRT 5%. Salinitas menurunkan pertumbuan dan hasil bawang merah, di mana semakin tinggi konsenrtasi larutan garam, semakin negatif pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanama dan hasil umbi bawang merah
Aplikasi Autoclaving-Cooling dalam Karakterisasi Komponen Gizi Kacang Koro Benguk, Kacang Merah, dan Kacang Hitam
Autoclaving-cooling merupakan salah satu teknologi pengolahan bahan pangan yang mengkombinasikan prinsip fisika pemanasan dan pendinginan yang melibatkan faktor suhu, tekanan, dan kadar air. Teknologi tersebut lebih mudah dan aman diaplikasikan pada pengolahan bahan pangan, karena menggunakan teknologi yang cukup sederhana dan tidak menggunakan bahan kimia yang dapat meninggalkan residu pada produk. Autoclaving-cooling digunakan pada pengolahan bahan pangan berkarbohidrat, yang berfungsi untuk memodifikasi karakteristik pati diantaranya meningkatkan viskositas, gelatinisasi, stabilitas, dan retrogradasi. Penelitian menggunakan autoclaving-cooling pada kacang koro pedang putih menghasilkan peningkatan kadar karbohidrat, pati, dan serat larutnya, namun tidak memberikan dampak yang nyata terhadap kadar gizi lainnya. Jenis kacang lainnya yang potensinya cukup besar di Indonesia adalah kacang koro benguk, kacang merah, dan kacang hitam. Namun hingga saat ini pengembangan ketiga kacang tersebut sebagai bahan baku pangan sehat masih belum banyak dilakukan, terutama dengan mengaplikasikan teknologi autoclaving-cooling. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kombinasi jenis dan lama pendinginan menggunakan metode autoclaving-cooling yang menghasilkan produk dengan karakteristik gizi terbaik. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Tersarang dengan faktor utama adalah jenis kacang (kacang koro benguk, kacang merah, kacang hitam) dan lama pendinginan (24, 48, dan 72 jam) sebagai faktor kedua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik dari keseluruhan parameter dan jenis kacang adalah jenis kacang koro benguk dengan lama pendinginan 72 jam, sedangkan untuk masing-masing jenis kacang merah dan hitam, kombinasi terbaik diperoleh dengan lama pendinginan selama 72 jam dan 48 jam
Dampak Pemanfaatan Zeolit di Tanah Pasir Terhadap Serapan NPK dan Hasil Cabai Merah
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pemanfaatan zeolit di tanah pasir terhadap serapan NPK dan bobot kering cabai merah. Penelitian dilaksanakan di lahan pasir wilayah Bugel Kabupaten Kulon Progo pada bulan Mei-September 2020. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 ulangan. Perlakuan berupa takaran zeolit (Z) yaitu Z0 = tanpa zeolit, Z1 = zeolit 200 kg.ha-1 dan Z2 = 400 kg.ha-1 Z3 = zeolit 600 kg.ha-1, Z4 = 800 kg.ha-1dan Z5 = 1.000 kg.ha-1. Parameter yang diamati terdiri dari serapan hara N, P dan K, dan bobot kering tanaman total. Data pengamatan tanah dianalisis dengan diskriptif. Data pengamatan dianalisis dengan uji F, dan jika ada beda nyata dilanjutkan uji Duncan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan zeolit di tanah pasir telah nyata meningkatkan serapan N sebesar 3,98-4,78 %, P sebesar 2,17-17,39 %, K sebesar 2,65-28,48 % dan bobot kering total cabai merah 4,82-21,99 %. Peningkatan takaran zeolit nyata berbeda mempengaruhi serapan P dan K dan bobot kering total cabai merah, tidak nyata berbeda mempengaruhi serapan N
Pelatihan Pembuatan Olahan Lele untuk Meningkatkan Keterampilan dan Kreativitas Masyarakat di Desa Kragan
Pandemi di Indonesia menyebabkan pendapatan dan pekerjaan masyarakat menjadi terbatas.
Masyarakat harus bertindak kreatif agar kehidupannya menjadi terjamin terutama dalam bidang
ekonomi. Mahasiswa dalam hal menghadapi pandemi Covid-19 dituntut mampu memecahkan dan
menyelesaikan masalah yang dimiliki masyarakat terutama dalam segi ekonomi. HM Pelita pada
tahun 2021 mengikuti kegiatan PHP2D yang mana memberikan bekal pelatihan pada masyarakat
dari segi penguatan ketahanan pangan. Ketahanan pangan memiliki kaitannya dengan perikanan
di Desa Kragan yaitu dalam hal budidaya. Masyarakat Desa Kragan memiliki kecenderungan
untuk menjual ikan secara langsung tanpa adanya usaha pasca panen seperti pembuatan olahan
ikan. Ikan yang menjadi komoditas unggulan dalam budidaya ikan di Desa Kragan yaitu ikan lele.
Kegiatan PHP2D dilaksanakan di Desa Kragan, Karanganyar. Pelatihan pada pembuatan olahan
lele menjadi salah satu kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Kragan. Kegiatan pelatihan
diharapkan mampu meningkatkan keterampilan dan kreatifivitas masyarakat untuk mengelola ikan
dan masyarakat menjadi mampu memenuhi kebutuhan ekonomi. Metode yang digunakan tim
PHP2D HM Pelita 2021 dalam kegiatan berupa Partisipatory Rural Appraisal (PRA). Metode
tersebut melibatkan masyarakat Desa Kragan terkhususnya dalam pengambilan potensi dan
pelaksanaan kegiatan yang terkait dengan kegiatan PHP2D. Kegiatan pada pemberdayaan
masyarakat terutama pada pelatihan olahan lele diharapkan mampu menjadi salah satu pondasi
penguat ekonomi terkhususnya UMKM di Desa Kragan
Sumbangan Wanita Tani dalam Meningkatkan Pendapatan Keluarga di Era Pandemi Covid-19 dengan Membudidayakan Ayam Kampung di Desa Ngunut, Jumantono, Karanganyar, Jawa Tengah
Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan tentang
kewirausahaan khususnya budidaya ayam kampung bagi ibu-ibu petani peternak. Secara
khusus target yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah mengubah pola pikir (mindset) ibuibu petani peternak bahwa usaha budidaya ternak ayam kampung yang selama ini hanya
diusahakan secara sampingan dapat diubah menjadi usaha yang komersiil yang dapat
memebrikan keuntungan usaha yang lebih besar. Untuk mencapai target tersebut, maka ibuibu petani peternak diberikan pendidikan dan latihan budidaya ayam kampung.
Pertimbangannya adalah bahwa sasaran peserta pelatihan adalah ibu-ibu peternak dari
pedesaan yang sudah mengenal jenis ternak ayam kampung ini. Budidaya ayam kampung
dapat dikerjakan oleh ibu-ibu petani petrnak, tanpa harus mengganggu aktifitas utama yakni
bercocok tanam (petani tanaman pangan). Jadi dengan adanya tambahan kegiatan memelihara
ayam kampung tidak akan memberikan pendapatan tambahan dari usaha tani secara
keseluruhan Tahapan yang dilaksanakan dalam memberikan bekal pengetahuan dan
keterampilan tentang budidaya ternak ayam kampung agar tujuan dan target kegiatan tercapai
diantaranya adalah bagaimana teknik pemilihan bibit ayam yang baik, membuat
perkandangan yang baik, cara memberikan pakan, mengelola kesehatan ayam dan pemasaran
produk. Hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan dan
keteramiplan serta tersedianya modal awal berwirausaha dengan budidaya ayam kampung
bagi ibu-ibu petani peternak