Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret (Publishing Systems)
Not a member yet
653 research outputs found
Sort by
Sinergitas Giberelin dan Monosodium Glutamat pada Pertumbuhan dan Kualitas Serat Rami
Tanaman rami (Bohremia nivea L Gaud) merupakan tanaman serat yang memiliki potensi sebagai bahan baku industri tekstil. Budidaya tanaman rami menggunakan rhizoma memiliki masa dormansi tunas yang lama, sehingga menghambat pertumbuhan. Selain itu, serat rami memiliki tekstur yang kasar, karena kandungan selulosa dan lignin yang tidak seimbang. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh giberelin (GA3) dan monosodium glutamat (MSG) terhadap pertumbuhan, kandungan selulosa dan lignin tanaman rami. Penelitian dilaksanakan pada 1 Mei – 12 Juli 2020 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tidar dengan ketinggian tempat berkisar 431 m dpl. Penelitian menggunakan polibag dengan percobaan faktorial (4x4) yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan empat ulangan sebagai blok. Faktor pertama konsentrasi GA3 0, 200, 400, 600 ppm sedangkan faktor kedua dosis MSG 0, 3, 6, 9 g/tanaman. Pelaksanaan penelitian meliputi persiapan alat dan bahan, persiapan lahan dan media tanam, pembuatan dan aplikasi stek rhizoma pada larutan giberelin, penanaman, aplikasi monosodium glutamat, pemeliharaan dan pengamatan variabel, panen dan analisis serat. Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat brangkasan segar, berat brangkasan kering, kandungan selulosa dan lignin. Analisis data menggunakan sidik ragam, galat baku dan orthogonal polynomial. Hasil penelitian menunjukkan interaksi konsentrasi GA3 berkisar 200-300 ppm dan dosis MSG 3 g/tanaman mampu bersinergi dalam menghasilkan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, berat brangkasan segar, berat brangkasan kering, kandungan selulosa dan lignin yang lebih tinggi
Hambatan Ekspor Produk Hortikultura: Bagaimana Cara Mengatasinya di Tingkat Usaha Kecil dan Menengah (UKM) ?
Hambatan untuk mengekspor produk hortikultura ke pasar global dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya petani selaku produsen produk hortikultura dan pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) yang melakukan proses ekspor. Makalah ini akan fokus pada identifikasi faktor-faktor yang menghambat UKM Indonesia untuk melakukan ekspor produk hortikultura ke pasar global, memberikan solusi dan rekomendasi dalam menghadapi hambatan ini. Makalah ini menggunakan strategi tinjauan pustaka (literature review) untuk mengetahui hambatan UKM Indonesia dalam mengekspor produk hortikultura ke pasar global berdasarkan empat kategori hambatan ekspor, yaitu: hambatan pengetahuan, hambatan sumber daya, hambatan prosedur, dan hambatan dari luar (eksogen). UKM Indonesia menghadapi hambatan ekspor: 1) hambatan pengetahuan seperti kurangnya pengetahuan tentang pasar dan perjanjian expor, kurangnya promosi, masalah standardisasi dan phytosanitary, kurangnya informasi tentang cara mengakses ekspor dan tidak terbiasa dengan prosedur ekspor; 2) hambatan sumber daya seperti kurangnya modal kerja, kurangnya sumber daya manusia, kurangnya relasi perbankan asing, lamanya Return of Investment (ROI) dan biaya keuangan yang tinggi; 3) hambatan prosedur seperti kurangnya infrastruktur, biaya transportasi yang tinggi, kurangnya pasokan listrik, kurangnya panduan tentang transaksi asing untuk UKM dari pemerintah, kurangnya pengaturan bea cukai dan lamanya proses administrasi; dan 4) hambatan dari luar (eksogen) yaitu risiko tinggi valuta asing, keterlambatan pembayaran dari importir, masih banyaknya pungutan, tidak adanya asuransi ekspor, situasi politik, dan fluktuasi ekonomi di pasar sasaran. Solusi untuk UKM adalah dengan meningkatkan koordinasi horisontal dengan petani penghasil produk hortikultura, pemerintah memberikan pinjaman 'lunak', pengembangan kapasitas dan pelatihan untuk pemasaran luar negeri, pemberian motivasi wirausaha, dan diversifikasi produk. Indonesia dan pengimpor harus bekerjasama untuk menghindari penolakan barang dan terlambatnya pembayaran. UKM seharusnya mengikuti Asuransi Kredit Ekspor untuk melindungi dari resiko tidak dibayar oleh importir dan meminimalkan risiko pengiriman. UKM harus meningkatkan produk diversifikasi untuk mengekspor produk olahan dan produk siap saji dalam kemasan. Pemerintah harus meningkatkan pelaksanaan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) untuk meningkatkan produktivitas dan fitosanitasi pada produk hortikultura sehingga memenuhi persyaratan dari negara importir, dan memfasilitasi lokakarya tentang peraturan untuk mengekspor ke negara lain dengan pelatih yang berasal dari negara importir
Uji Antagonis Bacillus sp. dan Pseudomonas Berfluorescens Asal Rhizosfer Bambu, Rumput Gajah dan Putri Malu Untuk Menekan Bakteri Ralstonia solanacearum Secara In-Vitro
Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh R. solanacearum tergolong penyakit yang sulit dikendalikan maupun dimusnahkan karena mampu bertahan hidup di tanah cukup lama dengan penyebaran yang cepat melalui air, peralatan pertanian dan lainnya. Sehingga diperlukan cara-cara pengendalian yang ramah lingkungan dengan agens hayati berupa penggunaan antagonis yang berasal dari beberapa rhizosfer tanaman. Rhizosfer sangat banyak mengandung mikroorganisme yang berpotensi untuk menjadi agens antagonis dari pathogen tanaman. Tujuan penelitian untuk mengetahui bakteri Bacillus sp. dan P. berfluorescens dari rhizosfer bambu, rumput gajah dan putri malu yang memiliki kemampuan dalam menghambat bakteri R. solanacearum. Metode yang dilakukan dengan mengambil sample isolat pathogen dari tanaman tomat yang bergejala layu bakteri R. solanacearum, diambil dari lahan Kelompok Tani di Karang Anyar, sedangkan isolate agens antagonis diambil dari rhizosfer tanaman bambu, rumput gajah dan putri malu diambil di daerah Palam, Guntung Manggis, Banjarbaru. Rancangan penelitian menggunakan RAL dengan 7 (tujuh) perlakuan dan 4 (empat) ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan T1 (P. berfluorescens bamboo) dan T2 (Bacillus sp. Bamboo) berbeda nyata dalam menimbulkan zona hambat terhadap R. solanacearum sebesar 1.15 mm dan 0.64375 mm. Kesimpulan bahwa kemampuan Pseudomonas berfluorescens dan Bacillus sp. dari rhizosfer yang berbeda memiliki kemampuan menghambat yang tidak sama dengan zona hambat terlihat samar atau tipis
Neraca Hara N, P, K Tanah dengan Pemangkasan dan Pembenaman Asystasia gangetica (L.) T. Anderson sebagai Tanaman Penutup Tanah
Kendala sistem pertanian di Indonesia sejauh ini adalah masalah penurunan produktivitas lahan pertanian karena sistem pertanaman monokultur dengan input pupuk dan pestisida yang cukup tinggi, sehingga banyak terjadi penurunan kualitas tanah seperti penurunan kandungan hara tanah. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk memperbaiki dan mempertahankan produktivitas lahan pertanian melalui pemanfaatan tanaman penutup tanah yang mudah ditemukan di berbagai lahan pertanian seperti Asystasia gangetica (L.) T. Anderson. Penelitian bertujuan untuk mempelajari manfaat pemangkasan dan pembenaman A. gangetica sebagai tanaman penutup tanah dalam meningkatkan ketersediaan C-organik, N, P, dan K tanah melalui neraca haranya. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara, Kecamatan Medan Johor, Medan, Sumatera Utara dari bulan Februari sampai Mei 2019 dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl, dan topografi datar. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Non-faktorial tiga ulangan dengan pemangkasan dan pembenaman sebagai perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan A. gangetica sebagai tanaman penutup tanah mampu meningkatkan kandungan bahan organik dan unsur hara K tanah baik tanpa dipangkas maupun dipangkas dan dibenam. Sedangkan unsur hara N-total dan P tanah hanya meningkat dengan pemangkasan dan pembenaman A. gangetica pada umur 30 HST dan dibenam (P1) melalui neraca haranya
Penentuan Harga Jual Sapi Bali Berdasarkan Pengukuran Morfometrik di Kelompok Tani Bon-Bon Kecamatan Noemuti Kabupaten Timor Tengah Utara
Penentuan harga ternak sapi bali yang dilakukan peternak di kelompok tani Bon-Bon selama
ini berdasarkan pengamatan visual terhadap fisik sapi dengan kisaran harga jual Rp 4.000.000
- Rp 4.500.000. Ketika dilakukan pengukuran morfometrik (Panjang badan 108 cm dan lingkar
dada 150 cm) memperoleh data dugaan bobot hidup = 197,2 kg. Apabila bobot hidup dikalikan
dengan standart harga yakni 27.000 per kg bobot hidup maka harga jual sapi tersebut
seharusnya Rp 5.325.707. Proses penentuan harga berdasarkan pengamatan fisik ini
mengakibatkan peternak mengalami kehilangan potensi pendapatan sebesar Rp 825.707 -
Rp 1.325.707. Kondisi ini sangat merugikan peternak di pedesaan, dimana peternak belum
mengetahui teknik penetuan harga berdasarkan bobot badan hidup ternak, belum mengetahui
teknik pengukuran morfometrik ternak sapi, standart harga jual bobot hidup ternak sapi yang
ditetapkan pemerintah Nusa Tenggara Timur. Sosialisi standart harga jual bobot hidup ternak
yang ditetapkan pemerintah dan pelatihan teknik pengukuran morfometrik sapi, pembuatan
matriks penentuan harga berdasarkan bobot hidup ternak serta pembuatan kandang jepit,
diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan peternak dalam pendugaan bobot hidup ternak,
mengubah proses penentuan harga jual ternak agar meningkatkan pendapatan peternak. Hasil
yang dicapai ialah peternak memiliki pengetahuan tentang standar harga jual per kg bobot
hidup dan keterampilan mengukur morfometrik tubuh untuk menghitung bobot badan ternak,
tersedianya 15 buah alat ukur morfometrik, 15 unit kandang jepit dan 15 buku matriks harga
jual ternak sapi berdasarkan hasil dugaan bobot hidup yang dikalikan dengan standar harga
yang ditetap pemerintah. Disimpulkan bahwa dasar penentuan harga jual ternak sapi yang
dilakukan peternak berdasarkan hasil dugaan bobot hidup dikalikan dengan harga/kg/BB
Realisasi Pembangunan Komposter Permanen di Pasar Desa Mutih Kulon, sebagai Solusi Permasalahan Sampah Pasar Desa
Desa Mutih Kulon merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Wedung, Kabupaten
Demak, Jawa Tengah. Desa ini memiliki sebuah pasar desa yang aktif berkegiatan di pagi hari
dan berkontribusi memutar perekonomian warga. Adanya pasar desa ini memberikan berbagai
dampak, baik positif maupun negatif. Salah satu dampak negatif yang ditimbulkan dari
eksistensi pasar desa ini adalah adanya gundukan sampah yang terletak di sudut pasar.
Diperlukan adanya suatu upaya pengelolaan limbah pasar agar tidak menimbulkan bau yang
tidak sedap, pemandangan yang tidak enak, dan sumber penyakit. Berangkat dari sebuah
inisiasi yang digagas oleh kelompok KKN UNS “Membangun Desa” perangkat desa dan
karang taruna bersama-sama merealisasikan pembangunan komposter permanen di pasar
desa. Selain membangun komposter untuk pengelolaan sampah organik, juga dibangun
tempat sampah untuk menampung sampah anorganik yang ada. Hasil dari kegiatan ini adalah
lebih tertata nya penampungan sampah di pasar desa. Selain itu, produk sampingan dari
adanya komposter ini adalah terciptanya pupuk organik yang bisa dimanfaatkan oleh
masyarakat. Hal tersebut dapat memberikan manfaat untuk masyarakat sekitar yang masih
banyak penduduk yang bekerja dalam bidang pertanian. Selain itu, hal ini juga memberikan
dampak pada lingkungan yang lebih indah, nyaman dan sehat untuk warga Desa Mutih Kulon,
khususnya yang aktif berkegiatan di sekitar pasar desa
Pendampingan Meningkatkan Daya Saing Agroindustri Ubi Kayu di Desa Sigerongan Kecamatan Lingsar Lombok Barat
Kegiatan pendampingan bertujuan untuk memfasilitasi perajin agroindustri ubi kayu untuk melakukan peningkatan daya saing produk olahan melalui penerapan teknologi pengemasan, teknik pengeringan yang sehat, mengenal networking dalam marketing product di pasar semi modern dan modrrn. Pendekatan yang diterapkan dalam pendampingan ini adalah pendekatan Kerjasama Triple P-Plus dengan Misi 3-B sebagai Alternatif Solusi. Masalahan yang dipaparkan di atas memerlukan cara cerdas untuk solusinya guna meningkatkan pendapatan rumah tangga perajin karena agroindustri ubi kayu merupakan andalan utama sebagai sumber pendapatan rumah tangga. Sedangkan metode pelaksanaannya adalah Pelaksanaan kegiatan pengabdian dilakukan dengan menerapkan metode pengajaran orang dewasa (Adult education) dengan pendekatan kelompok melalui penerapan Focus Group Discussion (FGD) dipadukan dengan percontohan produksi agroindustry yang menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi (Participatory Action Research) dan praktek pengemasan produk dan diversifikasi produk. Hasil pendampingan menggambarkan bahwa agroindustry ubi kayu mengolah ubi kayu menjadi berbagai produk olahan siap saji seperti opak-opak dengan bentuk empat persegi, rengginang dan keripik yang belum disentuh oleh tekonologi pengirisan yang menghasilkan ketebalan yang seragaM. Pendampingan cara pengeringan dan teknik masak (menggoreng) dan pengemasan pada produk Opak dapat meningkatkan nilai jual produk yang diindikasikan dengan meningkatnya Total Revenue (TR) produk per satu kali proses produksi sebesar 35,71% dan peningkatan profit mencapai 79,10% per minggu dan per bulan. Pengemasan Opak tidak hanya berfungsi sebagai wadah, pelindung untuk menjadikan Opak lebih awet, tetapi berfungsi juga sebagai kenyamanan konsumen dan sarana promosi dan informasi, sehingga dapat meningkatkan nilai produk yang memiliki nilai jual yang tinggi. Peningkatan nilai produk setelah pengemasan mengindikasikan bahwa pengemasan berdampak pada pengembangan usaha yang berdaya saing walaupun masih dalam tataran local. Pengembangan produk olahan ubi kayu di Sigerongan secara higienes masih memerlukan intervensi pemerintah melalui Departemen Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Kesehatan untuk memperoleh sertifikat Halal agar mampu bersaing secara luas dalam pasar global. Hasil Olahan ubi kayu di Sigerongan berpotensi menjadi Aikon Desa Sigerongan Lingsar Lombok Barat. Oleh karena itu, perlu Kerjasama yang solid antara pemerintah dan perguruan tinggi untuk menciptakan produk yang berdaya saing tinggi yang Better Business untuk menuju Better Living (welfare) perajin
Peningkatan Produktifitas Ternak Kambing Melalui Penerapan Teknologi Pengolahan Pakan di Kelurahan Pulokerto Kecamatan Gandus Kota Palembang
Permasalahan peternak kambing di desa Pulokerto Kecamatan Gandus Kota Palembang adalah
rendahnya tingkat pertambahan berat badan ternak dan seringnya terjadi kematian saat
kelahiran cempe. Dari hasil survei awal yang dilakukan langsung ke lapangan diketahui bahwa
peternak hanya memberi hijauan rumput lapangan saja untuk memenuhi konsumsi pakan
ternak dan hampir sebagian besar peternak belum memahami bagaimana memberi pakan yang
baik, berkualitas. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan pada masyarakat
peternak di desa Pulokerto tentang cara dan pentingnya tekhnologi pengolahan pakan untuk
menjamin ketersediaan pakan ternak secara kontinyu baik secara kualitas maupun secara
kuantitas, salah satunya dengan pembuatan Silase Ransum Komplit. Metode kegiatan yang
dilakukan yaitu penyuluhan, demonstrasi dan pelatihan yang selanjutnya dilakukan evaluasi
terhadap hasil kegiatan. Data kegiatan pengabdian disampaikan dalam bentuk deskriptif.
Berdasar hasil evaluasi kegiatan yang dilakukan diperoleh kualitas silase yang dibuat
menunjukkan hasil yang baik secara organoleptik maupun secara kualitas berdasarkan analisa
proksimat dan van soest. Terdapat peningkatan bobot badan kambing setelah di berikan pakan
silase ransum komplit dengan peningkatan bobot badan rata-rata 110-208/ekor/hari. Penerapan
teknologi pembuatan silase ransum komplit setelah dilakukan evaluasi lebih lanjut hampir 85%
peternak kambing di Desa Pulokerto telah menerapkan teknologi pembuatan silase ransum
komplit secara mandiri. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah kualitas silase ransum komplit
yang di lakukan di Desa Pulokerto sangat baik berdasarkan uji organoleptic, kualitas nilai gizi
dan penerapan secara in vivo serta mampu diaplikasikan oleh peternak