IKESMA
Not a member yet
348 research outputs found
Sort by
POLA KONSUMSI PANGAN PENDUDUK USIA PRODUKTIF PADA MASA PANDEMI COVID-19
Pandemi COVID-19 telah mempengaruhi setiap lini kehidupan, termasuk pola konsumsi pangan. Sayangnya, perubahan yang terjadi dapat mengarah pada pola makan positif maupun negatif. Penelitian ini bertujuan untuk menelisik dampak pandemi COVID-19 terhadap pola makan. Jika ditemukan perubahan ke arah negatif dapat dilakukan antisipasi guna mencegah masalah kesehatan di kemudian hari. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Populasi penelitian ini yaitu penduduk usia produktif di Kota Tangerang Selatan dan didapatkan sampel sebanyak 133 responden. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan konsumsi makanan utama dan selingan, sayur dan buah, air putih, minuman rempah-rempah, suplemen, makanan ringan kemasan dan fast food serta penurunan konsumsi gorengan. Perubahan paling umum berupa peningkatan jumlah, ragam dan frekuensi konsumsi. Pengetahuan dan sikap gizi responden cenderung baik dan positif. Mayoritas responden kadang-kadang mempertimbangkan harga pangan dan mengalami peningkatan perilaku memasak. Sebanyak 51,9% responden rutin memantau berat badan dan 49,3% diantaranya mengalami kenaikan berat badan. Peningkatan konsumsi makanan ringan dan fast food dapat mengarah pada kenaikan berat badan. Ditambah lagi, konsumsi buah dan sayur yang belum mencukupi kebutuhan harian. Perlu ditemukan penyebab perubahan yang terjadi sehingga dapat dilakukan upaya guna mencegah masalah kesehatan di kemudian hari
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAYANAN ANTENATAL DI DAERAH PERDESAAN: STUDI KUALITATIF DI DUA PUSKEMAS KABUPATEN TRENGGALEK
Kematian ibu tetap menjadi masalah yang menakutkan bagi daerah-daerah di Indonesia termasuk Kabupaten Trenggalek. Pelayanan antenatal dapat meningkatkan status kesehatan ibu dan bayi baru lahir, sayangnya tingkat kunjungan antenatal belum mencapai target. Ada berbagai faktor yang menjadi kendala dalam implementasi sehingga mengakibatkan kinerja pelayanan antenatal belum optimal. Penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pelayanan antenatal di Puskesmas Kabupaten Trenggalek. Penelitian kualitatif di dua Puskesmas dilakukan dengan wawancara semi terstruktur terhadap kepala puskesmas, penanggungjawab poli kesehatan ibu dan anak, bidan. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi pelayanan antenatal: a) tenaga kesehatan, aspek kualitas telah memadai namun secara kuantitas belum terpenuhi; b) fasilitas penunjang, peralatan sesuai standar namun ada sebagian yang perlu diperbaiki; c) panduan pelayanan, standar operasional telah dibuat namun belum lengkap. Pelayanan antenatal belum sepenuhnya berjalan dengan baik karena kendala dari komponen input pelaksanaan program. Rekomendasi untuk meningkatkan pelayanan antenatal meliputi mempertimbangkan penambahan tenaga bidan melalui sistem kontrak, mengganti peralatan penunjang yang tidak berfungsi, dan memperbaharui panduan pelayanan antenatal
RELATIONSHIP BETWEEN HANDWASHING HABITS WITH DIARHEA INCIDENT IN CHILDREN UNDER TWO YEARS
Diarrhea in children under five based on diagnosis and symptom occurred in 18.5% of children in 2018 and 12.3% of children in 2013, indicating an increase. According to the health profile of Bojonegoro Regency of 2018, out of 33,667 diarrhea cases reported, 31,010 or 92.11% of them were treated. This study aims to analyze the relationship between handwashing practice, use of latrine and SPAL (sewerage) with diarrhea incidents in Bojonegoro Incidents. This study used observational study design with cross-sectional approach. Samples in this study were 63 toddlers spread across 4 villages taken using proportional random sampling technique. The collection of primary data was performed by interviewing and observing mothers that had toddlers. Chi square test method was used to determine the relationship between variables examined, where diarrhea occurred in children under five if p < α (α margin of error = 0.05). The results of the study conducted from December 27, 2019 to January 31, 2020 showed that there was a significant relationship between handwashing habit and diarrhea incidents in toddlers, with p=0.000. There was no significant relationship between latrine condition and diarrhea in toddlers, with p=0.808. Furthermore, there was no significant relationship between SPAL condition and diarrhea incidents in toddlers, with p=0.085. There was a significant relationship between handwashing habits in mothers that had children under two with diarrhea incidents
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP CLEANING SERVICE TERHADAP TINDAKAN PENGELOLAAN SAMPAH DI WILAYAH PERKANTORAN PROVINSI SULAWESI BARAT
Pengelolaan sampah merupakan upaya dalam mengurangi, mengumpulkan, memindahkan, menyimpan sementara, mengolah dan menimbun sampah. Pengelolaan yang selama ini terjadi adalah pengelolaan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah sedangkan masalah utama berasal dari sumber penghasil sampah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi perilaku (pengetahuan dan sikap) cleaning service terhadap tindakan pengelolaan sampah di wilayah perkantoran Provinsi Sulawesi Barat. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancang bangun cross sectional yang dilakukan di kawasan perkantoran Provinsi Sulawesi Barat. Sampel penelitian 59 orang yang diambil secara acak menggunakan simple random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata–rata penilaian terhadap variabel pengetahuan sebesar 25,2 (baik); sikap 46,5 (baik); dan tindakan 16,1 (baik). Hasil uji bivariat menunjukkan tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan tindakan pengelolaan sampah (p-value 0,76, r : 0,04) dan tidak ada hubungan antara sikap dengan tindakan pengelolaan sampah (p-value 0,23, r : 0,16). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman pengetahuan yang telah diketahui dan sikap yang ditunjukkan tentang pengelolaan sampah oleh responden tidak diaplikasikan dalam tindakannya saat bekerja
PERBEDAAN INDIVIDU SEBAGAI FAKTOR PENYEBAB STRES KERJA PADA TENAGA KESEHATAN AKIBAT PANDEMI COVID-19: NARRATIVE LITERATURE REVIEW
Coronavirus disease yang dikenal dengan sebutan COVID-19 telah merenggut jutaan nyawa di seluruh dunia. Tenaga kesehatan sebagai seseorang yang berperan penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dituntut untuk bisa melakukan pelayanan terpadu yang optimal bagi masyarakat. Tekanan atau tuntutan yang dirasakan oleh tenaga kesehatan akibat pandemi COVID-19 dapat mempengaruhi kesehatan mental tenaga kesehatan, salah satunya dapat menyebabkan stres kerja. Stres dapat terjadi salah satunya dipengaruhi oleh cara individu dalam merespon tekanan yang diperoleh di tempat kerjanya. Individu yang dapat mengendalikan tekanan dari luar dengan baik dapat terhindar dari stres. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan individu sebagai faktor penyebab stres kerja pada tenaga kesehatan akibat pandemi COVID-19. Jenis penelitian ini berupa narrative literature review dengan populasi jurnal sebanyak 113 artikel. Setelah, melalui proses screening, penilaian kualitas, ekstrasi data, dan kesesuaian dengan kriteria inklusi penelitian, maka diperoleh 16 artikel sebagai artikel rujukan yang dapat digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan terdapat 4 faktor perbedaan individu yang menyebabkan stres kerja pada tenaga kesehatan akibat pandemi COVID-19, yaitu persepsi negatif tentang COVID-19, pengalaman kerja yang kurang, rasa khawatir tentang COVID-19, seperti khawatir terinfeksi COVID-19 dan khawatir dapat menularkan COVID-19 pada kerabat/ keluarga terdekat, terakhir berupa dukungan sosial dari keluarga maupun rekan kerja yang rendah.Pemerintahan dan instansi terkait diharapkan dapat memperhatikan kesehatan mental tenaga kesehatan. Selain itu, tenaga kesehatan diharapkan tetap melakukan hal-hal positif yang dapat membangun semangat kerja selama masa pandemi COVID-19
KELUHAN PENDENGARAN DAN PEMETAAN KEBISINGAN PADA INDUSTRI PENGGERGAJIAN KAYU UD. MAYOA KABUPATEN JEMBER
Keluhan pendengaran, menurut banyak penelitian telah dinyatakan berkorelasi positif dengan kehilangan pendengaran. Kehilangan pendengaran merupakan penyebab kecacatan keempat tertinggi di dunia dan dapat disebabkan oleh paparan kebisingan di tempat kerja. Banyak penelitian mengungkapkan bahwa salah satu sektor pekerjaan dengan tingkat kebisingan tinggi di area kerjanya adalah pengolahan kayu. WHO merekomendasikan adanya tindakan identifikasi gangguan pendengaran beserta penyebabnya, dan menerapkan tindakan pencegahan untuk membatasi dampak merugikan yang ditimbulkan oleh paparan kebisingan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan keluhan pendengaran yang dialami pekerja dan memetakan intensitas kebisingan di tempat kerja industri penggergajian kayu UD. Mayoa Jember guna menentukan jenis alat pelindung telingan / pendengaran yang dibutuhkan oleh pekerja. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer yang didapatkan melalui wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan kepada seluruh pekerja yang berjumlah 32 orang. Observasi dilakukan dengan melakukan pengukuran intensitas kebisingan pada 139 titik pengukuran yang tersebar di seluruh area kerja. Pengolahan data untuk pembuatan peta sebaran kebisingan dilakukan dengan bantuan aplikasi Surfer ver.16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami keluhan pendengaran pada level yang tidak mengganggu aktifitas. Pemetaan intensitas kebisingan menunjukkan bahwa kebisingan yang terjadi pada saat jam kerja berkisar antara 73,8 – 105,2 dBA dan luas area dengan tingkat kebisingan di atas NAB adalah sekitar 500 m2. Intensitas pada saat jam istirahat berkisar antara 68,2 – 101,0 dBA dengan luas area dengan tingkat kebisingan di atas NAB adalah kurang dari 30 m2. APT yang direkomendasikan untuk tingkat kebisingan 86 - 95 dBA adalah sumbat telinga, untuk kebisingan 96 – 100 dBA adalah sumbat telinga/penutup telinga, sedangkan untuk kebisingan lebih dari 100 dBA adalah perlindungan ganda yakni sumbat telinga dan penutup telinga. Saran yang dapat diberikan kepada pengurus usaha adalah untuk melakuan redesain jam kerja atau melakukan rotasi kerja
GAMBARAN FAKTOR DERMATITIS KONTAK PADA KARYAWAN BAGIAN PRODUKSI DI PT. ARGAPURA INDONESIA TAHUN 2020
Penyakit kulit akibat kerja salah satunya adalah dermatitis kontak yang disebabkan oleh adanya kontak dengan bahan tertentu dari proses produksi di perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor dermatitis kontak pada karyawan di bagian produksi PT. Argapura Indonesia tahun 2020. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Populasi dalam penelitian ini merupakan karyawan pada bagian produksi di PT Argapura Indonesia sebanyak 40 orang. Sampel penelitian ini berjumlah 40 sampel pada karyawan bagian produksi dengan menggunakan metode total sampling. Penelitian ini menggunakan data primer yang didapat dari perusahaan dan data sekunder yang didapat dengan menggunakan alat ukur kuesioner online. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa karyawan dengan masa kerja lebih dari 3 tahun yang tidak mengalami dermatitis kontak sebesar 60%. Karyawan yang menangani bahan kimia kurang dari sama dengan 6 jam sebesar 67,5% tidak mengalami dermatitis kontak. Karyawan yang memiliki usia lebih dari sama dengan 30 tahun sebesar 60% tidak mengalami dermatitis kontak, dan karyawan yang menggunakan APD lengkap sebesar 60% tidak mengalami dermatitis kontak. PT. Argapura Indonesia harus melakukan peningkatan program training yang cukup untuk adaptasi karyawan baru untuk mengurangi kejadian dermatitis kontak akibat dari kurangnya pengalaman pekerja baru dalam menangani bahan kimia, pemberian training APD dan pembuatan rotasi kerja yang tepat untuk mengurangi lama kontak dengan bahan-bahan produksi yang menyebabkan dermatitis kontak dan pemberian sanksi tegas untuk kelalaian penggunaan APD
PERSEPSI PASIEN MENGENAI KETEPATAN TINDAKAN RUJUKAN PESERTA BPJS KESEHATAN PADA MASA PANDEMI DI PUSKESMAS TAHUN 2020
Angka rasio rujukan Puskesmas ke rumah sakit di beberapa daerah di Indonesia relatif tinggi dan belum memenuhi standar ideal yaitu 15%. Hal ini juga terjadi pada Puskesmas Jurangmangu di Tangerang Selatan. Penyebab terjadinya masalah rujukan yaitu pasien yang memang ingin untuk dirujuk hingga kurangnya bahan habis pakai dan obat-obatan di puskesmas. Ketepatan tindakan rujukan dapat diketahui salah satunya dari persepsi. Persepsi masyarakat mengenai ketepatan rujukan secara umum dapat diketahui dari pengalaman rujukan ke fasilitas kesehatan. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi pasien mengenai ketepatan tindakan rujukan peserta BPJS Kesehatan pada masa pandemi di Puskesmas Jurang Mangu. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 123 pasien peserta BPJS Kesehatan di Puskesmas Jurang Mangu yang pernah dirujuk. Analisis data menggunakan uji chi-square dengan confidence interval 95%. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara informasi tentang rujukan (p-value=0,001) dengan persepsi pasien mengenai ketepatan tindakan rujukan peserta BPJS Kesehatan pada masa pandemi. Sedangkan variabel pengetahuan, sikap tenaga kesehatan, dan ketersediaan sarana prasarana tidak memiliki hubungan yang signifikan. Untuk itu, pihak puskesmas diharapkan dapat melakukan kerja sama dengan BPJS Kesehatan dan kader kesehatan untuk sosialisasi terkait rujukan BPJS Kesehatan dan dapat menyediakan media informasi mengenai layanan rujukan untuk pasien
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN MANAJEMEN, PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP KEPATUHAN KARYAWAN PADA PROTOKOL PENCEGAHAN COVID 19 DI PT. ASURANSI SINARMAS JAKARTA
Kenaikan angka kasus COVID 19 dapat disebabkan karena faktor ketidak kapatuhan dalam menerapkan protokol kesehatan selama masa pandemi khususnya oleh para karyawan. Aktivitas bekerja di kantoran menyebabkan tingginya mobilitas dan interaksi sesama karyawan. Studi pendahuluan yang dilakukan di PT. Asuransi Sinarmas Jakarta ditemukan 68% karyawan belum patuh dalam melakukan pencegahan COVID 19 di tempat kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui variabel –variabel yang berhubungan dengan kepatuhan karyawan terhadap protokol kesehatan di PT. Asuransi Sinarmas Jakarta. Metode yang dipakai yaitu metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September - Desember 2020. Pengumpulan data primer dilakukan melalui google form dan disebarkan secara daring. Populasi pada penelitian ini adalah semua karyawan di PT. Asuransi Sinarmas Jakarta. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 98 karyawan dengan metode pengambilan sampel secara total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dengan persentase dan bivariat dengan uji Chi Square. Hasil menunjukan 30,6% karyawan tidak patuh pada tidakan pencegahan COVID 19 di tempat kerja. Variabel pengetahuan tentang COVID 19, sikap, dan dukungan manajemen perusahaan berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan karyawan dalam protokol pencegahan COVID-19 di tempat kerja
UJI KANDUNGAN PENCEMARAN TIMBAL PADA HASIL LAUT DI KABUPATEN BANYUWANGI
Pencemaran logam timbal berdampak bagi kesehatan manusia seperti kerusakan saat pembentukan eritrosit dan sifat logam berat yang akumulatif sehingga jika masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan efek jangka panjang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur kadar timbal pada makanan secara kuantitatif. Metodologi penelitian ini bersifat observasional deskriptif dimana peneliti menggunakan alat Rapid Test Kit Pb yang dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Lingkungan PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi pada tanggal 18 Februari 2020. Populasi penelitian ini adalah seluruh sampel berupa makanan jenis hasil laut dan makanan kaleng. Pengambilan sampel dilakukan secara acak pada 15 pedagang yang berada di pasar tradisional, tiap 1 pedagang diambil 1 sampel dengan menggunakan total sampling yaitu sebanyak 15 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 1 sampel yang mengandung timbal yaitu pada terasi udang yang memperoleh hasil test strip Pb dengan kadar 20 mg/l Pb2+ sedangkan 14 sampel lainnya masih berada dalam batas aman yaitu hasil test strip Pb dengan kadar 0 mg/1 Pb2+. Hasil Pb pada terasi udang melebihi batas maksimum yaitu sebesar 1,0 mg/kg sesuai dengan peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.00.06.1.52.4011 tahun 2009. Saran bagi pemerintah, bidang industri pangan dan konsumen diharapkan dapat bekerjasama untuk mencegah dampak negatif terhadap tubuh akibat logam timbal pada makanan