Jurnal HPJI
Not a member yet
175 research outputs found
Sort by
NILAI BATAS KEWAJARAN HARGA UNTUK TENDER PEKERJAAN KONTRUKSI KUALIFIKASI USAHA KECIL (STUDI KASUS PEMBANGUNAN JEMBATAN GANTUNG SUNGAI PISANG)
Abstract
Presidential Regulation of the Republic of Indonesia Number 12 of 2021 contains an increase in the ceiling limit for construction work for small businesses to fifteen billion rupiah. Meanwhile, bid prices with a value of less than 80% of the Owner Estimate (OE) continue to increase every year. Referring to the Regulations of the Government Goods/Services Procurement Policy Agency (LKPP), price fairness evaluation is only carried out for bids less than 80% of OE. This is interesting to study. The Sungai Pisang Suspension Bridge Construction Work, with an offer of 84.97% to the HPS, was used as the research sample. Data show that the tender winner resigned before the expiration of his bid guarantee period due to price increases which were influenced by global economic conditions. Based on an analysis of the main payment item (MPU), 3 items of work were found with bids of less than 80% of the OE, namely: (1) supply of steel piles, amounting to 76.81% of the OE, (2) supply of structural concrete Fc\u2725 MPa, of 72.34% of the OE, and (3) installation of steel frame bridges of 62.60% of the OE. This study shows that a bid of 84.97% of OE is declared unreasonable. In order to avoid similar risks, the reasonable price limit for small businesses in the Presidential Regulation derivative needs to be evaluated in a more comprehensive manner.
Keywords: small business; bid price limit; bid price; price fairness; main payment item
Abstrak
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2021 memuat kenaikan batasan pagu untuk pekerjaan kontruksi bagi usaha kecil menjadi lima belas milyar rupiah. Sementara itu, harga penawaran dengan nilai kurang dari 80% Harga Perkiraan Sendiri (HPS) terus meningkat setiap tahunnya. Mengacu Peraturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), evaluasi kewajaran harga hanya dilakukan untuk penawaran kurang dari 80% HPS. Hal ini menarik untuk dikaji. Pekerjaan Pembangunan Jembatan Gantung Sungai Pisang, dengan penawaran 84,97% terhadap HPS, digunakan sebagai sampel penelitian. Fakta menunjukkan bahwa pemenang tender mengundurkan diri sebelum habis masa jaminan penawarannya akibat kenaikan harga yang dipengaruh oleh kondisi ekonomi global. Berdasarkan analisis terhadap mata pembayaran utama (MPU), ditemukan 3 item pekerjaan dengan penawarannya kurang dari 80% HPS, yaitu: (1) penyediaan tiang pancang baja, sebesar 76,81% HPS, (2) penyediaan beton struktur Fc’25 MPa, sebesar 72,34% terhadap HPS, dan (3) pemasangan jembatan rangka baja sebesaar 62,60% HPS. Studi ini menunjukkan bahwa penawaran sebesar 84,97% HPS dinyatakan tidak wajar. Untuk menghindari risiko serupa, batas kewajaran harga untuk usaha kecil pada turunan Peraturan Presiden tersebut perlu dipertimbangkan lagi secara lebih komprehensif.
Kata-kata kunci: usaha kecil; batasan pagu; harga penawaran; kewajaran harga; mata pembayaran utam
DELIVERY SYSTEM PADA RENCANA PEMBANGUNAN JALAN TOL JANGKA PANJANG
Abstract
The high cost of logistics in Indonesia shows the low connectivity formed by the road network and by other modes of transportation. To improve connectivity, the Government is strengthening toll road infrastructure, with a target of reducing travel time on the island\u27s main causeway to 1.9 hours per 100 km, and new toll roads being built and/or operating for 2500 km. Currently, about 27% of toll roads already built require Government support, both in the form of construction support and state capital participation, with the largest proportion on the island of Sumatera. In the long-term development plan, up to 2030, there are 36% of toll roads indicated to require Government support, the majority of which are located on the island of Sumatera. This study discusses the delivery system for the planned toll road construction until 2030. The results show that up to 2030, there are around 36% of toll roads that will be built requiring Government support.
Keywords: toll road network; toll roads; connectivity; Government support; delivery system
Abstrak
Tingginya biaya logistik di Indonesia menunjukkan rendahnya konektivitas yang dibentuk oleh jaringan jalan maupun oleh moda transportasi lainnya. Untuk meningkatkan konektivitas, Pemerintah memperkuat infra-struktur jalan tol, dengan target mengurangi waktu tempuh di jalan lintas utama pulau menjadi 1,9 jam per 100 km, dan jalan tol baru yang terbangun dan/atau beroperasi sepanjang 2500 km. Saat ini, sekitar 27% ruas jalan tol yang dibangun, membutuhkan dukungan Pemerintah, baik berupa dukungan konstruksi maupun penyertaan modal negara, dengan proporsi terbesar berada di Pulau Sumatera. Dalam rencana pem-bangunan jangka panjang, sampai dengan tahun 2030, terdapat 36% ruas jalan tol yang terindikasi membutuhkan dukungan Pemerintah, yang mayoritas berada pada Pulau Sumatera. Pada studi ini dibahas delivery system pada rencana pembangunan jalan tol hingga tahun 2030. Studi ini menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 2030, terdapat sekitar 36% ruas jalan tol yang akan dibangun membutuhkan dukungan pemerintah.
Kata-kata kunci: jaringan jalan tol; ruas jalan tol; konektivitas; dukungan Pemerintah; delivery syste
OPTIMASI PENGECORAN STAYED CABLE BETON JEMBATAN PULAU BALANG
Abstract Balang Island Bridge is the second longest cable-stayed bridge in Indonesia. This bridge is planned to have 4 traffic lanes with a total length of 971 m. This paper presents the experience of building the main deck of the Pulau Balang Bridge, starting from the challenges of work and optimization, so that the work sequence on this bridge is the fastest in Indonesia. Concrete job mix, equipment arrangement, form traveler design, and detailed calculations on the construction sequence are critical to the success of this project. This study shows that the optimization carried out in the construction of this bridge can shorten the work cycle, from 14 days to 9 days per segment. Keywords: bridge; cable-stayed; optimization; construction sequence; work cycle. Abstrak Jembatan Pulau Balang merupakan jembatan stayed cable terpanjang kedua di Indonesia. Jembatan ini direncanakan mempunyai 4 lajur lalu lintas dengan panjang total 971 m. Pada makalah ini disajikan pengalaman pelaksanaan pengecoran main deck Jembatan Pulau Balang, dimulai dari tantangan pekerjaan dan optimasi yang dilakukan, sehingga menjadikannya siklus kerja di jembatan inni menjadi yang tercepat Indonesia. Job mix beton, penempatan alat, desain form traveler, dan perhitungan detail pada urutan konstruksi menjadi kunci suksesnya pekerjaan ini. Studi ini menunjukkan bahwa optimasi yang dilakukan pada pembangunan jembatan ini dapat mempersingkat siklus pekerjaan, dari 14 hari menjadi 9 hari per segmen. Kata-kata kunci: jembatan; jembatan stayed cable; optimasi; urutan kosntruksi; siklus pekerjaan
KESESUAIAN PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR PADA PENGEMBANGAN KORIDOR EKONOMI INDONESIA
Abstract The Indonesian Economic Corridor is 1 of the 3 pillars in the Master Plan for the Acceleration and Expansion of Indonesia\u27s Economic Development 2011–2025. This initiative applies the concept of a modern corridor, which divides Indonesia\u27s territory into 6 economic corridors, according to the competitive advantages of each region. This study aims to compare whether the infrastructure planned and built by the Government for each economic corridor is in-line with the expectations of the people who live in that economic corridor. In this study, a survey was conducted to determine the public\u27s perception of the infrastructure needed for the development of an economic corridor. The results are then compared with the infrastructure provision plan that has been and will be developed by the Government. The study shows that there are differences between the infrastructure provided by the Government and those needed by the people in each corridor. Kalimantan Corridor shows the best proportion of supply-demand suitability which provided 3 out of 5 required infrastructures.Overall, there are infrastructures, which are commonly needed to ensure the growth of economic corridor, namely a well-connected transportation backbone, availability of alternative transportation modes and their inter-modal facility, ports with good services, and the availability of high-speed internet networks. Corridors that can be selected as a model for corridor development are the Java and the Bali-NTB-NTT Corridors, because these corridors have a high number of infrastructure suitability and have all the infrastructure needed by each corri-dor. Keywords: economic corridor; infrastructure; infrastructure provision; infrastructure needs; public perception. Abstrak Koridor Ekonomi Indonesia adalah 1 dari 3 pilar dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011–2025. Prakarsa ini menerapkan konsep koridor modern, yang membagi wilayah Indonesia menjadi 6 koridor ekonomi, sesuai dengan keunggulan masing-masing wilayahnya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan apakah infrastruktur yang direncanakan dan dibangun oleh pemerintah untuk setiap koridor ekonomi sesuai dengan harapan oleh masyarakat yang ada di koridor ekonomi tersebut. Pada penelitian ini dilakukan survei untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang infrasruktur yang dibutuhkan untuk pengembangan suatu koridor ekonomi. Hasil survei ini selanjutnya dibandingkan dengan rencana penyediaan infrastruktur yang telah dan akan dikembangkan oleh pemerintah. Hasil studi ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara infrastruktur yang direncanakan oleh pemerintah dan yang dibutuhkan oleh masyarakat di setiap koridor. Proporsi kesesuaian antara pasokan dan permintaan terbaik terdapat di Koridor Kalimantan, yang mendapatkan pasokan pemerintah berupa 3 dari 5 infrastruktur yang dibutuhkan. Secara keseluruhan, terdapat kesamaan infrastruktur yang benar-benar diperlukan untuk pengembangan suatu koridor ekonomi, yaitu backbone transportasi yang terkoneksi baik, ketersediaan moda transportasi alternatif beserta fasilitas integrasinya, pelabuhan dengan pelayanan yang baik, serta ketersediaan jaringan internet dengan kecepatan tinggi. Koridor yang dapat dipilih sebagai model pengembangan koridor adalah Koridor Jawa dan Koridor Bali-NTB-NTT, karena memiliki jumlah kesesuaian infrastruktur yang tinggi dan memiliki seluruh infrastruktur yang sangat dibutuhkan oleh setiap koridor. Kata-kata kunci: koridor ekonomi; infrastruktur; penyediaan infrastruktur; kebutuhan infrastruktur; persepsi masyarakat.KESESUAIAN PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR PADA PENGEMBANGAN KORIDOR EKONOMI INDONESI
CATATAN TEKNIS TERHADAP STANDAR KRITERIA PEKERJAAN BETON POST-TENSION BERDASARKAN STRESSING RECORD DI JEMBATAN PULAU BALANG DAN JEMBATAN TELUK KENDARI
Abstract Prestressed concrete technology has been growing, both in terms of materials and in terms of equipment technology. From an implementation perspective, it is very important to know the actual stress acting on the tendon, and elongation is generally used to verify the actual stress. However, the calculation of elongation using several assumptions causes differences between theoretical elongation and actual elongation measured in the field. This paper presents the elongation behavior for several types of tendons obtained from the construction of the Pulau Balang Bridge and the Teluk Kendari Bridge. This study shows that for tendons with measured elongations exceed the permitted elongation value, the actual force is verified by lift-off using a mono-jack. Keywords: prestressed concrete; theoretical elongation; measured elongations; bridge; tendon. Abstrak Teknologi beton prategang telah semakin berkembang, baik dari sisi material maupun dari sisi teknologi alat. Dari sisi pelaksanaan, sangat penting untuk diketahui tegangan aktual yang bekerja pada tendon, dan elongasi umumnya digunakan untuk memverifikasi tegangan aktual tersebut. Tetapi perhitungan elongasi yang meng-gunakan beberapa asumsi menyebabkan sering terjadi perbedaan antara elongasi teoritis dan elongasi hasil pengukuran di lapangan. Makalah ini menyajikan perilaku elongasi untuk beberapa jenis tendon yang didapat dari pembangunan Jembatan Pulau Balang dan Jembatan Teluk Kendari. Studi ini menunjukkan bahwa untuk tendon dengan elongasi aktual yang diukur di lapangan melebihi nilai yang disyaratkan, gaya yang bekerja diverifikasi melalui lift-off dengan menggunakan mono-jack. Kata-kata kunci: beton prategang; elongasi teoritis; elongasi hasil pengkuran; jembatan; tendon
TINGKAT KEPENTINGAN DAN KUALITAS FASILITAS PEJALAN KAKI DAN KORELASINYA TERHADAP WALKABILITY PADA KAWASAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT DI JAKARTA
Abstract
The development of the Transit Oriented Development area is carried out to reduce the use of private vehicles and encourage people to walk and use public transportation. The location of this study is the Dukuh Atas area, which is a pilot project for the development of Transit Oriented Development in Jakarta. The purpose of this study is to identify the importance and quality of pedestrian facilities and to determine the correlation of 4 aspects that affect walkability. This study shows that there is a significant correlation between the quality of walkability and the 4 aspects studied, namely the aspect of accessibility, the aspect of supporting facilities, the aspect of security and safety, and the aspect of comfort. There are 4 parameters that are considered important and have high performance, namely pedestrian conflicts, sidewalk availability, crosswalk safety, and facilities for people with disabilities.
Keywords: transit oriented development; pedestrian; walkability; private vehicles; public transportation
Abstrak
Pengembangan kawasan Transit Oriented Development dilakukan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi serta mendorong orang untuk berjalan kaki dan menggunakan kendaraan umum. Lokasi studi ini adalah Kawasan Dukuh Atas, yang merupakan proyek percontohan pengembangan Transit Oriented Development Jakarta. Tujuan studi ini adalah mengidentifikasi tingkat kepentingan dan kualitas fasilitas pejalan kaki dan menentukan korelasi 4 aspek yang memengaruhi walkability. Studi ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara kualitas walkability dengan keempat aspek yang dikaji, yaitu aspek aksesibilitas, aspek fasilitas pendukung, aspek keamanan dan keselamatan, dan aspek kenyamanan. Terdapat 4 parameter yang dianggap penting dan memiliki kinerja tinggi, yaitu konflik pejalan kaki, ketersediaan trotoar, keselamatan penyeberangan, dan fasilitas penyandang disabilitas.
Kata-kata kunci: transit oriented development; pejalan kaki; walkability; kendaraan pribadi; kendaraan umu
KONTROL GEOMETRI MELALUI PENYETELAN KABEL PADA JEMBATAN BERUJI KABEL
Abstract
Geometry control is an important activity in the implementation of the stagging construction of bridges, including the construction of a cable-tested bridge. Compliance with the minimum requirements of bridge design criteria must be considered at every stage. This is intended to ensure that construction failures do not occur during the construction period until the operational stage. In this study, an analytical method is proposed that can be used to determine the magnitude of the initial pretension on the stayed cable, which can give results that reflect the effectiveness of the cable support force, as a function of the sine of the angle between the stayed cable and the bridge deck. The method is based on the approach of multiple span beams. The multi span beam approach is then used in the backward analysis scheme at an early phase to obtain the displacement, internal forces, and stresses targets of the bridge structural elements at each stage of construction. The application of the multi span beam approach offers convenience in the calculation process, which does not require an iteration process and does not depend on the features of the software used, making it easier the designer of cable stayed bridges to optimize the model of cable stayed bridges by cable tuning in each stayed cable.
Keywords: geometry control; bridge; cable stayed bridge; multi span beam
Abstrak
Kontrol geometri merupakan suatu kegiatan yang penting pada pelaksanaan konstruksi bertahap suatu jembatan, termasuk pada pembangunan jembatan beruji kabel. Pemenuhan terhadap persyaratan minimum perancangan jembatan harus diperhatikan pada setiap tahapannya. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin tidak terjadinya kegagalan konstruksi selama masa konstruksi hingga pada tahap operasionalnya. Pada studi ini diusulkan metode analisis yang dapat digunakan untuk menentukan besarnya pemberian gaya tarikan awal pada ruji kabel, yang dapat memberi hasil yang mencerminkan efektivitas gaya tumpu kabel, sebagai fungsi sinus sudut antara ruji kabel dan dek jembatan. Metode tersebut didasarkan pada pendekatan mengenai balok bentang jamak. Pendekatan balok bentang jamak tersebut selanjutnya digunakan pada skema analisis ke belakang pada tahap awal untuk mendapatkan target perpindahan, gaya dalam, dan tegangan elemen struktur jembatan di setiap tahap konstruksi. Aplikasi pendekatan balok bentang jamak menawarkan kemudahan dalam proses perhitungannya, yang mana tidak diperlukan adanya proses iterasi dan tidak bergantung pada fitur perangkat-perangkat lunak yang dipakai, sehingga memudahkan perancang jembatan beruji kabel untuk dapat lebih leluasa melakukan optimasi terhadap model struktur jembatan beruji kabel melalui penyetelan masing-masing ruji kabel.
Kata-kata kunci: kontrol geometri; jembatan; jembatan beruji kabel; balok bentang jama
UJI LAIK FUNGSI JALAN RUAS JALAN NASIONAL BATAS KOTA MANADO-KOTA TOMOHON STA 7+770-STA 26+966
Abstract
The condition of a road segment that meets the technical requirements and administrative requirements indicates that the road segment meets the road function worthiness criteria. This study aims to review the road safety aspect from the results of the road function worthiness test and is carried out using a qualitative method based on the procedures for implementing the road function worthiness test, in accordance with the Regulation of the Minister of Public Works Number 11/PRT/M/2010. The data obtained from the test results and field surveys are processed to obtain roadworthiness categories, with reference to the 6 technical components of the road, namely road geometry, road pavement structures, complementary buildings, road sections, traffic engineering management, and road equipment. The Manado-Tomohon City Boundary National Road was chosen as the object observed in this study. The purpose of this study was to analyze the level of road function worthiness and the repairs needed to make the road feasible based on the criteria contained in the Road Functional Worthiness Test. This study shows that the observed road section, namely the Manado City-Tomohon City Boundary road section is included in the conditional function-worthy category, which requires some technical improvements. Technical improvements that must be fulfilled include routine maintenance and procurement of road components that do not yet exist, so that the Manado City-Tomohon City Boundary road can actually become a functional road.
Keywords: road; road technical standards; road geometry; road pavement; traffic
Abstrak
Kondisi suatu ruas jalan yang memenuhi persyaratan teknis dan persyaratan administratif menunjukkan bahwa ruas jalan tersebut memenuhi kriteria laik fungsi jalan. Studi ini bertujuan untuk meninjau aspek keselamatan jalan dari hasil uji laik fungsi jalan dan dilaksanakan dengan menggunakan metode kualitatif berdasarkan tata cara pelaksanaan uji laik fungsi jalan, sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11/PRT/M/2010. Data yang diperoleh dari hasil uji dan survei lapangan diolah untuk mendapatkan kategori kelaikan jalan, dengan mengacu pada 6 komponen teknis jalan, yaitu geometrik jalan, struktur perkerasan jalan, bangunan pelengkap, bagian jalan, manajemen rekasaya lalu lintas, dan perlengkapan jalan. Ruas Jalan Nasional Batas Kota Manado-Kota Tomohon dipilih sebagai obyek yang dikaji pada penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kelaikan fungsi jalan serta perbaikan yang diperlukan agar jalan menjadi laik berdasarkan kriteria yang terdapat pada Uji Laik Fungsi Jalan. Studi ini menunjukkan bahwa ruas jalan yang diamati, yaitu ruas jalan Batas Kota Manado-Kota Tomohon termasuk dalam kategori laik fungsi bersyarat, yang memerlukan beberapa perbaikan teknis. Perbaikan teknis yang harus dipenuhi meliputi pemeliharaan rutin dan pengadaan komponen jalan yang belum ada, agar ruas jalan Batas Kota Manado-Kota Tomohon benar-benar dapat menjadi jalan yang laik fungsi.
Kata-kata kunci: jalan; standar teknis jalan; geometrik jalan; perkerasan jalan; lalu linta
PENGARUH KEPADATAN CAMPURAN BERASPAL TERHADAP KERUSAKAN PERKERASAN LENTUR SELAMA MASA PELAYANAN
Abstract
Inspection of the quality of the asphalt pavement layer is carried out by measuring the dimensions of the pavement, namely length, width, and thickness, and by determining the density of the pavement layer. In the implementation of road construction or improvement, it is often found that the quantity and quality of the asphalt mixture is not in accordance with the specifications used. Asphalt pavement layers with thickness and density according to standards tend to reach the design service life. This study aims to identify the effect of the density level of the asphalt mixture on the damage to the asphalt surface layer during the service period, taking into account the voids in the mixture and the level of road damage, which were determined using the Pavement Condition Index method. This study shows that the voids in the mix of pavement surface layer increase after 2 years of service, and the increase exceeds the required value. Changes in the voids in the mixture affect the Pavement Condition Index of the pavement. The Pavement Condition Index value decreases due to the increase in voids in the mixture.
Keywords: asphalt pavement; road; air voids; asphalt mixture; Pavement Condition Index
Abstrak
Pemeriksaan kualitas lapis perkerasan beraspal dilakukan dengan mengukur dimensi perkerasan, yaitu panjang, lebar, dan tebal, serta dengan menentukan kepadatan lapis perkerasan. Pada pelaksanaan pembangunan atau peningkatan jalan, sering ditemukan kuantitas maupun kualitas campuran beraspal yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang digunakan. Lapis perkerasan beraspal dengan ketebalan dan tingkat kepadatan yang sesuai standar cenderung dapat mencapai masa pelayanan rencana. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi penga-ruh tingkat kepadatan campuran beraspal terhadap kerusakan lapis permukaan beraspal selama masa pelayanan, dengan memperhitungkan rongga dalam campuran dan tingkat kerusakan jalan, yang ditentukan dengan menggunakan metode Pavement Condition Index. Studi ini menunjukkan bahwa rongga dalam campuran lapis permukaan perkerasan meningkat setelah 2 tahun masa pelayanan, dan peningkatan tersebut melebihi nilai yang disyaratkan. Perubahan rongga dalam campuran tersebut memengaruhi Pavement Condition Index perke-rasan jalan. Nilai Pavement Condition Index menurun akibat meningkatnya rongga dalam campuran.
Kata-kata kunci: perkerasan beraspal; jalan; rongga udara; campuran beraspal; Pavement Condition Inde
PEMASANGAN JEMBATAN GIRDER BAJA TRANSYOGI MENGGUNAKAN INCREMENTAL LAUNCHING METHOD DI PROYEK JALAN TOL ELEVATED CIMANGGIS–CIBITUNG, STA +28.600–STA +28.800
Abstract
The Transyogi Bridge is a steel bridge that connects the Cimanggis-Cibitung Toll Road. This bridge consists of 2 units of a series of steel tub girders on pier 37-pier 38-pier 39, which crosses the Cikeas river, with the lengths of the bridges being 57 m and 65 m, respectively. This study discusses the basis for choosing the method of installing a steel tub girder bridge using the incremental launching method. This method is used to overcome the limitations of field conditions, due to the presence of high-voltage overhead lines, gas pipeline crossings, and river crossings on the bridge installation route. This study shows that the use of incremental launching method is very appropriate compared to using other methods.
Keywords: bridge; steel bridge; bridge installation; incremental launching method
Abstrak
Jembatan Transyogi merupakan jembatan baja yang menghubungkan Jalan Tol Cimanggis–Cibitung. Jembatan ini terdiri atas 2 unit rangkaian steel tub girder pada pier 37-pier 38-pier 39, yang melintas di atas sungai Cikeas, dengan panjang masing-masing jembatan adalah 57 m dan 65 m. Pada studi ini dibahas dasar pemilihan metode pemasangan jembatan steel tub girder menggunakan incremental launching method. Metode ini digunakan untuk mengatasi batasan kondisi lapangan, karena adanya saluran udara tegangan tinggi, crossing pipa gas, dan crossing sungai pada jalur pemasangan jembatan. Studi ini menunjukkan bahwa penggunaan incremental launching method ini sangat tepat dibandingkan dengan menggunakan metode-metode yang lain.
Kata-kata kunci: jembatan; jembatan baja; pemasangan jembatan; incremental launching metho