SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    2650 research outputs found

    MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DENGAN MEMANFAATKAN MEDIA SKETCHUP DALAM MENGGAMBAR PERSPEKTIF KELAS X MULTIMEDIA 3 SMK NEGERI 2 SINGOSARI MALANG

    No full text
    MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DENGAN MEMANFAATKAN MEDIA SKETCHUP DALAM MENGGAMBAR PERSPEKTIF KELAS X MULTIMEDIA 3 SMK NEGERI 2 SINGOSARI MALANGARTIKEL OLEH ANTONIUS DWI GUNAWANNIM 150251604334 UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS SASTRA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SENI RUPA APRIL 2019LEMBAR PENGESAHAN ARTIKEL ILMIAHNama  : Antonius Dwi GunawanNIM  : 150251604334Prodi/jurusan  : Pendidikan Seni Rupa/Seni dan DesainTelah menyelesainkan artikel ilmiah dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar dengan Memanfaatkan Media Sketchup dalam Menggambar Perspektif Kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 2 Singosari Malang” Malang, 28 April 2019Penulis,  Antonius Dwi GunawanNIM. 150251604334 MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DENGAN MEMANFAATKAN MEDIA SKETCHUP DALAM MENGGAMBAR PERSPEKTIF KELAS X MULTIMEDIA 3 SMK NEGERI 2 SINGOSARI MALANGAntonius Dwi Gunawan1, Tjitjik Sriwardhani2, Lisa Sidyawati3 Universitas Negeri MalangEmail : [email protected] Abstrak: Untuk meningkatkan minat dan motivasi peserta didik dalam pembelajaran menggambar perspektif., guru mengupayakan berbagai cara baik dari penyampaian materi, sarana dan situasi pembelajaran. Agar terjadi suasana belajar menjadi menarik, menyenangkan dan bermakna maka diperlukan media berbasis teknologi dengan memanfaatkan SketchUp sebagai sarana guru dalam menjelaskan materi gambar perspektif serta memberi contoh gambaran bangun ruang dengan teknik perspektif kepada peserta didik.Tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan peningkatan hasil belajar dengan memanfaatkan media SketchUp dalam menggambar perspektif. Untuk itu dirancang pembelajaran dengan memanfaatkan media SketchUp dalam pembelajaran menggambar perspektif melalui Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 4 tahap, yaitu Perencanaan, Tindakan, Observasi, dan Refleksi. Tahap yang dilakukan dalam Penelitian Tindakan Kelas diambil dari pernyataan Arikunto Suharsimi. Pengamatan dilakukan bersama dengan observasi untuk mengamati aktivitas guru, peserta didik, sarana dan situasi pembelajaran. Perencanaan merupakan penataan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran di kelas, mulai dari pemberian materi, aktivitas guru, dan pemberian tugas kepada peserta didik. Dalam penelitian, tindakan merupakan kegiatan yang dilakukan guru sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Tahap refleksi merupakan tahap menganalisa dan penyimpulan terhadap hasil observasi. Hasil refleksi digunakan untuk pertimbangan perbaikan pembelajaran pada siklus berikutnya sehingga terjadi peningkatan hasil belajar peserta didik dengan memanfaatkan media SketchUp dalam menggambar perspektif kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 2 Singosari, Malang.Hasil yang didapat pada siklus I, jumlah rata-rata hasil peserta didik 47,8 dengan ketuntasan 16 peserta didik, dan presentase ketuntasan belajar 45,71%. Kurangnya hasil belajar yang didapat oleh peserta didik dalam proses berkarya seni rupa meliputi:(a) ketidaklengkapan beberapa peserta didik dalam membawa alat dan bahan yang dibutuhkan dalam menggambar perspektif,(b) kurang aktif peserta didik dalam kegiatan pembelajaran,(c) ketepatan prosedur peserta didik kurang,(d) kurang disiplinnya peserta didik dalam mengumpulkan tugas.Dalam hasil belajar gambar perspektif meliputi:(a) Sketsa yang dihasilkan beberapa peserta didik belum memenuhi syarat,(b) Teknik yang digunakan beberapa peserta didik masih kurang tepat,(c) kerapian peserta didik dalam menggambar perspektif kurang. Hasil yang didapat pada siklus II, jumlah rata-rata hasil peserta didik 70,4 dengan ketuntasan 24 peserta didik, dan presentase ketuntasan belajar 70,58%.Peningkatan hasil belajar yang didapat oleh peserta didik dalam proses berkarya seni rupa meliputi:(a) kelengkapan beberapa peserta didik dalam membawa alat dan bahan yang dibutuhkan dalam menggambar perspektif,(b) peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran,(c) ketepatan prosedur peserta didik meningkat,(d) peserta didik mengumpulkan tugas tepat waktu.Dalam hasil belajar gambar perspektif meliputi:(a) Sketsa yang dihasilkan peserta didik memenuhi syarat,(b) Teknik yang digunakan peserta didik baik dan benar,(c) kerapian peserta didik dalam menggambar perspektif meningkat. Peningkatan terjadi sebesar 25%. Disimpulkan bahwa pemafaatan media SketchUp dapat meningkatkan hasil belajar dalam menggambar perspektif. Kata Kunci: hasil belajar, media SketchUp, perspektif, SMKPembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang paling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran (Hamalik, 2008:57). Terdapat ahli lain yang berpendapat tentang arti pembelajaran bahwa proses belajar mengajar hakekatnya adalah proses komunikasi, penyampaian pesan dari pengantar ke penerima (Daryanto, 2013:5).Dengan demikian, pembelajaran merupakan suatu langkah belajar yang melibatkan banyak aspek berupa tindakan timbal balik antara satu unsur dengan unsur lainnya. Dengan adanya hubungan timbal balik ini akan terdapat proses belajar berupa komunikasi. Proses belajar ini banyak dijumpai dalam pembelajaran di sekolah berupa pemberian materi dari pengajar kepada peserta didik.Dalam pembelajaran seni rupa guru mengenalkan tentang tingkatan luas dari sebuah pengalaman dan mengenalkan bagaimana sebuah kemampuan seni diasah sehingga siswa mampu menggunakan pengalaman artistiknya untuk mengekspresikan dirinya sendiri (Jazuli, 2008:135). Aspek umum dalam pembelajaran seni adalah menggambarkan pengalaman keindahan lewat karya seni sebagai sistem simbol yang diinterpretasikan menggunakan bahasa tertentu beserta struktur dan makna bahasa tertentu (Jazuli, 2008:135).Sehingga dapat diuraikan bahwa unsur dalam pembelajaran seni di sekolah tidak dapatlah dilakukan sendiri oleh peserta didik, maka diperlukannya bimbingan dari guru untuk membentuk pengalaman artistik seni dalam diri peserta didik. Dengan adanya pembelajaran seni ini pula manusia dapat belajar menuangkan apa yang mereka lihat dalam kehidupan nyata kedalam bentuk karya seni rupa sesuai kerakteristik seni yang dimilikinya.Dalam pembelajaran seni rupa khususnya dalam sajian menggambar perspektif diajarkan cara pandang terhadap suatu benda nyata yang dapat digambarkan dalam berkarya seni rupa. Sesuai dengan kompetensi dasar pada kurikulum, peserta didik dapat berkreasi karya dua dimensi berdasarkan imajinasi dengan berbagai media dan teknik. Penilaian yang dilakukan meliputi ketepatan menggambar perspektif sesuai pengajaran yang dilakukan guru.Dalam pembelajarannya gambar perspektif memiliki manfaat. Manfaat teknik menggambar perspektif adalah agar benda yang digambar dapat dengan mudah dipahami oleh orang lain. Selain itu, manfaat menggambar perspektif adalah menciptakan kesan-kesan yang mendalam terhadap gambar tersebut (Sulastianto, 2008:13). Dalam pembelajaran seni sesuai dengan manfaat yang telah dipaparkan, maka pembelajaran gambar perspektif memiliki tujuan  agar peserta didik mengerti tentang pengertian gambar perspektif, peserta didik dapat merancang karya seni rupa dengan teknik perspektif, dan juga peserta didik dapat membuat karya seni rupa dengan teknik perspektif. Tujuan pembelajaran di atas sesuai dengan pedoman pada buku pembelajaran seni rupa kelas XII.Dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dewasa ini bermunculan berbagai aplikasi program komputer seperti Autocad, 3DMax, atau program semacamnya yang dapat membuat desain 3D. Adanya program tersebut tidak berarti menggambar secara manual di dalam mata pelajaran Seni Rupa khususnya menggambar perspektif sudah tidak dibutuhkan. Dalam mendesain sebuah gambar perspektif juga dibutuhkan kemampuan teknik dasar menggambar perspektif secara manual, hal tersebut merupakan dasar yang perlu dikuasai peserta didik.Dari hasil observasi dan pengamatan, dalam pembelajaran seni rupa berupa materi perspektif di kelas X Multimedia 3 sangatlah kurang dalam penyampaian materi gambar perspektif serta media pembelajaran yang digunakan guru. Dapat diketahui dari hasil wawancara dengan guru sebelum dilakukan tindakan penelitian. Berdasarkan penuturan dari guru, pengajaran yang dilakukan dalam kelas masih menggunakan media pembelajaran dengan menggunakan media papan tulis, sehingga peserta didik sulit memahami materi gambar perspektif yang diberikan oleh guru. Faktor lain yang muncul adalah membutuhkan waktu mengajar yang lebih jika peserta didik tidak memahami materi gambar perspektif yang diberikan. Guru juga ingin memberikan pembelajaran yang menarik dan berbeda, sehingga peserta didik menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Diharapkan dengan memanfaatkan media SketchUp dalam menggambar perspektif kelas X Multimedia 3, peserta didik memahami materi gambar perspektif yang diberikan guru serta menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran sehinggan terjadi peningkatan hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan guru dan peneliti.Sejalan seperti yang diungkapkan dalam kurikulum 2013 dalam hal ini proses belajar mengajar Seni Rupa selalu mengolah, menalar, menyaji dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. Oleh karena itu penggunaan SketchUp dapat mendukung proses pembelajaran tersebut.Google SketchUp merupakan program grafis yang sangat andal untuk membuat desain dengan tampilan 3D. Program ini sangat ringan dalam pengoperasian dibandingkan dengan program-program grafis lainnya (Manullag, 2016:1). Google SketchUp merupakan program grafis yang sangat ringan namun andal untuk pembuatan desain dalam format 3 dimensi. Program ini seakan menjadi jawaban untuk menghasilkan desain dengan tampilan 3 dimensi yang cantik sekaligus mudah dalam pengoperasian. Semua perintah kerja sangat mudah dipahami. (Manullag, 2015:1).Pemilihan salah satu software 3D yaitu SketchUp sebagai alternatif media pembelajaran dalam pengajaran materi gambar perspektif di kelas X Multimedia 3 yang digunakan guru dikarenakan software ini memiliki keunggulan seperti penampilan gambar yang ringan sehingga peserta didik dapat melihat benda yang dicontohkan dengan nyata, pengoperasian yang mudah sehingga guru dapat menjelaskan dengan benar dan tepat.Berdasarkan latar belakang inilah penulis bersama dengan guru melakukan Penelitian Tindakan Kelas yang ingin meningkatkan kualitas pembelajaran dengan penerapan SketchUp pada pembelajaran Seni Rupa dalam menggambar perspektif untuk peserta didik kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 2 Singosari, Malang. METODEPenelitian ini menggunakan penelitian tindakan tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang memerlukan tindakan untuk menanggulangi masalah dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan dalam kawasan kelas atau sekolah dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran. Tujuan dari penelitian tindakan ini mendiskripsikan pemanfaatan media pembelajaran SketchUp pada pembelajaran gambar perspektif  dan juga peningkatan hasil belajar gambar perspektif di kelas X Multimedia 3 SMK Negeri 2 Singosari.Seperti tujuan dari PTK tindakan ini adalah untuk memperbaiki nilai yang didapat peserta didik selama proses pembelajaran sebelumnya. Untuk memperbaiki nilai dalam proses penelitian tindakan kelas ini terdapat unsur mulai dari perencanaan tindakan, melakukan tindakan sesuai rencana, mendapatkan hasil yang didapat setelah tindakan dan memaparkan serta merefleksikan kegiatan yang telah terjadi sebelumnya.Model Penelitian Tindakan Kelas yang digunakan peneliti merupakan Penelitian dari Arikunto. Dimana tindakan pada setiap siklus yang dilakukan diamati dan diteliti secara mendalam, sehingga dibutuhkan suatu model untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Dalam penelitian yang dilakukan sesuai model penelitian milik Arikunto, di setiap siklus terdapat tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan juga refleksi. Siklus yang dilakukan dalam penelitian ini terjadi sebanyak dua kali dengan pertemuan sebanyak dua kali dalam setiap siklus yang dijalani. HASIL DAN PEMBAHASANHasil penelitian penerapan media pembelajaran SketchUp ini menggunakan dua siklus. Berikut paparan data hasil penelitian penerapan media pembelajaran SketchUp. Paparan Data Siklus I1) Tahap Perencanaan IPada tahap perencanaan guru bersama dengan peneliti membuat Rancangan Pengajaran Pembelajaran (RPP) mengenai pembelajaran gambar perspektif dengan memanfaatkan media SketchUp sebagai cara baru bagi guru dalam menjelaskan materi kepada peserta didik yang sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator yang hendak dicapai. Sesuai dengan kompetensi dasar pada aspek pengetahuan yang berisikan mengevaluasi konsep, unsur, prinsip, bahan, dan teknik dalam berkarya seni rupa, maka guru akan menjelaskan materi perspektif dengan media SketchUp yang dihubungkan dengan kompetensi dasar yang dibagi menjadi beberapa indikator. Indikator yang dicapai yaitu peserta didik mampu menjelaskan konsep, unsur, prinsip, bahan dan teknik dalam berkarya seni rupa terkait gambar perspektif. Tidak hanya dalam aspek pengetahuan gambar perspektif melainkan terdapat peningkatan dalam aspek lain, yaitu penilaian terhadap alat dan bahan yang dibutuhkan dan dibawa oleh peserta didik dalam menggambar perspektif, keaktifan peserta didik dalam pembelajaran, ketepatan prosedur, dan kedisiplinan peserta didik dalam pengumpulan tugas.Tidak hanya pengetahuan yang diajarkan kepada peserta didik melainkan seperti yang tertera pada kompetensi dasar aspek keterampilan yaitu berkreasi karya seni rupa dua dimensi berdasarkan imajinasi dengan berbagai media dan teknik. Peserta didik diberi tugas oleh guru untuk membuat karya seni rupa dua dimensi berupa gambar perspektif dengan memanfaatkan media SketchUp sebagai acuan atau contoh. Indikator yang dapat dicapai berdasarkan kompetensi dasar aspek keterampilan yaitu menggambar perspektif melalui perencanaan sketsa pada kertas gambar. Sketsa gambar perspektif berguna untuk menilai penguasaan menggambar perspektif dengan bentuk, proporsi, dan komposisi yang tepat. Selanjutnya penerapan teknik dalam hasil sketsa gambar perspektif yang memiliki tujuan untuk mengetahui ketepatan penggunaan sudut pandang sesuai tata cara menggambar perspektif. Indikator yang terakhir adalah menerapkan konsep finishing, penilaian konsep finishing meliputi karya yang dihasilkan baik dan bersih. 2) Pelaksanaan IPelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan di Kelas X Multimedia 3 dengan jumlah peserta didik 37 orang. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar pertemuan kedua siklus 1 peserta didik diberi tes praktek menggambar perspektif dua titik hilang dengan tujuan peserta didik mampu menggambar perspektif sesuai indikator yang dibuat peneliti dan guru, yaitu peserta didik mampu menggambar perspektif melalui perencanaan sketsa pada kertas gambar, peserta didik mampu menerapkan teknik dalam hasil sketsa gambar perspektif, dan menerapkan konsep finishing sebagai pengumpulan tugas akhir gambar perspektif. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut:a) Pertemuan Pertama Siklus IDalam kegiatan apersepsi pembukaan guru mengucapkan salam berupa selamat pagi dan salam pembuka yang kemudian dilanjutkan dengan sapa menyapa kepada peserta didik seta mempersilahkan salah satu peserta didik untuk memimpin doa sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Setelah guru melakukan kegiatan apersepsi awal, selanjutnya guru mempresensi kehadiran peserta didik yang hadir pada saat pembelajaran dimulai. Setelah semua dirasa cukup, guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi pembelajaran perspektif untuk mengetahui pengetahuan dasar mengenai gambar perspektif kepada peserta didik. Guru menyampaikan garis besar mengenai materi gambar perspektif sehingga peserta didik mengerti apa yang akan dilakukan selama kegiatan pembelajaran di kelas. Setelah penyampaian garis besar cakupan materi, guru juga menjelaskan tujuan pembelajaran gambar perspektif yaitu, peserta didik mampu menggambar perspektif melalui perancanaan sketsa, menerapkan teknik dalam hasil seketsa sesuai yang diajarkan guru, menerapkan konsep finishing pada hasil akhir karya. Dengan adanya tujuan yang jelas diharapkan peserta didik mampu memahami materi gambar perspektif mulai dari dasar menggambar perspektif hingga menggunakan teknik-teknik yang benar dalam menggambar perspektif. Pada awal pembelajaran guru telah menyiapkan media pembelajaran dalam mengajar, sehingga dapat mempermudah pengajaran yang dilakukannya. Sehingga guru melakukan kegiatan selanjutnya dengan memberi contoh gambar-gambar perspektif dunia nyata untuk diamati oleh peserta didik dengan penjelasan dari guru. Tidak hanya dengan memberikan contoh kehidupan nya, melainkan juga memberi contoh gambar-gambar dasr perspektif, seperti bentuk bangun ruang berupa balok, kubus, silindris, dan lain-lainnya. Pada proses pembelajaran di SMK, peserta didik bebas membawa dan membuka hanphone pada saat dibutuhkan dalam pembelajaran di kelas sehingga, peserta didik dapat mengeksplorasi ilmu lain lewat pemahaman sendiri.Pada kegiatan inti inilah pembelajaran dimulai dan semua aspek dinilai, baik dari sisi guru mengajar maupun peserta didik yang menerima materi guru. Untuk kegiatan pertama guru menjelaskan cara menggambar perspektif 1 titik hilang dengan penjelasan berupa pemahaman-pemahaman dasar serta teknik atau cara menggambar perspekti esuai kaidahnya. Selanjutnya hanya untuk mempercepat materi mengenai 1 titik hilang, guru memberikan kertas berukuran A4 dan peserta didik diberi tugas untuk menggambar bangun ruang berdasarkan konsep, unsur, dan prinsip dalam berkarya seni rupa gambar perspektif. Setelah semua peserta didik mengumpulkan tugas yang dikerjakan pada kertas A4 tersebut, guru melanjutkan dengan memberi materi mengenai perspektif menggunakan dua titik hilang. Dalam menjelaskan materi, guru menggunakan media SketchUp untuk mempermudah pemahaman peserta didik terkait materi gambar perspektif. Dikarenakan waktu yang singkat dalam mengerjakan tugas, guru memberikan perintah untuk dapat membawa pulang dan mengerjakan tugas tersebut di rumah. Setelah perintah yang diberikan dirasa cukup jelas dan dipahami, guru menutup pelajaran dengan memberikan salam baik selamat siang dan salam penutup.b) Pertemuan Kedua Siklus IMasuklah pada pertemuan kedua siklus I, guru pada awal pertemuan hari ini memberikan salam pembuka pada kelas sama seperti yang guru lakukan minggu sebelumnya. Untuk materi yang diberikan guru tetap menggunakan media SketchUp dalam membantunya menerangkan materi yang dijelaskan. Kemudian guru melakukan tindakan pembukaan berupa pembahasan materi yang diberikan minggu lalu mengenai gambar perspektif 2 titik hilang. Guru menanyakan materi yang diberikan minggu lalu kepada beberapa peserta didik secara acak, gunanya untuk menggali pengetahuan mereka di minggu lalu. Dikarenakan selama guru memberikan pertanyaan kepada peserta didik, peserta didik banyak yang kurang paham. Pada akhirnya guru menjelaskan kembali materi perspektif dengan menggunakan media SketchUp. Materi yang guru jelaskan hanyalah materi perspektif 2 titik hilang, dikarenakan materi ini yang digunakan untuk penilaian akhir serta pada minggu sebelumnya materi yang digunakan belumlah dipahami peserta didik. Setelah materi yang diberikan di rasa cukup, guru memberikan perintah untuk melanjutkan gambar perspektif 2 titik hilang, yang selanjutnya akan dikumpulkan. Seiring berjalannya waktu dalam pembelajaran hari itu, guru memutuskan untuk melanjutkan tugas tersebut dibawa pulang dan dikumpulkan 2 hari setelah pemberian materi dan tugas. Selanjutnya pada kegiatan penutup guru membahas kembali mengenai materi yang jelaskan dengan bertanya kepada peserta didik secara acak. Pada akhir kegiatan guru memberikan salam penutup.Kegiatan siklus I pada pertemuan kedua ini hanyalah untuk menugaskan peserta didik melanjutkan menggambar perspektif. Dan hasil kerja peserta didik akan dikumpulkan untuk mendapatkan hasil akhir sebagai siklus I. 3) Pengamatan Siklus IDalam proses pembelajaran peneliti bertugas sebagai observer yang bertugas mengamati kinerja guru dan peserta didik dalam pembelajaran. Adapun mengamatan ini dilakukan guna mendapatkan masalah yang muncul pada proses pembelajaran yang berlangsung, yang nantinya digunakan pada tahap refleksi untuk menindaklanjuti masalah yang muncul dengan solusi pemebcahannya. Hal yang diamatai mencangkup guru mengajar sesuai dengan RPP ataukah tidak, sikap guru memberikan materi, materi yang dijelaskan, penggunaan media pembelajaran, dan lainnya yang berhubungan dengan pembelajaran. Untuk penilaian peserta didik observer manggunakan format yang telah ada pada lampiran. Sehingga observer mendapatkan data langsung dari penilaian peserta didik maupun hasil pengamatan terhadap peserta didik. 4) Refleksi Siklus ISetelah selesainya kegiatan yang dilakukan pada siklus pertama, pendidik melakukan evaluasi terhadap pembelajaran yang telah berlangsung yang meliputi teknik penyampaian materi, teknik tugas guru sebagai fasilitator dan moderator, peserta didik dalam memahami teknik perspektif, sarta evaluasi yang berkaitan dengan pembelajaran yang berlangsung di kelas. Evaluasi terhadap metode pembelajaran secara menyeluruh yang meliputi aspek pengajaran disebut dengan kegiatan refleksi. Adapun selama proses pembelajaran yang di dapat dari identifikasi, dapat disimpulkan proses pada siklus pertama masih belum mendapatkan hasil yang memuaskan sebagaimana yang telah dibuat dalam rencana tindakan. Kelemahan yang muncul pada siklus I ini dapat dijadikan indikator untuk perbaikan tindakan yang akan dilakukan berikutnya dalam bentuk

    Tokoh Pahlawan Wanita R.A Kartini, Penciptaan, Seni Lukis, Representasional.

    No full text
    ABSTRAK Kata Kunci: Tokoh Pahlawan Wanita R.A Kartini, Penciptaan, Seni Lukis, Representasional.ABSTRAK : R.A Kartini merupakan sosok wanita yang tidak asing lagi bangsa Indonesia, beliau adalah pejuang emansipasi wanita di masa penjajahan Belanda yang hidup antara tahun 1879 – 1904. Skripsi Penciptaan dengan judul “ Tokoh Pahlawan Wanita R.A Kartini Sebagai Sumber Inspirasi Seni Lukis Representasional “ memiliki rumusan masalah bagaimana proses penciptaan karya seni lukis terkait alat, bahan, teknik, dan gaya pribadi. Sedangkan tujuan pencipta mengangkat tema “ Tokoh Pahlawan Wanita R.A Kartini Sebagai Sumber Inspirasi Seni Lukis Representasional “  adalah untuk bisa menginspirasi seni lukis modern di Indonesia.Penciptaan karya ini menggunakan metode seni rupa dua demensi yang didasari nilai estetika seni rupa dua dimensi dengan konsep seni rupa dapat diketahui melalui objek dan unsur-unsur rupanya, serta pada visualisasi bentuk objek dan tema yang pada akhirnya mewujudkan nilai-nilai keindahan dan keunikan pada karya seni lukis.Dari keenam hasil karya pencipta dapat terlihat pada teknik, bentuk, warna, komposisi, perspektif dan pecahayaan dengan gaya pribadi pencipta serta memperlihatkan situasi dan kondisi R.A Kartini di masa itu dengan berbagai kegiatan yang dilakukannya penuh dengan semangat tanpa lelah dan optimisme. Dengan terslesaikannya skripsi dengan tema “ Tokoh Pahwalan Wanita R.A Kartini Sebagai Sumber Inspirasi Seni Lukis Representasinal “ ini pencipta berharap bisa menjadi  pembelajaran seni budaya di sekolah dan timbulnyaempati kepada sesama yang pada akhirnya menumbuhkan semangat kepada generasi muda untuk bisa berkarya, berbuat positif  untuk keluarga, bangsa dan negara yang kita cintai ini

    AnalisisVisualisasi Motif Batik SasamboRembitanSasak Nusa Tenggara Barat

    No full text
    Kata Kunci: Visualisasi Motif Batik SasamboBatik Sasambo merupakan kain batik bermotif khas daerah Nusa Tenggara Barat, kebudayaan, filosifi, kesenian sering diangkat menjadi sumber ide penciptaan motif batik Sasambo. Salah satu rumah industri yang bergerak dalam dunia perbatikan adalah batik khas Sasambo Rembitan Sasak Nusa Tenggara Barat. Sasambo Mengangkat alam sekitar sebagai ide penciptaanya. Batik Sasambo  kayaakan motif yang mana motifnya tidak dimiliki oleh rumah industri lain menskipun pada dasarnya diangkat dari satu tema yaitu Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini dilakukan di rumah indsutri batik khas Sasambo untuk mendiskripsikan visualisasi motif  serta estetik batik Sasambo.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.Sumber data yang digunakan adalah produk batik dan narasumber dari rumah industri batik khas Sasambo pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan menggunakan triangulasi sumber.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) visualisasi motif batik Sasambo bersumber dari lingungan sekitar.Objek yang dijadikan motif mengalami proses stilasi, penerapan stilasi oleh batik Sasambo sangat sederhana. Secara garis besar  motif maupun polanya menerapkan pola non geometris dan geometris. Motif utama tidak selalu memiliki ukuran besar, motif utama dijadikan sebagai penyampain ide oleh batik khas Sasambo Rembitan Sasak  (2) Visualisasi warna  batik Sasambo menggunakan bahan pewarna sintetis (remasol), karakteristik warna yang digunakanoleh batik Sasambo adalah warna-warna cerah.(3) visualisasi estetik motif batik Sasambo sama halnya dengan karya seni yang lain batik sasambo memiliki visual estetik unsur dan prinsip yaitu, cecekkan, klowongan, motif, bidang, ruang dan warna untuk prinsipnya mengguakan keutuhan, keseimbagan dan penekanan. Berdasarkan hasil penelitian produk batik Sasambo dapat dijadikan sebagai pengenalan kekayaan budaya nusantara yaitu batik.Selain itu dapat memperkenalkan NTB kepada masyarakat luas.Baik kepada masarakat Nusa Tenggara Barat maupun masyarakar di luar Nusa Tenggara Barat

    Kombinasi Serat Alam dengan Logam sebagai Medium Berkarya Seni Kriya

    No full text
    Kata Kunci : Kombinasi, Serat Alam, Logam, Karya Seni Kriya.Pada masa lampau seni kriya pada umumnya bermedium dari satu jenis benda saja, seperti seni kriya logam yang bermedium logam dan seni kriya kayu yang bermedium kayu dengan fungsinya masing-masing. Seiring perkembangan zaman seni kriya kini lebih inovatif dan kreatif, banyaknya temuan-temuan baru membuat seni kriya lebih luas cakupannya. Seni kriya merupakan karya seni terapan yang sangat mengutamakan nilai fungsinya, namun sesuai perkembangan saat ini seni kriya juga tidak meninggalkan nilai estetik dalam karya. Tidak heran jika zaman sekarang seni kriya juga berfungsi sebagai benda yang memperindah seperti produk elemen interior dengan medium kayu, logam, bahkan perpaduan kedua medium tersebut. Kebaruan dalam dunia seni kriya membuat para seniman bisa menciptakan karya sesuai keinginan, namun juga mempertimbangkan karya tersebut untuk siapa dan akan berdampak bagaimana, karena seni kriya adalah karya seni terapan. Dalam hal ini, pencipta mengembangkan kemampuan dan kepekaan estetiknya yaitu mengkombinasikan serat alam jenis kelobot jagung yang merupakan benda yang sangat banyak ditemui di lingkungan sekitar penciptadengan kombinasi logam dan membuat karya temuan baru yang belum ada sebelumnya menjadi sebuah karya seni kriya sebagai produk elemen interior gaya rustic. Tidak hanya itu, temuan ini mampu menjadi peluang bisnis bagi masyarakat sekitar dengan mengolah limbah serat alam kelobot jagung tersebut.Metode penciptaan yang digunakan menggunakan metode SP. Gustami yang memiliki tiga tahapan, yaitu eksplorasi, berupa kegiatan pengamatan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan unsur tematik yang akan diangkat. Perancangan, berupa eksplorasi bentuk dan mempertimbangkan prinsip organisasi estetik lalu dituangkan dalam sketsa desain. Kemudian perwujudan, berupa perwujudan dari hasil perancangan bentuk untuk diwujudkan dan dipakai sebagai acuan dalam penciptaan karya,berupa proses mewujudkan karya hingga finishing. Penciptaan ini menghasilkan 6 karya seni kriya produk elemen interior yang dikelompokkan menjadi karya yang terikat dan karya yang bebas (flexible)dengan media estetik berupa garis, bentuk dan ruang, warna, serta tekstur sebagai kreasi produk dalam dunia interior. Berdasarkan hasil penciptaan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman baru kepada pencipta maupun orang lain dalam mempelajari karya seni kriya dengan perpaduan medium dan tentang pemanfaatan medium

    Pengembangan Buku Teks Berbasis Ilustrasi Tentang Teknik Pewarnaan Dalam Menggambar Untuk Kelas VII SMP Negeri 1 Malang

    No full text
    Kesulitan yang dialami oleh peserta didik sesuai hasil penelitian dalam pembelajaran menggambar adalah penerapan teknik pewarnaan. Teknik pewarnaan merupakan sub materi dari tahap finishing dalam menggambar yang tercantum pada KD 3.1 dan 4.1 mata pelajaran seni budaya (rupa) kelas VII semester 1. Salah satu media pembelajaran yang bisa digunakan adalah media cetak berupa buku teks. Keunggulan buku teks berdasarkan hasil observasi yaitu buku teks memiliki urutan materi yang jelas dan mudah dipelajari bagi peserta didik secara mandiri, memiliki komponen dan kompetensi yang lengkap, memberi stimulus peserta didik untuk berfikir lebih luas, kreatif, dan reflektif, serta buku teks merupakan bagian dari pengembangan budaya baca.  SMP Negeri 1 Malang, salah satu sekolah yang menerapkan budaya baca dan menerapkan materi teknik pewarnaan pada mata pelajaran seni budaya (rupa) kelas VII semester 1. Pada pembelajaran tersebut, buku penunjang materi teknik pewarnaan belum tersedia, selama pembelajaran peserta didik dan guru hanya menggunakan buku utama yang berisi tentang teknik menggambar. Berdasarkan permasalahan yang terjadi, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan buku teks berbasis ilustrasi tentang teknik pewarnaan untuk mata pelajaran seni budaya kelas VII di SMP Negeri 1 Malang. Tahapan yang dilakukan pada penelitian dan pengembangan ini mengadaptasi model pengembangan 4-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan, Semmel, dan Semmel menjadi model 4-P. Model 4-P yaitu terdiri dari tahap pendefinisian, tahap perancangan, tahap pengembangan, dan tahap penyebaran. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan uji coba ahli dan uji coba kelompok kecil dengan subyek 15 peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, angket, dan tes prestasi. Hasil penelitian dan pengembangan buku teks berbasis ilustrasi dari uji validasi ahli materi diperoleh hasil persentase 90,28%, uji validasi ahli media diperoleh hasil persentase 91,07%, uji validasi ahli praktisi diperoleh hasil persentase 98,28%, dan uji coba kelompok kecil diperoleh hasil persentase 95,5%. Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan dapat disimpulkan bahwa buku teks berbasis ilustrasi tentang teknik pewarnaan termasuk pada kriteria sangat layak dan dapat digunakan dalam pembelajaran.

    Broken Home sebagai Inspirasi Penciptaan Seni Lukis

    No full text
    BROKEN HOME SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN SENI LUKISRizky Nadia Amalia1, Triyono Widodo2 (Pendidikan Seni Rupa)-Seni dan Desain Universitas Negeri MalangE-mail: [email protected] ABSTRAKKeluarga bahagia ditandai oleh minimnya kesenggangan dan adanya perasaan puas terhadap keadaan dirinya. Ketika orang tua sudah tidak dapat berhubungan dengan baik entah dapat mempertahankan keluarganya secara utuh tanpa ada hubungan yang hangat maupun tidak, dapat dikatakan secara psikologis mereka sudah bercerai atau broken home. Keadaan tersebut dapat menyebabkan dampak buruk. Bedasarkan dari permasalahan tersebut pencipta menjadikannya sumber ide atau gagasan dalam penciptaan karya seni lukis. Penciptaan karya seni lukis ini menjadi sebuah upaya untuk menghindari keadaan broken home serta agar lebih menghargai dan menumbuhkan rasa kasih sayang dalam keluarga juga orang-orang di sekitarnya.Kata Kunci: Broken Home, Seni Lukis, Keluarga ABSTRACTA happy family characterized by the lack of  leisure and satisfaction feeling to their situation. Although they could defend their whole family or not, when parents don’t have a good relationship it can be said that they already divorce or had a broken home psychologically. Broken home could cause a bad effect. The creator makes the source of ideas in the creation of painting works based on these problems. This creation of painting works is an efforts to avoid broken home situation as well as more appreciating each other also growing up an affection with another family member and people around us. Keywords: Broken Home, Painting Works, FamilyKeadaan dimana seluruh anggota keluarga merasa bahagia, puas akan keadaan dan keberadaan dirinya, juga minim kesenggangan antar anggota keluarga, itulah yang disebut dengan keluarga bahagia. Ketika ayah dan ibu sudah tidak dapat berhubungan dengan baik karena kesibukan masing-masing atau karena egonya, maka mereka memilih untuk bercerai. Namun, disaat orang tua dapat mempertahankan keluarganya secara utuh tanpa ada hubungan yang hangat, dapat dikatakan secara psikologis mereka sudah bercerai atau broken home.Ulwan (2002:25) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan keluarga broken home adalah keluarga yang mengalami disharmonis antara Ayah dan Ibu. Pernyataan Ulwan ini dipertegas oleh Atriel (2008:15) yang mengatakan bahwa broken home merupakan suatu kondisi keluarga yang tidak harmonis dan orang tua tidak lagi dapat menjadi tauladan yang baik untuk anak-anaknya. Bisa jadi mereka bercerai, pisah ranjang atau keributan yang terus menerus terjadi dalam keluarga.Menurut asal usul kata seni lukis dari bahasa Inggris painting. Kata to-paint artinya, melebur, menyapu, memulas, mengecat. Menurut Widodo (1993:4) mengecat yang dimaksud adalah pengecatan bahan warna tertentu yang antara lain dapat berupa cat minyak atau cat air dengan menggunakan alat yang berupa kuas pada satu permukaan tertentu. Soedarso (1990:11) berpendapat bahwa seni lukis pada umumnya tergolong dalam seni murni, yaitu sebagai sarana curahan isi hati tanpa banyak dibebani dengan hal-hal lain di luarnya, namun ada pula seni lukis yang tergolong dalam seni terapan, misalnya seni ilustrasi dan seni lukis dinding. Menurut Kartika (2002:36) seni lukis merupakan ungkapan pengalaman estetik yang diwujudkan dalam bentuk dua dimensional, dengan menggunakan medium rupa yaitu garis, warna, tekstur, shape dan sebagainya.Dalam penciptaan karya seni lukis ini tidak bisa lepas dari aspek pengalaman-pengalaman terkait kehidupan, pola hidup di keluarga atau masyarakat, dan hubungan sosial lainnya antar sesama manusia. Terinspirasi dari pengalaman pribadi penulis dan kehidupan di sekitarnya, terciptalah ide untuk membuat karya seni lukis bertemakan dampak broken home. Berdasarkan penjelasan di atas, muncul kegelisahan untuk menunjukkan dampak broken home yang terjadi kepada anak melalui karya-karya seni lukis. Karya lukis ini dibuat dengan menekankan visual wajah anak-anak korban broken home antara lain, situasi emosi anak yang tidak terkontrol, mencari perhatian orang lain, menghindari keramaian, susah diatur, melawan orang tua dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. Penciptaan karya seni lukis ini mengangkat dampak broken home pada anak dari sudut pandang penulis, sebagai upaya untuk menyadarkan orang tua maupun calon orang tua agar terhindar dari broken home. METODESetiap seniman atau pencipta memiliki metode yang berbeda-beda dalam proses berkarya. Dalam penciptaan karya seni lukis ini penulis menggunakan metode penciptaan dari L.H. Chapman. Syamsiar (2014:110) menjelaskan bahwa, proses penciptaan karya seni oleh L.H. Chapman terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap permulaan; (2) tahap penyempurnaan,  mengembangkan dan memantapkan gagasan awal; (3) tahap penyelesaian.Penulis mengembangkan metode penciptaan dari L.H. Chapman. Metode penciptaan tersebut dimulai dari tahapan pertama yaitu mencari sumber gagasan atau ide. Ide yang terkumpul kemudian dikembangkan menjadi konsep penciptaan yang merupakan tahapan kedua. Menentukan alat bahan, dan persiapan-persiapan lainnya berdasarkan konsep yang telah terbentuk. Langkah terakhir yaitu proses perwujudan karya, visualisasi karya ke dalam medium. Diawali dengan pembuatan blok pada kanvas, sketsa di atas blok, pewarnaan pada bagian-bagian sesuai dengan konsep, dan yang terakhir adalah finishing. HASIL DAN PEMBAHASANHasil penciptaan menjelaskan secara menyeluruh tentang karya yang telah diciptakan. Penjelasan karya meliputi identitas karya dan penjelasan tentang konsep dan isi setiap karya. Hasil penciptaan karya tersebut adalah sebagai berikut. 1. Karya 1Judul : Teriak dalam DiamUkuran : 63 x 98 cmMedia : Akrilik di atas KanvasTahun : 2018Penjelasan KaryaKarya lukis berjudul Teriak dalam Diam digarap pada tahun 2018 berukuran 63 x 98 cm dengan media cat akrilik pada kanvas. Teknik yang digunakan yaitu sapuan kuas basah, plakat, dan blok. Lukisan tersebut menampilkan objek utama anak perempuan setengah badan dengan potongan rambut pendek sebahu bermata menyerupai mulut dan mulut terjahit. Objek pendukung pada lukisan berupa tiga pulau berbagai ukuran dengan rumput diatasnya yang melayang di langit, sepasang kaki di atas pulau serta beberapa awan berwarna pink. Latar belakang dibuat langit berwarna kombinasi pink dengan kuning. Penggunaan warna latar belakang yang dominan cerah bertolak belakang dengan objek yang cenderung gelap.Penerapan prinsip komposisi pada karya ini terlihat pada pengulangan bentuk, objek dan penggunaan warna untuk mencapai keserasian. Tatanan objek yang menyebar, tidak di satu sisi saja, dengan perbedaan ukuran ditujukan untuk mendapatkan keseimbangan informal (asimetris). Latar belakang yang penggunaan warnanya dominan cerah bertolak belakang dengan objek yang cenderung gelap untuk memberi kesan emphasis pada objek. Perbedaan ukuran objek dan tatanan letak dibuat untuk memunculkan kesebandingan antar objek agar menimbulkan kesan meruang. Makna SimbolisKarakter utama dari karya ini yaitu anak perempuan, visualisasi dari seorang anak broken home. Keadaan sekitar si anak yang acuh, membuatnya tak dapat mengontrol emosinya dengan baik. Si anak memiliki kecenderungan menutup diri dari lingkungannya, tidak aktif, dan juga pendiam. Semua yang dirasakannya dipendam sendiri karena tak ada yang mempedulikannya. Dibalik semua itu, ada keinginan terpendam dalam si anak untuk meneriakkan semua perasaannya. Kurangnya perhatian dari lingkungan di sekitarnya membuatnya menjadi anak pendiam dengan beban yang disimpannya sendiri.Penggambaran objek utama, anak setengah badan dengan kaki yang terpisah menggambarkan ketidakteraturan, kekacauan, kegagalan untuk mengontrol sesuatu. Mulut objek utama pada karya tersebut dibuat seperti dijahit, menggambarkan kesulitan objek utama untuk berbicara, sedang matanya yang digambarkan sebagai mulut memvisualisasikan mata yang dapat berbicara. Maknanya, objek utama tidak sanggup berbicara tetapi matanya menjelaskan semuanya.Visualisasi karya menggunakan warna-warna cerah dan objek awan yang membuat tampilan terlihat manis dengan objek utama anak perempuan yang cenderung menyeramkan, menampakkan sebuah ironi. 2. Karya 2Judul : Aku Ada DisiniUkuran : 63 x 84 cmMedia : Akrilik di atas KanvasTahun : 2018Penjelasan KaryaKarya lukis berjudul Aku Ada Disini digarap pada tahun 2018 berukuran 63 x 84 cm dengan media cat akrilik pada kanvas. Teknik yang digunakan yaitu sapuan kuas basah, plakat, dan blok. Lukisan tersebut menampilkan objek utama siluet anak perempuan duduk di sebuah ayunan. Tali ayunan terhubung pada bulu mata bagian bawah sepasang mata. Di balik siluet tersebut terdapat bulan sebagai objek pendukung . Selain bulan, terdapat pula objek pendukung lain, yaitu tebing pada bagian bawah dan beberapa awan berwarna pink. Latar belakang dibuat langit berwarna kombinasi blue-green dengan blue-violet. Penggunaan warna latar belakang dominan gelap.Penerapan prinsip komposisi pada karya ini terlihat pada pengulangan bentuk, objek dan penggunaan warna untuk mencapai keserasian. Peletakkan objek yang cenderung berada di tengah bidang ditujukan untuk mendapatkan keseimbangan formal (simetris). Latar belakang yang penggunaan warnanya dominan gelap yang senada dengan objek yang cenderung berwarna gelap memberi kesan serasi, dengan warna objek bulan yang lebih cerah daripada objek utama membuat objek siluet menjadi point of interest. Tatanan letak dibuat untuk memunculkan kesebandingan antar objek agar menimbulkan kesan meruang. Makna SimbolisPerhatian yang seharusnya didapat tidak diperolehnya di rumah. Karakter utama mencoba menarik perhatian orang lain di luar rumah dengan berbagai cara, entah itu baik maupun buruk. Tak peduli bagaimanapun caranya, dia hanya ingin diperhatikan. Anak yang seharusnya mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya malah mencari ditempat lain.Penggunaan warna yang cenderung gelap, mendukung penyampaian pesan dan kesan suram. Objek bulan dan siluet anak perempuan bermain ayunan dibuat dengan makna si anak yang tak begitu diperhatikan. Objek mata dengan bulu mata menyatu menjadi tali ayunan yang digenggam anak memiliki makna perhatian yang dicari oleh anak, tak peduli meskipun dengan cara yang menyakitkan orang lain. 3. Karya 3Judul : IntrovertUkuran : 63 x 73 cmMedia : Akrilik di atas KanvasTahun : 2018Penjelasan KaryaKarya lukis berjudul Introvert digarap pada tahun 2018 berukuran 63 x 72 cm dengan media cat akrilik pada kanvas. Teknik yang digunakan yaitu sapuan kuas basah, plakat, dan blok. Lukisan tersebut menampilkan objek utama anak perempuan yang terlihat sedang duduk meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri. Anak perempuan itu berada di dalam sebuah telur di atas sangkar. Objek pendukung pada lukisan berupa awan berwarna pink. Latar belakang dibuat langit berwarna kombinasi pink, kuning, juga biru. Penggunaan warna latar belakang yang dominan cerah dan tegas bertolak belakang dengan objek yang intensitas warnanya cenderung rendah.Penerapan prinsip komposisi pada karya ini terlihat pada penggunaan warna untuk mencapai keserasian. Peletakkan objek yang cenderung berada di bagian tengah bidang ditujukan untuk mendapatkan keseimbangan formal (simetris). Latar belakang yang penggunaan warnanya dominan cerah bertolak belakang dengan objek yang intensitas warnanya cenderung rendah ditujukan untuk memberi kesan emphasis pada objek. Tatanan letak dari tiap objek dibuat untuk memunculkan kesebandingan antar objek agar menimbulkan kesan meruang. Makna SimbolisDi dunia yang penuh dengan warna, ada anak yang cenderung menutup diri. Ketidakinginan untuk bersosialisai dikarenakan terbiasa dengan keadaan yang acuh terhadap dirinya. Si anak membuat ruang untuk dirinya sendiri. Dia nyaman dengan kesendiriannya, tak peduli keadaan sekitarnya. Si anak yang cenderung menghindari keramaian karena merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut.Objek anak perempuan yang meringkuk di dalam telur menggambarkan ruangnya sendiri, kesendiriannya, dengan warna gelap. Visual warna-warni di sekitar objek utama menggambarkan keadaan sekitar, keramaian. Sarang burung di bagian bawah telur menggambarkan kenyamanan berada di dalam ruangnya sendiri. 4. Karya 4Judul : Aku LariUkuran : 63 x 84 cmMedia : Akrilik di atas KanvasTahun : 2018Penjelasan KaryaKarya lukis berjudul Aku Lari digarap pada tahun 2018 berukuran 63x84 cm dengan media cat akrilik pada kanvas. Teknik yang digunakan yaitu sapuan kuas basah, plakat, dan blok. Lukisan tersebut menampilkan objek utama topeng wajah anak perempuan yang digantungkan pada dua kait dengan dua potongan puzzle yang hilang pada sisi wajah dekat mata dan bagian mulut. Objek pendukung pada lukisan berupa dua bagian puzzle dari objek utama yang memiliki kaki, tebing serta beberapa awan berwarna pink. Latar belakang dibuat langit berwarna gradasi kombinasi dari biru, pink dan kuning. Penggunaan warna hangat dari latar belakang yang dominan cerah serasi dengan objek yang menggunakan warna yang juga cenderung tegas.Penerapan prinsip komposisi pada karya ini terlihat pada pengulangan bentuk, objek dan penggunaan warna untuk mencapai keserasian. Tatanan objek yang cenderung berada di tengah bidang ditujukan untuk mendapatkan keseimbangan formal (simetris) juga mempermudah untuk menunjukkan emphasis pada karya. Latar belakang yang penggunaan warnanya dominan cerah senada dengan objek untuk memberi kesan harmony pada objek. Perbedaan ukuran objek dan tatanan letak dibuat untuk memunculkan kesebandingan antar objek agar menimbulkan kesan meruang. Makna SimbolisTerbiasa tidak dipedulikan dan tidak diberi perhatian membuat si anak susah diatur. Peraturan-peraturan yang ada diacuhkannya. Hal yang diharapkan orang terhadapnya tak dipedulikannya. Dia meninggalkan, menjauhi aturan dan tanggung jawabnya. Ada keinginan dari si anak untuk lari dari kenyataan yang ada di depan mata juga masalah-masalah yang dihadapinya.Topeng wajah dengan dua bagian yang hilang memvisualkan keadaan karakter utama yang tidak utuh. Objek potongan puzzle yang memiliki kaki dan terlihat seperti berlari menjauhi objek utama menggambarkan bagian dari anak tersebut yang menghindari atau lari dari tempatnya seharusnya, lari dari aturan yang ada. Selain ekspresi wajah yang terlihat pada topeng, penggunaan warna cerah dengan saturasi cukup tinggi pada latar belakang membuat efek sendu pada karya tersebut.  5. Karya 5Judul : Aku dan DuniakuUkuran : 64 x 98 cmMedia : Akrilik di atas KanvasTahun : 2018Penjelasan KaryaKarya lukis berjudul Aku dan Duniaku digarap pada tahun 2018 berukuran 64 x 98 cm dengan media cat akrilik pada kanvas. Teknik yang digunakan yaitu sapuan kuas basah, plakat, blok serta sentuhan fingerpainting. Lukisan tersebut menampilkan objek utama anak perempuan menggunakan headphone yang memiliki badan ikan. Objek pendukung pada lukisan berupa pulau tempat anak perempuan itu duduk, dua mulut, satu di sisi kiri dan satu di sisi kanannya, serta beberapa awan berwarna pink. Latar belakang dibuat langit berwarna blue-green dengan sentuhan warna kuning. Penggunaan warna latar belakang yang dominan cerah senada dengan objek yang memiliki intensitas warna yang tinggi.Penerapan prinsip komposisi pada karya ini terlihat pada pengulangan bentuk, objek dan penggunaan warna untuk mencapai keserasian. Tatanan objek yang cenderung berada di tengah bidang ditujukan untuk mendapatkan keseimbangan formal (simetris) juga untuk memudahkan penampakan emphasis objek. Latar belakang yang penggunaan warnanya dominan cerah senada dengan objek yang memiliki warna  tegas memberi kesan harmony pada objek. Perbedaan ukuran objek dan tatanan letak dibuat untuk memunculkan kesebandingan antar objek agar menimbulkan kesan meruang. Makna SimbolisKetidakpedulian orang disekitar si anak, terutama orang tuanya sendiri, membuat dia terbiasa dengan hal tersebut. Sosok penyendiri dan acuh akan keadaan disekitarnya , tak peduli dengan apa yang terjadi seakan-akan memiliki dunia sendiri. Keasyikan terhadap dunianya sendiri membuat si anak tak memperdulikan orang tuanya, melawan semua aturan yang diberikan.Objek manusia berbadan ikan yang berada di atas pulau yang mengambang memvisualkan keadaan anak yang tidak berada pada tempat yang seharusnya. Objek mulut pada sisi kanan dan kiri menggambarkan aturan-aturan yang disampaikan orang tuanya. Ekspresi wajah anak tersebut menunjukkan ekspresi enjoy. Headphone yang menutupi telinganya menggambarkan ketidakpedulian terhadap sekitar. Dia tampak menikmati apa yang ada di kepalanya, mengacuhkan sekitar. 6. Karya 6Judul : Ambil Saja!Ukuran : 64 x 74 cmMedia : Akrilik di atas KanvasTahun : 2018Penjelasan KaryaKarya lukis berjudul Ambil Saja! digarap pada tahun 2018 berukuran 63 x 74 cm dengan media cat akrilik pada kanvas. Teknik yang digunakan yaitu sapuan kuas basah, plakat, dan blok. Lukisan tersebut menampilkan objek utama anak perempuan melayang horizontal pada tengah bidang. Objek pendukung pada lukisan berupa beberapa tangan berwarna kehitaman dengan berbagai ukuran serta beberapa awan berwarna pink. Latar belakang dibuat langit berwarna kombinasi hijau dengan kuning. Penggunaan warna latar belakang yang dominan cerah senada dengan objek utama dan kontras dengan objek pendukung yang cenderung gelap.Penerapan prinsip komposisi pada karya ini terlihat pada pengulangan bentuk, objek dan penggunaan warna untuk mencapai keserasian. Tatanan objek objek cenderung berada di tengah bidang, dengan perbedaan ukuran ditujukan untuk mendapatkan keseimbangan formal (simetris). Latar belakang yang penggunaan warnanya dominan cerah senada dengan objek utama. Kontras dengan objek pendukung yang memiliki warna cenderung gelap memberi kesan emphasis pada objek dengan arah memusat ke tengah bidang. Perbedaan ukuran objek dan tatanan letak dibuat untuk memunculkan kesebandingan antar objek agar menimbulkan kesan meruang. Makna SimbolisKetidakpedulian terhadap lingkungan sekitar, itu salah dampak negatif yang ditimbulkan oleh keadaan broken home. Anak terbiasa tak dipedulikan sehingga dia juga tidak terbiasa mempedulikan. Situasi yang terjadi di sekelilingnya tak berpengaruh baginya. Ambil Saja! merupakan ungkapan untuk keacuhan si anak terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.Visual tangan-tangan berwarna gelap yang mencoba menggapai objek utama memiliki makna keadaan di sekitarnya yang mencoba mengambil apa yang dimiliki anak tersebut. Visual anak dengan ekspresi pasrah menggambarkan ketidakpedulian anak tersebut terhadap apa yang terjadi pada dirinya dan sekitarnya. Karakter utama tidak peduli apapun yang terjadi padanya maupun lingkungan di sekitarnya. SIMPULANKarya seni merupakan ungkapan perasaan dan pemikiran dari penciptanya. Setiap karya tak lepas pengalaman sehari-hari. Pengalaman yang telah dilalui, kegelisahan tentang hal-hal disekitar dapat menjadi dorongan yang kuat bagi pencipta untuk membuat sebuah karya.Penulis mengangkat dampak dari keadaan broken home sebagai inspirasi berkarya dikarenakan hal tersebut merupakan permasalahan di sekitar penulis. Penggunaan objek anak perempuan membantu penulis dalam penyampaian kesan ketidakberdayaan yang dirasakan oleh anak yang terkena dampak broken home. Penciptaan karya seni lukis ini diharapkan dapat dijadikan pelajaran bagi masyarakat agar mengetahui dampak-dampak negatif keadaan broken home yang terjadi, juga untuk bisa menghindari terjadinya keadaan tersebut. Selain itu, penulis berharap agar masyarakat sekitar lebih menghargai dan menumbuhkan kasih sayang dalam keluarga juga orang-orang di sekitarnya.Metode penciptaan dimulai dari tahapan pertama yaitu mencari sumber gagasan atau ide. Ide yang terkumpul kemudian dikembangkan menjadi konsep penciptaan yang merupakan tahapan kedua. Menentukan alat bahan, dan persiapan-persiapan lainnya berdasarkan konsep yang telah terbentuk. Langkah terakhir yaitu proses perwujudan karya, visualisasi karya ke dalam medium. Diawali dengan pembuatan blok pada kanvas, sketsa di atas blok, pewarnaan pada bagian-bagian sesuai dengan konsep, dan yang terakhir adalah finishing. Setiap karya seni yang dihasilkan tiap penciptanya memiliki aspek-aspek yang ditunjukkan dalam penciptaan karya. Karya tersebut menunjukkan aspek organisasi visual berupa karya yang mampu berdiri sendiri atau karya objektif. Pada setiap hasil karya seni lukis terdapat aspek kualitas estetik disetiap objeknya yang saling berkesinambungan dan teratur sehingga membentuk atribut kesatuan. Ada pula atribut variasi, baik berupa bentuk maupun warna yang mewakili keragaman karya itu sendiri.Penggunaan unsur-unsur rupa berupa titik, garis, bentuk, dan warna yang memberikan nilai estetik pada karya penulis merupakan aspek lain yang dapat dilihat dari karya yang dihasilkan. Aspek terakhir yaitu prinsip organisasi visual diantaranya kesatuan, keseimbangan, irama, emphasis, dan keserasian. Perpaduan penggunaan warna yang senada pada penciptaan karya menghasilkan keselarasan pada karya tersebut. Penggunaan unsur garis yang bervariasi pada karya memberikan kesan gerak yang menimbulkan adanya irama pada karya. Pemberian warna dengan tekanan yang berbeda pada setiap objek menghasilkan variasi yang berkesinambungan pada setiapkarya.Dalam penciptaan karya seni lukis dengan mengangkat dampak broken home sebagai sumber penciptaan karya seni lukis ini penulis mampu menghasilkan enam karya seni lukis yang orisinil dalam jangka waktu 3 bulan. Ada empat teknik yang dihadirkan penulis dalam penciptaan karya lukis yaitu, teknik sapuan  kuas, sapuan dengan menggunakan ujung jari, teknik plakat dan teknik blok. Masing-masing teknik memiliki karakter yang berbeda yang akan disesuaikan dengan pertimbangan artistik penciptaan sebuah karya seni lukis.Karya yang dihasilkan penulis mampu memenuhi tiga fungsi pokok seni sekaligus, yaitu fungsi personal, fungsi sosial, serta fungsi fisik. Fungsi personal adalah untuk m

    Tradisi Petik Laut Tanjung Tembaga Probolinggo Sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Motif Batik Tulis

    No full text
    Permatasari, Dian Artika. 2019. Tradisi Petik Laut Tanjung Tembaga Probolinggo Sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Motif Batik Tulis. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Ponimin, M.Hum. (2) Lisa Sidyawati, S.Pd., M.Pd. Kata kunci:Petik Laut Probolinggo, Penciptaan, Batik TulisPetik laut merupakan tradisi tahunan masyarakat pesisir di kota Probolinggo. Petik laut adalah sebuah upacara rasa syukur terhadap Tuhan dengan mengadakan pelarungan sesaji berupa hasil bumi dengan dihantar ketengah lautan diiringi perahu yang dihias berwarna-warni. Sesaji yang diberikan berupa hasil bumi seperti sayuran dan buah, namun sebagai pokok inti sesaji adalah kepala sapi. Di kota Probolinggo dilaksanakan upacara petik laut pada 1 Muharram atau tahun baru islam karena dianggap sebagai permulaan yang baik dalam memanjadkan doa dan rasa syukur terhadap Tuhan. Petik laut ini merupakan sebuah tradisi yang telah turun-temurun di wariskan oleh masyarakat pesisir Probolinggo.Penelitian penciptaan ini menggunakan tahapan metode yang dikembangkan dari rancangan Gustami, proses penciptaan seni kriya. Tahapan penggalian ide, rumusan konsep hingga mewujudkan suatu karya memerlukan tahapan yang runtut sebagai berikut,(1) Tahap eksplorasi, yaitu tahapan pencarian ide, konsep dalam menciptakan karya seni. (2) Tahap perancangan: menuangkan ide gagasan atau konsep kedalam eksplorasi bentuk dan desain karya (3) Tahap perwujudan, yaitu tahap mewujudkan tahap eksplorasi yangtelah dilakukan menjadi sebuah karya. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah karya batik tulis yang bertemakan petik laut kota Probolinggo, yang mana merupakan salah satu bentuk untuk menghargai budaya lokal yang seharusnya dijaga dengan baik.Hasil penggalian sumber ide dari tradisi petik laut yang dijadikan konsep penciptaan karya diwujudkan dengan sebuah karya batik tulis. Karya batik tersebut berjudul (1) Perahu Petik Laut,menceritakan tradisi petik laut Probolinggo (2) Perahu Sesajen, menceritakan kesiapan perahu-perahu pengantar sesaji dan perahu sesaji yang akan dilarung (3) Nglarung, menceritakan proses pelarungan sesaji ke tengah lautan (4) Essenah Sesaji, menceritakan isian sesaji yang telah tumpah ruah dilautan yang mana isian sesaji tersebut memiliki makna bagi nelayan (5) Jhuko Padha Dhateng, menceritakan harapan para nelayan dari prosesi petik laut  (6) Ajhalah Jhuko, menceritakan nelayan yang sedang menangkap ikan yang melimpah menggunakan jala.Karya-karya ini selanjutnya dianalisis untuk dimaknai sebagai karya skripsi penciptaan. Batik tulis ini dapat diaplikasikan sebagai tas, taplak meja dan sarung bantal. Sehingga dengan terciptanya batik tulis yang bertemakan tradisi petik laut masyarakat pesisir Probolinggo sebagai langkah awal untuk menghargai warisan budaya lokal untuk melestarikan kebudayaan daera

    GUNUNGANWAYANG SEBAGAI SUMBER INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS

    No full text
    RINGKASANSholichah, Nur Faridatus. 2019. Gunungan Wayang Sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Didiek Rahmanadji, M.Pd., (II) Fenny Rochbeind, S.Pd., M.Sn. Kata Kunci:Gunungan Wayang, Penciptaan, Seni LukisGununganwayang juga disebut kayon yang berasal dari kata kayu atau pohon, pohon besar menjulang dari permukaan bumi ke langit tinggi. Pohon besar adalah axis mundi pula. Inilah sebabnya banyak orang bertapa, bersemedi, berdoa, membakar kemenyan, dan meletakkan sesajian di bawah pohon-pohon besar yang berusia tua di desa-desa Jawa, gunungan adalahtokoh/boneka wayang kulit yang berupa tiruan gunung yang runcing dan seperti tumpeng. Gunungan wayang mempunyai filosofi dan makna tersendiri pada unsur-unsur di dalamnya, maka dari makna tersebut membuat gunungan wayang sangat suci dan seharusnya dilestarikan dan dijaga, karena gunungan wayang salah satu warisan budaya yang di miliki Indonesia khususnya daerah Jawa. Masalahnya masyarakat kurang memahami pada makna dan filosofi yang ada pada gunungan wayang. Fokus penciptaan ditunjukkan pada proses visualisasi gunungan wayang melalui tampilan fisik objek yang menggambarkan bentuk dan isi pada gunungan wayang melewati representasi lukisan.Jenis Penelitian ini adalah penelitian penciptaan seni yang memaparkan penciptaan seni lukis representasional. Metode penelitian Chaterina Patrick digunakan sebagai pedoman berkarya lukis mulai dari tahap persiapan, tahap penetasan, tahap inspirasi, dan tahap pengembangan. Pada tahap pengembangan proses kreatif dimulai dengan mewujudkan ide atau gagasan, konsep, dan tema ke dalam enam karya lukis representasional dengan menampilkan objekgunungan wayang.Proses visualisasi karya memaparkan teknik, alat, dan bahan yang digunakan dalam berkarya kreatif, dilanjutkan dengan langkah perwujudan karya mulai dari membuat sketsa di atas kertas lalu memindakannya ke kanvas. Pada proses pewarnaan digunakan teknik blok, teknik gradasi, teknik plakat, finger painting , dan diakhiri dengan proses finishing karya.Karakteristik keenam lukisan ini nampak pada teknik, bentuk, warna, komposisi, perspektif, dan pecahayaan yang dieksplorasi dengan gaya pribadi.Hasil penciptaan ini menghadirkan enam karya lukis yang menggambarkan  suatu bentuk visualisasi dari unsur-unsur yang terkandung pada gunungan wayang,sesuai dengan kesucian yang ada pada gunungan, dengan menggubah sesuai dengan gaya pribadi sang pencipta. Melalui karya penciptaan ini, diharapkan masyarakat awam, pendidik,  dan peserta didik  memberi apresiasi positif dan penghargaan terhadap hasil karya lukis dan menandai identitas budaya lokal tertentu melalui objek yang ditampilkan dan makna dan simbol dibalik sebuah karya khususnya tentang gunungan wayang

    FUNGSI MUSIK BAGI MAHASISWA TUNANETRA YANG TERGABUNG DALAM SPED BAND DI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MALANG

    No full text
    ABSTRAKAstuti.2015. Fungsi Musik Bagi Mahasiswa Tunanetra yang Tergabung dalam Sped Banddi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.Robby Hidajat, M.Sn, (II) Hartono, S.Sn, M.Sn. Kata kunci: Tunanetra, musik, Pendidikan Luar Biasa.Sped band adalah komunitas musik yang dibentuk oleh Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Malang, semua anggotanya tergolong sebagai tunanetra. Tujuan anggota sped band bermain musik karena musik dianggap sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan perasaan anak tunanetra terhadap tanggapan masyarakat mengenai keterbatasannya dalam melakukan suatu kegiatan. Alasan inilah yang mendasari penelitian. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui (1) perencanaan sped band sebelum bermain musik, (2) proses sped band belajar bermain musik, dan (3) hasil belajar sped band dalam bermain musik.Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan narasumber utama yaitu Aris (24 tahun), Gusti (22 tahun), Riski (25 tahun), dan Sudarsini (63 tahun) dan peneliti sebagai instrumen utama dalam penelitian.Tehnik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi.Prosedur analisis data menggunakan analisis sebelum di lapangan, data di lapangan meliputi pengumpulan data, pengurangan, penyajian, menarik kesimpulan, dan analisis data.Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan tehnik triangulasi, untuk memecahkan masalah dalam penelitian ini menggunakan teori (Djohan, 2009: 64-240) tentang psikologi musik.Tahap-tahap penelitian meliputi persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan.Hasil penelitian (1) perencanaan sped band sebelum belajar bermain yaitu pada persiapan lagu serta waktu dan tempat latihan. (2) proses belajar bermain musik yaitu mendengarkan lagu terlebih dahulu, dengan menggunakan alat bantu seperti mobile phone dan MP3, selanjutnya mempraktekkan lagu beserta kunci, dan terakhir mengadakan sharing kelompok dengan anggota lainnya, dan (3) hasil belajar bermain musik oleh sped band yaitu adanya pengaruh musik pada (a) bidang studi mata kuliah yang kemudian difokuskan pada dua mata kuliah yaitu seni ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) dan gerak irama, (b) pengaruh musik dalam mendukung dan mengarahkan pada bidang profesi sebagai pendidik seni, dan  (c) mendukung pada kebutuhan finansial

    Pengaruh Kesesuaian taraf Intensitas Bunyi Musik Sebagai ilustrasi Pembelajaran untuk Meningkatkan Hasil Belajar di SMP IV-8 Kartika Kota Malang

    No full text
    PENGARUH KESESUAIAN TARAF INTENSITAS BUNYI MUSIK SEBAGAI ILUSTRASI PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DI SMP IV-8 KARTIKA KOTA MALANGFahrizal Rifky, Soerjo Wido Minarto, Ika Wahyu Widyawati Universitas Negeri MalangEmail: [email protected], [email protected], [email protected] ABSTRAK: Tujuan penelitian ini yaitu mencari taraf intensitas bunyi musik sebagai ilustrasi pembelajaran dan pengaruh kesesuaian taraf intensitas bunyi musik terhadap hasil belajar. Bentuk penelitian ini yaitu eksperimen dengan desain penelitian One-Group Pretest-Postest Design. Variabel bebas yaitu penggunaan iringan musik dengan taraf intensitas bunyi yang sudah ditentukan pada pembelajaran biologi. Sedangkan variabel terikat, yaitu hasil belajar siswa pada pembelajaran biologi di SMP IV-8 Kartika Kota Malang. Populasi penelitian ini siswa kelas VIIIC dan VIIID. Teknik pengambilan data menggunakan metode observasi, tes, dan dokumentasi. Instrumen untuk mengukur hasil belajar menggunakan pre-test dan post-test. Validitas instrumen tes diuji dengan rumus product moment karl pearson dan reliabilitasnya diuji dengan rumus alpha. Teknik analisis data menggunakan t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen diperoleh nilai rata-rata pre test sebesar 68,5 dan nilai post test sebesar 85,0. Kelompok kontrol diperoleh nilai rata-rata pre test sebesar 71,0 dan nilai post test sebesar 75,0. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa nilai signifikansi 0,013< 0,05. Kata Kunci: taraf intensitas bunyi musik, ilustrasi pembelajaran, hasil belajar,  SMP IV-8Pendidikan merupakan hal yang tidak bisa lepas dari manusia. Karena pentingnya pendidikan berlangsung terus-menerus dari generasi ke generasi dengan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya (UU No.2 Tahun 1985). Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Sedangkan pembelajaran adalah proses belajar mengajar (Margaret, 1991: 1). Tujuan dari pembelajaran yaitu  membantu siswa agar memperoleh perubahan tingkah laku yang positif. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan, keterampilan, dan nilai/norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa.Namun, seiring dengan berkembangnya pendidikan terdapat permasalahan dalam proses belajar mengajar. Permasalahan tersebut berkaitan dengan kemampuan pendidik dalam menyusun rencana pembelajaran, kemampuan dalam berinteraksi atau melaksanakan kegiatan pembelajaran (Aziz, 2014:51). Masalah dalam proses pembelajaran tidak dapat diatasi secara cepat, melainkan dapat diatasi secara perlahan atau bertahap. Sehingga untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan cara atau metode yang tepat. Salah satu metode untuk mengatasi masalah belajar adalah dengan menggunakan metode Quantum Learning yang dikembangkan oleh Georgi Lozanov yang disebut Suggestology atau Suggesto-pedia. Prinsip dari metode ini adalah sugesti dapat meningkatkan hasil belajar dengan menggunakan sugesti yang positif. Salah satu teknik yang digunakan untuk memberikan sugesti positif adalah memasang musik latar di kelas (Deporter & Hernacki, 2016: 14). Maksud dari memasang musik latar di kelas yakni musik menjadi background saat pendidik melaksanakan proses belajar mengajar. Menurut Lozanov, musik sebenarnya berhubungan dan mempengaruhi kondisi fisiologis. Saat tekanan darah dan denyut jantung meningkat, otot-otot menjadi tegang, selama relaksasi dan meditasi maka semuanya akan menurun. Bukti bahwa relaksasi ini berhasil adalah percobaan intensif oleh Lozanov terhadap para siswa, sehingga tercetuslah bahwa kuncinya adalah musik. Relaksasi yang diiringi dengan musik membuat pikiran selalu siap dan mampu berkonsentrasi. Musik yang menurut Lozanov  paling membantu adalah musik barok seperti Bach, Handel, Pachelbel, dan Vivaldi (Deporter & Hernacki, 2016: 72).Musik berperan terhadap lingkungan di dunia pendidikan. Tidak hanya dari Lozanov, Campbell juga menyatakan bahwa belajar lebih mudah dan cepat jika pelajar dalam kondisi santai dan tenang. Salah satu penelitian yang terkenal adalah penelitian tentang musik Mozart yang banyak diuji cobakan oleh peneliti. Musik Mozart sering sekali digunakan sebagai topik utama, terkenal sejak tahun 1993 dari Amerika bahkan ke Indonesia. Musik Mozart digunakan untuk diteliti terhadap anak autis (ABK), Ibu hamil, pasien stroke, bayi, anak-anak kecil dan lain-lain.Campbell (Qauliyah, 2006:5) mendefinisikan efek Mozart sebagai berikut:The Mozart effect is an inclusif term signifying the transformationa powers of music in health, education, and well-being. It represents the general use of music to reduce stress, depression, and anxiety; and improve memory or awareness. Innovative and experimental uses of music and sound can improve listening disorders, dyslexia, attention deficit disorder, autism, and other mental and phyisical disorders and injuries.Efek Mozart adalah istilah inklusif menandakan kekuatan trasformasional musik di bidang kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan. Ini merupakan penggunaan umum musik untuk mengurangi stres, depresi, dan kecemasan; menyebabkan relaksasi atau tidur; mengaktifkan tubuh dan meningkatkan daya ingat atau kesadaran. Inovatif dan eksperimental menggunakan musik dan suara dapat meningkatkan gangguan mendengarkan, disleksia, gangguan defisit perhatian, autisme, dan gangguang mental dan fisik lainnya dan cedera.Musik Mozart merupakan musik klasik yang memiliki keistimewaan tersendiri,  karena  musiknya dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Selain itu, musik klasik memberikan fungsi yang positif bagi subyek, yaitu merasakan tenang dan dapat berpikir jernih saat belajar menggunakan musik klasik. Efeknya tidak lagi merasakan jantung berdebar kencang dan justru lebih fokus saat belajar (Devi dan Faridah, 2011:138). Pernyataan tersebut digunakan pada penelitian Lozanov dan Campbell, hanya saja fakta setiap peserta didik mempunyai karakter masing-masing ada yang senang dengan musik (misalnya musik klasik) saat belajar dan juga ada yang tidak senang.Buku dengan judul “Matinya Efek Mozart” menunjukkan bahwa musik Mozart tidak berpengaruh sama sekali terhadap meningkatkan kecerdasan maupun intelegensi peserta didik. Efek musik Mozart dianggap mampu meningkatkan kualitas kehidupan manusia di semua aspek pada dasarnya hanya sebuah mitos. Penelitian yang dilakukan Newman dkk (1994) membuktikan dengan tes inteligensi Stanford-Binet antara anak-anak yang suka musik klasik dan anak-anak yang tidak suka musik klasik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa anak-anak yang tidak suka musik klasik lebih tinggi nilainya dari anak-anak yang suka musik klasik (Salim, 2007:82).Pernyataan tersebut saling bertolak belakang dan memiliki kesenjangan terhadap masing-masing teori. Pernyataan Lozanov adalah musik barok sangat tepat untuk relaksasi yaitu temponya yang sesuai dengan detak jantung. Pernyataan Campbell menyebutkan bahwa musik Mozart dapat meningkatkan kecerdasan karena irama, melodi, dan frekuensi-frekuensi tinggi pada musik Mozart merangsang dan memberi daya kepada daerah-daerah kreatif dan motivatif dalam otak. Serta didukung oleh pernyataan Djohan Salim bahwa tidak hanya musik Mozart yang mampu meningkatkan kecerdasan, akan tetapi semua musik yang melodinya sesuai dengan pembelajaran. Berdasarkan pernyataan dari Lozanov dan Djohan Salim, bahwa tidak hanya musik Mozart yang mampu meningkatkan kecerdasan melainkan semua musik yang mengandung melodi, irama, dan tempo yang sesuai dengan situasi pembelajaran.Maka dari itu, musik yang menjadi pendukung dalam pembelajaran tidak hanya mengandung melodi, irama, dan tempo, melainkan perlu frekuensi yang sesuai untuk pembelajaran. Frekuensi dalam musik berkaitan erat dengan bunyi. Setiap skala atau intesitas bunyi yang dikeluarkan musik maka akan mempunyai efek yang berlainan. Bunyi musik penting sekali diukur untuk menyesuaikan kadar yang tepat. Stephen E. Stunz dalam jurnalnya berjudul ”The Effect of  Sound Intensity Level on Judgement of Tonal Range and Volume Level” mengungkapkan bahwa tingkat suara atau bunyi mempengaruhi psikologi manusia. Berdasarkan eksperimen yang dilakukan Stephen dalam menyelidiki preferensi pendengar dari berbagai kondisi dengan rentang frekuensi dan tingkat intesitas musik.Intensitas musik berkaitan dengan kebisingan, karena kebisingan merupakan bunyi atau suara yang ada karena tidak dikehendaki serta dapat mengganggu kenyamanan, kesehatan, dan bahkan ketulian (Buchari, USU Repository, 2007:1).Taraf intensitas bunyi bisa diartikan dengan tingkat kebisingan suatu bunyi pada pendengaran manusia. Bunyi yang mempunyai taraf intensitas yang tinggi akan membuat telinga menjadi pekak atau tuli seperti bunyi ledakan bom atau pesawat terbang. Namun ada juga bunyi yang sangat pelan sampai sampai tidak terdengar oleh telinga.  Taraf intensitas bunyi merupakan perbandingan nilai logaritma antara intensitas bunyi yang diukur dengan intensitas ambang pendengaran. Satuan dari taraf intensitas bunyi adalah desiBell (dB). Intensitas ambang pendengaran adalah intensitas bunyi terkecil yang masih mampu didengar oleh telinga (Kemendikbud Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Sumber Belajar Penunjang PLPG 2017 (FISIKA), 2017:4).Berdasarkan paparan di atas, taraf intensitas bunyi musik sangat berpengaruh terhadap pendengaran bahkan psikologis manusia, namun tidak ditetapkan taraf intensitas bunyi secara khusus yang sesuai untuk musik dalam pembelajaran. Peneliti mencari taraf intensitas bunyi musik yang sesuai digunakan untuk mengiringi pembelajaran. Tingkat kebisingan bisa dikategorikan sesuai dengan kadar yang tetap serta penggunaan musik untuk proses mengiringi pembelajaran. Peneliti akan mencari taraf intensitas bunyi musik dan menerapkannya pada sekolah SMP Kartika IV-8 Kota Malang. Sekolah tersebut merupakan sekolah swasta yang menurut peneliti cocok sebagai tempat pelaksanaan penelitian. Hasil penelitian terdahulu dengan judul “Pengaruh Musik Terhadap Konsentasi Belajar Siswa Kelas 2 SMUK Salatiga” bahwa musik latar yang digunakan yaitu heavy metal berpengaruh negatif. Musik degung sunda berpengaruh positif pada tes bahasa Inggris dan berpengaruh negatif pada tes matematika (Salim, 2010:31). Adapun manfaat dari penelitian sebelumnya yaitu adanya perbandingan antara pemberian musik Eropa dan musik tradisional Indonesia terhadap konsentrasi belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian dan manfaat penelitian sebelumnya dapat diterapkan pada penelitian ini.   METODEBentuk penelitian ini yaitu eksperimen dengan desain penelitian One-Group Pretest-Postest Design. Variabel bebas yaitu penggunaan iringan musik dengan taraf intensitas bunyi yang sudah ditentukan pada pembelajaran biologi. Sedangkan variabel terikat, yaitu hasil belajar siswa pada pembelajaran biologi di SMP IV-8 Kartika Kota Malang. Populasi penelitian ini siswa kelas VIIIC dan VIIID. Teknik pengambilan data menggunakan metode observasi, tes, dan dokumentasi. Instrumen untuk mengukur hasil belajar menggunakan pre-test dan post-test. Validitas instrumen tes diuji dengan rumus product moment karl pearson dan reliabilitasnya diuji dengan rumus alpha. Teknik analisis data menggunakan t-test. HASIL DAN PEMBAHASANSkala Taraf Intensitas Suara GuruBerdasarkan hasil observasi dan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, untuk mencari skala rata-rata suara guru telah ditemukan. Sesuai dengan hasil observasi menunjukkan bahwa guru mata pelajaran Biologi kelas VIII C dan VIII D tersebut merupakan perempuan. Proses pencarian skala rata-rata suara guru menggunakan aplikasi dari via gadget yaitu sound meter dan hasilnya akan ditranskripkan kedalam alat ukur kebisingan Sound Level Meter di laboratorium IPA UM sebagai ahli alat ukur taraf intensitas bunyi. Adapun faktor lain yang mempengaruhi saat pencarian skala rata-rata suara guru  yaitu jumlah kursi, jumlah meja, jumlah jendela (terbuka/tertutup), jumlah pintu (terbuka/tertutup), dan jumlah siswa (hadir/tidak hadir).Observasi dilakukan pada hari senin, 1 Oktober 2018 dengan taraf intensitas bunyi minimal 57 dB, rata-rata 59 dB, dan maksimal 61 dB. Rabu, 3 Oktober 2018 dengan taraf intensitas bunyi minimal 58 dB, rata-rata 60 dB, dan maksimal 62 dB. Senin, 8 Oktober 2018 dengan taraf intensitas bunyi minimal 58 dB, rata-rata 60 dB, dan maksimal 61 dB. Rabu, 10 Oktober 2018 dengan taraf intensitas bunyi minimal 54 dB, rata-rata 58 dB, dan maksimal 60 dB. Senin, 15 Oktober 2018 dengan taraf intensitas bunyi minimal 57 dB, rata-rata 59 dB, dan maksimal 61 dB. Rabu, 17 Oktober 2018 dengan taraf intensitas bunyi minimal 58 dB, rata-rata 60 dB, dan maksimal 61 dB. Senin, 22 Oktober 2018 dengan taraf intensitas bunyi minimal 59 dB, rata-rata 60 dB, dan  maksimal 61 dB. Kesimpulannya adalah rata-rata skala taraf intensitas suara guru sebesar 60 dB.   Taraf Intensitas Bunyi MusikPenelitian pertama yaitu menggunakan musik klasik dan musik karawitan dengan tingkat volume 15 pada mixer laptop dengan rata-rata desibel 60-69 dB. Jarak sumber bunyi dengan siswa paling belakang berkisar 2,5 meter. Desibel yang dihasilkan 60-69 dB merupakan keadaan kelas tanpa suara guru. Apabila guru mulai mengajar atau berbicara maka tingkat desibel berubah menjadi 61-72 dB. Perubahan desibel yang terjadi akan mempengaruhi keadaan kelas. Saat guru tidak berbicara, skala 60-69 dB musik yang diperdengarkan akan terdengar oleh siswa yang duduk paling depan maupun paling belakang. Hal tersebut akan berbeda saat guru berbicara, maka musik yang menjadi ilustrasi pembelajaran akan terdengar tipis sekali berbanding jauh dengan suara guru.  Apabila semua aktif berbicara baik guru maupun siswa maka desibelnya berubah menjadi 62-77 dB. Saat desibel seperti itu maka keadaan kelas akan kurang kondusif karena aktifnya semua yang berbicara pada kelas tersebut. Sesuai hasil observasi keadaan siswa dengan tingkat volume 15 (61-72 dB) membuat keadaan kelas sangat kondusif, siswa dapat memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi biologi dan kelas lebih aktif saat guru memberikan soal tanya-jawab dengan siswa. Penelitian kedua menggunakan musik klasik dan musik karawitan dengan tingkat volume 17 pada mixer laptop dengan rata-rata desibel 60-75 dB. Tingkat volume yang dinaikkan bertujuan untuk mencari titik akurat desibel pada proses pembelajaran. Jarak sumber bunyi sama dengan sebelumnya yaitu berkisar 2,5 meter terhadap siswa paling belakang. Desibel yang dihasilkan 60-75 dB merupakan keadaan kelas tanpa suara guru. Apabila guru mulai mengajar atau berbicara maka tingkat desibel berubah menjadi 62-75 dB. Perubahan desibel yang terjadi akan mempengaruhi keadaan kelas. Saat guru tidak berbicara, skala 60-75 dB musik yang diperdengarkan akan terdengar oleh siswa yang duduk paling depan maupun paling belakang akan tetapi suara yang dihasilkan sedikit nyaring. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, hal tersebut merupakan akibat faktor instrumen musiknya alat pukul dan tingkat kebisingan yang berbeda.  Apabila semua aktif berbicara baik guru maupun siswa maka desibelnya berubah menjadi 63-77 dB. Saat desibel seperti itu maka keadaan kelas akan lebih kurang kondusif karena aktifnya semua yang berbicara pada kelas tersebut. Sesuai hasil observasi keadaan siswa dengan tingkat volume 17 pada mixer laptop (60-75dB) membut keadaan kelas sangat tidak kondusif, siswa juga kurang memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi biologi dan kelas lebih aktif  berbicara sama teman dan mengikuti suara musik. Tes Awal (Pre test)Hasil pre test yang sudah didapat dari kelompok eksprerimen dan  kelompok kontrol akan dijabarkan pada tabel sebagai berikut.Hasil Tes Awal (Pre test) Kelompok Eksperimen dan Kelompok KontrolNo        Kelas    Jumlah Siswa   Rata-rata Nilai1          VIIID (eksperimen)      32        68,52          VIIIC (kontrol)  30        71,0Total    62         Berdasarkan hasil perhitungan statistik, maka diperoleh nilai rata-rata tes awal (pretest) kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah 68,5 (enam puluh delapan koma lima) dan 71,0 (tujuh puluh satu koma no;). Pelaksanaan Perlakuan (Treatment)Kelompok EksperimenPelaksanaan perlakuan pada kelompok eksperimen yaitu pada kelas VIII D berdasarkan hasil pretest nilai kelas VIII D rendah dari pada kelas VIII C. Perlakuan pada penelitian ini adalah pemberian musik dengan genre (Klasik dan Tradisional) dengan taraf intensitas bunyi yang sudah ditetapkan. Guru menjelaskan pelajaran Biologi seperti biasa dan musik dimainkan dilatar pembelajaran. Peneliti mencari skala rata-rata suara guru, kemudian mencari taraf intensitas bunyi yang ditetapkan untuk diuji cobakan. Selain itu peneliti juga membuat soal Biologi yang dikonsultasikan dengan guru bersangkutan, mempersiapkan peralatan dalam memberikan perlakuan, serta menentukan waktu pelaksanaan. Adapun pelaksaan perlakuan/treatment ini yakni 2 kali pertemuan pada saat mata pelajaran Biologi. Selama kelas eksperimen berlangsung, peneliti juga mengamati aktifitas guru dan siswa. Kelompok KontrolPelaksaan pada kelompok kontrol yaitu kelas VIII C. Kelas ini tidak diberi perlakuan sama sekali, hanya saja kelas ini diberikan pretest dan postest. Tujuan dari kelompok kontrol ini sebagai pembanding antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Maka pada kelompok kontrol menjalani proses pembelajaran  seperti biasanya tanpa adanya perlakuan. Pengamatan (Observasi)Saat pemberian perlakuan/treatment pada kelompok eksperimen yakni menggunakan musik dengan taraf intensitas yang sudah ditentukan saat pembelajaran berlangsung, peneliti juga melaksanakan pengamatan (observasi). Observasi dilakukan pada kelompok eksperimen dan juga kelas kontrol. Tujuan dari observasi ini adalah mengetahui kondisi kelas dan langkah-langkah eksperimen yang sudah direncanakan. Guru bertindak seperti biasanya, menjelaskan materi dan peneliti sebagai pengamat. Hasil Observasi Aktivitas Guru Pada Kelompok Eksperimen Pertemuan I dan IIHasil observasi aktivitas guru pada kelompok eksperimen dengan menggunakan musik dengan taraf intensitas yang sudah ditentukan. Pertemuan I didapatkan hasil aspek pra-pembelajaran sebesar 2 dan pertemuan II sebesar 2. Aspek kegiatan awal pertemuan I sebesar 2 dan mengalami peningkatan pada pertemuan II yakni sebesar 3. Aspek kegiatan inti pada pertemuan I sebesar 3, dan mengalami peningkatan pada pertemuan II yakni sebesar 4. Aspek terakhir yaitu kegiatan akhir pada pertemuan I sebesar 1 dan meningkat pesat pada pertemuan II sebesar 3. Berdasarkan statistik yang didapat bahwa pertemuan I sebesar 66,6% dan pertemuan II sebesar 83,3%, sehingga aktivitas guru dari pertemuan I hingga pertemuan II mengalami peningkatan sebesar 16,7%. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Kelompok Eksperimen Pertemuan I dan IIHasil observasi aktivitas siswa pada kelompok eksperimen dengan menggunakan musik dengan taraf intensitas yang sudah ditentukan. Pertemuan I didapatkan hasil aspek ketenangan/kondusif sebesar 27 dan pertemuan II sebesar 29. Aspek pemahaman/kemampuan berfikir pertemuan I sebesar 5 dan mengalami peningkatan pada pertemuan II yakni sebesar 8. Aspek keaktifan pada pertemuan I sebesar 3, dan mengalami peningkatan pada pertemuan II yakni sebesar 5.  Tes Akhir (Post test)Tahap tes akhir merupakan langkah terakhir dari test. Tujuan dari tes akhir ini adalah mengetahui pengaruh musik dengan taraf intensitas yang sudah ditentukan yang diberikan kepada kelompok eksperimen. Adapun tes akhir/post test ini diberikan kepada kedua kelompok eksperimen dan kelompok kontrol agar peneliti dapat menganalisis keberhasilan dari treatment yang sudah dilakukan. Hasil post test yang sudah didapat dari kelompok eksprerimen dan kelompok kontrol akan dijabarkan pada tabel sebagai berikut.No        Kelas    Jumlah Siswa   Rata-rata Nilai1          VIIID (eksperimen)      32        85,02          VIIIC (kontrol)  30        75,0Total    62         Berdasarkan hasil perhitungan statistik, maka diperoleh nilai rata-rata tes awal (post test) kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah 85.0 (delapan puluh lima koma nol) dan 75,0 (tujuh puluh lima koma nol).Uji t Pre Test Pada Kelompok Eksperimen dan Kelompok KontrolH0 : tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap nilai pre test dari kelompok    eksperimen dan kelompok kontrolH1 : ada perbedaan yang signifikan terhadap nilai pre test dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrolKesimpulannya adalah jika nilai t hitung lebih besar dari pada t tabel, atau nilai signifikasi lebih kecil dari 0,05 maka H1 diterima sehingga disebut ada perbedaan yang signifikan terhadap nilai pre test dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sebaliknya jika nilai t hitung lebih kecil dari pada t tabel, atau nilai signifikasi lebih besar dari 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak sehingga disebut tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap nilai pre test dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Berdasarkan dari hasil analisis uji t menunjukkan bahwa nilai t sebesar 0,620 dan nilai signifikansi 0,516. Nilai signifikansi yang ditemukan lebih besar dari 0,05 sehingga H0 diterima dan H1 ditolak  maka tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap nilai pretest dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Disimpulkan bahwa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki kemampuan sama.Uji t Post Test Pada Kelompok Eksperimen dan Kelompok KontrolH0 : tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap nilai post test dari kelompok    eksperimen dan kelompok kontrolH1 : ada perbedaan yang signifikan terhadap nilai post test dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrolKesimpulannya adalah jika nilai t hitung lebih besar dari pada t tabel, atau nilai signifikasi lebih kecil dari 0,05 maka H1 diterima sehingga disebut ada perbedaan yang signifikan terhadap nilai post test dari kelompok eksperimen dan kelompok k

    0

    full texts

    2,650

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇