SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    2650 research outputs found

    STRUKTUR GERAK REOG BULKIO DI DESA KEMLOKO KECAMATAN NGLEGOK KABUPATEN BLITAR

    No full text
    ABSTRAK Wijayanti, Kunti. 2017. Struktur Gerak Reog Bulkio Di Desa Kemloko Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Skripsi,Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Ninik Harini, M.Sn (II) Hartono S.Sn, M.Sn Kata Kunci: Struktur gerak,Reog Bulkio, kesenian rakyat, kabupaten BlitarTari Reog Bulkio adalah tari khas Blitar yang terinspirasi dari perjuangan para prajurit Diponegoro melawan penjajah Belanda. Gerak tari Reog Bulkiosederhana dan diulang-ulang menggambarkan peperangan melawan penjajah Belanda, adapun cerita mengenai peperangan  zaman kenabian yang menceritakan perlawanan agama Islam melawan kaum kafir hanyalah sebagai selubung saja, agar para penari atau pemain tari Reog Bulkio tidak ditangkap dan dibuang oleh penjajah Belanda.Alasan yang mendasari pemikiran peneliti untuk mengadakan penelitian tentang struktur tari Reog Bulkio ini memiliki ciri khas yaitu geraknya sedrehana dan diulang-ulang, serta masyarakat di wilayah Blitar belum banyak yang mengetahui tari Reog Bulkio, dengan adanya penelitian tentang struktur Reog Bulkio ini dapat membantu memperkenalkan Reog Bulkiokepada masyarakat Blitar.Tujuan dari penelitian ini yaitu mendiskripsikan struktur gerak  Reog Bulkio yang berada di Desa Kemloko Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Masyarakat Desa Kemloko mayoritas memeluk agama Islam. Tari Reog Bulkio ini adalah kesenian yang berafaskan Islam dan Hindu terlihat dari alat musik yang digunakan, yaitu alat musik Terbang yang merupakan alat musik yang bernafaskan islam serta gong dan kenong berasal dari agama Hindu.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.  Data dalam penelitian ini berupa kata-kata dan gamabar. Prosedur pengumpulan data menggunakan metode observasi,wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data dan penyajian data. Pengecekan data dilakukan dengan menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Tahap-tahap dalam penelitian ini terdiri dari tahap persiapan, tahap rancangan penelitian, tahap pelaksanaan, tahap pelaporan penelitian.Hasil dari penelitian ini adalah struktur gerak Reog Bulkio terdiri dari unsur gerak kepala, unsur gerak tangan, unsur gerak badan, unsur gerak kaki, terdiri dari motif statis dan motif dinamis, ragam gerak, frase, paragraf dan memiliki tiga kostum yang berbeda antara penari prajurit, penari perangan dan pemegang panji atau bendera.Kesimpulan dari struktur gerak Reog Bulkio ini yaitu: terdiri dari 5 unsur gerak kepala, 9 unsur gerak tangan, 8 unsur gerak badan, 9 unsur gerak kaki, 13 motif statis, 6 motif dinamis, 6 ragam gerak, 13 frase, 3 paragraf serta memiliki 3 kostum berbeda dari penari prajurit, perangan dan pemegang panji atau bendera. Saran untuk masyarakat Blitar agar lebih melestarikan dan menghargai kesenian lokal agar tetap lestari keberadaannya, untuk peneliti selanjutnya di harapkan bisa melengkapi hasil dari penelitian ini agar lebih rinci dan lebih baik

    BENTUK PENYAJIAN SENI PERTUNJUKAN JANGER LAKSONO WAHYU PENTHUL BUDOYODI DESA CURAHJATI KECAMATAN PURWOHARJO KABUPATEN BANYUWANGI

    No full text
    ABSTRAK   Pramitra, Repina Dewi. 2017. Bentuk Penyajian Seni Pertunjukan Janger Campursari Laksono Wahyu Penthul Budoyo di Desa Curahjati Kec. Purwoharjo Kab. Banyuwangi. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dra. Ninik Harini, M.Sn.   Kata Kunci : Janger, Bentuk Penyajian Seni Janger atau Damarwulan merupakan pertunjukan rakyat yang sejenis dengan ketoprak. Pertunjukan ini hidup dan berkembang di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur serta memiliki lakon atau alur cerita yang di sajikan dalam pertunjukan tersebut. Selain itu dalam penyajianya Janger didukung oleh beberapa unsur yaitu panggung, alat musik, tata rias dan busana. Hal ini yang melatarbelakangi penelititertarik untuk mendeskripsikan Bentuk Penyajian Seni Pertunjukan Janger Campursari Laksono Wahyu Penthul Budoyo di Sanggar Seni Sasono Penthul Budoyo Kab. Banyuwangi.                                                               Tujuan dilakukan penelitian pada seni pertunjukan janger ini adalah guna mengetahui bagaimana bentuk penyajian yang baik dalam sebuah pertunjukan janger yang ada di Banyuwangi serta bagaimana antusias para pelaku yang terlibat didalamnya, sehingga dapat dijadikan motivasi untuk generasi penerus pelaku seni janger selanjutnya.                                  Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian bertempat di Desa Curahjati tepatnya di Sanggar Seni Sasono Penthul Budoyo Kabupaten Banyuwangi. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan menggunakan 2 teknik triangulasi yaitu triangulasi sumber dan teknik.                                                                              Berdasarkan hasil penelitian menunjukan Bentuk Penyajian Seni Pertunjukan Janger Campursari Laksono Wahyu Penthul Budoyo ini memiliki  keunikan  tersendiri yang terdiri dari beberapa aspek yaitu: musik iringan yang menggunakan 2 rancak gamelan pelog dan slendro, alur cerita yang pakem masih menjadi unsur utama dari seni pertunjukan tersebut, tata rias dan busana yang digunakan menjadi sebuah karakter dari peran atau adegan yang di perankan dalam sebuah pertunjukan tersebut, unsur pendukung dalam sebuah pertunjukan yang mellibatkan sebuah panggung dan properti guna menunjang kelancaran pertunjukan yang disajikanBeberapa saran yang diberikan penulis, yaitu bagi pelaku seni dan juga seniman, diharapkan mempertahankan, menjaga dan melestarikan seni pertunjukan Janger, dengan cara memperkuat jati diri dan memiliki kesadaran tinggi serta kepribadian sebagai masyarakat Banyuwangi agar identitas masyarakat Banyuwangi tidak hilang. Untuk seniman yang ingin mengembangkan diharapkan mampu untuk lebih memperlihatkan makna positif pada seni pertunjukan tersebut. Dengan adanya penelitian, diharapkan masyarakat Banyuwangi mengetahui keunikan dan makna positif yang terdapat dalam seni pertunjukan Janger sehingga dapat melestarikan dengan baik seni pertunjukan ini yang merupakan khas Kabupaten Banyuwangi

    PERANCANGAN BUKU CERITA BERGAMBAR MELALUI PENOKOHAN KARAKTER KESENIAN BESUTAN SEBAGAI SARANA PELESTARIAN BUDAYA LOKAL

    No full text
    ABSTRAK Marsetyani Deninta Dwi 2016.Perancangan Buku Cerita Bergambar Melalui Penokohan Karakter Kesenian Besutan Sebagai Sarana Pelestarian Budaya Lokal. Skripsi. Program Studi Desain Komunikasi Visual. Jurusan Seni Dan Desain. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I)Drs. Didiek Rahmanadji , M.Pd. (II) Moch. Abdul Rohman, S.Sn, M.Sn. Kata Kunci : Perancangan,Cerita Bergambar, Besutan, Budaya Lokal. Budaya Lokal mencerminkan tindak perilaku dan kepercayaan masyarakat. Di Jombang terdapat Kesenian Besut yang merupakan pengembangan Kesenian Lerok dan cikal bakal Ludruk. Ludruk Besutan menampilkan empat tokoh panggung, yakni Besut, Paman Jamino (Paman Ganda)/Manganda, Asmunah/Rusmini, dan Sumogamabar.Banyaknya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam cerita Kesenian Besutan ini  harus dilestarikan dan perlu diperkenalkan serta diketahui. Banyaknya generasi muda yang belum mengenal Kesenian Besutan Oleh sebab itu perlu dirancangnya media yang memperkenalkan Kesenian Besutan. Adapun tujuan untuk melestarikan Kesenian Besutan sebagai warisan buaya lokal dapat dikenal dan dilestarikan. Model perancangan yang digunakan adalah model perancangan dari Bruce Archer. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melaukaan wawancara, kajian pustaka, dokumentasi menghasilkan data yang dibutuhkan untuk perancangan buku cerita bergambar. Media pendukung lain yang diperlukan untuk memaksimalkan daya tarik budaya lokal adalah  poster, brosur, flyer, dan mini x-banner.

    Perancangan Cerita Bergambar Kisah Nabi Yunus Untuk Menanamkan Nilai Belas Kasih dan Pembentukan Moral Pada Anak-Anak

    No full text
    Kesadaran pentingnya penanaman nilai sebagai pembentukan moral yang baik sebaiknya disadari sejak dini pada anak-anak. Dalam lingkup nasrani pengajaran agama sejak dini pada anak dapat dilakukan melalui ‘sekolah minggu’ dengan mengenalkan dan mendidik anak sesuai dengan Alkitab dan ajaran Yesus. ‘Sekolah minggu’ di Gereja St. Albertus De Trapani Malang merupakan salah satu ‘sekolah minggu’ dengan intensitas minat anak dalam mengikuti kegiatan tersebut dikategorikan cukup baik. Namun hal ini masih bertolak belakang dengan pemahaman anak akan materi yang disampaikan karena keterbatasan sarana yang dimiliki menjadi kendala ‘sekolah minggu’ tersebut. Kisah Nabi Yunus di Alkitab Perjanjian Lama merupakan salah satu kisah yang sangat menarik bagi anak-anak dan memiliki pesan-pesan moral yang positif yang dapat dikutip untuk mendidik anak-anak. Selain itu kisah ini mudah disampaikan, singkat, jelas, dan mudah dicerna anak-anak.Tujuan perancangan ini adalah ingin mendidik anak-anak dengan menanamkan nilai belas kasih sejak dini sehingga terbentuk moralitas yang baik dewasa nanti. Selain itu juga untuk membantu sarana pendukung bahan ajar di ‘sekolah minggu’.Metode yang digunakan dalam perancangan ini menggunakan metode prosedural. Model perancangan yang dipilih yaitu model perancangan milik Bruce Archer yang telah dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perancangan, yang disusun secara sistematis terdiri dari Latar Belakang, Pengumpulan Data, Analisis Data, Konsep Perancangan, Proses Perancangan, hingga Desain Akhir.Perancangan akan menghasilkan sebuah karya buku cerita bergambar yang berjudul “Kisah Nabi Yunus & Ikan Besar”. Gaya ilustrasi yang digunakan pada buku cerita bergambar menggunakan gaya ilustrasi kartun dengan teknik vektor sesuai gaya perancang sendiri. Buku cerita ini juga menggunakan warna-warna yang disukai anak-anak, yaitu full colour yang cerah dan kontras (tajam). Selain media utama terdapat pula media pendukung berupamerchandise berupa boneka tangan, kaos,sling bag, gantungan kunci, pin, stiker, dan pembatas buku. Kesimpulan yang dapat ditarik dalam perancangan ini  yaitu melalui media buku cerita bergambar ini diharapkan mampu menyampaikan pesan moral kepada anak berupa ajakan untuk berbelas kasih kepada sesama dimulai dengan hal sederhana seperti saling memaafkan, selalu berdoa dan percaya kepada Tuhan, sehingga dengan demikian mampu membentuk moralitas yang baik saat dewasa nanti. Namun sebaiknya dalam merancang sebuah media buku bergambar lebih memperhatikan lagi target audiens agar konten buku seperti penggunaan bahasa dapat disesuaikan dengan pemahaman usia pembaca

    Redesign Logo Tretes Treetop Adventure Park dan Aplikasinya sebagai Corporate Identity

    No full text
    Irawan, Deny. 2016. Redesign Logo Tretes Treetop Adventure Parkdan Aplikasinya sebagai Corporate Identity.Skripsi Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain , Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Sarjono, M. Sn. Kata Kunci: Redesign, Logo, Corporate Identity. Tretes Treetop Adventure Park merupakan salah satu tempat wisata yang menyediakan permainan adventure outbondatau permainan alam terbuka untuk melatih ketahanan fisik maupun psikis. Seiring dengan perkembangannyaserta banyaknya tempat wisata baru dengan konsep maupun permainan yang berbeda, Tretes Treetop  Adventure Park perlu menciptakan sebuah identitas visual yang memiliki konsep yang kuat sebagai identitas khusussehinggamemiliki citra positif dan nilai lebih dari tempat wisata lainnya. Pengaplikasian logo sebagai corporate identity merupakan hal yang sangat penting agar perusahaan memiliki standarisasi penerapan identitas perusahaan. Dengan tujuankhalayak akan dengan mudah mengenal dan mengetahui melaluibranding maupun media promosi yang dibuat kedepannya. Model perancangan yang digunakan adalah model perancangan prosedural yaitu model perancangan yang bersifat deskriptif dimana menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti dalam menghasilkan sebuah produka menggunakan prosedur yang dikemukakan oleh Surianto Rustan. Langkah-langkah prosedural yang dilakukan dalam proses perancangan ini dengan pengumpulan data melalui observasi. Perancangan ini menghasilkan corporate identity baru berupa logo yang dapat diaplikasikan pada berbagai media komunikasi visual agar menguatkan citra perusahaan yang lebih positif.Hasil dari perancangan ini diharapkan mampu menjadi salah satu bahan acuan dalam redesign corporate identity, baik bagi mahasiswa grafis, pengajar, dan lain sebagainya.

    Peningkatan Kemampuan Menggambar Bentuk Flora Dengan Menggunakan Metode Driil Pada Siswa Kelas VII B SMP Negeri 2 Grati Kabupaten Pasuruan

    No full text
    Any Widayati, 2016, Peningkatan Kemampuan Menggambar Bentuk Flora Dengan Menggunakan Metode Drill Pada Siswa Kelas VII B SMP Negeri 2 Grati Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Hj. Purwatiningsih, M.Pd.             Kata Kunci: kemampuan, menggambar bentuk, metode drill Siswa kelas VII B SMP Negeri 2 Grati Kabupaten Pasuruan menunjukkan bahwa dalam kegiatan menggambar membutuhkan waktu yang lama dan hasil menggambar kurang maksimal. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor diantaranya:  kesulitan siswa dalam mengamati dan memindahkan objek ke dalam media, siswa kurang mampu menerapkan proporsi, komposisi, teknik arsir pada bentuk flora, dan juga faktor yang disebabkan dalam diri siswa seperti: malu, takut salah, dan kurang konsentrasi. Berdasarkan paparan tersebut sikap belajar siswa dapat ditingkatkan melalui pemberian motivasi dan reward, pada teknik menggambar dapat ditingkatkan melalui latihan yang intensif, maka dilakukan pembelajaran menggambar bentuk flora dengan menggunakan metode drill. Penelitian ini adalah  Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam dua siklus, setiap siklusnya terdiri dari empat tahap, yaitu: 1) perencanaan; 2) pelaksanaan; 3) observasi; dan 4) refleksi. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas VII B SMP Negeri 2 Grati Kabupaten Pasuruan yang berjumlah 42 siswa, sedangkan objek penelitian adalah keseluruhan proses dan hasil pembelajaran dengan penerapan metode drill untuk meningkatkan kemampuan menggambar bentuk flora pada siswa kelas tersebut. Instrumen penelitian berupa tes kemampuan menggambar dan lembar observasi. Instrumen penelitian tersebut digunakan untuk mengetahui proses dan hasil belajar siswa menggambar bentuk flora. Analisis data dilakukan pada saat dan setelah selesai kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dan kolaborator. Hasil siklus I menunjukkan bahwa prosentase ketuntasan hasil belajar mencapai 61,90% dan siklus II 85,71% mengalami kenaikan 23,81%. Sedangkan nilai rata-rata hasil tes praktek setiap indikator penilaian pada siklus I, yaitu: a) kemampuan mewujudkan bentuk 76,19; b) membuat proporsi 80,95; c) membuat komposisi 73,21; d) membuat teknik arsir 65,48. Untuk siklus II nilai rata-rata hasil tes praktek setiap indikator penilaian pada siklus II, yaitu; a) kemampuan mewujudkan bentuk 76,79;  b) membuat proporsi 82,14; c) membuat komposisi 82,14; d) membuat teknik arsir 73,86. Nilai rata-rata pencapaian indikator menggambar bentuk flora dari siklus I ke siklus II meningkat 3,27%. Hasil data observasi pada indikator keaktifan, kesungguhan, dan minat siswa siklus I dan siklus II menunjukkan ada peningkatan belajar. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan menggambar bentuk flora  melalui penggunaan metode drill dapat dilakukan dengan memaksimalkan aktifitas belajar siswa kelas VII B SMP Negeri 2 Grati Kabupaten Pasuruan. Oleh karena itu untuk peningkatan kemampuan siswa menggambar bentuk dalam proses pembelajaran salah satunya dapat menerapkan metode drill

    BENTUK PENYAJIAN TARI BESKALAN LANANG DI DESA NGADIRESO KECAMATAN PONCOKUSUMO KABUPATEN MALANG

    No full text
    ABSTRAK Lusiana, Desy. 2016. Bentuk Penyajian Tari Beskalan Lanang di Desa Ngadireso Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Ninik Harini, M.Sn, Pembimbing (II) Tri Wahyuningtyas, S.Pd, M.Si.   Kata Kunci : Tari Beskalan Lanang, Bentuk Penyajian   Tari Beskalan Lanang merupakan tari tradisional yang berasal dari kabupaten Malang tepatnya di desa Ngadireso, kecamatan Poncokusumo. Beskalan Lanang menggambarkan kesatria yang gagah dan kokoh pendirian di tengah hidupnya yang sendiri tanpa kedua orang tua. Terdapat keunikan ditinjau dari bentuk penyajiannya yaitu terdapat ragam gerak “bau sikon” yang mirip gerakan silat. Selain ragam gerak, juga terdapat keunikan tata busananya yaitu terdapat “skoder” mirip pangkat jendral. Gerakan tari Beskalan Lanang banyak dipengaruhi dari gerakan tari Remo. Penelitian yang serupa juga belum pernah dilakukan di kota dan kabupaten Malang sendiri mengenai tari Beskalan Lanang. Hal ini yang menjadi latar belakang untuk mendeskripsikan tentang bentuk penyajian tari Beskalan Lanang. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian bertempat di desa Ngadireso, kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan menggunakan 2 teknik triangulasi yaitu triangulasi teknik dan sumber. Bentuk penyajian tari Beskalan Lanang meliputi ragam gerak, tata busana, tata rias dan musik iringannya memiliki keterkaitan yang menunjukkan satu kesatuan yang utuh. Satu kesatuan tersebut berkaitan dengan karakter masyarakat Malang yaitu memiliki sikap berani di depan bukan hanya berani di belakang, dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah “adu arep”. Hal tersebut berkaitan juga dengan karakter gerak tari Jawa Timuran yang meliputi 5 unsur penjiwaan yaitu madeg, majeg, manteb, mapan dan mapag. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, adanya dokumentasi tertulis hasil penelitian yang berjudul “Bentuk Penyajian Tari Beskalan Lanang di Desa Ngadireso, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang” diharapkan dapat menambah pengetahuan, wawasan, dan data tertulis tentang bentuk penyajian tari Beskalan Lanang sehingga mampu menumbuh kembangkan rasa cinta bagi masyarakat terhadap nilai-nilai luhur kesenian daerah sendiri agar tidak tergeser oleh budaya asing.

    Peningkatan Kemampuan Menggambar Karikatur Melalui Deformasi Objek Yang Difoto Pada Siswa Kelas VIII-A SMP Negeri 4 Kertosono Kabupaten Nganjuk

    No full text
    ABSTRAKWarmundayati, Yuni, 2016. Peningkatan Kemampuan Menggambar Karikatur Melalui Deformasi Objek Yang Difoto Pada Siswa Kelas VIII-A SMP Negeri 4 Kertosono Kabupaten Nganjuk. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing  Dra. Hj. Purwatiningsih M.PdKata Kunci : deformasi, menggambar karikaturMenggambar karikatur pada sebagian siswa mempunyai tingkat kesulitan  untuk mengaplikasikannya. Di situ membutuhkan ketrampilan tersendiri terutama dalam mengaktualisasikan karakter objek. Selain itu strategi pembelajaran yang diberikan oleh guru harus tepat. Seperti halnya yang terjadi di Kelas VIII-A SMP Negeri 4 Kertosono, kemampuan membuat sket/gambar objek sebelum dideformasi dan kemampuan membuat sket/gambar objek yang dideformasi rata-rata menunjukkan hasil yang kurang maksimal.Oleh sebab itu, diperlukan langkah-langkah tindakan perbaikan dan penyempurnaan pembelajaran menggambar karikatur, khususnya dalam usaha menyederhanakan teknik yang pada akhirnya mempermudah siswa dalam belajar menggambar karikatur. Tindakan yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode objek yang difoto.Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas melalui 2 tahapan siklus. Yang setiap siklusnya melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas tersebut sedangkan objek penelitian adalah keseluruhan proses dan hasil pembelajaran dengan menerapkan metode deformasi objek yang difoto.Teknik pengumpulan data yang dipergunakan melalui observasi dan tes kemampuan menggambar.Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukan adanya perkembangan positif terhadap kemampuan  menggambar karikatur siswa kelas VIII-A SMP Negeri 4 Kertosono.  Pada siklus I, data menunjukkan bahwa ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan dari 11 (34,40%) anak yang tuntas menjadi 13 (40,60%) anak yang tuntas. Meskipun demikian siswa masih mengalami kesulitan dalam menggambar objek pokok tokoh. Selanjutnya dilakukanlah penyempurnaan tindakan pada siklus II dengan meblat foto tokoh yang akan dideformasi. Dari hasil tindakan ternyata data menunjukan respon siswa dalam pembelajaran semakin baik, hasil pembelajaran meningkat. Tingkat ketuntasan belajar dari siklus I 13 anak (40,60%) menjadi 31 anak (96,90 %). Sedangkan nilai rata-rata hasil tes praktek setiap indikator penilaian pada siklus I, yaitu; a) sket sebelum dideformasi 62,50%; b) mendeformasi objek 63,28%; c) finishing 67,97%. Untuk siklus II nilai rata-rata tes praktek setiap indikator penilaian, yaitu; a) sket sebelum dideformasi 75,78%; b) mendeformasi objek 73,44%; c) finishing 82,03%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa  melalui deformasi objek yang difoto dapat meningkatkan kemampuan menggambar karikatur siswa kelas VIII-A SMP Negeri 4 Kertosono Nganjuk.ABSTRACTWarmundayati, Yuni, 2016. Upgrades Through Deformation Caricature Drawing Objects That Photographed In Grade VIII-A SMP Negeri 4 Kertosono Nganjuk Regency Thesis, Department of Art and Design, Faculty of Letters, State University of Malang. Supervisor Dra. Hj. Purwatiningsih M.PdKeywords: deformation, draw caricaturesDrawing caricatures in some student has its difficulty level to apply. There requires its own skills, especially in actualizing the object code. Besides learning strategy given by the teacher to be precise. As was the case in Class VIII-A SMP Negeri 4 Kertosono, ability sketching / drawing object before the deformed and the ability sketching / drawing object deformed average showed a lack maksimal.Oleh Therefore, the necessary measures remedial action and refinement of learning to draw caricatures, particularly in an effort to simplify the technique, which in turn, enables the students to learn to draw caricatures. Action is carried out by using the object to be photographed.This study uses classroom action research through two stages of the cycle. That each cycle through the stages of planning, implementation, observation and reflection. The subjects were all students in the class, while the object of study is the overall process and learning outcomes by applying object difoto.Teknik deformation method of data collection used through observation and drawing skills tests.From the results of research conducted showed a positive development of the ability to draw caricatures class VIII-A SMP Negeri 4 Kertosono. In the first cycle, the data show that mastery learning students has increased from the previous 11 (34.40%) children completed to 13 (40.60%) children completed. Yet students are still experiencing difficulties in drawing the main object of figures. Further enhancements perform the action on the second cycle with meblat portraits that will be deformed. From the results of the action turns the data shows the response of the better students in learning, increase learning outcomes. The level of mastery learning of the first cycle of 13 children (40.60%) to 31 children (96.90%). While the average value of each practice test results on the first cycle assessment indicators, namely; a) sketch before a deformable 62,50%; b) the object deform 63.28%; c) finishing 67.97%. For the second cycle the average value of each indicator assessment practice test, ie; a) sketch before a deformable 75.78%; b) the object deform 73.44%; c) finishing 82.03%. The results showed that the object to be photographed through deformation can improve the ability to draw caricatures class VIII-A SMP Negeri 4 Kertosono Nganjuk

    Peningkatan Kreativitas Gerak tari Melalui Model Pembelajaran Kooperatif tipe Student Teams Acheivement Division (STAD) pada kelas VII-6 di SMP Negeri 1 Tanjunganom

    No full text
    ABSTRAKLestari, Endang Sri.2016. Peningkatan Kreativitas Gerak tari Melalui Model Pembelajaran Kooperatif tipe Student Teams Acheivement Division (STAD) pada kelas VII-6 di SMP Negeri 1 Tanjunganom.Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni, Tari dan Musik, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dra. NINIK HARINI, M.SnKata Kunci:Peningkatan Kreativitas Gerak Tari, Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Acheivement Division (STAD)Berdasarkan hasil observasi pada pembelajran seni Budaya sub bidang seni tari kelas VII-6 SMP Negeri 1 Tanjunganom, diketahui bahwa hasil belajar siswa dalam pembelajaran seni tari berada di bawah KKM. Siswa terlihat kurang antusias, kurang aktif dan kurang bersungguh-sungguh dalam pembelajaran seni budaya sub bidang seni tari, karena guru hanya menerapkan metode ceramah, dan demontrasi. Dari 32 siswa,hanya 8 siswadenganprosentase 25% yang hasilbelajarnyadiatas KKM, sedangkan sebanyak 24 siswa dengan prosentase 75% siswa masih belum mencapai KKM (75).Tujuan penelitian untuk meningkatkan hasil belajar kreativitas gerak tari pada siswa kelas VII-6 SMP Negeri 1 Tanjunganom melalui penerapan metode pembelajaran Kooperatif tipe Student Teams Acheivement Division (STAD).Penelitian ini adalah PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dengan menggunakan pendekatan kualitatif diskriptif, subjek penelitian berjumlah 32 siswa. Pelaksanannya dilakukan dalam 2 siklus yaitu Siklus I dan Siklus II . prosedur penelitian meliputi 4 tahap yaitu 1) Perencanaan 2) Pelaksanaan tindakan 3) Pengamatan 4) Refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan tes unjuk kerja.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I nilai keaktivan siswa yang berada di atas KKM (75) pada pertemuan ke satu sejumlah 19 siswa dengan prosentase 59,38%, pertemuan kedua sejumlah 21 siswa dengan prosentase 65,63%, sedangkan nilai unjuk kerja sejumlah 25 siswa dengan prosentase 78,13%. Oleh karena itu dilakukan siklus II. Pada siklus II nilai keaktifan siswa pada pertemuan ke satu sejumlah 24 siswa dengan prosentase 75%, pertemuan kedua sejumlah 26 siswa dengan prosentase 81,25%. Sedangkan nilai unjuk kerja secara individu sejumlah 27 siswa dengan prosentase 84,38%. Sedangkan secara kelompok sejumlah 5 kelompok dengan prosentase 83,33%.Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatiftipe Student Teams Acheivement Division (STAD) dapat meningkatkan keaktifan dan kreativitas siswa pada pembelajaran Seni Budaya sub praktek senitari. Disarankan guru dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Acheivement Division (STAD) sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan pada setiap pembelajaran seni budaya sub bidang seni tari di kelas VII

    Simbol Properti Tari Sodor Pada Ritual Karo Di Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan

    No full text
    Ritual adat Karo di desa Wonokitri, kecamatan Tosari, kabupaten Pasuruan merupakan ritual adat yang menggunakan ikon utama, yaitu sebuah tarian yang disebut tari sodor.Tari sodor adalah tarian sakral yang menceritakan tentang asal mula lahir dan kembalinya manusia. Tari sodor hanya dilakukan pada bulan Karo sasi Tengger. Tari sodor identik menggunakan  properti yaitu tongkat bambu (pring) “Sangkan Paraning Dumadi” yang artinya lahir dan kembalinya manusia di dunia ini.Tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) mendeskripsikan bentuk properti tari sodor pada ritual Karo di desa Wonokitri, kecamatan Tosari, kabupaten Pasuruan, (2) mendeskripsikan makna simbolik properti tari sodor pada ritual Karo di desa Wonokitri, kecamatan Tosari, kabupaten Pasuruan.Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dan jenis penelitian kualitatif. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pengumpulan data, tahap reduksi, tahap penyajian data, serta tahap penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber, dan triangulasi metode.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) bentuk properti tari sodor pada ritual Karo meliputi, tongkat bambu (pring), biji jagung (las), janur kuning dan serabut kelapa (sepet). (2) makna simbolik properti tari sodor pada tongkat bambu (pring) menggambarkan lahirnya manusia, manusia berasal dari hubungan antara setya dan setuhu atau laki-laki dan perempuan, dari segi bentuk tongkat bambu menggambarkan alat kelamin manusia dan dari segi warna tongkat bambu  berwana hijau yang menggambarkan proses penciptaan mausia itu alami, manusia lahir dari muda hingga tua. Adanya penelitian ini, disarankan bagi petugas yang terlibat dalam proses ritual Karo diharapkan dapat memberikan dorongan positif dalam mengembangkan tari sodor pada ritual adat Karo tanpa merubah pakem atau sifat tradisi khususnya pada propertinya agar tetap terjaga dan lestar

    0

    full texts

    2,650

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇