SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
2650 research outputs found
Sort by
MEDIA PEMBELAJARAN TARI TOPENG PATIH KEDUNGMONGGO BERUPA VIDEO TUTORIAL di KELAS VII B SMP NEGERI 2 PAKISAJI KABUPATEN MALANG
ABSTRAKPratama, Yoga Hadi. 2019. Media Pembelajaran Tari Topeng Patih Kedungmonggo Berupa Video Tutorial di Kelas VII B SMP Negeri 2 Pakisaji Kabupaten Malang, Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Soerjo Wido Minarto, M.Pd, (II) Rully Aprilia Zandra, M.Pd., M.Sn Kata kunci: Media Pembelajaran, Tari Topeng Patih, Kedungmonggo, Tutorial.Pelajaran seni tari dengan materi elemen gerak tari Topeng Patih perlu dibantu dengan media berupa video, agar hasil belajar peserta didik meningkat dan menunjang minat belajar siswa dalam menerima materi pada pelajaran seni budaya sub bidang seni tari, serta mengenalkan kebudayaan lokal daerah setempat dan tidak hanya itu media pembelajaran juga meningkatkan ketertarikan peserta didik dengan materi yang disampaikan, sehingga nilai siswa bisa memenuhi target.Tujuan penelitian ini yaitu membantu siswa memahami materi elemen gerak tari pada mata pelajaran seni budaya sub bidang seni tari yaitu menghasilkan media pembelajaran berupa video tutorial tari Topeng Patih yang dapat bermanfaat bagi guru dan siswa dalam meningkatan kualitas belajar mengajar pada mata pelajaran seni budaya.Metode penelitian dan pengembangan menggunakan metode research and development oleh Borg and Gall yang dimodifikasi sesuai kebutuhuan penelitian sebagai berikut : (a) Potensi dan Masalah; (b) Pengumpulan Data; (c) Desain Produk; (d) Validasi Ahli Materi; (e) Revisi Produk I; (f) Validasi Ahli Media; (g) Revisi Produk II, (h) Uji Coba Pemakaian, (i) Revisi Produk; dan (j) Produksi Massal. Instrumen pengambilan data di ujikan dan dinilai oleh ahli materi pertama (guru seni budaya), ahli materi kedua (seniman tari), ahli multimedia (dosen), dan siswa kelas VII B SMP Negeri 2 Pakisaji sebagai uji coba kelompok besar. Hasil validasi dinyatakan valid atau layak setelah melalui proses uji validasi tahap I dan II, yang dinilai oleh ahli materi pertama tahap I (92,5%) tahap II (97,5%), ahli materi kedua tahap I (100%), ahli multimedia tahap I (85%) tahap II (95%), uji coba kelompok besar melalui soal pre test mencapai (58,69%) dan soal post test mencapai (94,54%) Dinyatakan valid sebagai media pembelajaran dengan jumlah keseluruhan presentase mencapai (93,8%) siswa mencapai KKM 80 setelah menggunakan media berupa video pembelajaran tari Topeng Patih. Penelitian dan pengembangan ini mengharapkan bagi peneliti selanjutnya dapat mengembangkan media berupa games tentang tari Topeng Patih agar media pembelajaran di bidang seni tari semakin beragam. ABSTRACTPratama, Yoga Hadi. 2019. The Learning Media Patih mask dance Kedungmonggo in the form of Video tutorials in Class VII B SMP Negeri 2 Pakisaji, Malang Regency, Thesis, Department of art and design, Faculty of Letters, State University of Malang. Counselor: (I) Drs. Soerjo Wido Minarto, M.Pd, (II) Aprilia Zandra Rully, M.Pd., M.Sn. Keywords: Learning Media, Mask Dance Patih, Kedungmonggo, Tutorials.Dance lessons with material elements of motion Patih mask dance need assisted with media in the form of video, so that the results of the learning learners increase and support the learning interest of students in receiving materials on art and cultural lessons sub field of dance art, as well as introduce the local culture of the local area and not only that media interest also increase the learning learners with the material presented, so that students could meet the target value.The purpose of the research is to help students understand the material element of dance movements on the subjects of art and culture sub field of dance art that is generating the learning media in the form of video tutorials Patih mask dance which can be useful for teachers and students in to improve the quality of teaching and learning in the subjects of art and culture.Research and development method using the methods of research and development by Borg and Gall are modified according kebutuhuan research as follows: (a) the potential and problems; (b) Data collection; (c) the design of the product; (d) validation of Expert Material; (e) Revision of the product I; (f) validation of the Media expert; (g) Revision of products II (h) Test use, (i) the revision of the product; and (j) mass production. Instrument data retrieval in ujikan and rated by experts the first material (teacher), a second material (dance artist), multimedia (Lecturer), and grade VII B SMP Negeri 2 Pakisaji as trials of large groups. The results of the validation are declared valid or worthy after a validation test phase I and II, which are assessed by the experts the material first phase I (92.5%) phase II (97.5%), a second material phase I (100%), a multimedia stage I (85%) phase II (95%), trials of large groups through the reserved pre test reach (58.69%) and the question of the post test reach (94.54%) Declared valid as media of instruction, with the total percentage reaches (93.8%) students achieve the KKM 80 after using media in the form of video learning mask Patih dance. Research and development is expecting for the next researcher can develop media be games about Grand Vizier in order to mask dance learning media in the field of dance art is increasingly diverse.
TEKNIK PERMAINAN GENDANG BELEQ DALAM KONSERVASI MUSIK TRADISIONAL LOMBOK
Teknik Permainan Gendang Beleq dalam Konservasi Musik Tradisional LombokRajeski Gena Alfargani, Soerjo Wido Minarto, Ika Wahyu Widyawati Universitas Negeri MalangEmail: [email protected], [email protected], [email protected] Abstrak: Musik tradisional gedang beleq adalah salah satu music tradisionalyang tumbuh dan bergembang di Pulau Lombok Susu Sasak yang harus tetap lestari dan di jaga keasliannya. Musik gendang beleq ini sangat diminati oleh semua kalangan, namun hal itu tidak di dukung oleh kalangan tersebut, karena keterbatasan pengetahuan tan pendidikan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan referensi tertulis kepada pencinta musik gendang beleq tentang teknik permainan Gendang beleq khususnya bagi para pemain musik gendang beleq yang berada di Sanggar Rangkai Emas gadang Bumbang Desa Jurit Kecamatan Pringgasela Lombok Timur.penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan sumber data utama dari informan denga metode wawancara, dokumentasi dan observasi. Hasil dari penelitian ini mendeskripsikan tentang teknik permainan gendang beleq Lombok. Kata Kunci: Teknik Permainan, Gendang Beleq. Abstract: Traditional gedang beleq music is one of the traditional music that grows and develops on Lombok Island Sasak Milk which must be kept alive and preserved authenticity. Drum music is very popular with all groups, but it is not supported by these groups, due to the limited knowledge of education. This research was carried out with the aim of providing written references to drummers of beleq music about drumming techniques, especially for drum music players who were in Sanggar Rangkai Emas Gadang Bumbang Jurit Village Pringgasela District, East Lombok. From informants with interview methods, documentation and observation. The results of this study describe the technique of drumming beleq Lombok. Keywords: Game Technique, Drum Beleq. PendahuluanPulau Lombok adalah salah satu pulau kecil Indonesia yang termasuk dalam wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) yang kaya akan keseniannya. Salah satu keseniannya yang terkenal adalah kesenian Gendang Beleq. Sebutan kesenian Gendang Beleq bervariasi antara satu daerah dengan daerah lainnya. Masyarakat Lombok Tengah menyebutnya dengan tari atau musik Oncer. MasyarakatLombok Barat menyebutnya Kecodak dan ada yang menyebutnya Kedogdag di Kecamatan Narmada (Prawitasari, 2005:4). Menurut sejarah yang ada, kesenian Gendang Beleq lahir dilator belakangi atas sejarah kolonialisasi Bali yang cukup panjang yaitu Klungkung (abad 17) dan Karangasem (abad 18) dalam rentang waktu sangat lama (Suhartono, 1970).Lombok pada abat 17 menjadi perebutan antara Raja Bali Karangasem dan Raja Makasar Suwesi Selatan yang menetap di Sumbawa. Abad 17 awal, orang Bali dari Karangasem menyeberang Selat Lombok dan mendirikan beberapa perkampungan serta membangun kontrol politik di wilayah Lombok Barat, pada saat yang bersamaan, orang-orang Makasar dari Sumbawa menyeberang lewat Selat Alas yang terletak di daerah timur Lombok dan membangun kontrol politik di wilayah Lombok Timur (Kraan, 1980:2).Musik Gendang Beleq pada zaman dahulusering digunakan sebagai musik perang, yaitu untuk mengiringi dan memberi semangat para ksatria dan prajurit kerajaan Lombok yang pergi atau pulang dari medan perang, pada masa setelah tidak ada lagi peperangan sampai sekarang ini, kesenianGendang Beleqdilestarikan dan dijadikan sebagai identitas kesenian yang ada di Lombok. Gendang Beleq pada saat ini berfungsi sebagai pengiring upacara adat seperti Merarik (Pernikahan), Ngurisang (Memotong Rambut Bayi), Ngitanang atau besunat (khitanan), juga Begawe Beleq (Upacara Besar). Selain itu juga kesenian Gendang Beleq ditampilkan pada pentas-pentas menyambut tamu dari luar daerah dan hari raya nasional seperti HUT (Hari Ulang Tahun) kemerdekaan, maupun even-even yang lebih besar. Pelestarian kesenian Gendang Beleq sebagai identitas kesenian yang ada di Lombok ditandai dengan banyaknya kelompok atau group yang disebut dengan sekaha semakin bertambah banyak dari 30 menjadi lebih dari 30 group. Alfariri (2015:35) menyatakan bahwa“kesenian Gendang Beleq melekat dalam kebudayaan masyarakat Sasak, karena kesenian ini menggambarkan tentang kehidupan masyarakat Sasak”.Selama ini di Lombok ada beberapa daerah yang masih terdapat sanggar seni dan melestarikan kesenian Gendang Beleq. Salah satunya adalah Desa Jurit yang merupakan sebuah wilayah kecil yang berada di Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur yang mayoritas penduduknya adalah petani. Kendati demikian, di sela-sela kesibukan, masyarakat masih menyempatkan waktunya untuk berkesenian dan memainkan Gendang Beleq.Desa Jurit pada tahun 1990-an memiliki beberapa kelompok kesenian seperti Cupak Gerantang, Rudat Janger, Rebana dan Gendang Beleq. Penduduk Desa Jurit belum memusatkanprofesinya sebagai pekerja seni, karena menganggap seni sebagai pekerjaan sampingan, sertakesenian tidak bisa dijadikan sebagai tumpuan hidup. Kesenian-kesenian tersebut akhirnya tenggelam ditelan zaman karena tidak ada pelaku seni yang meneruskan sehingga tidak ada regenerasi. Saat ini semua kenesian di Desa Jurit sudah tenggelam, kecuali Gendang Beleq.Gendang Beleq Rangkai Emas Gadang Bumbang Desa Jurit (REGBDJ) memang memiliki peran yang sangat penting, selain gendang beleq pada umumnya disajikan ketika mengiringi acara merarik (perkawinan), namun gendang beleq Rangkai Emas Gadang Bumbang Desa Jurit (REGBDJ) juga digunakan sebagai ritual agar sumber mata air Bumbang tetap mengeluarkan air. Kegiatan tahunanpenyelamatan sumber mata air bumbang yang rutin diselenggarakan masyarakan Desa Jurit selalu dimeriahkan oleh GendangBeleq RMGBJ yang berfungsi sebagai media ritual. GendangBeleqRMGBJ selama ini banyak berkontribusi terhadap setiap acara kesenian yang diadakan Desa Jurit, kecamatan maupun kabupaten. Kontribusi yang diberikan GendangBeleqRMGBJ di respon positif oleh kalangan masyarakat Desa Jurit, namun respon tersebut tidak didukung dengan kepedulian bagaimana GendangBeleqRMGBJ dapat diwariskan secara mudah dengan sumber-sumber yang memadai sehingga pewarisan dapat diturunkan kepada generasi penerus dengan layak.Arus globalisasi yang demikian derasmengakibatkan menurunnya tingkat kepedulian masyarakat Desa Jurit, khususnya generasi muda dalam melestarikan kesenian Gendang Beleq,ditambah lagi referensi musik tradisional tentang teknik permainangendang beleq yang relatif sedikit karena tidak adanya penelitian secara mendalam tentang teknik permainan Gendang Beleq.Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti ingin mengkaji kesenian Gendang Beleqmelalui sebuah penelitian berjudul ” Teknik Permainan Gendang beleq Dalam Konservasi Musik Tradisional Lombok”Berdasarkan penjelasan darilatar belakang di atas makadadapat di ambil focus masalah sebagai berikut: Bagaimana teknik permainan gendang beleq? Metode Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan mdeskripsikan teknik permainan gendang beleq yang akan dilakukan di Sanggar Rangkai Emas Gadang Bumbang Desa Jurit Kecamatan pringgasela Lobok timur. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi,wawancara dan dokumentasi. Analisa data yang sudah dikumpulkan dilakukan dengan mereduksi data dan menyajikannya dengan ferifikatif.Hasil dan PembahasanTeknik permainan gendang beleq berdasarkan hasil wawancara dapat dibedakan berdasarkan klasipikasi ukuran, bentuk, bahan, dan sumber bunyi instrumen tersebut dibuat. Hasil dan Pembahasan Musik tradisional gendang beleq di sanggar Rangkai Emas Gadang bumbang desa Jurit adalah salah satu dari tiga grup musik gendang beleq tertua di Lombok terdiri dari beberapa instrumen musik yaitu gendang, cemperang, terpmpong, petuk, oncer, gong, dan suling. Masing-masing instrumen memiliki teknik permainan yang berbeda. Gendang BeleqBerdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan mengatakan bahwa kesenian gendang beleq disebut gendang beleq karena gendangnya berukuran besar/beleq yang berarti besar. Kesenian gendang beleq menggunakan dua jenis gendang yaitu gendang nina dan gendang mama, gendang dimaikan dengan posisi pemain berdiri tegak dengan posisi kaki sebelah kiri menjinjit kemudian gendang digendong. Posisi badan gendang sebelah kanan diletakkan lebih rendah dari pada lingkaran sebelah kiri, gendang dibunyikan menggunakan tabuh dan ditepak/keplak. Palgunadi (2014:10) menyebutkan bahwa tepak merupakan cara membunyikan alat musik gamelan yang memiliki selaput atau memberan menggunakan telapak tangan atau jari. Instrumen gendang pada kesenian gendang beleq adalah instumen yang berselaput, hal ini membuktikan bahwa cara memainkan gendang dengan ditepak sesui dengan yang dikatakan Palgunadi. Instrumen gendang pada kesenian Gendang beleq dapat dimainkan dengan cara berdiri dan berjalan dengan posisi tangan kanan memegang tabuh dan dikeplak menggunakan tangan kiri. Gendang digendong dengan posisi gendang bagian kanan lebih rendah dengan bagian gendang sebelah kiri, membran gendang sebelah kanan ditabuh menggunakan tabuh (pemantok) dan membran sebelah kiri ditepak menggunakan telapak tangan. Gendang nina menghasilkan bunyi dak pada membran sebelah kanan dan kep pada membran sebelah kiri. Sedangkan gendang mama menghasilkan bunyi duk pada membran sebelah kanan dan pek pada membran sebelah kiri. Instrumen gendang beleq terbuat dari kayu dengan ditutupi membran pada kedua ujung yang terbuat dari kulit binatang dan sapi. Yudoyono (1984: 94) alat gamelan Jawa yang disebut kendang berbentuk seperti tabung, terbuat dari kayu dengan tutup tabung dari kulit binatang yang telah dimasak dikedua ujung luarnya. Yudoyono memperjelas bawa gendang atau kendang Jawa dan gendang Lombok terbuat dari bahan yang sama namun dimainkan dengan cara yang berbeda, hal ini dapat dilihat dari segi bentuk, ukuran dan tata cara menabuhnya. Gendang beleq berukuran lebih besar dan dimainkan dengan cara berdiri, sedangkan gendang Jawa dimainkan dengan posisi duduk. Cemprang Berdasarkan hasil wawancara dengan informan cemprang adalah alat musik yang dimainkan dengan cara membenturkan kedua belah lempengan atau sisi instrumen yang dipegang oleh kedua tangan. Cemprang dapat dimainkan posisi dengan duduk, berdiri, dan berjalan. Memainkan cemprang dengan posisi duduk biasanya dilakukan pada saat latihan. Tujuanya adalah agar pemain cemprang dapat dengan jelas mengamati kode yang diberikan oleh pemain gendang, sedangkan memainkan cemprang dengan posisi berdiri dan berjalan dilakukan pada saat mengiringi acara perkawinan yang disebut (nyongkolan). Cemprang berbentuk menyerupai piring namun pada bagian tengahnya dilubangi dan diberikan sebuah tali. Ada dua jenis cemprang pada kesenian gendang beleq yaitu cemprang kodek dan perembak.Cemprang adalah atat musik yang sumber bunyinya berasal dari cemprang itu sndiri. Suherman dkk (2006:59) menyatakan bahwa Ideophone yaitu alat musik yang sumber bunyinya berasal dari alat musik itu sendiri. Instrumen musik cemprang berdasarkan pendapat Suherman dkk maka cemprang dapat digolongkan menjadi instrumen ideophone karena sumber bunyi cemprang berasal dari cemprang itu sendiri. Terompong Berdasarkan hasil wawancara dengan informan terompong adalah salah satu alat musik yang berbentuk pencon atau potok pada kesenian gendang beleq berskala pentatonis berjumlah 9 buah bernada 1=F 2=G 3=A# 5=C 6=E 1=F 2=G 3=A# 5=C. Dua buah terompong dimainkan oleh satu orang, hal ini mirip dengan teknik permainan reong pada gamelan Bali. Posisi memainkan alat musik Terompong adalah duduk bersila, berdiri dan berjalan. Terompong dimainkan dengan menggunakan tabuh yang masing-masing digenggam oleh tangan kanan dan kiri. Cara memainkan terompong adalah ditaruh di depan pemain kemudian pencon atau potok (Bahasa sasak) terompong dipukul menggunakan tabuh yang dipegang oleh tangan kiri dan kanan. Terompong adalah alat musik yang memiliki skala nada atau laras berfungsi sebagai pembawa melodi yang nada-nadanya tersusun rapi secara alfabetis dan harmonis. Pendapat di atas sesuai dengan Mutaqqin (2018: 90) menyatakan bahwa rangkaian nada dalam melodi terdiri dari kombinasi berbagai susunan interval (jarak dua buah nada atau lebih). Sesuai juga dengan pendapat Prier (2012: 212) yang mengatakan bahwa skala nada adalah urutan nada melalui oktaf yang mengikuti pola tertentu. Terompong adalah alat musik berpencon yang sumber bunyinya berasal dari tubuh terompong itu sendiri dan dipukul menggunakan tabuh yang lunak. Suherman dkk (2006:59) menyebutkan bahwa idiopon yaitu alat musik yang sumber bunyinya berasal dari tubuh alat musik itu sendiri. Sesuai dengan pendapat di atas maka terompong digolongkan menjadi instrumen ideophone karena terompong mirip dengan reong Bali dan bonang pada kesenian gamelan Jawa yang telah diklasifikasikan menjadi alat musik ideophone karena sumber bunyinya berasal dari tubuh alat musik tersebut. Terompong dalam teknik memainkanya tergolong dalam kategori alat musik idiophone berpencon yang ditabuh menggunakan bahan yang lunak. Pernyataaan tersebut didukung oleh Palgunadi (2014:10) memperkuat pendapat di atas dengan menyebutkan Gada merupakan cara membunyikan gamelan yang berbentuk pencon menggunakan pemukul dengan ujung yang lunak”. Pendapat diatas memberikan kesimpulan bahwa alat musik terompong adalah alat musik menyerupai bonang yang ditabuh menggunakan alat tabuh yang lunak namun dimainkan dengan cara yang berbeda, alat musik bonang gamelan Jawa dimainkan oleh satu orang yang memegang tabuh pada masing-masing lengannya, sedangkan terompong dimainkan oleh lima orang yang masing-masing memegang tabuh disetiap lengannya. PetukBerdasarkan hasil wawancara dengan informan petuk adalah atat musik yang dimainkan dengan posisi berjalan, berdiri dan duduk persila. Alat musik ini dibunyikan menggunakan tabuh yang lunak, tabuh tersebut digenggam oleh salah satu lengan lalu diarahkan pada bagian yang menonjol pada instrumen (pencon). Alat musik petuk menyerupai alat musik ketuk pada kesenian gamelan Jaawa. Alat musik sama-sama alat musik pencon yang dimainkan oleh satu orang dan dibunyikan menggunakan menggunakan tabuh yang lunak. Palgunadi (2014:10) menyebutkan Gada merupakan cara membunyikan gamelan yang berbentuk pencon menggunakan pemukul dengan ujung yang lunak. Pendapat diatas memberikan kesimpulan bahwa alat musik petuk dapat dikelasipikasikan kedalam golongan alat musik Gada sesuai dengan yang dikatakan Palgunadi.Petuk adalah alat musik yang terbuat dari perunggu berbentuk bulat dan memiliki benjolan dimainkan dengan cara dipukul menggunakan pemukul lunak yang sumber bunyinya berasal dari tubuh petuk itu sendiri. Suherman dkk (2006:59) menyebutkan Idiopon yaitu alat musik yang sumber bunyinya berasal dari tubuh alat musik itu sendiri. Palgunadi (2014:10) menyebutkan Gada merupakan cara membunyikan gamelan yang berbentuk pencon menggunakan pemukul dengan ujung yang lunak. Sesuai dengan pendapat di atas maka dapat disimpukan bahwa petuk adalah alat musik yang termasuk dalam klasifikasi alat musik Gada. Petuk adalah salah satu alat musik dalam kesenian gendang beleq yang berperan sebagai pembawa ritme atau irama dengan pola yang dimainkan secara berulang-ulang, Mutaqqin (2008: 101) menjelaskan bahwa ritme atau irama adalah susunan diantara durasi nada-nada yang pendek dan panjang, nada-nada yang bertekanan dan yang tak bertekanan, menurut pola tertentu yang berulang-ulang. Sesuai dengan yang disampaikan di atas maka dapat disimpulkan bahwa petuk adalat alat yang memegang ritme atau irama. OncerBerdasarkan hasil wawancara dengan informan oncer dimainkan dengan posisi berdiri, berjalan dan duduk bersila. Memainkann oncer dengan berdiri dan berjalan adalah oncer dimainkan dengan cara digendong menggunakan tali yang dilingkarkan pada lengan sebelah kiri. Tangan kiri memegang bagian depan oncer, sedangkan tangan kanan menggenggam tabuh lunak yang diarahkan ke pencon/potok oncer. Suara yang dihasilkan oncer adalah pung. atat musik yang bentuknya mirip dengan kempul pada gamelan Jawa ini hanya berjumlah satu buah. Oncer dan kempul sama-sama dimainkan dengan tabuh yang lunak, namun kempul tidak dapat dimainkan dengan berjalan. Palgunadi (2014:10) menyebutkan Gada merupakan cara membunyikan gamelan yang berbentuk pencon menggunakan pemukul dengan ujung yang lunak. Sesuai dengan yang dikatakan palgunadi, oncer dan kempul dapat diklasipikasikan kedalam teknik Gada dan berbeda pada jumlah instrument dengan cara memainkannya.Oncer terbuat dari perunggu berbentuk bulat dan memiliki benjolan dimainkan dengan cara dipukul menggunakan pemukul/tabuh yang lunak, sumber bunyi alat musik ini berasal dari tubuhnya sendiri. Suherman dkk (2006:59) menyebutkan Idiopon yaitu alat musik yang sumber bunyinya berasal dari tubuh alat musik itu sendiri. Palgunadi (2014:10) menyebutkan Gada merupakan cara membunyikan gamelan yang berbentuk pencon menggunakan pemukul dengan ujung yang lunak. Sesuai dengan pendapat di atas maka dapat disimpukan bahwa Oncer adalah alat musik yang termasuk dalam klasifikasi alat musik Gada. Oncer adalah salah satu alat musik dalam kesenian gendang beleq yang berperan sebagai pembawa ritme atau irama dengan pola tetap dan dimainkan secara berulang-ulang, Mutaqqin (2008: 101) menjelaskan bahwa ritme atau irama adalah susunan diantara durasi nada-nada yang pendek dan panjang, nada-nada yang bertekanan dan yang tak bertekanan, menurut pola tertentu yang berulang-ulang. Sesuai dengan pernyataan di atas maka dapat disimpulkan bahwa petuk adalat alat yang memegang ritme atau irama. GongBerdasarkan hasil wawancara dengan informan Gong dapat dimainkan dengan berdiri berjalan dan duduk bersila. Memainkan gong posisi berjalan adalah gong dipikul oleh dua orang pemain. Pemain atau pemikul gong yang berada di belakang bertugas sebagai penabuh gong. Sedangkan memainkan gong dengan posisi berdiri dan duduk dapat dimainkan oleh satu orang saja karena gong dapat diletakkan pada penyangga/gayor gong (onjek-onjek gong). Gong ditabuh menggunakan pemantok/stik lunak yang digenggam oleh tangan kanan kemudian diarahkan ke pencon/potok instrumen gong. Suara yang dihasilkan ketika menabuh gong adalah bung dan bengr. Gong adalah atat musik yang bentuknya mirip dengan kempul dan gong pada gamelan Jawa. Gong kempul dapa gamelan jawa dimainkan oleh satu orang dengan posisi duduk. Palgunadi (2014:10) menyebutkan Gada merupakan cara membunyikan gamelan yang berbentuk pencon menggunakan pemukul dengan ujung yang lunak. Pendapat di atas memberikan kesimpulan bahwa gong dan gong kempul dapat di kelasipikasikan kedalam teknik Gada sesuai dengan yang disebutkan Palgunadi, namun berbeda pada jumlah instumen posisi, dan cara memainkannya.Gong adalah salah satu alat musik dalam kesenian gendang beleq yang berperan sebagai pembawa ritme atau irama dengan pola tetap dan dimainkan secara berulang-ulang, Mutaqqin (2008: 101) menjelaskan bahwa ritme atau irama adalah susunan diantara durasi nada-nada yang pendek dan panjang, nada-nada yang bertekanan dan yang tak bertekanan, menurut pola tertentu yang berulang-ulang. Sesuai dengan yang disampaikan di atas maka dapat disimpulkan bahwa petuk adalat alat yang memegang ritme atau irama.Gong terbuat dari perunggu berbentuk bulat dan memiliki benjolan, dimainkan dengan cara dipukul menggunakan pemukul/tabuh yang lunak, sumber bunyinya alat musik ini berasal dari tubuhnya sendiri. Yudoyono (1984:107) menyebutkan bahwa Gong adalah alat musik pukul pada gamelan Jawa yang terbuat dari perunggu dan mempunyai ukuran terbesar diantara alat-alat lainnya. Alat pemukulnya bertangkai kayu dan dibagian ujung yang dipukulkan berbentuk bulat seperti bola berisi sabut kelapa. Suherman dkk (2006:59) menyebutkan Idiopon yaitu alat musik yang sumber bunyinya berasal dari tubuh alat musik itu sendiri. Palgunadi (2014:10) menyebutkan Gada merupakan cara membunyikan gamelan yang berbentuk pencon menggunakan pemukul dengan ujung yang lunak. Sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh para ahli di atas maka dapat disimpukan bahwa gong adalah alat musik yang termasuk dalam klasifikasi alat musik Gada. SulingBerdasarkan hasil wawancara dengan informan suling adalah alat musik yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara ditiup yang sumber suaranya berasal dari udara yang bergetar. Pendapat di atas didukung oleh Suherman dkk (2006:59) menyebutkan aerophone yaitu alat musik yang sumber bunyinya berasal dari udara yang bergetar. Memainkan suling pada kesenian gendang beleq dapat dilakukan dengan teknik penjarian (getep) tertentu sesuai dengan suling yang digunakan. Getep tujuhTeknik getep tujuh adalah teknik memainkan suling berlubang tujuh dengan nada 1 menutup semua lubang, nada 2 membuka lubang kedua, nada 3 m3mbuka lubang ketiga dan empat, nada 5 membuka lubang kelima dan nada 6 membuka lubang keenam dan menuup kembali lubang kelima, dan nada 1 tinggi menutup semua lupang dengan tiupan yang lebih keras. Contoh teknik getep tujuh dapat dilihat pada gambar 4.14 pada bab lV. Getep enamTeknik memainkan suling getep enam adalah teknik teknik untuk suling lubang enam dimana untuktuk memperoleh nada 1 kondiri suling lubang emam tertutup rapat, nada 2 membuka lubang paling bawah, nada 3 membuka lubang kedua, nada 5 membuka lupang ketiga dank e empat, nada 6 membuka lubang kelima dan menutup lubang ke empat, dan nada 1 tinggi menutup semua lupang dengan tiupan yang lebih keras. Contoh getep enam dapat dilihat pada gambar 4.15 pada bab lV. Getep limaTeknik memainkan suling getep lima adalah memainkan suling berlubang enam namun hanya menggunakan lima lubang. Nada 1 pada permainan suling getep lima membuka lubang pertama, nada 2 membuka lubang kedua, nada 3 mmbuka lubang ketiga, nada 5 membuk lubang kelima sambil meutup lubang kempat dan keenam, dan nada 6 membuka lubang keenam dan sambil menutup lub
Ketidakpedulian Terhadap Gamelan Jawa Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis Representasional
RINGKASAN Purwanto, Bambang. 2019. Gamelan Jawa Sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Seni Lukis Representasional. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Triyono Widodo, M.Sn. Kata Kunci : Ketidakpedulian, Gamelan jawa, Penciptaan, Karya Seni Lukis, Representaional. Gamelan Jawa merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang menjadi ciri khas alat musik Jawa. Anggapan-anggapan negatif yang berkembang pada masyarakat Jawa membuat kecintaan sebagian besar generasi muda di Jawa mulai pudar. Oleh karena itu, pencipta melakukan penciptaan karya seni lukis representasional sebagai upaya untuk menumbuhkan kembali rasa kecintaan generasi muda Jawa terhadap kebudayaan Indonesia yaitu alat musik Gamelan Jawa. Bedasarkan dari permasalahan tersebut pencipta menjadikannya sumber ide atau gagasan dalam penciptaan karya seni lukis representasional. Penulisan penciptaan seni diwujudkan melalui proses kreatif yang mengadobsi model Chaterina Patrick meliputi tahap persiapan, penetasan, inspirasi, dan pengembangan. Tujuan penciptaan seni lukis representasional ini adalah untuk mendeskripsikan proses penciptaan dan hasil visualisasi alat musik gamelan Jawa yang diwujudkan dalam penciptaan seni lukis representasional Proses penciptaan karya ini berawal dari rancangan ide, menetapkan konsep, mematangkan tema dan memvisualisasi objek yang menjadi ide dasar yaitu alat musik Gamelan Jawa. Tahap selanjutnya adalah proses penciptaan yang pertama yaitu menyiapkan alat dan bahan, membuat sketsa diatas kertas yang kemudian dipindahkan ke kanvas. Dilanjutkan proses pewarnaan menggunakan teknik blok, teknik basah, teknik gradasi, teknik blend, diakhiri dengan finishing. Penciptaan ini menghasilkan 6 karya seni lukis representasional yang berjudul Mengejek, Sudah Bosan, Ketakutan, Bingung, Larangan Mendekat, dan Belajar Pada Orang Asing dengan media estetik berupa garis, bentuk dan ruang, warna, serta tekstur sebagai simbolisasi dari konsep. Berdasarkan hasil penciptaan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman baru kepada pencipta maupun orang lain dalam mempelajari karya seni lukis representasional bertema eksistensi gamelan Jawa sehingga diharapkan dapat menambah wawasan kepada masyarakat tentang kelestarian budaya Indonesia sehingga kelestarian budaya Indonesia dapat terjaga. SUMMARY Purwanto, Bambang. 2019. Java’s Gamelan as Inspiration for Creation of Representational Painting Works. Thesis, Department of Art and Design, Faculty of Letters, State University of Malang. Mentor: Drs. Triyono Widodo, M.Sn. Keywords: Ignorance, Gamelan Java, Creation, Painting, Representative. Javanese gamelan is one of the riches of Indonesian culture that is a characteristic of Javanese musical instruments. The negative assumptions that developed in Javanese society made the love of most of the younger generation on Java begin to fade. Therefore, the creator created representational works of art as an effort to regain a sense of love for the younger generation of Javanese towards Indonesian culture, namely Javanese Gamelan musical instruments. Based on these problems the creator makes it the source of ideas or ideas in the creation of representational paintings. The writing of art creation is realized through a creative process that adopts the Chaterina Patrick model which includes the stages of preparation, hatching, inspiration, and development. The purpose of the creation of representational painting is to describe the process of creation and the results of visualization of Javanese gamelan musical instruments which are manifested in the creation of representational painting The process of creating this work begins with the design of ideas, setting concepts, finalizing the theme and visualizing objects which are the basic ideas of Javanese Gamelan instruments. The next stage is the first creation process, namely preparing tools and materials, sketching on paper which is then transferred to the canvas. Continuing the coloring process using block technique, wet technique, gradation technique, blend technique, ending with finishing. This creation resulted in 6 representational works of art entitled Mocking, Already Bored, Fear, Confusion, Closer Prohibition, and Learning to Foreigners with aesthetic media in the form of lines, shapes and spaces, colors, and textures as a symbol of the concept. Based on the results of this creation, it is hoped that it can provide new experiences to creators and others in studying representational works with the theme of the existence of Javanese gamelan so that it is expected to add insight to the community about the preservation of Indonesian culture so that the preservation of Indonesian culture can be maintained
WANA ING TYAS HAYATI REPRESENTASI HUTAN BESOLE KABUPATEN TULUNGAGUNG JAWA TIMUR
ABSTRAK Fransisko Anggara Felani. 2018. Wana Ing Tyas Hayati. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. (I) Dr. Robby Hidajat, M.Sn (II) Rully Aprilia Zandra, S.Pd, M.Pd, M.Sn Kata Kunci: Penciptaan, Keadaan Hutan, Programma, Ansambel Wana Ing Tyas Hayati adalah karya musik berjenis programma dengan menggunakan bentuk musik Liedform yang dimainkan dengan format ansambel campuran, karya ini menceritakan tentang keadaan hutan khusunya di Desa Besole, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung terhadap Keadaan hutan yang dulu subur sekarang menjadi rusak pasti memiliki pengaruhnya tersendiri bagi masyarakat. Karya ini juga mewakilkan perspektif pencipta dalam melihat dan merasakan keadaan hutan tersebut. Karya ini disajikan dalam 3 bagian yang masing-masing merujuk pada kondisi hutan : (1) hutan yang subur dan banyak keindahan didalamnya (2) hutan yang ditebangi secara liar (3) hutan yang sudah hancur. Penciptaan karya ini bertujuan agar masyarakat nantinya meningkatkan keasadaran akan pentingnya hutan melalui sebuah rangkaian karya musik yang terinspirasi dari kegundahan hati pencipta yang mungkin juga dirasakan oleh orang lain tentang keadaan hutan yang subur berubah menjadi hancur dikarenakan ulah manusia. Pengolahan material adapun yang akan diolah oleh pencipta meliputi tiga hal utama yaitu menggunakan ilmu melodi, ilmu harmoni, dan ilmu ansambel. Karya musik ini terbagi menjadi 3 bagian dengan masing-masing memiliki tema yang berbeda yang dikembangkan dengan figur teknik pengembangan melodi, yakni sekuen, repetisi dan inversi ; serta akan dianalisa segi programnya. Pencipta akan mengupas melodi tema beserta pengembanganya bagian 1 hingga bagian 3. Tiap bagian memiliki nada tema dan program yang berbeda, namun terhubung melalui kedekatan tangga nada. Karya musik yang dibuat pasti tidak lepas dari kesalahan, salah satunya adalah perbedaan dari interpretasi makna yang pasti berbeda-beda pada setiap individu, namun hal tersebut ialah hak dari setiap pendengar, sebanding dengan hak yang dimiliki komposer untuk mencipta karya sesuai dengan penginterpretasiannya sendiri. Saran bagi komposer musik yang lain kususnya mahasiswa jurusan musik untuk mengkaji dan mengembangkan musik program dalam ranah pendidikan
Redesain Kemasan Brem "Taman Sari" Sebagai Upaya Meningkatkan Citra Merek Oleh-oleh Khas Madiun
ABSTRAKKata Kunci: Kemasan, Redesain, Brem, Taman Sari“Taman Sari” merupakan home industry di kota Madiun yang bergerak di bidang brem dan jajanan khas lainnya. Produk unggulan dari “Taman Sari” adalah brem yang merupakan oleh-oleh khas kota Madiun. Namun sampai saat ini kemasan yang digunakan masih sangat sederhana dan belum kuat untuk bersaing dengan jajanan khas kota Madiun lainnya. Melihat permasalahan ini “Taman Sari” memerlukan pembaharuan untuk kemasan brem. Desain kemasan yang akan dirancang disesuaikan dengan kebutuhan dan mengacu kepada teori desain kemasan, prinsip desain kemasan, manfaat desain kemasan, dan aspek-aspek yang berkaitan erat dengan desain kemasan. Metode yang digunakan untuk meredesain kemasan mengacu pada metode Sadjiman E Sanyoto. Melalui hasil proses pengumpulan data, observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemasan yang diperlukan untuk “Taman Sari” adalah kemasan sekunder dan tersier. Konsep desain kemasan yaitu memakai pattern bahan dasar brem, dikombinasikan dengan warna coklat sebagai penguat identitas legendaris. Hasil data yang telah dikumpulkan diproses melalui analisis sebagai langkah awal memvisualisasikan hasil desain berupa konsep redesain yang akan digunakan dalam merancang. Setelah konsep tersusun tahapan selanjutnya adalah memvisualkan hasil desain final serta wujud nyata aplikasi redesain kemasan “Taman Sari”.Dengan adanya redesain kemasan brem “Taman Sari” diharapkan daya saing antara produk brem “Taman Sari” lebih unggul dibandingkan dengan produk oleh-oleh lainnya. ABSTRACTKey Words: Packaging, Redesign, Brem, Taman Sari “Taman Sari” is a home industry in the city of Madiun engaged in brem and food souvenirs. The flagship product of “Taman Sari” is a brem which was a by typical city of Madiun. But until now the packaging still used a very simple and not able to compete with others food souvenirs products. Seeing this problem “Taman Sari” requires resain design for brem packaging. Packaging design will designed to the needs, refer to the theory of packaging design, principle packaging design, benefit of packaging design, and aspects that are closely related to packaging design. Method used in the design refers to of Sadjiman E Sanyoto. Through the process of data collection, observation, interviews, and documentation, packaging needed for “Taman Sari” brem is the secondary and tertiary packaging. Packaging design concept will make some pattern is base material of brem, combinationing with brown colour as like legendary identity strengthener. Result of the data collect, processed through analysis as a first step to visualize design concept of redesign that will be used in designing. Once concepts are arranged next stage to visualize final design result as well as a tangible manifestation of redesigning packaging applications “Taman Sari” brem. With the packaging redesign “Taman Sari” brem expected competitive between others souvenirs product
PERANCANGAN MEDIA PROMOSI WISATA SEJARAH KABUPATEN MOJOKERTO
Bima Wiratama Hariyanto Andika Agung Sutrisno Desain Komunikasi Visual -Seni dan Desain Universitas Negeri MalangEmail: bimalabar@gmailcom. Kata Kunci: Media Promosi, Wisata Sejarah, Kabupaten Mojokerto Abstrak: Kabupaten Mojokerto memiliki banyak sekali destinasi wisata sejarah yang notabena adalah peninggalan Kerajaan Majapahit. Dengan banyaknya destinasi tempat wisata sejarah tersebut, Kabupaten Mojokerto memiliki potensi untuk menjadi daerah yang patut dipertimbangkan sebagai destinasi kunjungan para wisatawan. Destinasi destinasi tersebut sangat cocok untuk para wisatawan yang menyukai tempat bersejarah. Akan tetapi, di zaman yang sudah berkembang dan maju ini dengan banyaknya destinasi wisata sejarah tersebut Kabupaten Mojokerto belum memiliki sebuah media promosi yang bersifat informative dan modern, maka tujuan perancangan ini adalah membuat sebuah media promosi yang tepat dan actual sehingga dapat mengenalkan wisata sejarah di Kabupaten Mojokerto. Model perancangan yang digunakan dalam Perancangan Media Promosi Wisata Sejarah Kabupaten Mojokerto ini menggunakan perancangan model prosedural dengan pendekatan kualitatif sebagai dasar penyusunan. Model prosedural adalah model yang bersifat deskriptif, dimana menggariskan langkah-langkah yang diikuti untuk menghasilkan sebuah produk. Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam penelitian ini bersifat sistematis, tersrtuktur, dan berurutan sehingga akan memberikan hasil akhir yang dapat memecahkan permasalahan dilihat dari kondisi nyata di lapangan. Penelitian kualitatif menggunakan data berupa narasi yang diwujudkan dari penjelasan berdasarkan hasil pengamatan dan kajian berbagai sumber.Hasil akhir dari perancangan Media Promosi Wisata Sejarah Kabupaten Mojokerto adalah berupa media promosi seperti poster, x-banner, merchandise, dan juga flyer yang dicetak dengan ukuran asli. Disamping itu juga disertai dengan buku katalog elektronik dan juga cetak yang berisi tentang informasi-informasi mengenai wisata sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit yang ada di Kabupaten Mojokerto. Hasil akhir dari perancangan tersebut diharapkan dapat membantu segi promosi dari wisata sejarah dari Kabupaten Mojokerto
RUSA SEBAGAI SUMBER INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS DENGAN TEMA KRITIK SOSIAL
Perburuan merupakan kegiatan dalam mencari suatu hal yang menjadi tujuan. Dalam konteks ini membahas tentang perburuan yang bertentangan dengan aturan yang berlaku. Perburuan liar menjadi poin utama yang mendasari kegelisahan pencipta. Salah satu hewan perburuan yang sering diburu adalah rusa. Pencipta memilih hewan rusa sebagai salah satu sumber penciptaan karya seni lukis juga sebagai objek yang mewakili seluruh ide gagasan dari pencipta karya dengan mengusung tema kritik sosial di dalam lingkungan masyarakat.Diharapkanvisualisasi yang akan di garapdapatmewakilimakna yang sudahdikonsep. Pada proses visualisasikarya, pencipta ingin membangkitkan perasaan dan empati apresiator untuk menyadarkan akan dampak atau kerugian dari kegiatan yang dilakukan masyarakat.Proses pada penciptaan karya ini menggunakan metode dari Chatharina Patrick dalam skripsi M Ivan Kurniawan, dengan melakukan pencarian sumber permasalahan, memunculkan ide, dan menjadikan konsep yang matang hingga mewujudkan dalam sebuah kanvas merupakan langkah-langkah yang dipilih pencipta.Pada penciptaan karya seni lukis ini menggunakan gaya pribadi sebagai teknik dalam berkarya lukis guna memunculkan ciri khas yang membedakan dengan karya lukis lain. Karya seni yang dihasilkan bertema keritik sosial dan berjumlah 6 dengan masing-masing konsep berbeda disetiap karyanya. Karya ini juga memiliki disiplin estetik yang diperoleh dari perkuliahan. Berdasarkan hasil penciptaan diharapkan dapat memberi pengalaman baru terhadap orang lain dalam mengapresiasi karya seni lukis ini dan dapat dijadikan referensi atau bahan acuan untuk mengembangkan lebih dalam lagi serta dapat menjadi perantara makna atas visualisasi yang disajikan
Seni Kriya Makrame dengan Aplikasi Logam sebagai Elemen Estetik Interior
ABSTRAKRosalinda, I.N.F. 2019. Seni Kriya Makrame dengan Aplikasi Logam sebagai Elemen Estetik Interior. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Anak Agung Gde Rai Arimbawa M.Sn; (2) Denik Ristya Rini, S.Pd., M.Pd Kata Kunci: seni kriya makrame, aplikasi logam, elemen estetik interiorMakrame adalah salah satu jenis teknik kerajinan kuno. Kerajinan tangan yang dikerjakan dengan cara simpul-menyimpul menggunakan tali atau sejenisnya menjadi barang produk fungsional dan memiliki nilai estetik. Pada abad ke-13 diyakini munculnya makrame yang berasal dari Arab. Para pengrajin makrame menggunakan teknik makrame untuk membuat hiasan pinggiran di sepanjang tepi kain tenun, menjadi berbagai produk tekstil seperti syal, kerudung, sajadah, alas punggung hewan. Teknik makrame digunakan oleh para pelaut dalam membuat tempat tidur gantung atau ikat pinggang. Selain itu, teknik makrame juga digunakan saat kegiatan pramuka, untuk mengikat tongkat dan tenda. Makrame terus berkembang hingga saat ini dalam bentuk tas, dompet, berbagai perhiasan dan barang-barang dekoratif seperti hiasan dinding ataupun tirai.Kegelisahan tentang makrame yang akan diwujudkan dalam produk elemen interior. Makrame tidak hanya dilihat dalam wujud makrame saja. Akan tetapi, kerajinan makrame dikombinasikan dengan aplikasi logam menjadi produk elemen interior. Tujuan dari penciptaan karya ini adalah mewujudkan karya-karya inovatif.Proses penciptaan seni kriya ini mengadaptasi dari metode perancangan Gustami (2004:329). Tahap pertama adalah eksplorasi yang mencakup penelurusan, penggalian, pengumpulan data dan referensi mengenai sumber ide/gagasan tentang makrame. Tahap kedua adalah eksperimentasi dengan melakukan eksplorasi bentuk dan teknik sehingga terbentuk konsep berkarya yang diwujudkan dalam sketsa visual, sebagai hasil imajinasi/kepekaan estetik, pengalaman artistik, dan teknik berkarya. Tahap ketiga meliputi pembentukan/perwujudan dengan merealisasikan sketsa terpilih. Dan tahap terakhir adalah gelar karya dan melakukan evaluasi hasil karya.Hasil karya yang divisualisasikan sebanyak enam karya dengan media estetik diantaranya bentuk dan ruang, raut dan tekstur, serta warna dan cahaya sebagai kerajinan makrame berupa produk elemen interior yang memiliki bentuk dua dimensi dan tiga dimensi. Selain itu, nilai estetik yang terlihat dengan adanya kesatuan, keteraturan dan keberagaman.Perwujudan makrame ini tidak hanya dilihat pada selembaran makrame saja. Melainkan, seni kriya makrame ini diterapkan pada aplikasi logam menjadi produk elemen interior. Program penciptaan ini penting, karena di Indonesia masih sangat jarang ditemui. Melalui potensi kreatif yang telah dimiliki oleh penulis dalam penciptaan karya rupa dan aspek terapannya ini diharapkan dapat menyumbangkan makna positif bagi pengayaan imajinasi dan pematangan sikap dalam berkarya. Selain itu, diharapkan dapat menambah kekreatifitas masyarakat lokal agar mampu mewujudkan karya-karya inovatif dalam memenuhi persaingan pasar yang kian beragam dan bervariasi. Penciptaan seni kriya ini merupakan potensi budaya tanah air indonesia untuk mempertahankan kehidupan tradisi kriya itu sendiri dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan juga secara ekonomis mampu menunjang kesejahteraan bangsa dengan meningkatkan daya guna dari produk seni kriya Nusantara
Pengembangan Media Pembelajaran Materi Batik Lukis Berbasis Flipbook pada Ekstrakurikuler Seni Lukis dan Batik di SMA Negeri 1 Tumpang
RINGKASAN Putri, RizqiaUcik A. 2019. Pengembangan Media PembelajaranMateri Batik Lukis Berbasis Flipbook pada Kelas EkstrakurikulerSeni Lukis dan Batik di SMA Negeri 1 Tumpang. JurusanSeni dan Desain. Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Hariyanto, M.Hum. (2) Lisa Sidyawati, S.Pd, M.Pd Kata Kunci:Media Pembelajaran, Batik Lukis, Flipbook, Ekstrakurikuler Media Pembelajaran yang kurangrelevan dan tidakvariatifpada ekstrakurikulersenilukis dan batik di SMA Negeri 1 Tumpang, membuatmateri dan praktikumkurangterlaksanadenganbaik.Masalah yang dihadapi guru ialah guru kurangmenguasaimateri batik sehinggasiswahanyaparaktiklukistanpapraktikmembuat batik. Sedangkanekstrakurikuler yang harusdiajarkanyaknisenilukis dan batik. Tujuanutamadaripenelitian dan pengembangan media pembelajaranflipbookadalahuntukmengembangkanbukupanduanyang lebihinovatifsebagai media presentasi dan lebihmenarikdalamberkarya batik. Selainitupenelitianinibertujuanuntukmelihathasilpersentasetingkatkelayakan media flipbook, yang dapatmenjadi media guru sebagaipenggantipersentasi di papantulis dansebagaipanduansiswauntukmenciptakankarya batik. Model pengembangan yang digunakandalampenelitianiniadalah model pengembangan Borg and Gall yang telahdimodifikasi. Langkah yang dilakukan pada penelitianinimulaidari (1) Penelitian dan pengumpulan data, (2) Perencanaan, (3) Pengembanganprodukawal, (4) Validasiahli (5) Revisivalidasiahli (6) Uji cobakelompokkecil (7) Revisi (8) Uji cobakelompokbesar (9) Revisiprodukakhir (10) Implementasi. Hasil uji cobavalidasimelaluiangketdinyatakanbahwaprodukinimenghasilkanpersestase: (1) 78% diyatakansesuai oleh ahlimateridengankriteriacukuplayak (cukupvaid), (2) 88,6% dinyatakansesuai oleh ahli media dengankriteriasangatlayak (sangat valid). Pada uji cobakelompokkecilmenghasilkanpersentase 86,4% yang termasuk pada kriteriasangatlayakatausangat valid. Uji cobakelompokbesarmenghasilkanpersentase 84,95%,yang masuk pada kriteriasangat valid. Rata-rata presentaseakhirberjumlah 84,4%, berdasarkankriteriakelayakan media sebelumnyamakaprodukhasilpengembangan media initermasukdalamkategorisangatlayak dan dapatdigunakan pada pembelajaranekstrakurikuler. Hasil penelitian dan pegembanganiniadalahproduk media pembelajaran “Mbatik” yang dapatdigunakan oleh siswa dan guru dalampembelajarankhususnyapanduanmembuat batik. Saran pemanfaatan media yakniterlebihdahulu guru memberikan stimulus berupapertanyaanmengenaimateri batik. Media inidapatdigunakansebagaipanduansiswasaatpraktikdalammembatikdidalammaupundiluarkelas. Produkpenelitian dan pengembanganselanjutnyadiharapkandapatmengembangkansesuaidenganmateriinovasi batik yang lebihbaru, sehinggasiswadapattermotivasi dan menambahketerampilansiswa. SUMMARY Putri, RizqiaUcik A. 2019. Developing Of Learning Media On Batik Painting Flipbook Based In Pinting And Batik Extracurricular Classes In State Senior High School 1 Tumpang. Art and Design Department. Faculty of Letters, State University of Malang. Supervisor(s): (1) Dr. Hariyanto, M.Hum. (2) Lisa Sidyawati, S.Pd, M.Pd Keywords: Learning Media, Batik Painting, Flipbook, Extracurricular Extracurricular Pinting and Batik learning media is less relevant and lack of variety. This makes the material and practicum process do not apply well. The problem faced by teachers is their lack of mastery in batik material so that students only be able to practice painting without practicing making batik. Meanwhile, the extracurricular activities namely painting and batik. The main purpose of this research and development of flipbook media is to develop more innovative media as a presentation media and more interesting as a guidebook in batik works. Besides, this study aims to see the results of the level of flipbook media feasibility, so that this media can be a medium used by teachers as a substitute for presentation media on the whiteboard and media as a guide for students to create batik works. The development model used in this study is Borg and Gall’s modified model. Steps taken in this study start from (1) Research and data collection, (2) Planning, (3) Initial product development, (4) Expert validation (5) Revision of expert validation (6) Small group trials (7) Revision (8) Large group trials (9) Final product revisions (10) Implementation. The results of validation trials through questionnaires showed: (1) 78% suitably applied by material experts with sufficiently feasible criteria (valid enough), (2) 88.6% suitably applied by media experts with very feasible criteria (very valid). In small group trials, a percentage of 86.4% showed feasibility or very valid. In large group trials yielded a percentage of 84.95% showed a very valid criteria. The final percentage average is 84.4%. Thus, this product of media development are included in the category of very feasible and can be used in extracurricular learning. The results of this research and development are "Mbatik" learning media products that can be used by students and teachers in learning, specifically as a guide to make batik. As a suggestion for using this media, the teacher has to give a stimulus in the form of questions about batiijk material first. This media can be used as a student’s guide when practicing batik inside and outside the classroom. Further research and development products are expected to develop in accordance with newer batik innovation materials so that students can be motivated and improve their skills
STRUKTUR GERAK TARI BARONGAN KUCINGAN DI PAGUYUBAN TURONGGO JATI KELURAHAN JIMBE KECAMATAN KADEMANGAN KABUPATEN BLITAR
ABSTRAKNoviani, Yessi Nica. 2018. Struktuk Gerak Tari Barongan Kucingan di Paguyuban Turonggo Jati Kelurahan Jimbe Kecamatan Kademangan Kabupaten Blitar. Skripsi. Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Soerjo Wido Minarto, M. Pd, (II) Ika Wahyu Widyawati, S.Pd, M. Pd Kata kunci: Struktuk Gerak, Tari Barongan KucinganKesenian tari Barongan Kucingan telah menjadi bagian terpenting dalam pertunjukan jaranan di kabupaten Blitar. Tari Barongan Kucingan memiliki gerak yang berbeda karakteristiknya. Keunikan dari tari Barongan Kucingan yang terletak pada struktur gerak yaitu unsur gerak, motif gerak, ragam gerak, dan paragraf gerak. Penari menggunakan properti, tata rias, dan tata busana sesuai dengan karakternya, namun penari Barongan Kucingan tersebut menggunakan properti topeng barongan yang menyerupai kucing, dan jamang berbentuk segitiga.Tujuan penelitian yaitu untuk mendiskripsikan struktuk gerak tari Barongan Kucingan di Paguyuban Turonggo Jati kelurahan Jimbe, kecamatan Kademangan, kabupaten Blitar yang meliputi unsur gerak, motif gerak, frase gerak, ragam gerak, paragraf gerak.Metode penelitian yang digunakan adalah deskripsi kualitatif, dan memilih lokasi penelitian berada di Paguyuban Turonggo Jati kelurahan Jimbe, kecamatan Kademangan, kabupaten Blitar. Proses pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Data dilakukan dengan triangulasi teknik, triangulasi sumber, dan triangulasi metode.Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam struktur gerak tari Barongan Kucingan terdapat unsur gerak yang meliputi struktur gerak kepala, unsur gerak tangan, unsur gerak badan, dan unsur gerak kaki. Motif gerak meliputi motif gerak statis, dan motif gerak dinamis. Ragam gerak meliputi giri-giri, tindak kencak, sabetan, ulat-ulat, sireg, ogek lambung, nyakur gapuro, nyakur sawur, cekotan, dolanan kambil, ceklekan ogek lambung, ongkrong-ongkrong, jeret, tamban, penghormatan, jurus sampak, jurus pencak, dhadi. Paragraf gerak meliputi pembuka giri-giri, inti kucingan, dan penutup tamban. Kesimpulan penelitian bahwa di dalam struktur gerak tari Barongan Kucingan terdapat struktur gerak kepala 6 macam, unsur gerak tangan 21 macam, unsur gerak badan 6 macam, dan unsur gerak kaki 7 macam. Motif gerak statis 12 macam, dan motif gerak dinamis 6 macam. Ragam gerak 18 macam. Paragraf gerak pembuka giri-giri 8 macam, inti kucingan 8 macam, dan penutup tamban 8 macam. Saran bagi peneliti yaitu menghasilkan peneliti baru tentang struktur gerak tari Barongan Kucingan di Paguyuban Turonggo Jati kelurahan Jimbe, kecamatan Kademangan, kabupaten Blitar, dan bagi seniman tari Barongan Kucingan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang struktur gerak