SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    2650 research outputs found

    Redesain Kemasan Keripik Buah “So Kressh” Khas Malang Sebagai Upaya Meningkatkan Daya Saing

    No full text
    ABSTRAK   Nuga, Veronica De. 2018. Redesain Kemasan Keripik Buah “So Kressh” Khas Malang Sebagai Upaya Meningkatkan Daya Saing. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sumarwahyudi, M.Sn, (II) Andreas Syah Pahlevi, S.Sn, M.Sn   Kata Kunci: Redesain, Kemasan, Keripik Buah, Daya Saing.  “So Kressh” adalah salah satu merek makanan ringan yang cukup terkenal di Kota Malang yang sudah berdiri sejak tahun 2000. “So Kressh” Bergerak pada pengolahan makanan ringan keripik buah dan sayur. Dengan slogan “Camilan Sehat dan Renyah”, perusahaan ini bertujuan untuk membuat suatu produk yang tidak hanya enak dimakan, namun sehat dan bergizi. Dengan adanya persaingan bisnis makanan ringan yang ketat dan banyaknya kompetitor yang sangat meluas, penjualan produk Keripik Buah “So Kressh” dapat ditingkatkan dengan meredesain kemasan pada produk mereka untuk meningkatkan penjualan, ketertarikan masyarakat dan daya saing untuk menjadikan produk unggulan oleh-oleh khas Malang. Model perancangan yang digunakan adalah model perancangan procedural yang bersifat deskriptif, menggunakan sistematika pola dasar perancangan Sanyoto, yang sudah dimodifikasi oleh penulis, dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi di lapangan. Teknik pengolahan data yang digunakan adalah dengan identifikasi data perusahaan dan data produk dengan cara melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Media yang dihasilkan dalam perancangan ini yaitu redesain trademark, kemasan primer, sekunder, tersier dan beberapa media pendukung. Ide konsep peracangan ini adalah produk yang tidak hanya enak dimakan, namun sehat dan juga bergizi. Konsep tata desain menggunakan ilustrasi buah yang berkarakter dengan maskot buah sebagai pioneer masing-masing rasa dengan teknik berbasis vector, teknik Flat Design dengan ilustrasi desain yang menunjukan ciri khas Malang yaitu motif singa sebagai pattern tambahan elemen desain

    Musik Sonata Kuartet Gesek Ganda “Buat Si Paud”.

    No full text
    ABSTRAK   Bayuningrum, Wardah. 2018. Musik Sonata Kuartet Gesek Ganda “Buat Si Paud”. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Soerjo Wido Minarto, M.Pd, (II) Ika Wahyu Widyawati, S.Pd, M.Pd.   Kata Kunci: Sonata, Double String Quartet, PAUD, Karya Musik Musik Sonata Kuartet Gesek Ganda “Buat Si Paud” adalah sebuah karya musik yang berkiblat pada era klasik dan berbentuk sonata, dimainkan dalam format musik kamar (chamber) dan dimainkan secara kuartet gesek ganda (double string quartet). Penciptaan ini merupakan sebuah karya musik programatik atau musik programyang terdapat suatu program, cerita atau maksud yang ingin disampaikan kepada pendengar. Penciptaan karya musik dilatar belakangi oleh lingkungan penulis yang terdapat banyak anak kecil dan terbiasa mendengar melodi melodi ceria khas anak-anak. Penciptaan karya ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memaparkan proses kreatif karya dari skripsi penciptaan, untuk mewujudkankarya musik penciptaan sebagai tugas akhir kuliah dan untuk mempresentasikan karya musik pada masyarakat umum. Penciptaan ini berasal dari struktur sonatayangdibuat berdasarkan dari beberapa metode yang terdapat buku IBM (Ilmu Bentuk Musik) yang ditulis oleh Prier, terdiri dari tiga bagian lagu yaitu eksposisi (tema/bahan), development (perkembangan dari tema), rekapitulasi (kesimpulan). Metode penciptaan yang digunakan dalam karya ini adalah dimulai dari eksplorasi yang bertujuan untuk mendapatkan suatu ide atau gagasan, selanjutnya melakukan eksperimen dengan cara imitasi (secara audio/visual), improvisasi dan kemudian tahap evaluasi, setelah itu terdapat tahap forming atau pembentukan karya, tahap selanjutnya adalah tahap composing yang menggabungkan semua unsur musik dan yang terakhir tahap performance.Proses produksi dan analisis pada karya ini adalah: (1) Konsep penciptaan : penggalian ide awal karya berawal rangsang auditif. Tema yang diambil adalah kehidupananak-anakatau situasi dan kondisi anak-anak. Selanjutnya ditetapkan bentuk musik Sonatadengan format penyajian kuartet gesek ganda. (2) Langkah-langkah penciptaan : ekplorasi, eksperimen, forming (pembentukan), composing (mengkomposisi), performance (3) Bentuk penyajian : berbentuk komposisi sonata yang menggunakan format musik kamar dan dimainkan secara double string quartet. Hasil dari penciptaan ini adalah menciptakan sebuah karya musik programatik yang berjudul “Bentuk Musik Sonata Kuartet Gesek Ganda ”Buat Si PAUD”, karya musik berbentuk sonata untuk kuartet gesek ganda yang berkiblat pada era Klasik dan menggunakan gaya Galan.  Panggung yang digunakan dalam pementasan yaitu panggung proscenium. Pencahayaan menggunakan pencahayaanumum dan tata busana yang digunakan yaitu berbagai warna, celana atau rok hitam dengan menggunakan sepatu pantofel hitam. Kesimpulan dalam penciptaan ini adalah sebuah karya musik yang berjudul “Musik Sonata Kuartet Gesek Ganda ”Buat si PAUD“, meupakan sebuah karya musik akademik yang mempunyai konsep musik programatik bertema kehidupan ssanak-anak, berbentuk sonata untuk double string quartet. Karya ini terdiri dari tiga bagian diantaranya adalah bagian pertama yang bertempo allegro (cepat), bagian kedua bertempo lento(lambat), dan bagian terakhir bertempo allegretto (tidak terlalu cepat) yang berirama waltz.Skripsi penciptaan ini dapat menjadi acuan dan motivasi bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik, khususnya konsentrasi musik dalam mengambil tugas akhir skripsi penciptaan yang lebih baik terutama pada bagian progresi akord, melodi, susunan harmoni dan kalimat-kalimat lagu. Sonata yang diciptakan oleh penulis merupakan bentuk musik yang umum, jika memungkinkan seniman lain dapat membuat bentuk musik sonata selain untuk musik klasik, seperti contoh musik gamelan. Teori yang digunakan dalam penulisan karya musik ini merupakan teori yang sudah pasti, sehingga para guru atau para mahasiswa dapat menjadikannya sebuah media pembelajaran tentang teori yang berkaitan

    PERANCANGAN BUKU PANDUAN WISATA ALAM KOTA BATU BERBASIS ILUSTRASI DAN FOTOGRAFI (INTEGRATED) SEBAGAI MEDIA PROMOSI WISATA

    No full text
    ABSTRAK   Apsari, Larasita. 2018. Perancangan Buku Panduan Wisata Alam Kota Batu Berbasis Ilustrasi Dan Fotografi (Integrated) Sebagai Media Promosi Wisata. Skripsi. Progam Studi Desain Komunikasi Visual. Jurusan Seni dan Desain. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Andy Pramono, S.Kom, M.T dan Andhika Putra Herwanto, S.Sn, M.Sn. Kota Batu sebagai wilayah yang memiliki kekayaan alam sedemikian rupa kini menjadi kota wisata yang kian berkembang dan merupakan salah satu kota wisata terbesar di Jawa Timur. Untuk itulah Batu berkembang menjadi daerah tujuan wisata. Banyak tempat wisata alam di Kota Batu yang kalah pamor dengan wisata modern seperti Jawa Timur Park dan Museum Angkut. Banyaknya objek wisata air terjun, pegunungan, kampung wisata, dan perkebunan seharusnya bisa menjadi daya tarik tersendiri. Oleh karena itu, perlu adanya sebuah media yang menarik untuk menarik minat wisatawan berkunjung. Namun, banyaknya tempat wisata di Kota Wisata Batu tidak didukung dengan informasi yang cukup. Informasi/panduan tentang wisata di Kota Batu masih sangat kurang, dan mencakup wisata-wisata yang besar saja seperti Jawa Timur Park 1, Museum Angkut, dan Eco Green Park. Salah satu faktor yang mendukung perkembangan pariwisata di Indonesia adalah buku panduan yang berfungsi sebagai pemberi informasi detail tentang lokasi, makanan, dan apa yang bisa didapatkan di tempat wisata tersebut, mengingat hal ini menarik untuk diketahui oleh para wisatawan. Model perancangan merupakan sebuah pola atau acuan yang digunakan sebagai dasar dari proses perancangan. Model perancangan ini menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan sebuah produk.Model perancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model perancangan milik Sanyoto. Hasil final yang diperoleh dari perancangan buku Jelajah Wisata Alam Kota Batu bareng Kinara & Duncan adalah sebuah buku panduan wisata yang membahas lengkap tentang wisata alam Kota Batu mulai dari akses, harga, hingga aktivitas apa saja yang dapat dilakukan di tempat wisata tersebut. Buku ini berukuran 13,5 x 20,5 cm, menggunakan jilid langsung dan memiliki 75 halaman isi. Sampul buku menggunakan kertas art paper 260gr, sedangkan isi buku menggunakan kertas hvs 100gr. Diharapkan buku ini dapat menjadi media promosi wisata yang efektif untuk Kota Batu

    Pembelajaran Tari Thengul di Sanggar Pamardisiwi Kabupaten Bojonegoro

    No full text
    ABSTRAK   Tari Thengul merupakan tari yang pertama kali diciptakan oleh seniman Bojonegoro, tarian tersebut dikenal oleh masyarakat dan menjadi ikon Bojonegoro. Tari Thengul diajarkan di sanggar, terutama di Sanggar Pamardisiwi. Sanggar Pamardisiwi merupakan sanggar yang mempublikasikan tari Thengul sampai akhirnya tari Thengul menjadi terkenal dan diakui sebagai tari tradisional Bojonegoro. Sanggar Pamardisiwi selalu memberikan pembelajaran tentang tari Thengul guna untuk melestarikan kesenian yang ada di Bojonegoro. Salah satu cara yang dilakukan Sanggar Pamardisiwi adalah mengajarkan tari Thengul kepada anggota sanggar. Eksistensi tari Thengul berkembang dengan pesat di kalangan seniman, sehingga memunculkan inovasi lain untuk mengkreasikan tari Thengul guna melestarikan keberadaannya. Hal tersebut yang membuat peneliti tertarik untuk meneliti proses pembelajaran tari Thengul di Sanggar Pamardisiwi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tentang pembelajaran tari Thengul di Sanggar Pamardisiwi. Hasil yang dipaparkan antara lain adalah hasil wawancara, observasi, serta dokumentasi.Pendekatan penelitian yang digunakan untuk mengkaji tentang pembelajaran di Sanggar Pamardisiwi adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah observasi, wawancara, serta dokumentasi. Hasil penelitian tentang pembelajaran di sanggar dengan menggunakan metode demonstrasi yaitu pelatih memberikan contoh gerakan terlebih dahulu, kemudian peserta didik memperagakan gerakan yang telah dicontohkan oleh pelatih, lalu peserta didik mengulang-ulang hingga menguasai gerakan. Metode drill yaitu pelatih selalu memberikan gerakan menggunakan hitungan 1x8 dan diulang-ulang hingga peserta didik menguasai. Metode kerja kelompok yaitu pelatih membagi kelompok berdasarkan kemampuan yang berbeda-beda. Media yang digunakan yaitu handphone dan sound. Pelaksanaan pembelajaran terdapat awal, inti dan akhir. Evaluasi di sanggar dengan melakukan pementasan secara rutin disetiap tahun dan pelatih memberikan penilaian berdasarkan wiraga, wirama, wirasa dan harmonisasi. Kesimpulan dari hasil penelitian yaitu,metode pembelajaran terdapat demonstrasi, drilling dan kerja kelompok. Media yang digunakan pelatih yaitu handphone dan sound. Pelaksanaan pembelajaran terdapat awal, inti, akhir. Evaluasi pembelajaran dengan melakukan pementasan rutin disetiap tahun dan memberikan penilaian hasil melalui wiraga, wirama, wirasa dan harmonisasi.Diharapkan penelitian ini dapat menambah wawasan kepada pembaca, seniman dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tari Thengul di Sanggar

    PROSES EDITING DALAM PEMBUATAN FILM PENDEK BERJUDUL ROTASI

    No full text
    ABSTRAK   Pratama, Destian. 2017. Proses Editing dalam Pembuatan Film Pendek Berjudul Rotasi. Skripsi. Program Studi Desain Komunikasi Visual. Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Sarjono, M.Sn., (II) Gunawan Susilo, S.Sn, M.Sn   Kata Kunci: proses editing, film pendek, film indie, rotasi Kini film menjadi media yang populer sehingga banyak bermunculan sineas yang menghasilkan film-film baru. Namun, kebanyakan para sineas baru ini terkadang tidak menggunakan teknik-teknik editing yang baik sehingga konten dalam film yang mereka bawakan tidak tersampaikan dengan baik dan kurang meninggalkan kesan di hati penonton. Tujuan perancangan ini adalah untuk menghasilkan sebuah film berjudul Rotasi yang diharapkan mampu menyampaikan gagasan utama dari filmmaker melalui proses editing yang baik sehingga nantinya bisa menjadi bahan rujukan bagi para sineas muda lainnya. Metode perancangan yang digunakan yaitu Model Perancangan Bruce Archer yang telah dimofikasi sesuai kebutuhan perancangan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan praktisi film di Kota Malang dan juga studi literatur. Dari observasi berupa wawancara dan dokumentasi kita bisa mendapatkan data-data tertulis dan akurat untuk kemudian disimpulkan dalam analisa data. Film pendek rotasi mengambil tema “Connecting Lives” yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari dan dikemas dengan teknik editing yang menarik. Film ini berdurasi 5 menit, menggunakan aspek rasio 2.40 cinematic look, menggunakan Bahasa Indonesia, dengan resolusi 1920:1080. Film ini dilengkapi dengan media pendukung untuk promosi penayangannya yaitu: Poster, Animated Poster,Boxset Merchandise berisi kaset DVD lengkap dengan behind the scenes pembuatan, bloopers, dan T-Shirt film rotasi

    FUNGSI DAN UPAYA PELESTARIAN TRADISI SORONG SERAH AJI KRAMA DI DESA PENUJAK KABUPATEN LOMBOK TENGAH

    No full text
    RINGKASAN Tradisi Sorong Serah Aji Krama adalah peristiwa adat pada penyelenggarakan pernikahan dikalangan masyarakat bangsawan Sasak di Lombok Tengah, akan tetapi tradisi itu telah menjadi pedoman umum pernikahan pada masyarakat suku Sasak. Dewasa ini tradisi Sorong Serah Aji Krama mengalami kemunduran karena perkembangan gaya hidup, sehingga masyarakat tidak mampu mendapatkan referensi yang cukup untuk melaksanakannya. Memperhatikan melemahnya pemahaman masyarakat Sasak terhadap tradisi Sorong Serah Aji Krama itu digunakan sebagai pokok permasalahan, yaitu (1) bagaimana fungsi tradisi Sorong Serah Aji Krama, (2) apa upaya yang dilakukan oleh masyarakat suku Sasak untuk mempertahankan tradisi Sorong Serah Aji Krama. Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan metode fungsional. Narasumber kunci penelitian ini pemangku adat dan pemuka masyarakat kalangan bangsawan Sasak. Hasil penelitian ini (A) Fungsi tradisi Sorong Serah Aji Krama meliputi (1) Religi dan (2) sosial, dan (B) upaya pelesatrian Sorong Serah Aji Krama meliputi (1) membangun organisasi pelaksana tradisi Sorong Serah Aji  Krama, (2) pembinaan dan pelatihan pelaksanaan tradisi Sorong Serah Aji Krama pada generasi muda, (3) memasukan tradisi Sorong Serah Aji krama sebagai muatan lokal pelajaran sekolah, dan (4) ditampilkan sebagai atraksi pariwisata. Kata Kunci : pernikahan, tradisi, sasak, atraksi pariwisat

    Struktur Penyajian dan Fungsi Musik Iringan Tari Jaranan Dor di Sanggar Sido Mulyo Desa Ngroto Kecamatan Pujon

    No full text
    RINGKASAN.   Sanggar Sido Mulyo Desa Ngroto kecamatan Pujon, adalah salah satu daerah yang masih menjaga dan melestarikan kesenian Jaranan Dor. Jaranan Dor merupakan kesenian yang mempunyai ciri khas yang terdapat pada instrumen jidor. Struktur musik Jaranan Dor idi Sanggar Sido Mulyo adalah urutan pakem atau asli yang secara turun temurun masih di lestarikan, mulai dari musik pembuka atau suguh, musik inti dan musik akhir atau iulih-uloihan. Instrumen yang digunakan yaitu Kendhang, Cimplung, Angklung dan jidor. struktur atau urutan musik pada kesenian jaranan Dor masih pakem. Fungsi musik pada kesenian jaranan dor masih sama seperti kesenian-kesenian jaranan dor lainnya.   Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan struktur penyajian dan funsgi musik iringan tari Jaranan Dor di sanggar Sido Mulyo desa Ngroto Kecamatan Pujon.   Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. lokasi penelitian di Desa Ngroto kecamatan Pujon. Narasumber utama dalam penelitian ini adalah Sugiyono, Narto, Yopi. prosedur pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. kegiatan analisis data di mulai dari tahap reduksi data, kemudian penyajian data dan mengambil kesimpulan. pada pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber.   Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) struktur penyajian musik iringan tari Jaranan Dor di sanggar Sido Mulyo Desa Ngroto Kecamatan Pujon meliputi musik pembuka atau suguh, musik inti atau isen-isen, dan musik akhir atau ulih-ulihan (2) fungsi musik iringan tari Jaranan Dor di Sanggar Sido Mulyo desa Ngroto kecamatan Pujon terdapat musik pembuka sebagai pemberi suasana, musik inti sebagai penegas gerak, dan musik akhir sebagai pemberi suasana.   kesimpulan yang di dapatkan melalui penelitian ini adalah musik pembuka menggunakan tempo lambat atau di sebut lamba dan dinamika yang lembut atau di sebut lirih, terdapat suguh yang di awali dengan instrumen kendhang, ojob-ojob adalah doa-doa yang dinyanyikan seperti tembang seiringan dengan musik suguh, dengan menggunakan notasi angka. dalam musik inti terdapat isen-isen yaitu tempo cepat atau disebut seseg dan dinamika yang keras atau disebut wudahar. Musik akhir atau ulih-ulihan adalah pengulangan ke bagian musik pembuka yaitu dengan tempo yang lambat atau disebut lamba dan dinaika yang lembut atau disebut lirih

    Identifikasi Objek Pada Karya Gambar Pemandangan Anak Kelas IV dan V SDN Jedong 3 Malang

    No full text
    ABSTRAK   Menggambar yang dilakukan oleh anak-anak usia sekolah dasar merupakan sarana berkomunikasi dari apa saja yang sedang dirasakan dan dipikirkan pada saat itu. Objek yang digambar umumnya didasarkan pada pengalaman estetik masing-masing. Objek-objek yang sering dilihat sehari-hari oleh tiap orang, terutama anak-anak, berbeda, contohnya seperti mobil, pantai, pohon, taman, dll. Berangkat dari teori tersebut, peneliti berekspektasi untuk mendapatkan karya gambar dengan keberagaman objek dengan dilakukannya penelitian ini. Oleh karena itu, dibutuhkan identifikasi objek pada karya gambar pemandangan anak untuk menjawab masalah tersebut. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan siswa kelas IV dan V SDN Jedong 3 Malang tentang gambar pemandangan. Metode yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu melakukan identifikasi terhadap hasil karya menggambar pemandangan siswa kelas IV dan V SDN Jedong 3 Malang. Maka dalam penelitian ini, peneliti menekankan pada observasi sebagai upaya penggalian data bagi proses validitas, namun tetap menggunakan dokumentasi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV dan V SDN Jedong 3 Malang tahun ajar 2016/2017. Peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Dari kunjungan peneliti ke lokasi penelitian, peneliti berhasil mengambil data karya gambar sebanyak 40 buah. 20 data gambar didapat dari anak kelas IV dan 20 data gambar sisanya didapat dari anak kelas V. Hasil dari penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa anak-anak masih beranggapan bahwa pemandangan adalah menggambar sebuah gunung, dapat dilihat dari hasil penemuan peneliti mayoritas anak menggambar objek gunung lengkap beserta langit dan tanaman di dalamnya. Sedikit siswa yang menggambar pemandangan dengan objek lain seperti laut, kebun, sawah, dan air terjun, atau pemandangan lainnya seperti perkotaan, gedung-gedung, kebun binatang, halaman rumah, tempat bermain, dan sebagainya. Peneliti menyarankan perlu adanya variasi dan motivasi dalam mengajarkan menggambarkan kepada anak. Tidak hanya terbatas di buku panduan yang dibagikan dikelas, guru juga perlu memberi bimbingan lebih terhadap anak untuk menambah keberagaman objek dalam gambar pemandangan anak

    PERBEDAAN VISUALISASI ATRIBUT DAN PROPORSI WAYANG KULIT PURWA GAYA SURAKARTA DENGAN WAYANG KULIT PURWA GAYA YOGYAKARTA PADA TOKOH ARJUNA

    No full text
    ABSTRAK   Saifurrijal, Achmad. 2017. Perbedaan Visualisasi Atribut dan Proporsi Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta dengan Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta Pada Tokoh Arjuna. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Triyono Widodo, M.Sn, (II) Ike Ratnawati, M.Pd.   Kata Kunci: Perbedaan visualisasi, wayang kulit purwa   , tokoh Arjuna Arjuna adalah anggota keluarga Pandawa yang tengah atau ketiga, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunthi. Tokoh Arjuna dalam dunia pewayangan antara Surakarta dengan Yogyakarta digambarkan kedalam bentuk visual wujud yang berbeda yaitu Arjuna gaya Surakarta lebih jangkung daripada Arjuna gaya Yogyakarta, penyebab perbedaan bentuk visual wujud tersebut dikarenakan perpecahan kerajaan mataram menjadi 2, yaitu kasunanan Surakarta dan kesultanan Yogyakarta pada tahun 1755. Metode yang digunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama dengan melibatkan. Dalang sebagai narasumber. Data pada penelitian ini diperoleh melalui metode observasi dan wawancara. Sedangkan untuk menguji keabsahan data, dilakukan kegiatan metode triangulasi. Perbedaan visualisasi yang menonjol adalah pada atribut dan proporsi bagian atas, tengah, dan bawah yaitu Arjuna gaya Surakarta tidak memakai mangkara, sedangkan Arjuna gaya Yogyakarta memakai mangkara mata satu, sumping Arjuna gaya Surakarta memakai khudupturi dan Arjuna Yogyakarta memakai wederan. Selanjutnya Arjuna Surakarta dan Yogyakarta tidak memakai kalung melainkan sunggingan bludiran yang menyerupai kalung. Arjuna gaya Surakarta memiliki badan lebih ramping dan juga lebih jangkung dari badan Arjuna gaya Yogyakarta. Arjuna Surakarta memakai sabuk sembung Arjuna Yogyakarta memakai sabuk slepe, dodot Arjuna gaya Surakarta memakai dodot warna merah ukiran semen, dodot Arjuna gaya Yogyakarta menggunakan dodot berwarna utama coklat gelap dengan ukiran bubukan dan motif parang rusak, Arjuna gaya Surakarta memakai pocong polos dan gaya Yogyakarta menggunakan pocong banyakan, kaki Arjuna gaya Surakarta ukurannya lebih ramping/kurus, gaya Yogyakarta lebih gemuk dan lebar. Dari hasil penelitian ini diharapkan kepada pembaca dan peneliti lain untuk mengkaji dan mempelajari secara lebih mendalam, karena beberapa data hasil wawancara dan observasi tidak ditemukan di pustaka. Diharapkan penelitian tentang Tokoh Arjuna ini dapat dilanjutkan kajian mengenai sejarah tokoh Arjuna dan kajian makna atribut serta proporsi wayang tokoh Arjuna.

    PERBEDAAN VISUALISASI ATRIBUT DAN PROPORSI WAYANG KULIT PURWA GAYA SURAKARTA DENGAN WAYANG KULIT PURWA GAYA YOGYAKARTA PADA TOKOH ARJUNA

    No full text
    ABSTRAK   ABSTRAK   Saifurrijal, Achmad. 2017. Perbedaan Visualisasi Atribut dan Proporsi Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta dengan Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta Pada Tokoh Arjuna. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Triyono Widodo, M.Sn, (II) Ike Ratnawati, M.Pd.   Kata Kunci: Perbedaan visualisasi, wayang kulit purwa   , tokoh Arjuna Arjuna adalah anggota keluarga Pandawa yang tengah atau ketiga, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunthi. Tokoh Arjuna dalam dunia pewayangan antara Surakarta dengan Yogyakarta digambarkan kedalam bentuk visual wujud yang berbeda yaitu Arjuna gaya Surakarta lebih jangkung daripada Arjuna gaya Yogyakarta, penyebab perbedaan bentuk visual wujud tersebut dikarenakan perpecahan kerajaan mataram menjadi 2, yaitu kasunanan Surakarta dan kesultanan Yogyakarta pada tahun 1755. Metode yang digunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama dengan melibatkan. Dalang sebagai narasumber. Data pada penelitian ini diperoleh melalui metode observasi dan wawancara. Sedangkan untuk menguji keabsahan data, dilakukan kegiatan metode triangulasi. Perbedaan visualisasi yang menonjol adalah pada atribut dan proporsi bagian atas, tengah, dan bawah yaitu Arjuna gaya Surakarta tidak memakai mangkara, sedangkan Arjuna gaya Yogyakarta memakai mangkara mata satu, sumping Arjuna gaya Surakarta memakai khudupturi dan Arjuna Yogyakarta memakai wederan. Selanjutnya Arjuna Surakarta dan Yogyakarta tidak memakai kalung melainkan sunggingan bludiran yang menyerupai kalung. Arjuna gaya Surakarta memiliki badan lebih ramping dan juga lebih jangkung dari badan Arjuna gaya Yogyakarta. Arjuna Surakarta memakai sabuk sembung Arjuna Yogyakarta memakai sabuk slepe, dodot Arjuna gaya Surakarta memakai dodot warna merah ukiran semen, dodot Arjuna gaya Yogyakarta menggunakan dodot berwarna utama coklat gelap dengan ukiran bubukan dan motif parang rusak, Arjuna gaya Surakarta memakai pocong polos dan gaya Yogyakarta menggunakan pocong banyakan, kaki Arjuna gaya Surakarta ukurannya lebih ramping/kurus, gaya Yogyakarta lebih gemuk dan lebar. Dari hasil penelitian ini diharapkan kepada pembaca dan peneliti lain untuk mengkaji dan mempelajari secara lebih mendalam, karena beberapa data hasil wawancara dan observasi tidak ditemukan di pustaka. Diharapkan penelitian tentang Tokoh Arjuna ini dapat dilanjutkan kajian mengenai sejarah tokoh Arjuna dan kajian makna atribut serta proporsi wayang tokoh Arjuna

    0

    full texts

    2,650

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇