SKRIPSI Jurusan Seni dan Desain - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
2650 research outputs found
Sort by
Perancangan Sign System Objek Wisata Taman Siring Banjarmasin Sebagai Pendukung Branding Wisata
Dalampenelitianini,Penulismencobamemberikansign system yang lebihbaik pada salah satu landmark pariwisatautama di Banjarmasin. Berdasarkan pengamatan sign system yang sudahada di Taman Siring, penulis menemukan bahwa banyakterdapatkerusakan pada sign system yang sudahada dan masihkurangnyainformasi pada sign system yang ditunjukkan Pada perancangansign system Taman Siring ini, penulismenggunakan model perancanganproseduraldan pendekatankualitatif, serta menggunakan prosuder perancangan dari model perancangan M.Yoshioka yang telah dikembangkan sesuai dengan konsep penelitian sehingga perancangan dapat berjalan dengan efektif, denganmetodeinipenulissebagaiinstrumenutamauntukmenentukanmasalah dan solusi. Penulismenemukanbahwabanyakkesulitanbagi para pengunjunguntukmengaksesinformasi yang merekabutuhkanketikamengunjungitaman siring. Pada hasil observasi lapangan dan wawancara yaitu sign system yang ada pada Taman Siring memiliki penempatan yang tidak strategis, memiliki desain yang sederhana, tidak memiliki kesatuan, dan memakai material yang tidak sesuai dengan lingkungan. Maka dari itu penulis menyimpulkan bahwa sign system pada taman Siring perlu untuk mendapatkan pembaruan. Hasil penelitianinidiharapkandapatmeningkatkanaksesibilitassign system Taman siring. Desainbaru oleh penulisakanmeningkatkansistemtanda yang dapatdiaksessepertiidentification sign, direction sign, orientation sign, regulatory and prohibition sign
LIMA WAKTU SEHARI
RINGKASAN. Paranugraha, Ramadhan Duta. 2018. Lima Waktu Sehari. Skripsi, Jurusan, Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Ninik Harini, M. Sn (II) Hartono, S. Sn, M. Sn. Kata Kunci: Penciptaan, Shalat, Jazz, Free Jazz, Bigband Lima waktu sehari adalah karya musik dengan bentuk Jazz, bergenre Free Jazz dimainkan dengan format big band, jenis dari karya ini ialah programa karena menceritakan tentang pentingnya ibadah shalat serta latar belakang terjadinya ibadah shalat melalui pewarisan dari nabi-nabi, berdasarkan latar belakang tersebut permasalahan yang dikaji ialah banyak orang yang melakukan ibadah shalat namun hanya sekedar melakukannya tanpa adanya penghayatan terhadap ibadah yang dilakukan, padahal shalat adalah bentuk komunikasi manusia pada Tuhan, sehingga perlu pengertian makna akan shalat yang dalam, pada karya ini hal tersebut diwujudkan lewat menceritakan asal terjadinya ibadah shalat yang diwariskan lewat solusi akan cobaan yang ditempuh oleh nabi-nabi. Karya ini mencoba menceritakan ibadah shalat dalam 5 bagian sesuai dengan nabi pewarisnya yang dirujuk melalui buku The Miracle of Shalat, bagian 1 Subuh dengan pewaris nabi Adam, bagian 2 Zuhur dengan pewaris nabi Ibrahim, bagian 3 Asar dengan pewaris nabi Yunus, bagian 4 Magrib dengan pewaris nabi Nuh, dan bagian 5 Isya dengan pewaris nabi Musa. Penciptaan karya ini didasarkan agar musik islami memiliki genre Jazz dengan format big band yang dibuat dengan program musik yang mendasari rasa kekaguman pada Tuhan bukan ketakutan, komposisi ini merupakan komposisi inovatif yang terinspirasi dari kegundahan hati penulis akan makna dari ibadah shalat. Pengolahan material pada karya ini meliputi pemenuhan unsur-unsur jazz dalam karyanya yakni adanya tema, bridge, serta yang terpenting adanya improvisasi dalam karya tersebut, setiap bagian dalam karya "Lima Waktu Sehari" ini memiliki karakter musik yang berbeda-beda mengikuti program yang ada di dalamnya. Kesimpulan dari karya yang dibuat pasti tidak lepas dari kesalahan, salah satunya adalah perbedaan dari interpretasi makna yang pasti berbeda-beda pada setiap individu, namun hal tersebut ialah hak dari setiap pendengar, sebanding dengan hak yang dimiliki komposer untuk mencipta karya sesuai dengan penginterpretasiannya sendiri. Saran bagi komposer musik yang lain khususnya mahasiswa jurusan musik untuk mengkaji dan mengembangkan musik Jazz dalam ranah lingkup pendidikan
PerancanganMotion graphic Sebagai Media Kampanye Anti PenyebaranBerita Hoax Di Media Sosial
RINGKASAN. Perancangan ini bertujuan untuk menghasilkansebuah mediayang informatif dan mudahdipahami oleh pengguna media sosialuntukmengurangipenyebaranhoax, sertamenjadi mediayangdapatmembantupengguna media sosialuntukmemahamitentangbahayahoax. Model perancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah model perancanganproseduralyaitu model yang bersifatdeskriptif. Prosedurperancangan pada penelitian ini adalah (1) latar belakang masalah, (2) identifikasi masalah, (3) pengumpulan data, (4) analisis data, (5) sintesis, (6) konsep perancangan, dan (7) proses perancangan. Hasil perancanganmerupakandesain final juga hasilakhir yang telahsiapuntukdinikmatisetelahmelaluitahapan proses desain. Paparan data pada penelitian ini yaitu menggunakan (1) observasi, (2) wawancara dan (3) dokumentasi. Dalam mencapai analisis data digunakan sebuah metode yaitu analisis SWOT (Strength, Weakness, Oportunity, Treatment). Perancanganinimenghasilkansebuah media yang berupamotion graphic, komunikasiinformasidisampaikan verbal menggunakantulisanmaupun visual, menggunakangayaflat design yang memilikiperanpentingdalamsebuah media komunikasi agar informasi yang disampaikandapatdipahamidenganbaik.Melalui proses perancangantelahdiciptakanmotiongraphicdengandurasi 2 menit 30 detik yang memuatberbagaiinformasidiantaranyasejarahdipergunakannyaistilahhoax, bentukpenyebaranhoax, dampakburukpenyebaranhoax, carauntukmengenalihoax, sertahimbauanuntuklebihselektifdalammemilihinformasi yang akandisebarkan di media sosial. Pada perancanganini juga terdapat media pendukung lain sepertimotiongraphicdengandurasilebihpendekyaitu 1 menit, poster infografis, sertabannersebagai media untukmenyebarkaninformasimengenaikampanye anti penyebaranberitahoax di media sosial
TERGESERNYA LAHAN PERTANIAN SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS REPRESENTASIONAL
RINGKASAN Ulya, Rodlyta Ittabi’. 2018. Tergesernya Lahan Pertanian Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis Representasional. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Triyono Widodo, M.Sn. Kata Kunci :Pergeseran lahan, Penciptaan, Karya Seni Lukis, Representasional. Pergeseran lahan merupakan peralihan fungsi suatu lahan menjadi fungsi yang lain, misalnya lahan pertanian menjadi lahan pertokoan. Kebutuhan manusia yang terus bertambah serta mendesak menjadikan pergeseran lahan tidak terkendali. Ditambah dengan kesadaran manusia akan mencari keuntungan yang lebih dengan memanfaatkan kebutuhan manusia lainnya.Oleh karena itu, pencipta melakukan penciptaan karya seni lukis representasional sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran manusia dalam menghargai dan lestarikan lingkungan, khususnya pada keberadaan lahan pertanian. Bedasarkan daripermasalahan tersebutpencipta menjadikannya sumber inspirasi dalam penciptaan karya seni lukis representasional. Penelitian ini merupakan jenis penelitian penciptaan seni, dengan menggunakan metode penciptaanAlma Hawkins meliputi: tahap eksplorasi, tahap improvisasi, danpembentukan. Eksplorasi dalam penciptaan ini merupakan tahap pencarian ide serta pencarian objek yang relevan dengan ide tersebut. Ide daripenciptaan ini adalah ‘Tergesernya lahan pertanian’.Improvisasi merupakan pengembangan dari tahap sebelumnya, yaitu mengembangkan objek yang didapat menjadi sesuai dengan apa yang dirasakan pencipta. Pembentukan adalah tahap terakhir, yaitu menerapkan objek yang telah dikembangkan menjadi suatu karya yang utuh. Penciptaan ini menghasilkan enam karya seni lukis yang berjudulPadi menghitam, Puff of chaos, Berharap, Dan ketenangan, Kerasnya alam, dan Kacau balau. Keenam karya lukis yang diciptakan menambah wawasan tentang pengolahan deskripsi suatu karya seni dan nostalgia bagi pencipta yang berisi ingatan-ingatan dalam perwujudannya.Berdasarkan hasil penciptaan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman baru kepada pencipta maupun orang lain dalam mempelajari karya seni lukis representasional.
Perancangan Buku Cerita Bergambar Berdasarkan Mitos Nelayan di Madura
ABSTRAK RINGKASAN Firdauzia, Zelma Malina. 2017. Perancangan Buku Cerita Bergambar Berdasarkan Mitos Nelayan di Madura.Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Moch. Abdul Rohman, S.Sn, M.Sn. Pembimbing (II) Yon Ade Lose Hermanto, S.Sn, M.Sn Kata Kunci: Buku Cerita, Cerita Bergambar, Mitos, Nelayan, Madura. Tradisi melaut tidak bisa dipisahkan dari sejarah bangsa kita. Suku Madura adalah representasi masyarakat pesisir yang keras dan bermental baja. Masyarakat pesisir yang menggantungkan hidupnya pada laut sangat berbeda dengan masyarakat pegunungan/pedalaman yang menggantungkan hidupnya pada tanah. Kehidupan nelayan yang sehari-hari dihabiskan di laut ternyata begitu mempengaruhi gaya hidup sehingga melahirkan perilaku sosial yang bercirikan keberanian tinggi, menjunjung tinggi martabat dan harga diri dan berjiwa keras. Tujuan perancangan ini adalah untuk memperkenalkan kehidupan nelayan melalui media kreatif. Dengan menggunakan teori cerita bergambar, ilustrasi, concept art dan karakter desain. Proses pengumpulan data dilakukan dengan mengunjungi daerah pesisir di daerah Sumenep, Madura untuk menentukan setting cerita yang nantinya akan mengambil tempat di daerah pesisir Sumenep. Media utama dari perancangan ini adalah buku cerita yang menceritakan tentang kehidupan nelayan dan bagaimana mereka menjalankan pekerjaan mereka. Buku cerita didesain dengan ilustrasi full colour dilengkapi narasi di setiap halamannya
AKTIFITAS KUCING SEBAGAI SUMBER INSPIRASI KARYA SENI GRAFIS CETAK TINGGI
ABSTRAK Firdausi, Anin Naini.2017.Aktifitas Kucing Sebagai Sumber Inspirasi Karya Seni Grafis Cetak Tinggi.Skripsi. Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sarjono, M.sn, (II) Lisa Sidyawati, S.Pd. M.Pd. Kata Kunci: kucing, penciptaan, cetak tinggi Kebiasaan yang dimiliki kucing suka bermain-main serta memiliki naluri terhadap lingkungan. Aktifitas kucing banyak yang tidak mengetahui ketika menggosok-gosokkan badannya ke kaki atau badan, menyatakan kepemiliknya. Aktifitas kucing tersebut menandakan bahwa kucing nyaman terhadap pemiliknya. Serta mendidik untuk ide berkarya seni grafis cetak tinggi. Melalui bentuk dan aktifitas kucing yang wujudkan dalam karya seni grafis diharapkan mampu untuk memberikan keingintahuan masyarakat terhadap kucing dan pendidikan karakter kepada masyarakat untuk menjaga, menghargai,bahwa kucing juga mahkluk hidup yang perlu dilindungi dan disayangi. Dari susunan bentuk aktifitas kucing, kucing hewan yang tidak berbahay
Struktur Gerak dan Karakter Tari Singo Barong dalam Kesenian Reog Ponorogo
ABSTRAK Kristanto, Danang Riza. 2017. Struktur Gerak dan Karakter TariSingo BarongdalamKesenian Reog Ponorogo. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra,Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. NinikHarini,M.Sn, (II)Hartono S.Sn, M.SnKata Kunci: struktur gerak, karakter, tariSingo BarongReog Ponorogo merupakan bentuk seni pertunjukan tradisional masyarakatPonorogo. TariSingo Barongmemiliki struktur gerak dan karakter tersendiri yangmenjadikannya ciri khas dibandingkan tari lainnya. Dalam menarikan tariSingo Barong,pembarongdituntut untuk mampu menghidupkan karakter harimau dan burung merakserta mampu menjaga keseimbangan, kekuatan, dan kelenturan tubuh. Namun, faktanyabanyakpembarongyang tidak paham akan struktur gerak dan karaktertari Singo Barongyang baku.Ketidaktahuan ini menyebabkan adanya salah persepsi,tujuan awal kesenianuntuk menghibur penonton, berubah menjadiajang saling menjatuhkan antarpembarong.Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperlukan pembahasan mengenai struktur gerak dankarakter tari Singo Barong.Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan struktur gerak dan karakter tariSingo Barongdalam Kesenian Reog Ponorogo.Penelitian ini akan menjabarkan tentangkomponen-komponen yang terkandung dalam strukturgerak tariSingo Barongsecaramendalam. Selain itu akan membahas pula gerak apa saja yang menggambarkan karakterHarimau dan Burung Merak dalamtariSingo Barong.Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Siman, Sambit dan Kauman denganmenggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan deskriptif. Sumber data yangdigunakan berupa kata-kata dan tindakan, data tertulis, dan data lapangan.Pengumpulandata dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studidokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi sumber dantriangulasi metode. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap redukdi data, penyajiandatadan penarikan kesimpulan atau verifikasi.Berdasarkan analisis data, diperoleh dua simpulan sebagai berikut: pertama,TariSingo Barongmemiliki beberapa komponen gerak yaitu unsur, motif, frase, kalimat danparagraf gerak. Unsur gerak dibedakanmenjadi unsur gerak kepala, tangan, badan dankaki. Gerak tariSingo Barongmemiliki 5 unsur gerak kepala, 4 unsur gerak badan, 5unsur gerak tangan dan 5 unsur gerak kaki. Selanjutnya tari Singo Barong memiliki 16motif gerak, 21 frase gerak, 14 kalimat gerak dan 4 paragraf gerak.Kedua,TariSingoBarongmemiliki 14 struktur gerak baku yang keseluruhannya memiliki karakter gerakmaskulin/kelaki-lakian. Karena pada dasarnya tariSingo Barongmembawakan tabiatharimau dan burung merak khususnya merak jantan.Berdasarkanke-14 struktur geraktersebut, 4 diantaranya menggambarkan tabiat harimau sedangkan 10 lainnyamenggambarkan tabiat burung merak.Saran bagi para pembarong hendaknya tidak terjerumus dengan bentuk visualnyasaja terlebih dengan bentuk modifikasi dari berbagai sudut yang mengatasnamakanmodernisasi demi memenuhi kebutuhan ekonomi semata, akan tetapi jauh tercerabut dariakar tradisinya. Hal yang semacam ini disamping mendangkalkan bahkan (mungkin)menghilangkan makna dannilai tradisi yang luhur, kedua,Pemerintah Daerah KabupatenPonorogo disarankan tetap melaksanakan event FestivalReogNasionaldan FestivalReogMinisebagai sarana bagi para generasi bangsa untuk tetap memiliki wadah dalammelestarikan budaya bangsa
STRATEGI PEMBELAJARAN TARI TURONGGO YAKSO PADA MATA PELAJARAN SENI BUDAYA KELAS XI IPS 3 DI SMA NEGERI 2 TRENGGALEK
STRATEGI PEMBELAJARAN TARI TURONGGO YAKSO PADA MATA PELAJARAN SENI BUDAYA KELAS XI IPS 3 DI SMA NEGERI 2 TRENGGALEK Yeni Setyo E-mail: [email protected] Tjitjik Sriwardhani Rully A Zandra Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang ABSTRAK:SMA Negeri 2 Trenggalekmerupakansalahsatusekolah formal yang mempunyaikeunggulandalambidangsenitariyaitupadatariTuronggo Yakso yang termasuk kegiatan intrakurikuler di SMA Negeri 2 Trenggalek. Turonggo Yakso merupakan salah satu icon taridari Kabupaten Trenggalek. Tari TuronggoYakso di SMA Negeri 2 Trenggalektelahmendapatkanjuara 1 festival jarananTuronggoyaksopadatahun 2015, penyajiterbaikdalam festival jarananTuronggoYaksotahun 2016, juara 3 lombatari di kodimpadatahun 2016, 5 penyajiterbaikdanpenatatariterbaiktahun 2017. Hal tersebutmenjadisebuahpertanyaanstrategiapakah yang digunakanoleh guru tari di SMA Negeri 2 Trenggalek. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif.Pengumpulan data penelitian diperoleh dengan cara melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi berupa foto dan video. Analisis data yang digunakan dalam penelitian menggunakan analisis data Milles dan Huberman. Hasil penelitian ini adalah, guru seni tari sudah membuat RPP seperti guru pada umumnya, sekolah memberikan kebebasan untuk mengembangkan materi dalam proses pembelajarannya sendiri. Penyampaian materi dengan menggunakan metode ceramah, diskusi, dan demonstrasi.Pada pengelolaan pembelajaran, guru mengarah pada pengelolaan ruang dan pengelolaan siswa. Kata kunci :strategipembelajaran, Tari Turonggo Yakso, Seni Budaya ABSTRACT:SMA Negeri 2 Trenggalek is one of the formal schools that have excellence in the field of dance that is dance Turonggo Yakso which includes intrakurikuler activities in SMA Negeri 2 Trenggalek. Turonggo Yakso is one of the dance icon of Trenggalek Regency. The Turonggo Yakso dance in SMA Negeri 2 Trenggalek has been awarded the 1st champion of the yako Turonggo jaranan festival in 2015, the best presenter of the 2016 Turonggo Yakso festival, the 3rd dance champion at the kodim in 2016, the top 5 renderers and the best dance artist of 2017. It becomes a question of what strategy is used by the dance teacher in SMA Negeri 2 Trenggalek. This research uses qualitative research type. The research data was collected by observation, interview, and documentation in the form of photo and video. The data analysis used in this research use Milles and Huberman data analysis. The result of this research is, dance art teacher has made RPP like teacher in general, school give freedom to develop material in its own learning process. Submission of materials using lecture, discussion, and demonstration methods. In the management of learning, teachers lead to spatial management and student management. Keywords: learning strategy, Dance Turonggo Yakso, Art Culture Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan masa depan peserta didik (Soehardjo, 2012:152). Melihat pendapat tersebut, pendidikan merupakan suatu peranan penting dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan hidup seseorang, sehingga dengan pendidikan seseorang dianggap sempurna karena mempunyai kualitas dan kreativitas. Oleh karena itu, pendidikan bertujuan untuk menyiapkan masa depan seseorang yang dapat diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal seperti halnya pendidikan seni. Menurut (Hidayat, 2013:6) menjelaskan bahwa pendidikan seni di sekolahmenempatkan sasaran hasil belajar pada tiga tataran, yaitu: (1) sebagai strategi mengembangkan sensitivitas dan kreativitas siswa dalam menggunakan berbagai macam bahasa, bunyi, gerak, rupa, dan perpaduannya; (2) memberi peluang seluas-luasnya pada siswa untuk berekspresi diri dan juga mengekspresikan citra budaya etniknya, serta (3) mengembangkan pribadi siswa ke arah pembentukan pribadi yang utuh dan menyeluruh, baik secara individu, sosial, maupun budaya. Strategi pembelajaran yang dilakukan oleh setiap guru di sekolah berbeda-beda untuk mencapai hasil belajar siswa yang optimal. Strategi mencakup tujuan kegiatan, siapa yang terlibat dalam kegiatan, isi kegiatan, proses kegiatan, dan sarana penunjang kegiatan (Majid, 2013:3). Proses pembelajaran seni tari di SMA Negeri 2 Trenggalek sesuai dengan kurikulum pendidikan yang telah dicantumkan. Menurut Budiyono selaku staff kurikulum di SMA Negeri 2 Trenggalek menjelaskan bahwapembelajaran seni tari di SMA Negeri 2 Trenggalek termasuk kegiatan pembelajaran intrakurikuler yang wajib diikuti oleh semua siswa kelas XI.Beberapa kelas XI diSMA Negeri 2 Trenggalek yang lebih menonjol dan kreatif dalam kegiatan berkesenian yaitu kelas XI IPS 3 yang merupakan salah satu kelas favorit, siswa-siswi kelas XI IPS 3 selalu antusias dalam pembelajaran seni tari terutama pada materi tari Turonggo Yakso. Salah satu kesenian yang ada di Kabupaten Trenggalek yaitu tari Turonggo Yakso yang merupakan icon dan kesenian tari asli yang bersumber dari upacara adat Baritan yang dilaksanakan oleh masyarakat Dongko. Turonggo Yakso yang digambarkan dengan wujud kuda berkepala raksasa tersebut merupakan simbol kekuatan masyarakat dalam mengusir pengaruh buruk dalam ketentraman masyarakat (Surur, 2013:48). METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan dan jenis penelitian deskriptif kualitatif, dikarenakan peneliti ingin memaparkan data hasil penelitian berupa data wawancara, observasi, dan dokumentasi.Peneliti merupakan instrument yang menjadi segalanya dari keseluruhan proses penelitian, peneliti sebagai perencana, pengumpul data, melakukan analisis, menafsirkan data, sekaligus sebagai pelapor penelitian (Moleong, 2003:34).Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Trenggalek, tepatnya beralamatkan di Jalan Soekarno Hatta, Gg Siwalan, RT.012/RW.004, Sambirejo, Kec. Trenggalek, Kab. Trenggalek. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan adalah mengenai informasi tentang strategi pembelajaran tari Turonggo Yakso pada Mata Pelajaran Seni Budaya kelas XI IPS 3 di SMA Negeri 2 Trenggalek, yang di dalamnya terbagi menjadi beberapa komponen, yaitu 1) pengorganisasian pembelajaran, 2) penyampaian pembelajaran, dan 3) pengelolaan pembelajaran. Sumber data dalam penelitian ini adalah Fresti selaku guru Seni Budaya, Budiyono selaku Staff Kurikulum, dan Ericha selaku peserta didik di SMA Negeri 2 Trenggalek, dengan dokumentasi berupa foto kegiatan pembelajaran tari Turonggo Yakso. Analisis data terbagi menjadi beberapa tahapan menurut Miles and Huberman yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.Untuk memperoleh keabsahan data, agar data yang diperoleh valid , peneliti menggunakan cara trianggulasi yaitu teknik pengecekan yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang diperoleh. Dalam hal ini trianggulasi yang digunakan ada dua, yaitu trianggulasi teknik dan triangulasi waktu. Peneliti melakukan triangulasi teknik sebagai berikut, peneliti melakukan wawancara dengan Fresti selaku guru seni tari mengenai pengorganisasianpembelajaran, penyampaian pembelajaran, dan pengelolaan pembelajaran. Data yang diperoleh dari hasil wawancara tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil observasi.Selanjutnya, untuk lebih memperjelas data, hasil wawancara yang sudah dibandingkan dengan observasi kemudian dilengkapi dengan dokumentasi berupa foto.Sedangkan pada triangulasi waktu, peneliti melakukan wawancara dalam waktu yang berbeda.Hasil wawancara antara narasumber satu dengan narasumber lainnya dibandingkan sehingga didapatkan kesimpulan. Peneliti melakukan wawancara dengan Fresti mengenai pengorganisasian pembelajaran, selanjutnya melakukan wawancara yang sama dengan Budiyono mengenai pengorganisasian pembelajaran Reog Mini. Jawaban kedua narasumber tersebut diolah, kemudian dibuat kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengorganisasian Pembelajaran Tari Turonggo Yakso pada Mata Pelajaran Seni Budaya Kelas XI IPS 3 di SMA Negeri 2 Trenggalek. Dalampelaksanaanpembelajaran, adabeberapatugas yang harusdilaksanakanolehseorang guru, salahsatunyaadalahmembuatpengorganisasianpembelajaran. Dalammembuatpengorganisasianpembelajaranterdapatbeberapaperencanaanmengenaiapasaja yang dilakukandalampembelajaransehingga proses belajarmengajardapatberjalansesuaidenganapa yang diharapkan. Perencanaan pembelajaran di SMA Negeri 2 Trenggalek adalah tentang pembelajaran dengan sebuah rencana pembelajaran yang spesifik.Walaupun menurut Uno (2011:45) dalam pengorganisasian pembelajaran terdapat perencanaan sebagai awal dari pembelajaran sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Adanya acuan pembelajaran berupa RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) membuat kegiatan pembelajaran berjalan baik. Guru dapat melakukan pembelajaran sesuai dengan tujuan pokok kelas seni itu sendiri yaitu, menciptakan generasi dengan kemampuan berkesenian, khususnya tari Turonggo Yakso. Secara garis besar, pada kelas seni SMA Negeri 2 Trenggalek, pengorganisasian pembelajaran dibagi secara arti luas dan sempit.Secara luas, pengorganisasian mengacu pada konsep pembelajaran yang dijunjung.Konsep pembelajaran yang dimaksud mengacu pada tujuan dasar kegiatan pembelajaran untuk membina dan mengembangkan kekayaan seni budaya daerah setempat sebagai penyangga kebudayaan nasional serta mengembangkan daya cipta dan kreatifitas siswa, khususnya dalam bidang seni tradisi dengan memberikan wadah pembinaan dan apresiasi pada siswa dalam berolah seni. Maka dari itu, konsep pembelajaran dikemas dengan cara yang lebih mudah yaitu memfokuskan pada kegiatan praktek yang memberikan wawasan langsung kepada siswa bahwa menarikan jaranan tidak selalu menjadi hal yang hanya dilakukan oleh orang tua dan akan sangat menyenangkan untuk dibelajari bersama teman seusia. Seperti dikemukakan oleh Mulyasa (2008:86), bahwa dengan demikian guru dan siswa dapat bersama-sama belajar menggali kompetensinya secara optimal. Materi Memilih materi yang tepat merupakan suatu hal yang seharusnya dilakukan oleh guru apapun mata pelajarannya.Secara spesifik, tari Turonggo Yakso pada kegiatan pembelajaran seni tari di SMA Negeri 2 Trenggalek memilih materi pokok tari Turonggo Yakso dengan tujuan penguasaan yang tinggi pada pertunjukan tari tersebut. Didasari dengan alasan bahwa dengan menerjunkan siswa langsung pada materi yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi, siswa akan memunculkan kemampuan yang bervariasi dan ketertarikan yang lebih dalam pembelajaran seni tari Turonggo Yakso. Seperti disampaikan oleh Djamarah dan Zain (2006:43) materi pembelajaran adalah substansi yang akandisampaikan dalam proses belajar mengajar.Maka dari itu, segala substansi seharsusnya dipilih dan dipilah sesuai dengan tujuan dan kebutuhan siswa tersebut. Media Kehadiran media pada kegiatan pembelajaran seni tari menjadi sangat penting sebagai jembatan penghubung bagi siswa untuk memahami materi.Media yang sering digunakan pada pembelajaran seni tari di SMA Negeri 2 Trenggalek adalah satu set properti tari Turonggo Yakso dan Tape recorder.Sanjaya (2006:169) mengemukakan bahwa salah satu fungsi dan manfaat penggunaan media adalah menambah gairah dan motivasi siswa dalam belajar. Maka, media yang bervariasi seperti video, rekaman, dan media lain yang dapat mendukung pembelajaran.Media merupakan suatu alat atau sarana yang berfungsi sebagai perantara atau jembatan dalam kegiatan komunikasi (penyampaian dan penerimaan pesan) antara komunikator (penyampai pesan) dan komunikan (penerima pesan). Metode Metode pembelajaran yang tepat akan berdampak pada keberhasilan tujuan pembelajaran. Dalam penerapannya, guru menggunakan tiga macam metode pembelajaran yang diaplikasikan secara bertahap dengan tujuan pencapaian pemahaman yang setara kepada materi yang diberikan. Hal tersebut sesuai dengan Sanjaya (2011:147) bahwa metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Metode ceramah sebagai metode pembuka menjadi awal bagi siswa untuk menerima penjelasan tentang materi-materi yang akan dipelajari. Hal ini merupakan langkah yang baik untuk memulai suatu pembelajaran karena informasi penting mengenai petunjuk pembelajaran dan tambahan motivasi bagi siswa seharusnya disampaikan di awal.Akan lebih baik jika metode ini tidak digunakan dalam waktu yang terlalu lama. Metode kedua yang digunakan dalam pembelajaran adalah Metode Demontrasi.Hasibuan & Moedjiono (2010:29-30) menjelaskan bahwa metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti: bagaimana cara membuat, terdiri dari apa saja, bagaimana cara mengaturnya, bagaimana proses bekerjanya, serta bagaimana cara mengerjakannya. Dengan adanya demonstasi diberikan oleh guru, siswa mendapatkan contoh tentang materi yang sedang diberikan.Dikemukakan oleh Sanjaya (2011:152) bahwa dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.Maka dari itu, pengunaan metode demonstrasi terbilang sangat membantu dalam pembelajaran. Metode Diskusi sebagai metode ketiga menjadi metode penguat keterampilan siswa dalam menari. Melakukan gerakan yang sesuai musik iringan tari Turonggo Yakso menjadi salah satu hal yang dapat digunakkan untuk menguji kepekaan kemampuan psikomotorik sekaligus kepekaan terhadap kelompoknya.Latihan atau berlatih merupakan proses belajar dan membiasakan diri agar mampu melakukan sesuatu (Supriadie, 2012:149). Penilaian Pada kegiatan pembelajaran penilaian dilakukan secara individu dan kelompok.Secara individu dilakukan dalam peranan siswa di kelas saat mempelajarinya sendiri, mencoba menarikanya tarian yang diajarkan. Sedangkan secara kelompok, dilakukan saat siswa praktek tari secara bersama-sama. Penilaian yang digunakan guru terkandung ketiga aspek kurikulum 2013 yang dituliskan secara tersirat. Ketiga aspek tersebut aspek afektif, aspek kognitif dan aspek psikomotorik. Sebagai acuannya, sesuai dengan pendapat Sudjana (2014:3) bahwa penilaian merupakan bagian integral dari kegiatan pembelajaran.Penilaian adalah proses upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Penyampaian Pembelajaran Tari Turonggo Yakso pada Mata Pelajaran Seni Budaya Kelas XI IPS 3 di SMA Negeri 2 Trenggalek. Langkah-langkah pembelajaran langkah-langkah pembelajran terbagi menjadi tiga tahap berupa kemampuan mengembangkan keterampilan dasar mengajar yang dilakukan dari mulai kegiatan awal (membuka), kegiatan inti, hingga kegiatan menutup pelajaran. Kegiatan Awal Dalam kegiatan awal, guru mencairkan suasana agar tercipta suasana yang kondusif. Guru mempersiapkan mental siswa dengan saling berkomunikasi dan memotivasi siswa. Setelah siswa dirasa siap menerima pelajaran, guru memulai pelajaran.Hal ini sesuai dengan pernyataan Supriadie (2012:153) bahwa kegiatan awal adalah usaha yang dilakukan guru pada saat mengawali pembelajaran dalam rangka menciptakan kondisi bagi siswa agar fisik, mental, perhatian, dan motivasi terpusat dan bangkit untuk melakukan aktifitas pembelajaran.Maka dari itu, kegiatan awal dimaksudkan untuk menata mental dan kesiapan siswa untuk menerima pelajaran dan dimaksudkan untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif sebelum memulai pembelajaran. Kegiatan Inti Dalam kegiatan inti, guru mengorganisir pembelajaran agar siswa mudah melakukan kegiatan belajar dan mencapai tujuan.Pada kegiatan inti, guru sudah mengelola kelas dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.Guru mengaktualisasikan pembelajaran sesuai langkah-langkah kegiatan dengan mengembangkan variasi pola interaksi dan prinsip-prinsip mengajar serta keterampilan mengajar (Supriadie, 2012:153). Kegiatan inti yang dilakukan disusun berdasarkan metode pembelajaran yang digunakan.Metode ceramah berada pada awal kegiatan inti dimaksudkan untuk memberi arahan, instruksi, dan penjelasan mengenai pembelajaran yang dilakukan.Kemudian diteruskan dengan berbagai praktek menyesuaikan materi yang diberikan. Hal tersebut sesuai dengan teori Supriadie (2012:154), bahwa banyak hal yang dapat dilakukan guru berdasarkan keterampilan dasar mengajar, berupa keterampilan memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, bertanya, mengelola diskusi kelompok kecil, mengelola kelas, dan mengajar kelompok kecil dan perorangan. Kegiatan Penutup Beberapa hal yang dilakukan guru dalam menutup pembelajaran menurut Supriadie (2012:155) adalah melakukan validasi/merangkum, membuat simpulan, melakukan post test, memberikan kegiatan tindak lanjut (bisa berupa tugas).Sesuai hal tersebut, guru memberikan evaluasi dengan menyampaikan letak kekurangan pada saat pembelajaran berlangsung. Guru memotivasi siswa agar selalu semangat dan memperbaiki kekurangan masing-masing. Pembelajaran diakhiri dengan banyak motivasi untuk meningkatkan kemampuan dan memperbaiki kemampuan masing-masing.Dengan tatanan kegiatan penutup terebut, kepedualian guru terhadap pemahaman siswa merupakan hal yang baik untuk dilakukan pada setiap pembelajaran.Hal ini bertujuan agar siswa juga memiliki tanggung jawab tentang pembelajaran kedepan dan tidak merasa diabaikan. Pengelolaan Pembelajaran Tari Turonggo Yakso pada Mata Pelajaran Seni Budaya Kelas XI IPS 3 di SMA Negeri 2 Trenggalek. Pengelolaan Ruang Berkenaan dengan pembelajaran yang kondusif, sedikitnya terdapat tujuh hal yang harus diperhatikan, yaitu ruang belajar, pengaturan sarana belajar, susunan tempat duduk, penerangan, suhu, pemanasan sebelum masuk ke materi, dan bina suasana dalam pembelajaran.Bila pembelajaran dilakukan di ruang tertutup, luas ruangan perlu diperhatikan (Majid, 2013:165).Terkait dengan hal tersebut, ruang yang digunakan dalam pembelajaran tari Turonggo yakso di SMA Negeri 2 Trenggalek sudah cukup baik. Ruangan yang digunakan ada 2, yaitu ruang kelas seni dan aula.Sebelum digunakan, seperangkat gamelan dan properti tari tertata rapi di ruangan paling belakang agar siswa tidak seenaknya menggunakan. Dan properti tari digunakan pada waktu latihan. Sebelum dan sesudah pelajaran, siswa juga diwajibkan untuk membersihkan kelas, sehingga suasana pembelajaran berlangsung nyaman. Dengan hasil data dan teori tersebut, maka dapat dikatakan kondisi ruang pada pembelajaran seni tari sudah baik.Sekolah sudah cukup baik dalam memberikan sarana dan prasarana. Hal tersebut sudah sesuai dengan teori Majid (2013:167), bahwa lingkungan fisik pembelajaran yang baik meliputi: 1) ruang pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bergerak bebas, 2) pengaturan tempat duduk yang memungkinkan guru mudah bertatap muka dengan siswa, 3) ventilasi dan pengaturan cahaya yang baik sebagai penunjang terciptanya suasana belajar yang nyaman, 4) penyimpanan barang-barang pada tempat khusus sehingga mudah dicapai bila diperlukan. Pengelolaan Kelas Pada saat pembelajaran berlangsung, kondisi kelas dapat dikatakan cukup kondusif.Siswa memiliki tingkah laku yang baik walaupun kadang memerlukan sedikit percakapan dan candaan. Guru dapat mengatur siswa berdasarkan situasi yang ada ketika proses belajar mengajar berlangsung. Ada dua kategori pokok tentang masalah pengelolaan siswa dalam proses belajar mengajar, yaitu masalah individual dan masalah kelompok (Majid, 2013:115). Dalam masalah individual, guru langsung mendekati siswa dan memberi peringatan. Guru akan memisahkan salah satu siswa yang suka membuat gaduh pada tempat yang terpisah. Begitu juga dengan siswa yang asik bermain handphone pada saat pelajaran. Jika siswa tersebut susah dinasehati, guru akan menyita handphone tersebut dan mengembalikannya setelah pelajaran selesai. Dalam masalah kelompok, guru lebih membebaskan siswa untuk bertanya kepada teman-temannya ketika mereka mengalami kesulitan. Guru menyadari bahwa tidak semua siswa bisa leluasa bertanya kepada guru, karena rasa canggung atau takut bertanya kepada guru. Maka dari itu, di sela-sela pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling berdiskusi mengenai materi yang diajarkan.Siswa yang kurang paham bisa bertanya kepada temannya yang lebih pandai, begitu juga sebaliknya siswa yang pandai mengajari temannya yang bertanya.Hal tersebut juga sesuai dengan teori Majid (2013:112) bahwa siswa dalam suatu kelas biasanya memiliki kemampuan yang beragam, pandai, sedang, dan kurang. Karenanya, guru perlu mengatur kapan siswa bekerja perorangan, berpasangan, berkelompok, atau klasikal. Jika berkelompok, kapan siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan sehingga ia dapat berkonsentrasi membantu yang kurang, dan kapan siswa dikelompokkan secara campuran sebagai kemampuan sehingga terjadi tutor sebaya. PENUTUP Kesimpulan PengorganisasianPembelajaran Tari Turonggo Yakso pada Mata Pelajaran Seni Budaya Kelas XI IPS 3 di SMA Negeri 2 Trenggalek. Pada pengorganisasian pembejaran, tujuan pembelajaran pada kegiatan seni tari di SMA Negeri 2 Trenggalek adalah membina, mengembangkan dan melestarikan kekayaan seni budaya daerah.Terlebih dalam mengembangkan daya cipta dan kreativitas siswa, khususnya dalam bidang seni tradisi. Mengangkat harkat seni dan budaya serta memberikan wadah pembinaan dan apresiasi kepada siswa dalam berolah seni khususnya seni tradisi.Materi diberikan secara bertahap, diawali dengan pengetahuan , selanjutnya dengan menggunakan metode ceramah, demonstrasi, dan diskusi.Dalam pembelajaran ini, media yang digunakan hanya berupa satu set properti tari dan gamelan.Penilaian dilakukan oleh guru dilakukan berdasarkan pengamatan guru. Namun demikian, dalam penilaian yang dilakukan terk
GAYATRI RAJAPATNI DALAM EKSPRESI KERAMIK RELIEF REPRESENTATIF
Gayatri Rajapatni adalah istri ke 3 dari Raden Wijaya, raja pertama kerajaan Majapahit. Gayatri merupakan sosok di balik layar yang memiliki andil dalam perjalanan kejayaan Kerajaan Majapahit. Hal tersebut dapat dibuktikan dari beberapa tulisan di kitab Nagarakrtagama dan bangunan candi Bhayalango. Gayatri diarcakansebagai Prajnaparamita (Dewi Kebijaksanaan) setelah wafat. Peran Gayatri semasa kejayaan Kerajan Majapahit yakni, mampu mendampingi sang suami (Raden Wijaya) dalam memimpin kerajaan. Sepeninggal suaminya, Gayatri Rajapatni juga mendampingi dan membimbing putrinya Tribhuanotunggadewi sampai cucunya Hayam Wuruk dalam memimpin Kerajaan Majapahit. Kesetaraan gender telah ada sejak zaman dahulu di tanah Jawa. Melalui sosok Gayatri, kita dapat mempelajari bagaimana perempuan di masa lalu yang dapat turut andil dalam pemerintahan. Intrik serta percaturan politik yang Gayatri lakukan, mampu mengantarkan Kerajaan Majapahit pada kejayaan. Namun, sangat disayangkanbanyak masyarakat yang kurang mengenal sosok perempuan bijaksana, tanggungjawab, sederhana serta penuh cinta kasih sayang tersebut. Penciptaan ini bersumber ide dari Gayatri Rajapatni yang merupakan tokoh dibalik kejayaan Kerajaan Majapahit. Sumber ide diekspresikan secara simbolik dalam bentuk karya kreatif keramik relief. Langkah-langkah dalam penciptaan keramik relief adalah perenungan ide, penyempurnaan ide, pemantapan ide dan proses penyelesaian. Dalam proses penyelesaian terdapat beberapa proses di dalamnya yakni, (1) mengolah ide menjadi sebuah konsep karya, (2) pembuatan sketsa-sketsa pilihan, (3) menentukan sketsa terpilih dan (4) pembentukan/aktualisasi menggunakan media tanah liat. Proses pembentukan menggunakan beberapa teknik yakni, teknik pilin, pijit dan cetak tekan. Body keramik sebelum dibakar dalam suhu sekitar 800°C haruslah dikeringkan secara bertahap. Setelah dibakar, karya melewati tahap finishing sebelum siap untuk dipamerkan. Tujuh karya keramik relief ditampilkan menggunakan media estetik berupa titik, garis, bidang, warna dan tekstur. Karakter karya keramik relief berupa panel-panel dengan bunga dan daun pada latar belakang. Tekstur berupa garis-garisputusdisajikanuntukmemvisualisasikan aura dandramatisasikisah. Hasil penciptaan keramik relief diharapkan dapat memberikan pengalaman baru bagi penulis dan pembaca dalam berkarya seni.Karyatersebutdiharapkandapatmenjadipemahamanmengenaimaknakearifan sikap Gayatri Rajapatni sebagai tokoh perempuan yang mempunyai andil besar dalam Kerajaan Majapahit. Selain itu, dapatmenjadi contoh bagi perempuan-perempuan generasi muda mengenai kesetaraan dan kearifan sikap
Perancangan Buku Pedoman " Fundamental Safety Work Pra c tice ” Sebagai Media Informasi Praktek Dasar Keselamatan Kerja Untuk Karyawan PT. Sorini Agro Asia Corporindo
ABSTRAK Kusuma, Billy. 2017. Perancangan BukuPedoman"Fundamental Safety Work Pratice” Sebagai Media InformasiPraktekDasarKeselamatanKerjaPT.SoriniAgro Asia Corporindo. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sarjono, M.Sn, (II) Dimas Rizky Ramadhan S.Sn, M.Ds. Kata Kunci: BukuPedoman, KeselamatanKerja, Dalam dunia kerja, resikokegagalan (risk of failures) padasetiapaktifitaspekerjaantidakbisaterhindarkandanseberapapunkecilnyaakibatdarisebuahkecelakaankerjaakan mengakibatkanefekkerugian (loss). Tingkat kecelakaankerja di PT.Sorinimeningkat 5% dalamkurunwaktu 1 tahun (2014-2015). Dalamupayapencegahanterjadinyakecelakaankerja di PT.SoriniAgro Asia Corporindoterdapatsebuahprosedurbekerjadenganaman, prosedurbekerjadenganaman juga disebutdenganprosedurkeselamatankerja, sebuah media diperlukanuntukmenyalurkaninformasitentangkeselamatankerjakepadakaryawan PT. SoriniAgro Asia Corporindo, Tbk. Media bukupedomankeselamatankerja yang berjudulFundamental Safety Work Praticedirancangsebagai media yang memilikitujuankomunikasi visual memberikaninformasitentangdasarkeselamatankerjakepadakaryawanPT.Sorini, agar karyawanmengertidanpaham, lalumenerapkansesuaiprosedurkeselamatan yang terteradalambukupedomanFundamental Safety Work Pratice. DalamperancanganbukupedomanFundamental Safety Work Praticemenggunakan ModelPerancanganProsedural, menggunakanjenis data kualitatifdengansumber data berdasarkanhasilwawancaradanobservasi, sertamenggunakan model perancangandalam proses desainDesainKomunikasi Visual Umum 2 yang digambarkanYongkySafanayong, dimulaidariRisetmengenailatarbelakangmasalah, hinggapada proses produksi. Perancangan ini terdiri dari media utama yaitu BukuPedomanFundamental Safety Work Pratice yang berisi tentangpedomanpraktekdasarkeselamatankerja, serta media pendukung seperti Booklet, poster, Notebook. Data perancangan ini diperoleh dari hasil wawancara terhadap narasumber terpercaya. BukuPedomanFundametal Safety Work Praticeinimerupakan media yang diharapkandapatmemperkeciltingkatkecelakaankerjadenganmemberikaninformasidasartentangkeselamatankerjakepadakaryawan PT. SoriniAgro Asia Corporindo, Tbk . Materidalambukudiambildarihasilwawancaradan data pustaka, sertadalamproses visualisasinyamenggunakan software pengolahgambarseperti Adobe Illustrator, Photoshop danIndesign, hasildariperancangandigital.disebutdenganfinal design, final design yang adalalumasukpada proses produksi, danjadilahsebuahprodukdesain