Journal of Information Systems for Public Health
Not a member yet
145 research outputs found
Sort by
Kajian Kegunaan Dan Kelayakan Konsep Sistem Rekam Medis Elektronik (Rme) Sebagai Portofolio Pendidikan Profesi Kedokteran
ABSTRAKLatar belakang: Adanya peningkatan transisi penggunaan rekam medis konvensional yang berbasis kertas menjadi rekam medis elektronik sebagai salah satu solusi untuk peningkatan kualitas dan keselamatan dalam penanganan pasien di fasilitas kesehatan. Sebagai bagian dari roadmap kegiatan pengembangan dan pemanfaatan Big Data dan untuk mendukung kegiatan pendidikan profesi kedokteran di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM), maka dikembangkan suatu konsep rekam medis elektronik untuk dokter muda yang juga diharapkan dapat digunakan sebagai portofolio selama dokter muda menjalani masa pendidikan profesi di FKKMK UGM.Metode: Merupakan penelitian mixed-methods yang dilakukan kepada 18 orang dokter muda yang sedang menjalani koasistensi di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKKMK UGM. Secara kuantitatif menggunakan Post-Study System Usability (PSSUQ) Versi 3 yang terdiri dari 16 pertanyaan, dinilai dengan skala Likert 7 poin. Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam dilakukan untuk penilaian secara kualitatif.Hasil: Dari hasil skor rata-rata PSSUQ Versi 3, aspek kepuasan keseluruhan terhadap sistem (mean 5,45 SD 0,46), kegunaan sistem (mean 5,60, SD 0,17), kualitas informasi (mean 5,28, SD 0,60) dan kualitas antarmuka (mean 5,46, SD 0,66). Artinya dokter muda merasa cukup puas dengan konsep sistem RME yang sedang dikembangkan. Hasil FGD dan wawancara mendalam menunjukkan bahwa sistem RME ini layak dan dapat digunakan dalam kegiatan koasistensi di rumah sakitKesimpulan: Konsep sistem RME dan fitur-fitur yang tersedia didalamnya dinilai sudah cukup baik dan layak digunakan untuk mendukung kegiatan pendidikan profesi kedokteran sebagai portofolio dokter muda.Kata kunci: rekam medis elektronik, post-study system usability, usability evaluation, feasibility evaluation, pendidikan profesi kedokteran ABSTRACTBackground: The transition from paper-based medical record to electronic medical record (EMR) as one of the method to improve the quality and safety of patient care in medical facilities has increased. In an educational scope, as a part of the roadmap for the development and utilization activities of Big Data in Faculty of Medicine, Public Health and Nursing Universitas Gadjah Mada and to support medical education in Academic Health System, we developing an EMR system concept for medical students as a medical education portfolio.Methods: This is a mixed-methods study with 18 medical students who are currently on a clerkship at the Department of Child Health, Faculty of Medicine, Public Health and Nursing Universitas Gadjah Mada as respondents. A quantitative assesment using Post-Study System Usability (PSSUQ) Version 3 which consists of 16 questions, assessed with a 7-point Likert scale. Focus Group Discussion (FGD) and in-depth interviews were conducted for a qualitative assessment.Results: The mean score of PSSUQ Version 3 are quite high for the aspect of overall satisfaction with the system (mean 5.45 SD 0.46), system usefulness mean (5,60, SD 0,17), information quality (mean 5,28, SD 0,60) and interface quality (mean 5,46, SD 0,66). It means the medical students are quite satisfied with the concept of EMR system that is being developed. The results of the FGD and in-depth interviews showed that the concept of EMR system was feasible and can be use in medical educationConclusions: The features and concept of RME system that are feasible and good enough can be use to support medical education as a medical education portfolio purpose.Keywords: electronic medical record, post-study system usability, usability evaluation, feasibility evaluation, medical education
Mekanisme Sistem Elektronik Pengelolaan dan Pelaporan Data Vaksin COVID-19 di Rumah Sakit Gatoel Mojokerto Tahun 2022
Latar belakang: Rumah sakit sebagai pelaksana vaksinasi harus melaporkan data kunjungan pasien vaksin untuk mengetahui capaian program vaksinasi baik berdasarkan jenis fasilitas penyelenggara kegiatan vaksinasi maupun wilayah daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme pengelolaan dan pelaporan data vaksin dengan sistem elektronik di Rumah Sakit Gatoel Mojokerto tahun 2022.Metode: Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif dengan subjek dua petugas perekam medis dan informasi kesehatan. Informasi dikumpulkan dengan metode observasi nonpartisipatif dan wawancara mendalam.Hasil: Kegiatan pengelolaan dan pelaporan data vaksin COVID-19 di Rumah Sakit Gatoel Mojokerto mengintegrasikan tiga system yaitu SIMRS menghasilkan laporan harian vaksinasi untuk Direktur Rumah Sakit Gatoel Mojokerto, sistem primary care vaksinasi BPJS untuk klaim biaya vaksin dan pengadaan vaksin, sistem gayatri Kota Mojokerto untuk laporan pemantauan capaian program vaksinasi ke Dinkes Kota Mojokerto. Sistem informasi pengelolaan dan pelaporan data vaksin di Rumah Sakit Gatoel Mojokerto menerapkan model desentralisasi.Kesimpulan: Mekanisme kegiatan pengelolaan dan pelaporan data vaksin COVID-19 di Rumah Sakit Gatoel Mojokerto merupakan bentuk integrasi tiga sistem yaitu SIMRS, primary care vaksinasi BPJS, dan Sistem Gayatri dengan model desentralisasi
Pemanfaatan Register Leptospirosis melalui Implementasi DHIS2 di Indonesia
Latar belakang: Profil Kesehatan Indonesia tahun 2019 menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus pada beberapa penyakit zoonosis dibandingkan tahun 2018. Salah satu program surveilans zoonosis yang dilakukan di Indonesia adalah Sistem Informasi eZoonosis yang menggunakan platform DHIS2. Platform Sistem Informasi DHIS2 dapat dikustomisasi untuk kasus khusus, salah satunya adalah kasus leptospirosis. Dalam rangka penerapan Sistem Informasi eZoonosis, perlu diadakan beberapa kegiatan pendahuluan seperti sosialisasi dan pelatihan. Dilakukan pengembangan register leptosipirosis dalam Sistem Informasi eZoonosis yang nantinya akan diimplementasikan melalui sosialisasi dan pelatihan. Kegiatan sosialisasi dan pelatihan akan ditujukan kepada pengguna di tingkat dinas kesehatan kabupaten dan puskesmas. Metode: Penelitian ini adalah action research dengan pendekatan mixed-method. Data kualitatif diambil melalui diskusi, wawancara dan observasi sedangkan data kuantitatif diambil melalui kuesioner dan kuis pada platform khusus saat pelatihan secara daring. Data kemudian dianalisis secara deskriptif untuk memberikan gambaran proses dan implementasi sistem informasi eZoonosis.Hasil: Tingkat literasi digital, penerimaan sistem dan evaluasi pelatihan daring menunjukkan hasil yang positif. Pengembangan sistem informasi eZoonosis mencakup 7 register, termasuk register leptospirosis. Sistem eZoonosis mencakup pelaporan data individu dan agregrat tentang leptospirosis yang dapat dimonitor secara real time dan didiseminasikan secara deskriptif guna membantu proses pengambilan kebijakan. Evaluasi implementasi menunjukkan masih terdapat kendala penggunaan sistem karena masalah jaringan, kesalahan server dan keterampilan pengguna yang belum maksimal.Kesimpulan: DHIS2 dapat digunakan sebagai pengembangan sistem informasi surveilans. Tantangan dan kendala yang ditemui selama pengembangan dan evaluasi sistem informasi eZoonosis membutuhkan pengembangan lebih lanjut.Latar belakang: Profil Kesehatan Indonesia tahun 2019 menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus pada beberapa penyakit zoonosis dibandingkan tahun 2018. Salah satu program surveilans zoonosis yang dilakukan di Indonesia adalah Sistem Informasi eZoonosis yang menggunakan platform DHIS2. Platform Sistem Informasi DHIS2 dapat dikustomisasi untuk kasus khusus, salah satunya adalah kasus leptospirosis. Dalam rangka penerapan Sistem Informasi eZoonosis, perlu diadakan beberapa kegiatan pendahuluan seperti sosialisasi dan pelatihan. Dilakukan pengembangan register leptosipirosis dalam Sistem Informasi eZoonosis yang nantinya akan diimplementasikan melalui sosialisasi dan pelatihan. Kegiatan sosialisasi dan pelatihan akan ditujukan kepada pengguna di tingkat dinas kesehatan kabupaten dan puskesmas. Metode: Penelitian ini adalah action research dengan pendekatan mixed-method. Data kualitatif diambil melalui diskusi, wawancara dan observasi sedangkan data kuantitatif diambil melalui kuesioner dan kuis pada platform khusus saat pelatihan secara daring. Data kemudian dianalisis secara deskriptif untuk memberikan gambaran proses dan implementasi sistem informasi eZoonosis.Hasil: Tingkat literasi digital, penerimaan sistem dan evaluasi pelatihan daring menunjukkan hasil yang positif. Pengembangan sistem informasi eZoonosis mencakup 7 register, termasuk register leptospirosis. Sistem eZoonosis mencakup pelaporan data individu dan agregrat tentang leptospirosis yang dapat dimonitor secara real time dan didiseminasikan secara deskriptif guna membantu proses pengambilan kebijakan. Evaluasi implementasi menunjukkan masih terdapat kendala penggunaan sistem karena masalah jaringan, kesalahan server dan keterampilan pengguna yang belum maksimal.Kesimpulan: DHIS2 dapat digunakan sebagai pengembangan sistem informasi surveilans. Tantangan dan kendala yang ditemui selama pengembangan dan evaluasi sistem informasi eZoonosis membutuhkan pengembangan lebih lanjut
Implementasi Pengembangan Asdk Pada Program Gizi Dan Kesga Di Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo
Latar belakang: Peraturan Presiden RI No 39 Tahun 2019 tentang satu data nasional. Peraturan ini mendorong Instansi salah satunya kesehatan untuk memulai mengembangkan sistem satu data kesehatan. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo untuk meningkatkan sistem pelaporan yang cepat dan akurat sudah dilakukan menggunakan file excel yang di cloud kedalam google drive agar bisa di akses oleh pemegang program dari puskesmas dan dinas kesehatan. Selain itu, dinas kesehatan menggunakan banyak sistem untuk melakukan pelaporan pada masing- masing program. Akan tetapi, hal ini tidak efektif karena adanya fragmentasi data yang dikelola oleh petugas yang berbeda, belum adanya integrasi data, danterdapat banyak pengulangan penginputan data pada beberapa sistem yang membuat beban kerja bertambah, serta kesulitan dalam melakukan visualisasi data.Metode: Jenis penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dengan pendekatan action researchHasil: Proses pengulangan pengisian data pada banyak sistem, laporan yang menumpuk pada laporan berbasis excel, dan tidak ada fungsi visualisasi data secara otomatis untuk menilai capaian kinerja, serta masih sulitnya diseminasi informasi kepada pemerintah daerah dan masyarakat luas. Implementasi ASDK memudahkan dalam input data, pembuatan visualisasi data, memudahkan akses informasi dengan menggunakan dashboard, serta memudahkan diseminasi informasi.Kesimpulan: Implementasi ASDK Dinas kesehatan Kulon Progo berjalan dengan baik dan menghasilkan kesepakatan dasboard berupa dashbord perprogram dan dashboard perbidang. Fitur Bulk load membantu input data, hasil visualisasi data memudahkan dalam proses analisa data
Perancangan Desain User Interface Mobile Apps Pada Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu D.I.Y
Background: Emergency incidents that occur in Indonesia are increasing day by day, both emergency incidents due to traffic accidents and incidents due to disease. The Indonesian government issued PERMENKES number 19 of 2016 concerning the Integrated Emergency Management System, in the creation of the SPGDT it is expected to be able to handle emergency cases in an integrated manner so as to minimize cases of disability and death. The Yogyakarta Special Region Health Service is currently running well in the implementation of SPGDT, but currently, the SPGDT application does not have the Mobile-Apps feature, especially on the Tracking Ambulance menu. With the ambulance tracking menu, people can easily make ambulance calls based on emergency cases that occur and also people don't need to worry if they find an emergency incident but the ambulance doesn't come, with ambulance tracking people can also see the movement of an ambulance that is on "standby" or in the process of “evacuating” an emergency event. Methods: the method in this research is the action research method. This action research method was chosen because the stages of action research start from diagnosis, planning, action and evaluation. Results: the results of this study, at the stage of identifying needs based on user actors. At the planning stage, what data flows are designed, created and the features needed. At the action stage, it produces a user interface design with Figma. At the evaluation stage, the final prototype score was assessed based on the System Usability Scale (SUS) questionnaire with the final score on the driver page prototype getting a final score of 62, while the prototype for paramedics got a final score of 71. And finally, the general public prototype got a final score of 69Conclusions: The process of developing the design, planning and implementation of the mHealth application services requires the collaboration of various sectors, both from the user side from the health side. Feedback from various responses is the key to success to ensure the relevance and sustainability of the mHealth application services. Providing useful and easy-to-use and ensuring continuity of technical support can help smooth the process of using the mHealth application in day healthcare
Pemetaan Topik Publikasi Sistem Informasi Kesehatan (SIK) di Indonesia : Analisis Bibliometrik
Latar Belakang : Kemajuan dan kemapanan SIK juga dipengaruhi oleh kontribusi dari riset-riset di bidang SIK yang ada. Jurnal menjadi alat pengukur laju pengetahuan secara berkala bersumber hasil riset terbaru, jurnal terbilang sepadan dengan evolusi sains sehingga sering dimanfaatkan sebagai sumber penelitian. Metode bibliometrik terkadang disebut scientometrics, merupakan implementasi analisis kuantitatif maupun statistik terhadap publikasi ilmiah. Sejauh ini, analisis bibliometrik terhadap publikasi ilmiah SIK di Indonesia belum pernah dilakukan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi publikasi ilmiah dan pemetaan topik riset dibidang Sistem Informasi Kesehatan (SIK) di Indonesia yang terindeks di Google Cendikia.Metode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 339 artikel yang dipilih dengan metode total sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis bibliometrik.Hasil: Jenis publikasi ilmiah SIK sebagian besar (63%) dalam bentuk artikel jurnal, mengalami tren peningkatan setiap tahunnya, dan sebagian besar dipublikasikan di jurnal internasional (51%). Penulis yang produktif mempublikasikan karya ilmiah SIK di Indonesia didominasi oleh penulis-penulis yang terafiliasi dengan universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada. Terdapat 4 tema publikasi (1) mHealth; (2) Telmedicine; (3) SIMRS dan (4) SIMPUS, tema yang menjadi hotspot adalah mHealth.Kesimpulan: Publikasi ilmiah SIK di Indonesia yang terindeks di pangkalan data Google Cendekia dari tahun 2014-2018 mengalami tren peningkatan setiap tahunnya dengan jumlah publikasi terbanyak pada tahun 2017 untuk kedua jenis publikasi. Tren peningkatan publikasi juga diikuti oleh tren penulis publikasi. Tema publikasi yang menjadi hotspot adalah mHealth dan Telemedicine.Kata kunci: Publikasi, SIK, Bibliometrik, VosViewer, google cendekia, Indonesi
Pemetaan Ekosistem Teknologi Digital untuk Membantu Penanganan Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Daerah Khusus Ibukota Jakarta
ABSTRAKLatar Belakang: Terjadinya lonjakan pasien COVID-19 berakibat pada kelebihan beban Rumah Sakit dan kekurangan logistik medis, banyak institusi baik dari sektor publik maupun swasta bekerja secara cepat mengembangkan infrastruktur teknologi informasi pendukung baik dalam bentuk laman web, aplikasi, ataupun perangkat-perangkat teknologi digital lainnya. Namun upaya-upaya tersebut seringkali tidak terkoordinasi baik antara lembaga kepemerintahan, upaya sektor publik dan sektor swasta/masyarakat. Hal ini mengakibatkan terjadinya asimetri dan fragmentasi informasi di mana informasi berada pada lokus-lokus eksklusif dan hanya digunakan oleh institusi atau komunitas tertentu. Untuk mewujudkan sinergi tersebut dibutuhkan adanya pemetaan keberadaan dan kebutuhan teknologi digital. Tujuan: melakukan pemetaan lanskap inisiatif teknologi informasi pendukung COVID-19 di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta dan mengidentifikasi gap yang belum terjembatani antara usaha yang dilakukan pemerintah dan sektor swasta untuk membantu persiapan surge capacity rumah sakitMetode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model analisis dokumentasi. Dalam penelitian ini dokumen yang diselidiki adalah dokumentasi-dokumentasi yang tersedia dalam website atau aplikasi inovasi teknologi digital, kebijakan, himbauan, berita, dan lain sebagainya baik dalam bentuk tertulis maupun audio/visual. Hasil: Terdapat 26 aplikasi dan 7 website terkait COVID-19 di Indonesia. Aplikasi dan/atau website yang dipetakan menjadi dua kategori, yaitu publik dan non-publik. Kategori publik merupakan aplikasi dan/atau website yang dapat digunakan oleh masyarakat umum dan tidak memerlukan akses khusus. Sedangkan kategori non publik adalah untuk aplikasi dan/atau website yang hanya bisa digunakan oleh pihak-pihak tertentu saja dan memerlukan akses khusus, keberadaan informasi dari kategori non publik ini bersifat rahasia. Terdapat 32 temuan aplikasi/website untuk kategori publik dan 4 temuan untuk kategori non-publik.Kesimpulan: Pemerintah Daerah DIY (bersama dengan para penggiat TI di DIY) telah membuat berbagai teknologi informasi dalam menangani pandemi COVID-19 (khusus untuk DIY) masih terdapat beberapa tantangan yaitu berkaitan dengan contact tracing, data sharing yang dapat dimanfaatkan oleh pihak lain yang menjadi teknologi yang paling dibutuhkan saat ini. misal para stakeholder, akademisi (peneliti), masyarakat, dan perlunya regulasi dari pemerintah pusat/daerah terkait pengelolaan teknologi informasi agar data dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak terkait untuk membantu mengatasi pandemi COVID-19.Kata Kunci: e-Health, Pemetaan Teknologi Digital, Covid-1
Penggunaan sistem informasi geografis (sig) untuk pemetaan kerentanan wilayah berdasarkan faktor risiko kejadian diare pada balita
Latar Belakang: Diare adalah penyakit yang sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan dunia terutama di negara berkembang dan jika penanganannya tidak tepat dapat berujung pada kematian. Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat dimanfaatkan untuk membuat peta kesehatan dan mendapatkan informasi data epidemiologi. Informasi ini ketika dipetakan akan menjadi alat yang berguna untuk memetakan karakteristik penyakit diare.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan penggunaan sistem informasi geografis untuk pemetaan kerentanan wilayah berdasarkan faktor risiko kejadian diare pada balita di Kota Kendari.Metode : Jenis penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional, menggunakan perangkat SIG untuk mengetahui distribusi spasial penderita diare dan kerentanan wilayah berdasarkan faktor risiko diare balita di Kota Kendari.Hasil: Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor risiko diare balita adalah sumber air minum (p=0,009), kondisi jamban (p=0,007), dan saluran pembuangan air limbah atau SPAL (p=0,048). Hasil analisis spasial kerentanan wilayah menggunakan SIG yaitu kelurahan Puuwatu dengan jumlah kasus tertinggi sebanyak 7,8% serta mayoritas keluarga responden yang memiliki sumber air minum, jamban dan SPAL yang tidak memenuhi syarat terdapat pada kelurahan puuwatu.Kesimpulan: Penggunaan sistem informasi geografis dapat diimplementasikan untuk pemetaan kerentanan wilayah berdasarkan faktor risiko kejadian diare pada balita di Kota Kendari dimana kelurahan puuwatu merupakan wilayah yang sangat rentan dengan faktor risiko paling dominan yaitu sumber air minum, jamban, dan SPAL.Kata Kunci: Sistem Informasi Geografis (SIG), Diare, Balita, Kerentana
Penggunaan sistem informasi geografis untuk pemetaan sebaran kasus dan faktor risiko kejadian penyakit tb. Paru bta (+) di kabupaten majene
Latar Belakang : Tuberkulosis adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang sampai saat ini merupakan masalah kesehatan terutama di negara berkembang. Dalam Global TB Report Tahun 2015 terdapat 9,6 juta orang jatuh sakit dengan tuberculosis, 1,5 juta orang meninggal, terdiri dari 890.000 laki-laki, 480.000 perempuan dan 140.000 anak-anak, termasuk 0,4 juta orang yang positif HIV/AIDS. Kabupaten Majene merupakan kabupaten dengan angka penemuan kasus TB Paru tertinggi di Provinsi Sulawesi Barat selama 5 tahun, dari tahun 2010 s/d 2014.Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional. Menggunakan SIG untuk pemetaan dan mengetahui pola sebaran kasus TB Paru BTA (+). Terdiri dari 240 responden yang merupakan penderita TB Paru BTA (+) yang tercatat di layanan kesehatan dari bulan Januari s/d Desember 2016 untuk pemetaan dan 244 responden yang merupakan suspek TB dari bulan Januari s/d Desember 2016 untuk mengetahui hubungan kejadian TB Paru BTA (+) dengan faktor risiko. Menggunakan software geoda dan stata 13 untuk mengetahui hubungan faktor risiko dengan kejadian TB Paru BTA (+) dan Analisis purely spatial scan statistik menggunakan SaTScan untuk mengetahui adanya cluster kasus.Hasil : Secara statistik terdapat hubungan positif antara ventilasi (p = 0,011), pencahayaan (p = 0,013), kepadatan hunian (0,001), curah hujan (p = 0,05 dan p = 0,001), status gizi kurang (p = 0,000) dan kemiskinan (p = 0,000) dengan kejadian TB Paru BTA (+). Terdapat 3 cluster (nilai p 0,026, 0,027 dan 0,029) pada area dengan rumah tidak sehat tinggi, status gizi kurang tinggi dan kemiskinan yang tinggi.Kesimpulan : Kejadian TB Paru BTA (+) di Kabupaten Majene memiliki hubungan positif dengan faktor lingkungan dan faktor sosio-ekonomi serta cluster terdapat pada area dengan faktor risiko yang tinggi. Pemetaan kasus dan faktor risiko serta identifikasi cluster diharapkan dapat membantu dalam program pengendalian TB.Kata Kunci : SIG, Faktor Risiko TB Paru BTA (+
Angka kejadian penyakit demam berdarah dengue di kabupaten sleman tahun 2016 kajian menggunakan sistem informasi geografis
Latar belakang : Penyakit DBD merupakan penyakit endemis di Kabupaten Sleman dan endemis nasional. Jumlah kasus DBD sampai bulan Desember 2016 mencapai 880 kasus (insiden rate/IR 82,7/100.000) dari IR 50/100.000 penduduk dengan kematian 9 (case fatality rate/CFR 1.0%). Jumlah kasus meningkat 360 kasus dibandingkan tahun 2015 yang hanya mencapai 520 kasus ( IR = 50,6/100.000penduduk) dan kematian 4 (CFR = 0,54%). Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi pengelompokan dan mengidentifikasi lokasi dengan kasus DBD yang tinggi dan mengestimasi factor-faktor yang berpengaruh terhadap frekuensi kejadian DBD dengan memperhitungkan factor spasial dengan menggunakan GWR.Tujuan: menganalisis angka kejadian penyakit demam berdarah dengue di Kabupaten Sleman tahun 2016 kajian menggunakan sistem informasi geografis.Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional studi dengan menggunakan SIG. Dalam penelitian ini akan menganalisa autokorelasi dan Model Geographically Weighted Regression (GWR) berdasarkan data sekunder dari dinas kesehatan Kabupaten Sleman, Angka bebas jentik, kepadatan penduduk data fogging, dan persentase keluarga miskin. Data sekunder akan dipetakan dalam bentuk peta tematik secara overlay. Penelitian ini akan menganalisa Autokorelasi, Model GWR dan parameter Model GWR untuk melihat variabel yang berpengaruh secara signifikan. Variable independen : angka bebas jentik, kepadatan penduduk, tindakan fogging, persentase keluarga miskin, variable dependent: Angka kejadian DBD kabupaten Sleman. Penelitian ini dilakukan selama bulan Oktober hingga Januari 2018.Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa pada model regresi linier diperoleh hasil yang tidak signifikan, sehingga dilanjutkan dengan analisis GWR. Model GWR kasus DBD menghasilkan R2 lebih besar dari model regresi, yaitu 43,11 persen dan nilai residual sum of square sebesar 18986.07. Faktor geografis berpengaruh terhadap kejadian DBD di Kabupaten Sleman sehingga model GWR yang terbentuk berbeda-beda tiap kabupaten.Kesimpulan: Faktor eksternal yang berhubungan terhadap kasus DBD di Kabupaten Sleman adalah Fogging dan kepadatan penduduk