Journal of Information Systems for Public Health
Not a member yet
145 research outputs found
Sort by
Analisis Spasial Dinamika Lingkungan Terkait Kejadian Demam Berdarah Dengue Berbasis Sistem Informasi Geografis Di Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar
Latar belakang:Demam berdarah dengue masih jadi masalah kesehatan masyarakat dan kejadian kasusnya pun naik turun tak menentu. Salah satu penyebab kejadian DBD adalah faktor fisik yang meliputi suhu, kelembaban, curah hujan, kecepatan angin dan penggunaan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor klimatologi dan penggunaan lahan pada kejadian DBD tahun 2010-2014 di Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar.Metode Penelitian:Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan multi temporal analisis. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder kasus DBD dan data faktor fisik yang meliputi suhu, curah hujan, kecepatan angin, kelembaban dan penggunaan lahan.Hasil:Terdapat 5 kelompok sebaran kejadian DBD yang terbukti signifikan terjadi cluster.Kekuatan korelasi suhu dengan DBD adalah sangat lemah (r= 0,0014), berpola positif dan tidak ada korelasi yang signifikan (p=0,78). Kekuatan korelasi curah hujan dengan DBD adalah sangat lemah (r= 0,001), berpola positif dan tidak terdapat korelasi yang signifikan (p=0,806). Kekuatan korelasi kelembaban dengan DBD adalah lemah (r=0,065), berpola positif dan tidak terdapat korelasi yang signifikan (p=0,049). Kekuatan korelasi kecepatan angin dengan DBD adalah sangat lemah (r=0,02), berpola positif dan tidak terdapat korelasi yang signifikan (p=0,26). Kekuatan korelasi penggunaan lahan dengan DBD adalah sangat lemah (r= 0,157), berpola positif dan tidak terdapat korelasi yang signifikan (p=0,76).Kesimpulan: Terdapat 5 kelompok sebaran kejadian DBD yang terbukti signifikan terjadi cluster pada wilayah permukiman pada kondisi curah hujan sedang, suhu tinggi dan kelembaban rendah, serta mewaspadai peningkatan kejadian DBD pada bulan Januari dan Juni
Gambaran kualitas sistem surveilans TB di Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik berdasarkan pendekatan sistem dan penilaian atribut
Latarbelakang : Program pengendalian TB yang efektif membutuhkan dukungan sistem surveilans yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan kualitas sistem surveilans TB berdasarkan analisis komponen sistem dan penilaian atribut, untuk memberikan rekomendasi yang tepat.Metode Penelitian : Merupakan penelitian evaluasi pada sistem surveilans TB yang diimplementasikan di Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik selama tahun 2014. Responden adalah Kepala seksi pemberantasan penyakit dan pengelola program TB di tingkat dinas kesehatan, serta petugas surveilans yang ada di 14 puskesmas terpilih. Penentuan lokasi puskesmas dilakukan dengan systematic cluster pada 4 zona wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik. Pada setiap zona diambil semua puskesmas yang berstatus Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM). Pada setiap PRM diambil secara acak 1 puskesmas yang berstatus Puskesmas Satelit (PS). Analisis data dilakukan dengan menggambarkan komponen sistem dan atribut sistem surveilans, serta membandingkan dengan buku pedoman pengendalian TB tahun 2014, Kepmenkes RI No.1116/SK/VIII/2003, dan Guidelines for Evaluation Public Health Surveillance System dari CDC. Informasi yang diperoleh disampaikan dalam bentuk tabel dan anrasi.Hasil: Pada tingkat puskesmas, petugas yang terlatih dalam program TB berkisar 76-81% (80,67% di PRM dan 76% di PS). Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk diagnosis dan hanya puskesmas dan beberapa rumah sakit yang terlibat dalam penemuan kasus TB. Implementasi sistem yang berubah menjadi SiTT membutuhkan peningkatan biaya, waktu, dan kualitas pekerja. Kesalahan SiTT dikeluhkan oleh 55% responden. Meskipun ketepatan waktu adalah 92,97% tapi masih ada kesalahan besar dalam diagnosis kasus.Kesimpulan : Penilaian menurut atribut sistem surveilans menunjukkan sistem tidak sederhana, tidak fleksibel, tidak akseptabel, tidak stabil, dengan kualitas data yang buruk, meskipun predictive positive value tinggi dan ketepatan waktu pengumpulan data sudah baik.
Analisis Distribusi Spasial Kematian Ibu di Kabupaten Banjarnegara Tahun 2011 – 2013
Latar Belakang: Ketersediaan fasilitas kesehatan sudah cukup merata di hampir semua wilayah Kabupaten Banjarnegara. Selain itu pencapaian target kegiatan program KIA selalu meningkat setiap tahunnya. Akan tetapi angka kematian ibu masih menjadi masalah di Kabupaten Banjarnegara. Tujuan: Mengetahui gambaran spasial kematian ibu di Kabupaten Banjarnegara dan hubungan faktor risiko yang mempengaruhinya khususnya yang terkait dengan aksesibilitas fasilitas kesehatan. Metode: Jenis penelitian analitik dengan menggunakan desain kasus kontrol, mempelajari distribusi kasus kematian ibu dengan menggunakan SIG. Populasi penelitian adalah seluruh kasus kematian ibu dan ibu pasca melahirkan yang tidak meninggal di Kabupaten Banjarnegara dari tahun 2011 sampai 2013. Sampel berjumlah 108 terdiri dari 54 kasus dan 54 kontrol. Analisis spasial menggunakan Average Nearrest Neighbor. Analisis data bivariat menggunakan uji Chi-Square dan analisis multivariat menggunakan uji Regresi Logistik serta besar risiko menggunakan Odds Ratio. Hasil: Kasus kematian ibu dan fasilitas kesehatan memiliki pola menyebar. Perhitungan statistik menunjukkan bahwa pendapatan memiliki hubungan (OR=4,59;p=0,00), domisili tidak memiliki hubungan (p=0,43) dan jarak memiliki hubungan tetapi sebagai faktor protektif (OR=0,32;p=0,01). Kesimpulan: Kasus kematian ibu dan fasilitas kesehatan menyebar rata tidak mengelompok. Tingkat ekonomi memiliki hubungan dengan kematian ibu. Domisili tidak memiliki hubungan dengan kasus kematian ibu. Jarak fasilitas kesehatan memiliki hubungan dengan kasus kematian ibu tetapi sebagai faktor protektif (pelindung). Rujukan terpusat pada rumah sakit umum daerah
Persepsi Petugas Kesehatan Terhadap Peran Rekam Medis Elektronik Sebagai Pendukung Manajemen Pelayanan Pasien Di Rumah Sakit Panti Rapih
Latar Belakang:. Institute of Medicine merekomendasikan rekam medis elektronik (RME) sebagai pendukung manajemen pelayanan kesehatan pasien. Namun adopsi rekam medis elektronik saat ini hanya mencapai rata-rata pada 50% yang artinya rekam medis elektronik tidak dimanfaatkan secara maksimal fungsi dan fiturnya hanya untuk kebutuhan administrasi dan finansial rumah sakit. Memahami pandangan petugas kesehatan mengenai RME berpengaruh penting pada kesuksesan implementasi.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif dengan lokasi rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta. Penelitian dilakukan dengan metode wawancara mendalam, observasi serta penyebaran kuesioner. Hasil: Masih terdapat masalah pada tingkat input dan proses dimana input data rekam medis yang lengkap masih sulit dan pada proses masih terdapat error yang mengganggu pelayanan. Berdasarkan kerangka UTAUT, masalah ini termasuk kategori kondisi fasilitas. Aspek ini memiliki korelasi yang kuat terhadap persepsi penggunaan (r= 0.78; p-value= 0.001). Persepsi penggunaan ini memiliki korelasi dengan persepsi kebermanfaatan (r=0.459 ;p-value= 0.047). Setelah itu, persepsi kebermanfaatan yang mempengaruhi perilaku penggunaan atau penerimaan (r= 0.569; p-value= 0.000) sehingga hubungan ini membentuk suatu alur.Kesimpulan: Untuk meningkatkan adopsi RME secara penuh aspek perilaku penggunaan atau penerimaan harus ditingkatkan. Aspek ini ditingkatkan dengan memperbaiki alur faktor yang mempengaruhinya
Zona Kerentanan Filariasis Berdasarkan Faktor Risiko dengan Pendekatan Sistem Informasi Geografis
Background: Filariasis is a parasitic disease caused by microscopic, thread-like worms (Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, and Brugia timori) which transmitted by mosquito bites. WHO records more than 1.4 billion of world population settle in areas with filariasis infection risk which are spread in 73 nations included Indonesia. Filariasis in Indonesia spread in 418 districts while 235 districts are stated as endemic areas with 14.932 cases. In West Sumatera, the Agam District becomes one of filariasis endemic areas with the highest rate with cases prevalence to 12.63 per 100.000. The environment condition of the Agam District situates the area with mountains, plains, rivers, lakes, farms, and rice fields.Objective: The study aimed to implement the use of Geographic Information System for vulnerability area mapping based on risk factors of filariasis in Agam District.Methods: The study is analytic observational, designed with case control study. Odds Ratio (OR) used to find out risk factor estimation of filariasis prevalence. This study involves 36 cases with 36 controls summed to 72 samples. Analysis of the data was used univariate, bivariate, multivariate and vulnerability area analysis spatially.Results: Geographic Information System (GIS) can be used to determine the level of vulnerability area of filariasis in Agam District. Statistical data such as low education (OR: 4.52), low knowledge (OR: 4.14), profession (farmer, labour, and fisherman) (OR: 4.38), and low income (OR: 4.43) along with that the behaviours of community such as high outdoor activities at night (OR: 3.75) and reservoir animal farming (OR: 3.57) are recorded as filariasis risk factors. Environment condition shows that plantation area (OR: 19.46), where mosquito breeding is commonly located, is the risk factor too. Based on multivariate analysis, the filariasis risk factor in the Agam District is the existence of plantation area (OR: 19.46) as well. The research found that Culex (67.26%), Aedes (18.06%), Armigeres (14.19%), and Anopheles (0.48%) were vectors of the disease. The clustering of filariasis cases was located in Subang – Subang and Muaro Putuih. The vulnerability zones found in Agam District such as Sub-district Tanjung Mutiara, Lubuk Basung, IV Nagari, Palembayan, Palupuh, Baso and IV Koto.Conclusions: The risk factors of filariasis in Agam were low education, low knowledge, profession (farmer, labour, and fisherman), low income, high outdoor activities at night, reservoir animal farming, and plantations area as mosquito breeding sites approximately 200 metres from residence. Filaria vector types in Agam such as Culex, Armigeres, Aedes and Anopheles. The vulnerability area and clustering of filariasis known by using Geographic Information System.Keywords: Geographic Information System (GIS), Filariasis, Risk factor, Vulnerability, Agam District. Latar Belakang: Filariasis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria (Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori) yang ditularkan melalui vektor nyamuk. Data WHO menyebutkan lebih dari 1.4 miliar penduduk dunia tinggal di daerah yang berisiko terinfeksi filariasis yang tersebar di 73 negara termasuk Indonesia. Filariasis di Indonesia tersebar pada 418 kabupaten/ kota dan 235 kabupaten/ kota ditetapkan sebagai daerah endemis dengan jumlah kasus 14.932. Kabupaten Agam merupakan salah satu daerah endemis filariasis tertinggi di Provinsi Sumatera Barat dengan prevalensi kasus sebesar 12,63 per 100.000. Kondisi lingkungannya terdiri dari pegunungan, dataran rendah, sungai, danau, perkebunan, dan persawahan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengimplementasikan penggunaan sistem informasi geografis untuk pemetaan kerentanan wilayah berdasarkan faktor risiko kejadian filariasis di Kabupaten Agam.Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan menggunakan desain penelitian case control study. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 36 kasus dan 36 kontrol dengan total 72 sampel. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat, bivariat, multivariat dan analisis kerentanan wilayah secara spasial.Hasil: Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat membantu dalam menentukan tingkat kerentanan wilayah terhadap kejadian filariasis di Kabupaten Agam. Hasil statistik menemukan bahwa faktor sosial ekonomi yaitu tingkat pendidikan rendah (OR: 4.52), tingkat pengetahuan rendah (OR: 4.14), pekerjaan sebagai petani, buruh dan nelayan (OR: 4.38), dan tingkat penghasilan rendah (OR: 4.43) merupakan faktor risiko kejadian filariasis di Kabupaten Agam. Faktor perilaku masyarakat yaitu kebiasaan keluar malam hari (OR: 3.75) dan memelihara hewan reservoir (OR: 3.57) merupakan faktor risiko kejadian filariasis di Kabupaten Agam. Faktor lingkungan yaitu keberadaan perkebunan (OR: 19.46) sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk merupakan faktor risiko kejadian filariasis di Kabupaten Agam. Berdasarkan analisis multivariat yang menjadi faktor risiko yaitu keberadaan perkebunan (OR: 19.46). Jenis vektor yang ditemukan yaitu Culex (67.26%), Aedes (18.06%), Armigeres (14.19%) dan Anopheles (0.48%). Pengelompokkan (Clustering) kejadian filariasis ditemukan pada daerah Subang – Subang dan Muaro Putuih. Zona atau wilayah yang memiliki kerentanan diantaranya yaitu Kecamatan Tanjung Mutiara, Lubuk Basung, IV Nagari, Palembayan, Palupuh, Baso dan IV Koto.Kesimpulan: Faktor risiko kejadian filariasis di Kabupaten Agam yaitu tingkat pendidikan rendah, tingkat pengetahuan rendah, pekerjaan (petani, buruh dan nelayan), tingkat penghasilan rendah, kebiasaan keluar malam hari, memelihara hewan reservoir, dan keberadaan perkebunan sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk. Sedangkan faktor risiko yang paling berpengaruh yaitu keberadaan perkebunan (≤ 200 meter) dari tempat tinggal responden. Jenis vektor filaria di Kabupaten Agam yaitu Culex, Armigeres, Aedes dan Anopheles. Tingkat kerentanan wilayah dan pengelompokkan (Clustering) kejadian filariasis diketahui melalui penggunaan Sistem Informasi Geografis.Kata Kunci: Sistem Informasi Geografis (SIG), Filariasis, Faktor Risiko, Kerentanan, Kabupaten Agam
Pola Pengelompokan Komponen Biaya Rawat Inap Diabetes di RSUD Cilacap
Latar Belakang : Peningkatan angka kesakitan dan kematian diabetes mellitus (DM) di rumah sakit meningkatkan beban biaya pengobatan, terutama untuk rawat inap. Pendekatan biaya pengobatan menyebabkan bervariasinya komponen biaya yang dikeluarkan oleh rumah sakit, baik untuk obat-obatan, akomodasi, pemeriksaan penunjang, dan prosedur medis. Di sisi lain, rumah sakit dituntut untuk memberikan pengobatan yang efektif dan efisien melalui paket penggantian dengan grouper terkait diagnostik yang dikenal dengan INA-CBGs. Pemahaman tentang variasi komponen biaya rawat inap diabetes mellitus perlu melihat peluang melakukan pengobatan yang efektif dan efisien, di mana konsep data mining dapat diterapkan untuk mengatasi masalah ini.Metode : Penelitian ini menggunakan desain Cross-sectional pada data Sistem Informasi Rumah Sakit selama 3 tahun. Teknik K-means data mining digunakan untuk mengelompokkan untuk melihat berbagai komponen biaya. Selain itu, digunakan T-test untuk menganalisis perbedaan komponen biaya antara dokter penanggung jawab pasien.Hasil : Terjadi peningkatan dari rata-rata biaya perawatan diabetes inap selama 2011-2013. Pola pengelompokan rawat inap dari diabetes komponen biaya menunjukkan bahwa biaya akomodasi dan obat-obatan lebih besar dibandingkan dengan biaya-biaya lain (pemeriksaan laboratorium, radiologi biaya, visite/konsultasi dan perwatan lainnya). Biaya akomodasi dan obat-obatan komponen dipengaruhi oleh adanya komplikasi atau penyakit lain yang menyertainya. Namun, ada sedikit variasi dalam komponen biaya obat-obatan dan akomodasi bila dibandingkan antara dokter yang berbeda yang bertanggung jawab, meskipun selisihnya tidak signifikan (P-value= 0590 untuk Internist dan 0,832 untuk Surgeon).Kesimpulan : Variasi komponen biaya obat dan akomodasi dalam pengobatan perawatan diabetes rawat inap menunjukkan potensi untuk meningkatkan efisiensi dalam komponen tersebut. Pengembangan pedoman klinis untuk perawatan diabetes melitus rawat inap di rumah sakit dapat menjadi solusi dalam meningkatkan perawatan yang efektif dan efisien
Pentingnya Renstra SI/TI sebagai Acuan Pengembangan SI/TI (Studi Kasus : Rumah Sakit Grand MEDISTRA Lubuk Pakam)
Latar belakang : Sistem informasi berkontribusi meningkatkan kualitas pelayanan pasien, efisiensi operasional, dan kepuasan pasien. Dengan SI/TI monitoring, koordinasi, dan pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan efektif. Hal tersebut bisa dicapai ketika organisasi memiliki suatu perencanaan yang jelas pada organisasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya renstra SI/TI sebagai acuan pengembangan SI/TI di RS. Grand MEDISTRA Lubuk Pakam. Metode : Penelitian dilakukan dengan metode collaborative action research. Penelitian dilakukan di RS. Grand MEDISTRA Lubuk Pakam. Penelitian melibatkan 23 orang yang terdiri dari pengguna langsung maupun pengguna tidak langsung. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), observasi dan telah dokumen. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya pentingnya penyusunan renstra SI/TI yang digunakan sebagai acuan dalan pengembangan SI/TI sehingga pengembangan SI/TI memiliki arahan.Kesimpulan : Disarankan kepada RS. Grand MEDISTRA Lubuk Pakam untuk menyusun Renstra SI/TI
Monitoring Progess for Toddler Case Handling Malnutrition With Spatial Information Systems in Banda Aceh
ABSTRACTNutrition problem contributes to the death rate of toddler. In Aceh Province during 2013, there are 855 toddlers suffering malnutrition and only 14,04% of them recovered, 2,46% died and there are still 714 more toddlers under treatment.Qualitative descriptive research with observational design through action research approach using Geographical Information System (GIS) are carried out in the city of Banda Aceh where the sample of children with malnutrition are obtained from the result of nutrient status monitoring, weighing routine data in posyandu, investigation of the health facilities and the report from society. The collected dependent data variables are children with severe malnutrition and malnourished children, the residence location of the research subjects, the work place of the nutrient management employee, the community health center (puskesmas) and serving fasilities of children with severe malnutrition by Global Positioning System (GPS).The distribution pattern and regions prone to children with malnutrition are concentrated in Kecamatan Kuta Raja, Kecamatan Meuraxa and Kecamatan Ule Kareng. In those districts, the number of children with severe malnutrition is above 0,6% and the number of malnourished children is also above 1,5% of the minimum tolerance number of children set by the City Health Department of Banda Aceh. The percentage of the weighed children to the number of target (D/S) for those districts is in between 53,7% to 69,5%. The number of recovered children after being treated is 7,2%, while 0,9% are died and 9,9% of the children with severe malnutrition are dropped out. The number and the distribution of nutrient management employee are not sufficient and they are not well trained with 21,2% of the posyandu are active. In the other hand, the number and the distribution of puskesmas and hospital are fairly equally distributed throughout Banda Aceh. The development of severe malnutrition children monitoring management information system creates the information of improvement of children with severe malnutrition, distribution map of nutritional cases, the distribution of human resources and the health facilities, and produces a report of success coverage of nutritional program indicator.The distribution pattern and regions prone to malnutrition are distributed in the coastal area and in the city border which are slum and poor region. The regions also suffer low quantity and quality of nutrient officer, limited operational infrastructure, and only few posyandu are active . The severe malnutrition children monitoring management information system can help through evaluating the improvement of the children’s recovery and it can also produce various information needed. Keywords: Spatial information system, improvement monitoring, toddler, severe malnutritionABSTRACTNutrition problem contributes to the death rate of toddler. In Aceh Province during 2013, there are 855 toddlers suffering malnutrition and only 14,04% of them recovered, 2,46% died and there are still 714 more toddlers under treatment.Qualitative descriptive research with observational design through action research approach using Geographical Information System (GIS) are carried out in the city of Banda Aceh where the sample of children with malnutrition are obtained from the result of nutrient status monitoring, weighing routine data in posyandu, investigation of the health facilities and the report from society. The collected dependent data variables are children with severe malnutrition and malnourished children, the residence location of the research subjects, the work place of the nutrient management employee, the community health center (puskesmas) and serving fasilities of children with severe malnutrition by Global Positioning System (GPS).The distribution pattern and regions prone to children with malnutrition are concentrated in Kecamatan Kuta Raja, Kecamatan Meuraxa and Kecamatan Ule Kareng. In those districts, the number of children with severe malnutrition is above 0,6% and the number of malnourished children is also above 1,5% of the minimum tolerance number of children set by the City Health Department of Banda Aceh. The percentage of the weighed children to the number of target (D/S) for those districts is in between 53,7% to 69,5%. The number of recovered children after being treated is 7,2%, while 0,9% are died and 9,9% of the children with severe malnutrition are dropped out. The number and the distribution of nutrient management employee are not sufficient and they are not well trained with 21,2% of the posyandu are active. In the other hand, the number and the distribution of puskesmas and hospital are fairly equally distributed throughout Banda Aceh. The development of severe malnutrition children monitoring management information system creates the information of improvement of children with severe malnutrition, distribution map of nutritional cases, the distribution of human resources and the health facilities, and produces a report of success coverage of nutritional program indicator.The distribution pattern and regions prone to malnutrition are distributed in the coastal area and in the city border which are slum and poor region. The regions also suffer low quantity and quality of nutrient officer, limited operational infrastructure, and only few posyandu are active . The severe malnutrition children monitoring management information system can help through evaluating the improvement of the children’s recovery and it can also produce various information needed. Keywords: Spatial information system, improvement monitoring, toddler, severe malnutrition
Desain Reminder System Berbasis SMS untuk Meningkatkan Kepatuhan Pengobatan Pasien Diabetes Mellitus
ABSTRAKJumlah penderita diabetes mellitus di seluruh dunia mencapai 382 juta jiwa pada tahun 2013. Posisi Indonesia berada pada peringkat ke 7 dengan jumlah penderita sebanyak 8,5 juta orang. Kepatuhan pengobatan pasien DM di klinik Alifa Diabetic Centre dilaporkan masih rendah yaitu sebesar 47%. Salah satu strategi berbasis teknologi untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan yaitu memberikan layanan terkontrol kepada pasien melalui pengiriman pengingat dalam bentuk short message service (SMS). Penelitian ini bertujuan merancang reminder system dalam bentuk prototype aplikasi untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien diabetes mellitus. Metode yang digunakan adalah metode penelitian action research. Subjek penelitian berjumlah 16 orang terdiri dari pengguna sistem baik langsung maupun tidak langsung. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi lapangan. Disain reminder system yang dibuat merupakan prototype yang interaktif karena memiliki tampilan antar muka (interface) yang sederhana, menu input data sudah memenuhi kebutuhan dan pengguna mudah mengoperasikannya. Reminder system memudahkan pihak klinik untuk mengelola data pasien yang kontrol secara terkomputerisasi, memudahkan dokter untuk memonitoring kesehatan pasien, membantu pasien dalam mengingat pengobatan dan menambah pengetahuan pasien terkait penanganan penyakit diabetes mellitus. Penelitian menyimpulkan bahwa penggunaan aplikasi reminder system merupakan salah satu strategi dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien diabetes mellitus karena output laporan reminder system memperlihatkan bahwa mayoritas pasien berkunjung ke klinik sesuai jadwal kontrol setelah dikirim SMS reminder.
Evaluasi Pemanfaatan Early Warning Alert and Response System di Kabupaten Boyolali
Latar belakang: Kabupaten Boyolali telah menerapkan Early Warning Alert and Response System (EWARS) dalam upaya kewaspadaan dini dan respon terhadap penyakit – penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB). Meskipun telah menerapkan EWARS dengan ketepatan waktu dan kelengkapan laporan yang cukup baik, namun KLB masih banyak terjadi di Kabupaten Boyolali. Ada peningkatan jenis KLB setelah penerapan EWARS. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus eksploratoris. Subjek dalam penelitian ini adalah 1 orang Petugas Surveilans Kabupaten, 29 orang Petugas Surveilans Puskesmas, 1 orang Kepala Seksi Pencegahan dan Surveilans Dinas Kesehatan, 1 orang Kepala Bidang P3PL dan 1 orang Kepala Dinas. Unit analisis pada penelitian ini adalah EWARS Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam, Focus Group Discusion, observasi langsung dan observasi partisipan dengan menggunakan panduan wawancara dan checklist observasi. Analisa data dilakukan dengan penjodohan pola.Hasil: Input data EWARS hanya berasal dari bidan desa, pustu, PKD dan kunjungan puskesmas. Pengolahan data EWARS belum dilakukan baik di tingkat Kabupaten maupun puskesmas. Output EWARS tidak disajikan. Ketepatan waktu laporan rendah (43%) dan cenderung menurun. Kelengkapan laporan sudah mencapai target (81%) namun ada kecenderungan menurun. Analisis dan interpretasi data EWARS dilakukan secara insidentil. Umpan balik laporan disampaikan tiga bulan sekali. Kesimpulan: Pengelolaan informasi EWARS di Kabupaten Boyolali belum berjalan sebagaimana mestinya.Kata kunci: sistem kewaspadaan dini dan respon, pengelolaan informas