Journal of Information Systems for Public Health
Not a member yet
    145 research outputs found

    Prototipe Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian di Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka

    No full text
    Latar Belakang: Data dan informasi kepegawaian di Dinas Kesehatan Kab, Kolaka merupakan data penting yang harus tersedia dengan akurat, lengkap dan jelas untuk menunjang pelaksanaan manajemen kepegawaian yang optimal. Permasalahan yang ditemui berupa penanganan dan pemrosesan data yang kompleks masih dikelola secara manual menyebabkan ketidakkonsistenan data, informasi yang dihasilkan membutuhkan waktu yang lama dan cenderung kurang akurat. Belum ada sistem informasi kepegawaian yang dapat memfasilitasi staf kepegawaian dalam memberikan pelayanan melalui manajemen data yang optimal.Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan sistem informasi kepegawaian yang sesuai dengan kebutuhan Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka, melalui kegiatan identifikasi kebutuhan komponen input dan output pengguna, membuat desain proses prototipe sistem, melakukan uji coba prototipe serta mengevaluasi prototipe yang telah diujicobakan.Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan rancangan action research. Rancangan penelitian dipilih karena sesuai dengan tahap pengembangan sistem dengan prototipe. Data dan informasi diperoleh dengan observasi, wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD). Observasi dilakukan di Subag Kepegawaian untuk mengetahui proses pengolahan data dan informasi di kepegawaian. Wawancara dilakukan terhadap 8 responden untuk mengeksplorasi kebutuhan komponen input dan output yang membentuk spesifikasi fungsional prototipe. Prototipe di uji coba kemudian wawancara mendalam untuk mengetahui apakah prototipe sudah sesuai dengan kebutuhan Dinas Kesehatan Kab. Kolaka.Hasil: Prototipe sistem informasi kepegawaian dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna di Dinas Kesehatan. Diperoleh kebutuhan data sebagai komponen input yaitu data PNS dan data PTT. Kebutuhan informasi sebagai ouput yang dihasilkan sistem yaitu laporan dan rekapitulasi PNS dan PTT. Melalui identifikasi kebutuhan tersebut dibuatlah diagram konteks, DFD, data flowchart, ERD, kamus data, kemudian dikembangkan. Ujicoba prototipe menunjukkan aplikasi sistem informasi kepegawaian dapat menyediakan data dan informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Hasil evaluasi menunjukkan prototipe mudah digunakan, tampilan menarik dan informasi yang dihasilkan akurat. Kesimpulan: Pengembangan sistem informasi manajemen kepegawaian yang melibatkan potensial responden di Dinas Kesehatan dapat diterima dengan baik oleh responden dan aplikasi yang dihasilkan sudah sesuai dengan kebutuhan Dinas Kesehatan Kab. Kolaka Kata kunci : Manajemen Kepegawaian,  Prototyping, Sistem Informasi Manajeme

    PENILAIAN KUALITAS BILLING SYSTEM DENGAN PENDEKATAN MODEL DELONE DAN MCLEAN DIRUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

    No full text
    ABSTRAK -Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta adalah rumah sakit yang menerapkan teknologi informasi dalam pelayanan kepada pasien sejak tahun 2007, kendala yang dihadapi, sistem informasi billing yang terintegrasi tidak mendukung pelayanan pasien menjadi cepat. Proses transaksi elektronik di rumah sakit terhambat, seperti entry dan pengambilan data dari sistem akibatnya pelayanan pasien dan kepuasan pasien menjadi menurun.Metode penelitian: Jenis penelitian ini deskriptif kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional. Jumlah sampel 73 operator billing namun ada 2 kuesioner yang tidak termasuk kedalam kriteria inklusi, sehingga hanya 71 data kuesioner yang dapat diolah. Analisis data kuantitatif menggunakan aplikasi smartPLS yang dilakukan dengan mencari nilai inner model dan outer model.Hasil Penelitian: Berdasar hasil pengujian hipotesis pada inner model dalam path-analysis beberapa konstruk yang tidak berpengaruh yaitu kualitas sistem terhadap penggunaan, kualitas sistem terhadap kepuasan pengguna, kualitas informasi terhadap kepuasan pengguna, kepuasan pengguna terhadap penggunaan serta sebaliknya. Sedangkan untuk konstruk kualitas informasi terhadap penggunaan, kualitas layanan terhadap penggunaan, kualitas layanan terhadap kepuasan pengguna, penggunaan terhadap net benefit dan kepuasan pengguna terhadap net benefit secara signifikan berpengaruh.Kesimpulan: Penelitian ini membuktikan bahwa tidak semua hipotesis yang diajukan terbukti secara empiris. Beberapa hipotesis yang tidak berpengaruh antara lain kualitas sistem terhadap penggunaan, kualitas sistem terhadap kepuasan pengguna, kualitas informasi terhadap kepuasan pengguna, kepuasan pengguna terhadap penggunaan serta sebaliknya dikarenakan sistem informasi yang digunakan bersifat mandatory sehingga operator billing tidak mempunyai alasan untuk tidak menggunakan sistem tersebut karena sistem tersebut digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan organisasi..Kata kunci: Kualitas Sistem,Kualitas Informasi, Kualitas Pelayanan, Intensitas Penggunaan, Kepuasan Pengguna, Kentungan Bersih.ABSTRAK -Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta adalah rumah sakit yang menerapkan teknologi informasi dalam pelayanan kepada pasien sejak tahun 2007, kendala yang dihadapi, sistem informasi billing yang terintegrasi tidak mendukung pelayanan pasien menjadi cepat. Proses transaksi elektronik di rumah sakit terhambat, seperti entry dan pengambilan data dari sistem akibatnya pelayanan pasien dan kepuasan pasien menjadi menurun. Metode penelitian: Jenis penelitian ini deskriptif kuantitatif dengan rancangan penelitian cross sectional. Jumlah sampel 73 operator billing namun ada 2 kuesioner yang tidak termasuk kedalam kriteria inklusi, sehingga hanya 71 data kuesioner yang dapat diolah. Analisis data kuantitatif menggunakan aplikasi smartPLS yang dilakukan dengan mencari nilai inner model dan outer model. Hasil Penelitian: Berdasar hasil pengujian hipotesis pada inner model dalam path-analysis beberapa konstruk yang tidak berpengaruh yaitu kualitas sistem terhadap penggunaan, kualitas sistem terhadap kepuasan pengguna, kualitas informasi terhadap kepuasan pengguna, kepuasan pengguna terhadap penggunaan serta sebaliknya. Sedangkan untuk konstruk kualitas informasi terhadap penggunaan, kualitas layanan terhadap penggunaan, kualitas layanan terhadap kepuasan pengguna, penggunaan terhadap net benefit dan kepuasan pengguna terhadap net benefit secara signifikan berpengaruh.Kesimpulan: Penelitian ini membuktikan bahwa tidak semua hipotesis yang diajukan terbukti secara empiris. Beberapa hipotesis yang tidak berpengaruh antara lain kualitas sistem terhadap penggunaan, kualitas sistem terhadap kepuasan pengguna, kualitas informasi terhadap kepuasan pengguna, kepuasan pengguna terhadap penggunaan serta sebaliknya dikarenakan sistem informasi yang digunakan bersifat mandatory sehingga operator billing tidak mempunyai alasan untuk tidak menggunakan sistem tersebut karena sistem tersebut digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan organisasi..Kata kunci:  Kualitas Sistem,Kualitas Informasi, Kualitas Pelayanan, Intensitas Penggunaan, Kepuasan Pengguna, Kentungan Bersih

    Analisis aturan asosiasi hasil pengobatan tuberkulosis di provinsi sulawesi selatan

    No full text
    Latar Belakang : Sistem TB-03 elektronik merupakan sistem pencatatan dan pelaporan yang merekap data penderita TB. Namun, data yang tersedia pada sistem sering kurang dimanfaatkan, atau tidak digunakan sama sekali. Oleh karena itu dibutuhkannya analisis proses pencarian informasi yang dapat digunakan untuk menggali potensi-potensi informasi yang ada dari penyimpanan data terutama untuk menemukan suatu pola hubungan antar data sehingga dapat diketahui pola hubungan pada hasil pengobatan TB.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi mencari aturan asosiasi hasil pengobatan di Provinsi Sulawesi Selatan dengan menggunakan teknik association rule.Metode Penelitian: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah observasional deskriptif. Penelitian ini  menggunakan data register TB-03 pasien TB di Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2011-2013. Aturan asosiasi pada penderita TB dapat memberikan pengetahuan mengenai karakteristik pada setiap hasil pengobatan yang dimiliki.Hasil : Sebagian besar hasil pengobatan yang diperoleh penderita TB adalah sembuh. Aturan asosiasi menunjukkan bahwa tipe pasien merupakan pasien baru, klasifikasi TB adalah TB Paru, hasil pemeriksaan dahak awal positif, dan waktu konversi pada 2 bulan masa pengobatan berhubungan dengan hasil pengobatan sembuh. Tipe pasien merupakan pasien baru dan klasifikasi TB adalah TB Paru maka hasil pengobatan lengkap. Tipe pasien adalah pasien baru, klasifikasi TB adalah TB Paru, hasil pemeriksaan dahak awal adalah positif, tidak mengalami konversi pada masa pengobatan, dan bertempat tinggal di perdesaan berhubungan dengan hasil pengobatan meninggal. Tipe pasien adalah pasien baru, klasifikasi TB adalah TB Paru, hasil pemeriksaan dahak awal adalah positif, dan bertempat tinggal di perkotaan berhubungan dengan hasil pengobatan default. Klasifikasi TB adalah TB Paru, hasil pemeriksaan dahak awal adalah positif, dan bertempat tinggal di perkotaan berhubungan dengan hasil pengobatan pindah. Pola pengelompokan (clustering) data register TB menunjukkan bahwa hasil pengobatan pada penderita TB cenderung sembuh dan lengkap.Kesimpulan : Aturan asosiasi dan pengelompokan pada penderita dapat memberikan pengetahuan mengenai karakteristik pada setiap hasil pengobatan yang dimiliki. Dengan memanfaatkan karakteristik tersebut, dapat dijadikan sebagai acuan untuk menetapkan prioritas-prioritas dalam manajemen pengobatan TB selanjutnya sehingga hasil pengobatan dapat maksimal. Selain itu, teknik data mining dapat digunakan sebagai teknik analisis data register TB

    Pengembangan sistem kewaspadaan dini penyakit new-emerging dan re-emerging, studi kasus pada penyakit mers-cov dan ebola di kantor kesehatan pelabuhan soekarno-hatta

    No full text
    Latar Belakang: Penyakit menular tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia karena tiga alasan: 1) munculnya penyakit menular baru (new-emerging disease); 2) munculnya kembali penyakit menular lama (re-emerging disease); dan 3) menetapnya penyakit yang tidak dapat terselesaikan. Salah satu yang mempengaruhi penyakit infeksi new-emerging dan re-emerging adalah meningkatnya mobilitas penduduk antar negara melalui travel internasional yang semakin mudah. KKP Soekarno-Hatta memiliki tugas pokok cegah tangkal penyakit, yaitu mencegah penyakit menular ke luar dan menangkal penyakit masuk ke Indonesia melalui pintu masuk negara yaitu Bandar Udara Soekarno-Hatta. Untuk meningkatkan kewaspadaan dini pada penyakit infeksi new-emerging dan re-emerging, khususnya penyakit Mers-CoV dan Ebola, maka diperlukan suatu alat yang dapat membantu Dinas Kesehatan dalam melakukan pemantauan pada dengan perjalanan dari dan keluar negri.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengembangan terhadap sistem kewaspadaan dini penyakit New-Emerging dan Re-Emerging dengan berfokus pada kasus penyakit Mers-Cov dan Ebola di kantor Kesehatan Pelabuhan Soekarno-Hatta.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, data diperoleh melalui tehnik tehnik wawancara, studi literatur dan observasi lapangan. Metode yang digunakan dalam pengembangan sistem ialah System Development Life Cycle (SDLC) Waterfal.Hasil: Data hasil wawancara, observasi, dan analisis dokumen diperoleh sistem informasi yang dimiliki KKP Soekarno-Hatta sudah memadai namun tidak didukung dengan kelengkapan software pencatatan pada setiap computer, petugas KKP juga masih melakukan pencatatan manual, sehingga berdampak pada keterbatasan mengakses data, waktu pengolahan data, dan keterlambatan pada pelaporan data. Sistem kewaspadaan dini didesign menghasilkan laporan airline serta laporan kunjungan pasien secara otomatis. Untuk menjamin keamanan sistem dibatasi 20 menit pada waktu entry, dilengkapi username dan password. Pada proses pengujian system menggunakan Blackbox Testing. Kesimpulan: Prototype sistem kewaspadaan dini penyakit infeksi new-emerging dan re-emerging masih perlu dilakukan sosialisasi terutama terkait penggunaannya.  Kata Kunci: sistem kewaspadaan dini, mers-cov, ebola

    Pengembangan prototipe sistem informasi klinik di klinik Az-zahra Kota Tasikmalaya

    No full text
    Latar Belakang: Klinik Az-Zahra di Kota Tasikmalaya memiliki kendala dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat karena rekam medis berbasis kertas yang ada tidak mendata pasien secara sistematis. Hal ini membuat petugas kesulitan dalam melacak data pasien. Kendala lainnya adalah terjadinya duplikasi data. Selain itu, pemilik klinik juga menginginkan terstrukturnya data pasien yang menjadi acuan untuk membuat laporan.Tujuan: Merancang sistem informasi klinik untuk mendukung kegiatan pelayanan di Klinik Az-Zahra di Kota TasikmalayaMetode Penelitian: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif melalui tahapan action research pada perancangan sistem informasi klinik dengan pendekatan prototyping. Subjek pada penelitian ini adalah 1 orang dokter, 2 orang petugas rekam medis, 1 orang bidan, dan 1 orang perawat. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara mendalam. Analisis data hasil observasi dan wawancara yang dianggap relevan dipakai sebagai pedoman pada tahap perancangan sistem.Hasil: Telah dilaksanakan identifikasi kebutuhan sistem, membuat desain proses, desain basis data dan desain antar muka serta uji coba prototipe sistem informasi klinik.Kesimpulan: Kebutuhan data sistem informasi Klinik Az-Zahra Kota Tasikmalaya meliputi identitas pasien, riwayat kunjungan, catatan alergi, gaya hidup, imunisasi, riwayat penyakit, serta riwayat catatan kesehatan pribadi yang lebih lengkap pada prototipe sistem informasi klinik yang telah dikembangkan

    Analisis Penggunaan Sistem Informasi Laboratorium Pada Pegawai Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta

    No full text
    Latar Belakang: Sistem Informasi Laboratorium BBTKLPP Yogyakarta merupakan suatu usaha untuk menyajikan informasi yang akurat, tepat waktu dan sesuai kebutuhan guna menunjang proses fungsi-fungsi manajemen dan pengambilan keputusan dalam memberikan pelayanan di BBTKL Yogyakarta. Dengan penerapan Sistem Informasi ini diharapkan nantinya dapat meningkatkan mutu khususnya pelayanan laboratorium, dan menunjang tugas pokok dan fungsi BBTKLPP Yogyakarta. Selain itu, penerapan sistem informasi ini juga diharapkan dapat meningkatkan motivasi pegawai dalam melaksanakan tugas sehari-hari, pelayanan dan penyebaran informasi kepada publik menjadi lebih cepat dan hasil pengolahan data dari sistem informasi ini dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan. Tahapan kritis dalam penerapan teknologi informasi adalah saat kondisi dimana kehadiran sistem tersebut diterima atau ditolak oleh calon pengguna. Penghambat proses adaptasi ini terjadi disebabkan adanya kecenderungan perbedaan persepsi mengenai manfaat dan kemudahan dari teknologi informasi baru untuk digunakan. TAM merupakan sebuah konsep yang dianggap paling baik dalam menjelaskan perilaku user terhadap sistem teknologi informasi baru.Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pegawai Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta dalam menggunakan Sistem Informasi Laboratorium.Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan Metode survei dengan rancangan cross-sectional. Sampel   penelitian berjumlah 33 responden yang merupakan total dari keseluruhan populasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis SEM-PLS dengan model TAM menggunakan software SmartPLS versi 3.2.6.Hasil: Berdasarkan outer model diketahui bahwa konstruk telah memenuhi validitas dan reliabilitas, sedangkan hasil iner model didapatkan nilai path-coeficient dan p-values yang menjadi dasar pengambilan kesimpulan. Dari hasil pengujian dan analisia didapatkan beberapa hipotesis yang tidak berpengaruh secara signifikan yaitu variable keterkaitan pekerjaan terhadap manfaat/kegunaan, terminology dan desain layar terhadap kemudahan, dan kondisi fasilitas pendukung terhadap penggunaan sistem. Sedangkan variable yang berpangaruh secara signifikan adalah kualitas keluaran, result demonstrability, dan persepsi kemudahan terhadap manfaat/kegunaan, complexity terhadap persepsi kemudahan, persepsi manfaat/kegunaan terhadap ketertarikan untuk menggunakan, persepsi kemudahan terhadap ketertarikan untuk menggunakan dan ketertarikan untuk menggunakan terhadap penggunaan system.Kesimpulan: Tidak semua variabel yang diteliti berpengaruh secara signifikan terhadap penggunaan Sistem Informasi Laboratorium (SIL) pada pegawai BBTKL Yogyakarta. Dari 11 variabel yang diteliti, diketahui 7 variabel memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan

    Kondisi geografis dan kepatuhan berobat diabetes mellitus di kokap, kulonprogo, yogyakarta

    No full text
    Latar Belakang : Kulonprogo sebagai kabupaten dengan pendapatan penduduk terendah di DI Yogyakarta memiliki jumlah kasus diabetes melitus pada peringkat keenam sebesar 13.438 orang. Diabetes melitus sebagai penyakit kronis yang memiliki dampak yang besar bagi kesehatan secara luas, sehingga usaha penjagaan kondisi kesehatan pasien diabetes melitus lewat kepatuhan berobat menjadi penting. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kokap yang sebagian daerahnya masuk dalam kawasan Perbukitan Menoreh. Penggunaan SIG dalam penelitian ini akan dapat memberikan gambaran utuh mengenai kondisi alam di Kokap dalam hubungannya dengan kesehatan.Tujuan Penelitian : Menyusun gambaran aksesibilitas jarak pasien ke puskesmas dalam bentuk peta serta menyusun variasi kunjungan pasien berdasarkan jarak, jenis transportasi dan waktu tempuh ke masing-masing puskesmas di Kecamatan Kokap, menjelaskan perbedaan kepatuhan berobat pasien diabetes melitus dengan memperhitungkan aksesibilitas pasien diabetes melitus dilihat dari jarak, jenis transportasi dan waktu tempuh ke puskesmas.Metode Penelitian : Jenis penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan rancangan cross sectional. Kuesioner pengambilan data mengacu pada Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) untuk menilai kepatuhan berobat. Data diambil dari populasi jumlah total pasien diabetes melitus dengan metode cluster random sampling sebanyak 52 sampel. Penghitungan jarak dengan network analysis dalam ArcGIS 10 beserta pembuatan petanya. Hubungan antar variabel dianalisis dengan Geoda 1.6.Hasil : Gambaran aksesibilitas dilihat dengan buffering sejauh 3 km dari setiap puskesmas dengan rumah pasien, kunjungan pasien menggunakan 2 variasi yaitu kepatuhan dengan kategori variabel tinggi dan kepatuhan dengan kategori variabel rendah, hasil regresi menggunakan Geoda diperoleh nilai probalitas kepatuhan berobat DM dengan masing-masing variabel jarak tempuh, jenis transportasi dan waktu tempuh adalah 0,00542; 0,00779; 0,00033 sedangkan nilai probabilitas untuk ketiga variabel secara bersamaan berada diatas 0,05 begitu juga dengan karakteristik responden.Kesimpulan : Gambaran aksesibilitas jarak pasien pada Puskesmas Kokap 1 dilihat dari distribusi rumah pasien lebih menyebar, variasi kunjungan pasien dengan kategori variabel tinggi memiliki jumlah kepatuhan yang lebih banyak di setiap desa sehingga untuk pasien yang tidak patuh diperlukan perlakuan khusus dari puskesmas, terdapat perbedaan kepatuhan dengan masing-masing variabel jarak tempuh, jenis transportasi dan waktu tempuh namun tidak terdapat perbedaan kepatuhan dari ketiga variabel secara bersama-sama dan karakteristik responden. Kurangnya ketersediaan transportasi umum menjadi pertimbangan pasien dalam berobat ke puskesmas. Perbedaan kedekatan posisi rumah dengan jalan lokal menyebabkan perbedaan waktu tempuh

    Penyusunan rencana strategis sistem informasi dan teknologi informasi di dinas kesehatan kabupaten sleman

    No full text
    Latar Belakang : Salah satu komponen pengelolaan kesehatan yang disusun dalam SKN yaitu sub sistem manajemen, informasi dan regulasi kesehatan.  Sistem Informasi dan Teknologi Informasi (SI&TI) secara fundamental memiliki peranan penting bagi perkembangan organisasi kesehatan, mengingat keuntungan yang didapat antara lain efektif, efisien, dan transparansi guna mendukung pelayanan yang baik dan bersih. Namun faktanya SI&TI sebagai salah satu fungsi untuk meningkatkan manajemen kesehatan ternyata belum optimal pemanfaatannya serta penerapan SIMPUS juga belum berjalan sebagaimana yang diharapkan, sehingga belum dapat menghasilkan informasi yang mendukung perencanaan, pemecahan masalah dan pengambilan kebijakan di tingkat puskesmas maupun tingkat Dinas Kesehatan. Rencana strategis akan membantu organisasi untuk mencapai sasaran serta mengatasi masalah-masalah yang ada sehingga mengoptimalkan pencapaian tujuan serta dapat menempatkan organisasi pada posisi yang optimal di dalam lingkungan yang semakin bersaing.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lingkungan sebagai acuan penyusunan rencana strategissistem informasi dan teknologi informasi  di dinas kesehatan kabupaten sleman. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain action research karena merupakan penelitian tindakan yang melibatkan partisipan dalam membuat keputusan tentang apa dan bagaimana mengimplementasikan perubahan yang diinginkan.Hasil Penelitian : Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman sudah implementasi SI meskipun masih terfragmentasi, kondisi infrastruktur di dinas kesehatan maupun puskesmas perlu disesuaikan dengan kebutuhan, masih ada SDM SI&TI yang tidak sesuai dengan kompetensinya, sistem keamanan informasi dan tata kelola SI&TI belum ada, perlu menata dan meningkatkan kualitas pengelolaan data dan informasi, mengembangkan dan menetapkan standar sistem informasi kesehatan, dan memperkuat kelembagaan unit pengelola sistem informasi kesehatan.Kesimpulan: Strategi SI&TI yang dapat mendukung pencapaian visi dan misi Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman antara lain menetapkan regulasi SI&TI, mengembangkan dan menetapkan standar sistem informasi kesehatan, memperkuat perangkat sistem informasi kesehatan di dinas kesehatan dan puskesmas, mengembangkan dan meningkatkan kompetensi SDM pengelola sistem informasi kesehatan, meningkatkan kemampuan SDM SI&TI dalam melakukan manajemen data terutama pengumpulan data. Implementasi renstra SI&TI dilaksanakan selama 5 tahap

    Evaluasi sistem informasi manajemen rumah sakit dengan menggunakan metode hot-fit di rumah sakit umum daerah (rsud) Tora Belo Kabupaten Sigi

    No full text
    Latar Belakang : Sesuai dengan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2013 bahwa semua rumah sakit wajib menyelenggarakan SIMRS. RSUD Tora Belo merupakan rumah sakit tipe non class yang baru berdiri tahun 2015 dan langsung mengimplementasikan SIMRS namun sering menemukan berbagai kendala. Sejak SIMRS diimplementasikan, belum pernah dilakukan evaluasi SIMRS. Oleh karena itu peneliti akan melakukan penelitian dengan mengevaluasi SIMRS di RSUD Tora Belo Sigi menggunakan metode HOT-FIT, kepemimpinan dan regulasi. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk melihat Net benefit terhadap implementasi SIMRS di RSUD Tora Belo Kabupaten SigiMetode Penelitian : Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional untuk mengukur variabel human, organization, technology, leadership dan regulation terhadap net benefit SIMRS di RSUD Tora Belo Sigi. Karena jumlah populasi kurang dari 100 maka sampel diambil dengan menggunakan teknik total sampling. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SEM PLS dan nama aplikasi yang dipakai adalah SmartPLS versi 3.0.Hasil: Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi net benefit yaitu: user satisfaction, organization structure dan regulation. Sedangkan faktor yang tidak memiliki pengaruh terhadap net benefit SIMRS di RSUD Tora Belo adalah: system use, environment organization, system quality, information quality, service quality dan leadership. Kesimpulan : Faktor yang paling berpengaruh dalam keberhasilan net benefit Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit di RSUD Tora Belo Sigi adalah user satisfaction, organization structure dan regulation.Kata Kunci : Evaluasi, HOT-Fit, Kepemimpinan, Net benefit, Regulas

    Database Riset Bersumber Data Sekunder BPJS Kesehatan

    No full text
    Latar Belakang: BPJS Kesehatan dalam pencapaian Universal Health Coverage pada tahun 2019 akan memiliki salah satu basis data pelayanan kesehatan terbesar di dunia. Seiring dengan meningkatnya volume data yang tersimpan, semakin cepatnya proses mengumpulkan dan menghasilkan data, keragaman datanya serta kebutuhan terhadap kualitas data yang mencerminkan fakta, maka menjadi penting bagi BPJS Kesehatan untuk mengkaji kondisi manajemen data saat ini serta penyiapan database riset sebagai salah satu output.Metode Penelitian: Pendekatan kulitatif dilakukan untuk mengembangkan database riset BPJS Kesehatan. Literatur review, diskusi kelompok terarah dan identifikasi data di BPJS Kesehatan dilakukan untuk menggali konsep database riset untuk jaminan kesehatan nasional.Hasil: Database riset BPJS Kesehatan termasuk dalam konsep big data analytics karena volume, jumlah dan frekuensi yang tinggi serta tipe datanya yang beragam. Terdapat 5 dataset yang disepakati untuk dijadikan database riset BPJS Kesehatan. Jumlah peserta BPJS yang terus bertambah menuntut perlunya tatakelola data yang baik untuk memastikan representatif database riset terhadap pertumbuhan tersebut. Beberapa isu lain seperti keamanan data, teknik query dan infrastruktur, serta monitoring penggunaan database riset untuk penelitian perlu dipersiapkan dalam pengembangan database riset.Kesimpulan: Terdapat 3 aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan database riset BPJS Kesehatan, yaitu konsep big data analytics, representasi database riset yang diambil dari transaksi data di BPJS Kesehatan dan manajemen data yang baik

    0

    full texts

    145

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journal of Information Systems for Public Health
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇