Jurnal Sosioteknologi
Not a member yet
    592 research outputs found

    PROGRAM PEMANFAATAN SISA TULANG IKAN UNTUK PRODUK HIDROKSIAPATIT: KAJIAN DI PABRIK PENGOLAHAN KERUPUK LEKOR KUALA TRENGGANU-MALAYSIA

    Get PDF
    Pemanfaatan sisa tulang ikan sudah lama dilakukan kalangan peneliti di laboratorium, tetapi masih banyak masyarakat yang tidak memahaminya. Oleh sebab itu, perlu transfer pengetahuan (transfer knowledge) melalui penyeliaan masyarakat untuk meningkatkan ilmu dan pemanfaatannya. Program transfer pengetahuan pengolahan (pabrik) kerupuk lekor adalah satu program penelitian UMT yang melibatkan masyarakat untuk memanfaatkan sisa tulang ikan menjadi berbagai produk keperluan masyarakat. Program ini dilihat sebagai upaya untuk memperbaiki lingkungan masyarakat dan menyumbang kepada pembangunan kebijakan, pelaksanaan, dan kajian dalam social engineering. Tulang ikan merupakan salah satu bentuk sisa yang dihasilkan dari industri pengolahanan ikan yang memiliki kandungan kalsium terbanyak dalam tubuh ikan. Dari aspek keperluan makanan dan gizi, tulang ikan sangat kaya akan kalsium yang diperlukan manusia karena unsur utama dari tulang ikan adalah kalsium, fosfor, dan karbonat. Pelibatan atau partisipasi masyarakat untuk memanfaatkan sisa tulang ikan secara langsung dalam setiap proses yang dijalankan di kawasan mereka adalah untuk mencapai usaha pembangunan masyarakat. Pembangunan masyarakat menekankan pelibatan individu dalam masyarakat untuk belajar dan bekerjasama demi tujuan pembangunan masa depan melalui pemanfaatan sisa tulang ikan yang dapat dimanfaatkan menjadi hidroksiapatit untuk mengatasi pencemaran lingkungan dalam pembuangan logam berat. Selain itu, tulang ikan juga boleh dimanfaatkan sebagai bahan implan dalam penggantian tulang (bone substitution), katup jantung, sambungan pinggul, dan juga bahan implan lain di dalam badan/tubuh manusia serta sebagai pengganti gigi manusia. Hal ini disebabkan oleh ciri-cirinya yang sama dengan tulang dan gigi manusia dari segi struktur kimia. Kata Kunci: transfer pengetahuan, sisa tulang ikan, pemanfaatan, hidroksiapatit, pembangunan masyarakat pesisir, penglibatan, pengolahan kerupuk lekor. The fishbone waste has long been utilized among laboratory researches and it is unfortunate that still many communities fail to understand its importance that makes it necessary for a transfer of knowledge through the community supervision to enhance the knowledge and use. Knowledge transfer program to the community of fish crackers processors is a UMT research program involving the community to utilize their fishbone waste into a wide range of community needs. The program is seen as having the capability to improve the community environment and contribute to policy development, implementation, and research in social engineering. Fishbone is a form of waste produced from the fish crackers processing industries that contains the highest content of calcium in a fish. From the aspect of food and nutrition, fishbone is rich in calcium, phosphorus and carbonate that are needed by man. Community involvement to utilize fishbone waste into hydroxyapatite is a way to enhance community development and reduce pollution. In addition, it can also be used as implant materials in bone replacement, heart valves, hip extension and other implants in human body. Keywords : knowledge transfer, fishbone waste, hydroxyapatite, coastal communitydevelopment, crackers processor

    Tasawuf dan Tarekat (Dimensi Esoteris Ajaran Islam)

    Get PDF
    Islam kaffah adalah Islam yang di dalamnya terpadu aspek akidah, syariah dan hakikat. Dari akidah lahir ilmu tauhid, dari syariah lahir ilmu fikih dan dari hakikat lahir ilmu tasawuf. Tasawuf tidak bisa diamalkan sendirian tanpa syariah seperti halnya syariah tidak bisa diamalkan tanpa landasan akidah. Menurut Imam Malik, sebagaimana dikutip oleh al-Gazali "Mengamalkan tasawuf tanpa fikih adalah kezindikan, juga sebaliknya berfikih tanpa tasawuf adalah kehampaan spritual yang didapatkan, memadukan antara keduanya adalah pencapaian hakikat kebenaran". Dalam buku ini Penulis menekan-kan bahwa dimensi esoteris (tasawuf) sangat dipentingkan dalam kesempurnaan pengamal-an ajaran Islam. Pembahasan tentang "Tasawuf dan Tarekat" dalam buku ini secara rinci dibahas Penulis dalam empat bab

    UPAYA MELINDUNGI ANAK-ANAK DARI FORNOGRAFI DI INTERNET

    Get PDF
    Internet telah membuka cakrawala baru terhadap pengembangan ilmu dan teknologi di dunia. Dengan internet, kini komputer-komputer yang ada di seluruh dunia dapat terhubung dan saling berkomunikasi. Masyarakat, baik tua maupun muda, dapat mengakses berbagai informasi yang ada tanpa mengenal batas tempat dan waktu. Sayangnya, internet yang biasa disebut dunia maya ini membuat anak-anak dapat mengakses materi pornografi yang merusak moral. Banyaknya situs pornografi lokal dan internasional yang ada di internet telah membuat banyak pihak, terutama orang tua, khawatir dengan perkembangan anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa. Penulis melihat diperlukannya upaya yang sistematis dan terkontrol untuk melindungi anak-anak dari pornografi di internet. Upaya ini harus mempertimbangkan definisi konten pornografi, kebijakan hukum dan perundangan terkait pornografi di Indonesia, dan pentingnya berfokus pada anak-anak. Kata Kunci: pornografi, internet, anak-anak, hukum, sistem perlindungan Internet has opened a new sky towards science and technology in the world. With internet, computers everywhere in the world can connect and communicate each other now. People, either old or young, are able to access various informations without recognizing border and time. Unfortunately, internet also makes children can access pornographic content that ruins moral. The number of local and international porn sites on the internet has made many people, especially parents, concerned with the development of their children who are the future generation. The writer sees the need of a systematic and controlled efforts to protect children from pornography on the internet. This efforts sought to consider definition of pornographic content, law policy and legislation related to pornography in Indonesia, and the importance to focus on children. Key Words: pornography, internet, children, law, protection syste

    JEJAK KOMUNITAS TIONGHOA DAN PERKEMBANGAN KOTA BANDUNG

    Get PDF
    Hubungan Tiongkok dan Nusantara banyak tercatat pada naskah kuno Tiongkok. Warga Tionghoa beremigrasi ke Indonesia terutama karena alasan ekonomi di samping situasi domestik Tiongkok yang kacau. Mereka menumpang perahu niaga junk yang rutin berlayar antara pesisir Tiongkok Selatan dan Batavia. Ketika VOC membangun Batavia untuk pijakan awal di Pulau Jawa, para pendatang Tionghoa diperlukan kemampuannya membangun dan menghidupkan Batavia untuk menggerakkan roda perekonomian. Ketika imigran swakarsa Tionghoa membanjir tanpa terkendali, VOC menjadi gamang dan permukimannnya dipisahkan dikelompokkan berdasarkan etnis. Kelompok Tionghoa diatur oleh wijkenstelsel sehingga terbentuk ghetto chineesenwijk serta diawasi pergerakkannya dengan passenstelsel. Tujuannya untuk memudahkan pengawasan sambil tetap memanfaatkan kemampuan perdagangan perantara dan jaringan distribusi ke pedalaman. Etnis Tionghoa menjadi terisolasi dari masyarakat setempat dan dijadikan alat pemerintahan kolonial, tanpa harus menanggung biaya organik pemerintahan kolonial. Pada kawasan urban terjadilah pecinan yang intens bercorak budaya dan arsitektur khusus, berbeda dari kawasan lainnya. Pada kasus kota Bandung; awal daerah pecinan (yang tidak tegas batasannya) terbentuk di pusat kota di sekeliling stasiun kereta api, Pasar Baru, jalan raya utama (Groote Postweg dan Pasar Baroeweg). Mereka menyebar mengikuti perkembangan kota. Secara historis pecinan Bandung hanya mengalami pengaturan kolonial pada akhir abad 19 dan awal abad 20 setelah kawasan Priangan dinyatakan terbuka bagi imigran. Kata kunci : pecinan, wijkstelsel, passenstelsel, etnis Tionghoa. Referring to Chinese historical notes, plenty information mentioning ocean voyages between China and Southeast Asia. Migrations occurs related with domestic problems; hungers and wars. Leaving southern China coastal area by commercial junks. When VOC set up Batavia as their first beach head on Java island, Chinese sojourners are the driving force in construction and economic activity. The favourable conditions brought waves of uncontrollable Chinese migrants to Java. Worried Dutch colonial declared ethnic segregation living areas( wijkenstelsel) creating Chinese ghetthoes in every major Java island cities. Ruled travel permits requirement (passenstelsel) to control the inhabitant activities. VOC utilized Chinese networks for inland distribution while isolated them from local people, exploited as colonial tools without any expenses from governmental budget. Those ghettoes leaving at specific urban area with intense cultural color and architectural style, differed with other area. The case of Bandung city, no clear boundry showing Chinese ghetto (pecinan), Chinese dwelling just following the city growth. They settled around train stations, New(major) market, and main streets. Historically Bandung's Chinese settlement just short period under strict colonial regulation; the end of 19th and early 20th centuries. Only after Priangan recidency was declared free for foreigner to move in. Keywords : Chinese ghettoes (pecinan), wijkstelsel, traveling permit (passenstelsel), immigrant

    PERUBAHAN CARA PANDANG DAN SIKAP MASYARAKAT KOTA BANDUNG AKIBAT PENGARUH GAYA HIDUP DIGITAL

    Get PDF
    Perangkat digital kini telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat di kota besar, kota-kota kecil, dan perdesaan. Hal ini memunculkan gaya hidup yang relatif baru di Indonesia, yaitu gaya hidup digital. Masyarakat hidup dengan perangkat digital dan menjadikan perangkat digital sebagai bagian takterpisahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Gaya hidup ini telah mengubah kebiasaan masyarakat. Kini, banyak hal yang dulu dikerjakan dengan cara pergi, menghabiskan waktu dan jarak, kini dapat dilakukan dengan menekan tombol di perangkat digital saja. Gaya hidup digital ini memiliki banyak dampak, baik dampak positif maupun dampak negatifnya. Penelitian ini difokuskan kepada gaya hidup digital di masyarakat kota Bandung dan dampaknya bagi perubahan sikap, mental, dan cara pandang mereka. Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa gaya hidup digital telah menjadi bagian takterpisahkan dalam kehidupan masyarakat kota Bandung. Selain itu, gaya hidup digital juga telah banyak mengubah tatanan hidup, sikap, mental, dan cara pandang masyarakat. Kata kunci: teknologi digital, gaya hidup digital, mental, sikap, cara pandang, perangkat digital, perubahan Digital devices have now become a part of people's daily lives in big cities, small towns, and rural areas. This has triggered a relatively new way of life in Indonesia, the digital lifestyle. The community lives with digital devices and makes them inseparable parts of their daily lives. Lifestyle has changed the habits of the people. Now, a lot of things that used to be done by going, spending time and reaching distance, can now be done by pressing the button on digital devices only. The digital lifestyle has a lot of impact, either positive or negative. This study focuses on the digital lifestyle in the city of Bandung and the implications for changes in attitudes, mental, and their point of views. It was found that the digital lifestyle has become an inseparable part of people of Bandung. In addition, the digital lifestyle has also significantly changed the order of life, attitude, mental, and public perception. Keywords: digital technology, digital lifestyle, mental attitude, outlook, digital devices, chang

    PENDIDIKAN ANTIKORUPSI SEBAGAI SATUAN PEMBELAJARAN BERKARAKTER DAN HUMANISTIK

    Get PDF
    Era mutakhir yang modern, era global, berteknologi tinggi, serba digital, yang ditandai dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan telah mendorong manusia seperti mesin yang tidak punya hati, tidak memiliki rasa kemanusiaan, tidak memedulikan lingkungan sekitarnya, dan justru dipenuhi oleh ketidakjujuran, manipulasi, kekerasan, saling sikut, dan tidak punya hati nurani. Oleh sebab itu, pendidikan harus dikemas dengan muatan yang berperspektif integritas dan humanistik. Pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai aktivitas atau kegiatan belajar-mengajar di kelas saja. Pendidikan haruslah mengacu kepada berbagai proses dan aktivitas yang harus bersifat produktif, kreatif, pengembang skill, kepribadian, integrasi, keprimaan, sampai pengokoh moral dan spiritual. Pendidikan harus diarahkan dan dikelola dengan tujuan yang jelas, yaitu mampu mengembangkan nilai-nilai positif pada peserta didik. Melalui pendidikan, harus dapat memunculkan sosok-sosok yang memiliki karakter dan kepribadian yang kokoh dan teruji, baik dalam bidang keilmuan maupun dalam bidang kemanusiaan. Pendidikan antikorupsi sejalan dengan pendidikan yang berkarakter dan humanistik mulai gencar diwacanakan oleh pemerintah. Selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak peserta didik, pendidikan antikorupsi dan humanistik diharapkan mampu menjadi fondasi utama dalam pembentukan jati diri yang jujur dan berparadigma Pancasila serta UUD 1945 sesuai dengan UU No. 20, Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jika pendidikan antikorupsi dan humanistik sudah menjadi orientasi dan tujuan pembelajaran, tentu sekolah akan menjadi tempat penyemaian budaya kejujuran. Bukan hanya melahirkan generasi penerus yang pandai secara intelektual, emosional, dan spiritual, tetapi juga memiliki kepribadian yang berkarakter, berintegritas, dan bertanggung jawab. Upaya pemberantasan korupsi tidak dapat diselesaikan secara instan. Langkah preventif yang dapat dilakukan untuk mengurangi bahaya laten ini, hendaknya dimulai dari lembaga yang sifatnya laten pula yaitu proses pembelajaran di lembaga pendidikan. Demikian juga di satuan pendidikan tinggi, perguruan tinggi dan mahasiswa diharapkan berperan aktif mencegah korupsi dengan berperan sebagai agen perubahan dan motor penggerak utama dalam gerakan antikorupsi di masyarakat. Kata kunci: pendidikan antikorupsi, satuan pembelajaran berkarakter, humanistic The modern global era, which is equipped with high technology, digitalized and characterized by the development of science, has driven humans like heartless machines that do not have any senses of humanity, do not care of the environment, and filled with dishonesty, manipulation, violence, nudge each other, and do not have any consciences instead. Hence, education has to be packed with loads of integrity and humanistic perspective. Education should not be interpreted as an activity of teaching and learning in classroom, yet should refer to various processes and activities that are productive and creative, improve skills, personality, integrity, and fitness. It should be directed and managed with clear purposes. In addition, education should be able to spawn figures who have qualified personality, not only in the field of science but also in humanity. Anticorruption education is on the same page with the humanistic education which is started to be proclaimed by the government rapidly. Aside from being a part of the process of students' morale formation, character and humanistic education is expected to be able to be a primary foundation in the character building which is honest and has the paradigm of Pancasila and UUD 1945 according to UU No. 20 year 2003 about National Education System. If this kind of education has been an orientation and aim of the learning process, the school will definitely become a place to seed the honesty habit. It engenders the next generation who is not only smart in intellectual but also has good outlook according to the highest standard of behavior. The efforts to get the rid of corruption cannot be completed instantly. Preventive attempt done to reduce this ulterior harm should be started from the learning process in the education institution. Similarly, in units of higher education, college and university students are expected to play an active role to prevent corruption by acting as an agent of change and a major driving force in the anti-corruption movement in society. Keywords: anti-corruption education, characterized learning units, humanisti

    Laut Kita: Dulu, Kini, Dan Nanti

    Get PDF
    Buku Tahun 1511: Lima Ratus Tahun Kemudian adalah buku yang sangat menarik di dalam kenyataan jarangnya buku di Tanah Air yang membahas laut dengan segala halihwalnya. Buku ini ditulis Laksamana Madya TNI Y. Didik Heru Purnomo bersama para wartawan dari berbagai pelosok Tanah Air. Buku ini memaparkan berbagai pandangan dan pengalaman para wartawan dari berbagai daerah tentang pengalaman yang mereka temui, alami, lihat, dan dengar mengenai laut. Selain itu, ada juga tulisan-tulisan yang berisi faktafakta penelitian yang diperoleh dari lapangan

    CITRA PEREMPUAN SUNDA DI DALAM KARYA SASTRA DAN FILM

    Get PDF
    Perempuan Sunda digambarkan melalui beberapa media yaitu karya sastra dan film. Di dalam karya sastra perempuan Sunda digambarkan memiliki kecantikan dan kecerdasan. Hal itu digambarkan melalui tokoh Dayang Sumbi dalam cerita rakyat Sangkuriang. Sementara itu di film, perempuan Sunda digambarkan melalui tokoh Nyi Iteung dalam film-film Si Kabayan. Nyi Iteung digambarkan sebagai perempuan yang memiliki kecantikan lokal dengan karakter polos dan sederhana. Akan tetapi, penggambaran tokoh Nyi Iteung di film mengalami transformasi pada film Si Kabayan Jadi Milyuner. Di film tersebut, Nyi Iteung tidak lagi digambarkan sebagai perempuan Sunda yang memiliki kecantikan khas lokal dan karakter polos dan sederhana. Akan tetapi, Nyi Iteung digambarkan sebagai perempuan yang memiliki kecantikan internasional (dengan pemeran Nyi Iteung berwajah indo) dengan karakter perempuan masa kini yang sibuk dan modern. Kata Kunci: perempuan, Sunda, citra, Dayang Sumbi, Nyi iteung, film Women of Sunda portrayed in the media through some works of literature and film. In the literature have described the female of Sunda has a beauty and intelligence. This is illustrated by the figures Dayang Sumbi in folklore Sangkuriang. Meanwhile in the film, Nyi Iteung illustrated by figures in the films Si Kabayan. Nyi Iteung described as a woman who has a local beauty with character plain and simple. However, the depiction of character in the movie Nyi Iteung transformed on film Si Kabayan Jadi Milyuner. In the film, Nyi Iteung no longer portrayed as a woman who has beauty local specialties and character plain and simple. However, Nyi Iteung described as a woman who has an international beauty (with indo-looking actor) with the character of busy women and modern. Key words: women, Sunda, images, Dayang Sumbi, Nyi Iteung, fil

    EDITORIAL

    Get PDF
    Pada edisi ini, Jurnal Sosioteknologi memuat tujuh artikel dan satu resensi buku. Infrastruktur merupakan hal yang sangat penting di dalam pengembangan sebuah wilayah dan masyarakat. Pembangunan infrastuktur ini akan menopang sendi-sendi kehidupan lainnya. Pembangunan infrastruktur ini berkaitan erat dengan persoalan-persoalan dasar seperti pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, persoalan lingkungan, sosialbudaya, dan seterusnya. Oleh sebab itu, dalam edisi ini kami sajikan artikel-artikel yang ditulis oleh A.Adib Abadi, Dicky R. Munaf, Muhammad Fadhil Imansyah, Ernawati yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur dan dampak sosialnya. Selain itu, kami menyajikan juga tiga artikel yang berkaitan dengan dampak lain pembangunan infrastuktur komunikasi dan munculnya internet. Ketiga artikel yang ditulis oleh Yeni Mulyani Supriatin, Moh. Ikhsandana Hasahatan Siregar, Ventje Jeremias Lewi Engel ini membahas dampak-dampak sosial akibat adanya internet. Munculnya kritik sastra cyber, pornografi, dan kemungkinan-kemungkinan pengenalan budaya Indonesia adalah dampak lain dari pembangunan infrastruktur komunikasi. Di akhir, kami menyajikan resensi buku Tahun 1511: Lima Ratus Tahun Kemudian

    MASYARAKAT INFORMASI DAN DIGITAL: Teknologi Informasi dan Perubahan Sosial

    Get PDF
    Cyberspace telah mengalihkan berbagai aktivitas manusia (politik, sosial, ekonomi, kultural, spiritual, seksual) di "ždunia nyata"Ÿ ke dalam berbagai bentuk substitusi artifisialnya, sehingga apapun yang dapat dilakukan di dunia nyata kini dapat dilakukan dalam bentuk artifisialnya di dalam cyberspace. Cyberspace menciptakan sebuah kehidupan yang dibangun sebagian besar"”mungkin nanti seluruhnya"”oleh model kehidupan yang dimediasi secara mendasar oleh teknologi, sehingga berbagai fungsi alam kini diambil alih oleh substitusi teknologisnya, yang disebut kehidupan artifisial (artificial life). Pengaruh cyberspace terhadap kehidupan sosial setidak-tidaknya tampak pada tiga tingkat: tingkat individu, antarindividu, dan komunitas. Pertama, pada tingkat individual, cyberspace telah menciptakan perubahan mendasar terhadap pemahaman kita tentang 'identitas'. Kedua, pada tingkat antar-individual, perkembangan komunitas virtual di dalam cyberspace telah menciptakan relasi-relasi sosial yang bersifat virtual di ruang-ruang virtual : virtual shopping, virtual game, virtual conference, virtual sex dan virtual mosque. Ketiga, pada tingkat komunitas, cyberspace diasumsikan dapat menciptakan satu model komunitas demokratik dan terbuka yang disebut Rheingold 'komunitas imaginer' (imaginary community). Di dalam era artifisial dewasa ini, berbagai ruang sosial yang ada di dunia nyata, kini dapat dicarikan substitusinya di dalam dunia informasi digital, dalam wujudnya yang artifisial, yaitu wujud simulasi sosial (social simulation). Cyberspace adalah sebuah ruang utama yang di dalamnya berbagai simulasi sosial menemukan tempat hidupnya. Kata kunci: cyberspace,artificial life, perubahan, simulasi sosial, komunitas imaginer, dunia maya, informasi digital Cyberspace has transferred various human activities (political, social, economic, cultural, spiritual, sexual) in the 'real world' into the various forms of artificial substitutes, and therefore anything that can be done in the real world can now be done in the form of artificial in cyberspace. Cyberspace creates a life that is, later, built mostly- perhaps entirely- by the model of life that is fundamentally mediated by technology, hence the natural functions now taken over by technological substitutes, called artificial life. The influence of cyberspace on social life is obvious at, at least, three levels: the individual, inter-individual, and communities. First, at the individual level, cyberspace has created a fundamental change to our understanding of 'identity'. Second, at the inter-individual level, the development of virtual communities in cyberspace has created social relations that are virtual in virtual spaces: virtual shopping, virtual games, virtual conferences, virtual sex and virtual mosque. Third, at the community level, cyberspace is assumed to be able to create a model of democratic and open a community that Rheingold called 'imaginary community'. In the era of artificial these days, a variety of social spaces that exist in the real world, can now be substituted in the world of digital information, in its artificial form, i.e. a form of social simulation. Cyberspace is a primary space in which a variety of social simulations find their home. Keywords: cyberspace, artificial life, change, social simulation, imaginary community, virtual world, digital informatio

    470

    full texts

    592

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sosioteknologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇