Jurnal Sosioteknologi
Not a member yet
    592 research outputs found

    FENOMENA BAHASA BALIHO SEBAGAI IDENTITAS DIRI TOKOH CERMINAN KARAKTER BUDAYA : KAJIAN SEMIOTIKA

    Get PDF
    Keyakinan dan ide-ide sering diiklankan di billboard melalui bahasa dan simbol. Oleh karena itu, keyakinan dan ide-ide pada billboard dapat diteliti dengan menggunakan analisis tekstual. Billboard dapat dianggap sebagai salah satu kekayaan budaya dan oleh karena itu tidak dapat dipisahkan dari aspek identitas, yang dibentuk melalui ideologi dan dapat dibangun melalui kesadaran perilaku individu. Teks billboard tampak sederhana tetapi dapat ditafsirkan ke dalam berbagai tingkatan dan makna. Selama proses membaca billboard, peran "mengundang" dan "mengundang" bisa menjadi "memerintah" dan "yang diperintah". Bahasa billboard mungkin membuat orang tidak ekspresif dan non-eksperimental tetapi dapat menghasilkan bahasa ekspresif yang dapat membawa pencerahan dan kecerdasan. Bahasa "žterlihat"Ÿ dan "žtak terlihat"Ÿ tidak bisa menghindari penafsiran sederhana atau terkendali dan bahkan makna ganda karena bahasa pada billboard menggunakan gaya bahasa hiperbola atau melebih-lebihkan gaya. Teks-teks billboard juga dikemas dalam simbol dan tanda yang tidak berubah-ubah. Melalui semiotika, aspek tanda dan simbol yang tersembunyi dalam bahasa billboard dapat direpresentasikan dan di analisis secara rinci. Pendekatan semiotika menjelaskan hubungan antara satu tanda dengan tanda lain yang mewakilinya. Selain itu, ada posisi yang sama antara representasi dari apa yang tersedia dan representasi apa yang tidak tersedia, antara "mewakili apa yang ada" dengan "apa yang tidak ada", yang diwakili". Kata kunci: bahasa billboard, identitas, perilaku, semiotik, tanda dan simbol Beliefs and ideas are often advertised on billboards, delivered through languages and symbols. Therefore, beliefs and ideas on billboards could be examined by using a textual analysis. Billboards could be considered as one of cultural properties hence it cannot be separated from the identity aspects, which are shaped through ideology and can be built through the awareness of individual behaviors. Billboard texts seem simple but they can be interpreted into many levels and meanings. During the billboard reading process, the roles of "inviting" and "invited" can become "to rule" and "being ruled". The billboard language might make people unexpressive and non-experimental, but it can also produce expressive language that can bring enlightenment and intelligence. The visible and invisible language cannot avoid a simple or restrained interpretation and even numerous meanings because a billboard uses a hyperbole or exaggerating style. The billboard texts are also wrapped up in symbols and signs that are not changeable. Through semiotics, sign aspects and symbols hidden in billboard language are represented and can come into another detailed analysis. Semiotic approach applies its righteousness and then explains the relationship between a sign and another sign that represents it. In addition, there is a similar position between the representation of what is available and the representation of what is not available, between "represent what exists" with" what non-existing" what is "being represented". Keywords: billboard language, identity, behavior, communication, semiotic, signs and symbols

    KAJIAN MORALITAS TEKNOLOGI PINTU PERLINTASAN KERETA API (Studi Kasus: Pintu Perlintasan Kereta Api Cikudapateuh Bandung)

    Get PDF
    Kecelakaan kereta api merupakan salah satu peristiwa transportasi yang sering terjadi di Indonesia. Salah satu permasalahan yang mengemuka adalah persoalan pintu perlintasan kereta. Kecelakaan yang sering terjadi di sekitar pintu perlintasan disebabkan kelalaian petugas penjaga pintu atau sikap dari para pengemudi yang nekat. Faktor manusia dan teknologi sering menjadi sorotan dalam banyak kasus kecelakaan kereta api. Konsep mengenai determinisme teknologi dan konstruksi sosial memang merupakan dua kutub yang seolah-olah saling berlawanan dalam melihat suatu fenomena teknologi. Tulisan ini membahas bagaimana suatu pintu perlintasan kereta api dipandang sebagai salah satu unsur teknologi yang berperan penting dalam menjaga keselamatan manusia. Kajian ini mengamati faktor manusia dan nonmanusia dalam melihat moralitas teknologi pintu perlintasan kereta api di Cikudapateuh, Bandung. Kata Kunci: teknologi, moralitas, pintu perlintasan kereta api, transportasi Train wreck is one of the transportation accidents that often occur in Indonesia. One of the problems that often arise is that of railroad crossings due to negligence of the officers in charge or to reckless motorists. Human factors and technology are often in the spotlight in many cases of train accidents. The concept of technological determinism and social construct is a two-seemingly-contradictory view of technological phenomena. This paper outlines how rail crossings are viewed as an element of technology that plays an important role in human safety. This study observes human and non-human factors in perceiving the morality of railroad crossings technology in Cikudapateuh, Bandung. Keywords: technology, morality, railway crossings, transportatio

    Dunia Forensik Itu Lucu: Sebuah Rekam Jejak dr. Abdul Mun‟im Idries, Sp.F

    Get PDF
    Buku dengan judul Dunia Forensik Itu Lucu: Sebuah Rekam Jejak dr. Abdul Mun’im Idries, Sp.F merupakan buku yang men-jelaskan berbagai cerita tentang kiprah dokter forensik terkemuka Indonesia dr. Mun‟im Idries dalam rentang waktu 40 tahun pengab-diannya. Buku ini mengisahkan banyak cerita yang belum pernah diungkapkan ke publik. Buku yang bergenre semibiografi ini memiliki mutu yang tinggi karena ditulis sebelum dr. Mun‟im Idries menghadap sang Khalik

    EKSPERIMEN TEORI HUMAN CENTERED DESIGN PADA ELEMEN FISIK TAMAN KRESNA KOTA BANDUNG

    Get PDF
    Fenomena pendekatan perancangan kota yang banyak dilakukan saat ini jarang mengakomodasi keberagaman struktur sosiokultural yang telah terbentuk di kawasan tersebut. Para perancang taman lebih sering melihat taman kota sebagai benda fisik (physical artifact) dibandingkan sebagai benda budaya (cultural artifact). Masih ditemukan kesenjangan perangkat rencana taman kota, yaitu kesenjangan antara rencana tata ruang yang bersifat dua dimensi dan rencana fisik yang bersifat tiga dimensi. Teori human centered design dengan pendekatan partisipatif berpeluang mengembangkan dan menjamin suatu komunitas sosial yang memungkinkan terjadinya proses belajar dari masyarakat untuk beradaptasi dan berintegrasi dengan lingkungannya. Teori Human Centered Design memiliki tiga perspektif utama, yaitu desirability, feasibility, dan viability. Fleksibilitas adalah kata kunci ketika mengaplikasikan teori human-centered design ke dalam desain taman kota. Titik tekan lingkaran dalam teori human-centered design pada kasus Taman Kresna memiliki porsi yang berbeda dengan kondisi ideal. Desain model yang diaplikasikan masih memuat banyak kekurangan terutama proses aplikasi dengan studi kasus. Kata kunci : teori human centered design, elemen fisik, taman kresna The phenomenon of urban design approach that is currently done rarely accommodates the diversity of socio-cultural structures formed in the region. The designers of the parks often see city parks as physical artifacts rather than as cultural artifacts. However, there was still a gap between the tools of spatial plan, i.e. the two-dimensional spatial plans and the three-dimensional physical plans. The theory of human-centered design with a participatory approach provides the opportunity to develop and guarantee a social community that allows the learning process for the society to adapt and integrate with their surroundings. The theory of Human-Centered Design has three main perspectives: desirability (demand), feasibility (eligibility) and viability (sustainability). Flexibility is the keyword when applying the theory of human-centered design into the design of urban parks. The focus of the theory of human-centered design in the case of Taman Kresna has a portion different from the ideal condition. The applied model design still has weaknesses especially in term of the process of its application to the case study. Keywords: human centered design theory, physical element, kresna par

    MITOS NAMA ASING DI DALAM PENAMAAN KOMPLEKS PERUMAHAN DI WILAYAH PERKOTAAN

    Get PDF
    Di Indonesia, sejak tahun 1990-an, muncul fenomena penamaan kompleks dengan nama asing yang mencapai puncaknya beberapa tahun terakhir. Perumahan yang menggunakan nama asing dapat dikategorikan menjadi beberapa kelompok yaitu menggunakan nama asing sepenuhnya, menggunakan gabungan nama daerah dan bahasa asing, menggunakan gabungan nama dalam bahasa Indonesia dengan bahasa asing, dan menggunakan nama kota di luar negeri. Penggunaan nama asing ini merupakan mitos, sebuah tipe wicara yang khusus. Penamaan ini menawarkan cara berbicara yang berbeda untuk objek yang sebenarnya sama. Penamaan kompleks dengan nama asing mengesankan ekslusivitas, kebahagiaan, prestise, dan seterusnya. Mitos nama asing pada kompleks perumahan ini menawarkan kepercayaan dan cara hidup yang baru pada masyarakat. Ketika kepercayaan ini kemudian menjadi kesadaran kolektif dalam jangka waktu lama, hal ini akan berubah menjadi ideologi, yakni ideologi konsumerisme. Pada saat yang bersamaan, mitos nama asing ini membuat segmentasi kota di antara para warganya semakin tegas. Kompleks perumahan dengan nama asing ini diperuntukan bagi kelas tertentu, dengan gaya dan cara hidup tertentu, dengan tingkat ekslusivitas tertentu yang berbeda dengan masyarakat di luar kompleks tersebut. Kata kunci: mitos, nama asing, kompleks perumahan, ideologi, konsumerisme In Indonesia, there has appeared the phenomenon of naming housing complexes with foreign names since the 1990s until its peak in the last few years. Housing complexes with foreign names can be categorized into several groups: those fully using foreign names, combining names of the regions and foreign names, combining names in Indonesian language and foreign names, and using names of cities abroad. The use of foreign languages in naming housing complexes is a myth, a particular type of speech. It offers a different manner of talking about the same objects. The foreign languages used in naming the housing complexes give an impression of exclusivity, happiness, prestige, etc. The myth of using foreign names for housing complexes offers new beliefs and ways of life among the communities. When these have become a belief of collective awareness for a long time, it will turn into an ideology, a consumerism ideology. At the same time, the myth of using foreign names in housing complexes confirms the segmentation of cities among the dwellers. Housing complexes with foreign names are earmarked for a particular class, style and way of life, different from the community outside the housing complexes. Keyword: myth, foreign name, housing complex, ideology, consumeris

    SOSIOKULTUR SEBAGAI BASIS PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

    Get PDF
    Sejarah membuktikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi inheren dengan perkembangan sosiokultural masyarakat. Lebih konkretnya, terdapat hubungan yang signifikan antara formasi kerangka institusional dengan laju perkembangan teknologi dan produksi. Makalah ini mengkaji hubungan antara perkembangan sosiokultural dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam sebuah negara yang pada gilirannya berpengaruh terhadap kemajuan bangsa. Berkaitan dengan hal itu, diperlukan komitmen semua pihak untuk melakukan revitalisasi kebudayaan yang berbasiskan nilai-nilai luhur bangsa yang sesuai dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Suatu strategi kebudayaan harus diorientasikan untuk menghadapi masa depan dengan segala masalah dan tantangannya. Dalam konteks ini, perlu dibuat tafsiran-tafsiran kreatif dan penyempunaan dari warisan budaya yang ada melalui pembelajaran interkultural. Selain itu, strategi kebudayaan harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Upaya pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai fenomena kebudayaan harus mampu meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Selanjutnya, strategi kebudayaan juga harus komprehensif, mencakup semua faktor budaya, yaitu manusia (anthropos), lingkungan (oikos), alat (tekne), dan komunitas (ethnos). Kata kunci: ilmu pengetahuan, teknologi, sosiokultural, kemajuan bangsa, strategi kebudayaan History proves that the development of science and technology is inherent with the socio-cultural development of the society. More concretely, there is a significant correlation between the formation of an institutional framework and the pace of technology development and production. This paper examines the relationship between the socio-cultural development and the advancement of science and technology in a country, which in turn affects the national progress. In this regard, it is necessary for all parties to be committed to revitalizing culture-based noble values that correspond to the demands of the nation's science and technology. A cultural strategy should be oriented at facing the future with all its problems and challenges. In this context, it is essential that creative interpretations and polishing cultural heritage to perfection be performed through inter-cultural learning. Then the cultural strategy should be directed to improve the quality of life. Efforts for developing science and technology as a cultural phenomenon should be able to increase the empowerment of the community in order to meet the physical and spiritual needs. Furthermore, cultural strategies must also be comprehensive, covering all cultural factors, i.e. men (anthropos), environment (oikos), tools (Tekne), and community (ethnos). Keywords: knowledge, technology, sociocultural, national progress, cultural strateg

    MEMAKNAI PESAN SPIRITUAL AJARAN AGAMA DALAM MEMBANGUN KARAKTER KESALEHAN SOSIAL

    Get PDF
    Adanya fenomena bahwa kesalehan individu kurang berdampak pada kesalehan sosial merupakan latar belakang kajian ini. Pilar agama Islam (Rukun Islam) tidak bisa dipahami hanya sebagai bentuk kewajiban ritual individual seorang muslim dengan Sang Khalik, melainkan juga mengandung maksud bahwa kelima hal itu menjadi suatu sarana membina hubungan sosial antara seorang muslim dengan orang lain, bahkan dengan makhluk lainya. Dengan kata lain, kewajiban menjalankan rukun Islam, memenuhi kewajiban spiritual seseorang (muslim) juga kewajiban sosial. Pada akhirnya hal tersebut akan membentuk karakter kesalehan sosial. Kelima rukun Islam tersebut secara sosiologis memberikan pemahaman bahwa di dalam menjalankan kewajiban ritual agama, seorang muslim hendaknya memenuhi aspek lainnya, yaitu membina hubungan harmonis dengan sesama manusia. Dengan demikian maka terciptalah keharmonisan hubungan secara vertikal dengan Sang Pencipta (hablum minallah), juga hubungan harmonis dengan manusia (hablum minannas). Jika kedua aspek sudah terpenuhi maka akan menjadi nyatalah perwujudan seorang insan kamil atau manusia sempurna. Kata kunci: manusia, insan, bani adam, kesalehan sosial The phenomena that individual piety has less impact on the social piety is the background of this study. The Five Pillars of Islam cannot be understood as a mere form of individual ritual obligation of a muslim to the Creator, but, more importantly, supports the notion that the Five Pillars are a means of fostering social relationship between a Muslim and other people, and even with other creatures. In other words, the obligation to implement the Pillars of Islam, fulfilling one's (muslim's) spiritual obligations, is also a social obligation. In the end, it will shape the character of the society's piety. The Five Pillars of Islam sociologically provide an understanding that in performing the obligation of religious rituals, a muslim must fulfill other aspects, namely fostering harmonious relationships with fellow human beings. Thus, it creates a harmonious relationship with the Creator vertically (hablum minallah) and also a harmonious relationship with other human beings (hablum minannas). If both aspects are met, there will be an obvious embodiment of a perfect man. Keywords : human beings, children of Adam, social piet

    TRANSITIVITY IN TELEPHONE CONVERSATION IN A BRIBERY CASE IN INDONESIA : A FORENSIC LINGUISTIC STUDY

    Get PDF
    Penelitian ini adalah sebuah kajian linguistik atas percakapan telepon dalam bahasa Indonesia pada kasus korupsi yang terjadi baru-baru ini, khususnya sebuah kasus penyuapan. Pendekatan linguistik pragmatis dan sistemik fungsional digunakan sebagai metode untuk mengungkapkan fakta-fakta yang ditemukan pada kasus penyuapan sebagai suatu jenis kasus hukum dalam studi Linguistik Forensik. Percakapan telepon dari dua jenis penyuapan dikumpulkan sebagai data penelitian ini. Data dianalisis secara semantis, pragmatis, dan sintaktis. Ditemukan bahwa para pelaku menggunakan beberapa kode tertentu untuk berkomunikasi. Mereka juga menggunakan cara tertentu untuk menyampaikan tindak tutur lokusi untuk mendapatkan ilokusi untuk mencapai efek perlokusi yang mereka inginkan. Banyak proses materi muncul pada transkrip percakapan telepon para pelaku (koruptor) yang menunjukkan tindakan yang mereka lakukan. Proses materi yang muncul dalam percakapan menunjukkan gejala bahwa permintaan langsung dilakukan oleh pihak yang lebih kuat kepada interlokutor untuk mempersiapkan bahan-bahan. Kata kunci : linguistik forensik, semantik, pragmatik, sintaksis, percakapan telepon, penyuapan This study applies linguistics to investigate telephone conversations on a recent corruption case, to be specific, a bribery, in Indonesia. A pragmatic and systemic functional Linguistic approach was used as the method to reveal the facts on a bribery as a type of legal case in forensic linguistic study. The telephone conversations on two different types of bribery were collected as the data of this research. The data were analyzed semantically, pragmatically, and syntactically. It was found that the perpetrators used some particular codes to communicate. They also used a certain way to convey locutions to get the illocution to achieve the effect of the perlocution they wanted. Many material processes appeared in the transcripts of the telephone conversations of the actors (corruptors) which show the actions performed by the actors. The material process that appears in the conversation suggests a direct request from the more powerful to prepare materials to the interlocutor. Keywords : forensic linguistic, semantics, pragmatics, syntax, telephone conversation, briber

    KAJIAN DIFUSI INOVASI KONVERGENSI MEDIA DI HARIAN PIKIRAN RAKYAT

    Get PDF
    Konvergensi media merupakan salah satu perkembangan media massa yang melibatkan banyak faktor teknologi di dalamnya. Kehadiran internet mendorong media massa menerapkan konsep konvergensi media seperti media online, e-paper, e-books, radio streaming, media sosial, dan lain-lain. Persaingan bisnis media menjadi salah satu faktor pendorong media massa menerapkan konsep ini karena perkembangan teknologi tidak hanya mengandalkan format cetak (koran, majalah, buku) semata. Inovasi konvergensi media dibutuhkan agar media massa mampu tetap bersaing di era bisnis dewasa ini. Sebagai salah satu bentuk inovasi, konvergensi media memerlukan berbagai proses dan tahapan dalam penerapannya. Tulisan ini akan menelusuri proses terjadinya difusi inovasi konvergensi media dengan objek penelitian harian Pikiran Rakyat. Penelitian secara kualitatif ini menggambarkan bagaimana konvergensi media mampu diadopsi oleh suatu media massa secara bertahap. Kata kunci: konvergensi media, difusi inovasi, media massa ABSTRACT The convergence of media is one of the developments of mass media that involve many technology factors in it. The existence of internet encourages the media to apply the concept of convergence of media such as online media, e-paper, e-books, radio streaming, social media, and others. Competition in media business is one factor driving the mass media to apply this concept because the mass media today does not merely rely on printted formats (newspapers, magazines, books) alone. Media convergence innovation is deemed necessary in order that the mass media be able to remain competitive in today's media business era. As one of the innovations in the mass media, media convergence requires a variety of processes and stages in the application. This paper will explore the process of diffusion of convergence innovation in the dailynews Pikiran Rakyat. This qualitative study describes how the media convergence is adopted by the mass media in stages. Keywords: media convergence, diffusion of innovation, mass medi

    SCHOOLING AND IDENTITY: AMERICAN MUSLIM’S ATTITUDE TOWARD ISLAMIC SCHOOLING

    Get PDF
    Penelitian ini mengkaji sebuah sekolah Islam yang terletak di Barat Daya Amerika Serikat. Dengan mempertimbangkan bahwa sekolah Islam di AS hanya melayani tiga persen dari jumlah total siswa Muslim nasional, rumusan masalah pada penelitian ini adalah pertanyaan yang timbul berkaitan dengan sikap Muslim Amerika terhadap sekolah-sekolah Islam. Penelitian ini dilakukan terhadap tujuh orang partisipan yang dikategorikan ke dalam tiga kelompok, yaitu staf akademik, orang tua, dan siswa. Untuk mengumpulkan data dilakukan observasi di sekolah dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan temuan bahwa sekolah Islam disikapi positif oleh semua partisipan. Sekolah ini dianggap sebagai tempat untuk mempersiapkan generasi muda Muslim yang siap berintegrasi ke dalam lingkungan yang lebih heterogen tanpa menjadi larut dan terbawa arus gelombang yang sedang berlangsung. Meskipun dianggap positif, masa depan pendidikan Islam masih dipertanyakan karena masalah keuangan yang tidak menjanjikan kelangsungan sekolah tersebut. Walaupun demikian, perlu dicatat bahwa jumlah Muslim di Amerika Serikat terus meningkat. Artinya, permintaan terhadap sekolah-sekolah Islam akan terus meningkat. Kata kunci: sekolah islam, muslim, pendidikan This study examined an Islamic school located in the Southwestern United States. By considering that Islamic schools in US only cater three percents of the total Muslim students nationwide, questions arised with regards to the attitude of American Muslims toward Islamic schools. Seven participants, who were classified into three groups, namely academic staffs, parents, and students, were recruited. To collect data, observations in the school and interviews were conducted. The findings showed that Islamic school was perceived positively by all participants. This is a place to prepare young generation of Muslims to integrate in a more heterogeneous environment without being melted in the mainstream wave. Even though perceived positively, the future of Islamic education is still questionable due to the financial problems which jeopardize the continuity of such schools. However, it is worth noting that the number of Muslim in the United States keeps growing, which means that the demand for Islamic schools will increase respectively. Keywords: islamic schools, muslim, educatio

    470

    full texts

    592

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sosioteknologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇