Jurnal Sosioteknologi
Not a member yet
    592 research outputs found

    POLA-POLA KOMUNIKASI DALAM KEBUDAYAAN DIGITAL

    Get PDF
    Artikel ini berisi kajian tentang relasi interaksional masyarakat di dunia virtual di Indonesia. Relasi tersebut dipahami telah membentuk sebuah kebudayaan tersediri, yakni kebudayaan di dunia virtual, yang dalam kajian ini disebut sebagai kebudayaan digital. Relasi interaksional yang dimaksud tidak lain adalah cara bagaimana informasi diproduksi, didistribusikan, dan dipertukarkan dalam proses komunikasi. Dengan menggunakan metode netnografi"” sebuah metode yang merupakan pengembangan dari etnografi menjadi "cyber-etnografi" atau etnografi virtual"”ditemukan beberapa pola tentang bagaimana proses komunikasi tersebut berlangsung, antara lain pola komunikasi berbasis "teman", komunikasi tanpa pengirim dan komunikasi berbasis tanda semiosis. Dasar dari semua pola itu adalah tradisi kelisanan yang sejak awal memang telah melekat menjadi semacam "DNA" kebudayaan Indonesia. Oleh sebab itu, komunikasi atau interaksi online dalam kebudayaan digital Indonesia tidak pernah menjadikan komunikasi face to face (kopi darat) tersisihkan. Alih-alih demikian, komunikasi dalam dunia online menjadi bagian dari proses menuju pada komunikasi face to face.  This article contains a study of interactional relations of people on the virtual world in Indonesia. The relationship is understood to have formed a particular culture, namely virtual culture, which is referred to as digital culture in this study. The interactional relations are the way in which information is produced, distributed, and exchanged in a communication process. Using netnography method "”a method developed from ethnography into "cyber-ethnography" or virtual ethnography"”, several patterns about how the communication process takes place were found. The patterns include communication based on "friends", communication without senders, and communication based on signs of semiosis. The basis of all these patterns is the oral tradition which has been inherited to be the "DNA" of Indonesian culture since long time ago. Thus, online communication or interaction in Indonesian digital culture has never made face to face communication (meet up) excluded. Instead, communication in the online world becomes a part of the process towards face to face communication. 

    Budaya Populer sebagai Kekuatan Produktif

    No full text
    Tulisan ini membahas pandangan John Fiske yang berkaitan dengan budaya populer. Pandangan John didasarkan atas pandangan tentang budaya populer pada umumnya bermuara pada dua cara pandang. Cara pandang pertama memiliki kesangsian terhadap budaya populer sehingga muncul pertanyaan kritis: dapatkah budaya populer dijadikan sarana untuk melakukan wacana tanding terhadap budaya elit? Pandangan ini muncul karena para pemikir tersebut menganggap bahwa budaya populer tidak lebih sebagai budaya yang menjadi tunggangan kapitalisme sehingga mengharapkan budaya populer memiliki sikap kritis adalah hal yang utopis. Pandangan kedua memiliki harapan positif terhadap budaya populer karena memandang bahwa budaya populer merupakan arena yang terbuka bagi pertarungan ideologis. Oleh karena itu, budaya populer dapat dijadikan alat perjuangan melawan kelas elite. Dalam kapasitas tertentu, secara politis budaya populer dapat dijadikan kekuatan produktif untuk melawan sistem kekuasaan yang opresif

    Pengalaman Prostesis Digital pada Penonton Vlog Kecantikan

    Get PDF
    Penelitian ini membahas cara vlog kecantikan memproduksi pengalaman prostesis digital pada tubuh subjek penelitian. Permasalahan tersebut didudukkan dalam kerangka teoretis tentang cyborg sebagaimana yang digagas Haraway. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa prostesis digital berfungsi sebagai (1) perpanjangan tubuh, (2) alternatif pengalaman bertubuh, dan (3) medium untuk memproyeksikan citra diri yang dihasrati ke tubuh digital. Sebagai tubuh alternatif prostesis digital menyediakan sensasi menggunakan produk kecantikan dan penampilan makeup yang tidak digunakan subjek penelitian pada kehidupan sehari-hari. Sebagai perpanjangan tubuh prostesis digital memungkinkan subjek penelitian menyambungkan tubuhnya dengan tubuh beauty vlogger keturunan Arab yang diidealkan sehingga mengimplikasikan adanya ideologi kecantikan normatif yang ditubuhi oleh beauty vlogger keturunan Arab

    SHARED SPACE AND CULTURE OF TOLERANCE IN KAMPUNG SETTLEMENTS IN JAKARTA

    Get PDF
    Togetherness and tolerance are among Indonesian traditional cultures which are rarely found in urban society today. The research conducted tried to explore the life of kampung settlements in the center of Jakarta in the era of the 1960s - 1990s, and how the population with a rural background built value of togetherness in the middle of a fast growing city which constantly changes. The study is a historical search to observe the metamorphosis of space and the impact on the pattern of society. The research methodology is carried out through archival and literature studies, followed by field observations and interviews with related actors. The study revealed that in the midst of limited space, the alley as a public space in the kampung, no longer acts just as roads and boundaries between houses, but has shifted into the extention of the house and a shared space for people. The boundaries of private and public areas are blurred in the alley and residents apply the rules of tolerance in using space. After all the alley becomes a binding space between residents Kebersamaan dan toleransi adalah budaya tradisional Indonesia yang sudah jarang ditemukan pada masyarakat perkotaan saat ini. Penelitian ini mencoba melacak kehidupan permukiman kampung di pusat Jakarta pada era 1960- 1990-an dan menelusuri bagaimana penduduk dengan latar belakang pedesaan membangun nilai kebersamaan di tengah kota yang tumbuh dengan cepat dan terus berubah. Penelitian ini merupakan telaah sejarah untuk mengamati metamorfosa ruang dan dampaknya pada pola kehidupan sosial masyarakat. Metodologi penelitian dilakukan melalui studi arsip dan literatur yang dilengkapi dengan observasi lapangan serta wawancara dengan para aktor terkait. Penelitian mengungkapkan bahwa di tengah ruang yang terbatas, ruas gang sebagai area publik di permukiman tidak hanya berfungsi sebagai ruas jalan maupun pembatas antarrumah, melainkan telah menjadi area perluasan rumahrumah penduduk dan ruang berbagi antarwarga. Batas-batas antara area privat dan publik telah menjadi kabur, aturan penggunaan gang ditetapkan berdasarkan azas toleransi. Pada akhirnya gang menciptakan ikatan-ikatan antarwarga dan membangun kebersamaan penduduk

    FAKTOR-FAKTOR SOSIAL EKONOMI PENENTU ADOPSI LONG TERM EVOLUTION (LTE) DI INDONESIA

    Get PDF
    Penelitian-penelitian sebelumnya telah membuktikan dampak positif adopsi layanan pitalebar terhadap perubahan sosial dan pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut mendorong pemerintah Indonesia untuk menyusun dan menetapkan rencana pitalebar Indonesia (RPI) yang berisi panduan dan arah pembangunan pitalebar nasional. Namun demikian, upaya-upaya yang dilakukan lebih banyak kepada strategi pencapaian dari sisi suplai, sedangkan upaya untuk meningkatkan dan memetakan permintaan kurang mendapat perhatian. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor sosial ekonomi yang dapat menjelaskan adopsi LTE, sebagai salah satu teknologi pitalebar, di Indonesia. Penelitian ini juga menyertakan variabel konsumsi paket data dan tipe berlangganan sebagai variabel penjelas ke dalam model yang diusulkan. Pengumpulan data dilakukan melalui survei yang dilaksanakan Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya, Perangkat, dan Penyelanggaraan Pos dan Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika pada tahun 2016. Kami menggunakan analisis statistik deskriptif untuk menggambarkan profil responden dan analisis logistik biner untuk menguji signifikansi statistik perbedaan sosial ekonomi dalam kaitannya dengan adopsi layanan berbasis teknologi LTE di Indonesia. Hasil analisis menunjukkan jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat perekonomian, dan tipe berlangganan memiliki peran penting dalam menjelaskan adopsi layanan pitalebar bergerak, khususnya adopsi layanan berbasis teknologi LTE.  Some previous studies have found that there are positive impacts of the broadband adoption on social change and economic growth. Those findings have prompted the Indonesian government to develop and stipulate the Indonesian Broadband Plan which contains guidelines and directions for national broadband development. However, the efforts are more devoted to the achievement strategy of supply side. Meanwhile, demand side gets insufficient attention. This paper seeks to fulfill this gap by investigating the socioeconomic attributes that explain the LTE adoption, as one of the broadband technologies, among Indonesian society. We also include monthly data consumption and subscription type as explanatory variables to the proposed model. Data collection was carried out through a survey by the Research and Development Center for Post and Informatics, Ministry of Communication and Information Technology in 2016. We utilize descriptive statistical analysis to describe respondents' profile, and binary logistic regression analysis to examine the statistical significance of independent variables against the dependent variable. The study confirmed that gender, education, economic level, and subscription type have a significant role in explaining the adoption of the new emerging mobile broadband service, especially the adoption of LTE based service in Indonesia

    TEXTING CULTURE DAN PERILAKU EMPATI DI ERA MEDIA BARU: MEMAHAMI EKSPRESI BELASUNGKAWA DI WHATSAPP

    Get PDF
    WhatsApp telah melahirkan budaya spesifik untuk mengekspresikan belasungkawa berbasis teks, grafis, dan semacamnya sehingga perilaku empati mengalami transformasi akibat pengaruh teknologi, khususnya dalam konteks masyarakat Indonesia kontemporer. Dengan menggunakan metode studi kasus, data diperoleh dengan cara survei dan wawancara pada 130 orang informan. Hasil penelitian menyatakan belasungkawa di WhatsApp sebagai bagian dari texting culture telah berakibat pada transformasi perilaku empati karena tidak merepresentasikan aspek psikomotik sebagai salah satu aspek perilaku empati. Namun demikian, ekspresi ini tetap memperlihatkan signifikansinya sebagai bentuk ikatan sosial, terlebih dalam konteks budaya media.  WhatsApp has emerged a specific culture to express condolences based on text, graphics, etc. so that empathy behavior undergoes a transformation due to technology, particularly in contemporary Indonesian society. Utilizing case study, data were obtained by survey and interview with 130 informants. Based on the data, it can be seen that the expression of condolence on WhatsApp as a part of texting culture has transformed the empathy behavior since it does not represent the psychomotoric aspect of empathy behavior. However, this expression still shows its significance as a form of social cohesion, especially in the context of media culture.

    SMART SURVEILLANCE DAN KETERATURAN SOSIAL (STUDI KASUS IMPLEMENTASI SMART CITY DI KOTA BANDUNG)

    Get PDF
    Studi tentang pengawasan (surveillance) telah berkembang dari konsep panopticon yang rigid ke konsep yang lebih halus dan cair. Konsep dan implementasi surveillance ini berkaitan erat dengan upaya menciptakan keteraturan sosial. Penelitian ini membahas konsep smart surveillance yang merupakan suatu jenis pengawasan dengan memanfaatkan sistem teknologi dalam kaitannya dengan upaya menciptakan keteraturan sosial di masyarakat, khususnya masyarakat di perkotaan. Penelitian ini dibangun berdasarkan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus untuk memperdalam masalah dan menangkap maknamakna di lapangan secara holistik dan komprehensif. Pengumpulan data dilakukan melalui serangkaian observasi dan wawancara mendalam serta ditunjang dengan studi literatur. Lokasi penelitian bertempat di Kota Bandung yang merupakan salah satu pionir implementasi smart city di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan teknologi surveillance di Kota Bandung terbukti efektif dan efisien dalam menciptakan keteraturan sosial. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan teknologi surveillance dalam bentuk CCTV telah berhasil menciptakan keteraturan dengan memanfaatkan CCTV untuk mengawasi, memahami pola aktivitas para pelanggar untuk kemudian dilakukan penindakan. Dengan demikian teknologi telah menjadi perangkat kontrol dalam rangka menciptakan keteraturan sosial di perkotaan.  The study of surveillance has been evolved from the rigid panopticon concept to the more fluid one. The concept and implementation of surveillance are contributed to establish social order. This research mainly discusses about smart surveillance concept, one kind of surveillance that uses technological system in order to establish social order in society, particularly on urban society. This research is conducted on a qualitative approach by case study to get the deeper understanding of problems and to get the comprehensive and holistic means that showed in surveillance implementation. The data was collected by observation and indepth interview, which also supported by literature study. The location of this study is located in Bandung City, which is one of the pioneers of the implementation of smart city in Indonesia. The results of the study showed that implementation of surveillance technology in Bandung City has proved to be effective and efficient in order to establish social order in society. This study has also shown that there's a transformation of social control instrument, where the role of traditional belief and social norm to maintain social order has been replaced by technological system

    DETERMINATION OF SEA BOUNDARIES FROM THE PERSPECTIVE REGION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA

    Get PDF
    The Djuanda Declaration was proclaimed on December 13, 1957, but it was only in 2000 that an obligationwas issued for the Government of the Republic of Indonesia to determination of sea boundaries as stated in the amendments to the 1945 Constitution. Several regulations related to sea boundaries and maritime zone actually already exist, namely: Law on the Indonesian Continental Shelf (1973), Law on Indonesia’s Exclusive Economic Zone (1983), and Law on Indonesian Waters (1996). The Government of Indonesia, for the first time in 1999, issued a Law on Regional Government, which states that there is regional authority in managing sea areas as far as 12 nautical miles from the coastline. This paper examines the extent of the relationship between determining the sea boundary of the Republic of Indonesia based on the United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) in 1982 with the regional sea boundary that refers to the Law on Regional Government. The research method employed is an analysis of the correlation between laws and regulations related to national and regional sea boundaries. The results showed that the determination of the national sea boundary uses the baselines that refer to the lowest sea level position, while for the regional uses the coastlines at the highest tide position. This shows that there is no link at all between the national sea boundary and the regional sea boundary of the Republic of Indonesia

    LEARNING FROM THE PAST TO PREPARE FOR THE FUTURE: A REVIEW OF RESEARCH OUTPUT ON POSTGRADUATE EDUCATION IN DESIGN AT THE FACULCITY OF VISUAL ART AND DESIGN, ITB (2015-2018)

    Get PDF
    Recent technological advancement and the betterment of socio-cultural welfare put design knowledge at the forefront of life as its practice develops into more than 'activity of making'. Rapid prototyping, 3D printing, internet-of-things, and wide array of networking channels may ease the burden of producing objects. For the past 20 years, the practice of design has addressed 'activity of research' beyond previous ordinary know-how in making object. Indonesia"”more specifically the postgraduate programme of the Faculty of Visual Art and Design, ITB"”has embedded research activities in design education since 1990s, yet there is no objective review on how this 'activity of design research' is managed and learned upon. To address this issue, this study was conducted through literature review by examining 327 master's degree theses in design program (2015-2018) using content analysis on approach, output, and focus of research. A thematic content analysis was applied to identify the intertwined relation on the context of the produced knowledge and approaches to strategies in design research as derived from those of graduates' thesis. By exploring master's degree thesis in design program, the paper exposes weaknesses and advantages on approaching research in design. The result encourages us to learn from our past experiences in conducting academic program and managing research in design to prepare for more applicable and suited design education with societal needs, which serves as the main contribution in the discussions.   Kemajuan teknologi baru-baru ini dan peningkatan kesejahteraan sosial-budaya menjadikan pengetahuan desain berada di garis depan kehidupan, karena praktiknya berkembang menjadi lebih dari sekedar 'aktivitas pembuatan. Prototipe, pencetakan 3 dimensi, internet untuk semua hal, dan beragam saluran jaringan yang berkembang dengan cepat dapat meringankan beban produksi objek. Selama 20 tahun terakhir, praktik desain telah membahas 'kegiatan penelitian' di luar pengetahuan biasa dalam membuat objek. Indonesia "”khususnya program pascasarjana Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB"” telah memasukkan kegiatan penelitian dalam pendidikan desain sejak tahun 1990-an, namun tidak ada ulasan objektif tentang bagaimana 'kegiatan penelitian desain' ini dikelola dan dipelajari. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian dilakukan melalui tinjauan pustaka dengan menganalisis 327 tesis mahasiswa magister program desain (2015-2018) menggunakan analisis konten pada pendekatan, output, dan fokus penelitian. Analisis konten tematik diterapkan untuk mengidentifikasi hubungan yang saling terkait pada konteks pengetahuan yang dihasilkan dan pendekatan strategi dalam penelitian desain yang berasal dari tesis lulusan. Dengan menganalisis tesis mahasiswa magister program desain, penelitian ini memaparkan kelemahan dan kekuatan pendekatan penelitian di bidang desain. Hasil mendorong kami untuk belajar dari pengalaman masa lalu dalam menyelengkarakan program akademik dan mengelola penelitian di bidang desain, supaya pendidikan desain yang lebih sesuai dan cocok dengan kebutuhan masyarakat dapat dipersiapkan. Hal ini berfungsi sebagai kontribusi utama dalam penelitian ini

    TEKNOLOGI DIGITAL DAN KUALITAS TENAGA KERJA PADA USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DI YOGYAKARTA

    Get PDF
    Penggunaan teknologi digital telah berkembang luas di Indonesia termasuk pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Daerah terpencil yang semula mengalami hambatan untuk memasarkan produk barang dan jasa yang dihasilkan dapat terbantu oleh teknologi digital. Akan tetapi, teknologi digital juga berimplikasi terhadap kebutuhan kualitas sumber daya manusia. Artikel ini bertujuan untuk membahas penggunaan internet pada UMKM serta implikasinya terhadap perkembangan dan kualitas tenaga kerja. Data untuk analisis adalah hasil penelitian PPK LIPI tahun 2017 di Provinsi Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, focus group discussion (FGD), dan penelusuran pustaka. Hasil penelitian menunjukkan secara umum teknologi digital telah digunakan pada sebagian besar UMKM di Yogyakarta. Berbagai kebijakan telah dilakukan pemerintah Provinsi Yogyakarta dan institusi swasta untuk memperkuat UMKM dalam menggunakan teknologi digital seperti rumah kreatif, pembentukan kampung digital, dan pusat layanan usaha terpadu. Penggunaan teknologi digital pada UMKM telah memperluas jaringan pasar dan meningkatkan permintaan barang/jasa. Peningkatan permintaan barang atau jasa berimplikasi terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan tenaga kerja di UMKM.  The use of digital technology has expanded widely in Indonesia, including on Indonesia's Micro Small and Medium Enterprises (MSME's). The remote areas that initially experienced barriers in marketing their products and services could be helped by digital technology. However, digital technology also has implications for the quality of human resources. This paper aims to discuss the use of internet on MSME's and its implications on the development and quality of labor. The data for the analysis are the results of Research Center for Population-Indonesian Institute of Sciences (PPK LIPI) research in Yogyakarta Province, 2017. Data collection was done by interview, FGD, and literature review. The results show that in general, digital technology has been used in most of the MSME's in Yogyakarta. Various policies have been made by the government and private institutions to strengthen the MSME's in digital use such as creative houses, digital village establishment, and integrated business service center. The use of digital technology has expanded the market network so as to increase the demand of goods/services. The increasing demand of goods or services will have implications for the increase in income and welfare of workers of the MSME's

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sosioteknologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇